Work Text:
Ada kerikil menggelinding di lantai gua, suaranya terdengar nyaring memecah kesunyian. Kau memiringkan kepala, jarang sekali kau mendapat pengunjung di penjaramu.
Langkahnya kecil, namun menggema hingga menarik perhatianmu lebih lanjut. Seakan mengumumkan kedatangannya. Salah satu dari Celestia? Kau menerka dengan tertarik, atau makhluk kecil yang tersesat? Mungkin nymph atau satyr, jatuh ke cerukan gunung dalam permainan mereka dan berpura-pura berani sambil mencari jalan keluar.
Atau mungkinkah—
seorang manusia?
Ribuan tahun yang lalu kau berkata dengan angkuh kepada para dewa bahwa hanya ada satu seorang manusia sepertimu di muka bumi ini. Mungkinkah kau salah. Mungkinkah ada perang lagi yang akan dipercik oleh manusia seperti waktu itu?
Dulu, pikiran seperti ini akan membuatmu kesal. Tapi kau sudah lebih tua, lebih bijaksana. Kau ingin melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.
“Disini kau rupanya.”
Suara itu terdengar jelas dan megah, seperti dentingan bel dari surga. Kepingan puzzle menyatu dalam kepalamu. Geliat cahaya yang berasal dari halonya menerangi dinding yang memakanmu hidup-hidup itu. Pertanyaanmu terjawab dan kau terpengarah dalam kekaguman atas kekurang ajarannya.
“O Dewi,” kau menyambutnya, “Jika saya bisa berlutut, maka saya akan berlutut untukmu. Sayang sekali, keadaan tidak mengizinkan saya. Meski demikian, selamat datang di sel yang sederhana ini.”
Matanya biru seperti langit cerah, mereka menatapnya seperti elang mengintai anak ayam. Sang dewi berambut emas, mereka jatuh menjuntai melebihi pinggangnya. Sebuah jubah besar dari bulu angsa melapisi toganya, dan di pinggangnya; kau melihat busur dan panah bersarung di dalam tas kulit.
Yang manakah dirimu?
Kau bertanya-tanya dalam hati. Ribuan tahun yang lalu kau berdiri di depan surga, dengan arogan kau menantang para dewa di akhir pemberontakan kalian. Ada sebelas dewa utama Celestia, tuanmu membunuh tiga, kau membunuh satu. Kau tidak mengenali dewi yang berdiri di depanmu.
“Aku paham sekarang kenapa mereka mengambil matamu,” Sang Dewi berkomentar dengan ringan, “Mereka begitu membara, hampir seperti mengulitimu hidup-hidup. Benar-benar tidak sopan.”
Kau tersenyum. Surga mencungkil matamu sebelum memasukanmu ke penjara ini, tapi sihir yang mereka gunakan untuk menghukummu malah mengembalikan kedua matamu.
“The gods giveth and taketh away,” balasmu.
“Zindik,” dia menyebutmu.
Kau tersenyum makin lebar. Para pembangkang dewa. Dari semua gelar dan hinaan, yang itu paling membuatmu puas. Bagaimana tidak? Para dewa membuat sebuah vonis dari namamu, yang terburuk dari yang terburuk, karena kau adalah ancaman untuk Surga.
“Dan siap melayanimu.”
Mata biru itu bersinar dengan ingin tahu.
“Melayani,” dia membeo, “Untuk seorang manusia itu adalah kata yang berat untuk diasosiasikan bersama dewa. Aku mengenalmu, dan itu hampir tidak cocok denganmu. Aku selalu penasaran akan hal ini. Apa kau memberontak karena mengimani Tsaritsa, atau kau memberontak karena merasa lebih baik dari kami?”
Kau tertawa mendengarnya.
Oh! Benar-benar pertanyaan yang bagus! Bahkan penghakimannya ribuan tahun yang lalu tidak mempertanyakan ini. Untuk mereka dia hanyalah pembangkang yang berbahaya, salah satu jenderal Tsaritsa yang tidak cukup sekedar dihukum mati.
“Bagaimana menurut anda?” tanyamu balik, “Tentunya sebagai seorang dewi celestia anda lebih bijaksana dari saya untuk memutuskan itu.”
