Chapter Text
Aku bersaksi tiada perempuan
Yang mampu mengubah hukum dunia
Dan mengubah
Peta halal dan haram
Selain engkau
Kata-kata ayahnya bergemuruh di telinga Xingqiu. Seperti sambaran petir di siang bolong, membuatnya membeku tanpa bisa berkedip. Dia tidak tahu berapa lama dia terdiam, tapi samar-samar ia mendengar ibunya berdehem. Setelah shock nya reda, Xingqiu meminta mereka untuk mengulang dengan pelan. Karena dia pasti salah dengar. Tidak mungkin orang tuanya meminta dia untuk melakukan itu.
“Ayah dan Ibu rasa sudah waktunya kamu mencari calon istri. Ibumu sudah punya kandidat, dan kami ingin kamu bertemu dengannya dulu,” ulang ayahnya, “Kami tahu ini mendadak, tapi kamu sudah dewasa. Sudah waktunya untuk memikirkan masa depanmu.”
“Haruskah?” Xingqiu bertanya. Jantungnya berdetak kencang. “Aku bahkan belum duapuluh tahun.”
“Ah, A-Qiu, kami tidak memintamu untuk menikah minggu depan,” ujar ibunya buru-buru, “Pikirkan saja dulu, ya? Ibu rasa kalian akan cocok, kok. Toh kamu juga kenal anaknya.”
Xingqiu mengerjap. “Sungguh?”
Jantungnya berdegup makin kencang. Siapa? Kalau soal perjodohan, orang tuanya pasti menginginkan salah satu anak teman bisnis mereka. Xingqiu tahu beban yang datang dengan lahir dari keluarga berpengaruh. Dia masih muda, namun sudah memiliki tanggung jawab dalam bisnis perdagangan milik keluarganya. Kakaknya kurang berguna, tapi dia sudah bertunangan dengan salah satu mitra mereka demi kelancaran usaha. Para tamu memuji ibunya karena memiliki dua putra yang tampan dan berbudi, kapan giliran adiknya?
Tapi Xingqiu tidak bisa. Dia tidak bisa.
Dia punya Qianyu-jiejie, dia tidak mungkin meninggalkan kekasihnya demi ini.
“Lihui, lho.” Ibunya tersenyum, “Kamu masih ingat, kan? Waktu kecil kamu suka mengajak dia bermain kalau para orang tua sedang sibuk di pesta.”
Oh, tidak.
Lihui? Ini berita buruk dari yang terburuk. Xingqiu tidak mungkin menerima ini. Sudah mana dia harus putus dengan Qianyu-jiejie, sekarang calon tunangannya adalah Lihui? Mau bilang apa dia ke Chongyun?
“Aku sudah lama tidak bicara dengan Lihui,” Xingqiu beralasan, “Aku bahkan tidak tahu kalau dia tertarik padaku?”
Ayahnya menghela napas. “Cinta bisa tumbuh, Nak. Ibumu punya alasan yang bagus kenapa kalian bisa serasi, dan Ayah juga setuju. Kakakmu sudah bertunangan dengan keponakan Tuan Liu, jika kamu ternyata cocok dengan Lihui, hal ini akan bagus untuk keluarga kita ke depannya. Relasi terbaik adalah yang terdiri dari ikatan darah, jika tidak; maka pernikahan adalah pengganti yang setara.” Dia terdiam sejenak, kemudian melanjutkan dengan nada yang lebih lembut, “Tapi tentu saja kami tidak akan memaksamu, A-Qiu. Ini adalah hal yang baik untuk keluarga kita, tapi jika kamu tidak cocok dengan Lihui, kita bisa mencari yang lain.”
Ibunya mengangguk. “Setidaknya kami ingin kamu mencoba dulu, ya? Lihui gadis yang manis, lagipula kamu kan tidak ada siapa-siapa… jadi, bagaimana?”
Xingqiu mengerjap. Oh, iya . Dia meringis dalam hati. Orang tuanya, kan, tidak tahu dia sudah punya pacar.
“Boleh aku pikirkan dulu?” Pintanya. Dia tidak mungkin menolak permintaan mereka mentah-mentah. Xingqiu anak yang tahu diri, bahkan jika kali ini dia akan membangkang rencana yang disiapkan oleh orang tuanya.
Orang tuanya menghela napas lega, lalu mereka mengangguk. Bagus.
