Chapter Text
Hidup itu tidak adil. Sepertinya semua orang setuju dengan itu, kecuali manusia-manusia haus harta dan jabatan yang duduk di pemerintahan, mungkin. Ketika sebuah kecurangan merupakan suatu yang dinormalisasi, dan saat kejujuran menjadi semakin asing, di situlah manusia-manusia pemakan bangkai itu akan menjadi sekumpulan orang paling pertama yang akan menertawakan kalimat itu.
Momen pertama ia merasakan bahwa hidup ini tidak adil baginya adalah ketika di tahun ke lima ia bertemu hari natal. Mengapa tidak ada serbuk putih dingin di luar rumahnya ketika orang-orang sibuk berkumpul dengan keluarga mereka, sebagaimana di film natal yang selalu ia tonton, meskipun keluarganya tidak merayakan hari raya itu. Mengapa hari natal tidak dingin sebagaimana yang dikatakan orang-orang berbahasa asing di TV? Mengapa yang ia rasakan hanya panas dan sedikit sejuk dari hujan, yang bahkan tidak turun setiap saat? Mengapa di negaranya tidak turun salju? Rasanya tidak adil jika sebagian populasi manusia di muka bumi bisa bermain perang bola salju, sementara dirinya masih terjebak dengan kubangan air kotor yang bercampur dengan pasir dan tanah dari jalan raya.
Earn kecil menatap nanar ketika tiap kali ia mengganti channel TV, semuanya sibuk membicarakan salju dan hari natal, karena tatkala ia menengok untuk melihat ke luar rumah, pohon tusam yang ada di samping rumah tidak terselimuti serbuk putih yang bahkan tidak pernah ia tahu teksturnya seperti apa.
“Padahal pohonnya sama, kenapa yang di TV warnanya putih, tapi di rumah kita enggak?” gumamnya sembari memainkan boneka santa kecil milik temannya yang entah sejak kapan ada di rumahnya—ia tidak ingat.
Hari semakin berganti, dan lambat laun ia mulai melupakan soal salju dan hari natal. Ibunya tersenyum lega, semakin hari, frekuensi Earn bertanya soal ‘Kenapa di negara kita tidak ada salju?’, semakin berkurang. Di tahun ke delapan, pertanyaan itu tak lagi Earn tanyakan. Kenyataan bahwa salju itu tak akan turun kemudian menyelimuti pohon tusam di samping rumahnya kini membuatnya tak pernah lagi berharap dan mempertanyakan hal itu lagi.
Akan tetapi, mungkin keadilan dalam hidup memang tidak akan pernah menghampirinya, bahkan ketika ia merasa lebih dari cukup hanya dengan bisa berkumpul bersama ayah dan ibunya di hari-hari raya, meskipun tanpa salju.
Hari ketika ayahnya pergi, adalah yang ke sepuluh kali ia akan bertemu natal. Sepuluh hari sebelum ia akan kembali menyaksikan pohon tusam di samping rumahnya tanpa salju. Ia memang tak pernah lagi menanyakan soal itu, tapi kebiasaannya memandang pohon berdaun jarum itu entah kenapa tidak pernah hilang.
Earn tidak menangis, dan ibunya tidak mempermasalahkan soal hal itu. Bukannya Earn tidak paham, ia tahu persis kenapa tante, pamannya, nenek dan kakek, tiba-tiba memeluknya sambil mengusap air mata. Di momen itu ia kembali teringat ketika pertama kali ia merasa heran; perbedaan hari natal di rumahnya dan di TV, dan perasaan itu kembali menguasainya. Hidup ini tidak adil, karena ia tidak akan pernah lagi bisa bertemu dan berbicara dengan ayahnya.
Di saat semua orang sibuk menyambut tamu, memasak, berdoa; Earn hanya berdiri diam di depan pohon tusam di samping rumah. Ia menatap pohon itu lama. Matanya yang berwarna hitam kecokelatan sewarna kayu teras eboni[1] itu memandang batang pohon tusam yang kasar dan beralur. Earn kadang terpukau dengan teksturnya yang seperti membentuk aliran kecil di batang pohon. Ia membayangkan alur itu seperti parit kecil terisi air, pasti akan sangat lucu melihat aliran air di batang pohon. Pandangannya beralih pada tiap-tiap daun jarum yang ada di pohon itu. Tatapannya berpindah dari satu kumpulan daun, ke yang lain, sesekali matanya menangkap conus[2] jantan dan betina di beberapa titik tanpa tau apa itu.
