Work Text:
Hari sial memang tidak pernah menunjukkan tanggalnya di Kalender.
Masing-masing dari mereka terjebak dalam kerepotan yang menyesakkan dan terkunci dalam posisi canggung antara pelanggan yang sudah puas menunggu dengan penyedia layanan yang performanya patut dipertanyakan. Surya memberhentikan kemudinya tepat di tepian trotoar di mana Nesa berdiri.
"Mas Nesa?"
Sejatinya, ia tidak ingin memanggilnya. Selain karena pria itu merupakan langganan lama, mengamati sedikit pejalan kaki yang lewat siang itu, separuh harga dirinya terinjak ketika kehadirannya tidak digubris. Padahal Nesa hanya berjarak tiga langkah dengannya. Yang dipanggil pun menoleh sembari mengecek arloji di pergelangan kirinya, semakin mengusutkan urat harga diri terakhir yang Surya pegang. Senyuman menjengkelkan khasnya pun tak kisah dibagikan kepada Surya yang tengah kelimpungan mengeluarkan panas yang terperangkap dari balik jaketnya.
Surya pun menghela nafas. Ia siap menyalurkan kata yang sudah dirangkai saat menunggu di lampu merah, "Maaf, Mas Nesa. Saya gabisa nembus rush hour tepat waktu kayak biasanya. Jadi, untuk hari ini kalau mas cuma ngasih bintang tiga gapapa..." Sekadar maaf tidak merubah apa-apa. Setidaknya ia tahu diri kinerjanya sedang tidak di puncanya.
Kedua tangan Nesa—yang sebelumnya kekeh tersilang—melonggar dari dekapannya, berganti dengan kacak pinggang yang sama sekali masih belum meredakan degupan di dada Surya. Alarm responsibilitas yang ditanam pribadi terus menekan seakan sudah mencapai langit-langit atriumnya.
"Bisa juga, ya, kamu basa-basi formal," Nesa tertawa kecil, "memangnya kenapa saya gak bisa kasih kamu bintang lebih rendah dari itu?"
Jawaban yang sama sekali tidak melegakan. Surya berharap orang di hadapannya tidak bisa mendengar detak jantungnya yang berderang tak karuan.
Gaya tutur yang halus, namun tak segan untuk menusuk— cukup menyulut rasa muak akan jahanam yang menjentik segenap kesabarannya. Surya sudah berjanji untuk menguburnya dalam-dalam, namun tetap saja rekaman dirinya yang terbantai panggilan wawancara mengambang kembali ke permukaan. Masa kelam sebelum dia memutuskan untuk berhenti berjibaku dengan segala yang berhubungan dengan korporasi tai anjing dan mempertimbangkan untuk menelusuri gig work sebagai pengemudi panggilan daring. Surya tidak peduli sudah sememalukan apa dirinya terdiam tanpa balasan seperti orang bodoh. Dia memberanikan diri membalas pandang pada sosok yang enggan menaiki tumpangannya, meski dengan begini keduanya semakin mengulur waktu yang sudah termakan banyak.
Sialan.
Seberapa jauh pun aku menghindar, entah dengan segala caranya waktu masih menjeratku lagi dengan orang-orang seperti ini, pikirnya.
Sebelum bias amarah mengaluti dirinya, Surya cepat-cepat mengesampingkan masa lalu pahit yang tidak ada hubungannya dengan Nesa. Standar pelayanan tetaplah harus menjadi komitmen utamanya, mengantarkan Nesa terlepas apakah image yang susah-payah ia bangun sudah kepalang najis di mata langganan lamanya itu.
"Maaf sekali lagi, Mas Nesa–"
Ia menguatkan diri untuk tidak memaksakan senyumnya seraya meraih karung hitam yang masih menyelimuti helm penumpang. Tahan. Demi menjaga rating, batinnya. Sebelum Surya memuntahkan segala harga dirinya dengan menjelaskan mengapa ia sangat butuh konsiderasi dari pelanggan yang kepercayaannya sudah ia coreng, Nesa telah menyodorkan kepala terlebih dahulu kepada Surya.