Ada suatu pepatah dari negeri yang jauh, katanya manusia bisa berencana; tapi dewa yang memutuskan akhirnya. Yanwang Dijun mungkin sudah mangkat dan bersemayam di Celestia, tapi Xingqiu tahu dia akan tersenyum melihat rakyatnya memperjuangkan hal paling berharga bagi mereka, dan dalam hal ini; cinta.
Sekarang, dia perlu menyusun rencana dengan teman-temannya.
>───⇌••⇋───<
“Kamu bercanda, ya?!” Hu Tao adalah yang pertama kali berseru setelah Xingqiu selesai menceritakan masalahnya, “Masa sama Lihui, sih… kamu, kan, sudah pacaran sama Qianyu-jie?”
“Enggak, aku serius,” balas Xingqiu muram, “Dan itu masalahnya. Aku enggak bisa melalui perjodohan ini, aku sudah ada Qianyu-jiejie. Apalagi kalau sama Lihui….” Dia tidak menyelesaikan keluhannya, namun melirik Chongyun diam-diam.
Pemuda eksorsis itu menelan ludah. “Terus Lihui bilang apa soal ini?”
Xingqiu menggeleng. “Aku enggak tahu, kami belum bicara lagi.”
“Aku rasa Lihui juga enggan kalau dijodohin sama Xingqiu,” ujar Xiangling.
Entah Lihui mau dengannya atau tidak pun bukan masalah, pikir Xingqiu, gadis itu adalah teman masa kecilnya; karena itu Xingqiu tahu juga perangainya. Dia akan menghindari perselisihan, dan menuruti apa yang dipilih oleh orang tuanya yang kolot. Xingqiu tahu Chongyun menyukai Lihui, dan dia rasa Lihui juga menyukai Chongyun. Tapi jika dia sudah dipilihkan calon suami oleh keluarganya….
Memang sudah tugas Xingqiu untuk menghentikan perjodohan ini.
“Xingqiu, kamu harus kompak sama Lihui kalau mau menggagalkan ini,” celetuk Hu Tao, “Kalau cuma satu pihak saja yang mundur, yang ada orang tua kalian langsung mencari calon yang lain. Ini harus dibicarain baik-baik, biar kedua pihak mengerti.”
“Tapi orang tuanya Xingqiu pasti mengerti, toh, kalau mereka tahu Xingqiu pacaran sama Qianyu-jie,” ujar Chongyun, pemuda itu terdiam sejenak sebelum menyenggol Xingqiu keras, “Bentar, deh. Kok bisa-bisanya orang tuamu gak tau soal Qianyu-jie??”
Xingqiu mengerang. Memang salahnya disini. “Aku merasa berita soal hubunganku enggak seharusnya diberi tahu sambil lalu begitu saja, tapi setiap aku ingin cerita, mereka selalu sibuk dengan sesuatu. Jadi lama-lama aku… lupa….”
Lagipula jadiannya dia dan Qianyu dadakan sekali, tidak ada waktu untuk memperkenalkan Qianyu pada orang tuanya. Qianyu menulis di suratnya kalau dia ingin bertemu dengan orang tua Xingqiu saat pulang nanti, dan Xingqiu terlalu menggantungkan harapan untuk pertemuan pertama yang indah. Orang tuanya tidak pernah peduli Xingqiu sedang dekat dengan siapa sebelumnya, dan dengan kakaknya bertunangan duluan, dia pikir dia bebas dari kemungkinan itu.
“Yang penting mereka harus tau dulu kamu udah punya pacar,” ujar Chongyun.
“Kompakan dulu sama Lihui,” sahut Hu Tao
“Kamu bilang orang tuamu ingin kalian bertemu dulu, kan?” Celetuk Xiangling, “Kalian bisa, tuh, memanfaatkan momen untuk menolak bareng-bareng.”
Xingqiu menggeleng. “Aku tidak mau merepotkan Lihui.”
“Merepotkan gimana? Ini kan menyangkut hajat hidupnya juga!”
“Kalian tahu Lihui,” ujar Xingqiu, “Aku merasa dia tidak memiliki pilihan untuk ini. Lagipula ini masih ide dari ibuku, siapa tahu dia belum bilang ke keluarganya Lihui? Kalau Lihui tahu duluan sebelum ada apa-apa… yang ada kita hanya membuat kepanikan.”
Teman-temannya bertukar pandangan, walau akhirnya setuju juga dengannya.
