Chapter Text
lee donghyuck—nama yang tak asing di kalangan adik kelas dan juga kakak kelas, nama yang selalu memberi banyak respon yang berbeda,
“kak donghyuck yang kadang main basket pulang sampe sore itu bukan deh maksud kamu??”
“donghyuck ih!! balikin ga helm gue!!”
“kak donghyuck cakep deh kalo lagi ngomong gitu,”
“lu naksir donghyuck? najis anjir tengil banget ga kuat gue!”
donghyuck sih tiap mendengar celetukan dari ciwi-ciwi di sekolahnya cuma mengangguk paham.
emang kenyataannya gue ganteng kok?
tapi saat pemikirannya ini ia utarakan ke adik ceweknya—yang juga satu sekolah sama dirinya, malah geplakan keras yang ia terima dari sang adik.
“apaan sih kak lo pede banget. standar ganteng mah itu tuh kak jaemin!”
alis donghyuck menukik.
siapa?!
“siapa dah?”
“laah gue kira lo tau. itu loh anak baru di kelasnya kak renjun,” jelas adiknya membuat donghyuck harus menjeda sesi makan malamnya.
“kok gue ga tau ada anak baru? kok bisa ada anak baru masuk tengah taun gini?”
adiknya hanya menggedikan bahunya, enggan menjawab pertanyaan donghyuck.
“tau deh. denger-denger sih dia sempet sekolah di luar soalnya bapaknya diplomat gitu. terus dia balik ke indo,”
no wayyyy, donghyuck berteriak dalam hati.
anak baru, yang kata adiknya ganteng dan pernah sekolah di luar?
what the hell? dia mau mencuri popularitas donghyuck kah?
jujur deh, mendengar berita ini membuat ego donghyuck sedikiiit tergores.
kelopak matanya berkedut tiba-tiba. gak bisa dibiarin sih ini, batin donghyuck, besok kudu gue samperin deh. secakep apa sih si jaemin jaemin ini?
turns out,
yang namanya na jaemin emang cakep.
tinggi lagi.
donghyuck perlu sedikit mendongak ke atas ketika dirinya berhadapan dengan jaemin—unplanned!
niatnya tuh dia ingin introgasi renjun dulu, kok bisa-bisanya ada anak baru di kelas renjun tapi dia ga cerita?!
tapi namanya juga manusia, hanya bisa berencana.
tepat ketika ia hendak menarik gagang pintu kelas renjun, pintunya udah kebuka sendiri—membuat keseimbangannya oleng.
alhasil, jidatnya menatap sesuatu yang keras dan juga empuk.
“adooh!” ujarnya heboh, omelannya sudah di ujung bibir, siap menyemprot siapa aja yang membuka pintu.
“lo ga papa?”
suara asing yang malah menyapa telinganya pun sebuah tangan yang melingkar pada pinggangnya.
eh apaan sih?!
donghyuck buru-buru menjauhkan badannya dari si objek asing. matanya langsung tertuju pada name tag di seragam lelaki itu.
jaemin na.
kedua mata donghyuck langsung melihat ke wajah pemilik nama.
“lo ga papa?” tanya lelaki itu ulang ketika melihat donghyuck yang masih memegangi jidatnya.
donghyuck jujur saja masih bengong.
ternyata adiknya ga bohong.
ga cuma cakep, tapi na jaemin punya dada bidang dong?
what the hell????
“ngapain lo berdiri di depan pintu?!” sisi defensif donghyuck keluar ketika dirinya merasa tidak nyaman—entah karena apa.
tidak seperti reaksi orang jika diomelin sama orang asing, jaemin malah tersenyum lebar melihat tingkah donghyuck, “karena ini kelas gue…?”
shit, iya lagi. donghyuck tetap menggerutu.
“ya udah minggir gue mau masuk!”
jaemin mengerutkan kedua alisnya, menatap wajah donghyuck cukup lama sebelum ia sedikit menurunkan kepalanya untuk menyamakan pada donghyuck,
“lain kali tuh kalo nyuruh orang pake kata maaf, tolong, makasih. paham?”
donghyuck membelak kaget melihat kedekatan wajah mereka berdua. tertatih, dirinya memundurkan wajahnya—sedikit merasa terintimidasi dengan wajah serius jaemin.
“paham ga?” tanya jaemin ulang.
“iya ngerti,” balas donghyuck pelan.
puas dengan jawaban donghyuck, jaemin kembali tersenyum lebar dan ikut menjauhkan badannya.
mengangguk pelan, dirinya akhirnya berjalan keluar dari pintu.
“good boy,” ucap jaemin kepada donghyuck yang kini mematung di depan kelas.
WHAT THE HELL?
