Actions

Work Header

Kiat Ganas Menjaga Hubungan di Kantor

Summary:

Menjaga hubungan di kantor tentunya sangat penting untuk membangun suasana kerja yang positif. Nah, gimana sih cara terbaik untuk melakukannya? Simak tips dari kami berikut ini!

Notes:

kamu baru pergi sehari, aku udah kangen, mas. @jww

 

 

terinspirasi dari headcanon wonchan kantoran ini (1) dan ini (2)

as always, 100% fiksi. kalo beneran mah aku pindah ke kantornya wonchan. (jangan ditiru)

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Kiat Ganas Menjaga Hubungan di Kantor

Menjaga hubungan di kantor tentunya sangat penting untuk membangun suasana kerja yang positif. Nah, gimana sih cara terbaik untuk melakukannya? Simak tips dari tim HRD kami berikut ini!

 

  1. Komunikasi adalah kunci

 

Roti dan selai, bunga dan kumbang, karyawan dan Whatsapp. Beberapa hal dalam hidup memang ditakdirkan untuk selalu bersama.

Contohnya, tiap jam makan siang, Lee Chan akan langsung membuka Whatsapp sebelum menuju ke kantin karyawan. Tidak seperti orang kebanyakan, Chan justru mencari momen kantin sedang ramai-ramainya. Biar ia bisa leluasa menyelip ke meja yang sudah Wonwoo amankan di pojok ruangan.

Jangan kira mereka bakal berubah mesra kalau sudah duduk semeja. Yang pertama dibuka bukan obrolan, tapi hape. Iya, ngobrolnya lewat hape. Biar bisa kompakin dulu rute balik ke kantor supaya nggak kepergok habis jalan berdua, atau mau jawab apa kalau sampai ada yang lihat. Maklum, seperti kebanyakan kantor, rekan kerja nggak boleh ketahuan pacaran. 

Kalau sudah aman, baru mereka ngobrol biasa. Nggak jauh-jauh dari gosip kantor, berita terkini, atau kabar keluarga. Kadang Wonwoo bakal ngeluarin jokes bapak-bapak yang, meskipun ngeselin, tetap aja bikin Chan ketawa di tengah penatnya kerja. Deep talk segala rupa mah nanti aja pas udah pulang.

Sekali-sekali mereka bukan berduaan di kantin. Kalau Wonwoo sudah mengirim emoji tangga, artinya titik kumpul mereka pindah ke tangga darurat di belakang gedung. Meskipun awalnya Chan mengeluhkan ruangannya yang agak panas karena isinya beton semua, tapi memang privasi mereka lebih terjaga di sana. Artinya, Wonwoo bisa bebas ndusel-ndusel ke Chan. Ah, meskipun Chan suka geregetan dengan keisengan pacarnya ini, tapi pelukan Wonwoo tetap jadi tempat kabur terbaik ketika kerjaan sedang menyebalkan.

.

.

.

Di tengah pertukaran gosip dan info gerobak makanan terenak di sekitar kantor, hape Chan berbunyi. Begitu melihat nomor kontaknya, ia langsung berpamitan ke satpam dan OB teman berbincangnya setelah 'lembur' malam itu, sambil berpura-pura mengangkat telepon dari saudaranya.

Ya, 'lembur' yang dimaksud adalah sengaja menunda pulang sampai kantor sepi.

Kalau Wonwoo kan sudah level Head, jadi orang nggak terlalu heran kalau ia pulang malam. Tapi kalau Chan yang masih staf biasa? Apa boleh buat, ia harus agak mengarang cerita. Entah pura-pura ngobrol sama satpam dan OB (meskipun lama-lama beneran jadi sohib) atau pakai alasan mengejar deadline tugas. Soonyoung selaku atasan memang biasanya santai, tapi kalau sudah mode keras — misalnya menjelang tanggal kembar — memang Chan jadi dituntut harus kerja rodi. Yah, setidaknya jadi ada cerita yang bisa orang percaya.

Kadang Chan takut men-jinx diri sendiri kalau pura-pura banyak kerjaan di saat sebenarnya nggak sebanyak itu, tapi sejauh ini ia baik-baik saja. Sepertinya.

Lobi kantor sudah hampir kosong ketika ia sampai. Benar saja, mobil Wonwoo sudah menunggu di trotoar di samping pintu keluar mobil.