Secepatnya, dia harus memberi tahu keluarganya secepatnya. Keteledoran Xingqiu membuatnya repot sekarang, dia tidak bisa memberikan impresi yang salah bahwa dia mau dijodohkan dengan Lihui.
Pertama-tama, mereka perlu memastikan semua anggota keluarganya ada di rumah. Semua harus tahu, dia akan membawa mereka duduk sebelum memberikan kabar bahagianya. Kakaknya, sih, gampang, tapi orang tuanya yang sibuk. Setelah Xingqiu bertanya tentang jadwal ayahnya kepada sekretaris kepala, dia jadi tahu kalau dua hari lagi beliau baru senggang. Sementara itu ibunya diajak makan-makan di Wanmin oleh teman sekolahnya. Well . Dia akan menyerahkan ini kepada Xiangling untuk membubarkan acara mereka supaya bisa berkumpul sekeluarga di waktu malam.
Dia tetap tidak menyangka pengalihan isu yang Xiangling rencanakan adalah membuat Guoba membakar gaun ibunya.
“Ibu baik-baik saja! A-Qiu, sungguh! A-Ling dan Chef Mao juga sudah minta maaf!” Ujar ibunya melihat mulut Xingqiu menganga begitu.
Dia percaya ini sudah direncanakan, dan Xiangling tidak akan membuat ibunya celaka, tapi tetap saja!
“Baju Ibu, kan, mahal…” tambah kakak Xingqiu.
“Dan kita punya uang untuk beli yang baru,” balas ibunya, “Jangan berlebihan. Chef Mao bahkan memberikan banyak makanan untuk dibawa pulang oleh Ibu. Ayo kita makan saja.”
Ayah Xingqiu cuma geleng-geleng kepala mendengar cerita istrinya.
Setelah sekian lama, mereka berempat akhirnya makan bersama. Keluarga Xingqiu bukan tipikal yang suka berbincang sambil menyantap makanan, saat kau makan, maka fokus kepada yang di piring. Rasa hormat tidak hanya diberikan kepada makhluk hidup, tapi semua berkah yang mereka miliki sehari-hari. Baru setelah semuanya selesai, Xingqiu berdehem.
“Ada sesuatu yang ingin aku katakan,” ujarnya pada semua orang.
Kakaknya mengerjap, sementara orang tua mereka bertukar pandangan.
“Ada apa, A-Qiu?” Tanya ayahnya.
“Ini tentang rencana perjodohan yang Ibu sebutkan beberapa hari yang lalu,” ujar Xingqiu. Yanwang Dijun, tolong berikan dia kekuatan.
“Oh, ya? Apa kamu sudah memikirkan permintaan Ibu?” Tanya ibunya antusias.
Xingqiu mengangguk. “Sudah, dan aku berterima kasih karena Ayah dan Ibu sudah repot-repot memikirkan masa depanku.”
“Tunggu. Xingqiu mau menyusulku?” Sergah kakaknya takjub, “Sama siapa?”
“Kemungkinan besar,” ujar ayahnya.
“Dengan Lihui,” sambung ibunya.
“Tidak,” Xingqiu berkata dengan tenang, “Aku tidak akan menikahi Lihui.”
Hening.
Ini dia. Inilah klimaks yang dia takutkan. Kata-kata yang sudah Xingqiu persiapkan dari kemarin akhirnya keluar juga. Xingqiu adalah anak yang berbakti, dia melakukan apa yang dituntut dari posisinya sebagai tuan muda keluarga berpengaruh dan memastikan tugas-tugasnya selesai dengan sempurna. Dia punya privilase yang selalu dia manfaatkan sepenuh hati, namun ketika kewajiban berbenturan dengan risalah hati, Xingqiu dengan kesadaran penuh akan membangkang.
“Ah.” Ayahnya lah yang pertama kali bereaksi, “Apa kamu tidak menyukai Lihui, Nak?”
“Tidak sama sekali, tapi bukan karena karakter atau penampilannya. Ada alasan lain yang membuatku tidak bisa mencintai Lihui, atau gadis lain pilihan Ibu,” jawab Xingqiu, jantungnya berdegup kencang, “Ayah bilang cinta bisa tumbuh seiring waktu berjalan, tapi untuk cinta bisa tumbuh, maka aku harus membuka hatiku dan memberikan tempat untuk mereka, dan itu mustahil.”
Kedua orang tuanya mendengarkan dengan serius.
