Chapter Text
Phutatchai mengembalikan ponselnya ke kantong setelah menerima telpon dari pacarnya dengan kalimat yang sudah Ia dengar sebanyak lima kali di minggu ini. Sebuah kalimat, “maaf ya Phu, aku gak bisa. Kamu sendiri dulu gak apa-apa?” adalah kalimat yang sudah menjadi makanan Phutatchai sehari-hari. Bukan hal yang baru jika pacarnya akan membatalkan rencana pergi mereka tiba-tiba. Bahkan untuk ajakan makan saja, tidak jarang ditolak oleh pacarnya yang katanya sudah ada rencana lain yang Phutatchai tidak tahu apa.
Phutatchai tidak jadi pergi makan, kakinya melangkah ke apartemen sahabatnya, Thai. Disana Ia akan meminta makan dan mungkin mengeluh sedikit jika perlu. Phutatchai merasakan perubahan yang sangat drastis dari Ashi, pacarnya, di tahun kedua hubungan mereka. Di tahun pertama, mereka masih sering pergi keluar untuk berjalan-jalan atau sekedar makan, tidak jarang Phutatchai berkunjung ke apartemen pacarnya begitupun sebaliknya. Sekarang, Ashi seperti tidak punya waktu untuknya, dan Phutatchai benci dengan hal itu.
“Udah gue bilang, bosen dia sama lu,” ujar Thai menanggapi keluhan Phutatchai yang masih sama di bulan ini.
Phutatchai memukul lengan Thai, “jaga omongan lu, anjing.”
Thai tertawa, “kalian kapan terakhir ketemu?” tanya Thai.
“Ketemu sebentar buat makan atau ngobrol di cafe sekitar dua minggu lalu.”
Thai melemparkan bola kecil yang entah Ia dapat dari mana, “tapi lu gak ngerasa aneh ya?”
Phutatchai menoleh, “kenapa?”
“I always feel you’re falling in love alone,” ucap Thai.
“Ngaco.”
“Have you seen his eyes? The way he looks at you, the way he talks, everything. Every time I see both of you together, I feel the love from you is big, but he has nothing for you. He’s just there, physically, ” Thai menjelaskan. “Your eyes sparkling every time you see him, every time you’re with him, even when you’re talking about him. Phu, I’m saying this as your best friend, I don’t think he has the love for you like you did for him. I don’t think he has any feelings for you."
Mendengar itu, Phutatchai tertawa walau ada sedikit kilatan getir di mata, “Thai, you don’t know him as much as I know him. He’s not good at showing and expressing his love, it doesn’t mean he didn’t love me. He loves taking pictures and he often took our picture or my picture, I think that’s his way to show his love.”
Thai mengangguk, “bisa jadi. Gue terlalu cepat menyimpulkan mungkin, maaf ya.”
Phutatchai mengangguk, kembali fokus dengan makanan yang sudah tidak ada rasanya bagi Phutatchai karena sesungguhnya, Ia juga tidak begitu mengenal pacarnya sendiri. Pahit adalah satu-satunya hal yang bisa Ia telan sekarang karena dalam hatinya, Phutatchai membenarkan ucapan Thai.
Phutatchai sadar dengan semua itu, tapi dirinya selalu menolak. Hati dan otaknya menolak bahwa Ashi tidak memiliki rasa apapun padanya. Phutatchai sudah menyadarinya sejak hubungan mereka berjalan tiga bulan. Phutatchai sering menyampaikan perasaan sayang dengan mengatakan Phutatchai menyayangi Ashi. Ashi menjawab dengan hal yang sama, selalu. Bahkan sampai detik ini jawaban Ashi hanya, “terima kasih, Phu.” Tidak pernah ada balasan dari Ashi bahwa Ia juga menyayangi Phutatchai.