Sudah diduga, senyum pria itu langsung mengembang begitu melihat dirinya di mobil. Chan langsung mengambil kesempatan jadi DJ radio malam ini. Kemacetan pulang kantor jadi tak terasa kala obrolan mulai mengalir di tengah alunan musik kesukaan.

Baru saja Wonwoo menawarkan mampir makan malam, perut Chan sudah berbunyi. Duh, gini nih akibatnya menerjang tiga rapat dalam sehari, baterainya langsung habis. 

"Capek banget hari ini?"

"Eh... gitu deh, Mas." Chan menahan malu karena keroncongannya pasti terdengar.

Wonwoo mengelus rambut coklatnya. "Ya udah, kita pit stop dulu."

Keduanya berhenti di sebuah restoran Italia kecil yang pernah direkomendasikan Seokmin. Kali ini, mereka sudah bisa bertautan tangan di meja, sambil bertukar obrolan tentang masa depan. Wonwoo dengan cerita obrolan santai bersama bapak COO tentang impian pensiun di desa, Chan dengan iklan promo toko furnitur yang sepertinya pas untuk menambah isi apartemen mereka. Pesanan mereka pun tiba, agak banyak karena hari ini pekerjaan sedang padat: ayam panggang, lasagna, dan pizza pepperoni untuk berdua. Melihat mata Wonwoo berbinar menontonnya makan, Chan jadi tersipu malu. Pasalnya, tunangannya itu masih saja terlihat tampan waktu mengusap saus tomat dari sudut bibirnya.

Tuh kan, Wonwoo pakai menggodanya segala. Katanya, Chan sama manisnya dengan susu soda yang mereka seruput berdua. Ini tempat umum, tahu?

Ah, manisnya asmara muda. 

 

  1. Saling mendukung dalam tim

 

"Saya dapat info ada seller yang sempet ngomel waktu campaign kemarin? Ini jangan sampai kejadian lagi ya."

Jeder! Chan langsung mengkeret teringat diomeli seorang seller besar gara-gara merasa nggak diinfokan soal nominal potongan promo waktu campaign minggu lalu. Sebenarnya masalahnya sudah selesai. Tapi berhubung Soonyoung sedang cuti, terpaksa ia menggantikan atasannya itu ikut debrief dengan ibu VP Growth & Marketing.

Nggak ada atasan, berarti Chan juga harus siap menanggapi kalau dikorek lebih lanjut soal itu.

Sialnya, tim Marketing malah cerita panjang lebar soal kronologi versi mereka, yang intinya adalah: tim Business Development yang salah info dan bikin sellernya ngomel. Aduh, kalau sampai tim Business Development ditanya, habis dia.

Perut Chan langsung melilit. Bisa nggak rapat ini langsung kelar?

Ia meremas celananya, menahan napas kalau ia harus menjelaskan situasi dari sisi timnya.

Tak diduga, seseorang lebih dulu mengangkat tangan.

"Bu, tim Engineering mau share situasi dari sisi kami, ya."

Napas Chan langsung tercekat. Ia tak berani melirik, meskipun empunya tangan itu sudah terlihat dari sudut matanya.

Kenapa jadi Wonwoo yang angkat bicara?

"Jadi gini. Habis insiden itu, saya langsung cek sama teman-teman di backend, settingan harga di website dan app sudah mengikuti briefing dari Marketing. Sepertinya waktu itu ada update skema promo yang sudah ditampilkan di materi marketing, tapi belum terinfo ke tim IT dan BD, jadinya seller bingung. Tapi kami sudah koordinasi soal follow up-nya dan akan kami perbaiki di campaign selanjutnya."

Si ibu VP nampak puas dengan jawaban Wonwoo. Ia lanjut ke topik selanjutnya, mengabaikan tatapan tim Marketing yang nampak kaget tiba-tiba dilempar bola begitu.

Chan sendiri hanya diam mencatat notulensi. Sisa rapat berjalan selayaknya debrief biasanya.

Namun jantungnya tak henti berdebar sampai pulang.

.

.

.

 

WW 💜

Mas udah di pintu belakang.

Kamu jalan dikit gapapa?