Semuanya tidak nampak berubah semenjak pertama otaknya bisa mengenali objek di sekitarnya. Hanya saja, pohon itu sekarang jauh lebih tinggi.
Tak lama, ia mengalihkan pandangannya pada pohon-pohon lain di sekitar rumah—bungur, rambutan, bintaro, trembesi, pohon asam, tabebuya putih. Semuanya telah banyak berubah dan daunnya yang rontok tampak memenuhi tanah di bawahnya.
Baru beberapa hari lalu jalan di depan rumahnya didatangi pemadam kebakaran karena robohnya pohon trembesi yang sudah terlalu tua akibat badai. Hal itu membuatnya teringat bahwa beberapa tahun lalu, ragam pohon yang tumbuh di sekitar rumahnya lebih banyak, lebih lebat, sehingga nampak lebih hijau. Sekarang telah banyak berkurang, karena cuaca, penyakit, usia, dan beberapa ditebang.
Hanya pohon tusam ini yang sampai sekarang masih berdiri tegak. Tidak peduli apakah musim hujan tiba atau musim kering membawa suhu ke titik tertinggi; pohon ini tidak menunjukkan gejala akan tumbang.
“Bisa nggak sih ayah ditukar pohon ini aja?”
Adalah kalimat yang terdengar kekanakan. Aneh, diucapkan dengan nada khas anak kecil yang lucu, tanpa banyak orang sadari bahwa itu adalah kalimat satu-satunya yang bisa ia ungkapkan hari itu.
Jiwanya mungkin masih kanak-kanak, tetapi ia telah tumbuh melewati sembilan natal tanpa salju, tanpa pernah absen memandangi pohon tusam di samping rumah—menyaksikan eksistensinya tak pernah digantikan oleh spesies lain, kokoh dan selalu hijau.
Earn kecil tahu, mungkin jika ayahnya sekuat pohon ini, ayahnya tidak akan mudah mati hanya karena kecelakaan mobil. Tetapi ayah selalu bilang ia adalah pelindung keluarga ini, seperti pohon trembesi yang lebih dikenal sebagai perindang ketimbang pohon tusam.
“Orang bodoh mana yang nyamain dirinya sendiri sama pohon trembesi, pohon segede itu aja tumbang ditabrak truk.” Gumamnya kesal sebelum ia menendang kecil pangkal batang pohon tusam itu kemudian memilih mengunci diri di kamar.
Waktu terus berjalan, semuanya baik-baik saja sejauh ini meski hanya ada ia dan ibunya di rumah yang telah dibangun ayahnya bahkan sebelum orang tuanya menikah.
Phuket, Thailand. 1990/2533.
Earn tumbuh menjadi pribadi yang lebih menyukai ketenangan, kesendirian, dan ia lebih suka menjadi jiwa yang bebas tanpa banyak aturan. Bukannya ia menjadi pemuda yang suka memberontak, tapi aturan-aturan sosial dan mitos yang tidak masuk akal telah ia tepis jauh-jauh karena ia sungguh benci dikekang.
Ia tidak dikucilkan, tapi memang hanya satu dua orang saja yang mengenalinya dengan cukup baik selama ia menghabiskan waktu di sekolah. Datang pagi, tidur sebentar, mengikuti kelas, lalu pulang; adalah rutinitasnya yang tidak pernah ia mau ubah, pun ia tidak akan membiarkan orang lain mengubahnya.
Ketika class meeting, atau event besar sekolah diadakan, ia lebih memilih berdiam diri mendengarkan lagu dengan headphone hitamnya di perpustakaan.
Hari ini adalah pengenalan masing-masing klub sekolah untuk tingkat atas. Dan tentu saja, ia malas untuk sekedar melihat satu dua brosur klub yang ditawarkan kakak kelas. Ia sudah melihat informasi klub itu sejak ia masuk sekolah ini tiga tahun lalu di tingkat menengah, sehingga ia rasa akan membuang banyak waktu baginya melihat brosur-brosur itu lagi.
Let us die young or let us live forever
We don’t have the power but we never say never
Sitting in a sandpit life is a short trip
The music’s for the sad men
Lagu itu mengalun, hampir membuatnya tertidur, sebelum...
“Permisi, maaf mengganggu, boleh minta waktunya bentar?”
Earn mendongak setelah mendengus kasar. Apakah orang ini buta? Apakah headphone hitam itu kurang nampak baginya? Tidakkah ia tau kalau ia sedang tidak ingin diganggu?