Satu hal yang Phutatchai tahu tentang pacarnya adalah Ia suka memotret. Selama ini, Phutatchai lah otak dibalik seluruh agenda kencan mereka, akan tetapi ada momen dimana Ashi akan memotret tempat yang mereka kunjungi dan tidak jarang Ashi memotret Phutatchai. Maka sejak itu, setiap Ashi mengarahkan kameranya pada Phutatchai dan menekan tombol shutter pada kamera, maka itu adalah ucapan sayang dari Ashi untuk Phutatchai. Setidaknya itu lah yang ada di kepala Phutatchai selama ini.
Di makan malam perayaan satu tahun hari jadi mereka, semua terasa sedikit berbeda. Ashi bukanlah orang yang banyak berbicara, tapi malam itu Ashi berbicara lebih banyak dari biasanya. Phutatchai tidak keberatan, justru itu adalah hal yang sangat Ia tunggu-tunggu. Phutatchai sedikit merasa berada di atas awan dengan perubahan Ashi malam itu, and because of that, Phutatchai can’t help but to kiss Ashi on his lips. He wants to show his adoration and shower his beloved boyfriend with all the love he has for him. Phutatchai masih ingat senyum Ashi malam itu, dibawah lampu restaurant, Ashi bersinar dengan cerah. Malam itu, di hari jadi mereka, Phutatchai dibuat jatuh cinta lagi oleh sosok Ashi.
Phutatchai pikir, hanya sampai malam itu. Tapi saat melihat Ashi di depan pintu apartemennya pagi itu, Phutatchai benar-benar berada di atas awan. Semua skinship yang mereka lakukan, meskipun atas dasar consent dari Ashi, adalah hal yang selalu dinisiasi oleh Phutatchai. Tapi tidak dengan pagi itu karena Ashi lah yang langsung membawa Phutatchai ke dalam pelukannya. Ashi langsung tenggelam dalam diri Phutatchai, Phutatchai mengelus kepala dan punggung pacarnya, mencoba memberikan ketenangan pada Ashi meskipun jantungnya sendiri berdetak seribu kali lebih cepat.
Phutatchai menatap Ashi yang masih dalam pelukannya, “kamu kenapa?” tidak biasanya Ashi bertingkah seperti ini, meskipun dalam hati Phutatchai sangat senang dan berdoa semoga mereka bisa seperti ini selamanya.
“Gak apa-apa, udah lama gak liat kamu aja.”
Phutatchai tertawa mendengar jawaban Ashi, tidak menyangka jawaban itu yang akan keluar dari mulut pacarnya, “kita baru makan malem kemarin buat rayain anniversary kita?”
"Kangen aja,” jawab Ashi. Mungkin Ashi tidak menyadari, tapi kalimat yang keluar dari mulut Ashi sangat tidak baik untuk jantung Phutatchai saat ini.
Dan kalimat setelahnya yang keluar dari mulut Ashi benar-benar membuat Phutatchai menjadi jelly.
Dengan tangan yang berada di pipi Phutatchai, Ashi bertanya seraya menatap mata yang lebih tua, “can I kiss you, Phu?” Siapa lah Phutatchai yang bisa menolak permintaan yang tersayang?
Saat Ashi menyatukan kedua bibir mereka, seluruh saraf dalam tubuh Phutatchai rasanya tidak berfungsi. Phutatchai lemas, tidak bisa berpikir, kepalanya berteriak Ashi lah yang menciumnya terlebih dahulu. Dirinya hanya terfokus kepada ciuman yang dilakukan oleh Ashi dengan kedua lengan Ashi melingkar sempurna di lehernya.
Ashi menekan leher Phutatchai, membawa ciuman keduanya lebih dalam. Ashi mengigit bibir bawah Phutatchai, membawa lidahnya untuk mengeksplor mulut Phutatchai lebih dalam. Ashi melepaskan ciuman keduanya disaat pasokan oksigen diantara mereka menipis, dan saat ciuman itu terlepas, Phutatchai baru bisa mencerna semua yang terjadi.
Phutatchai menatap pacarnya, sosok Ashi yang selalu Ia puja di kepala, sosok yang Ia cintai dengan sangat besar. Ashi adalah sosok yang cantik, terlalu cantik. Tapi bagi Phutatchai, hari ini Ashi terlihat dua ribu kali lebih cantik. Phutatchai terhipnotis oleh kecantikan pacarnya pagi itu.