Sang Dewi tersenyum. Senyumannya tidak senang, dan saat itu juga tanah mengunyah dagingnya lebih cepat. Surga mengutuknya untuk hidup dan mati sebagai makanan bumi, jauh di dalam gua di pegunungan suci; kau menyatu dengan alam dan akan dimuntahkan kembali oleh Ibu Pertiwi.
Ini adalah salah satu trik dewa-dewi, jika kau membuat mereka tidak senang; hukumanmu akan semakin keji.
Kulitmu, lalu jaringan otot yang melapisi tubuh itu. Tanah di dalam selmu tentu berwarna merah, darahmu tumpah sementara kau dikunyah. Pelan. Sangat pelan hingga kau merasakan setiap rasa sakit yang pernah kau timpakan kepada dunia ini.
Kau tidak tahu ekspresi apa yang ada di wajahmu, namun Sang Dewi buru-buru berkata.
“Oh, aku minta maaf. Bukan pertanyaanmu yang membuatku kesal,” ujarnya, “Tapi aku hanya tidak ingin diingatkan dengan Celestia.”
Oho? Satu lagi dewa yang kecewa kepada Surga?
“Mereka keluargamu,” kau mengingatkan.
Sang Dewi tersenyum. Dia berjalan mendekatimu, dan kau pun menyadari bahwa cahaya yang dia pancarkan bukan seperti panas mentari yang menerangi dunia, namun lembut seperti pantulan rembulan yang menuntun para pesakitan di gelap malam.
“Kami selalu bertikai dengan satu sama lain. Ayah Agung mengguratkan takdir ini ketika dia memutuskan untuk menggulingkan tahta ibunya.” Sang Dewi mengulurkan tangannya, tangannya sedingin pualam; dan napasmu tertahan ketika ia membelai pipimu yang setengah membusuk itu. Kapan terakhir seseorang bersikap selembut ini padamu? “Tuanmu juga merupakan salah satu dari kami. Apa kau sudah lupa?”
“Tidak ada dewa lain yang seperti Yang Mulia Tsaritsa,” kau menjawab, “Beliau mencintai dunia ini. Bagaimana denganmu?”
Sang Dewi menatapmu, kau tidak tahu apa yang dia cari dalam dirimu. Dia juga tidak memindahkan tangannya dari pipimu.
“Aku tidak tahu kalau cintanya penting bagimu, itukah alasan kau mengikutinya?” Dia berkata dengan pelan, “Tapi untuk menjawab pertanyaanmu. Tidak. Aku tidak mencintai secara mudah atau cuma-cuma. Ada kakakku yang terkasih, tentu, dan seorang pemuda fana.”
Bukan cintanya yang penting bagimu, tapi intensitas tekad dan kehancuran yang rela dia golakan untuk apa yang penting baginya lah yang membuatmu kagum. Dewa cinta yang menjelma menjadi dewa perang, dan kau hadir sebagai saksi atas pemberontakannya.
“Aku turut berduka cita,” ujarmu, “Tidak ada hal baik yang hadir dari hubungan dewa dan manusia.”
Seperti percikan kilat, ada kesedihan yang lewat di matanya.
“Benar, tapi aku tidak datang kesini untuk dia,” ujar Sang Dewi, sekejap kemudian dia kembali tegap dalam tekad dan konspirasi. “Aku datang kesini karena kakakku. Celestia membunuhnya, dan aku ingin kekuatanmu untuk balas dendam.”
Seorang dewi! Datang ke selnya yang terkutuk memohon kepadamu? Kau! Sang pesakitan nomor satu yang dibenci oleh Celestia! Kau! Sang penghancur pohon keabadian yang mencabut kekekalan para dewa! Semua penghuni surga dan dunia mengutuk namamu, tapi dewi ini datang kepadamu, untuk sebuah bantuan. Membangkang kepada surga, membangkang kepada keluarganya, tanpa takut menerjang ke dalam mulut buaya.
Dia pasti sangat menyayangi saudaranya.
Dengan berseri-seri, kau berkata.
“Saya terikat dan terkutuk. Tanah mengunyah daging dan minum dari darah saya. Dari setiap kata dari percakapan kita, saya semakin mati sedikit demi sedikit. Katakanlah, wahai Dewi, bagaimana pendosa ini bisa membantumu?”
“Bersumpahlah untukku,” ujarnya serius, “Bersumpahlah bahwa kau akan menjadi pengikutku, bahwa kau akan menyanyikan himne berupa isak tangis dan jerit musuh-musuhku, bersumpahlah bahwa kau akan menjadi senjataku, dari saat ini hingga kejatuhanku; kau akan setia dan menjadi milikku.”
