Actions

Work Header

bahagia ini lengkap sudah

Summary:

“Kamu cakep banget, deh, kalau lagi ngelepas gorden.” Ucap Phainon—ringan, polos seperti tanpa dosa. Seperti kata-kata yang baru saja dia ucapkan itu normal.

“… Gak jelas,” Mydei berusaha untuk bangkit dari atas Phainon, tapi kuncian pria itu terlalu kuat. Akhirnya Mydei mengalah.

Mereka menghabiskan menit dengan menatap satu sama lain, jemari Phainon meraih helai-helai rambut emas dan menyelipkannya ke belakang telinga Mydei, kemudian ibu jarinya membelai ujung bibir, naik ke pipi, dan tulang pipi, hingga pelipis Mydei. Seperti kucing, Mydei mendambakan sentuhan Phainon. Kedua matanya terpejam, tenteram.

Hangat. Hati Phainon rasanya penuh sekali.

— Phainon, Mydei, dan hari Minggu pagi.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Phainon mengerjapkan matanya. Satu, dua kali. Cahaya mentari pagi mengintip malu-malu dari balik tirai putih yang menutupi jendela di hadapannya. Tangannya meraba-raba ke bawah bantal, mencari ponsel pintarnya yang biasa ia selipkan di sana. Dengan mata yang setengah tertutup, ia melihat layarnya—pukul 7 pagi.

Ah. Masih kepagian. Tidur lagi, deh.

Tepat ketika dia hendak menaikkan selimutnya dan membiarkan hangatnya ranjang di pagi hari untuk mengundangnya kembali ke alam tidur, selimutnya… tidak mau naik? Tertahan di pinggang? Halo?

Dengan gusar Phainon mendecakkan lidah, lalu mengeluarkan seluruh tenaganya (yang masih nol persen, karena ini Minggu pagi dan lagipula siapa yang punya tenaga di Minggu pagi buta begini?) untuk merebut selimut tebal dan hangat miliknya itu dari si tangan jahat di ujung sana.

            “Phainon. Udah pagi.”

Si tangan jahat itu bersuara! Dan… dan suaranya tidak asing.

(Tentu saja. Itu ‘kan suara pujaan hatinya.)

            “Mydeiiiii...” Phainon mengerang, malas. “Masih ngantuk…”

Terdengar suara helaan napas. Kemudian Phainon bisa merasakan si pujaan hati—Mydei, melangkah menghampiri untuk menarik Phainon untuk bangkit dari kepompong super hangatnya.

            “Buka dulu matanya. Nanti juga bangun.”

            “Gak bisa, ayanggg… Ini kayak… Kayak kena lem gitu. Lem industrial grade…” Leher Phainon bahkan enggan untuk menopang kepalanya. Sempoyongan. Berayun-ayun. Mau bobo lagi…

            “Apaan sih… Udah, ayo bangun. Aku udah bikin protein shake buat kamu juga.” Mydei dengan lembut menyisir rambut kekasihnya itu dengan jari jemarinya, menyingkirkannya sehingga tidak lagi menutupi dahi dan mata Phainon. Ia mendengus, “Rambut kamu kayak sarang burung. Kusut banget.”

Bibir bawah Phainon maju beberapa senti. Manyun. Kedua lengannya melingkar di pinggang Mydei, menariknya mendekat supaya ia bisa menyandarkan kepalanya di perut sang kekasih.

            “Masa’ hari ini mau ke gym lagi? Males ah… Paha aku masih sakit, nih, bekas leg day kemarin…” Pria bongsor itu merengek, tangannya mengelus-ngelus pahanya yang masih pegal-pegal. “Semalem aja aku gak kuat lama-lama genjotin ka—aduh!”

Phainon kena tempeleng.

            “Salah sendiri quads kamu lemah.”

            “Gitu-gitu juga kamu suka paha aku, kan?”

Mydei tidak mengelak. Sejak awal mereka bertemu, bahkan sampai saat ini, ia selalu menganggap bahwa kedua paha Phainon yang padat dan berisi adalah salah satu aset Phainon yang paling menarik perhatiannya. Terkadang ia suka mengingat-ingat tiap kali ia berada di antara paha Phainon… Mengingat sensasi bagaimana keduanya perlahan menutup… Menjepit kepalanya—Ah, stop, stop! Kok pikirannya malah ke mana-mana!