“Can I have more?”
Hearing that, Phutatchai lost his control. Phutatchai membawa Ashi ke dalam ciumannya, satu lengannya melingkar di pinggang Ashi dan satu tangannya menekan leher Ashi untuk membawa ciuman mereka lebih dalam. Phutatchai mengigit bibir bawah Ashi, hal yang selama ini Phutatchai ingin lakukan, mengeksplor mulut Ashi, mencium Ashi dengan sungguh, menyuarakan seluruh pujaan yang ada di kepalanya untuk Ashi melalui ciuman ini, menyalurkan seluruh sayang yang tidak terbendung.
Ashi yang melepaskan ciuman mereka kali ini, Phutatchai tidak menyadari terkait pasokan oksigen yang sudah habis kala itu. Dirinya hanyut ke dalam ciuman mereka berdua.
Setelahnya, Ashi menenggelamkan wajahnya pada leher Phutatchai, “aku ngantuk..”
Phutatchai menahan sorakan dalam dirinya, pagi ini adalah hari pertama Ashi bertingkah clingy dan Phutatchai sangat menyukainya. Ini adalah hal yang selalu Ia semogakan dan terjadi hari ini.
“Mau aku temenin bobo nya?”
“Boleh?” tanya Ashi dengan mata yang membulat meskipun sudah terlihat mengantuk. Phutatchai benar-benar sedang menahan dirinya untuk tidak mengelus Ashi dan memberikan afeksi berlebih karena takut Ashi tidak nyaman walaupun Ia ingin.
“It's seven in the morning, I don't mind accompanying my boyfriend to sleep at this hour. ”
Ashi tersenyum mendengar jawaban Phutatchai, “thank you,” ucapnya dengan kecil. Phutatchai melihat ada binar di mata Ashi, binar yang jarang muncul di mata Ashi, kali ini muncul dengan sangat cantik. Semoga Phutatchai bisa melihat binar itu selamanya.
Setelahnya Phutatchai merangkul Ashi dan mengajaknya ke dalam kamar. Ashi berbaring di sebelah kiri Phutatchai dengan tangan kiri Phutatchai sebagai bantal, Phutatchai menyelimuti tubuh mereka berdua dan memeluk pinggang Ashi dengan tangannya yang bebas.
Phutatchai mengelus kepala Ashi, “sleep tight, sayang,” lalu setelahnya ikut masuk ke dalam alam mimpi.
Kali ini, Phutatchai tidur dalam keadaan tersenyum. Sudah lama Phutatchai tidur dalam keadaan gelisah, memikirkan hubungannya dengan Ashi apalagi hati dan otak yang tadinya satu, kini mulai kembali berperang.
Otak Phutatchai berkata bahwa Ashi tidak menyukainya, Ashi tidak memiliki perasaan apapun padanya. Sedangkan hati Phutatchai masih berpegang dengan kepercayaan bahwa Ashi juga menyukainya, bahwa seluruh potret Phutatchai yang difoto oleh Ashi adalah bukti bahwa Ashi mencintainya, bahwa itu adalah salah satu cara Ashi mengungkapkan perasaannya.
Pagi ini, semua kegelisahannya terjawab. Phutatchai percaya bahwa perasaan keduanya sama, bahwa Ashi juga mencintainya, mereka berbagi rasa. Tidak ada hal yang lebih baik dari hal yang terjadi pagi ini, maka dari itu Phutatchai bisa tertidur dengan tenang dengan Ashi berada dalam pelukannya.
Semua manusia pasti pernah salah, sama seperti Phutatchai. Mungkin penilaiannya terhadap Ashi memang salah. Phutatchai bangun dengan keadaan Ashi yang menghilang bukan hanya dari dalam peluknya, tapi juga dari seluruh sudut apartemennya. Siang itu, Ashi pergi sebelum Phutatchai sempat membuka mata.