────୨ৎ────
see, let’s get this straight.
lee donghyuck itu straight. at least yang lelaki itu pikirkan selama ini.
ketertarikannya pada wanita tidak pernah berubah semenjak dari bangku sekolah dasar. sifat tengilnya selalu berhasil membuat perempuan yang sengaja ia jaili merajuk dan merengek padanya—pun hingga dia sma saat ini.
donghyuck pernah pacaran sekali, meskipun hanya bertahan tiga bulan karena terhalang ujian nasional saat smp dulu.
tapi itu dulu.
semenjak dirinya bertemu orang yang tak kalah tengilnya, donghyuck kewalahan.
donghyuck tidak mengelak dirinya menarik—baik dari pandangan wanita maupun pria. beberapa kakak kelas cowo bahkan terang-terangan tidak menatarnya karena mereka naksir donghyuck.
donghyuck sih bodo amat ya, cenderung happy malah diperlakukan khusus—tidak disuruh push up karena telat datang ke warung tongkrongan, dibolehkan ikut bermain basket meskipun dia bukan tim basket, hell bahkan dirinya boleh makan di kantin kelas 12 saat masih duduk di bangku kelas 10??
tapi yaaa, balik lagi. donghyuck itu straight.
sebelum akhirnya dia bertemu dengan na jaemin.
na jaemin, yang ternyata lebih tengil dari dirinya. cenderung songong malah. sok ganteng. sok kaya. sok paling pernah tinggal di luar negeri.
walaupun semua itu fakta, tapi donghyuck kesal mengakuinya.
titelnya menjadi cowo paling ganteng dan tengil dan bisa membuat hati wanita klepek-klepek seketika hilang digantikan oleh jaemin. kini bisikan kagum di lorong sekolah tidak lagi ditujukan pada dirinya, tetapi untuk jaemin.
na jaemin yang kini sedang berjalan ke arahnya, dengan jaket & kaos olahraga-nya yang ketat—membentuk jelas dada bidang & bisepnya, dengan rambut yang terhempas sepoi angin yang menampakkan jidatnya.
tiba-tiba lagu almost paradise terngiang di pikirannya.
anjir! apaan sih!! donghyuck menggerutu sebal sama dirinya sendiri, tiba-tiba membayangkan jadi main lead seperti di drama korea.
yang membuatnya kesal adalah dia membayangkan dirinya sebagai geum jandi instead of gu junpyo.
hiiih, donghyuck bergidik ngeri, kok bisa sih dirinya malah mikir jadi female lead-nya??
masih sibuk dengan monolog dalam hatinya, donghyuck tidak menyadari jaemin sudah berada di hadapannya. hingga lelaki itu menjentikkan jarinya di jidat donghyuck yang membuatnya mengaduh kesakitan.
“aww! apaan sih?!” sewot donghyuck.
“mau kemana lo?”
oh iya. kan. donghyuck sampai lupa.
saat ini dia emang sedang skip kelas olahraga karena ingin makan gado-gado di warung bi inem. mumpung anak kelas 12 lagi jamkos dirinya diajak sama mereka untuk makan.
“bukan urusan lo!”
donghyuck buru-buru pergi. belum sempat dirinya melangkahkan kaki lebih dari 3 langkah, jaemin sudah menarik kerah kaos olahraganya—membuatnya tertarik ke belakang.
“apaan sih?! lepasin ga?!”
karena jaemin lebih tinggi, dirinya berasa seperti kucing. donghyuck harus sedikit jinjit agar tidak tercekek oleh kerahnya sendiri.
“kelas kita ada jadwal olahraga ya,” jelas jaemin datar.
“ya gue tau!”
“olahraga hari ini di lapangan indoor kok,”
“itu gue juga tau!”
“hari ini kita ada penilaian,”
nah. ini donghyuck ga tau.
“emang iya?”
na jaemin tersenyum lebar. the same smile that he showed donghyuck the first time they met. too wide, too many teeth. like a fucking snake ready to prey.
bukannya menjawab, na jaemin hanya menyeret donghyuck menuju lapangan indoor—membuat lelaki yang lebih kecil berteriak kaget.
“LEPASIN GAK?!” donghyuck bergerak heboh, sengaja agar na jaemin kewalahan dan melepaskan tangannya.
namun donghyuck lupa kalau lelaki itu punya lengan sebesar pahanya (oke dirinya lebay) tapi rasa-rasanya na jaemin tidak kepayahan dengan tingkahnya—malah makin cepat menyeret dirinya.
tidak ingin merasa kalah, donghyuck akhirnya menarik nafas panjang sebelum akhirnya mengambil ancang-ancang untuk berlari.
belum sempat kabur, bunyi robekan terdengar kencang dari lorong kelas yang sepi itu. mata donghyuck melotot ketika menyadari bagian dadanya terkena angin.
