Chapter Text
Tidak ada orang yang suka hari Senin, terutama saat upacara.
Oleh karena itu, Stanley dan komplotannya memilih untuk memanjat pagar belakang sekolah saat murid lain beramai-ramai menuju lapangan. Sebenarnya, mereka tidak perlu serepot ini. Biasanya bersembunyi di kantin kepercayaan mereka sekalian beli sarapan pun sudah cukup. Namun, karena mulai banyak guru yang menyadari siswa-siswinya sering membolos saat upacara, mereka mulai melakukan patroli, mengitari setiap jengkal sekolah untuk memastikan tidak ada muridnya yang dengan sengaja tidak mengikuti kegiatan. Stanley dan teman-temannya hampir saja tertangkap dua minggu yang lalu, dan sejak itu mereka memutuskan untuk tidak apa-apa repot sedikit pagi-pagi, yang penting mereka bisa merokok di belakang sekolah dengan aman dibawah bayangan pohon yang mereka jadikan tempat meneduh, daripada medengarkan orasi tidak penting dan berdiri terkena panas selama hampir dua jam. Alasan lainnya adalah tidak ada dari mereka yang memiliki atribut lengkap, sehingga mereka membolos untuk menghindari hukuman.
"Menurutmu, guru-guru tuh nyadar gak sih kalau ada wajah-wajah yang gak pernah keliatan nongol pas upacara?"
Maya membuka percakapan saat mereka sudah duduk bersenderan di batang pohon yang rindang.
"Nyadar lah, kalo nggak ya mereka gak akan patroli setiap pagi kayak gini. Semakin ngerepotin aja mereka tuh."
Moz yang membalas, ia membiarkan rambutnya yang sudah melebihi batas panjang itu tersapu angin semilir yang sejuk.
"Sebenarnya aku tiap Senin manjat-manjat pagar gini capek, tapi dipikir-pikir ikut upacara lebih capek. Lagian topiku juga hilang, males kalau suruh beli lagi."
Brody lalu menyalakan sebatang rokok yang entah sejak kapan sudah terhimpit diantara bibirnya, menghirupnya dalam lalu menghembuskan asapnya ke udara, membiarkan angin menyapunya. Stanley tentu saja meminta satu, begitupun dengan Moz. Mereka bertiga terdiam meresapi nikmatnya nikotin yang menjalar di sepenjuru tubuh, meninggalkan rasa manis yang pekat di mulut mereka.
"Aku laper deh."
Hyoga menceletuk, dibalas dengan "aelahhh" dari keempat kawannya berbarengan.
"Kenapa tadi pagi sebelum upacara gak beli makan dulu sih?"
Tanya Moz, yang kemudian menawari Hyoga sebatang rokok, "nih nyebat dulu, lumayan buat nge ganjel perut."
"Kan sebelum upacara kita udah lari-larian kesini dan buru-buru manjat pager, ya mana sempet."
Bantah Hyoga yang kemudian menolak tawaran rokok dari Moz. Ia tim makan dulu, baru rokok.
"Maksudnya sebelumnya sebelum itu, lebih pagi lagi."
Stanley menjelaskan, mewakili Moz yang geleng kepala ketika mendengar bantahan konyol Hyoga.
"Yah, aku datengnya aja siangan. Ini tadi aku baru aja naruh tas di bangku sama Maya udah diseret ke gerbang belakang."
Mereka lalu sibuk mengobrol sambil menikmati setiap hisapan rokok di mulut mereka, menghabiskan separuh isi rokok Brody. Mereka memilih untuk tidak mengambil sebatang lagi karena takut jika sekiranya asap rokok akan semakin tercium jelas di seragam mereka, juga karena mereka sudah mendengar samar-samar perintah pembubaran dari lapangan, menandakan upacara segera berakhir dan mereka akhirnya bisa kembali.
"Sudah tuh, yuk siap-siap manjat. Siapa yang duluan?"
Stanley yang pertama berdiri, membersihkan celananya yang sedikit ternodai oleh bekas tanah tempat mereka duduk.
"Hyoga aja duluan."
Moz menyeletuk, dibalas dengan tatapan kesal Hyoga, "eh aku tadi udah duluan ya, gantian kamu ajalah."
