Actions

Work Header

Aman yang Ternyata Palsu

Summary:

Setelah hampir satu tahun berkencan, Jeonghan langsung menerima ajakan Seungcheol untuk tinggal bersama. Menghabiskan waktu berdua tanpa berpisah bersama orang yang paling disayang seluruh dunia pasti sesuatu yang akan ditunggunya, kan?

Like, what could possibly go wrong? Seungcheol yang dewasa dan pengertian, Jeonghan yang selalu bersikap adil dan penuh cinta, They would make the most perfect couple that has ever existed. 

Tidak sampai semua perlahan berubah dan sesuatu membangunkan raksasa keji dari api di dalam kepalanya.

 

Or
Jeonghan and Seungcheol's first huge fight and how they fight harder to be together.

Notes:

hi! seri baru Kilau Gemilang yang kujanjikan sejak lama akhirnya selesai jugaa! fyuh, lega. cerita ini terinspirasi dari lagu Just Give Me a Reason dan Rayuan Perempuan Gila.

this story will be long, as it'll be around 22k words, but i hope it won't bore you because this was a story full of their emotion and complexity as a person. Sesuai dengan judul serinya, When Real Life Hits, I'll bring you to their real life yang nggak selalu lucu dan menggemaskan kayak waktu mereka masih di Jogja. They're adult, they're human, and they're facing hardships like any normal person would, so I hope the 'sudden' change of genre won't bother you🥺🥺

nanti di cerita ini akan dijelaskan tentang trauma dan past toxic relationship, ada beberapa pikiran untuk bunuh diri juga, kalau nggak nyaman, kalian boleh untuk meninggalkan. your comfort always comes first than anything.

that's all from me, may I present to you the story about Jeonghan.

p.s.: judul dari lirik lagu Sal Priadi dan Nadin Amizah, Amin Paling Serius

Chapter 1: Just Give Me a Reason

Notes:

(See the end of the chapter for notes.)

Chapter Text

“Joshua, di akademi ada Jeonghan nggak ya?” 

Seungcheol memutuskan untuk menelepon sahabat Jeonghan saat laki-laki itu sudah dua hari berturut-turut tidak menjawab pesannya. Padahal, proyek syutingnya juga seharusnya sudah selesai minggu lalu. Minggu ini Jeonghan ada reading proyek film barunya, jadi mungkin Jeonghan sedang sibuk mempersiapkan reading. Seungcheol juga sempat bertanya manajernya, katanya hari ini sedang tak ada reading. Jeonghan bahkan titip pesan untuk tak dihubungi dulu seharian ini kecuali ada hal yang sangat mendesak. Kata manajernya, Jeonghan ada urusan.

Entah karena Seungcheol yang terlalu bergantung pada Jeonghan atau Jeonghan yang terbiasa terlalu mandiri, Seungcheol selalu khawatir kalau tidak ada balasan sama sekali dari yang di seberang sana. 

“Nggak ada, Cheol. Dia baru aja izin ngajar kemarin,” balas Joshua dari telepon. “Kenapa? Nggak bisa dihubungin?” 

Seungcheol terkekeh kaku. “Iya, dari kemarin-kemarin nggak bisa. Gue cuma takut ada apa-apa sama dia terus nggak ada yang tahu, sih. Bukannya posesif atau apa.” 

“Samperin aja ke kosnya, lo ada spare key-nya?” 

“Nah itu, mau gue tanyain lo.”

“Pake punya gue aja, ambil ke akademi bisa nggak? Gue ngajar 15 menit lagi.”

────✦✦✦───

Seungcheol berdiri di depan pintu indekos Jeonghan. Mengetuk beberapa kali sambil berdoa semoga tak ada apa-apa dengannya. 

Sudah sembilan bulan mereka berkencan, mereka tak pernah tinggal bersama lagi sejak di Jogja. Setelah film debut layar lebarnya bersama aktor Seungcheol yang sempat menggemparkan Twitter karena drama panas Seungcheol dan mantan kekasihnya—sebetulnya masih pacaran—karir Jeonghan jadi jauh lebih ada harapan karena ia juga mendapatkan spotlight. Dari spotlight tak sengaja yang didapatkan dari pertengkaran kecil Seungcheol si aktor dan pacarnya, banyak penonton yang penasaran dengan film baru Seungcheol dengan si aktor pendatang baru.  

Thanks to the peers, filmnya berhasil mencapai satu juta penonton selama penayangan di bioskop. Untuk proyek debut film layar lebarnya, angka ini teramat besar bagi Jeonghan. Dari film itu juga, aktingnya banyak mendapat pujian dari penikmat film, membuat banyak orang yang menanti projek film selanjutnya. 

Akhir-akhir ini Jeonghan baru menyelesaikan syuting film keduanya dan bersiap untuk reading syuting film ketiga. Wajar saja Jeonghan sibuk bukan main, tapi kalau sampai menghilang dari akademi dan manajernya… Seungcheol rasa itu bukan sesuatu yang biasa. 

Kalau udah 15 menit dan nggak dibukain, gue buka sendiri nih pintu…

Seungcheol menelan ludahnya kemudian membuka pintu indekos Jeonghan dengan kunci cadangan dari Joshua. Jantungnya berdegup kencang saat melihat indekos Jeonghan yang tidak begitu besar itu tak menunjukkan ada tanda-tanda kehidupan. Tak ada gelas berisi separuh air di atas meja, tak ada bekas take outs di sampahnya, bahkan tak ada makanan ditutup tudung saji di atas mejanya. 

Laki-laki itu langsung melangkah lebar ke kamar kekasihnya, mengetuk kembali saat ia sudah di depannya. 

“Jeonghan? Kamu di dalem, Sayang?” Seungcheol melembutkan suaranya, takut kalau ia mengeraskan suara terdengar seperti suara polisi yang menggerebek. 

“Seungcheol?” terdengar suara pelan sekali dari dalam, membuat harapan yang sama gelapnya dengan indekos Jeonghan itu kembali bersinar. 

“Sayang? Aku masuk ya?” 

Tanpa menunggu jawaban Jeonghan, ia membuka pintu kamarnya dan mendapati badan laki-laki itu tergolek di lantai. 

Seungcheol buru-buru menghampirinya, tangannya refleks meraih dahi Jeonghan untuk mengecek suhu tubuhnya. 

Panas sekali. 

“Jeonghan kamu jatuh?!” 

Laki-laki yang sekarang bisa-bisanya tersenyum lemas itu menggeleng. “Di kasur panas, aku nggak ada tenaga untuk bawa kompres, jadi nempel lantai aja. Adem.” 

Seungcheol mengembuskan napasnya perlahan. Melihat keadaan Jeonghan saat sakit tidak lebih baik daripada saat ia tak tahu kabarnya beberapa waktu lalu.

“Kapan terakhir makan?” tanya Seungcheol sambil menuntun Jeonghan kembali ke kasur meskipun ia protes karena sedang nyaman nemplok di lantai. 

“Nggak inget.” 

Seungcheol mengusap wajahnya gusar. Jeonghan dan penyakit keras kepalanya. Tahu kalau meskipun dalam keadaan terlemah pun Jeonghan tak akan minta tolong, Seungcheol akhirnya mempersilakan dirinya sendiri untuk keliling kos Jeonghan. Lagi pula ini bukan pertama kali ia kemari, ia tahu persis letak semua barang Jeonghan tanpa harus tinggal berbulan-bulan di sini.

Setelah menyiapkan air hangat di baskom dan handuk kecil, ia mengambil segelas besar air putih dan membawanya ke kamar. 

Tanpa kata ia letakkan handuk kecilnya di dahi Jeonghan, membuat laki-laki yang sakit itu bingung dan merasa bersalah. Ia tahu ia yang sakit, ia yang seharusnya disayang-sayang, lalu kenapa malah Seungcheol yang marah padanya? 

Saat Seungcheol kembali berdiri, Jeonghan menarik celananya pelan. Membuat laki-laki yang tak berkata sama sekali itu menoleh tanpa suara. 

“Kamu marah?” 

Seungcheol menutup matanya kemudian mengembuskan napas berat. “Kalau aku nggak dateng, kamu mau tiduran di lantai sampe kapan? Mau nunggu ibu peri dateng buat sembuhin kamu? Kenapa nggak minta tolong aku dateng?” 

Jeonghan menelan ludahnya. “Barusan kok tidurannya, aku juga barusan demamnya. Soalnya baru ada waktu luang, Seungcheol. Kemarin sibuk banget reading-nya, baru ada istirahat sekarang. Tidur sampe besok juga udah sembuh kok, udah sering.” 