            “Udah bangun, kan? Sana, cuci muka dulu. Terus kita berangkat.” Mydei berusaha melepaskan diri dari cengkeraman lengan Phainon yang bagai gurita di sekitar pinggangnya. Jelas-jelas menolak lepas. Kayak bayi koala. “Phainon, lepasin… Aku mau lepas gorden. Mau dicuci hari ini.”

Meskipun aslinya ogah, Phainon mengalah. Ia biarkan pacarnya lolos, bergerak menuju gorden yang menutupi jendela kamar mereka, netra Phainon mengikuti dengan saksama tiap gerak-gerik Mydei yang dengan cekatan melepas kait-kait gorden putih tersebut.

Phainon lihat semuanya. Dari bagaimana silau matahari menerpa helai keemasan milik Mydei, menghiasi kepalanya bagaikan mahkota, seperti surai si raja hutan, lalu wajahnya yang rupawan dan ekspresi seriusnya, bagaimana fokusnya hanya tertuju kepada kait-kait besi di atas, sampai akhirnya Mydei menoleh, dan oh—Phainon lihat bagaimana pandangan matanya melembut, menatapnya dengan sayang.

            “Phainon?”

Sayang. Sayang. Sayangku.

Phainon mengulurkan tangannya, impulsif, lalu menarik Mydei hingga laki-laki itu kehilangan keseimbangannya dan terjatuh di atas Phainon, di atas kasur mereka. Mydei yang terkejut bukan main tentu saja langsung mengomel.

            “Dongo! Apaan, sih?! Nanti kepala kamu kepentok aku gimana?!” Gerutu Mydei. Gorden putih di pelukannya menjadi bantalan yang mengganjal antara tubuhnya dengan Phainon di bawahnya. Dengan cekatan pemuda berambut salju itu melingkarkan kedua lengannya di pinggang Mydei, menahannya agar tidak kabur.

            “Hehe. Dapet Mydei.”

            Helaan napas, lagi. “Ngapain sih, kamu…”

            “Kamu cakep banget, deh, kalau lagi ngelepas gorden.” Ucap Phainon—ringan, polos seperti tanpa dosa. Seperti kata-kata yang baru saja dia ucapkan itu normal.

           “… Gak jelas,” Mydei berusaha untuk bangkit dari atas Phainon, tapi kuncian pria itu terlalu kuat. Akhirnya Mydei mengalah, membiarkan tubuhnya memberatkan kekasihnya.

Mereka menghabiskan menit dengan menatap satu sama lain, jemari Phainon meraih helai-helai rambut emas dan menyelipkannya ke belakang telinga Mydei, kemudian ibu jarinya membelai ujung bibir, naik ke pipi, dan tulang pipi, hingga pelipis Mydei. Seperti kucing, Mydei mendambakan sentuhan Phainon. Kedua matanya terpejam, tenteram.

            Hangat. Hati Phainon rasanya penuh sekali.

            Phainon melirik ke arah gumpalan gorden di dekapan Mydei, dan sebuah ide bodoh terlintas di benaknya. “Dei, pinjem gordennya sebentar,” bisiknya.

Mydei, meski jelas terpatri raut bingung di wajah tampannya, tetap menyerahkan gorden tersebut kepada Phainon. Pria dengan tato matahari di lehernya itu kemudian mengubah posisi mereka—kini mereka duduk, berhadapan. Gorden putih di tangan Phainon.

Perlahan, ia angkat gorden putih tersebut. Dengan hati-hati, Phainon bentangkan gorden putih di atas kepala Mydei, membiarkan kain lembutnya terjatuh, menggantung menghiasi kepala sang pujaan hati.

Seperti kerudung pengantin.

            “Tuh, kan. Cocok.” Senyuman Phainon lebar sekali. “Kayak pengantin.”

Rona merah mewarnai pipi Mydei.

            “Hah?! Siapa yang pengantin?!”

            “Kamu. Pengantinnya aku.”

Dasar gak tahu malu.

            Tidak mau kalah, Mydei tarik ujung gorden yang masih menganggur untuk menutupi kepala Phainon juga. Sekarang mereka berdua tampak konyol, duduk berhadapan dengan gorden putih di kepala mereka.

            “Hmm…” Mydei mengernyitkan dahi. “Rambut putih ditimpa kain putih kayaknya too much.”

            “Dih, maksud kamu orang yang rambutnya kayak aku gak boleh pake kerudung pengantin, gitu?”

            “Bukan gitu, tolol,” sangkal Mydei. “Cari kain yang lebih tipis. Kalau kayak begini yang ada kamu kayak hantu.”