Setelah sedikit perdebatan, akhirnya Maya lah yang mengalah. Ia sudah bersiap-siap memanjat sebelum Brody berkata, "eh bentar dulu May, itu masih pengumuman tuh."
"Alah biarin, biasanya pengumuman di akhir upacara mah buat yang barusan menang lomba doang."
Maya tidak acuh, ia lalu langsung mengangkat tubuhnya untuk memanjat pagar besi kokoh di depan mereka.
"Hati-hati May, upacara masih belum dibubarin, siapa tau masih ada guru yang patroli."
Ucapan Stanley hanya dibalas dengan "ya ya" oleh Maya yang sekarang sudah ada di atas pagar, lalu tanpa ragu melompat ke seberang.
Mereka semua berhasil memanjat pagar kembali, tepat setelah upacara dibubarkan. Mereka langsung ikut menyatu dengan kerumunan siswa di koridor yang saling berdesak-desakan, menaiki tangga menuju kelas mereka di lantai dua. Saat di atas, Stanley memandang kearah lapangan dan melihat ada satu siswa yang sedang dipotret bergantian dengan para guru sambil memegang medali dan piala.
"Xeno lagi ya?"
Hyoga menceletuk, entah sejak kapan ia ada di sampingnya. Stanley mengangguk sebagai balasan.
Xeno.
Stanley kerap sekali mendengar nama itu diucapkan di sepenjuru sekolah, bahkan sejak tahun pertama.
"Dari awal-awal masuk sini aku tuh udah nebak kalau dia pinternya bukan sekedar pinter biasa. Mencetak prestasi sebanyak itu dalam dua tahun gak mungkin diraih orang yang hanya sekedar pinter. Andai otaknya dia bisa dibagi-bagi."
Hyoga lanjut mengoceh soal apa yang ia ketahui soal Xeno, tapi Stanley tidak terlalu peduli. Ia mengakui kalau menjadi jenius dalam akademik adalah hal yang hebat, namun itu sama saja halnya dengan mahir dalam hal non-akademik atau menguasai bidang lain. Tidak perlu melebih-lebihkan satu kategori, karena menurutnya semua setara seperti halnya satu garis yang sama tapi berbeda ujung. Namun kalau boleh jujur, Stanley sendiri belum sepenuhnya menemukan hal yang Ia merasa benar-benar mahir melakukannya. Ia masuk IPS karena yakin tak akan mampu jika berhadapan dengan rumus-rumus IPA, ia memilih masuk tim basket sekolah hanya untuk mencari kegiatan dan juga karena ajakan Moz, ia kadang bermain musik bersama Brody di garasi rumahnya, atau memamerkan motornya kepada Hyoga dan menantangnya balapan dengannya nanti malam. Semua hobinya hanya sekadar hobi, tidak ada yang benar-benar ia dalami. Dari semua hal-hal yang ia pernah coba, iaa hanya sampai menyentuh permukaannya saja.
Kecuali waktu itu, saat ia masih menjadi atlet airsoft.
Tembak menembak merupakan hobi pertamanya dan juga yang menjadi favoritnya. Entah sedari umur berapa tepatnya ia mulai bermain airsoft, namun ia merasa itulah yang selama ini menemaninya tumbuh dewasa. Memasuki SMA ia memutuskan untuk keluar, lelah katanya, bosan katanya, namun bohong jika ia terkadang tidak merindukan kegiatannya yang sehari-hari hanya diisi dengan latihan dan latihan. Di masa-masa itulah ia bertemu dengan teman-teman yang hebat, pengalaman tak terlupakan, dan segala hal yang mencetak ia sebagai sosok yang sekarang. Tidak ada yang mendesaknya untuk menyalakan lagi api yang telah padam, sehingga semua barang-barang bekas yang terisi penuh kenangan itu teronggok berdebu di pojok ruangan yang gelap membisu.
Stanley membuang jauh-jauh pikirannya, entah kenapa melihat Xeno barusan membuatnya merenungi hal yang tidak ingin ia resapi. Bel terdengar menggema di setiap sudut koridor, menandakan sudah tidak boleh ada siswa yang kelihatan berkeliaran di luar kelas. Stanley menyusul Hyoga masuk ke kelas mereka di IPS 2, menyambut pelajaran pertama dengan bosan.