“Kamu sakit nunggu waktu luang? Bisa ya diatur gitu? Kalau sibuk, sakitnya bisa ditunda?”

“Bisa kalau tahu projeknya gede,” jawab Jeonghan masih dengan handuk yang menempel di dahinya. 

Seungcheol hanya menatapnya tanpa ekspresi, membuatnya merinding seketika. 

“Menurut kamu, kalau aku sakit dan aku minta tolong kamu dateng tuh aku ngerepotin, Han?” 

“Nggak ya! Nggak pernah. Kalau kamu sakit, aku bakalan merawat kamu dengan setulus hati sampe kamu sembuh, pokoknya yang penting kamu sehat. Aku nggak bakalan mikir kamu ngerepotin. Aku—”

“Terus kenapa kamu nggak minta tolong aku?”

Jeonghan membuka mulutnya kemudian menutupnya kembali saat tak ada jawaban pas yang bisa dipikirkannya. 

“Nggak kepikiran…” 

Seungcheol hanya diam tanpa melihatnya, kembali membasahi handuk kecilnya dengan air hangat, memeras, dan kembali menempelkannya ke dahi. 

“Soalnya beneran biasanya juga gini, Seungcheol. Demam doang, it’s not a big deal. Minum paracetamol terus tidur juga udah sembuh.” 

Si manajer lagi-lagi mengembuskan napas beratnya. “Udah minum obat?”

Jeonghan menggeleng. 

“Mau makan dulu atau minum obat dulu?”

“Minum obat aja, aku pengin tidur. Aku buktiin nanti habis bangun pasti sembuh!” 

Seungcheol tak merespon kalimat terlalu ceria Jeonghan dan memberikan obatnya yang langsung diminum. 

“Kamu jangan marah lagi… Aku minta maaf. Lain kali aku pasti minta tolong kamu, apapun.” Jeonghan menatapnya sedih saat Seungcheol masih tak bicara padanya. 

“I’m not mad… I'm just worried, Jeonghan. Manajer kamu nggak tahu kamu di mana, Joshua nggak dapet kabar, chatku juga nggak ada yang kamu bales. Kamu nggak tahu tadi aku sampe mau pingsan waktu lihat kamu tiduran di lantai?” 

“Aku memang bilang ke manajer buat nggak hubungin dulu, kalau gitu pasti aku di rumah, sayang. Joshua juga lagi persiapan nikah, aku nggak mau tambahin beban pikiran.”

“Kalau pacarmu?”

“Nah itu…”

Seungcheol hanya menggelengkan kepala kecil, memperhatikan Jeonghan yang sudah tenggelam di selimutnya yang hanya menyisakan kepala. Ia mengusap wajahnya yang masih panas, tak sengaja meremas hatinya sedih. 

“Janji ya, nanti habis bangun sembuh?” 

“Iya, ini parasetamolnya udah ngusir si demam, katanya harus cepet-cepet keluar biar pacarnya Jeonghan nggak sedih lagi.” Jeonghan tersenyum lebar, menikmati usapan tangan besar Seungcheol di pipinya. 

“Lagi lemes banget gitu masih bisa aja bercanda,” kata Seungcheol di sela senyum lemahnya. 

Jeonghan balas tertawa lemah kemudian menutup matanya, efek obat yang baru diminumnya sudah menunjukkan dirinya. 

Seungcheol mengembuskan napas lagi setelah menatap kekasihnya lama. Laki-laki yang biasanya selalu ceria dengan komentar-komentar menggemaskannya pada semua benda yang dilihatnya itu sekarang terkapar lemah di kasurnya, rona merah di pipi dan bibirnya hilang, wajahnya yang lembut itu tampak pucat, ia benar-benar terlihat kelelahan. 

Saat Seungcheol memastikan Jeonghan sudah nyaman, ia menyelipkan kecupan ringan di dahi panasnya dan keluar. Memutuskan untuk memberinya privasi dan menahan diri untuk tak memelototinya sepanjang tidur seperti lelaki creepy. Seungcheol juga menyempatkan waktu untuk mengabari Joshua kalau sohibnya itu benar ada di rumah juga menyelipkan berita sakitnya. 

“Biasanya tidur sampe besok, baru telepon gue kalau belum sembuh,” kata Joshua di telepon. 

“Iya? Padahal telepon gue juga nggak papa. Sebel banget semuanya dihandle sendiri.”

Joshua tertawa. “Kebiasaan lama soalnya, sabar ya.” Saat Seungcheol hanya bergumam, Joshua melanjutkan. “Makasih udah care sama dia. His exes treated him like shit, maybe that’s why he thinks he can’t ask for help. Sebelumnya nggak ada yang memperlakukan dia dengan baik soalnya.” 

────✦✦✦───

5 Jam sudah berlalu sejak kedatangan Seungcheol tadi. Laki-laki itu sudah menyibukkan diri dengan membantu pekerjaan rumah Jeonghan yang sepertinya bisa dibantu. Ia mencuci piring, menyapu kosnya, mengepel, sampai keluar untuk belanja sedikit, memasok kulkasnya yang seperti tak ada penghuninya. 

Setelah menyelesaikan sup tahu telur 

“Seungcheol?” 

Si manajer menolehkan kepalanya dan mendapati kekasihnya berjalan ke arahnya dengan selimut yang masih dililitkan erat ke seluruh tubuhnya dan kepalanya seperti ulat sampai menyeret ke lantai. Senyumnya otomatis mengembang, tetapi ditahannya, masih mau akting sebal lama-lama. Ia memberikan kursi lantai yang ditempatinya untuk Jeonghan kembali memasrahkan tubuh lemasnya. 

Kekasihnya itu kemudian duduk, kakinya dilipat di depan dada sambil menopang dagu di atas lutut. Seungcheol menempelkan punggung tangannya di dahi Jeonghan, merasakan panas tubuhnya. 

“Jeonghan… kok masih panas?” 

“Masa sih? Aku merasa udah enakan.” 

“Kamu ada termometer?”

Laki-laki itu menggeleng, membuat Seungcheol kembali mengembuskan napasnya. 

“Ini masih demam, Jeonghan. Kamu masih lemes nggak?” 

Jeonghan hanya meringis, tak ingin mengakui, tapi juga tak ingin berbohong. 

Sebelum akting marahnya berantakan karena hati lemahnya tak bisa diajak berkompromi saat melihat Jeonghan yang tampak supergemas, Seungcheol berdiri untuk menghangatkan sup telur tahu yang tadi dibuatnya. Melihat Jeonghan terbungkus selimut seperti ulat ini tak baik bagi hatinya, rasanya ingin ia gigit Jeonghan saking gemasnya. 

“Besok ada reading?” tanya Seungcheol dari area dapur.  

“Ada, sorean kok jadi pagi sampe siang bisa istirahat. Malemnya aku udah janji mau nemenin Joshua buat persiapan nikahannya.”

“Kamu masih sakit, Jeonghan. Kalau Joshua tahu kamu nemenin sambil sakit juga bisa-bisa kamu dijeblosin rumah sakit ama dia.”

Jeonghan tertawa pelan, senang kalau Seungcheol tahu betul perangai Joshua. 

Seungcheol menghampirinya dengan nampan berisi segelas besar air putih, semangkuk nasi, dan semangkuk penuh sup yang masih berasap. Jeonghan sedikit ngeri dengan porsinya, tak masuk akal untuknya yang sebetulnya juga sudah malas makan, apalagi mengunyah. 

“Kalau nggak habis nasinya, habisin aja supnya. Harus habis.” 

Jeonghan hanya mengerucutkan bibir dan mengambil sendok yang diserahkan Seungcheol. 

“Reading-nya nggak bisa izin besok?”

“Kamu kira sekolahan? Pake izin segala,” balas Jeonghan masih dengan bibir mengerucut, tak melepaskan akting merajuknya. 

“Kan masih sakit…”

“Kan cuma reading doang, membaca. Duduk juga kitanya.” 

“Kalau masih demam gimana? Kamu mau reading sambil dibungkus selimut kayak gitu?”

Jeonghan meletakkan sendoknya, membantingnya sedikit, tapi tak terlalu keras. “Kenapa marah-marah sih?”

“Nggak marah-marah, aku tanya aja. Kamu mau maksain kerja sambil sakit sampe kapan? Sampe harus produsernya sendiri yang nyeret ke rumah sakit?” 

Jeonghan mengerutkan alisnya, matanya menatap tak suka. “Pacarnya sakit bukannya disayang-sayang, diperlakukan halus, malah ngomel-ngomel dari tadi.” 

“Ini aku masakin kamu bukan termasuk disayang-sayang?” balas Seungcheol.