Dia serius, kau menyadari. Bersumpah kepada dewa adalah ikatan yang tak terpatahkan, bahkan bisa mematahkan keputusan Celestia dan hukuman-hukumannya. Dia ingin mengikatmu padanya. Kakaknya dibinasakan oleh Celestia, dan sebagai adik perempuan yang berbakti tentu dia tidak akan membiarkan ini tanpa konsekuensi.
Bahkan sampai datang menghampirimu.
Sang Dewi menginginkan perang, dan sang pendosa menginginkan kebebasan. Marilah kita berdansa kalau begitu.
Kau membuka mulutmu, dan mengucapkan sumpah itu. Selmu luput dari pandangan para dewa, namun tidak bagi para penenun takdir. Ketika kata-kata sudah diucapkan; maka sekarang kau adalah milikNya.
“Il Dottore,” Sang Dewi memanggil namamu, dia mundur beberapa langkah; lalu mengambil busur dan panah dari tasnya dan membidiknya ke jantungmu. Lalu dengan kemegahan yang dimiliki seorang dewi, dia bersabda, “Atas nama Oriana Iglesias, Dewi Bulan; Perburuan; Bumi; dan Keluarga, aku memvonismu bebas.”
Ketika Sang Dewi melepaskan busurnya, kau tidak takut.
Ketika mata panahnya menikam jantungmu, kau juga tidak takut.
Di jantung hati manusia, kutukanmu mengakar. Dulu kau berani berkonspirasi untuk menjatuhkan surga, bukan untuk tuan yang kau ikuti; tapi untuk demi arogansi dan keingintahuanmu yang seperti ngarai tak berujung. Api menjilat setiap inchi dunia dan kau lah si pemantik durjana itu. Dosamu tak termaafkan hingga saat tuanmu jatuh dari kereta kudanya, Surga memvonismu dengan siksaan kekal.
Hal itu berhenti di detik ini, atas kekuasaan seorang dewi.
Tuanmu yang baru.
Kau akan mengikutinya hingga semua dewa-dewi Celestia binasa.
Bumi perlahan lepas dari tubuhnya, hal ini lebih sakit dari apa yang ia derita selama ini. Rasanya hampir seperti ribuan taring berhenti mengoyaknya dan melepaskan gigitan secara tiba-tiba. Kau telah menempel di dinding gua selama ribuan tahun, jadi saat cengkeraman itu lepas; kau terhuyung dan hampir di kaki dewimu. Untung saja kau berpegangan pada cerukan di dinding tepat waktu.
“Aku minta maaf atas penampilanku yang tidak senonoh ini,” gumammu.
Sebagai seorang dewi, kau kira dia akan mendengus atau tidak bereaksi sekalian atas kelakarmu. Kau sama sekali tidak menyangka kalau wajah cantik itu akan retak keanggunannya karena memerah malu.
“Kau telanjang!” serunya.
“Ya?” balasmu bingung. Kenapa dia membesar-besarkan hal ini? Kau tahu ukuranmu di atas rata-rata, tapi kenapa seorang dewi merasa terganggu akan ini? “Sudah ribuan kali aku menjadi mayat yang dihidupkan kembali. Tidak heran kalau pakaianku hilang dimakan usia.”
Oriana memalingkan mukanya, dia lalu melepaskan jubah bulu angsa yang dia pakai dan memberikannya padamu.
“Tutupi dirimu,” perintahnya.
Kau melihat urgensi dari ini, tapi gemas juga melihat Oriana malah malu-malu kepadamu.
“Apakah ini benar-benar mengganggumu, dewiku?” godanya, “Aku hanyalah seorang manusia fana, tubuh ini tidak ada spesial-spesialnya untukmu.”
“Bukannya tidak spesial!” seru Oriana, yang terlihat langsung menyesalinya saat itu juga, “Lagipula, kau bukannya—manusia biasa. Aku tidak akan membebaskanmu jika kau bukan siapa-siapa.
Kau mengangguk. “Benar.”
“Ugh. Karena itu! Cepat tutupi dirimu!”
“Tentu saja, My Lady.” Kau akhirnya menurut.
“Dan jangan panggil aku My Lady.”
