Work Text:
Proyek agung menuju bulan telah dimulai.
Para awak kapal diangkut untuk dibawa mengelilingi bumi, mencari semua sumber daya yang bisa menopang proyek raksasa itu. Karena ini merupakan perjalanan panjang, Ryuusui sang kapten kapal laut Perseus meminta modul residen yang memadai di dalam kapal. Modul residen itu dirancang seperti kapsul, berisi tempat tidur. Dalam keadaan darurat, modul itu dapat dipakai sebagai bunker.
Para awak tidak boleh hanya tidur di matras yang hanya digelar di lantai, atau menggantung di hamock poliester yang diikat sekenanya di langit-langit. Para awak butuh tempat tidur yang layak untuk menjaga kualitas tidur dan kualitas tulang belakang mereka.
Satu modul berisi satu tempat tidur dengan kasur dakron yang nyaman. Senku sendiri yang membuat dakronnya, dari persenyawaan etilen glikol dan asam tereftalat. Tidak mudah membuat material “modern” seperti itu di zaman batu ini, namun seperti biasa, tidak ada yang tidak mungkin di tangan sang ilmuwan muda.
Begitulah awal mulanya Senku mendapatkan modul residennya sendiri di dalam kapal. Sebuah kamar yang layak, dengan kasur modern dan sebuah lemari kecil untuk barang-barang pribadi.
Semua awak kapal menyukai modul residen mereka masing-masing, namun seperti biasa, Senku hanya mengorek kuping dengan muka cuek. Seolah tidak peduli.
Kamar pribadi adalah barang remeh. Di desa Ishigami, Senku biasa tidur di ruang teleskop. Kaki dan tangan membentang serampangan berbentuk bintang. Kadang, tanpa sadar dia adu tendang dengan Chrome di tengah malam.
Ya, kamar pribadi adalah hal yang remeh untuk sang ilmuwan.
.
“Eh?” Kohaku menjengukkan kepala ke dalam kamar Senku, “Senku, kok kasurmu lebih besar daripada kasur kami?”
“Ah, ini ukuran standar,” Senku menguap sambil berlalu menuju anjungan, berniat melakukan pemantauan rutin bersama Ryuusui.
“Hei! Hei!” Kohaku memanggil teman-teman yang lain, “Lihat! Kasur Senku lebih besar daripada kasur kita!”
Ginro dan Kinro ikut menjengukkan kepala. “Iya, tempat tidur ini ukuran dua orang,” Kinro berkata dengan nada datarnya yang biasa.
“Ya, kan? Curang sekali, kukira ukuran kasur sudah ditetapkan!” Kohaku protes.
Ginro nyengir, “Jangan-jangan Senku ingin menyelundupkan cewek ke sini wahahaha!”
“Hentikan!” Kohaku sebal, nyaris membogem Ginro seperti biasa, “Senku bukan cowok yang seperti itu!”
Chrome ikut melihat dari balik punggung Kohaku. Alis matanya naik.
Sesaat kemudian, gerombolan kecil itu bubar, menyisakan Chrome yang memiringkan kepala sambil berpikir.
Sudah beberapa bulan ini Chrome belajar menghitung, apalagi setelah Senku mengajarinya sistem pengukuran metrik dan besaran-besaran fisika lain. Mata Chrome kini jeli membaca jarak, dan hanya butuh setengah menit untuk memperkirakan bahwa tempat tidur Senku memiliki panjang dua meter lebih.
Satu-satunya yang punya kasur sepanjang ini hanyalah…
“Tsukasa,” Chrome teringat pada pemuda super kuat yang baru dibangkitkan dari tidur kriogeniknya itu.
Tsukasa adalah teman yang dahulu menjadi musuh besar Senku dan seluruh Kerajaan Sains. Tsukasa punya tinggi badan seratus sembilan puluh senti lebih. Kasurnya hampir seukuran kasur Senku ini. Satu-satunya modul dengan tempat tidur ukuran XXL.
Chrome bukan penggunjing seperti para gadis, namun ada semacam prasangka yang sulit dia usir.
Kenapa Senku sengaja meminta kasur yang besar? Seolah dia sengaja agar bisa mengakomodasi seseorang.
.
Suara sesuatu yang jebol itu mengagetkan semua awak kapal di ruang makan malam. Francois yang biasanya tenang juga ikut terlonjak. “Apa itu?”
Pasukan keamanan—Nikki, Taiju, dan Magma—berlari ke arah sumber suara. Wajah tegang mereka hilang saat menyadari empunya suara. Tempat tidur Tsukasa ternyata jebol. Si Primata Terkuat jatuh terduduk di lantai.