“Ya tapi nggak usah dimarahin juga.” 

Seungcheol mengulum senyumnya, senang mengganggu Jeonghan yang tampak berkali-kali lipat lebih menggemaskan dengan alis bertaut, bibir mengerucut, dan hanya wajahnya yang menyembul dari selimut. 

“Nggak marah, sayang, cuma khawatir. Kalau besok masih sakit gimana? Masa mau maksain?” 

“Dibilang cuma reading, sambil duduk.” Jeonghan mengalihkan pandangannya, menolak luluh pada panggilan ‘sayang’ barusan. 

“Nggak usah merengut gitu alisnya, pusing nanti.” 

Jeonghan hanya memutar bola matanya malas. 

Tanpa kata, Seungcheol menyendok sup Jeonghan dan menyuapinya. 

“Ngapain disuapin?”

“Katanya tadi mau disayang-sayang, diperlakukan halus?”

Jeonghan hanya mendengus, tetapi tak menolak. Ia sudah cukup malas untuk makan, apalagi harus menyendoki semangkuk penuh sup yang ternyata lezat itu, jadi kalau Seungcheol menyuapinya, ia tak menolak. 

“Enak? Ada yang kurang nggak rasanya?” tanya Seungcheol, kali ini dengan nada yang lebih lembut. Menyerah pada akting marahnya karena Jeonghan yang merajuk ini lebih penting untuk dirayu agar mau buka mulut. 

Jeonghan menggeleng. “Udah enak kok.”

Beberapa menit kemudian dihabiskan dalam diam. Seungcheol yang menyuapi makan dan Jeonghan yang mengunyah perlahan. Ditatap lamat-lamat sambil disuapi membuat Jeonghan salah tingkah, tapi Seungcheol bersikeras untuk terus menyuapinya sampai habis. 

Saat semangkuk supnya dan seperempat nasinya habis, Seungcheol bertanya, “mau tambah supnya?”

Laki-laki itu menggeleng, bersandar pada kursi lantai empuk favoritnya. “Kenyang.” 

Seungcheol membereskan alat makannya dan berjalan ke area dapur, membuat Jeonghan hanya melihat punggungnya.

“Seungcheol?”

“Ya?”

“Makasih ya.”

Sambil mencuci piring, Seungcheol mengulum senyum. “Ngapain?” tanya Seungcheol tanpa menoleh, ingin pacarnya mendeskripsikan terima kasihnya. 

“Makasih udah nyamperin ke sini, makasih udah masakin, makasih udah nyuapin.” 

“Teruus?”

Jeonghan mengedarkan pandangannya, menerka-nerka apa yang kemungkinan sudah dilakukan Seungcheol saat ia tidur. “Sudah cuciin piring-piringku, sudah sapu kosanku, sudah… ngapain lagi kamu?”

Seungcheol tertawa kemudian mengeringkan tangannya saat semua alat makan sudah tertata di rak. Ia menghampiri Jeonghan yang sudah menyandarkan punggung dan kepalanya ke kursi lantai, masih dengan selimut yang membungkus seluruh tubuhnya. 

“Obat yang di samping gelas tadi sudah diminum?” tanya Seungcheol sambil mengecek panas dahi Jeonghan lagi, menghela napas saat panasnya belum turun juga. 

Jeonghan mengangguk. “Masih minum obat dua kali, Seungcheol. Wajar kalau belum sembuh,” kilah Jeonghan lalu menutup matanya. 

Seungcheol duduk di hadapan Jeonghan, tangannya membawa kaki kekasihnya ke pangkuan. Pijatan-pijatan ringan diberikan, ia hanya ingin membuat relaks. Sambil mengatur napas, Jeonghan menutup matanya, melawan reaksi obat yang beberapa menit lalu diminumnya. 

Ia harus menemani Seungcheol sampai laki-laki itu pulang. Tuan rumah macam apa yang meninggalkan tamunya sendirian untuk tidur?

“Jeonghan… bolehin aku rawat kamu, ya? Ayo tinggal sama aku, setidaknya sampe kamu sembuh.” 

Perkataan Seungcheol yang tiba-tiba itu membuat Jeonghan menyentak kepalanya bangun. 

Selama berkencan dengan Seungcheol, mereka tak pernah tinggal bersama secara resmi, menginap pun hanya sehari. Jadi ditawari tinggal bersama untuk waktu yang entah berapa lama, membuat Jeonghan ingin mundur seketika. 

Penolakan adalah respon utamanya. Bukannya Seungcheol jorok atau apa, hanya saja Jeonghan masih belum siap memberikan space dan privasinya.

“Let me take care of you, Sayang,” lanjut Seungcheol, menghentikan pijatan ringannya di kaki Jeonghan. “Kalau kamu nggak mau tinggal sama aku, kita ke rumah sakit ya? Biar ada yang jagain kamu, Jeonghan…”

“Aku nggak papa, Seungcheol. Besok juga sembuh, beneran deh.”

“Kamu nggak bisa ngandelin diri sendiri kalau jalan aja kamu lemes.”

Jeonghan terdiam. Sulit untuk diterima, tetapi ia tahu sakitnya kali ini bukan main menyebalkannya. Biasanya setelah minum obat pertama dan tidur, demamnya akan turun, tetapi kali ini bahkan pusingnya masih saja bergelayut di kepala. Besok adalah reading hari pertama, kalau ia sudah tidak hadir, bisa-bisa impresi aktor-pemula-nggak-profesional akan melekat di belakang namanya. 

“Besok kan kamu reading, aku bisa bantu kamu siap-siap. Siapin air hangat buat mandi, siapin sarapan, bawain makan, pijetin kamu, anterin ke tempat reading,” jelas Seungcheol. 

Saat Jeonghan yang masih dengan tatapan ragunya membuka mulut, si manajer kembali menjelaskan. “Gimana kamu reading kalau belum mandi? Gimana mandi kalau airnya dingin? Gimana mau nyiapin air kalau jalan aja nggak ada tenaga?” 

Jeonghan ingin sekali mengiyakan, menerima ajakannya dan menjadi manja selama sakitnya diperhatikan, tetapi sisi lain dirinya menolak keras. Sisi lain dirinya seperti bisa melihat sesuatu yang buruk di masa depan, sesuatu yang sudah pernah terjadi di masa lalu yang tak boleh sampai terulang. Sesuatu yang awalnya juga seperti ini, meminta tinggal bersama dan melepaskan kontrolnya terhadap space miliknya. 

“Kalau kamu memang masih belum pengin tinggal sama aku, at least bolehkan aku rawat kamu cuma sampe kamu sembuh. Beneran, nanti aku anterin pulang ke sini lagi,” jelas Seungcheol meyakinkan. “Atau kamu maunya aku yang di sini? Biar kamu lebih familier sama tempatnya, mungkin kamu nggak nyaman di tempat baru.” 

Apartemen Seungcheol juga bukan tempat baru baginya, hanya saja pikiran kalutnya terus-terusan meraung tak mau menerima. 

Seungcheol memperhatikan Jeonghan yang masih diam, matanya tak mau membalas tatapannya. Ia tak mengira kalau mengajak Jeonghan tinggal dengannya untuk sementara waktu membutuhkan pikiran panjang darinya, karena selama ini mereka tak ada masalah saat menginap barang 1—2 hari. Jeonghan juga bahkan sering merengek sedih saat harus pulang setelah menginap semalaman, katanya masih mau lama-lama dengan pacarnya. 

Lalu mengapa saat akhirnya diajak tinggal bersama seperti sulit baginya? 

“I can’t be worried about you all the time, Sayang. Ketemu sekarang aja aku harus pake acara ambil spare key di Joshua dulu, kayak acara gerebek-gerebek meringkus pengedar narkoba.”

Jeonghan terkekeh kecil kemudian membiarkan kedua tangannya digenggam tangan Seungcheol yang terasa dingin. “Aku paham kalau kamu nggak mau izin reading karena proyek ini besar buat kamu, besar untuk perkembangan karir kamu. I understand that this is important to you.” Seungcheol berhenti perlahan. “ but you’re just as important to me.” 

“So please, let me fight for what I consider important, ya? Let me take care of you, cuma sampe kamu sembuh deh kalau kamu masih mau tinggal sendiri. Biar aku nggak khawatir kamu harus ngelakuin semuanya sendiri sambil tetep kerja dalam keadaan sakit. Kamu tetep kerja karena karirmu penting buat kamu, aku tetep merhatiin kamu karena kamu penting buat aku.”  