"Oi Stan! Gak ikut latihan basket hari ini?"
Moz yang memanggilnya dari belakang membuat Stanley menoleh, disambut dengan cengiran khas dari kawannya itu dan senyum tipis dari Kirisame, cewek kelas sebelah yang dua bulan lalu berhasil Moz jadikan pacar.
"Ya kelihatannya aja bagaimana?"
Balas Stanley sedikit ketus, ia tahu maksud asli Moz hanyalah pamer pacar. Sudah waktunya pulang dan mereka sekarang berjalan menuju gerbang depan dengan Stanley yang jelas membawa tas. Moz dan Kirisame sepertinya belum ingin pulang, terlihat mereka bercengkrama ria di sepanjang jalan tanpa tas mereka. Entah mau kemana, mungkin membeli cilot di seberang jalan raya lalu makan berdua di gazebo sambil menunggu latihan basket Moz dimulai. Latihan basket Moz dan Stanley sebenarnya, namun kali ini Stanley sedang malas-malasnya. Semenjak mereka kelas dua, jadwal latihan yang sebelumnya Selasa dan Kamis diganti menjadi Senin dan Sabtu. Dua hari termalas dalam seminggu dibuat latihan, entah apa yang dipikirkan para pengurus saat mereka berunding. Moz waktu itu sempat berkata kalau ia jadi bahan omongan para senior karena jarang hadir termasuk saat ada seleksi lomba, namun Stanley tidak peduli, bahkan ia sempat kepikiran untuk keluar. Biarkan saja mereka bingung mencari anggota pengganti yang bisa diandalkan untuk mengikuti pertandingan, mengetahui Stanley adalah salah satu pemain terbaik mereka. Kalau mau ia kembali rajin latihan, ganti lagi itu jadwalnya.
"Stanley!"
Seseorang kembali memanggil namanya, tapi yang kali ini cukup membuat Stanley langsung bergeming. Ia kenal betul suara itu.
"Kenapa gak pernah dateng latihan?"
Sosok tersebut sudah tiba di hadapannya, berdiri tiga jengkal dari wajahnya, memandangnya dengan raut yang jelas tidak ramah. Dialah ketua basket dan mantan ketua OSIS sekolah mereka. Sosoknya yang khas membuat siapapun yang mengaku tidak mengenalnya akan di cap pembohong, karena selama kau bersekolah di sini maka tidak mungkin kau melewatkan seorang Sai Nanami.
Stanley sedikit gugup saat menjawab pertanyaan seniornya, atau lebih tepatnya disebut interogasi.
"Akhir-akhir ini aku sedang sibuk bang."
Sibuk? Stanley sebenarnya ingin tertawa sendiri mengucapkan hal itu. Tapi itulah alasan yang paling pertama terpikirkan.
"Stan, kamu tau kan sebulan lagi akan ada pengukuhan resmi pengurus baru? Aku dan angkatanku tidak lagi megang tim Stan, dan kami ingin tim kita tetap jadi yang terbaik. Tolong lah, sebulan ini saja kamu rajin masuk latihan, sebelum kami benar-benar angkat kaki. Ada banyak hal yang mau kami sampaikan dan berikan ke kalian-kalian ini. Dan juga bantulah adik-adikmu yang kelas sepuluh, kamu kan termasuk yang ulung, ajarin mereka. Kamu mau kita tetap unggul kan dalam pertandingan?"
Ah, Stanley sekarang bingung akan menjawab bagaimana, dan yang ia bisa lakukan hanya mengangguk mengiyakan.
"Aduh Stan, sebenarnya kamu tu kami masukin list calon pengurus, kalau kamu tetep rajin kayak biasanya niatku jadiin kamu ketua loh."
Aduh, rayuan atau rayuan? Stanley sekarang lebih bingung lagi, bagaimana caranya ia menjelaskan kalau sebenarnya ia justru ingin keluar dari tim. Namun, semua kata-kata yang sudah di ujung lidah ia telan kembali dan diganti dengan anggukan.