—
Phutatchai menatap langit-langit apartemennya yang berwarna putih. Ingatannya membawa dirinya kepada apa yang terjadi bukan hanya sehari setelah anniversary Phutatchai dan Ashi, tapi apa yang telah terjadi selama satu tahun lebih di hubungan mereka.
Dari awal memang Phutatchai duluan yang jatuh cinta pada Ashi, butuh beberapa bulan bagi Phutatchai untuk memiliki keberanian mendekati Ashi sampai akhirnya Phutatchai menyatakan perasaannya pada Ashi dan mengajak Ashi untuk berpacaran. Tidak sampai disana, Ashi tidak menolak pengakuan Phutatchai. Sore itu, Ashi menerima perasaan Phutatchai dengan baik dan mulai hari itu, Phutatchai adalah pacar Ashi. Setiap mengingat momen itu, Phutatchai selalu senyum-senyum sendiri.
Awalnya masih terasa kaku karena Phutatchai juga bingung harus apa. Ia tidak ingin membuat Ashi tidak nyaman, jadi, Phutatchai pelan-pelan mengubah suasana mereka sampai akhirnya mereka terlihat seperti pasangan pada umumnya.
Awalnya, Ashi tidak membicarakan banyak hal, lambat laun, Ashi mulai membicarakan tentang kuliah, tentang dosen yang menyebalkan, tentang mata kuliah yang menurutnya sulit dan mana yang Ashi lebih sukai. Hanya itu, pembahasan mereka selalu dalam lingkup perkuliahan saja.
Di sisi lain, ada Phutatchai yang akan bercerita tentang apapun. Phutatchai akan menceritakan dari a sampai z, menceritakan masa kecil, masa remaja bahkan pernah menceritakan bagaimana Ia semasa di dalam kandungan sang ibu.
Hanya saja, ada satu hal yang selalu dikerjakan oleh Phutatchai seorang diri. Rencana berkencan. Ashi tidak pernah memilih tempat atau menentukan kapan mereka akan bertemu, semua berasal dari Phutatchai dan Ashi akan selalu mengiyakan. Phutatchai tidak pernah keberatan, selama Ashi masih berada disampingnya, itu tidak masalah.
Tapi, jika dipikirkan lagi perkataan Thai sore ini, entah kenapa semua terdengar sangat masuk akal.
Semakin masuk akal saat Phutatchai menyadari bahwa pacarnya semakin menjauh, bukan hanya hatinya, kali ini juga fisiknya. Ashi tidak lagi mengiyakan semua ajakan Phutatchai, Ia akan menghindar dan Phutatchai sadar bahwa Ia sedang dihindari oleh pacarnya itu.
Semakin disadari jika Ashi menghindar setelah pagi itu, dimana Ashi datang ke apartemen Phutatchai secara tiba-tiba.
Memikirkan itu semua, hati Phutatchai menjadi sakit. Seperti ada sebilah pedang yang sedang menancap di jantungnya sekarang.
Kepala Phutatchai sangat berisik malam ini. Banyak pertanyaan berputar di kepalanya. Apa yang kurang dari dirinya? Apakah cinta yang Phutatchai berikan pada Ashi kurang? Apakah Ashi tidak bisa merasakan cinta yang Ia beri? Semua hal negatif masuk ke dalam otaknya sampai Phutatchai berpikir, apa Ia tidak pantas dicintai sampai pacarnya sendiri tidak bisa menyayangi dirinya seperti Phutatchai menyayangi Ashi?
Dua minggu Phutatchai mencoba untuk tidak menghubungi Ashi, menghilangkan seluruh jejaknya. Bersyukur fakultas mereka berada di tempat yang berjauhan, kesempatan mereka bertemu sangat kecil. Phutatchai berpikir, mungkin jika dirinya menghilang, Ashi akan mencarinya, mungkin Ashi akan menjadi orang pertama yang menghubungi dirinya. Nyatanya, nihil. Notifikasi yang masuk hanya berasal dari Thai, mengingatkan dirinya akan kelas dan tugas, hanya itu. Bahkan sekedar pesan basa basi pun tidak ada yang masuk dari Ashi.
