Actions

Work Header

Me Doing Whatever The Hell My Hot Potion Master Husband Wants

Summary:

Apapun yang Daniel minta, ia bersedia untuk menyanggupinya, walaupun itu bulan yang ia minta.

Notes:

I juts want them to kiss.

(See the end of the work for more notes.)

Chapter 1: My Potion Master Husband

Chapter Text

Saat masih menjadi murid di Hogwarts, ia tak pernah membayangkan bahwa ia akan melakukan hal ini. Ia, juara duel Hogwarts tiga tahun berturut-turut, ketua murid paling disegani dari asrama Ravenclaw, dan kini menjabat sebagai asisten junior Menteri Sihir, terbaring pasrah di lantai laboratorium yang berantakan, dikelilingi oleh bubuk lavender yang beterbangan, bau herbal yang menyengat, dan suara kuali yang mendidih dari sudut ruangan.

Daniel menatapnya sambil mengangkat alis dari balik buku ramuannya. “Apa yang kamu rasakan saat ini?”

Ia menghela napas panjang, kepalanya masih berada di lantai batu yang terasa dingin. “Baik-baik saja. Tidak ada rasa yang aneh…” Ia membuka matanya dan menatap Daniel yang duduk bersila di sampingnya, pena bulu di tangan dan ekspresi serius terpatri di wajahnya. “Tapi Daniel, sampai kapan aku begini?” rengeknya.

Daniel tak langsung menjawabnya dan mencoret sesuatu di buku, suaranya tenang namun fokus. “Apakah kau merasa pusing?”

Ia menggeleng pelan. “Tidak. Tidak pusing.” Tiba-tiba suara cakaran halus dari balik pintu terdengar. “Salju sepertinya ingin masuk, atau mungkin minta makan.”

Salju adalah kneazle putih milik mereka, seekor makhluk yang lebih cerdas dari kucing biasa dan memiliki naluri protektif terhadap tuannya, terutama terhadap Daniel. Sejak awal eksperimen ini dimulai, Salju dikurung di luar lab karena risiko kontaminasi sihir dan reaksi yang tidak diinginkan terhadap bahan-bahan ramuan.

Daniel mengangguk tanpa mengangkat matanya dari buku. “Ya, Salju bisa menunggu. Dia tidak boleh masuk. Ramuan ini masih dalam tahap uji. Terlalu berbahaya kalau ada unsur luar yang masuk.”

Ia memutar bola matanya. “Oh, jadi aku bukan unsur luar yang bisa mengkontaminasi?”

Daniel tersenyum kecil, tangannya masih menulis di bukunya. “Bukan begitu. Kau sukarela berpartisipasi dalam eksperimen, dan Salju tidak.”

Ia menghela nafas dengan dramatisasi yang disengaja. “Aku harap kau mencatat bahwa dalam eksperimen ini aku berpartisipasi secara sukarela karena aku sangat mencintaimu.”

Daniel menurunkan bukunya dan menatap kekasihnya dengan lembut. “Sudah tercatat dengan tinta permanen di halaman pertama bukuku dan hatiku.” Kemudian Daniel memberikannya senyum jahil, “Ah, tapi kalau eksperimennya gagal dan kau berubah menjadi permen Bertie Boots Bean berjalan, jangan salahkan aku.”

“Walau aku sebuah permen, selama masih bisa melihat dan bersamamu, aku akan anggap itu sukses.” Jawabnya setengah bercanda.

Suara kuali di ujung ruangan mengeluarkan letupan kecil, mengingatkan mereka bahwa waktu terus berjalan. Daniel segera berdiri dan mengaduk cairan yang berwarna biru muda yang berputar perlahan di dalam kuali.

Ia bangun dari lantai dan berpindah duduk ke kursi satu-satunya yang ada di lab ini. “Jadi, sejujurnya, apa yang sedang kamu buat?”

Daniel tidak langsung menjawab, ia mematikan api kuali, mengaduk ramuannya searah jarum jam 1 kali, sebelum akhirnya ia mengambil ramuan itu dan menuangkan ke dalam vial kecil. Vial kecil berisi ramuan berwarna biru muda yang terlihat menenangkan. “Aku ingin menciptakan ramuan penstabil emosi yang tidak hanya meredam gejala kecemasan, tapi juga mengontrol sihir mereka untuk lebih stabil.”

Ia mengangkat alis. “Kau membuat antiansietas versi ramuan?”

“Kurang lebih.” Daniel berjalan ke depannya dan menunjukkan vial ramuan itu kehadapannya. “Tidak hanya itu, ramuan ini harus cukup lembut agar bisa digunakan jangka panjang, sehingga tidak menciptakan ketergantungan ramuan.”

Ia melebarkan matanya, takjub menyelimuti wajahnya, dan ia menatap wajah kekasihnya yang kini dipenuhi semangat dengan penuh kasih. “Daniel Page, kamu Master Potion paling handal di era ini.” Ia memeluk Daniel dan membenamkan wajahnya di perut Daniel.

Daniel tersipu sedikit. “Dasar mulut manismu.” Daniel memukul pelan pundaknya.