"Pasangkan helmnya, ya, Mas Surya,"
Nesa menyela enteng tanpa melonggarkan ujung bibirnya sedetik pun. Senyuman bersarat makna—pastinya ada sesuatu selain menunggu permintaannya untuk diindahkan.
"Tenang aja, Mas. Saya gak setega itu ngasih rating rendah," sorot indigo yang tersaturasi oleh kaca film berganti membebani Surya yang tengah fokus memenuhi kompensasinya. Meski ia malas membalas pandang Nesa, akan tetapi jari-jemari Surya yang bolak-balik terselip saat mengaitkan klip pengunci tidak dapat membohongi seberapa kalut dirinya.
Dari sekian banyak percobaan, pada akhirnya helm itu rapi terpasang. Surya mencoba sebisa mungkin untuk tidak memberantakan senada rambut bak kembang sukma yang ia yakin Nesa meriasnya tidak dengan waktu singkat.
Salah satu kaki Nesa pun bertumpu pada pijakan motor dan menduduki jok penumpang. Tas kerja yang sedari tadi dibopong memenuhi jarak antara punggung Surya dengan abdomen Nesa. Terlepas dari objek yang mengisi di antara mereka berdua, Surya tidak salah mengira kalau beban tubuh Nesa sedang menekan punggungnya. Entah kenapa sandarannya lebih berat dari biasanya, seakan tas kerja di antaranya hanya menjadi pengecoh agar orang tidak salah mengira bahwa yang dipeluk Nesa bukanlah lelaki di depannya.
"Mas Surya, hari ini aku maafkan."
"Tapi untuk keterlambatan selanjutnya, aku butuh kompensasimu. Ikuti aja apa yang bakal kita atur mulai sekarang," Nesa berdeham ringan seiring Surya membawanya pergi. Meski kalimat Nesa tercerai-derai oleh deru gemerisik angin, namun telinga Surya tetap berusaha menangkap dan mencernanya.
"Selama ga terlalu melangkahi SOP perusahaan, saya oke aja, Mas," Surya dibingungkan bagaimana rupa kompensasi selanjutnya yang diinginkan oleh tuan muda satu ini. Dari sekian banyak permintaan seram yang terbayangkan, entah kenapa ia malah tergelitik dengan tebakan konyolnya.
"Mas Nesa," Surya memanggil.
"Ndalem?" Nesa pun memiringkan kepalanya. Paras yang tak lelah menyunggingkan senyuman itu terpantul dari kaca spion kanan.
"Jangan bilang nanti saya dapat tambahan bintang kalau bukain helm-nya Mas Nesa, ya?" Belum sempat Surya melepaskan tawanya, ia mendapati sudut mata Nesa yang layu terangkat. Matanya sedikit membulat. Surya tercekat. Jika jalanan hari ini tidak penuh padat oleh pengendara yang saling bersikut memakan jalan, ia pasti akan menolehkan kepalanya untuk mencuri pandang kepada Nesa yang kini sudah tertelan di balik punggungnya. Ia yakin tidak salah melihat. Motor satu-satunya itu baru saja ia mandikan kemarin hari— begitu juga spion yang sudah dipastikan kering, tidak ada lagi jejak jamur menempel di kacanya.
Hari ini kenapa, sih?
Ia mengutuk Nesa yang tidak bisa ditebak. Yah, setidaknya hari ini bisa. Namun, mau bagaimana pun Surya tetap tidak menyangka begini rasanya memutar rubik pikiran yang tak pernah ia bisa pecahkan sebelumnya. Meski sepintas, semburat samar merah muda yang menghiasi lengkung mata Nesa itu masih terpampang segar di sudut memori terdalamnya.
Surya ingin sekali berteriak gemas di tempat saat itu juga. Sekeras mungkin sampai pengendara lain mendengar apa yang sudah tertahan di pangkal tenggorokannya.