Sekarang atau tidak sama sekali.
“Ayah, Ibu. Hatiku sudah dimiliki oleh Qianyu-jiejie, jauh ke Sumeru mereka bersemayam. Aku memberikan diriku hanya untuk dia dan tidak ada sisa untuk siapapun lagi.”
Qianyu dengan pemikirannya yang cemerlang, Qianyu dengan senyuman termanis yang pernah dia jumpai, Qianyu dengan hati yang lembut, Qianyu dengan cita dan cinta yang membuat Xingqiu berbunga-bunga. Cinta pertamanya, cinta terakhirnya.
“Qianyu ini…” ujar kakaknya pelan, “Apakah Qianyu yang sama yang satu klub buku denganmu?”
Xingqiu mengangguk. “Satu-satunya.”
“Oh, A-Qiu….”
“Ibu, aku mencintainya,” ujar Xingqiu sungguh-sungguh, “Aku tahu Ayah dan Ibu hanya ingin yang terbaik untuk keluarga kita, tapi untuk ini, hanya untuk ini, aku tidak bisa menerima permintaan kalian. Bahkan jika seorang dewi turun dari Celestia dan melamarku, aku akan tetap menolaknya untuk Qianyu-jie.”
“Kalau kamu sangat mencintainya, kenapa kami baru mendengar soal hubungan kalian?” Tanya ibunya tidak percaya.
Xingqiu menunduk. “Aku minta maaf, yang ini adalah kesalahanku. Aku ingin kita duduk dengan serius di waktu yang tepat saat aku memberi tahu tentang Qianyu-jie, tapi ternyata tidak ada waktu yang tepat itu.”
Ayahnya menghela napas.
“Nak,” ujar ayahnya sabar, “Jika kamu terus mengejar yang tepat itu, kamu malah tidak akan mendapatkannya. Satu tahun dan kami belum tahu tentang hubungan kalian? Apa kamu serius dengan dia?”
“Tentu saja aku serius,” balas Xingqiu langsung. Beraninya ayahnya mempertanyakan perasaan Xingqiu? Xingqiu memang manusia biasa yang tidak lepas dari salah. Mereka bahkan sedang membahas salah satunya, tapi komitmen Xingqiu kepada Qianyu tidak main-main. Dia tidak terima jika ada orang yang meremehkan mereka begitu saja. “Qianyu-jie adalah satu-satunya perempuan yang aku cintai. Baik sekarang atau seratus tahun lagi, aku hanya ingin menghabiskan hidupku dengannya. Karena itu… aku tidak bisa memberi tahu tentang hubungan kami sambil lewat, dia terlalu spesial untuk disebutkan begitu saja. Ayah dan Ibu tidak habis dihitung jari berapa hari dalam sebulan kapan saja ada di rumah, aku perlu Ayah dan Ibu untuk mendengarkan dan mengerti.”
Hari itu akhirnya datang, walau harus dengan cobaan yang membuat Xingqiu kalut setengah mati.
Keheningan mengisi ruang makan, tidak ada yang bicara untuk beberapa lama.
“Kami mendengarkan sekarang,” ibunya berkata dengan lembut, dia bertukar pandang sejenak dengan suaminya, lalu melanjutkan, “Dan kami mengerti.”
Beban yang menggelayuti pundak Xingqiu langsung sirna saat itu juga. Dia menghela napas lega, bergantian memandang haru antara ayah dan ibunya.
“Hanya saja kami berharap kamu bilang lebih awal,” tambah ayahnya, “Kalau iya, kan, kesalahpahaman seperti ini bisa dihindari.”
“Aku tahu,” ujar Xingqiu, “Ini memang salahku, tapi ayah dan ibu belum bilang ke keluarga Lihui, kan?”
Ibunya menggeleng, tatapannya lembut. “Belum, kok, ini masih rencana Ibu saja.”
Kalau begitu ini tidak akan jadi masalah. Xingqiu menunduk, ujung-ujung bibirnya tertarik membentuk senyuman. Dia lalu berdiri. “Tunggu sebentar, aku mau menunjukan foto Qianyu-jie.”
Dia bergegas menuju kamarnya untuk mengambil foto Qianyu yang dia pajang di figura di atas nakasnya, lalu dia kembali ke ruang makan dengan buru-buru. Xingqiu memberikan figura itu kepada ayahnya.
