Actions

Work Header

Price of A Secret

Summary:

Demi Diluc, Serira bisa melakukan apapun.

Bahkan meskipun dia harus membayarnya dengan nyawanya sendiri.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Chapter Text

“Lady Serira! Tolong tenangkan diri anda!”

Serira mengabaikan teriakan bawahannya yang memintanya untuk menenangkan diri dan mendobrak pintu ruangan Capitano.

Capitano dan Arlecchino yang sedang berdiskusi sontak melihat ke arah pintu. “Serira? Ada apa-” Tanya Arlecchino yang terhenti saat melihat raut wajah Serira yang marah.

Serira menatap Capitano, “kenapa kau melakukan itu?”

“I’m afraid I don't understand what you’re talking about.” Capitano menjawab dengan tenang.

Arlecchino yang masih berada di dalam ruangan hanya terdiam melihat situasi, melihat dari amarah Serira, sepertinya hal yang dia bicarakan berhubungan dengan Mondstadt. Dengan pria yang sangat Serira sayang itu.

Diluc Ragnvindr.

“Dottore mengatakan Kakak-lah yang memberikan izin padanya untuk membawa Diluc!” Serira kehilangan kesabarannya, dia melihat sendiri bagaimana Diluc hampir saja dibawa oleh Dottore jika dia tidak datang tepat waktu.

“Mari kita bicarakan saat kamu sudah tenang.” Ucapan Capitano membuat Serira semakin merasa marah dan Arlecchino yang sedari tadi memperhatikan hanya bisa menghela nafas.

“Aku tidak butuh itu. Jawab saja pertanyaanku dengan iya atau tidak! Kakak yang memberikan izin pada Dottore untuk menyerang Mondstadt?!” Serira kembali bertanya, berusaha sekuat tenaga untuk tidak memukul meja Capitano.

Capitano menghentikan pekerjaannya dan melihat Serira, “Ya. Aku yang mengizinkan Dottore.”

Suasana menjadi hening setelah Capitano menjawab pertanyaan Serira. Setelah beberapa saat, Serira tertawa tidak percaya dan menatap Kakaknya dengan sorot mata kecewa, “kenapa?”

“... Kita bicarakan nanti.” Capitano memutuskan untuk tidak menjawab dan kembali berfokus pada dokumen yang sedang dia kerjakan.

“Untuk apa? Tidak ada kata nanti untuk aku dan kamu, Kak.” Serira tersenyum miris, “jawab saja pertanyaan terakhir dariku, saat ini yang berdiri di hadapanmu adalah adikmu atau Fatui Harbinger yang ke-10?”

“Serira, Fatui Harbinger ke-10. Pergilah dan kita bicarakan setelah pekerjaanku sebagai Kapten selesai.” Capitano melihat Serira yang hanya menatap sang Kakak dengan rasa kecewa.

“Aku sudah menduganya.” Serira tersenyum tipis dan membungkuk pada Capitano, “tidak perlu, Kapten. Fatui Harbinger ke-10 ini sudah tidak membutuhkan apapun dari anda, baik sekarang maupun seterusnya.”

“Seri-” Arlecchino berusaha memanggil Serira yang sudah berjalan pergi meninggalkan ruangan Kapten.

Arlecchino melihat Capitano yang hanya bisa terdiam, “Aku permisi, Kapten.” Arlecchino ikut pergi untuk menyusul Serira, meninggalkan Capitano yang baru saja menyadari kalau dia membuat kesalahan besar.

***

Setelah kejadian itu, Serira dan Capitano jarang berbicara pada satu sama lain. Serira hanya mau berbicara dengan Capitano saat itu berkaitan dengan urusan Fatui. Pierro berusaha berbicara dengan Serira namun tetap tidak ada perubahan. Hal itu berlangsung selama bertahun-tahun.

Karena itulah, Capitano sedikit terkejut saat mendengar Serira datang ke Natlan (meskipun atas perintah Pierro). Gadis itu melangkah masuk ke persembunyian para Fatui di Natlan, matanya melihat luka yang dimiliki Capitano setelah pertarungannya dengan Mavuika.

