Actions

Work Header

Apa boleh sekali saja?

Summary:

Ten tidak bermaksud untuk memperhatikan lekukan dada Kun seperti orang mesum, kok. Tentu saja'kan jika ada yang berubah dari salah satu anggota grupmu, pasti kamu akan langsung sadar'kan? Iya...kan? Tapi ya sudah, bagaimana pula Ten juga hanya seorang manusia...

Notes:

Hi! Ini first fic aku di fandom ini! <3 It's been a looong time I haven't write anything (uni shitty and my TA hope it'll end soon, final weeks or MY final weeks loool /JK!!)
Happy reading, Reader-nim! Lots of love from me, Neru!

(See the end of the work for more notes.)

Chapter 1: Awal Mulanya

Chapter Text

Mungkin beberapa anggota grup tidak sadar; atau mungkin sadar hanya saja mereka memutuskan untuk tidak mengatakan sesuatu. Tapi bagaimana dengan kewarasan Ten yang kian hari makin menipis? Malu bertanya sesat di jalan, tapi kalau tidak bertanya kok rasanya ada yang kurang. Tapi bagaimanapun juga, Kun yang ototnya tiba-tiba membesar seperti itu bukan urusannya, kan? Iya, kan?

Sepertinya Ten memanglah termasuk dari salah satu hamba Tuhan yang terlemah. Ia beberapa kali menggoda Kun mengenai otot-ototnya yang nampak gagah; sesekali meremasnya pelan, kadang pula mencubitnya. Tapi dari Kun sendiri? Dia hanya diam, namun sesekali mencubit pipi Ten dengan lembut sebagai balasan.

Sesekali dengan nakal matanya melirik ke arah lekukan dada Kun saat mereka memulai sesi latihan. Di saat orang lain tak memperhatikan, disitulah matanya mulai melirik ke arah yang berbahaya. Ten harap matanya tetap bisa melirik ke arah indahnya lekukan dada Kun, namun satu anggota grupnya—Xiaojun, berhasil menangkap basah dirinya. Anehnya lelaki itu tidak mengatakan apapun, hanya saja Ten yakin mulutnya akan berbicara kesana-kemari. Ten hanya bisa berharap, jangan sampai omongan itu sampai ke telinga Kun.

Tapi di saat konser beberapa hari lalu, melihat beberapa anggota grup yang menyentuh lengan dan dada Kun jelang penutupan membuat pikiran Ten agaknya sedikit lebih jernih. Berarti anak-anak yang lain sadar tentang perbedaan Kun daripada hari-hari ataupun bulan-bulan sebelumnya, bukan? 

Karena persiapan konser di lain hari serta beberapa jadwal yang terlihat hampir berbenturan satu sama lain namun berhasil disusun rapi oleh sang manajer, jadwal mereka hari ini berada di ruang latihan untuk mensinkronisasikan gerakan serta mengasah vokal mereka—meski hari ini lebih berfokus ke arah tarian mereka dikarenakan WinWin yang tengah hiatus. 

Pupil matanya beberapa kali melirik ke arah dada Kun; sesekali ia mengelus dada melihat pemandangan luar biasa tersebut. Namun tentu saja, anggota grup lainnya yang sadar akan tindakannya tersebut tidak akan melewatkan hal menyenangkan seperti ini begitu saja, bukan? Hendery dengan usil mengikuti posenya yang menatap Kun, dan Ten yang menyadarinya langsung kembali ke posisi normalnya.

“Bukannya kalau mau kau bisa langsung bilang saja? Sentuh saja seperti biasa.”

Kini Xiaojun juga ikut duduk di sampingnya, membuat dia terapit di antara mereka berdua. Ten yang mendengarnya hanya bisa menghela napas, segera ia bangkit dari duduknya dan mengusulkan untuk memulai latihannya dari awal karena Hendery dan Xiaojun terlihat bersemangat hari ini.

Kedua orang yang ditunjuk langsung menelan ludah. Kenyataan pahit bahwa mereka baru saja menginjak ranjau darat yang tertanam dalam tanah, kini mereka bersama-sama harus menanggung konsekuensinya.

.

