Actions

Work Header

Aseksual?

Summary:

“Senku pernahkah kau jatuh cinta kepada perempuan?” Pertanyaan polos Suika membuat Senku kemudian menceritakan riwayat psikologisnya yang tidak biasa, yaitu saat dia didiagnosis tidak punya ketertarikan seksual sama sekali. Setelah mengetahui fakta itu, kenapa Shishio Tsukasa jadi kelihatan kecewa ya?

Notes:

Pernah dipublikasi di situs Fanfiction lain di bawah nama Argentum F. Silver-chan. We are the same person.

Work Text:

---Asexual?---

 

Perjalanan mengelilingi dunia dengan kapal Perseus memakan waktu luar biasa lama. Para awak kapal punya banyak waktu luang di tangan.

Suatu ketika, saat kapal berlayar santai, beberapa anggota kerajaan sains berkumpul di ruang rekreasi. Chrome dan Gen sedang bermain kartu di meja. Chrome menangis sebal karena kalah berkali-kali, dicurangi si mentalis. Di ujung meja, Senku tertawa-tawa, ikut mengusili Chrome yang frustrasi.

Taiju juga ada di sisi meja yang lain, tertawa-tawa. Yuzuriha dan Suika di sampingnya, ikut bergembira. Kohaku berusaha membela Chrome, namun dia ikut frustrasi dikerjai Gen. Semuanya tertawa semakin keras.

Sementara, Kinrou duduk di pojok ruang, tidak ikut larut dalam kesenangan di meja. Dia menopang kepala Ginro di lengannya. Ginro sudah lima kali muntah hari ini. Mata pemuda itu sudah berkunang-kunang, dan mukanya sebiru bangkai ikan karang. Kinrou diam saja dengan muka datar, sambil sesekali menaikkan kacamatanya.

Di sisi ruang yang lain, menjulanglah tubuh besar Shishio Tsukasa. Dia menunduk sambil menekuk satu lutut, diam, dingin. Kabarnya dia juga mabuk laut, namun masih berusaha menjaga wibawa di hadapan teman-temannya.

“Hei, bagaimana kalau kita berbagi cerita?” tiba-tiba Suika berceletuk, “Aku ingin dengar soal peradaban masa lalu kalian!”

“Waaah,” semua setuju. Mereka selalu suka cerita-cerita mengenai perabadan masa lalu yang sejuta kali lipat lebih modern.

Senku, Taiju, Yuzuriha, dan Gen sebagai “manusia modern” duduk di satu sisi meja, sedangkan Chrome, Kohaku, dan Suika duduk di sisi lainnya, bersiap mendengarkan. Kinro juga terlihat tertarik mendengarkan.

Awalnya, para manusia modern bercerita soal ponsel, televisi, pesawat terbang, kereta api, dan aneka rumah tangga.

“Kalian juga bersekolah?” Kohaku bertanya, “Seperti kami di desa? Kalian belajar baca tulis?”

“Haha, begitulah,” Senku mengorek kuping dengan santai, “Tapi kami belajar banyak hal di dalam bangunan yang saat besar.”

“Saat terjadi petrifikasi, kami sedang ada di sekolah!” Tambah Taiju. “Aku sedang ada di halaman belakang bersama Yuzuriha, dan Senku sedang ada di laboratorium sekolah!”

“Heeeh? Sekolah kalian punya laboratorium?” Suika terheran-heran.

“Ya, kami kan belajar sains pertama kali dari sekolah!” Yuzuriha menjelaskan.

“Oh! Kalian berada dalam satu sekolah?” Kohaku heran.

Gen tertawa, “Mereka bertiga iya. Aku tidak… Aku sudah lulus sekolah saat Petrifikasi terjadi. Aku bekerja di televisi. Kalian tahu, kalian hanya boleh bersekolah pada umur tertentu, dan sekolah itu berjenjang.”

“Oooo,” semua termangut-mangut.

“Apakah kalian juga bertarung untuk mendapatkan pasangan di era modern?” Kohaku tiba-tiba bertanya, mengagetkan semuanya. Wajar dia bertanya sepert itu. Dahulu, para pria diwajibkan bertarung untuk mendapatkan Ruri, kakaknya yang cantik jelita.

“Tidak,” Senku mengupil dengan cuek, “Di era modern, percintaan lebih bebas.”

“Waaah!” Kohaku merona, “A-apa maksudmu lebih bebas??”

“Yaa singa betina sepertimu mana tahu!” Senku mencibir cuek, nyaris membuat Kohaku membogemnya kalau saja tidak ditahan Taiju dan yang lain.

“Ah! Senku apakah kau pernah jatuh cinta kepada seorang perempuan?” Suika berceletuk. Semuanya langsung mengangkat muka, kaget akan pertanyaan barusan. Bahkan Taiju dan Yuzuriha. Sebagai dua orang terdekat Senku, mereka tidak pernah satu kalipun mendengar Senku bicara soal cewek.

Senku seperti biasa bermuka tidak peduli.