 

Chan ❤️

Aman kok Mas, aku otw yaaa

 

Begitu Chan tiba di pintu belakang gedung kantor, SUV hitam Wonwoo sudah menunggu di samping trotoar. Ia langsung duduk di bangku depan dan mencari lagu untuk membantu moodnya membaik. Ini aja deh, 'Wait'. Lagu satu itu sedang rutin menemaninya mengerjakan tugas-tugas tim BD selama Soonyoung cuti.  

Wonwoo, seperti biasa, membiarkan Chan diam sampai ia merasa ingin bicara.

Mereka sudah di lampu merah paling dekat dengan apartemen mereka ketika Chan akhirnya membuka suara. "Mas, tadi- makasih, ya."

Wonwoo menaruh satu tangan di dekat rem tangan, mengundang Chan untuk menggenggamnya.

"Kamu nggak perlu merasa itu salah kamu, Chan. Namanya pekerjaan pasti ada aja momennya kita bikin salah," balasnya. "Harusnya Soonyoung juga bantuin kamu waktu itu."

"Tapi aku yang salah, Mas. Aku beneran lupa konfirmasi, terus terlanjur ngasih info yang salah... jadi tadi kalau Mas nggak belain juga gapapa sebenernya..."

Mendengar nada Chan mengecil, Wonwoo menautkan tangan mereka lebih erat. Jempolnya mengusap milik Chan, menenangkan. 

Chan rasanya makin ingin menangis.

Tuhan, kenapa sih ia bisa dikasih kekasih sebaik ini?

"Chan. Ini bukan soal kamu pacar Mas, makanya jadi Mas belain. Tapi atasan kamu lagi nggak ada, nggak mungkin Mas sebagai sesama head biarin staf dimarahin sama level VP. Itu nggak etis. Mas ngejagain kamu juga biar kamu punya contoh, kalau nanti jadi leader harus gimana," jawabnya tegas. "Kalau nanti jadi masalah lagi, Mas yang akan handle. Kamu fokus kerja aja, ya. Percaya sama Mas. Oke?"

Sebelum air matanya sempat jatuh, Chan mengangguk dan menarik napas sampai ia tenang lagi.

Harusnya ia tak perlu ragu Wonwoo akan menjaganya. Kapanpun, di manapun, dengan cara apapun.  

Tangan Wonwoo masih bertaut dengannya sampai mereka tiba di apartemen. Di sofa, Chan bebas memeluknya, merasakan sentuhan lembut Wonwoo merakit kembali kepingan dirinya. Ia aman. Selalu aman. Di sini, bersama Mas Wonwoo-nya. 

 

  1. Cari kesamaan di luar pekerjaan

 

Dua tahun sebelumnya...

 

"Jadi di sini ruangan tim Legal, yang kanan itu tim Operations. Eh, Han! Kenalan dulu nih ama anak gue, baru masuk. Chan, ini Jeonghan, Head of Legal. Tukang ngibul nomor satu di kantor."

Baru hari pertama masuk, Chan sudah jadi saksi baku hantam antar para manager saja. Setidaknya kesan pertamanya di kantor ini sudah baik. Atasan-atasannya ramah, teman-teman selevelnya juga terlihat menyenangkan. Bahkan ia bertemu dengan salah satu teman magangnya, Yeonjun. Meskipun Yeonjun masuk tim yang berbeda, ada orang yang bisa membantunya belajar segala hal di tempat ini.

Soonyoung, atasannya di tim Business Development, juga sudah sangat berbaik hati mau mengantarnya keliling kantor. Chan berusaha mengingat wajah dan nama baru yang ia jumpai sepanjang hari ini.

Sampai ia menemui satu lagi wajah yang tidak asing.

Bahkan, sangat ia kenal.

"Won! Wonwoo! Sini dong, jangan pacaran ama PC mulu, kenalan ama anak gue."

Mendengar nama yang Soonyoung sebut, Chan menelan ludah. 

Apalagi melihat wajah yang sama dengan yang terakhir ia jumpai satu setengah tahun silam.

Kalau Wonwoo juga masih mengenalinya, jelas pria itu lebih mahir menyembunyikannya. Tetap saja, senyum kalem itu masih ampuh membuat Chan berdebar.

"Halo, anak BD baru ya?" Ia mengulurkan tangan. "Saya Wonwoo, Head of Engineering. Salam kenal, ya. Semoga betah di sini. Soonyoung baik kok, paling suka aneh aja."