Sai sudah mau berbalik pergi, sebelum seseorang memanggil nama mereka, menghampiri.
"Kak Sai! Kak Stanley!"
Stanley menghela napas, entah karena lega akhirnya Sai tidak lagi menatapnya tajam atau karena mereka dihampiri oleh sosok yang membuat Stanley merasa kesal setiap kali melihatnya. Ryusui, si pirang gondrong yang jadi adik kelasnya, juniornya di basket, dan juga adalah adik Sai sendiri. Stanley yakin jika dia jadi Sai, sudah dia tendangin setiap hari pantat adiknya karena selalu berlagak sok di sekolah. Sok keren, sok asik, sok akrab. Stanley tak habis pikir kok bisa seseorang seperti Sai bisa sangat sabar melihat kelakuan adiknya.
"Ryu? Belum pulang kamu?"
Tanya Sai pada Ryusui yang sekarang berdiri di samping kakaknya, ikut berhadapan dengan Stanley.
"Kan aku disuruh pulang bareng kakak tadi."
Ryusui menatap bingung kakaknya yang kemudian menyahut "oh iya" setelah teringat.
"Kakak nanti masi ada latihan basket loh, gapapa nunggu sampe magrib?"
Ryusui justru tersenyum lebar mendengar ucapan kakaknya, "gapapa, justru aku bisa minta tolong dianter pulang kak Ukyo."
Stanley memasang wajah kaget, Ukyo Saionji? Anak IPA 4 yang akhir-akhir ini dirumorkan pacaran sama Ryusui Nanami? Jadi mereka memang beneran jadian?
Wah, gak mungkin ini, pasti Ukyo kena pelet.
"Oh, kalian beneran pacaran memang?"
Mendengar pertanyaan Sai yang mewakili Stanley membuatnya enggan beranjak pergi, ia masih ingin tahu kelanjutan dari percakapan ini.
"Enggak juga sih, memangnya kalau saling suka harus pacaran ya?"
Ryusui menjawab dengan nada kesal, jelas Sai bukan orang pertama yang menanyakan itu.
"Ya kan aku tanya doang, yaudah sana cari si Ukyo."
Alih-alih pergi setelah mendengar ucapan kakaknya, Ryusui sekarang malah berganti menatap ke arah Stanley, "kak, kenapa gak pernah latihan lagi?"
Rasanya Stanley ingin memukul tembok, tiga orang dalam selang lima belas menit menanyakan hal yang sama persis. Mungkin inilah yang dirasakan Ryusui akhir-akhir ini saat rumor tentangnya menyebar, atau mungkin memang pertanda kalau ia harus kembali ikut latihan.
"Baru aja aku ditanyain itu sama abangmu, malah ditanyain lagi."
Jawaban ketus Stanley dibalas cengiran Ryusui.
Stanley berjalan menuju parkiran motor. Hari ini ia parkir di luar sekolah, dan yang dimaksud dengan 'hari ini' adalah setiap hari. Ia merasa mending bayar dua ribu rupiah daripada tidak bayar tapi menerima risiko motormu sulit keluar, lecet sana sini tersenggol motor lain, bahkan ban motor sengaja dibocorkan guru ketika parkirmu dirasa miring sedikit. Setelah berhasil keluar parkiran, Stanley berhenti sebentar di pinggir jalan, menunggu waktu yang tepat untuk masuk aspal, mengetahui sekarang sore hari dan jalan raya sedang ramai-ramainya oleh anak sekolah dan pekerja kantor yang pada pulang. Saat sedang sibuk menoleh ke kanan kiri, ia menangkap seseorang sedang berjalan kaki di pinggir jalan ke arah yang sama dengan tujuan Stanley.
Xeno.
Ia sedikit kaget, tidak pernah sebelumnya ia berpapasan atau bahkan melihat Xeno setiap sepulang sekolah, entah karena ia selalu pulang duluan atau malah pulang terakhir. Memangnya mau kemana dia jalan kaki begitu? Alih-alih tidak mempedulikan, Stanley justru menghampiri Xeno, memelankan laju motornya untuk menyamakan kecepatannya dengan langkah Xeno, mendekatinya.
"Butuh tumpangan?"