“Ck, apa disini tidak ada medis?” Serira meraih kursi dan duduk di sebelah Capitano, “diam dulu, biar aku sembuhkan.” Serira mulai menggunakan kekuatannya pada luka Capitano.

“Kenapa kamu disini? Aku bisa mendapatkan Gnosis itu tanpa bantuanmu.” Capitano menatap Serira. Tentu saja dia bisa melakukannya, dia Kapten Harbinger.

Terlebih, dia tidak ingin Serira terluka.

“Aku datang kesini karena perintah Pierro. Aku akan lakukan dengan caraku, jadi silahkan lanjutkan rencanamu.” Serira menghentikan pengobatannya saat merasa luka Capitano sudah tidak separah saat dia datang.

“Terima kasih, Serira.”

Serira baru saja akan pergi dari ruangan saat Capitano mengucapkan itu. Serira terdiam dan mengatur ekspresi wajahnya baru melihat ke arah Capitano, “jaga diri Kakak baik-baik. Mari bertemu setelah salah satu dari kita mendapatkan gnosis.”

Capitano mengangguk setuju, membiarkan Serira pergi dari ruangannya. Itu percakapan pertama mereka setelah bertahun-tahun tanpa salah satu dari mereka berteriak marah (Serira yang selalu melakukannya).

Mungkin, mungkin setelah misi ini selesai Capitano bisa mengobrol dengan adiknya lagi.

Oh how wrong he was.

***

Setelah mendapatkan gnosis, Serira dan Capitano segera kembali ke Snezhnaya. Yang Mulia The Tsaritsa ingin segera melakukan rencananya.

“Aku lihat kamu berteman dengan Traveler.” Capitano memulai pembicaraan.

Serira tersenyum, “Iya, dia dan Paimon banyak menceritakan tentang petualangan mereka. Aku pikir itu menyenangkan.” Serira terdiam sebentar sebelum melanjutkan perkataannya, “mereka berteman dengan Diluc. Aku menanyakan kabarnya pada mereka, dan sepertinya dia baik-baik saja.”

“Ah, pantas saja.” Capitano mengangguk paham, “kamu bisa pergi menemui laki-laki itu. Tidak ada yang melarangmu.”

Serira tertawa miris, “Aku tidak pantas bertemu dengannya. Tidak setelah apa yang terjadi dengan Dottore, terlebih aku masih anggota organisasi yang sangat dia benci.”

Capitano terdiam, dia tau kalau adiknya tidak pernah menemui Diluc lagi setelah kejadian itu. Mereka hanya bertukar surat dan hadiah, namun tidak lebih.

Serira menyadari Capitano terdiam dan tertawa, “aku tidak apa-apa kok, Kakak. Malah lebih bagus seperti itu untuk Diluc. Dia tidak akan terlalu sedih saat aku tidak ada nanti.”

“Apa maksudnya itu?” Tanya Capitano tidak mengerti.

Serira menggeleng, “bukan apa-apa.” Dia menarik tangan Capitano, “ayo kita makan bersama. Sudah lama, kan? Sekalian aku menceritakan semua cerita yang diberitahu oleh Traveler.”

Capitano mengangguk dan menurut, duduk di sebelah adiknya. Malam itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, mereka bisa mengobrol dengan santai kembali.

***

Traveler dan Paimon menatap sekeliling Snezhnaya dengan kebingungan. Mereka tau Snezhnaya akan dingin, namun tidak menyangka suasananya akan setegang ini. Apa yang terjadi disini?

Paimon baru saja akan berbicara saat seseorang menarik mereka berdua masuk ke dalam rumah.

“AAAH SIAPA KAU-”

“Sssh! Ini aku, Childe!” Childe menyuruh keduanya untuk berhenti berteriak.

“Childe! Kamu membuat Paimon jantungan!” Paimon menjerit kesal.

Childe tertawa pelan, “maaf, maaf. Selamat datang di Snezhnaya, ngomong-ngomong. Aku ingin menyambut kalian dengan lebih baik, tapi sayangnya tidak bisa. Ayo, kita harus segera pergi dari sini dan bertemu Arlecchino.”