Phutatchai tidak terima. Sudah lebih dari satu tahun dirinya terus berjuang sendirian, mau sampai kapan? Apa Ashi tidak bisa memberikan hal yang sama seperti apa yang Phutatchai selalu berikan padanya? Apa di mata Ashi, Phutatchai benar-benar tidak terlihat?
Tidak disangka, Ashi muncul di depan pintu apartemen Phutatchai di Sabtu sore yang sangat cerah bagi Phutatchai. Sang pemilik apartemen menatap sinis seseorang yang baru saja datang, “ngapain kamu disini?”
Ashi terdiam, tubuhnya tidak bergeming sedikitpun. “Ngapain kamu disini? Udah bosen sama kehidupan kamu yang gak ada aku itu? Gimana rasanya hidup kamu yang gak ada aku? Lebih enak, kan? Udah seneng-seneng sama siapa aja?”
“Phu,” Ashi memotong ucapan Phutatchai.
“Kenapa? Kamu marah? Yang berhak marah disini itu aku. Aku yang kamu tinggalin, kamu yang selalu menghindar dari aku seakan-akan aku ini hama di hidup kamu. Atau memang benar selama ini aku cuma hama di hidup kamu yang indah itu ya?” tanya Phutatchai dengan nada sarkastik.
“I’m sorry,” ucap Ashi. Phutatchai mendengus, “wow, finally the word sorry comes out from your mouth, but, sorry for what, Ashi? Kamu minta maaf untuk apa?”
“I’m sorry for being an ass, I didn’t mean to,” ucap Ashi. “I was just clearing my mind, sorry, I should’ve told you earlier.”
Phutatchai terdiam. Posisi kali ini mereka masih berada di depan pintu apartemen Phutatchai. Melihat itu Phutatchai menghela nafas, “come in.” Ashi mengangguk, mengikuti, “thank you.”
Setelahnya, Phutatchai dan Ashi duduk di sofa ruang tengah apartemen Phutatchai. Tidak ada yang berbicara setelahnya, hanya hening yang menemani mereka berdua sampai akhirnya Ashi berdeham, “Hm.. Phu, can I talk ?”
Phutatchai mengangguk, “go on.”
“My mind was a mess these past few weeks, I couldn’t think straight, that's why I need to take some time alone. Sorry, I should’ve told you earlier so you didn’t accuse me of anything. Maaf, Phu,” ucap Ashi.
Phutatchai mengangguk, “udah? Gitu aja? Gak mau bikin alasan lain yang pinter dikit?”
“Phu, aku serius.”
Phutatchai tertawa, “then why are you here?”
Ashi mengerutkan keningnya, “to see you, of course.”
“So you’re finally seeing me? Kamu sadar kalau aku ada?”
Ashi menggeleng, “kamu ngomongnya kemana-mana, Phu. Kamu marah?”
Tawa Phutatchai semakin keras, “kamu mikir lah, orang mana yang gak marah diperlakuin kayak gitu, Ashirakorn?”
Ashi terdiam, “kan udah aku bilang, aku minta maaf.”
“So you think that's enough?”
“Then what should I do, Phutatchai?”
Phutatchai menoleh ke arah Ashi dan setelahnya mata mereka bertatapan. Phutatchai mendekatkan wajahnya ke wajah Ashi, menahan wajah Ashi dengan jari telunjuk dan jempolnya berada di kedua pipi Ashi, “ now look at me, Ashi. Do you ever love me? ”
Ada ketakutan di mata Ashi yang Phutatchai abaikan, “say it, Ashi. Do you love me?” Phutatchai menekankan pertanyaan terakhirnya.
Ashi memejamkan matanya, mengalihkan pandangan dari mata Phutatchai, “I do, Phu.”
“Jawabnya sambil tatap mata aku, Ashi.”
Mendengar kalimat perintah dengan penuh penekanan itu membuat Ashi takut, jadi, Ashi membuka mata.
