Work Text:
Brak! Pria itu menjatuhkan tubuh wanitanya hingga memantul di atas ranjang bersamaan dengan kedua gundukan kenyal yang masih terbalut gaun pengantin. Sepasang mata Allen memicing tajam pada Richita, mempelai wanita yang baru dinikahinya beberapa saat lalu. Ada hasrat yang berkobar pada tatapannya laksana serigala yang siap menyantap mangsanya. Bibirnya pun menyeringai dalam temaram lampu kamar. Sang wanita bergaun putih bergetar gugup menyaksikan tingkah suaminya. Bingkai belahan dadanya menegang.
“T-Tuan Fiarain—” panggil Richita gagap gemetar. Suaminya mendengus sedikit kesal akan kesalahan kecil yang diperbuat wanitanya.
“Richita sayang… Aku ini sudah jadi suamimu, tahu? Panggil aku dengan benar. Nama belakang Fiarain itu juga sudah menjadi milikmu sekarang,” koreksi Allen dengan kedua tangan menahan tubuhnya pada ranjang pengantin mereka, mengukung Richita di tempat, mencegahnya kabur.
“Ah, be-benar juga. Maaf… A-A-All…en…”
Melihat istrinya terbata berusaha memanggil nama depannya membuat seringai Allen semakin lebar.
“Coba panggil lebih cepat,” pinta Allen mantap. Dia benar-benar menyukai cara istrinya memanggil nama depannya untuk pertama kalinya. Dia akan sangat candu dengan ini. Ah, lidahnya mulai menyapu bibirnya, menunjukkan ketidaksabarannya memulai ritual malam pertama ini. Sementara Richita sendiri gugup dan tegang bukan main. Degupan jantungnya menggebu-gebu.
“Allen—”
Satu kata singkat yang ajaib sampai mengubah udara menjadi semakin panas. Panggilan itu terpotong akibat Allen langsung menyambar bibir Richita yang menggodanya, mengundangnya untuk mulai berbuat lebih dan lebih pada pengantinnya. Malam itu, Allen dan Richita telah bersatu sepenuhnya, mengikrarkan cinta mereka seutuhnya.
Sekitar satu tahun pasca pernikahan, mereka dikaruniai seorang bayi laki-laki yang lucu dan sehat sebagai buah hati pertama mereka. Keluarga kecil Allen menjadi lengkap dengan kehadiran sang putra pertama. Dia tak henti-hentinya memasang senyum gemas tatkala mendapati si kecil dalam buaian istrinya.
“Sembilan bulan dalam rahimku membuatku menderita dan dia terlihat seperti ayahnya?” protes Richita dengan bibir mengerucut. Allen menutup bibirnya rapat-rapat menahan tawa. Penampilan bayi mungil itu memang persis Allen. Mulai dari rambut hingga matanya, semua warisan dari sang bapak.
“Hei, hei. Dia kan anakku juga. Kalau tidak mirip aku ‘kan malah seram jadinya,” terang Allen menghibur sedikit. Menghibur dirinya sendiri.
“Jadikah mau diberi nama dengan arti cinta?” Richita bertanya memandang suaminya. Bola mata hijaunya nampak serius, membuat Allen berhenti tertawa sejenak dan menggantikannya dengan senyum kebapakan.
“Ya. Mari kita panggil dia Liebe. Agar dia tahu dia terlahir karena cinta.”
Jawaban Allen yang tegas menenangkan Richita, memenuhinya dengan semerbak kehangatan. Si kecil dalam dekapannya pun menggeliat dengan rengekan tangis khas bayi yang mengundang iba.
“Liebe. Liebe Fiarain. Nama yang bagus,” kikik Richita seraya mengusap lembut rambut sewarna susu—yang senada dengan rambut sang suami—di dahi putra mungilnya.
Selang satu tahun lamanya, Richita melangkah gontai dari kamar mandi. Hatinya berselimut gundah. Raut wajahnya tak tampak baik-baik saja. Rahangnya naik tanpa senyuman. Di tangannya tergenggam sebentuk alat tes panjang yang hasilnya positif. Dia menimbang-nimbang alat itu sebelum ditunjukkan kepada suaminya.