“Astaga! Tsukasa!” Taiju langsung membantunya berdiri, meskipun sebenarnya Tsukasa tidak butuh bantuan. Dia berdiri sendiri, melihat ke rangka tempat tidur yang terbuat dari plastik tebal itu patah.
“Hah! Cuma ranjang patah!” Magma mengeluh, lalu berpaling pergi. Saat berjalan menjauh, dia masih mengomel.
“Aneh sekali, kukira tempat tidur kita dilengkapi tulang serat karbon,” Nikki melipat tangan, “Kukira serat karbon super kuat.”
Tsukasa mengiyakan. Setahunya juga begitu.
“Yah, tapi, dengan badanmu yang besar dan keras seperti itu, wajar sih serat karbon juga tidak kuat.”
“Aku akan menghubungi teknisi,” Taiju berkata, “Sebaiknya kau menunggu di ruang makan. Kau belum makan kan?”
Tsukasa tidak berkata apa-apa dan hanya mengekor Taiju ke ruang makan. Sejujurnya dia agak lapar mencium bau roti panggang Francois. Dia mengenang betapa dia hanya bisa makan daging buruan atau ikan bakar tak berbumbu saat masih menjabat sebagai Kaisar di kerajaannya sendiri dulu. Sebelum kerajaan itu runtuh di tangan kejeniusan Senku.
Rambut perak-hijau itu langsung menarik mata Tsukasa.
Senku sedang duduk di salah satu meja, menekuni peta bersama Ryuusui. Matanya yang semerah garnet itu mengkilap. Mulutnya nyengir penuh ide. Piring berisi roti, keju, dan buah kering sama sekali tidak disentuh di dekat sikunya.
“Tuan Tsukasa, silakan, makan malam anda,” Francois menyerahkan piring besar berisi ikan rebus utuh berkuah rempah dan sekeranjang roti berenergi tinggi.
“Ah, terima kasih,” Tsukasa menerimanya. Dia merasa agak tidak rela saat harus duduk di meja yang ditunjuk Francois.
Mungkin karena meja ini paling berisik. Mungkin karena tidak ada pemandangan yang bisa dia lihat. Mungkin juga karena letaknya terlalu jauh dari si pemilik mata merah yang menarik perhatiannya tadi.
.
“Tsukasa,” Taiju memanggil, “Aku sudah melapor pada teknisi tadi, dan mereka bilang seluruh rangka tempat tidurmu harus diganti. Mereka baru bisa melakukan pembongkaran besok pagi. Kurasa malam ini kau harus tidur di tempat lain.”
“Ah, begitu ya,” Tsukasa menjawab pelan. Dia sungguh tidak keberatan harus tidur di mana saja. Sejak kecil, dia sudah biasa tidur di jalanan.
Dulu sekali, saat Tsukasa masih rajin mengikuti turnamen-turnamen bela diri SMP, dia tidak pernah punya cukup uang untuk sekadar menyewa motel. Akhirnya, di tengah perjalanan menuju lokasi turnamen, dia biasa tidur di trotoar atau bangku taman.
“Chrome! Chrome!” Taiju mencegat Chrome yang kebetulan lewat, “Hei, apa kita punya modul residen tambahan untuk Tsukasa malam ini?”
“Ada,” Chrome berkata, “Tapi kurasa semuanya berukuran standar. Tidak ada yang seukuran Tsukasa. Maaf, jangan tersinggung, kawan besar.”
“Tidak apa-apa,” Tsukasa menyela pelan, “Aku bisa tidur di mana saja.”
“Oh!” Chrome tiba-tiba teringat sesuatu, “Sebetulnya, ada satu modul yang punya tempat tidur besar…” ucapnya.
.
Senku terlihat cuek saat Tsukasa masuk ke modul residennya diantar Taiju.
“Baiklah kawan, kuharap kau tidak keberatan sekamar dengan Senku,” Taiju mempersilakan Tsukasa masuk.
“Oh, hai,” Senku menggemeretakkan leher sambil melepas sepatu di tepi kasur, “Ya, ya, anggap saja kamar sendiri.”
“Kau masih suka menggemeretakkan leher seperti itu?” Tsukasa menggantung jubah singa kebesaraannya di dinding.
“Tidak. Leherku pegal. Itu saja.”
Keheningan canggung melilit mereka selama beberapa detik. Rasanya aneh sekali tiba-tiba mereka harus tinggal di kamar yang sama semalam, padahal dulu mereka telah saling bermusuhan dan membunuh.