"Eh, temen lama jangan ngomong aneh-aneh depan anak baru," balas Soonyoung sambil mengibaskan tangannya. "Chan? Ga usah takut, Wonwoo ga gigit."

"Hah? Oh, i-iya. Maaf, Pak..." Tuh kan, ia jadi salah tingkah. Semua salah Wonwoo. "Iya Pak, saya Lee Chan. Baru masuk di tim BD. Salam kenal ya Pak."

Ketika mereka berjabat tangan, rasanya aneh — mereka pernah mengenal, tapi sekarang menjadi orang asing. Mereka harusnya orang asing, tapi sentuhan ini masih sangat Chan kenal.

Satu setengah tahun setelah tak lagi berkontak, rasa yang dulu ia kubur seakan mendesak untuk hidup kembali.

.

.

.

Berhubung hari pertama belum ada tugas, Chan mau menikmati momen bisa pulang tenggo sebelum nanti dihantam kerjaan. Ia pun mulai membereskan isi tasnya. Belum banyak, hanya buku catatan, botol minum, dan handbook dari tim HR. Ia juga baru mencoba login email kantor di laptopnya yang baru diserahkan tadi.

Tak disangka, baru mau beranjak, sebuah suara memanggilnya dari belakang.

"Chan, boleh ke sini sebentar? Kayaknya laptop kamu perlu saya cek ulang."

Suara dalam itu datang dari ruangan tim Engineering. Kontan, Chan mempererat genggamannya pada laptop Lenovo malang itu.

Ngapain kak Wonwoo manggil?

Dengan hati-hati, ia masuk ke ruangan itu. Di bawah lampu remang-remang, kumpulan perintilan game yang menghiasi meja Wonwoo terasa begitu familiar. Rupanya masih banyak yang sama di tengah perbedaan yang terasa: frame kawat membulat yang menggantikan kacamata kotak hitam kesayangannya itu, rambut cepak yang sudah tumbuh berponi, dan kemeja ungu muda rapi alih-alih jaket tim esport kesayangannya.

Wonwoo-nya sudah bukan yang dulu lagi.

Ah, bahkan belum tentu Chan masih berhak memanggilnya miliknya, bukan? Mengingat mereka keburu terpisah sebelum sempat menyepakati mereka ini apa?

Wonwoo memandangnya dengan ekspresi yang tak bisa dijelaskan. Chan tak punya pilihan selain menduduki kursi di hadapannya.

"Eh... ini, Pak, laptopnya." Masih mengikuti 'naskah' Wonwoo tadi, ia pun menaruh laptop kantornya di meja. "Tadi pas saya pakai normal sih, nggak ada masalah... lagian... Bapak kan Engineering, bukan IT...?"

Keduanya termenung sejenak.

Chan masih tidak tahu harus berbuat apa. Semakin lekat Wonwoo menatapnya, semakin rasa itu mengikat dadanya.

Dan Wonwoo, dasar sial, malah tertawa dari hidungnya.

"Pinter juga kamu. Kirain kamu nggak akan nyadar," ujarnya. Sialan, Chan sudah tegang setengah hidup begini dan dia malah berpikir ini hiburan.

Habis gimana ya, ketemu mantan HTS-an era kuliah di kantor itu apa namanya kalau bukan puncak komedi?

"Jelek banget scriptnya, kak Wonwoo."

"Iya, iya. Maaf, Channie. Habis cuma itu alasan paling masuk akal buat manggil kamu ke sini."

Mau nggak mau, Chan jadi ikut tertawa kecil.

"Jadi aku mau diospek lagi? Mau diapain? Kayaknya kak Wonwoo udah tahu semua jelek-jeleknya aku, perlu banget dibongkar lagi?"

"Enggak gitu, Chan. Dengerin kakak dulu, boleh?"

Mimik Wonwoo melembut. Chan jadi merasa bersalah.

"Jadi pertama," ia menghela napas, "Kakak mau minta maaf dulu. Kakak yang salah, udah tahu lost contact sama kamu, malah nggak dikejar. Keburu takut kamu udah lupa sama hubungan kita, udah punya yang lain... semua karena kakak telat nyadar kalau kakak nggak pernah merasa hubungan kita waktu itu cuma main-main aja."