            “Kalau aku jadi hantu, aku hantuin kamu,” Phainon mengangkat kedua tangannya seperti vampir jadi-jadian, berniat menakut-nakuti. Gestur bodohnya hanya disambut oleh dengusan dari Mydei. “Kalau kamu bawa cowok lain ke sini, aku gentayangin dia juga. Aku suruh pergi,” ucapnya. “Mydei udah ada yang punya.”

            “Siapa?”

            “Aku.”

            “Yang nanya.”

Phainon menerjang Mydeimos. Membawanya berguling, ke sana kemari. Tangan jahilnya menyusup ke bawah baju Mydei, menggerayangi, menggelitiki bagian pinggir perut pacarnya, padahal ia tahu betul Mydei sangat, sangat mudah merasa geli. Gelak tawa memenuhi kamar mereka       , sesekali diiringi suara rintihan Phainon yang menahan sakit karena Mydei berhasil melayangkan satu, dua pukulan dan tendangan ringan ke arahnya.

            “P-Phai… Udah! B-Bangsat, ah, geli!” Mydei berseru di sela-sela tawanya, “Phainooon…

            Phainon menghentikan gerakan tangannya. Ia menatap Mydei yang terbaring tepat di bawahnya—rambut keemasan digerai, pipi memerah, sisa tawa yang belum luput sempurna dari wajahnya, seprai putih, Minggu pagi, dan hangat mentari.

Hanya mereka berdua dan kekonyolan di pagi hari. Hanya sepasang kekasih dan canda tawa. Hanya Phainon dan Mydei.

Mata biru lautnya terasa perih sedikit, rasanya seperti ada yang ingin tumpah keluar.

            Sayang.

Ia mendekatkan wajahnya, membiarkan deru napasnya menerpa wajah Mydei. Kecupan singkat ia layangkan ke arah bibir kesayangannya.

            “Dei…” Phainon berbisik, “Dei, aku sayang sama kamu.”

            Mydei bergumam, pelan. “Tiba-tiba melankolis begini?”

            “Beneran…” Phainon menjawab lirih, sembari membubuhkan ciuman-ciuman kecil di seluruh wajah Mydei. Bibir… Ujung bibir… Pipi… Pucuk hidung… Kedua kelopak mata… Terakhir, kening Mydei. “Dei, Mydeimos...”

            “Mydei.”

            “Iya, Phainon.”

            “Sayang…”

            “Mm-hm.”

            “Sayangku.”

Phainon menyatukan dahinya dengan dahi Mydei. Dalam hening ia bisa mendengar suara detak jantung mereka yang beriringan. Ia pejamkan mata, dan ia bisa melihat mereka berdua. Melewati hari Minggu yang tak terhingga jumlahnya.

Mydei yang bangun lebih pagi, dan Phainon yang suka tidur sampai siang. Sesekali Phainon akan membantu Mydei menyiapkan sarapan, meski terkadang kekasihnya itu akan mengomel, tidak suka karena Phainon payah sekali menjaga dapurnya tetap bersih dan rapi.

Mydei yang tidak pernah lupa membangunkannya setiap pagi. Tidak pernah absen membantunya mengikat dasi sebelum berangkat ke pekerjaan masing-masing.

Mydei yang tidak suka ketika Phainon lupa menaruh pakaian kotornya di keranjang cucian. Yang netranya selalu berkilat senang setiap Phainon membuatkan panekuk berlumur madu untuknya sebagai permintaan maaf.

Mydei yang tidak pernah membiarkan mereka tidur dalam keadaan bertengkar. Yang selalu menjadi pendengar dan penawar seluruh lara. Yang tidak pernah berhenti percaya kepada Phainon, dan mereka berdua.

Mydei.

Mydeimos.

 

Sayangku.

Bahagia ini lengkap sudah.

Bersama-sama.

Hingga nanti kita tutup mata.

Hingga nanti ajal kita tiba.


 

Notes:

uh... kebawa emosi karena habis ngeliat trailer 3.3. ujung-ujungnya malah nulis fic ini kayak orang kesetanan sampai jam 3 pagi... maaf kalau ada salah ketik... asli mata gue udah sisa 3 watt...

inspirasi dari lagu batas senja yang judulnya 'nanti kita seperti ini'. salahin pais bebek karena udah ngenalin gue ke lagu itu.

i just want phaidei to get the happy ending they deserve...