Kau menoleh padanya, dengan sopan meminta ia untuk mengulangi hal tersebut. Apa dia tidak salah dengar?
“Aku bilang, kau tidak perlu memanggilku My Lady.”
Kata-katanya membuatmu terkejut. Ini pertama kalinya kau bertemu dewa yang menanggalkan formalitas dengan manusia, bahkan Barbatos masih disanjung dengan ribuan gelarnya.
Jadi kau menolak permintaannya. “Saya minta maaf, tapi saya terikat untuk melayani anda, menanggalkan penghormatan seperti itu terasa tidak pantas.”
Dia menatapmu.
“Apa kau benar-benar tidak mengenaliku?”
Kau menggeleng. “Jika kita sudah bertemu sebelumnya, maka saya pasti langsung tahu siapa dewi yang membebaskan saya. Saya sudah bertarung dalam perang dan menghadapi banyak dewa-dewi, tapi sayang sekali saya tidak mengenali anda.”
Dia menatapmu.
“Aku belum menjadi dewi waktu itu.”
Mendengar itu kau terkejut. Kenaikan menjadi dewa celestia bukanlah yang mustahil, bahkan Tsaritsa juga awalnya seorang demigod. Jadi masuk akal kalau Oriana dan kakaknya naik menjadi dewa setelah peperangan brutal saat itu, sudah ribuan tahun berlalu, tentu dunia luar berubah.
Tapi kalau begitu, siapa dirinya? Seorang nymph? Demigod? Atau gadis dari masa kecilmu?
“Maafkan saya kalau begitu,” ujarmu, “Sudah ribuan tahun berlalu, ingatan saya akan masa lalu mulai pudar.”
Pandangan Oriana melembut. “Dasar pikun.” Dia mendengus.
“Saya cuma manusia toh?”
Selain era peperangan, bagian lain dari masa lalumu tidaklah penting. Kau tidak suka mengingat masa-masa dimana kau hanya remaja biasa yang terasingkan karena pertanyaan-pertanyaan yang dianggap sesat. Dulu kau pernah jadi anak kecil, yang diabaikan, yang dibisukan, yang ditinggalkan sendirian. Kau merangkak keluar dari maut sekali dan tidak ada yang menyadarinya. Mereka tidak pantas diingat. Mereka tidak pantas mendapatkanmu atau percikan ambisimu yang mampu membakar dunia ini.
Jadi saat Oriana berkata kalau kau mengenalnya dulu, kau bingung.
“Learn me,” Sang Dewi memberi perintah pertamanya. “Mau mengingatku kembali atau tidak adalah pilihanmu, tapi kau berdiri di depanku sebagai pengikutku sekarang. Kau harus mengenalku.”
Jadi kau berlutut. Jubah bulu angsa yang Oriana berikan menutupimu hingga ke mata kaki, mereka memeluk tubuhmu begitu erat, anehnya kau merasa nyaman dalam lindungannya. Kau mengambil tangannya dan menciumnya dengan khidmat.
Di dalam gua tempat kau di penjara, Dewi Bulan membawa cahayanya untuk membaptismu sebagai miliknya. Dia memberikan jubah yang terbuat dari bulu angsa kepadamu layaknya seorang mempelai menyampirkan jubah pengantin kepada pengantinnya. Kau belum menyadari ini, sebagaimana kau tidak menyadari siapa orang yang berdiri di depanmu saat ini.
Dulu kau minum ambrosia di istana seorang demigod dan berdansa dengan adik nymph-nya yang disebut dengan Swan Maiden. Legenda harusnya mengatakan kalian jatuh cinta, tapi Tsaritsa memintamu membayar harga atas ambisi dan kekuatan yang dia bagi denganmu.
Oriana Iglesias memintamu untuk kembali pada purnama berikutnya, tapi kau pernah muncul. Setiap langkah yang kau ambil membawa bencana, dunia ini terbakar, tapi tak satu pun kerusakan akan menyentuhnya dan orang-orang yang ia kasihi.
Sekarang dia menjemputmu pulang, dengan jubah bulu angsa dan sumpah yang mengikat kalian selamanya. Di balik dendamnya ada seonggok cinta, di balik amarahnya ada secercah kerinduan. Leo sudah mati dan Zandik melupakannya, Oriana akan membuat mereka membayar semua dengan bunga-bunganya.
(and this is how legend remember you,
destroyers,
lovers,
gods)
