Work Text:
Sebut saja Bakugo Katsuki memang sudah gila. Rasa sedih dan putus asa yang berlarut sejak ditinggal sang kekasih karena tragedi kecelakaan parah membuat Katsuki sudah kehilangan akal. Masih teringat dengan jelas dalam ingatannya bagaimana keadaan kekasihnya setelah tertabrak truk berkecepatan tinggi, genangan darah di sekitar tubuh lemah sang kekasih. Dan dipangkuannya, Katsuki melihat senyum terakhir sang kekasih sebelum pergi untuk selamanya.
Bekerja menjadi salah satu ilmuwan di perusahaan robotik besar memberikan Katsuki sedikit keuntungan. Diam-diam di ruang kerja pribadinya, Katsuki membuat sendiri robot manusia atau humanoid yang sangat mirip dengan mendiang kekasihnya. Diam-diam pula Katsuki mencuri beberapa organ dalam tubuh mendiang kekasihnya dan memasangkannya pada robot manusia yang ia buat.
Hampir tiga tahun lamanya Katsuki bekerja keras demi menghidupkan kembali sang kekasih, usahanya tidak sia-sia. Tiga tahun kemudian robot manusia ciptaannya terbangun. Katsuki bahagia bukan main, ia bisa melihat kembali wujud kekasihnya bergerak. Katsuki memeluk tubuh humanoid yang berhasil ia bangkitkan dan menciumnya, seakan melepas rasa rindu bertahun-tahun yang tertahan.
Namun respon yang Katsuki dapatkan dari humanoid yang ia buat tidak seperti yang ia ekspektasikan. Mendiang kekasihnya yang merupakan pribadi ceria, menyenangkan, dan murah senyum sangatlah berbanding terbalik dengan humanoid yang ia ciptakan. Sang humanoid hanya terdiam ketika Katsuki memeluknya atau menciumnya. Bahkan sorot mata yang teduh dari mendingan kekasihnya tidak Katsuki dapati dalam iris mata humanoid itu.
Mungkin Katsuki yang terlalu berharap lebih pada sosok robot yang ia ciptakan. Seharusnya Katsuki sadar jika pada dasarnya robot tidak memiliki perasaan sama halnya dengan manusia. Katsuki harus menelan rasa kecewanya. Meskipun kecewa, setidaknya sekarang ia bisa melihat langsung wujud mendiang kekasihnya.
Katsuki lantas menamai robot manusia itu dengan Zero, yang Katsuki artikan sebagai nol: wajah tanpa ekspresi.
“Aku pulang.” Katsuki memasuki apartemennya dengan wajah yang lesu. Tidak ada sambutan setiap kali ia sampai di rumah, meskipun sudah sejak beberapa bulan yang lalu Zero mulai tinggal bersama dirinya.
Katsuki baru saja menaruh coat yang ia pakai ketika ia mencium bebauan menggugah selera dari arah dapur. Perlahan Katsuki berjalan menuju dapur, tubuhnya terdiam di pintu dapur ketika melihat Zero tengah berdiri di depan kompor dan tidak lupa celemek memasak yang sering mendiang kekasihnya pakai ketika memasak dulu.
“Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Katsuki, walaupun Tokiya sendiri jelas tahu jika Zero itu sedang memasak.
Sang humanoid menoleh menatap Katsuki. Wajahnya masih berekspresi datar, masih sama sejak pertama kali ia dibangunkan. “Membuat makanan,” jawabnya, “kau butuh makan.”
Katsuki berjalan mendekat perlahan, ia mengintip ingin melihat apa Zero masak. “Kare?” tanya Katsuki.
“Hanya bahan-bahan ini yang ada di kulkas. Keberatan?” tanya Zero.
Katsuki dengan cepat menggeleng, “tidak. Tidak apa, aku akan memakannya,” ucap Katsuki. “Aku akan mandi terlebih dulu sebelum makan,” ucap Katsuki lagi. Zero hanya mengangguk pelan sebelum kembali sibuk dengan kare yang ia masak.
Katsuki menatap sedih punggung Zero. Zero memiliki raga mendiang kekasihnya, tetapi kenapa tidak pula dengan kepribadian mendiang kekasihnya?
“Apa yang kau lihat?” Katsuki tersentak kaget ketika tiba-tiba wajah Zero sudah sangat dekat dengan wajahnya. Katsuki terlalu larut dalam lamunannya hingga tidak sadar jika Zero sudah berbalik menatapnya.
“Ah, tidak! Aku akan segera mandi dan makan!” tukas Katsuki kemudian berjalan menuju kamarnya. Meninggalkan Zero sendiri.