Kun bukannya tidak sadar dengan tatapan Ten, justru dia sadar tapi tidak ingin bertanya lebih lanjut saja. Toh biasanya Ten akan maju duluan untuk menggodanya, bukan? Tapi sehari, dua hari, sampai hari ke lima, tidak ada serangan dadakan yang dilakukan oleh Ten. Apa boleh Kun curiga? Ten memang beberapa kali menepuk lengannya sambil menggodanya, tapi entah mengapa hal tersebut terasa berbeda ya kali ini?

Lagi, pupil matanya melirik ke arah Ten yang tengah duduk dan diapit oleh Xiaojun dan Hendery. Terlihat mereka bertiga tengah membincangkan sesuatu, namun indra pendengaran Kun tidak dapat menangkap apa yang mereka bertiga bicarakan. Tapi melihat Ten yang pergi dari mereka berdua dan tiba-tiba saja mengatakan bagaimana Hendery dan Xiaojun yang bersemangat seperti ini—sepertinya mereka tengah adu argumen sebelumnya.

Latihan hari itu selesai tanpa ada hambatan tertentu, terkecuali—beberapa anggota grup lain yang usil kepada Ten dan dirinya. Mengatakan dirinya tidak peka atau semacam itulah, dan sesekali menyenggol Ten. Tapi, Kun juga tidak mau ambil pusing. Namun tidak mungkin juga dia bisa diam ketika indra pendengarannya menangkap bagaimana anggota grup lain menggoda Ten, seperti.. ‘Bilang saja kalau kau juga ingin menyentuhnya!’ ‘Kenapa pakai malu-malu segala, sih? Hari gini masih ingat malu?’

Mungkin Kun juga…. sedikit penasaran dengan apa yang mereka bicarakan.

.

Beberapa hari berlalu, dan sekarang mereka sedang menikmati hari libur mereka yang diberikan oleh sang manajer sampai pada akhirnya mereka harus bertempur lagi dengan jadwal padat mereka di minggu selanjutnya. Beberapa anggotanya sudah menjadwalkan kemana mereka akan berlabuh untuk membunuh rasa bosan, sementara Kun kini berakhir bersama dengan Ten.

YangYang dengan kurang ajarnya menendang Kun keluar dari apartemen yang mereka tinggali bersama, katanya sih ‘Sana temani Ten main, aku mau main dulu sama yang lain.’ Apalagi saat ia ingin mengungsi—ikut berlibur bersama dengan Hendery. Lelaki itu dengan tegas menolaknya, tetapi dia dengan kurang ajarnya malah menerima YangYang dengan lapang dada untuk berlibur bertiga bersama dengan Xiaojun, padahal YangYang baru saja mengabari hari itu juga. Ingin rasanya Kun menendang jauh pikiran buruknya—kecurigaan bahwa anggota grupnya yang lain tengah menyembunyikan sesuatu darinya, tapi mengingat bagaimana interaksi dari Ten dan beberapa anggota grupnya yang lain, Kun merasa ada sesuatu yang janggal.

“Kok kamu bisa ke sini?”

“Yang lain nyuruh aku nemenin kamu, makanya aku ke sini. Terus, aku juga bosan.”

Api berkobar dalam diri Ten, tolong siapapun ingatkan Ten untuk menghukum bocah-bocah nakal yang sengaja mengirimkan Kun kemari tanpa berbicara sepatah katapun pada dirinya.

Ten mempersilahkan Kun untuk masuk dan segera dirinya disambut oleh tiga kucing peliharaan Ten—Louis, Leon dan Levi.

Tidak banyak yang Ten sajikan pada Kun, ia hanya menyuruh Kun mengambil apa saja yang ia inginkan di dalam kulkas; memasak ramyeon ataupun yang lainnya jika Kun lapar. Setelah itu Ten langsung duduk di atas sofanya, menonton drama korea picisan yang entah direkomendasikan oleh siapa beberapa waktu lalu.

Tanpa ia sadari, Kun duduk di sebelahnya—cukup mepet sampai Ten bisa merasakan kehadiran Kun. Kun mungkin terlihat biasa saja, tidak banyak yang lelaki itu katakan kecuali menyimak drama yang sedang ditayangkan, tapi bagaimana dengan Ten? Bagaimana dengan Ten yang harus menjaga kewarasannya; menahan mulut tuk mengatakan sesuatu yang paling bodoh.