Mereka terdiam sejenak, hanya ditemani suara lembut dari kuali dan meongan tidak sabar dari balik pintu. Lalu Daniel berkata pelan, “Aku membuat ramuan ini untukmu…”

Ia melepas pelukannya, berdiri dari duduknya, dan kembali membawa Daniel ke dalam pelukannya dengan erat. Ia mencium ubun-ubun Daniel dan menghirup wangi lavender dari rambut halus itu. “Terima kasih. Kamu memang hal terindah dalam hidupku Daniel.”

Daniel terdiam dalam pelukannya. “Jika… Jika ramuanku berhasil dan telah teruji oleh Kementrian Sihir sebagai aman… Kamu bisa lepas mengonsumsi obat itu, dan minum hanya ramuanku sampai kau tak membutuhkannya lagi.” Daniel meremas bajunya dan matanya terasa panas.

“Oh Daniel, tentu saja. Maaf telah membuatmu khawatir.” Ia membawa wajah Daniel mendekat dan mencium ujung matanya yang mulai basah. “Aku sudah tidak ketergantungan lagi… Yah, walau aku masih membutuhkan obatnya kadang-kadang.” Ia terus memeluk Daniel dan menciumi wajah Daniel.

Dulu, saat ia memulai karirnya di Kementrian Sihir, didorong ambisi yang menggebu dan tekanan lingkungan sekitar membuatnya bekerja tanpa henti. Ia berusaha membuktikan dirinya, namun rasa cemas terus menghantuinya bahwa ia tidak memberikan sepenuhnya dalam menjalankan pekerjaannya. Rasa cemas yang terus meningkat membuatnya terkena serangan panik hingga tak terkendali.

Dalam menangani serangan paniknya, ia memutuskan untuk ke dokter muggle dan mengonsumsi obat-obat yang diresepkan kepadanya. Saat itu, dunia sihir belum mendalami hal seperti ini. Ya, mereka punya mind healer, tetapi mereka lebih sering menyembuhkan otak yang terganggu akibat kecelakaan sihir, bukan psikologi.

Obat yang ia dapatkan dari dokter muggle bekerja secara ajaib dan membuatnya tenang. Namun, seiring meningkatnya tekanan pekerjaan, meningkat pula serangan panik, dan konsumsi obatnya. Ia mulai mengonsumsi obatnya tanpa memikirkan dosis hingga akhirnya ia mulai ketergantungan.

Suatu malam, saat obatnya habis dan ia lupa untuk membelinya, ia terserang serangan panik dan tanpa obat yang langsung menenangkannya, ia hanya bisa tergeletak di kamarnya. Daniel yang menemukannya malam itu dan sejak saat itu Daniel menjadi lebih protektif. Daniel memutuskan untuk tinggal bersamanya dan menjaganya, memastikannya tidak penah sendiri dalam menghadapi semuanya.

Daniel, kekasih hatinya, belahan jiwanya, ia sanggup melakukan apapun untuk Daniel, asal ia tak melihat lagi wajah ketakutan Daniel seperti malam itu. Hatinya tak sanggup melihat wajah yang selalu tenang berhias senyum cemberut itu berubah menjadi sedih dengan air mata mengalir di pipinya. Ia mengusap air mata yang mulai mengalir di pipi Daniel, dan membawa wajah Daniel mendekatinya. Ia mencium lembut bibir itu, dan membisikkan kata – kata menenangkan.

Ah, Daniel, walau ia tak ingin melihat air mata di wajah rupawan itu, ia tak bisa mengelak bahwa wajah tangis Daniel juga rupawan. Ia terus memeluk dan menciumi Daniel hingga Daniel mulai tenang dan menghapus air matanya. Daniel melepas pelukkannya dan membalikkan badannya. “Aku… Aku akan membawa ramuan ini besok ke Kementerian.” Ucapnya, masih sedikit terisak, mengalihkan suasana yang sedih.

“Aku akan menemanimu besok ke Kementerian, Daniel.” Ujarnya sambil tersenyum menatap punggung Daniel.

Suara cakaran dan meong terdengar, dan mereka berdua sama-sama menoleh ke arah pintu. Daniel tertawa ringan dan mulai berjalan ke arah pintu. “Sepertinya ada yang tidak sabar dengan makan malamnya.”

Ia ikut tertawa sambil berjalan mengikuti Daniel. “Kalau Salju berubah jadi naga karena kelaparan, itu tanggung jawabmu.”

Daniel hanya menggeleng. “Aku akan buatkan teh setelah ini. Kau mandilah, kutunggu di dapur.”

Ia tersenyum, mencuri satu ciuman di kening kekasihnya sebelum pintu terbuka. “Terima kasih, Daniel…”

Ia tak ingat sejak kapan ia mulai seperti ini. Mungkin saat pertama kali melihat Daniel di dalam kereta, duduk tenang di antara tumpukan buku, saat itulah hatinya berbisik pelan, aku akan melakukan apapun untukmu. Ia rela berbaring di lantai batu yang dingin, menjadi kelinci percobaan untuk ramuan-ramuan aneh Daniel, walau mulutnya terasa pahit akibat ramuan. Ia melakukannya tanpa ragu, karena melihat wajah sumringah Daniel setelah keberhasilannya lebih berharga dari apapun. Andai Daniel berkata ia butuh bulan untuk bahan ramuan, ia akan mendapatkannya. Untuk Daniel segalanya bisa didapat, walaupun itu mustahil.