“Heh,” dia mengorek kuping, “Aku tidak pernah tuh mengalami yang seperti itu.”

“Oh! Sulit sekali menaklukan hati ilmuwan jenius seperti Senku!” Taiju berapi-api.

“Heh,” Senku mencibir lagi, “Kurasa ini ada kaitannya dengan hasil tes psikologiku saat SMP.”

.

.

Senku menunjukkan tanda-tanda IQ yang kelewat tinggi saat berusia satu setengah tahun. Ayahnya, Byakuya, langsung membawanya ke psikolog anak terbaik di kotanya.

Anak jenius biasanya punya masalah-masalah psikologi ikutan. Mulai dari autisme, antisosial, obesisve compulsive disorder, dan aneka nama-nama masalah lain. Untunglah, hasil pemeriksaan Senku aman. Namun untuk berjaga-jaga, para psikolog dan dokter menyarankan Byakuya untuk memeriksakan Senku secara berkala. Mereka juga menyarankan agar Byakuya terus mendampingi Senku dalam tumbuh kembangnya, agar kecerdasan emosionalnya bisa mengimbangi kecerdasan intelektualnya.

Itulah sebabnya Byakuya seakan enggan lepas dari sisi anaknya. Dia mengajari Senku segala-galanya sejak Senku masih balita. Dia selalu bangga kepada sang Putra, selalu mengapresiasi, memfasilitasi, mengedukasi, dan memberikan semua yang terbaik yang bisa seorang Ayah persembahkan kepada Putranya.

Pada usia empat belas, Senku sudah mulai puber. Suaranya memberat, dan jakunnya tumbuh. Dadanya melebar dengan cepat. Sepulang sekolah, Byakuya membawanya ke seorang psikolog lagi.

“Heh, pemeriksaan apa lagi ini Byakuya?” Senku membuang upil dengan cuek.

“Karena kau sudah puber, ada banyak yang harus dicek,” Byakuya berkata, “Laki-laki itu kalau sudah puber, akan mulai merasakan urgensi-urgensi tertentu. Arah seksualitas juga mulai terbentuk. Aku ingin semuanya terkendali untukmu.”

“Heh,” Senku membuang muka, “Menjijikkan.”

Senku tidak terlalu ingat detail tes psikologi yang harus dia garap. Dia mengerjakannya sambil mengorek kuping dengan cuek. Setelah beberapa kali tes, dia didiagnosis suatu kondisi yang dinamakan Aseksual. Kemungkinan, Senku akan merasakan ketertarikan seksual yang sangat kecil terhadap orang lain.

Pemeriksaan hormon menyatakan Senku normal-normal saja, sehingga aseksualitas ini diperkirakan berakar dari kondisi psikologis.

Senku tidak menyalahkan siapa-siapa. Dia hidup tanpa sosok Ibu. Byakuya membesarkannya seorang diri. Byakuya juga tidak punya pacar atau semacamnya, jadi dia tidak pernah melihat romansa. Apalagi ketertarikan seksual.

Foto-foto wanita seksi di majalah porno yang dibawa teman-teman SMP-nya hanya terlihat seperti gambar anatomi biasa. Dia hafal lekuk tubuh manusia dalam konteks biologi. Apa yang istimewa? Tidak ada.

Senku merasakan sepercik romansa saat melihat betapa Taiju mencintai Yuzuriha. Dia hanya tertawa pada percikan itu, antara geli dan tidak tahu harus merespon apa.

Namun dalam dirinya sendiri, dia sepuluh miliar persen tidak punya hal-hal seperti itu.

.

.

“Jadi… kau tidak bisa jatuh cinta?” Ukyo, Ryuusui, Francois, Kirisame, Nikki, Magma, dan Kaseki yang ternyata sudah menyimak di belakangnya kaget.

Senku terlonjak, nyaris terjungkal dari kursinya, tidak menyangka cerita ini akan didengar seluruh teman-temannya.

“Hei! Hei! Jangan seenaknya menguping!” Senku geram.

“Maaf, aku mendengar kau bicara soal percintaan, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak kepo,” Ukyo menggaruk kepala.

“Kami melihat Ukyo ke sini, dan kami ikuti. Dia pasti habis mendengar sesuatu yang juicy,” Nikki tertawa, “Ternyata kisah cinta Senku!”

“Aku tidak punya kisah cinta apa-apa!” Senku menyergah, “Byakuya tidak keberatan aku seperti ini. Dia bilang, aku malah lebih fokus belajar sains! Kalau kalian mau dengar soal percintaan, tanyalah Taiju dan Yuzuriha!”

“Heeeeh!!!!” Taiju dan Yuzuriha langsung merona merah dan panik.

.

.

Sementara semuanya mengeroyok Taiju dan Yuzuriha, Senku menyelinap ke luar, mengambil minum. Tsukasa sudah berdiri di depan dispenser air, ikut mengambil air juga.

“Aku tidak lihat kau keluar tadi,” Senku berkomentar.

“Hm,” Tsukasa bergumam dingin. Mereka berdua minum di lorong dalam diam.