“Iya? Kenapa?” Earn tetap menjawab meski nadanya terdengar cukup kesal.
Pemuda itu, yang nampaknya berada di angkatan yang sama, menyodorkan selembar brosur dengan ekspresinya yang lembut dan teduh, layaknya anak kucing yang memohon semangkuk makanan.
“Minat gabung klub cheer nggak?” ucapnya sambil meletakkan brosur itu di hadapan Earn.
Earn hanya mengernyit heran. “Kita punya klub buat kegiatan nggak penting kayak gitu?”
Kalimat itu cukup mengejutkan bagi siswa yang bahkan belum sempat memperkenalkan diri padanya. Bodoh amat apakah ia terdengar terlalu kasar, Earn bahkan tidak cukup peduli betapa orang ini mau bersusah payah mengelilingi sekolah untuk menemukan mangsa atau calon budak sekolah bagi klub yang menurutnya tidak jelas itu.
Siswa itu masih terdiam, matanya yang masih berbinar menatap bergantian antara brosur yang tadinya tergeletak di hadapan Earn, tidak tersentuh barang satu senti.
Ia menelan ludah, kalimat Earn terlalu menusuk baginya yang hanya berniat menawarkan dan bukan memaksa.
“Ada kok. Dari klub olahraga—”
“Nggak mau tau.”
Siswa itu menghela napas. Ini akan menjadi percakapan yang cukup panjang, pikirnya.
Ia pun mengambil kursi di sebelah Earn. Membuat siswa kesepian itu membelalakkan mata, melihat siswa itu memilih untuk tinggal, dan bukannya pergi membiarkan ia melanjutkan waktu sendirinya di pojokan perpustakaan.
“Sorry, gue tau gue udah ganggu, tapi kalimat lo terlalu kasar nggak sih? Gue bahkan belum sempet kenalin diri.” Ujar siswa itu tegas, membuat Earn tertegun dan diam sesaat di tempat. Tapi batinnya sudah ingin memaki karena siswa itulah yang datang mengganggu waktunya, dan kini ia harus bersusah payah menjaga kesopanan pada sosok yang mungkin tidak tahu apa itu privasi?
"Salah lo sendiri nggak ngenalin diri dari awal. Lagian, bukan sepenuhnya salah gue juga kalau gue nggak sopan. Lo sendiri tahu gue keganggu, terus kenapa lu pikir gue yang ‘keganggu’ ini bakal bersikap sopan sama lo?" sahut Earn, menaikkan alis sambil menyeringai, jelas merasa menang atas situasi ini.
Siswa itu hanya menghela napas. Benar pikirnya, Earn tidak akan mudah untuk dihadapi dan percakapan ini akan menjadi percakapan panjang.
Siswa yang Earn pikir seangkatan dengannya itu (karena nomor ID yang tertera tidak jauh berbeda dengan miliknya) kemudian menarik napas pelan.
“Gue Pete, dari kelas 1-4. Dan gue di sini cuma mau nawarin soal klub ini. Apa lo bersedia buat gabung?” ucapnya pelan dan terstruktur.
Earn balas menghela napas, dan memutar bola matanya. Tangan kirinya menyingkirkan sepenuhnya headphone yang masih bertengger di kepalanya dan kini menggenggamnya sepenuhnya di tangan.
“Gue heran.” Ujarnya ringan, mengundang tanya dari Pete yang lantas mengernyitkan dahi. Earn mengambil tasnya di atas meja, menyampirkannya di punggung, hendak berdiri dan pergi meninggalkan tempat itu.
“Kenapa lo masih mau nanya dua kali padahal gue udah jawab dengan ketus.” Lanjutnya kemudian melangkah pergi meninggalkan Pete.
“Ya atau nggak?” tanya Pete sambil menahan lengan kanan Earn yang hanya dibalas tatapan tajam.
Earn menepis tangan itu dan memandang lawan bicaranya dengan pandangan tidak percaya. “Kurang jelaskah jawaban gue?”
Anggota klub cheer itu hanya menaikan alisnya, membuat Earn kembali mengela napas. “Nggak.” Ucapnya tegas dan jelas, diikuti oleh langkah kakinya meninggalkan Pete sendirian di pojokan perpustakaan itu.
Pete kemudian mengambil brosur yang masih belum tersentuh di atas meja. Menggenggam brosur itu dan memasukkan kembali ke kumpulan brosur yang ia bawa.
“Gue bahkan belum tanya namanya.”