Jeonghan menatap sinar lembut yang tak pernah hilang dari mata Seungcheol sejak ia kemari tadi sore, bahkan saat ia ngomel panjang perkara Jeonghan tak mau minta tolong padanya. Seungcheol memohon Jeonghan untuk membiarkannya merawat dirinya saat sakit… Seungcheol ingin merawat Jeonghan karena ia tak mau terus-terusan khawatir…

Seungcheol baik, Jeonghan. Seungcheol aman. 

Jeonghan dengan reputasi aktor juniornya yang harus terus dikembangkan dengan baik itu kembali memaksa otaknya untuk berpikir. Bukannya tak bisa ia meminta izin karena sakit, tetapi ia benar-benar tak mau melewatkan satu hari pun di proses syutingnya. Ia harus memaksimalkan kesempatan belajarnya. Mungkin… mungkin selain belajar menjadi aktor profesional, ia juga harus belajar menjadi manusia yang mau menerima bantuan dari manusia lain. Apalagi kalau manusia itu adalah kekasihnya. 

Seungcheol aman… Seungcheol beda… Sama Seungcheol, gue bisa percaya. 

Jeonghan berdecit pelan, “Okay… maaf bikin khawatir.” 

Senyum lega Seungcheol mengembang, ia kemudian mengusap pipi Jeonghan. “I'm proud of you. I'm so so happy for you for this acting role and I'm gonna support you through and through. Jangan ragu untuk berkembang besar, ya.” 

Jeonghan langsung memeluk Seungcheol, tak mengindahkan pukulan keras di kepalanya akibat pergerakannya yang terlalu tiba-tiba. “Thank you. Thank you, Seungcheol. I love you.” 

Di samping rasa kagetnya karena dipeluk tiba-tiba, Seungcheol senang sekali Jeonghan menerima tawarannya. Tanpa kata, Seungcheol membalas pelukannya, tangan besarnya merengkuh punggung Jeonghan erat. 

“I love you too, Sweetheart. Aku sedih banget liat kamu sampe sakit gini, tapi juga seneng kamu akhirnya bisa full akting,” kata Seungcheol kemudian, mengusap punggung Jeonghan perlahan. 

“I’m sorry, I promise I’ll be better.” 

────✦✦✦───

“Dokter, pasiennya ini udah diizinkan pulang nggak?” tanya Jeonghan.

Saat itu mereka baru saja selesai makan malam. Perut kenyang, hati senang, dan suasana tenang. Tidak ada yang salah dengan keadaan mereka sekarang, hanya saja, setelah kurang lebih satu minggu tinggal bersama, topik itu selalu tak berani untuk dibawa ke permukaan. 

Seungcheol yang masih diam saat Jeonghan tahu ia dapat mendengar pertanyaannya itu sudah menunjukkan kalau ia belum siap menjawabnya sekarang. 

Hari ini adalah hari ke-7 sejak Jeonghan tinggal di apartemen Seungcheol. Tidak terlalu banyak yang baru karena ini bukan pertama kalinya, hanya saja semuanya menjadi lebih ringan untuk Jeonghan. Pada hari pertama kepindahannya, Seungcheol meringkusnya ke dokter sebelum meletakkan barang-barang di apartemen. Kata Seungcheol, setidaknya mereka harus tahu demamnya ini hanya penyakit biasa atau berujung ke penyakit lebih serius lainnya. 

Seungcheol menepati perkataannya saat masih di kos Jeonghan. Ia membantu Jeonghan menyiapkan air hangat untuk mandi, memasak sarapan bahkan membawakan bekal bergizi, sampai memijat kaki dan punggung Jeonghan setelah ia pulang. Ia juga memastikan Jeonghan sudah meminum obatnya sesuai jadwal, sampai memasang alarm di ponselnya. Saat jadwal reading-nya berdekatan dengan jadwal ke kantornya, Seungcheol juga selalu menyempatkan waktu untuk mengantar. 

Aktor yang merasa sangat bersyukur dan sangat tidak enak hati jika tak mengerjakan apapun itu akhirnya memaksa Seungcheol membiarkannya menyapu dan menjemur baju. “Biar aku gerak juga, Seungcheol,” katanya saat Seungcheol protes memintanya istirahat saja.

Sakit Jeonghan juga sudah sembuh 2 hari yang lalu, hanya saja jadwalnya masih terlalu padat untuk mengurus kepindahannya ke kos lagi. 

Tidak juga, barang yang ia bawa kemari tidak begitu banyak, satu tas besar saja sudah cukup. Meski sulit untuk diakui, tetapi memang Jeonghan sudah terlanjur nyaman tinggal bersama Seungcheol. 

Apa yang tidak membuat nyaman? Bisa ngobrol berdua lebih lama, melakukan night routine bersama seperti saat masih di Jogja, makan bersama, semua-semuanya mereka lakukan berdua. Seungcheol yang selalu paham tentang kebutuhannya, selalu memberi Jeonghan waktu sendiri tanpa diganggu. Sebaliknya, Jeonghan juga dengan sabar dan perhatian mendengarkan semua runtutan kejadian Seungcheol di hari itu, meski tak ada yang berubah, Seungcheol suka menceritakannya dan Jeonghan suka mengingatnya. 

Jeonghan yang sudah lama terbiasa tinggal sendiri ini tak mengira kalau ternyata selama ini ia kesepian. Ternyata tinggal bersama manusia lain yang paham tentangnya jauh lebih menyenangkan. 

Berbeda dengan Jeonghan seminggu yang lalu, rasanya kali ini ia sudah tak setakut dulu. Kalau Seungcheol menawarkannya untuk tinggal bersama, sepertinya ia akan menerimanya. 

Just say it, Seungcheol. ‘Jeonghan, kamu mau nggak tinggal sama aku?’ kalaupun dia nggak mau juga pasti alasannya bukan karena ada yang salah sama kalian, cuma preferensi dia aja. Lagian, bukan berarti kalau dia nggak mau sekarang, berarti nggak mau selamanya. Bisa aja karena terlalu banyak perubahan yang terjadi di hidupnya—tiba-tiba berhenti dari resto sushi, mengurangi jam ngajar di akademi, lebih banyak job akting—jadi dia mau pelan-pelan ngambil keputusan yang bikin lebih banyak perubahan. 

It’s okay, you guys are just fine. 

Seungcheol mengingat-ingat gerak-gerik Jeonghan selama tinggal bersama beberapa hari terakhir. Menurutnya, tak ada yang menunjukkan kalau ia tak nyaman. Setiap makan malam setelah mereka selesai bekerja, Jeonghan banyak bercerita tentang harinya. Setiap sebelum berangkat bekerja, mau itu di mobil Seungcheol saat mengantarnya, atau di depan pintu rumah saat ia harus naik kereta, mereka berpelukan lama dan menyelipkan banyak kecupan perpisahan di bibir dan kening. Setiap mereka tidur bersama juga tidak selalu cuddling, tetapi setidaknya tak ada yang mengganggu satu sama lain. Tak ada yang mengganggu kualitas tidurnya, dan ia yakin Jeonghan merasakan hal yang sama. 

Tapi kalau nyaman, kenapa Jeonghan perlu tahu kapan dibolehkan pulang? Apa karena sungkan tinggal terlalu lama karena perjanjian awalnya cuma sampai ia sembuh? Apa karena memang tak mau?

Seungcheol menatap Jeonghan yang sudah mengalihkan fokusnya ke mangkuk penuh buah-buahan yang menjadi makanan penutup mereka malam itu. Ia asyik memilih-milih apel di antara banyak anggur. 

“Jeonghan…”

Laki-laki itu mendongakkan kepalanya dengan alis terangkat, menunggu kalimat lanjutan dari Seungcheol. 

Si manajer menelan ludahnya dan mengatur detak jantungnya yang berdegup sangat kencang sampai membuat perutnya mulas. Nggak papa Seungcheol, kalau ditolak, berarti memang belum siap. Bukan salah siapa-siapa, bukan kurang apa-apa. 

“Would you like to extend your stay with me until further notice?” tanya Seungcheol akhirnya.

“Gimana?”

“Mau nggak tinggal sama aku?”

That’s it. Ia akhirnya bertanya. 

Seungcheol memperhatikan wajah Jeonghan lamat-lamat karena hanya itulah yang tampak. Laki-laki itu terlihat membeku sejenak, mungkin gear-gear di kepalanya berputar cepat untuk memproses sesuatu. 

Intinya, selama Jeonghan berpikir, Seungcheol sibuk berdoa. Agar diberi kesempatan tinggal bersama, agar diberi kesempatan belajar tentang kebiasaan satu sama lain bersama, agar diberi kesempatan lebih mengenal bersama.