SHIIIIITTTT, donghyuck kelabakan sendiri. kedua tangannya berusaha menutup bagian depannya yang kini terekspos.
“kan,” decak jaemin, seolah-olah sudah menebak kejadian ini akan terjadi.
kedua tangannya meraih bahu donghyuck dan memutar badan lelaki itu agar menghadapnya.
pandangannya langsung tertuju pada dada donghyuck yang masih keliatan.
bagaimanapun juga, na jaemin masihlah seorang lelaki yang masih dalam masa pertumbuhan. menjaga pandangan merupakan salah satu hal yang cukup susah ia lakukan jika dirinya di hadapkan dengan sesuatu yang… menarik.
dan baginya, donghyuck itu menarik.
“ga usah liat-liat!!” sentak donghyuck ketika dia menyadari jaemin memandangi bajunya yang sobek. jujur aja nih, donghyuck malu setengah mampus karena tingkahnya sendiri.
“ck,” jaemin pada akhirnya melepaskan jaket olahraga yang ia kenakan dan memasangkan pada donghyuck.
once again, jaemin itu masihlah seorang lelaki. ketika sesuatu yang menarik miliknya dapat dilihat orang lain, rasa ingin menyembunyikan sesuatu tersebut jadi kuat.
tak terkecuali pada donghyuck, lelaki yang bahkan bukan miliknya.
ralat.
belum.
“dipake yang bener,” jaemin sedikit kasar menarik resleting jaketnya hingga menutupi badan donghyuck, “habis itu nurut sama gue ke lapangan indoor.”
ketika jaemin sibuk merapikan jaketnya yang sedikit kebesaran di donghyuck, laki-laki yang lebih kecil malah kebingungan kenapa dirinya salting.
biasanya dirinya lah yang berada di posisinya jaemin—memakaikan jaket ke cewe yang sedang ia incar, tapi kok kini malah jantungnya berdetak cepat ketika dirinya yang mendapatkan perlakuan ini dari orang lain?
“udah bengongnya?” tanya jaemin setelah selesai memasangkan jaketnya ke donghyuck.
“bacot!” sahut donghyuck kesal.
jaemin memicingkan matanya dan mendekatkan wajahnya ke milik lelaki itu yang membuat donghyuck berdecit kaget.
“apaan sih! minggir gak?!”
donghyuck sudah ambil ancang-ancang untuk menjotos jaemin jika pria itu nekat melakukan tindakan senonoh di lingkungan sekolah pada dirinya. namun, sepertinya seorang na jaemin tidak takut dengan bokeman donghyuck yang sudah di udara. laki-laki itu kembali tersenyum lebar. donghyuck reflek memejamkan kedua matanya ketika tangan jaemin mendekati mukanya—takut kalau malah pria itu yang malah memukulnya.
jaemin, yang menyadari tingkah donghyuck, menggigit bibir bawahnya. tidak kuasa ternyata seorang lee donghyuck yang tengil takut juga jika dipukul orang—meskipun dirinya tidak niat sama sekali merusak wajah manis itu.
“bulu mata lo jatoh,” donghyuck dapat merasakan telunjuk jaemin menyentuh wajahnya. buru-buru ia membuka kedua matanya.
“lo ngiranya gue mau nyium ya?”
donghyuck menganga lebar mendengar kalimat jaemin. reflek, saking sebalnya, donghyuck mendorong kedua bahu jaemin dan langsung jalan meninggalkan pria yang tertawa puas di belakangnya.
shitshitshit, donghyuck menggerutu sebal, he needs to make a plan so jaemin will leave him alone!!!!!!!!!!!
────୨ৎ────
ternyata, telat ke kelas olahraga bersama jaemin membawa mimpi buruk bagi donghyuck.
donghyuck tidak tau kalau penilaian hari ini adalah sit up berpasangan.
which means, kalau kalian butuh diperjelas, tiap siswa perlu mencari teman lainnya untuk membantu menghitung sit up mereka untuk penilaian.
which meaaaaaansss, karena donghyuck dan jaemin telat, sisa mereka berdua yang belum membentuk tim. belum menjadi pasangan.
“kenapa telat?” tanya pak mardi ketika melihat dua siswa baru masuk lapangan. suaranya cukup keras hingga siswa siswi dari kelas donghyuck dan jaemin memperhatikan keduanya.
“anu pak—”
“donghyuck tadi kaosnya sobek pak,” jawab jaemin memotong ucapan donghyuck. lelaki yang lebih kecil mengerjap kesal.