“Ten,” mendengar namanya terpanggil, Ten masih diam—namun menjawabnya dengan dehaman halus “Sebenarnya ada hal yang membuat aku bingung,” mata memang tidak melirik, tapi tubuh Ten merasakan bagaimana Kun yang semakin mendekat sampai tangan lelaki itu bertanggar pada pundaknya “Tumben sekali mulutmu tidak cerewet. Kau sariawan, ya? Bahkan saat latihan vokal, kau sering izin kepada pelatih.”

Ingin rasanya Ten berteriak—entah itu teriakan penuh rasa syukur ataupun teriakan yang mengungkapkan rasa frustasinya. Bagaimana bisa ada lelaki setumpul hidup di dunia ini, dan parahnya itu adalah kawan satu grupnya? Ah, dipikir-pikir lagi Kun memang tidak sepeka itu, tapi fakta bahwa Kun khawatir dengan dirinya; entah mengapa ia merasa kupu-kupu kini terbang kesana kemari dalam perutnya.

Kun yang tidak mendapat respon apapun dari Ten, kini perlahan mulai menariknya sampai ia bersandar pada dadanya, “Kalau ada sesuatu, kau bisa katakan padaku. Apa ada hal yang membuatmu tidak nyaman?” tangannya mengusap puncak kepala Ten; yang tanpa Kun sadari tindakan tersebut membuat jantung Ten berdegup kencang—entah Kun menyadarinya atau tidak dari jarak yang sangat amat dekat ini.

“....megangnya..”

“Apa? Suaramu terlalu kecil.”

“Aku boleh pegang gak?”

Kun diam sejenak, pegang apa memangnya? Bukankah saat ini Ten sudah memegangnya?

Ten menghela napas berat, sampai pada akhirnya ia melepas rangkulan Kun, lalu mempraktekan apa yang ia inginkan “Itu,” jarinya menunjuk ke arah dada bidang Kun yang sudah terbentuk “Aku mau pegang itu.”

Lagi, Kun dibuat diam “Itu saja?” ia bertanya, nadanya seolah-olah mengatakan ‘Kenapa tidak dari kemarin kemarin saja? Biasanya juga kau pegang tanpa izin.’ sebelum Ten sempat protes akibat kelambatan otak Kun yang berpikir, tiba-tiba saja dia membuka mulutnya—mengatakan sesuatu yang selama ini Ten tunggu “Boleh, sentuh saja.”

Ten menepuk tangan—entah untuk apa, mungkin untuk selebrasi bahwa ia mendapat kesempatan emas untuk menyentuh dada bidang yang kini sudah berbentuk dari hasil kerja keras Kun untuk konser selanjutnya.

Tangannya bergerak perlahan, dari perut—sampai menyentuh kedua dadanya. Namun Ten berhenti sejenak; rasanya kok mesum sekali ya? Padahal dia sudah mendapat izin dari yang bersangkutan untuk memegangnya. Ten menggelengkan kepalanya perlahan, dia tidak boleh terlihat seperti lelaki lemah. Pada hitungan ke-tiga, Ten akan menarik tangannya dari dada Kun. Jika memang benar seperti kata Kun maupun anggota grup lainnya; ia bisa memegangnya kapan waktu tanpa harus izin, maka Ten akan menggunakan kesempatan yang dia dapat di lain waktu.

Tiga…

Ibu jarinya mengusap bagian tengah dada Kun,

Dua…

Sesekali usil menekan-nekannya, yang tanpa ia sadari tindakannya membuat napas Kun tercekat,

Satu…

Ten menarik tangannya, “Besar, ya. Sepertinya untuk persiapan konser selanjutnya.” itu sudah jelas dan tidak usah ditanya dan tidak usah dinyatakan lagi—karena memang itu tujuannya.

“Kun,” panggilnya, “Sekali lagi ya?” ucapnya dengan nada memohon. Namun belum sempat Kun bereaksi, Ten sudah menenggelamkan dirinya pada dada bidang milik Kun. Nyatanya tiga detik itu tidak cukup tuk menarik rasa penasaran Ten.