Kini, Tsukasa sudah mengikrarkan sumpah setianya kepada Kerajaan Sains, dan berjanji akan terus melindungi Senku. Namun, tetap saja, canggung.
Tsukasa tidak tahu harus duduk atau berdiri di mana. Modul residen ini sempit, mirip kapsul ruang angkasa. Ditambah tempat tidur Senku yang lebih luas, rasanya hampir tidak ada ruang bagi badan raksasa Tsukasa.
“Kau mau berdiri di situ?” Senku menegur. Dia sedang sibuk mengoleskan semacam krim ke kakinya.
“Apa itu?” Tsukasa mencium wangi manis dari krimnya.
“Ah, ini krim kelapa dan lemak kacang Vitellaria. Dicampur dengan senyawa aldehid dan alfa-pentylcinnamaldehyde yang kami sintesis di lab. Kohaku memberikannya padaku karena dia mengeluh kakiku bau. Bukan salahku. Aku pakai sepatu kulit sepanjang hari.”
“Kosmetik jaman batu, ya,” Tsukasa berkomentar datar.
“Ya, ini sisa kosmetik yang kami pakai untuk mendadani Kohaku, Amaryllis, dan Ginro pada saat misi penyusupan ke Kerajaan Pembatuan,” Senku berkata, tidak kalah datar.
Dia sudah selesai mengoles krimnya, dan bau wangi menguar di ruang sempit ini. Wangi ini sangat menenangkan, membuat Tsukasa tersenyum sedikit.
“Seperti parfum mahal,” dia berkata.
“Ah, padahal kita bisa membuatnya sendiri. Kondensasi aldol dari benzaldehida dengan heptanal, menggunakan katalis Magnesium-Aluminium-Hidrokarbonat. Bahan kimia seperti itu mainanku saat SMP…”
Tsukasa memandang Senku di balik matanya yang lentik, membuat Senku terkejut sedikit.
Primata terkuat dengan bongkol-bongkol otot raksasa dan tinggi nyaris dua meter itu memandangnya lembut sekali, sambil mendengarkan ocehan santifiknya.
“Oh, maksudku…” Senku berpaling, merasa heran sekaligus canggung, “Yah, pokoknya, ini cuma kosmetik jaman batu.”
.
Taiju pernah berkata, dia tidak pernah melihat Senku marah. Namun pada dasarnya, emosi Senku memang terbatas. Wajahnya hanya bisa menunjukkan ekspresi girang, ekspresi tegang, dan ekspresi licik. Girang saat dia tertawa-tawa bersama teman-temannya, tegang saat bertemu musuh, dan licik saat akal bulusnya bekerja.
Tidak ada ekspresi lain di wajahnya yang dihiasi retakan dahi itu.
Maka, Senku sendiri sempat heran saat tiba-tiba ada gelombang emosi yang tidak familiar naik ke dadanya saat dia melihat wajah lembut si raksasa Tsukasa. Wajahnya menjadi sedikit kaku. Seperti tegang, namun bukan seperti saat bertemu musuh. Namun ada sepercik rasa senang juga, seperti saat dia bercanda bersama kawan-kawannya.
Tempat tidur itu berguncang sedikit saat Tsukasa naik. “Kau tidak keberatan kan?”
“Heh,” Senku mencibir, “Aku tidak keberatan. Tenang, tempat tidur ini diperkuat rangka karbon ganda.”
“Kenapa bisa tempat tidurmu diperkuat karbon ganda sementara milikku tidak?” Tsukasa bertanya pelan.
“Heh,” Senku memunggunginya sambil mengorek kuping, “Entahlah. Aku kan bukan teknisi. Selamat malam!”
.
Hyoga pernah bilang, Tsukasa ini super waspada. Bahkan dalam keadaan tidur, dia bisa menyensor segala marabahaya. Sedikit gerakan kecil saja sudah membuat dia bangun dan siap membogem orang dengan kekuatan penuh. Senku sampai curiga Tsukasa ini punya mode unihemispheric sleep. Semacam kondisi di mana salah satu bagian otak tetap aktif meskipun tengah tertidur.
Anehnya, malam ini, Tsukasa tidur bagai orang mati. Pundaknya melemas damai.
Saat Senku bangun karena hendak kencing di tengah malam, dia syok sedikit melihat wajah Tsukasa di sisi bantalnya. Senku masih jelas mengingat saat pertama kali Tsukasa dimasukkan ke dalam mesin pendingin setelah tewas. Wajahnya damai sekali, persis seperti ini.