Jantung Chan semakin berdebar ketika pengakuan itu keluar: "Kakak nggak tahu kamu akan maafin atau enggak. Yang jelas, kalau masih ada kesempatan mulai lagi..." Matanya membulat dari balik kacamata. "Kakak cuma pengen sama kamu, Chan. Boleh?"

Sial. Sial, sial, sial. Kenapa Wonwoo bisa membaca pikirannya?

Memang hal itu yang ingin ia tanyakan sejak hari Wonwoo berhenti menyapanya. Ketika ia bertanya-tanya: salah nggak sih, berharap dua tahun yang mereka jalani itu nyata, meskipun saat itu belum ada kesepakatan di antara mereka?

Makin sial lagi ketika jawaban yang terlintas di hatinya begitu jelas. 

Tapi nggak ah, cemen kalau ia langsung setuju.

"Bener-bener deh, kak..." ia berusaha terlihat jutek. "Ya makasih udah nyadar kalau di-HTS-in itu nggak enak... tapi baru banget sekarang ngomongnya? Nggak bisa gitu, biarin kita jadi temen sekantor biasa? Harus banget minta balikan? Kamu telat satu setengah tahun, kak. Kalau aku lebih jahat, aku udah cari orang lain, biar kakak sekalian kapok. Hidup nggak kayak drama Korea, kak. Kayak aku bakal langsung iya-iya aja habis dikasih pidato panjang lebar gitu."

Ya, kalau Chan lebih jahat, dia akan mencari orang lain untuk membantunya melupakan Wonwoo. Namun apa daya, hati tak semudah itu melupakan. Banyak hal baik dari Wonwoo yang Chan harap bisa ia temukan sepersekiannya saja dalam orang-orang lain yang pernah mendekatinya. 

Celakanya, hanya kaulah yang benar-benar aku tunggu, begitu kata lagu yang mengiringi Chan setelah salah satu kencan Tindernya yang gagal.

"Iya, Chan. Kamu bener, kok. Kakak emang telat. Buang-buang waktu nyoba lagi sama orang lain. Padahal selama itu juga kepikirannya kamu terus." Senyum Wonwoo nampak perih. "Kakak pikir udah bisa mulai lupa. Eh, malah ketemu kamu lagi di sini. Kayaknya emang nggak dikasih ngelupain kamu, Chan."

Sama tahu, kak. Berkali-kali nyari yang lain, nggak dapet. Kayaknya hati aku beneran nyangkut di kak Wonwoo. Mau aku minta balik juga bingung, emang aku beneran pengen hati aku dibalikin?

Raut wajah Wonwoo yang terkejut membuat Chan sadar sudah keceplosan.

"Chan."

"Kak, sori-"

"Itu... beneran?"

"A-apanya?"

"Itu. Semua. Yang kamu omongin." Panas di ruangan itu jelas bukan cuma karena AC kantor yang sudah mati. "Kamu... serius, Chan?"

Mau mengelak juga gimana, isi hatinya sudah terlanjur tumpah.

"Kalau beneran, gimana, kak?" balasnya. "Kalau aku nerima kak Wonwoo lagi, kakak bisa jamin ga akan pergi, kan?"

Wonwoo langsung berdiri. Pindah ke sisi kursinya. Dan berlutut di hadapan Chan.

Hari ini kurang gila apalagi, sih?

"Enggak, Chan. Demi Tuhan, demi apapun, sumpah mati, kakak nggak akan pergi dari kamu lagi. Sekali aja udah nyiksa banget, Chan. Nggak mungkin kakak tahan yang kedua kali."

.

.

.

Setelah resmi balikan, Wonwoo benar-benar serius memacari Chan. Entah mengajaknya makan bareng sepulang kantor (diam-diam tentunya), kencan di akhir pekan, mengajarinya ini itu, menemani lembur, bahkan mengajak Chan pindah ke apartemennya — apapun agar Chan yakin mereka siap memulai kembali. Bagaimanapun, mereka sama-sama tak mau hubungan baru mereka hanya remeh temeh. Sudah terlalu banyak waktu yang terbuang untuk tak diniatkan menuju selamanya.

Hanya butuh setahun sejak mereka terhubung kembali untuk Wonwoo pede memberikan Chan cincin.

Wonwoo tak perlu khawatir. Chan sudah lama berencana menjawab 'ya'.