Kun hanya bisa menghela napas, segera ia menarik tubuh Ten—mengganti posisi mereka, yang kini Kun rebahan di atas sofa serta Ten yang berada di atasnya. Posisi yang cukup intim dan mampu mengundang kesalahpahaman jika saja ada orang ketiga di ruangan ini.

Tanpa ia sadari, perlahan tangannya mengusap puncak kepala Ten—entah mengapa rasanya ini adalah hal yang tepat untuk dilakukan sekarang. Sementara itu Ten? Dia hanya diam, namun karena posisinya yang sekarang, ia bisa merasakan detak jantung Kun; terdengar stabil, namun perlahan mulai berpacu lebih cepat. Seolah tidak dapat menahan perasaannya yang menggebu-gebu.

Ten perlahan bangun, lalu kedua tangannya bertumpu di antara kepala Kun. Atmosfernya terasa berbeda, hari ini entah mengapa ada sesuatu yang berbeda; sensasi yang menggelitik dan penuh rasa penasaran. Hal itu perlahan mendorong Ten tuk lebih dekat lagi pada Kun—sampai kening mereka saling bertemu; menyisakan sekian centi antara jarak bibir mereka, “Kun..” suara Ten terdengar lembut, nyari membuat jantungnya melompat pergi meninggalkan tempatnya.

Kun juga tidak mengerti, tapi bisikan untuk menarik Ten lebih dalam; ingin merengkuh tubuh itu erat, mencari kehangatan ataupun memberinya kehangatan; yang sebenarnya hal itu sama-sama dicari oleh kedua insan.

Tidak ada kata terucap, namun Ten menempelkan sejenak bibirnya pada bibir Kun. Kun juga tidak membalasnya, dia terdiam—entah apa yang ada dipikiran lelaki tersebut namun segala tentang Ten serasa menghipnotisnya. Sampai pada akhirnya Kun menggunakan satu tangannya; secepat kilat terselip di belakang kepala Ten lalu mendorongnya sampai bibir itu berjumpa lagi dengannya.

Bibir saling mengecup, lidah saling mengecap satu sama lain; terkadang juga secara usil memasuki—meski nyatanya dalam perang dominan kali ini Kun lebih menguasainya. Bunyinya terdengar mesum—nyaring dan menggoda. Ruang tamu yang mulanya dingin karena pendingin ruangan, kini terasa panas. Ten memiringkan sedikit kepalanya, dan Kun menangkap sinyal itu dengan cepat lalu mendorong masuk lidahnya ke dalam mulut Ten.

Perseteruan itu berlangsung cukup lama—sampai Ten lah yang pertama melepasnya; matanya menatap Kun dalam sebelum pada akhirnya Kun memaksanya untuk kembali tidur di atas dada bidangnya. Lalu Ten? Masih diam berpikir; fakta bahwa dirinya tidur di atas Kun tidak membantu dirinya tuk berpikir jernih, justru malah menaikkan gejolak dalam dirinya yang sebaiknya dia pendam saja untuk saat ini. Yang terekam hanya bagaimana lidah Kun mampu mendominasinya tadi, dan bagaimana tangan Kun yang menggenggam erat—juga mengusap pelan kepala bagian belakangnya, memaksa cumbuan itu berlangsung lebih lama.

Tapi, Ten masih ingat jelas, awal mula dari terjadinya hal ini bukan’kah karena sekedar keingintahuan dirinya mengenai tumbuh kembang Kun terutama pada bagian dadanya—maksudnya tubuh Kun; otot-ototnya yang mampu membuat pikiran Ten kemana-mana. Kenapa sih berakhir seperti ini? Berakhir dengan dirinya yang beristirahat pada dada bidang Kun serta tangannya yang melingkar pada tubuh Ten; seolah ia akan kabur jika Kun tidak memeluknya seperti ini akibat kejadian tidak terduga barusan.

Masih sibuk berkutat dengan pikirannya, tiba-tiba saja Kun mengatakan sesuatu,

“Lain kali kau tinggal bilang saja.”

“....berisik.”

Padahal tiap perdebatan terjadi, siapapun yang memulai duluan—Ten selalu dapat memenangkannya. Tetapi untuk hari ini? Biarlah kekalahan ini ia terima dengan lapang dada, lagipula saksinya hanya dirinya dengan Kun seorang.