Saat melihat senyum Jeonghan merekah, di situlah Seungcheol mengembuskan napas lega. 

“Yes!” seru Jeonghan dengan wajah cerahnya. “Thank you so much for asking, Sayang!”

Kedua laki-laki itu kemudian berpelukan dengan Jeonghan yang duduk di pangkuan. Seungcheol tersenyum lebar sambil memperhatikan wajah senang kekasihnya lamat-lamat. “I know how you tend to overthink, this silly little brain!”  

────✦✦✦───

A week of living together… 

“Seungcheol, please let me do something. Aku nggak bisa tinggal di sini tanpa ngerjain apa-apa,” keluh Jeonghan saat melihat Seungcheol yang bersiap cuci piring sehabis menyapu seluruh apartemennya. 

“Yaudah kerjain aja yang ada, Sayang,” katanya sambil menarik lengan kausnya. 

“Nggak bisa gitu. Jadinya nggak adil kalau kita nggak perkirakan workload-nya juga.” Jeonghan membuntuti Seungcheol yang mengambil wadah-wadah kosong di kulkas bekas makanan. “Hey, listen to me.”

Saat Seungcheol membalikkan badannya dengan alis terangkat, Jeonghan tahu ia harus segera melanjutkan penjelasan. “Hari ini biar aku aja yang cuci piring. Sekarang kita obrolin tentang pembagian bill, pembagian kerjaan rumah juga. Kita diskusi yang serius, biar adil dan bebannya dibagi rata. Okay?”

Si manajer kemudian menggaruk tengkuknya. “Aku nggak keberatan ngurusin rumah dan seisinya, beneran.”

“Aku keberatan ngelihat kamu begitu. Aku panik sendiri tahu nggak setiap liat kamu ngerjain semuanya?”

Seungcheol terkekeh geli. Ia masih ingat bagaimana Jeonghan buru-buru merebut sapunya saat Seungcheol langsung menyapu rumahnya saat baru sampai dari pulang kerja. 

“Karena kita sekarang tinggal berdua, bebannya dibagi berdua, ya?” Jeonghan mengusap pundak Seungcheol. 

“Biarkan aku ngerjain tugasku di sini. Kita bagi tugas dan perhitungan kebutuhan sehari-hari seadil mungkin, biar bisa enak di keduanya. Let me do my thing, as your partner,” kata Jeonghan sambil menyisir rambut Seungcheol ke belakang, mengusap keningnya. 

Seungcheol mengulum senyumnya dan mengangguk senang. “Okay, partner.” 

A month of living together… 

“Lasagna-nya enak bangeet!” Jeonghan tersenyum sumringah setelah menelan sesuap lapisan pasta yang diberikan kekasihnya. 

“Iya kaan? Kapan hari Mingyu bawa itu, aku dikasih sepotong aja. Terus kupikir kamu pasti sukaa, jadi aku pesen dia,” jelas Seungcheol bangga. Hatinya penuh melihat Jeonghan yang sangat menikmati makanan pemberiannya. 

Sejak tinggal bersama, mereka jadi lebih sering berbagi hal-hal paling sederhana yang malah membuatnya semakin salah tingkah. Jeonghan suka mengupaskan apel untuknya setiap pagi karena tahu Seungcheol selalu sarapan buah dan yoghurt, Seungcheol selalu menyelipkan kertas berisi banyak tulisan penyemangat di bekal yang ia siapkan karena tahu Jeonghan selalu senang saat membacanya, mereka yang selalu menunggu satu sama lain untuk melakukan night routine bersama seperti saat di Jogja. 

Weekends saat tak ada kerjaan juga biasanya dihabiskan untuk jalan berdua. Minggu lalu mereka ke puncak, dua minggu yang lalu mereka ke Bandung, dan sepertinya minggu ini, meskipun tidak ke luar kota, akan dihabiskan jalan-jalan keliling kota dengan MRT berdua. Minggu ini mereka memiliki misi akan romanticize Jakarta karena sekarang sudah ada yang terkasih. 

“Sabtu ini kita muter-muter Jakarta, yuk? Pagi ke Monas, siang ke Blok-M, malemnya baca buku sambil piknik di depan lapangan softball GBK. Pura-pura jadi turis kita.”

“Awas sampe tengah jalan kamu minta gendong, ya!”

“Emang kenapa? Nggak kuat?”

Seungcheol mengulum senyumnya, tahu betul kalau Jeonghan paling pandai urusan menyenggol egonya. He knows what button to push. 

“Kuat, cuma kamu kebiasaan rencanain gede-gede pas harus dilakuin mah mager.”

“Eh, menantangku kau ya! Ayo, siapa takut!” 

Four months of living together…

“Nggak ada kamu di rumah waktu pulang, rasanya aneh bangeeet!” 

Seungcheol tersenyum sedih melihat layarnya yang menunjukkan Jeonghan sedang tidur di sofa. Ia baru saja selesai makan malam bersama dengan direksi, jadi setelan jas itu masih dipakainya lengkap saat panggilan video dari Jeonghan masuk. 

Ia sedang ada di Bali sekarang, menghadiri meeting besar bersama direksi mengenai hotel baru yang akan diresmikan beberapa bulan lagi. Urusannya tidak lama, hanya 5hari, tetapi rasanya berpisah dengan Jeonghan setelah tak pernah berpisah sama sekali itu menyulitkan. 

Ia yang sudah terlalu biasa tinggal berdua itu rasanya sangat kesepian saat masuk ke hotelnya yang kosong tak ada tanda-tanda kehidupan. Tak ada Jeonghan. 

“Iya, aku juga kangen bangeet nggak ada yang bisa kubekep waktu tidur,” balas Seungcheol lalu tertawa saat melihat Jeonghan yang memanyunkan bibir. 

“Nanti waktu aku pulang, mau dibawain apa, sayang?”

Jeonghan tampak berpikir sebentar. “Baju gambar Barong, yang keliatannya gampang sobek juga nggak papa. Biasanya itu kainnya yang paling tipis dan adem.” 

Seungcheol tertawa mendengar request detail dari kekasihnya. “Berapa banyak baju gambar Barong sobek-sobek yang kamu bawa dari kosan, hm?”

“Lumayan, palingan bisa lah buat sebulan.”

Si manajer hanya geleng-geleng sambil menatap layarnya yang juga diam. Mereka kembali tak membicarakan apapun, tetapi masih menikmati waktu bersama yang dihabiskan. 

“Perlu beli hiasan rumah nggak, ya? Kok kayaknya sepi banget rumah kita, kurang homey kesannya.” 

Jeonghan mengerucutkan bibir. “Menurut kamu begitu?” 

“Nggak sih, biasa aja.” Seungcheol tertawa karena ia hanya asal bicara. “Aku nggak jago urusan hias-menghias gitu.”

Jeonghan ikut tertawa melihat Seungcheol yang tampak bingung sendiri. “Coba kamu tanyain Mingyu, kali aja dia punya ide buat bikin rumah kita kesannya lebih homey.” 

Seungcheol mengangguk-angguk, kemudian terbersit satu ide di kepalanya. “Di seberang TV kita tempelin aja polaroid koleksi kita! Daripada disimpen di kotak terus ya, kan?” 

“Oooh, boleh-boleh! Entar ngerjainnya nunggu kamu pulang, ya? Maunya ngerjain bareng.”

Si manajer yang ada di pulau lain itu tersenyum senang, hatinya bahagia melihat kekasihnya manja padanya. “Anything for you, sayangku.”

6 months of living together…

“Seungcheol, itu pipa mesin cuci yang mau kamu benerin sendiri itu jadinya kapan?”  

Si manajer yang sudah siap memulai petualangan gim barunya itu mengerang. Ia selalu lupa akan janjinya yang satu itu, padahal juga Jeonghan tak pernah memintanya memperbaiki pipa sialan itu dari awal, tapi ego sialannya… 

Ah, bukan skenario baru. 

“Aku capek banget kemarin banyak kerjaan, Jeonghan. Entaran, ya?” teriak Seungcheol dari kamar tempat PC-nya berada, baru akan memulai petualangan gim superseru rekomendasi Wonwoo.

Saat itulah orang terkasihnya masuk dengan satu keranjang baju kotor besar, dengan tangan berkacak pinggang. “Jadinya aku nggak bisa nyuci, Sayang. Udah dari kapan kita selalu laundry? Mahal banget lagi, aduh!”

“Nggak papa, aku yang bayar.”

Orang yang tadi berdiri di dekat pintu itu berdecak sebal. “Kamu selalu begitu, aku yang bayar, nanti pake uangku, gampang entar aku bayarin. Terus kesepakatan pembagian tugas kita jadinya gimana? Ini nggak selalu perkara uang, Seungcheol.” 