“engga pak tadi—”
“makanya ini jaket kamu dipakai sama donghyuck?” tanya pak mardi, lagi-lagi ucapan kalimat donghyuck terpotong.
senyuman jaemin merekah lebar. sebenarnya tujuan utamanya meminjamkan jaketnya pada donghyuck adalah ini.
so people can see his claim on donghyuck.
jaemin mengangguk, tangannya meraih milik donghyuck untuk ia genggam, “maaf ya pak kami telat. boleh masuk posisi kah?”
pak mardi hanya menggeleng pelan, “ya sudah sana. yang bener nilainya jangan malah pacaran!” peringat guru olahraga itu yang didengar seluruh siswa.
teman-teman mereka cekikikan, jaemin tertawa renyah. sedangkan donghyuck?
lagi-lagi lagu almost paradise terputar di kepalanya. shiiiiiiiit.
“maksud lo apa sih?!” gerutu donghyuck ketika keduanya sudah duduk dan siap posisi sit up.
“hm?” jaemin masih sibuk membenarkan posisi kaki mereka, mengatur agar donghyuck nyaman melakukan sit up. sang empu yang diatur hingga tidak sadar jaemin dengan mudahnya menarik dan mengangkat kakinya karena sibuk mengomel.
“pake pegang-pegang tangan gue! terus cuma ketawa doang pas dibilang pacaran!!”
jaemin kembali menggumam, tangannya kini sibuk mengencangkan tali sepatu donghyuck.
“jaemin lo dengerin gue gak sih?!”
lelaki itu akhirnya memberikan fokusnya pada donghyuck.
donghyuck yang kini kedua alisnya bertaut dan bibir cemberut.
“kenapa harus gue? kenapa tadi lo diem aja? deep down, you like being called my boyfriend kan?”
donghyuck mematung. shiiiiit, bener juga.
kenapa tadi dia diem ya?!
donghyuck mengerjapkan matanya cepat—karena bingung ingin beralasan apa lagi dan juga ughhh poninya nyolok ke matanya.
jaemin yang menyadari kesulitan donghyuck terkekeh. wajahnya ia dekatkan dengan pria manis itu, telunjuknya menyibakkan poni donghyuck yang menghalangi pandangannya.
donghyuck?
lagi dan lagi dan lagi, lelaki itu hanya bisa mematung. untungnya kali ini lagu almost paradise belum sempat terputar di kepalanya karena sempritan keras dari pak mardi langsung membuatnya sadar.
“priiiiiit!!! itu yang dipojok ngapain!” dengan heboh pak mardi meniup peluitnya, membuat semua orang memperhatikan mereka berdua, “jangan pacaran ya! ayo mulai sit up!”
donghyuck yang sudah terjebak dalam posisi sit up tidak bisa kabur meskipun dirinya dapat merasakan pipinya memanas. ditambah lagi dengan senyuman tengil jaemin membuat jantungnya kembali berdebar.
“dah siap belom?”
“kok lo nyebelin banget sih?!”
jaemin semakin mendekatkan wajahnya lalu berbisik pelan, “do you know you’re cute when you get angry?”
mata donghyuck melotot, salting dan kehabisa amunisi untuk membalas jaemin, dirinya hanya bisa menjawab, “ga usah sok bule deh lo!”
jaemin tertawa, “buruan. makin lama mulai ntar gue cium. mau?”
donghyuck refleks menendang kedua kakinya yang dipegang oleh jaemin, takut jika laki-laki di hadapannya ini beneran nekat menciumnya. meskipun baru dua kali berinteraksi, donghyuck sudah bisa menilai kalau jaemin itu freak.
mana sisi gantengnya sih seperti yang diucapkan adiknya?!
“gue itung sampe tiga ya kalau belum mulai gue cium beneran!” ancam jaemin.
“apaan sih!! ogah ya!! ga usah macem-macem lo jaemin!!”
donghyuck, yang sudah mempunyai feeling jaemin tidak bercanda dengan ucapannya, bukannya mulai sit up tapi malah mengomel.
“lo anak baru ga usah sok nantang deh!”
“tiga…,”
“liat aja image lo di angkatan bakal gue ancurin!!”
“dua…,”
“lo tuh ya ga usah sok ngerasa paling keren deh!! ngaca!!”
“satu,”
cup!
jaemin beneran mencium donghyuck. di pipi kirinya.
dunia donghyuck tiba-tiba berhenti berputar. serius.
jaemin, with his shit eating grin, memandang puas donghyuck yang memandangnya penuh dengan ketidakpercayaan.
donghyuck terpaku.
shiiiit, tiba-tiba di otaknya terputar cause you are my giiiirl~ dan terbayang ending credit scene seperti di drama korea favoritnya.
fuck lah, batin haechan, gue beneran berasa jadi geum jandi!
────୨ৎ────