“Ini Qianyu-jie, kekasihku,” ujarnya dengan bangga, “Dia sedang kuliah ke Sumeru Akademiya sekarang. Jadi kami LDR dulu, tapi empat tahun lagi dia akan kembali ke Liyue dan aku akan memperkenalkannya dengan Ayah dan Ibu.”
“Kamu yakin? Empat tahun adalah waktu yang lama, A-Qiu.”
Qianyu bisa menggantungnya selama seribu tahun, dan Xingqiu akan menyalakan lentera untuk menuntun kepulangannya dari perjalanan antah berantah tersebut.
“Aku tidak pernah seyakin ini.”
Ayahnya tertawa, dia memberikan figura itu pada istrinya dan tersenyum pada Xingqiu.
“Lihatlah dirimu. Sudah dewasa dan siap memperjuangkan gadis tercintamu saja. Padahal rasanya baru kemarin digendong-gendong sama Ayah.”
Xingqiu balik tersenyum. “Aku akan melakukan apapun untuk Qianyu-jie.”
Ibunya mengelus pigura itu. “Kamu pasti sangat menyayanginya.”
Foto itu diambil sebelum mereka jadian. Mereka difoto untuk kegiatan klub buku, tapi Xingqiu meminta salinan dari ketua untuk dipotong dan dipajang berdua saja. Mereka berdiri bersampingan, tersenyum sumringah kepada kamera sementara hampir tidak ada jarak di antara bahu mereka. Di dadanya, Qianyu memeluk novel karangan Xingqiu.
“Ketika Qianyu kembali,” ujar ibu Xingqiu, “Kamu harus segera membawanya untuk bertemu kami. Ayah dan Ibu sangat ingin bertemu dengan perempuan yang kamu cintai ini.”
Ayahnya ikut tersenyum, sama cerahnya dengan yang terlukis di wahah ibunya.
Hangat merekah di dada Xingqiu, kekhawatiran yang mengganjal dadanya ternyata hanya ketakutan yang dia karang sendiri. Semuanya akan baik-baik saja. Semuanya akan baik-baik saja.
“Pasti,” Xingqiu tersenyum, begitu sumringah, begitu lega, “Aku tidak sabar untuk memperkenalkan kalian.”
>───⇌••⇋───<
Seminggu setelah huru-hara perjodohan, surat bulanan dari Qianyu tiba. Dia menceritakan tentang kehidupannya di Sumeru, kelas-kelas dan seminar yang dia jalani, keseharian bersama teman-teman, dan gemerlap bazar dan alam yang berbeda dengan yang mereka miliki di Liyue. Qianyu tidak lupa bertanya tentang keadaan Xingqiu, Apa kabarmu? Sehat, kan? Bagaimana kontrak dengan penerbit di Inazuma itu?
Aku merindukanmu, cepat balas, ya.
“Aku merindukanmu juga, Jiejie,” bisik Xingqiu ketika sampai di akhir surat.
Qianyu baik-baik saja di Sumeru. Kehidupan kuliah bukan sesuatu yang terlalu Wah, tapi kesederhanaan hidup kadang merupakan kemewahan yang tidak manusia sadari. Sebelumnya, Qianyu menceritakan bahwa dia ada masalah dengan teman sekelasnya, lalu ada kesalahpahaman dengan Matra. Beberapa hanya gangguan kecil, tapi kekasihnya juga memercayai Xingqiu hingga menceritakan kecelakaan dan masalah yang membuatnya pusing tujuh keliling.
Xingqiu tidak mau mengganggu kenyamanan hidup Qianyu yang sedang baik-baik saja itu.
Prahara perjodohan ini sudah selesai, tidak baik untuk membuat Qianyu khawatir untuk sesuatu yang bahkan bukan masalah lagi.
Jadi dia tidak menyebutkan hal ini sama sekali dalam suratnya. Hanya kerinduan, petualangan, dan keluhan biasa yang tidak akan membuat Qianyu berpikir dua kali. Mereka menggoda satu sama lain, menyelipkan puisi dalam lembaran kertas, dan sebelum Xingqiu menyegel amplopnya; dia menyelipkan helaian rambutnya yang sudah memanjang.
Aku milikmu , dia menulis, sekarang dan selamanya adalah milikmu.
Tolong jaga cintaku di hatimu, seperti aku menyegel erat-erat senyum dan tawamu di sanubariku.
Cintaku. Satu-satunya dalam hatiku.