Sudah 6 bulan kedua lelaki itu tinggal bersama dan sudah 6 bulan pula mereka membagi pekerjaan rumah. Seadil dan semampu mereka berdua. Jeonghan si aktor baru banyak kerjaan itu akhirnya bertugas untuk mencuci baju sampai menatanya ke lemari karena pekerjaan ini yang bisa dilakukan seminggu sekali, dan sebagai pelengkap, ia juga bertugas mencuci piring setiap hari. Seungcheol yang selalu memperhatikan asupan proteinnya karena sedang muscle-building itu lebih suka kalau ia dapat mengontrol makanannya. Ia bersedia memasak bahkan sampai mencuci semua peralatannya, sebagai pelengkap ia juga menyapu dan mengepel rumah setiap empat hari sekali.

Lalu beberapa minggu ini, mesin cuci mereka bermasalah, kata Seungcheol itu cuma perkara pipa. Jeonghan mengalah dan menunggu sampai mesin cucinya kembali bekerja. 

Awalnya Seungcheol memang baru kembali dari luar kota, jadi ia menyerah dan memberikan cucian menumpuk seminggunya pada penatu dekat rumah. Seungcheol si manajer banyak uang itu juga tak keberatan, ia senang melihat Jeonghan tak perlu susah payah menjemur banyak pakaian mereka dan melipatnya satu per satu. 

Lama-lama, Seungcheol menunda janjinya terlalu lama. Sudah 3 minggu Jeonghan menyerahkan pekerjaannya ke penatu, sudah 3 minggu juga Jeonghan melihat bill yang seharusnya tak perlu membengkak di depan matanya. Sudah 3 minggu mesin cuci yang katanya hanya rusak pipanya itu dianggurkan tak tersentuh. Oleh karena itu, Jeonghan tak bisa tinggal diam. 

Jeonghan menghampiri Seungcheol yang masih duduk di kursi gaming-nya, layar PC sudah menyala garang menerangi wajahnya. “Aku tahu kamu bisa benerinnya. Aku tahu pengalamanmu sebagai manajer itu bikin kamu bisa ngerjain banyak hal, termasuk benerin pipa mesin cuci.” Si Aktor memijat pundak kekasihnya, membuat otot-otot pundak dan punggungnya relaks. “Tapi panggil tukang servis juga nggak ada salahnya, kan? Lagian kamu juga sibuk. Ini waktu luang kan bisa dipake nge-game daripada benerin mesin cuci.”

“Aku bisa, Jeonghan.”

“Iyaa, tahu, tapi bisa sekarang nggak? Lihat ini cuciannya sampe 50 juta kalau di-laundry.

Seungcheol menatap layar PC-nya yang menggoda. “Kalau nggak, kamu marah?”

“Nggak marah kalau aku boleh panggil tukang servis.”

Seungcheol mengembuskan napas beratnya. Kali ini, ia harus lepaskan pride-nya dalam kemahiran memperbaiki barang-barang di rumahnya dan menuruti permintaan Jeonghan—karena ia juga sedang ingin melanjutkan game, bukannya memperbaiki mesin cuci. Laki-laki itu kemudian mengecup tangan yang memijat pundaknya. 

“Aku aja yang telepon. Aku punya langganan,” ucap Seungcheol akhirnya. “Maaf ya bikin kesel, Jeonghan.”

Jeonghan mengecup puncak kepala Seungcheol dan mengusap pundaknya bangga. “Besok-besok aja ya, Pak, unjuk kebolehannya. I know you might be a very hot mechanic since the first time I laid my eyes on you.” 

10 months of living together…

Hari ini adalah bulan kesepuluh sejak mereka tinggal bersama. Baru saja kemarin Jeonghan menghadiri gala premier film keduanya di tengah-tengah proses syuting film ketiganya yang sudah berjalan sekitar 3 minggu. Disibukkan defngan jadwal syuting dan promosi, aktor baru itu jadi jarang ada waktu di rumah. 

Tak lebih baik dari Jeonghan, Seungcheol juga semakin sibuk mengurusi seleksi asisten manajer baru pengganti Wonwoo. Hotel mereka tak pernah sepi, sehingga jadwalnya sehari-hari semakin banyak yang menyita perhatiannya. 

Kabar yang biasanya ditukar sambil menyantap makan malam atau sebelum tidur itu sekarang hanya disampaikan lewat pesan. Jawaban juga tidak segera masuk setelah mengirimkan, bisa selisih berjam-jam atau bahkan seharian. Saat di rumah, mereka merasa tak perlu mengabari satu sama lain, tetapi juga obrolan sepatah-dua patah kata tak dilakukan. Urusan-urusan padat yang kerap menyita waktu dan tenaga mereka itu kini juga menyita kesempatan interaksi dan berbagi cerita tentang hari.

Seungcheol tak merasa keberatan dengan hal ini. Mengetahui jadwal Jeonghan yang sudah sibuk akibat syuting dari malam–pagi di 3 minggu ke belakang, ditambah harus menghadiri jadwal promosi film di siang–sore, wajar Jeonghan langsung terkapar lelah di kasur tanpa bangun sampai jadwal selanjutnya. 

Mungkin ia keberatan, sedikit. 

Waktu berbincang berdua dari yang biasanya berjam-jam itu tersedot habis menjadi hanya dalam hitungan menit. Jadwal mereka tak ada yang bersinggungan, menjadikan keduanya tak pernah bertemu di tengah-tengah. 

Saat Seungcheol di rumah malam-malam, Jeonghan sedang syuting, sedangkan kalau Jeonghan sedang istirahat di rumah pagi-pagi, Seungcheol sedang bekerja. Bahkan kecupan perpisahan di mobil atau di depan pintu rumah itu sekarang sudah tak pernah lagi, Jeonghan biasanya sudah tak sadarkan diri—tidur—saat Seungcheol harus berangkat kerja, menjadikan hanya kecupan hangat di kening yang diselipkan manajer itu sebelum berangkat. Sulit bagi Seungcheol, tetapi ia yakin bahwa Jeonghan juga sama kesulitannya. 

Lagi pula ini adalah risiko menjadi pasangan aktor yang masih merintis karir. Seungcheol harus sabar menemani Jeonghan mengejar impiannya, menghidupi hidup yang didambakannya sejak lama. 

Lalu, saat suatu hari ia tak lagi mendapati apartemennya gelap dan kosong, melainkan malaikatnya sedang membaca novel sambil merebahkan diri di sofa, Seungcheol merasa berada di surga. 

“Jeonghaaaaaan, aku capek banget!” 

Seungcheol yang baru datang dari hotel itu tiba-tiba menghampiri Jeonghan dan merebahkan badan di atas kekasihnya, membuat laki-laki yang di bawah langsung menggeram keberatan, tetapi tak melayangkan protes juga. Jeonghan tahu Seungcheol pantas mendapatkan pelukan hangat berjam-jam dan ribuan usapan lembut di kepala setelah berpisah lama. 

“Kenapa, Sayang?” Jeonghan menyisir rambutnya ke belakang, mengusap kepalanya pelan. Matanya memperhatikan setiap senti wajah kekasihnya yang jelas tampak kelelahan.

“Capek…” 

“Iyaaa, capek kenapa?” tanya Jeonghan lagi. “Mau cerita sambil aku keramasin dan pijetin? Kayaknya ini kepala dan pundak berat banget ya bebannya, Pak Manajer?” 

Seungcheol meringkuk ke leher Jeonghan, menghirup dalam-dalam wangi kekasihnya yang hampir hilang dari ingatan. “Mau kalau sambil pangku.”

“Aku nggak kuat kalau pangku kamu.”

“Kamu yang aku pangku.”

Jeonghan menggelengkan kepalanya jengah. “Di mana-mana, mijetin pundak tuh dari belakang, Seungcheol. Kek mana lah caranya mau mijetin kalau dari depan gitu?” tanya Jeonghan lalu tertawa kecil, mengusap kepala Seungcheol yang masih mendusel lehernya.

“Ya mijetin pundaknya entar aja habis keramasin, yaa?” Seungcheol mengangkat kepalanya, menunjukkan puppy eyes jagoannya saat merayu Jeonghan.

“Banyak mau banget sih, Pak?”

“Pleaseeeeeee…” 

Jeonghan yang masih diam itu membuat Seungcheol mengerucutkan bibirnya, masih berusaha dituruti keinginannya. 