Senku melirik ke arah wajah Tsukasa yang tenang dan damai itu. Bulu matanya masih lentik seperti biasa. Rasanya aneh sekali tiba-tiba dia menjadi sediam ini. Maksudnya, Tsukasa memang banyak diam. Namun sekarang atmosfernya terasa lebih sunyi dan canggung.

Senku baru bersiap beranjak saat Tsukasa berbisik, “Jadi, tidak pernah ada kesempatan untuk siapa-siapa?”

“Hm?” Senku menoleh. Mata merah garnetnya mengkilap. “Kesempatan untuk apa?”

Hening.

Mata lentik itu mengarah kepada Senku intens. Sekilas terlihat saat mereka berada di dalam medan pertarungan, saat sedang saling mengancam. Namun juga ada kilat sedih, dan raut takut. Seperti saat mereka sedang membicarakan hal-hal sentimentil.

Alis Senku naik, menyadari wajah Tsukasa yang setengah menunduk itu.

Raksasa setangguh ini membuat wajah sesedih ini. Rasanya agak… manis.

“Yah,” Senku menggemeretakkan leher dengan cuek, “Aku tidak benar-benar memikirkan hasil psikologi sialan itu sebenarnya. Itu adalah tes psikologi tiga ribu empat ratus tahun yang lalu.”

“Yah,” Tsukasa mengangguk, lalu berjalan pelan-pelan menjauhi Senku. Jubah singanya yang megah berkibar, meninggalkan Senku yang mendadak terpaku di depan dispenser.

Apa maksudnya?

Apa maksudnya?

Apa maksudnya itu?

APA MAKSUDNYA TSUKASA BERKATA SEPERTI ITU????

.

.

Tsukasa diam sekali sepanjang hari. Dia memilih makan sendirian di meja pojok. Senku meliriknya beberapa kali, menyadari bahwa Tsukasa seakan menghindarinya hari ini.

“Senku!” Chrome memanggil dengan semangat, mengajak Senku duduk semeja dengannya dan Gen.

“Wah, kau ini kenapa Senku-chan?” Gen bertanya dengan usil, “Kau seperti sedang galau.”

“Tidak apa-apa,” Senku menjawab cuek. Dia berusaha untuk memasang muka datarnya yang biasa, meskipun mendadak roti gulung dan sayuran di piringnya terasa tidak enak.

.

.

Sepanjang malam, Senku berdiskusi soal rute pelayaran bersama Ryuusui. Dia baru bisa tidur sekitar pukul dua. Sambil terkantuk-kantuk, dia kembali ke kamar.

Sosok itu ada di sana, membuat Senku terkejut sedikit.

“Tsukasa-teme! Sedang apa kau di situ?!”

Tsukasa sempat menginap beberapa hari di kamar Senku karena ada masalah dengan kamarnya. Dia terlihat sedang mengepak sisa barang-barangnya. “Maaf, aku hanya ingin mengambil ini,” ucapnya pelan. Dia bangun, lalu bersiap pergi, membuat Senku syok sedikit.

“Oi, Tsukasa,” Senku memanggil datar. Wajahnya terlihat serius dari ujung kamar yang lain. “Aku rasa aku harus meluruskan sesuatu dulu padamu, teme!”

Tubuh besar itu berbalik dengan mata melebar, melihat si ilmuwan muda memasang wajah sebal dan cuek dengan satu jari di kuping.

“Aku ini memang didiagnosis aseksual. Tapi bukan berarti aku imun terhadap hal-hal seperti… seperti… Yah, seperti perasaan nyaman terhadap seseorang. Byakuya menyayangiku sepanjang hidupnya, dan begitulah aku mempersepsikan perasaan-perasaan merepotkan seperti itu! Kau tahu, jadi, aku ini tidak sepenuhnya seperti kata psikolog-psikolog sialan itu.”

Mata Tsukasa melebar sedikit. Dia menyadari bahwa muka merah sangat tidak cocok untuk rambut perak hijau sang ilmuwan muda. Ujung bibir Tsukasa naik sedikit, antara geli dan senang. Matanya yang lentik meredup.

“Intinya!” Senku membuang muka, berusaha mengendalikan diri dengan ekspresi yang sangat memalukan, “Demi sains, kau tidak perlu risau.”

“Demi sains?” Tsukasa heran.

“Yah, bukankah perasaan-perasaan seperti itu adalah sains? Kau tahu, neurotransmitter dofamin, oksitosin, serotonin, endorfin, epinefrin!”

Primata terkuat itu tidak bisa menahan senyumnya sekarang. Senku sudah berusaha memasang wajah cueknya yang biasa. Namun mukanya sudah merona sampai telinga. Wajah cueknya justru sangat… manis.

“Yah,” ucapnya, “Aku tidak risau…”

.

.

Chrome yang kebetulan tengah jaga malam heran melihat kamar Tsukasa kosong. Di mana Tsukasa tidur malam ini?

Sementara empunya kamar ada di sisi lain kapal, merengkuh segala rasa nyaman itu bersama ilmuwan kesayangannya.