Traveler dan Paimon saling menatap kebingungan namun tetap mengikuti Childe masuk ke dalam lorong rahasia, “apa sebenarnya yang sedang terjadi disini, Childe?” tanya Traveler.

Childe menghela nafas, “perang di antara Fatui sedang terjadi. Hampir semua warga sekarang sudah diungsikan ke tempat yang aman.”

“Perang? Karena apa?” Paimon bertanya kebingungan. Ketiganya sudah sampai di rumah yang menjadi persembunyian Childe. Childe baru saja akan menjawab saat satu sosok muncul dari bayangan.

“Perang yang dimulai oleh sang Kapten.” Arlecchino menjawab pertanyaan Paimon, “selamat datang Traveler, Paimon.”

“Perang yang dimulai Capitano?” Traveler menatap Childe dan Arlecchino tidak mengerti.

“Bukankah dia harusnya loyal pada The Tsaritsa?” Paimon ikut bertanya.

Childe dan Arlecchino saling bertatapan. “Ini semua karena Serira.” Jawab Childe.

“Serira? Kenapa?” Tanya Paimon.

“Untuk menyempurnakan jiwa The Tsarita dan memberikannya kekuatan untuk bertarung melawan Celestia, dia membutuhkan dua hal. Satu, semua Gnosis. Dua, jiwanya yang selama ini berada dalam tubuh Serira.” Arlecchino menjelaskan, “untuk yang kedua, Serira harus mati untuk mengembalikan jiwa The Tsaritsa. Karena itu…” Arlecchino tidak melanjutkan perkataannya, namun Traveler dan Paimon bisa mengerti apa yang terjadi.

“Serira… sudah tidak ada? Tapi, bagaimana dengan Capitano… bagaimana dengan Diluc…” Paimon menggelengkan kepalanya, “apa, apa Capitano tidak tau tentang itu?”

“Tidak. Aku dan The Knave juga baru mengetahuinya saat Serira memberitahu kami satu jam sebelum ritualnya dilakukan.” Kali ini, Childe yang menjawab, “yang tau hanya Pierro dan Serira. Mereka sengaja merahasiakannya dari Kapten karena takut hal seperti ini akan terjadi.”

“Kalau begitu, selama ini Serira sengaja bersikap seolah dia marah pada Capitano, tapi sebenarnya dia melakukannya agar Capitano tidak sedih saat dia pergi…?” Paimon sudah hampir menangis sekarang.

Arlecchino tersenyum miris, “pada kenyataannya itu tidak menghentikan Kapten kita mengamuk saat tau apa yang terjadi. Setelah menghancurkan istana The Tsaritsa, dia menghilang dengan tubuh Serira. Yang memulai perang adalah anak buahnya dan Serira.”

Childe mengangguk, “karena itulah kami butuh bantuan kalian untuk menemukan Kapten. Kami juga ingin membantu apapun yang ingin dia lakukan. Kami berdua,” Chile terdiam sejenak, “juga kehilangan sahabat kami.”

Traveler dan Paimon mengangguk setuju. Serira adalah teman mereka, jika ada hal yang bisa mereka lakukan untuk membantu, tentu saja akan mereka lakukan.

***

“My Lord, intel memberi kabar bahwa Traveler dan temannya sudah tiba di Snezhnaya. Kemungkinan besar mereka bersama dengan Lord Tartaglia dan The Knave.” Bawahan Capitano melapor pada sang Kapten yang hanya berdiri memandangi tubuh tidak bernyawa adiknya.

Capitano menyesal, seandainya dia menyadari apa maksud perkataan Serira lebih cepat, hal seperti ini tidak akan terjadi.

Apanya yang Kapten? Rencana sebesar ini pun dia tidak tau.

“My Lord, apa yang akan kita lakukan sekarang? Apakah perang akan diteruskan?”

Capitano meraih topengnya dan mengambil pedangnya, “ya, perang akan kita lanjutkan.”

“The Tsaritsa menginginkan perang, maka peranglah yang akan dia dapatkan. Entah perang dengan Celestia, atau perang dengan Harbinger-nya yang pertama.”