“Please, Jeonghan, please… mau liatin wajah kamu sambil keramasin aku. Kangen banget… kangen banget sama kamu,” rengek Seungcheol sambil menangkup wajah Jeonghan di kedua tangannya kemudian mendaratkan banyak kecupan ringan di sana.

Jeonghan terkekeh geli dan menolehkan kepalanya, menyerah pada jurus manis Seungcheol yang satu itu. “Yaudah kamu mandi dulu sana.” 

“Nggak mau mandi bareng?”

Jeonghan menggeleng tegas dengan nada final, “Nggak ya, Seungcheol.” 

────✦✦✦───

“Ada asisten manajer baru pengganti Wonwoo, namanya Sarah,” jelas Seungcheol sambil menutup matanya, menikmati pijatan lembut yang diberikan Jeonghan di kepalanya. 

Saat sudah mandi air hangat dan wangi, pasangan aktor-manajer itu menghabiskan waktu berdua setelah sekian lama berpisah dengan menikmati pijatan di kepala dan pundak dari si aktor. Sambil mendengarkan cerita panjangnya mengenai perubahan-perubahan baru di kantor yang harus diurus, Jeonghan terus memijat kepala Seungcheol dengan tekanan lembut. 

“Besok juga niatnya kami ketemuan pas makan siang, aku, Wonwoo, Sarah, cuman masih nggak tahu enaknya ke mana. Kata Wonwoo surprise,” lanjut Seungcheol sambil menggambar bentuk abstrak di paha terbuka Jeonghan yang duduk di pangkuannya.

“Aku paham sih kenapa seleksi asisten manajer ini sulit banget buat semuanya, tapi juga banyak banget sumpah syaratnya!” Seungcheol kembali mengeluh. “Padahal juga banyak yang bagus, tapi direksi pada minta yang sempurna.” 

Jeonghan terkekeh geli mendengar protes dari kekasihnya. “Terus kok bisa settle sama Sarah ini gimana? Berarti dia sempurna?”

“Entahlah, aku iyain aja direksi maunya gimana. Cuma selama masa training ini dia bagus, kok, nggak yang kebanting banget sama cekatannya Wonwoo.” 

“Bagus dong kalau gitu, kamu nggak perlu pusing adaptasi asisten.”

Seungcheol terkekeh kecil. “Masih perlu dong, Sayang. Wonwoo mah bisa aku marah-marahin panjang lebar, tapi balik marah ke aku kalau yang aku omongin ngaco, soalnya kita udah temenan lama. Kalau sama Sarah ini kan baru, jadi aku juga harus belajar gimana komunikasi yang bener dan enak sama dia, biar kerjanya lebih efektif juga.” 

Jeonghan hanya mengangguk-angguk kemudian membilas sampo di kepala Seungcheol dan mengeringkannya dengan handuk. “Eh, berarti hotel kamu sama Wonwoo ini saingan?” tanya Jeonghan sambil bangun dari pangkuan Seungcheol, berpindah ke belakangnya untuk memijat pundak.

“Nggak sih, hotel Wonwoo tuh termasuk anak perusahaannya.”

“Oh, aman lah ya kalau kalian ngobrol. Entar dikira impostor, kalau ada apa-apa.” 

Seungcheol mengangguk dan kembali memperhatikan paras cantik Jeonghan yang terpantul di kaca.

“Kamu… sama Sarah beneran business partner aja ya?” Jeonghan kemudian berbisik ke telinganya, membuat bulu kuduknya berdiri. “Awas sampe kulihat kalian mesra, kugigit telingamu sampe lepas.” 

────✦✦✦───

“Minggu lalu udah visit dan nyiapin semuanya, jadi lusa tinggal berangkat,” jelas Wonwoo. 

Singkat cerita, Wonwoo akhirnya diterima menjadi manajer di hotel baru di Bali yang kebetulan salah satu investornya adalah ayah Chan. 5 bulan ke belakang ini ia sibuk menyiapkan diri dan CV untuk mengisi posisi manajer hotel baru milik orang-orang kaya itu. 

Seungcheol paham betul mengapa Wonwoo berkali-kali lipat lebih stres daripada saat melamar posisi manager di hotel di Jakarta. Selain karena tempatnya yang baru, di Bali, hotelnya ini juga benar-benar baru,  jadi ia juga bertanggung jawab dalam membangun namanya dari nol. 

Salah satu investor yang juga ayah dari kekasihnya yang pelit restu dan pelit kata itu juga membuatnya seperti harus membuktikan kemampuannya, kalau ia pantas mengemban tugas besar menjadi pengelola hotel yang membawa namanya pada kesuksesan, kepuasan pelanggan, dan jelas, uang yang semakin banyak. 

Menurut Wonwoo, mengambil tawaran pekerjaan ini seperti peribahasa sekali dayung dua-tiga pulau terlampaui. Ia bisa naik jabatan dari asisten manajer ke manajer dan belajar banyak hal baru, sekaligus bisa membuktikan pada ayah Chan kalau ia mampu. Mampu mengelola bisnisnya sebagai manajer dengan sangat baik, mampu mengemban tugas yang diberikan padanya dengan performa maksimal, dan semoga memberi keyakinan ia mampu mengemban rumah tangga bersama anak sulungnya.

“You don’t have to prove him anything, loh, Mas.” Chan yang duduk di hadapan Wonwoo itu menggenggam tangannya di atas meja, matanya terlihat cemas. 

“Masalah restu, we’ll take our own pace. Kita kan nggak dikejar apapun, nggak perlu buru-buru. Pasti lama-lama Ayah luluh juga lihat kamu nggak nyerah begitu.” 

Sudah 5 tahun hubungan mereka, ayah Chan masih belum luluh juga. Maka dari itu Wonwoo harus menunjukkan kemampuannya. 

“Iya, ini juga aku usahain banget karena kesempatan emas buat aku, Chan.” Wonwoo mengangguk dan tersenyum meyakinkan, ia balas menggenggam tangan Chan. “Kalau aku di sini terus, mau jadi asisten manajer sampe kapan? Masa iya aku harus menggulingkan takhta Choi Seungcheol dulu untuk jadi manajer?” 

Seungcheol hanya mendengus dan geleng-geleng kepala, tak mau ditarik ke obrolan pasangan yang sedikit lagi akan berpisah jauh itu. Ia kemudian mengalihkan perhatiannya ke perempuan di hadapannya. 

“Sarah kalau mau pulang duluan nggak papa, kamu nggak harus nungguin kami selesai ngobrol kok. Bahasan kerjaan kita udah selesai, ini juga kami makan biasa as a friend.”

Asisten manajer baru pengganti Wonwoo itu mengangguk kecil. “Kalau saya di sini dulu boleh nggak, Pak? Nggak mengganggu privasi? Soalnya saya juga ada janjian sama, ehm, pacar saya, di deket sini jadi biar nggak mondar-mandir gitu.”

Seungcheol mengangguk. “Silakan-silakan. Kalau dua orang ini emang nggak peduli privasi, pacaran di mana aja mereka mah.” 

Sarah terkekeh kemudian melanjutkan makannya lagi. Badannya merelaks setelah tahu pekerjaannya sudah selesai, ia kembali memainkan ponselnya dan berusaha tak terlihat. 

“Maksudnya kan bisa di Jakarta aja, nggak perlu sampe ke Bali… Apalagi itu hotel baru, pasti sulit kan? Ayah juga pasti sengaja ngarahin kamu ke sana buat nantangin, padahal juga pasti ada yang sekitar Jakarta,” keluh Chan, dahinya berkerut sebal dengan ayahnya yang terlampau overprotektif padanya.  

“Iyaaa, aku paham kamu khawatir, tapi kali ini tolong percaya sama aku, ya? Aku bener-bener pengin ambil kesempatan ini, terlepas dari siapa yang kasih kesempatan. Mau itu ayah kamu, pak RT, atau Seungcheol sekalipun, aku juga pasti coba kalau aku yakin bisa makin maju.”

Chan membuka mulutnya ingin kembali melayangkan komplain, tapi segera menutupnya kembali ketika melihat kegigihan di mata kekasihnya. Wonwoo yang tidak banyak berambisi itu akhirnya ingin berjuang mengejar karirnya, ini merupakan sesuatu yang baru. Sesuatu yang baik dan baru. Chan merasa, sebagai kekasihnya, ia tak boleh banyak mengatur apalagi sampai menghalangi Wonwoo mengejar keinginannya. 

“I know that you know your dad better than me, cuma… I know myself better than he knows me, jadi kalaupun memang kasih kesempatan ini cuma untuk nantangin, let him be. Aku juga nggak segegabah itu kok untuk ngambil kesempatan yang aku tahu aku nggak bakalan bisa. Oke sayang?” 