“Sayang… Maaf, aku hamil lagi. Padahal Liebe masih terlalu kecil. Aku gagal—” kalimat menyalahkan lagi merendahkan diri itu langsung dipotong habis oleh sang suami sembari memegang pundak istrinya. Menguatkan, mengokohkan, mendukung dengan segenap keputusan yang matang. Berusaha tetap positif terhadap situasi keluarganya. Tangan Allen yang besar mendekap Richita, membawanya kalut dalam kenyamanan. Ditariknya dalam ketenangan yang belum terbuktikan. Gundah gulana masih menguasainya, namun afeksi suaminya ini perlahan meruntuhkan segala kebimbangan.
“Ehh… Aku yang harusnya minta maaf. Maaf, ya, Sayang. Aku kurang berhati-hati.” Setelah hanyut dalam dekapan, Richita terdorong hampir lepas dari Allen. Ini dilakukan pria itu untuk memandang mata istrinya dalam-dalam, meyakinkannya untuk tetap kuat bersama.
“Mulai saat ini, aku akan lebih banyak menghabiskan waktu dengan Liebe supaya dia tidak merasa iri dengan adiknya nanti. Tenang saja, Sayangku. Kita bisa melewati ini bersama-sama. Kita akan baik-baik saja. Oke?” lanjut Allen panjang lebar.
Richita enggan menjawab sepatah kata pun. Hanya tubuhnya yang bergerak maju mendekat memasrahkan diri dalam dekapan pasangannya kembali. Pandangannya sayu. Dan Allen menggunakan momen intim itu untuk mengelus rambut kepala keperakan Richita, berharap dapat membantu meringankan keresahannya. Menjadi orang tua itu memang tidak pernah mudah.
Kian hari perut Richita kian membesar. Dia bersama pasangannya selalu melakukan yang terbaik. Janinnya tumbuh berkembang dengan baik sebab mereka pasti melakukan cek berkala untuk kesehatan kandungannya. Liebe pernah diajak turut serta saat melakukan pemeriksaan, namun yang terjadi malah Dokter memperingatkan mereka untuk tidak membawa anak. Dikhawatirkan anak-anak yang masih rentan akan tertular penyakit dari orang-orang di Rumah Sakit. Mendengar peringatan itu, pasutri ini pun terhenyak menyesali ketidaktahuan mereka. Padahal niatnya mereka ingin memperkenalkan Liebe lebih dekat dengan adiknya. Liebe sendiri masih baru saja di tahap mengenal makanan-makanan lunak dan belajar berlari. Wajar saja Dokter melarang keras dirinya berada di area Rumah Sakit. Dia masih sekecil dan serentan itu.
Sehari-harinya, pasangan Fiarain ini terus-menerus berkomunikasi dengan anaknya tentang sang adik yang akan segera lahir. Begitu juga sang adik yang kerap diajak bicara oleh keluarga yang menyayanginya, menantikan kehadirannya. Ucapan Allen dan Richita semacam, “Liebe sebentar lagi mau jadi kakak, lho! Kerennya!” membuat Liebe bersemangat untuk menjaga ibu dan calon adik kecilnya. Sepertinya Allen berhasil membuat Liebe kecil tidak merasa tersisihkan dengan kehadiran adiknya.
Tepat di bulan kesembilan kehamilan, anak kedua Allen dan Richita lahir. Ibu dan bayinya selamat dan sehat. Tak henti-hentinya Allen mengucap syukur sambil mengecup kening istrinya yang telah berjuang selama ini. Allen pamit, berniat untuk menjemput Liebe atas izin dokter dengan catatan wajib dipakaikan masker. Tak lama kemudian, Liebe datang menjenguk ibu dan adiknya. Seakan tahu dan mengerti, Liebe menangis haru menyaksikan adik kecilnya. Seorang anak laki-laki sama seperti dirinya. Kali ini, sang bayi persis seperti ibunya. Rambut perak kepirangan dan mata hijau lebar. Namun tangisannya sangat kuat membahana. Allen khawatir putra keduanya menakuti putra pertamanya, akan tetapi justru Liebe sangat senang hingga ingin menyentuh kaki mungil sang adik yang tengah aktif menendang-nendang. Mungkin masih belum nyaman mengenal udara dunia di luar rahim. Liebe mengulang-ngulang seutas kata sambil menangis.
“Asta… Asta…”
Allen bertukar pandangan heran dengan Richita. Dia pun mengoreksi, “Asta? Adik, Liebe. Panggilnya Adik.”
Tidak berhasil. Liebe tetap saja melantunkan kata itu. Richita melempar pandangannya ke atas sebelum mencetuskan ide. Jari telunjuknya teracung seketika.
“Aha! Bagaimana kalau kita beri nama Asta saja?”
“Asta? Errr… Kenapa memangnya?” Allen bertanya lebih lanjut.