“Aku sayang kamu, Phu.”
Setelahnya, kilatan marah di mata Phutatchai perlahan berubah. Phutatchai hanya butuh mendengar satu hal, Phutatchai butuh mendengar pernyataan bahwa Ashi juga menyayangi dirinya seperti Phutatchai menyayangi Ashi. Hanya itu yang Phutatchai ingin dengar.
Phutatchai melepaskan cengkramannya pada wajah Ashi, terlihat jejak merah bekas jari Phutatchai disana. Melihat itu, Phutatchai mencium jejak merah di wajah Ashi, “I'm sorry I hurt you. ”
Ashi menggeleng, “that's okay.. kamu gapapa?” tanya Ashi seraya mengelus kepala Phutatchai.
Phutatchai mengangguk, “can you stay over tonight? ”
Ashi mengangguk, “I'm planning to do so.”
“But will you be there when I wake up? ”
Ashi tersenyum, “I'm not going anywhere, Phu.”
—
Setelah menginap sore hari itu, bagi Phutatchai, Ashi berubah. Berubah disini adalah sebuah hal baik karena Ashi melakukan hal-hal yang tidak pernah Ia lakukan dulu. Ashi mulai mengajak Phutatchai dalam sebuah kencan, memilih tempat makan dan tempat kencan mereka, bahkan tidak jarang Ashi membuat sebuah rangkaian acara mereka untuk hari itu. Phutatchai bahagia, ini lah yang Ia selalu inginkan. Rasa berbalas setelah apa yang semua Ia lakukan untuk Ashi. Meskipun Phutatchai melakukannya karena ingin, tapi rasanya tetap sangat membahagiakan jika pasangan kita melakukan hal yang sama kepada kita, bukan?
“Tapi feeling gue masih berkata, he doesn’t love you the way you did,” ucap Thai saat mendengar cerita Phutatchai tentang Ashi yang sudah Ia ulang berkali-kali.
Phutatchai menaikkan satu alisnya, “what do you mean?”
“As I said before, I didn’t see the love. There’s no spark in his eyes, only you. Lu masih jatuh cinta sendirian.”
Phutatchai tertawa, menganggap omongan Thai hanya sebuah candaan, “ngerti apaan sih lu? Punya pacar juga enggak.”
Thai melempar Phutatchai dengan bantal yang berada didekatnya, “gue pernah jadi Ashi, for your information. So, I knew it better than anyone else. ”
Phutatchai memang harusnya mendengarkan perkataan Thai hari itu karena semua hal yang Ashi lakukan tidak bertahan dalam waktu tiga bulan. Di bulan kedua, Ashi kembali menjadi Ashi yang dulu Phutatchai kenal, yang entah mengapa sosok Ashi yang lama menjadi sangat asing bagi Phutatchai, atau memang selama ini Ashi selalu menjadi sosok yang asing bagi Phutatchai? Ia sangat bingung.
Malam yang Phutatchai lalui kembali menjadi malam yang penuh dengan pertanyaan. Kepala yang berhenti menyuarakan pertanyaan mulai kembali berteriak. Phutatchai berpikir, bagaimana mereka menjadi seperti ini? Apa yang salah dari semuanya? Apa yang salah dari hubungan mereka?
Pertanyaan apa itu berubah menjadi, bagaimana jika… bagaimana jika Ashi tidak datang ke apartemennya sore itu? Bagaimana jika Phutatchai mendengarkan perkataan Thai dan memutuskan hubungan mereka? Bagaimana jika… Mereka tidak pernah berpacaran? Apakah Phutatchai akan merasa kehilangan dirinya seperti sekarang?
—
Hari ini Phutatchai akan bertemu Ashi dan rencana hari ini adalah cafe hopping. Phutatchai ingat Ashi menginginkan hal ini, jadi Ia merencanakan ini untuk menyenangkan pacarnya.