***
Hari-hari berikutnya Katsuki jalani dengan adanya Zero di sampingnya. Namun, meskipun begitu, hati Katsuki terasa kosong. Hanya raga mendiang kekasihnya saja yang bersamanya, tidak dengan kepribadian mendiang kekasihnya.
Kirishima Eijiro, mendiang kekasihnya yang telah meninggalkannya tiga tahun yang lalu. Semasa hidupnya, Eijiro selalu menempeli Katsuki ke mana-mana, pergi bersama Katsuki, menemani Katsuki, menjadi sosok yang selalu ada untuk Katsuki kapanpun Katsuki membutuhkannya.
Eijiro yang selalu tertawa dan ceria, selalu berusaha membuat Katsuki tersenyum bahkan tertawa. Pusat dunia Katsuki ada pada Eijiro, kekasihnya. Pun sebaliknya, Eijiro akan melakukan berbagai cara untuk membuat Katsuki merasa bahagia.
Namun takdir berkata lain yang harus memisahkan mereka berdua.
Zero, fisik dan rupa memang menyerupai Eijiro. Namun tidak dengan kepribadiannya. Setiap malam, Katsuki hanya bisa menangis dalam diam. Ia ingin memeluk tubuh Eijiro—Zero—, menciumnya, melepas rasa rindu yang sudah ia pendam bertahun-tahun lamanya.
Namun setiap kali Katsuki melakukannya, hanya dingin yang menyapa kulitnya. Hanya diam yang membalas ucapan sayangnya. Hanya tatapan datar yang membalasnya tatapannya ketika berkali-kali ia mengajak Zero berbicara.
Batin Katsuki tidak siap, maka yang ia lakukan hanyalah menangis disetiap malamnya. Apakah salah Katsuki kembali mencoba membangkitkan Eijiro? Apakah salah bagi Katsuki menginginkan kekasihnya untuk bersamanya lagi? Apakah ini karma baginya karena sudah menyalahi takdir yang ada?
Katsuki menyesal? Tidak.
Katsuki sedih? Iya.
Katsuki tidak mengerti. Enam bulan berikutnya ia sudah berusaha semaksimal mungkin memprogram kembali Zero agar semirip mungkin dengan Eijiro, namun sosok hangat Eijiro sama sekali tidak terlihat menyapanya.
Suatu malam, sebelum Katsuki benar-benar tertidur, ia mendengar pintu kamarnya terbuka. Tidak lama kemudian ia merasakan pergerakan di bagian kosong ranjangnya. Lalu, Katsuki terperanjat membuka kedua matanya ketika merasakan sosok dingin memeluk tubuhnya dari belakang.
“Jangan menangis.” Katsuki mendengarnya. Pelukan itu semakin erat. “Aku merasa aneh ketika melihatmu menangis. Apa aku tidak suka?” tanyanya.
Air mata Katsuki kembali mengalir. Ia menggigit bagian dalam pipinya, menahan agar isakan tangis tidak keluar dari mulutnya.
Katsuki memutuskan untuk berbalik. Menatap mata Zero yang juga ikut menatapnya.
“Dingin.” Katsuki berbisik.
“Maafkan aku.”
Katsuki menggeleng, “kau tidak bersalah. Aku yang bersalah,” ucap Katsuki lirih.
“Maaf aku tidak bisa menjadi Eijiro yang kau inginkan.”
Air mata Katsuki semakin deras mengalir. Jemari dingin Zero menyapu pelan pipi Katsuki, mengusap air mata yang masih saja mengalir.
“Jangan menangis lagi. Aku ada di sini.”
Katsuki tidak merespon apapun, ia menggeser tubuhnya, lebih mendekatkan tubuhnya pada tubuh Zero dan menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Zero.
Elusan pelan pada rambutnya membuat Katsuki merasa nyaman. Itu adalah salah satu kebiasaan Eijiro saat membantunya untuk bisa tidur dengan cepat. Katsuki memeluk tubuh Zero, berusaha memejamkan kedua matanya lagi.
“Aku dingin.” Zero berucap.
“Aku tahu,” balas Katsuki.
“Maafkan aku.”
“Jangan minta maaf,” ucap Katsuki. “Terima kasih sudah bangkit, Zero,” bisik Katsuki.
“Tapi aku bukan Eijiro yang kau cari.”
Katsuki menggeleng lagi, “kau Zero!” tukasnya. “Jangan tinggalkan aku lagi, Zero.”
Zero tidak tahu harus menjawab apa. Ia balas memeluk tubuh Katsuki, kemudian mendaratkan kecupan kecil di kening Katsuki.
Katsuki mungkin mulai menyadarinya. Ia harus melangkah maju dan berusaha bangkit dari masa lalunya. Eijiro mungkin sudah tenang di alam sana. Ia harusnya bersyukur, mulai sekarang akan ada Zero yang akan terus menemaninya.
—FIN