“Kenapa? Hmm… Menurutku itu nama yang bagus kok. Namamu juga berawal dari huruf A, ‘kan? Sementara aku berakhiran dengan -ta. Bagus kok. Asta Fiarain. Ya, ‘kan?”
Seulas senyum mengembang bersama deretan gigi Allen. Dia menggendong Liebe yang berusaha menggapai kaki mungil Asta di dalam box bayi hingga tergapailah kaki itu dalam genggaman tangan kecil Liebe.
“Asta… Asta…”
Begitulah kisah kelahiran kedua putra Fiarain yang selisih usianya hanya terpaut satu tahun lebih saja. Akibat jarak usia yang dekat dan penampilan yang mirip, Liebe dan Asta seringkali disangka kembar atau kalau tidak ya Liebe yang dikira adiknya Asta. Mereka tumbuh bersama, sering bertengkar, namun tetap tak terpisahkan. Mulai mereka kanak-kanak hingga remaja. Selalu ada untuk satu sama lain.
“Ayah! Selamat ulang tahun! YEY!” Asta bersorak sepulang dari kelas kuliahnya. Di lengannya terapit sebongkah kotak kertas berisikan kue ulang tahun. Dengan penuh semangat, dia meletakkan kotak kue itu di tengah atas meja kedai keluarga mereka yang telah tutup karena jam buka habis.
Sembari Asta menyiapkan hal-hal lain seperti lilin dan menghubungi kakaknya yang berada di luar kota karena pekerjaan, Richita sang ibu juga antusias membawakan masakan kesukaan suaminya untuk sajian bersama dengan kue ulang tahun, semua terhidang cantik di atas meja. Allen sendiri masih saja terharu meskipun ini selalu terjadi setiap tahun. Dia mengusap mata tuanya yang mulai berhiaskan kerutan di sisi-sisinya.
Asta sudah menyalakan lilin di atas kuenya. Bukan lilin angka, hanya lilin formalitas saja. Lilin itu ada 4 buah berdekatan di tengah-tengah kue yang kelihatannya berkrim keju. Di depan mereka bertengger ponsel Asta yang menunjukkan wajah Liebe yang telah terhubung via video call.
“Ayo, Ayah! Cepat berdoa dan tiup lilinnya!” Asta menyengir menyemangati sang ayah. Richita menyenggol putranya sebagai gurauan.
“Kau memburu-burui Ayah karena ingin segera makan, ‘kan?”
Sontak pecah gelak tawa keluarga kecil tersebut. Asta sendiri tiada mengelak memang maksudnya tertebak sebagaimana adanya. Liebe di seberang pun ikut terkekeh akibat ulah adiknya. Puas tertawa renyah, Allen pun akhirnya memulai memimpin doa. Dia tidak mengucapkan doa dalam hati seperti yang biasa dilakukan anak-anak. Dia lebih suka berdoa bersama keluarganya.
Selesai berdoa, lilin-lilin padam terembus tiupan udara dari Allen. Asta hampir saja hendak mengambil makanan sebelum Richita menghentikannya dengan setengah berbisik menarik lengan Asta yang kini tumbuh sangat kekar berkat olahraga kerasnya bertahun-tahun.
“Tunggu, Asta! Ayo, cuci tangan dulu! Mandi sekalian sebentar! Kau ‘kan baru pulang! Tidak boleh langsung makan!” titah sang ibu keras namun tiada menyakiti. Asta yang masih cengar-cengir kemudian pamit ke belakang guna membersihkan tubuhnya.
Sementara itu, Liebe memanggil ayahnya dari panggilan video yang masih berlangsung.
“Ayah, aku beri mentahan saja, ya? Aku tidak tahu harus memberi apa.”
Hanya berselang dua menit saja langsung tiba notifikasi saldo masuk dari ponsel Allen. Sang ayah langsung berterimakasih kepada anak sulungnya dan mendoakan kesuksesan serta keselamatan untuknya yang sedang mengadu nasib di perantauan. Ya, Liebe kini tengah bekerja di luar kota demi masa depan dan membantu membahagiakan keluarga berharganya. Memang terkadang tersiksa oleh rindu pulang ke rumah. Tetapi sebagai calon tulang punggung keluarga selanjutnya, Liebe tidak akan mengeluh dan tetap berdiri tegar nan kuat. Lagipula, di dunia ini keadaan terasa jauh lebih baik dan damai dibanding di dunia Liebe sebelumnya sebagai seorang iblis.
…