Seketika, 'kak Wonwoo' berubah menjadi 'Mas Wonwoo', cincin berlian menghiasi jari manis Chan di akhir pekan, apartemen Wonwoo sudah menjadi apartemen berdua... dan sebuah mimpi baru sudah menanti mereka.

 

  1. Tunjukkan kepedulian di luar pekerjaan

 

"Eh, Pak Wonwoo sick leave ya? Sakit apa sih?"

Dari mejanya di pojok kanan, Chan berhenti mengetik. Baru kemarin malam Wonwoo masuk rumah sakit karena sakit tipes. Belum sah jadi budak korporat kalau belum kena, katanya.

Jokes sialan itu bikin Chan harus nyetirin pacarnya ke rumah sakit jam 9 malam, nunggu kamar kosong sampai jam 11 malam, dan terpaksa menginap di rumah sakit karena nggak mungkin ia menyetir sendirian dalam keadaan lelah begitu. Beruntung, Wonwoo sudah antisipasi dan menyuruh Chan mengepak baju tambahan untuk ikut menginap. Sebenarnya enak juga, karena lokasi rumah sakit ini satu arah dengan kantornya. Tapi siapa sih yang suka pasangannya sakit?

"Wah, tumbang juga dia," timpal Jun dari mejanya. "Ntar pulang kita jenguk deh, dia di RS mana?"

Sebelum Chan sempat merespon, Mingyu sudah lebih dulu menjawab, "RS Siloam, kamar 617".

Hal itu juga yang bikin dia sadar hampir keceplosan.

Kalau orang nanya kok ia tahu di mana Wonwoo dirawat di saat mereka nggak pernah kelihatan dekat, berabe jelasinnya. 

(Meskipun ia ingin juga bisa dengan leluasa melontarkan fakta-fakta soal kekasihnya.)

"Tuh kan, namanya work bestie emang gini nih, tahu banget."

Mendengar celetukan Seungkwan ke Mingyu, Chan hanya bisa mengulum senyum.

Bukan keinginannya merasa cemburu mendengar hal-hal tentang Wonwoo keluar dari orang yang bukan dirinya. Tapi mau gimana lagi? Bukannya kerahasiaan ini yang mereka cari?

Tetap saja, ulu hati Chan terasa tak nyaman.

.

.

.

Wonwoo hanya bisa menggeleng lemah melihat rombongan yang menerabas pintu kamarnya. "Kalian ini mau besuk atau mau tawuran, ya..."

"Bilang makasih kek, udah dijenguk sekampung gini," balas Seungcheol sambil menaruh kresek belanjaan hasil patungan mereka. "Salam dari Jeonghan ama Jihoon, masih pada kejebak di kantor."

Sambil membiarkan senior-seniornya itu berbincang dengan Wonwoo, Chan menyibukkan diri dengan membongkar belanjaan. Buset, siapa yang beli Bear Brand sebanyak ini? Kayak bakal habis aja. Kotak-kotak buah itu juga agaknya bakal jadi cemilan mereka alih-alih penambah imun orang yang dijenguk.

Sedih sebenarnya, pacarnya ada di sini, tapi justru ia harus pura-pura mereka sekadar rekan kerja. 

Apa boleh buat. Ini harga yang harus ia bayar agar rahasia mereka tak terbongkar.

Setelah beberapa lama rombongan pembesuk aneh ini merecoki Wonwoo — gonta-ganti saluran TV, menertawakan nasib satu sama lain, sampai ditegur suster ketika lawakan Seokmin bikin mereka ngakak sampai ke kamar sebelah — mereka pun berpamitan. Besok masih Jumat. Masih ada satu hari untuk menguli sebelum istirahat. Mingyu sudah merengek butuh hari libur biar bisa leluasa vidcall dengan pacarnya yang lagi S2 di Tiongkok itu. 

Sudah sampai di depan lift, Seungcheol baru sadar mereka kurang satu orang.

"Chan ke mana?"

Soonyoung menimpali setelah menengok ponselnya, "Oh, dia baru ngabarin gue. Dia di toilet, lagi mules. Katanya kita balik duluan aja."

"Ckckck, lu kasih kerjaan apa lagi dia?" tanya Jun.

"Engga ya, gue nggak nyuruh dia nguli—kenapa semua jadi ngeliatin gue, sih?!"

.

.

.