Chan mengembuskan napas beratnya, ia kemudian bertopang dagu dan memperhatikan Wonwoo dalam diam. 

“Lagian aku nggak bener-bener sendirian kok, ada sahabatku pas kuliah juga kerja di sana. Tempat tinggalku juga deket mereka, jadi kalau ada apa-apa pasti cepet. Dan, this is Bali we’re talking about! Kamu nggak perlu khawatir, aman pasti di sana!” 

Chan kembali mengembuskan napas beratnya. “Nanti ajakin aku ke sana ya?”

“Pasti, sayang.”

“Nanti kamu jangan macem-macem di sana!”

“Iyaa, sayang.”

“Kamu jangan sampe punya simpenan ya, Wonwoo. Gue potong titit kebanggan lo itu.”

Wonwoo yang panik ada Sarah di dekatnya itu langsung membekap mulut pacarnya. 

“Iya… nggak ada yang bisa menggantikanmu Channie Honey…” 

“Awas kamu nggak ngabarin aku sehari aja.”

“Iyaaa, nanti aku telepon setiap hari ya.” 

Seungcheol yang sudah bertahun-tahun mendengarkan percakapan menjijikkan Wonwoo dan Chan itu masih saja belum terbiasa. Rasanya, ia tak akan terbiasa selamanya. Sekarang saja perutnya sudah berputar-putar ingin muntah. 

“Wajah lu nggak usah iri gitu,” tukas Wonwoo dengan senyum meremehkan andalannya.

“Eh minus lo nambah ya? Ini wajah jijik.” 

“Awas sampe lo dan Mas Jeonghan harus LDR dan jangan sampe kau datang padaku.” 

────✦✦✦───

Akhir-akhir ini, kehidupan serumah-berdua Seungcheol dan Jeonghan biasa-biasa saja, tak ada yang baru, tetapi masih membuat nyaman. 

Seungcheol yang memahami kesibukan Jeonghan yang sedang reading film keempat itu sekarang lebih sering memberinya waktu dan ruang untuk diri sendiri, mengerti bahwa pekerjaannya pasti banyak menuntutnya selalu menghabiskan waktu bersama banyak orang. Jeonghan juga selalu tampak menikmati waktu sendirinya, membaca buku, mendengarkan lagu, sampai banyak makan kudapan manis bermacam-macam rasa itu.  

Namun, akhir-akhir ini, kehidupan Jeonghan tampak ada yang baru. Ia seperti punya rutinitas superpanjang yang suka ia lakukan sendirian di kamar mandi, membuat waktu yang ia habiskan menjadi jauh lebih lama dari yang biasa. 

Awalnya Seungcheol tak pernah memperhatikan, kemudian setelah tahu, ia tak mempermasalahkan. Namun ketika Jeonghan bahkan masih di kamar mandi ketika ia seharusnya sudah berangkat ke tempat reading 15 menit yang lalu dan menjadikannya telat—sangat bukan Jeonghan—, membuat Seungcheol berpikir mungkin ada yang salah. Jika memang itu hanya rutinitas relaksasi seperti lulur atau scrub, Jeonghan tak mungkin sampai membiarkan dirinya telat. Bahkan ia sampai sering melewatkan sarapan, lalu kenapa rutinitas barunya di kamar mandi sepenting itu? 

“Sayang, akhir-akhir ini kamu kalau di kamar mandi lama banget, ya? Ngapain aja di dalem? Are you okay?” tanya Seungcheol akhirnya saat mereka sarapan bersama sebelum berangkat kerja.

Jeonghan yang sedang fokus makan itu hanya mengangkat bahunya. “Masa sih? Sama aja deh perasaan.”

“Kayaknya ada deh satu jam? Dari beberapa hari yang lalu selalu gitu, padahal waktu kamu keluar juga nggak keramas, kalaupun keramas juga rambutnya masih basah, nggak yang dikeringin di dalem.”

“Iya kah? Nggak nyadar akunya.”

“Bukannya aku keberatan, hak kamu juga mau mandi berapa lama. Cuma aku khawatir kamu kenapa-napa. Lagi banyak pikiran, ya?”

Jeonghan mengangkat kepalanya, sinar hangat di matanya itu sekarang tak ada. Kosong. “Kenapa gitu?”

“Entah… aku takut kamu nangis di kamar mandi karena kamu nggak mau aku denger.”

Jeonghan terdiam kemudian tiba-tiba tertawa kencang. Terlalu tiba-tiba dan terlalu kencang sampai terdengar menakutkan. “Nangis di kamar mandi? Sinetron kali ah.”

Seungcheol menggaruk tengkuknya kemudian mengurungkan niatnya untuk mengejar jawaban Jeonghan. Lagipula urusan telat dan tidak telatnya ke tempat kerja adalah tanggung jawab Jeonghan, ia tak perlu terlalu mengatur. Apapun yang Jeonghan lakukan di kamar mandi juga bukan urusannya dan bukan haknya untuk tahu, it’s his privacy. 

Berniat mengalihkan topik karena masih ingin berbincang dengan Jeonghan, ia kembali berkata, “Eh, Jeonghan akhir-akhir ini kamu juga—”

“I TOLD YOU I’M FINE!”  

Seungcheol membulatkan mata, alis tebalnya itu bertaut bingung dan kaget. 

Okay, Jeonghan is definitely not fine. 

“What was that?” Nada Seungcheol tenang, tak ada gurat marah di dalamnya, tetapi Jeonghan tahu ia wajib menjelaskan.

Si aktor mengusap wajahnya frustrasi. “Kamu kalau nanyain aku mulu, akunya kesel. Aku kan udah bilang ke kamu aku nggak papa, kenapa sih dikejar-kejar mulu?”

Wow Jeonghan, what was that? Did you just… gaslighted him? You just become more and more like him, it’s terrifying but not surprising. 

Seungcheol mengerutkan alisnya lebih dalam lagi. “Maybe if you didn’t snapped at me, you’d know what I was going to say.” 

Si aktor menutup matanya dan mengontrol napas. “Apa?” tanyanya saat membuka mata.

“Aku mau bilang, kamu akhir-akhir ini dicariin Ibu. Kangen,” jawab Seungcheol singkat. Ia berdiri dan membereskan alat makannya, tak selera lagi berbincang dengan Jeonghan. Hatinya yang tak terima dan bingung setelah dibentak itu ditenangkan kepalanya, nanti saja.  

“Seungcheol aku minta maaf udah bentak kamu,” kata Jeonghan saat Seungcheol mencuci piringnya. 

Air dari keran masih keluar deras, pergerakan tangan Seungcheol masih membilas. Saat tak ada jawaban, Jeonghan melanjutkan, “You were right, I wasn’t okay. Aku lagi banyak pikiran dan kamu nanyain aku terus bikin aku merasa harus cepet-cepet beresin kepala aku, jadi aku kelepasan bentak, I’m sorry.”

Air dari keran berhenti, kedua tangan Seungcheol menyangga tubuhnya di wastafel, kepalanya tergantung rendah dengan beberapa waktu terlewat tanpa kata. Ia kemudian berbalik dan mengembuskan napas beratnya perlahan. “Maaf I made you feel that way, aku nggak bermaksud bikin kamu terburu-buru atau merasa wajib cerita ke aku. It’s your right to not tell me anything.” 

Jeonghan menggelengkan kepalanya. “Aku yang salah, aku minta maaf. I will tell you, tapi nggak sekarang, ya? Pikiranku lagi kalut-kalutnya, takut nanti malah marah lagi ke kamu kalau cerita.” Laki-laki itu merelakskan punggungnya. “Nanti kalau semuanya udah reda, bakalan kukasih tahu.” 

Seungcheol mengangguk dan menghampiri Jeonghan, tangan besarnya mengusap rambutnya dengan sangat alami, seperti hanya itu tempatnya berada, mengusap rambutnya. “Cerita kapan aja, aku selalu siap dengerin.”

“Thank you. Aku minta maaf ya, udah nyebelin.”

“It’s just a phase, Sayang. Nggak papa,” bisiknya lalu menyelipkan kecupan di puncak kepala. 

 

Notes:

aku menulis chapter ini sebelum sakit, jadi waktu beneran sakit aku kek... anjir gue juga mau seungcheol ngerawat gue... mau juga... dimasakin sup telur sama seungcheol... disayang-sayang dan diperlakukan halus... WKWKWKWK sial.

what do you think of this chapter? please drop a comment xixi.

a kudos and comment will brighten my day + keep me going xixixi. Here's my twitter and tellonym if you want to reach out! Thank you so much for reading, have a good day!