Cafe yang pertama kali mereka kunjungi adalah cafe yang juga menjual pastry. Mata Ashi berbinar melihatnya. Melihat binar di mata Ashi membuat Phutatchai teringat perkataan Thai yang diam-diam Ia benarkan. Bahkan mata Ashi lebih berbinar saat melihat pastry yang dihidangkan daripada saat melihatnya.
Saat mereka sedang duduk, Phutatchai melemparkan pertanyaan yang awalnya hanya ada di kepalanya, “kamu sebenernya sayang gak sih sama aku?” tanya Phutatchai seraya meminum kopinya.
Wajah Ashi memang jarang berekspresi, tapi dari sudut mata Phutatchai, Ia bisa melihat betapa datar wajah pacarnya saat ini.
“Kamu kenapa tiba-tiba nanya gitu?”
Sebuah pertanyaan dibalas pertanyaan lainnya.
“I actually never feel the love you gave me, if you really did, tho,” jawab Phutatchai.
Ashi mengangguk, “so, how long do you feel that way? ”
"Since the beginning of our relationship .”
Ashi menunjukkan senyum tipis," and it's been almost two years of our relationship. How could you endure something painful for that long?”
“Stop asking the question, Ashi. I'm the one who should asking you question, not the other way around,” entah mengapa, melihat Ashi yang terlihat tenang membuat Phutatchai marah.
“Jadi, kamu pernah sayang aku atau tidak selama ini? Have you ever felt something towards me? Have you ever… See me?”
Ashi menghela nafas, “I've tried, Phu. Many times, ” jawab Ashi dalam satu tarikan napas. “But the more I tried, the more I felt uncomfortable around you. Aku gak nyaman ada kamu di sisi aku, aku rasanya gak pengen liat kamu, tapi kamu yang terus ada di samping aku.”
Phutatchai menaruh gelas kopi nya sedikit ke pinggir, “aku ngelakuin itu semua karena aku sayang kamu, Ashi. Aku mau ada di samping kamu, aku mau nemenin kamu, aku mau bikin kamu seneng.. masa gitu aja kamu gak paham?”
Ashi menghela nafas, “aku gak pernah minta, Phutatchai,” jawabnya, “dan kamu gak pernah nanya mau aku yang sebenarnya apa.”
Phutatchai menatap sosok didepannya dengan tatapan tidak percaya. Kepalanya kosong, berisik yang selalu menemaninya setiap malam hilang, kali ini Phutatchai tidak bisa berpikir.
“Terus kenapa waktu di apartemen aku kamu bilang kamu sayang aku? Why did you come to my apartment that evening?”
“I just want to make sure you're alive because you didn't text me like you used to,” Ashi menegakkan tubuhnya, “and also, don't you remember you're the one who's looking at me fiercely, what am I supposed to do? Saying I hate you when I could feel you could hurt me any time? Of course I said that for you to let go of me .”
“And why did you being so nice to me and acting you love me? ”
“To make the Ashi in your head come true. How does it feel when you're loved by me? Itu kan sosok Ashi yang selama ini kamu inginkan?”
Phutatchai terdiam. Tidak ada yang bisa Ia katakan lagi sekarang. Sosok di depannya benar-benar menjadi sosok yang asing baginya, atau mungkin selama ini memang mereka yang asing? Apa benar semua yang terjadi hanya ada di kepala Phutatchai?
“If I run from your life, will you come to me?”
“Try, Phutatchai,” jawab Ashi. “But remember, you're the one who's entering my life, I've never tried to enter your life.”
Dan setelah itu Phutatchai bangun dari duduknya. Selama ini Phutatchai hanya berlari dalam sebuah lingkaran dan hari ini, lingkaran itu membuat sebuah pintu baru dimana Phutatchai bisa pergi dari lingkaran itu.
Phutatchai berlari dari sebuah lingkaran bernama Ashirakorn. Lingkaran yang selalu menyiksanya dan membuatnya sesak, kini Ia telah terbebas meskipun kepalanya terus berbalik, berharap lingkaran itu mengikuti. Berharap Ashi datang mengejarnya, memohon Phutatchai untuk kembali.