 

Setelah yakin rombongan kantornya sudah pulang, Chan pelan-pelan keluar dari toilet. Pas sekali, Wonwoo masih bangun ketika ia kembali ke kamarnya. Tentunya sudah memampangkan muka antusias mengingat mereka sudah tinggal berdua saja.

Apa daya, boro-boro dipeluk, si pasien harus merasakan dijitak mesra.

"Udah tahu lagi musim lembur, begadang mulu, masih aja makanin ramyun terus," gerutu Chan. "Dibilangin beli kateringnya kak Seokmin aja... kenapa ga nurut, sih?"

"Maunya makan masakan kamu, Chan..."

"Kalau aku ikutan lembur gimana? Ga makan, gitu?"

"Ya itu gunanya aku ngestok ramyun-"

Chan menjitak Wonwoo lagi. "Makanya jadi masuk rumah sakit, kan!"

Tetap saja ia panik ketika masnya beneran meringis kesakitan. Ia buru-buru mengusap kening si pria yang lebih tua sambil membetulkan kacamatanya yang miring.

Raut Chan yang resah tak luput dari penglihatan Wonwoo.

"Lagi kenapa, Channie?" ucapnya lembut. "Ada masalah di kantor? Kamu nggak kena omel lagi, kan?"

"Eh... enggak Mas. Bukan itu." Chan berpikir sejenak. Gimana ya menjelaskan perasaannya yang pelik ini? "Tadi... waktu di kantor... pada nanya Mas di mana. Kak Mingyu yang jawabin. Padahal tadinya aku mau jawab juga."

Sepertinya Wonwoo mengerti. "Ah. Kamu... nggak suka? Karena orang lain yang ngomongin Mas, bukan kamu?"

Chan mengangguk pelan. Ekspresinya makin sendu.

Wonwoo ikut tersenyum sedih. Sejujurnya ia juga kasihan melihat Chan menahan diri. Biasanya ia antusias mengobrol dengan senior-seniornya, tapi dengan Wonwoo di situ, pasti ia tak mau kelepasan mengobrol dengannya terlalu jauh. Lebih baik kehilangan waktu sedikit daripada hubungan mereka terbongkar sebelum waktunya.

"Sama, Chan. Mas juga nggak suka kita harus pura-pura gini. Pengennya juga bisa bebas nunjukin kamu." katanya. "Tapi emang kita harus sabar dulu. Bisa ya, Chan? Bareng Mas?"

Chan mengusap hidungnya dan beralih memeluk Wonwoo.

Si pasien mendadak memerah ketika menyadari Chan menyelipkan kecupan di pipinya.

"Cepat sembuh ya, Mas. Sepi tahu, nggak ada Mas di apartemen..."

Ah, Wonwoo jadi makin semangat untuk sembuh.

"Cium lagi dong, Channie... kalau di bibir kayaknya Mas bisa langsung keluar RS besok..."

"MANA ADA."

 

  1. Tetap jaga hubungan meskipun salah satu resign

 

Sudah pukul 5 sore. Waktunya Chan menjemput antaran pizza dan donat yang sudah menunggu di bawah. Di belakangnya, Yeonjun ikut untuk membantu mengangkut. Banyak juga ternyata. Maklum, bocah satu ini supel sekali, jadi banyak yang perlu 'dijamu' sebelum ia resign. Kayaknya hampir seantero lantai 17 sudah menunggu untuk memberinya salam perpisahan. 

Sambil memanggul kotak pizza di bahunya, Yeonjun menimpali, "Yah, geng kita bolong satu nih. Masa gue ama Changbin ke kantin berdua doang sekarang. Ga lucu kalau dikira pacaran."

"Ya elah, tinggal lihat hape lu juga semua orang tahu elu kaga jomblo." 

Yeonjun hanya mengangkat bahu. Gimana mau menyangkal, wong di casing hapenya sudah ada foto ia berpelukan dengan Soobin.

Entah kenapa, menaiki lift ke lantai kantornya membuat Chan jadi agak terharu. Dua tahun terbilang lama untuk bekerja di perusahaan tech. Di kantor ini ia sudah belajar banyak hal tentang hidup dan dunia kerja. Banyak rekan kantornya datang dan pergi, kadang membuatnya sedih, tapi positifnya, banyak juga orang baru yang ia temui dan menjadi temannya di dalam dan luar kantor. 

Dan tentunya, kantor ini tempat ia menemukan Mas Wonwoo-nya kembali.