Senku masih ingat dia menahan air matanya mati-matian di hadapan peti itu. Dia menahan air mata karena dia juga tidak yakin apakah bisa membangkitkan Tsukasa lagi. Dia menahan air mata karena dia sempat merasakan perasaan senang irasional saat bisa bekerjasama dengan Tsukasa lagi melawan musuh bersama. Kematian Tsukasa seakan meninggalkan lubang raksasa di hati Senku saat itu.
Senku cepat-cepat menyibakkan selimut dan pergi ke kamar mandi. Dia sempat mengecek anjungan sebentar, menyapa Ukyo yang ternyata sedang giliran berjaga. Lalu, sambil menguap, dia kembali ke kamar.
.
Tsukasa masih ada di sana, tidur nyenyak dan nyaman.
Senku sampai harus menampar mukanya diam-diam agar tidak memikirkan hal yang tidak-tidak. Dia tidak mau dihantui bayangan jenazah yang dia bekukan, sementara si “jenazah” aslinya sedang numpang tidur di modul residennya.
Saat Senku berbaring lagi, dia merasakan sepasang tangan besar dan keras melingkari pinggangnya. Senku kaget, refleks hendak berteriak, namun tertahan seketika karena ingat ini tangan siapa.
Matanya meredup, merasakan bongkol-bongkol otot bervena biru itu. Tangan Tsukasa, yang dulu pernah membunuhnya, kini melingkar erat seakan tak mau melepaskan.
Tubuh mereka begitu rapat. Senku yakin Tsukasa sedang mengingau, atau tanpa sadar dia terlalu terpikat dengan harum krim wangi milik Senku tadi. Bau-bauan seringkali mendistorsi kesadaran dan persepsi seseorang, bahkan dalam keadaan tidur.
Dalam keadaan normal, Senku akan menggeliat geli. Dia tidak pernah mau disentuh oleh siapapun, bahkan orang-orang terdekatnya seperti Taiju. Satu-satunya orang yang memecahkan rekor bisa sekadar memeluk pinggang Senku adalah Kohaku. Itupun dalam keadaan emosional saat dia terbebas dari Petrifikasi.
Senku tidak bergerak. Dia membiarkan tangan besar itu memeluknya dari belakang. Samar-samar dia merasakan helai-helai rambut kasar di kulitnya. Rambut Tsukasa yang sangar itu menyelimuti mereka berdua. Baunya seperti aroma matahari. Tidak berbeda saat pertama kali Senku membangkitkannya dari Petrifikasi.
Senku menutup mata perlahan.
Ah, persetan. Dia mengantuk. Dia ingin tidur. Dan tidur di bawah lengan super kokoh ini bukanlah hal yang buruk.
Satu hal yang Senku tidak pernah akui adalah, memang untuk ini dia sengaja minta kasur yang lebih besar dan kokoh.
.
“Hei,” teknisi yang bertanggung jawab pada instalasi modul residen di dalam kapal itu kaget saat memeriksa kaki tempat tidur Tsukasa. Pemuda itu terheran-heran melihat salah satu rangkanya. “Ada yang menyabotase rangka karbonnya!”
“Mustahil!” rekannya menjawab, “Aku sudah memeriksa semuanya! Seharusnya tidak ada kesalahan!”
“Hmmm…” teknisi pertama memeriksa semuanya, “Kalau tidak salah, aku menangani modul satu sampai sepuluh. Kau menangani sepuluh sampai dua puluh. Ini modul dua puluh satu. Siapa yang menginstalasi modul dua puluh satu?”
Seorang teknisi lain menjengukkan kepala ke dalam, “Kalau tidak salah, modul dua puluh satu ditangani Tuan Senku sendiri.”
“Hah?” semua teknisi terheran-heran, “Bukankah Tuan Senku sibuk di laboratorium?”
“Aku tidak tahu,” teknisi ketiga mengangkat bahu, “Kupikir Tuan Senku memang ketua yang baik, sering membantu bawahannya.”
“Sudahlah, ayo ambil persediaan rangka karbon lagi di gudang untuk memperbaiki ini!” teknisi pertama menyergah.
Sebelum mereka bertiga sempat beranjak, seorang teknisi lain berlari ke arah mereka. “Gawat! Gawat!” lapornya, “Persediaan serat karbon untuk modul residen sudah habis!”
“Haaahh???”
Senku tersenyum kecil dari tidurnya. Dia tahu bahwa dia akan menikmati tidur seperti ini selama paling tidak beberapa hari ke depan.