Yang ditanyai seketika berhenti, menoleh pada Stanley dengan raut muka campur aduk antara datar, bingung dan kaget. Mereka berdua terdiam beberapa saat, membuat Stanley merasa canggung. Ia mulai mempertanyakan dirinya sendiri dan hal apa yang barusan ia lakukan, entah sejak kapan instingnya berbuat seperti ini.
"Tidak terimakasih, rumahku dekat."
Balas Xeno, senyum tipis merekah di kedua sudut bibirnya. Ia lalu lanjut jalan begitu saja, meninggalkan Stanley yang belum beranjak pergi.
Ting!
Dentingan demi dentingan notif daritadi tidak berhenti terdengar dari ponsel Stanley. Ia mulai risih, sekarang ia jadi ingin tahu siapa gerangan yang daritadi meneror nya dengan pesan. Stanley yang sedang sibuk menggoreng tempe untuk lauk makan malamnya, buru-buru meniriskannya dan pergi ke ruang tengah untuk mengecek ponselnya. Grub yang terisikan dirinya dan geng nya itu sedang ramai, sepertinya lagi ada masalah.
moz
cok kita beneran ketauan anj
maya
pasti ada yg nyepuin ini
gak mungkin kalo gak
brody
laiya
selama ini kita main aman soalnya
moz
anj katanya anak ipa noh
siapa itu namanya
ipa 4 pokok
hyoga
siapa jir
anak ipa 4 pendiem semua
maya
pendiem bukan berarti ga bakal cepu ya
brody
kok tau klo anak ipa 4 moz?
moz
di infoin magma sama yo aku tadi
doi bbrp kali liat kita bolos
dia juga deket kan sama guru, anak emas soalnya
hyoga
mbolos yg kapan
kita sering bolos
maya
upacara tadi?
moz
ya gatau bolos yg mana jelas ia ngasih kesaksiannya gitu
katanya dia jg cepuin kita ngrokok
jgn2 dia juga cepuin kita mabok di halaman belakang saat dies natalis taun lalu itu
cok
hyoga
tebak hukuman...
brody
ah males klo ampe main poin2 an
maya
sama
aku sih mending disuruh bersihin seluruh kamar mandi ya
gak juga ding
banyak tai yg ga disiram
hyoga
mending nyabutin rumput lapangan
tapi gak mungkin gak dikasih poin
minggu lalu aku pakek kaos kaki putih di hari jumat aja udah kena 10 poin
moz
eh siapa sih itu namanya
yg tadi dipanggil maju pas abis upacara
menang apalah itu
brody
yg td dipanggil cuman xeno kan
ipa 4 juga
moz
nah bener itu
mau tak tandain mukanya
keliatan sok bgt anj
mentang2 ya
maya
masa orangnya kyk gitu cepuan
moz
ntah
pokok yg jelas dia masuk list ku
awas aja
Jantung Stanley berdegup tak karuan menyimak pesan teman-temannya, separuh karena takut hukuman apa yang akan mereka dapatkan esok, separuhnya lagi karena rasa tidak percaya. Tidak mungkin seorang Xeno Wingfield berbuat seperti itu, sifatnya bukanlah orang yang suka ikut campur masalah orang lain, kecuali mungkin kalau dirinya terlibatkan. Yah, Stanley juga tidak tahu pasti sih. Namun selama ini tidak pernah ada drama apapun yang menyangkutpautkan Xeno, namanya selalu bersih, seakan semua orang juga tau kalau seorang Xeno tidak bisa dilibatkan dalam konflik apapun. Ia hanya mau mengurusi permasalahannya sendiri, hanya peduli pada keinginannya sendiri, dan secara tidak langsung melalui reputasinya ia seakan mengecamkan hal itu pada semua orang. Tak ada yang berani mengusiknya.
Pasti fitnah. Stanley ingin membantah tuduhan Moz, tapi ia tahu kalau suasana hati Moz sedang tidak baik, menentang apapun yang ia katakan sekarang seakan mempersilahkan bencana untuk datang. Jadi, ia hanya membalas pesan teman-temannya dengan kalimat "jangan terburu dah, dipastiin aja dulu, siapa tau salah orang."
Aduh, ini akan jadi makan malam paling tidak tenang.