Sesampainya di meja, Chan menata kotak-kotak makanan, lalu memanggil teman-temannya untuk ikut makan. Dasar tembok berbicara, kabar bahwa Chan mau resign sudah tersebar sejak dua minggu sebelumnya. Lama-lama capek juga mengelak dari pertanyaan 'pindah ke mana'. Jawabannya selalu sama: "Tunggu aja, nanti gue update di LinkedIn". 

(Halah, kayak dia bakal ingat meng-update aja kalau bukan karena diingatkan Wonwoo.)

Namanya ada makanan gratis, pasti orang mulai merubung. Di sela-sela mengunyah pizza dan donat, Chan sibuk meladeni salam perpisahan dari sana sini. Salah satunya dari Jeonghan, yang langsung memeluknya erat. Ah, ia akan rindu main basket bersama Jeonghan, Seokmin, dan lainnya. 

Di sela-sela berpelukan, Chan melihat Wonwoo tersenyum tipis padanya dari kejauhan.

Akhirnya, mereka selangkah lebih dekat menuju bisa mencintai dengan bebas.

.

.

.

Tahu-tahu, Chan sudah ditodong untuk memberi salam perpisahan. Mana banyak banget lagi yang ngantri. Chan jadi merasa seperti sedang orasi waktu jadi panitia ospek kampus dulu.

"Yah, jadi... makasih banyak, Bapak-Ibu, Mas-Mba, semua yang udah bantuin saya selama dua tahun di sini. Banyak nano-nanonya, yah namanya juga hidup, tapi saya seneng banget bisa kenal sama semua orang di sini. Buat yang nanya pindah ke mana, tunggu aja infonya. Hehehe." Kalimat terakhir itu ia lontarkan sambil melirik ke Seungkwan dan Hansol, dua orang yang, buset dah, kepo banget soal kantor baru Chan. 

Mumpung suasana sedang kondusif, sepertinya ini waktu yang tepat untuk menjalankan rencananya dengan Wonwoo. Ia menarik napas. Ayo, Chan. Sedikit lagi.

"Mungkin sekalian mau sharing juga. Sebenarnya... ada alasan personal yang juga ngaruh ke keputusan saya resign."

Semua mulai menerka apa maksud Chan. Ada konflik? Berantem sama atasan? Ada rahasia perusahaan yang ia ketahui? Bahkan Soonyoung jadi ikut menebak-nebak bersama geng manajernya di belakang.

Di tengah kasak-kusuk itu, Wonwoo menembus kerumunan menuju ke arah Chan.... dan langsung merangkul pundaknya.

"Sore, semuanya," sapanya. "Berhubung ini last day-nya Chan, kami rasa ini waktu yang pas buat ngasih tahu bapak-ibu dan teman-teman. Jadi..."

Wonwoo berdeham, menggenggam tangan kanan Chan, lalu menunjukkan cincin tunangan darinya ke seluruh penghuni ruangan.

"'Alasan personal' yang Chan maksud itu adalah, kami berencana nikah tahun depan. Makanya kami perlu pisah kantor," jelasnya sambil tersenyum lebar. "Mohon doanya ya rekan-rekan, supaya persiapan kami lancar."

 

Hadirin yang tadinya diam menyimak langsung kompak menganga.

 

"HAH?!"

"Eh ini serius? Bukan prank kan?"

"Wah gila, Pak Wonwoo diem-diem satset juga nih mainnya..."

"Kita-kita diundang ga nih Mas???"

"Hehe... nanti lihat ya. Saya sih ngikut Chan."

Sambil berkata begitu, Wonwoo berpindah merangkul pinggang Chan. Beberapa orang di baris belakang sudah bersiul penuh semangat.

"Kok jadi aku sih, Mas?!"

Seungkwan yang duluan memecah kemesraan dua sejoli itu. "Misi, mau ke toilet. Nggak kuat nonton orang bucin." 

Chan gantian tertawa, disusul oleh orang-orang di sekitarnya. Ah, menyenangkan sekali bisa mencintai Wonwoo di hadapan semua orang.

"Heh, habisin dulu itu martabaknya! Udah susah-susah gue beliin! Besok gue udah ga di sini lho kak, awas aja ya lu kangen!"

 

***

Notes:

mari bersilaturahmi di twt