Work Text:
Flame reaver mundur selangkah sehabis menghempas ‘phainon’ menjauh beberapa jarak menggunakan pedang retak yang memiliki gagang setengah bulan sabit ini.
“mengganggu saja”batinnya
melihat ‘ia’ di masa lalu yang masih memiliki mata secerah mentari dan yakin akan hari esok, dimana amphoreus akan berjaya lagi seperti di masa lalu.
Nyatanya tidak, semua orang mati tepat di hadapan, sahabat dan rekan seakan boneka yang bisa di koyak kapan saja oleh ramalan.
Semua mata menuju padanya, berharap padanya, bergantung padanya. Yang menjadi pertanyaan adalah kenapa harus dirinya? Ia tak meminta menjadi “penyelamat” sejak awal, apa yang orang lihat dari anak miskin yang dimana desa anak itu lenyap di makan oleh kegelapan? Lagipula bukankah saat ia menginjakkan kaki di okhema semua orang menatap sinis dan merendahkan? kenapa sekarang semua orang memuja dan meminta perlindungan kepadanya yang dipilih paksa oleh takdir?
“sungguh memalukan ya, penyelamat” suara tak asing mengalun di telinga phainon, flame reaver yang melamun ikut menoleh mendapati seorang pria gagah berjalan angkuh dan berwibawa mendekat menuju pusat keributan. Phainon tertawa senang lalu membalikkan badan, dan benar saja, pujaan hatinya datang
“ah kamu terlambat! Aku hampir saja mengalahkan nya loh?” Usil nya di balas oleh kekehan lembut, flame reaver masih diam tak bergeming di depan.
“mengalahkan? Pria berjubah hitam itu masih berdiri tegap apa kau sudah lemah sekarang penyelamat?” Senyuman sombong menantang itu terlukis pada wajah tampan pria yang kini berada di depan sisi phainon itu, secara refleks pun phainon segera mundur menjaga sisi belakang kekasih yang sudah berancang-ancang mengeluarkan crystal merah darah itu.
“lemah? Itu kata yang tak mungkin ada di kamus ku! Apa kau meremehkan ku sekarang?” Pedang putih berukir matahari itu kini di angkat mensejajari tubuh sang penyelamat itu sendiri, phainon melirik mydei dengan cemberut tak suka
flame reaver yang memandang tertawa dalam batin, ia sudah berkali-kali melihat kejadian ini tapi tetap saja hati nya sakit, itu adalah posisinya dulu kala saat dirinya kesusahan melawan musuh dan seakan mendengar permintaan tolong pujaan cinta nya ia muncul dari pintu depan selayaknya seorang raja
Tanpa aba-aba flame reaver melesat maju, menggandakan bayangan lalu mengincar pangeran kremnos itu tanpa ragu, namun tentu saja mydei sudah menebak, ia menangkis serangan flame reaver dan keadaan berbalik, kini ia yang mengejar.
Flame reaver terhempas dari satu bangunan ke satu bangunan lainnya, belum sempat ia bangun mydei dengan cepat mengganggu rencananya, mencekik tanpa ampun, namun entah kenapa flame reaver merasa mydei tak sepenuhnya ingin mencekik dirinya
“kenapa kau mengincar benih api wahai pencuri api? Apa tujuan mu sebenarnya?” Tambah ia lagi, padahal bisa saja mydei menghajar membabi-buta sekarang atau bahkan meremukkan beberapa tulang agar dirinya berbicara tapi lain, ia tak melakukan hal itu semua. Flame reaver menaruh telapak tangannya di atas mydei.
“tujuan ku…? Itu tak ada hubungannya dengan mu” mydei sedikit terjengit kaget saat suara parau flame reaver terdengar, dengan cepat ia menendang tubuh setengah Titan itu menjauh, namun siapa mydei jika ia dengan mudah terpental? Saat flame feaver menendang, dengan cepat ia balik menarik pergelangan miliknya hingga armor besi itu retak dan hancur.
Flame reaver mundur beberapa langkah lalu membuka portal dengan terburu-buru, tidak bisa, rencana dia hari ini gagal, ia bisa merasakan bahwa tulang pergelangan nya patah sekarang. Cengkraman seorang demigod nikador benar-benar tak bisa di remehkan, sebelum mydei bangkit flame reaver segera mundur menuju portal.
ternyata lebih cepat mydei di banding dirinya. Mydei yang bangun sehabis terhempas ke tembok langsung menarik flame reaver menjauh dari portal, mendekatkan tubuh yang tak jauh tinggi darinya itu berhadapan.
Matanya menangkap sesuatu familiar, tidak, ini terlalu familiar tidak mungkin ia lupa dengan benda ini.
Ia mengenakan cincin yang akan ia beri pada phainon. "Kau...?" Sebut mydei heran, zirah emas masih menggenggam pergelangan flame reaver yang patah karena dirinya sendiri. "Bagaimana bisa ini di dirimu..." Lanjutnya tak habis pikir "Lepaskan!" Erang flame reaver lemah, sakit sekali, sakit, mydei 'ia' dulu tak akan pernah menyakitinya bahkan saat bertanding. Namun bukan di lepaskan pangeran kremnos itu malah mengeratkan cengkraman pada orang di depannya itu. "Jawab aku!" Bentak mydei marah, cincin itu belum ia berikan pada phainon, bagaimana bisa flame reaver mahkluk berjubah aneh yang mengincar benih api itu malah memakai nya? Seketika sesuatu terhenyak dipikiran mydei sendiri.
"Mydei!" Suara manis sang kekasih memasuki indra pendengaran, mydei berbalik mendapati phainon menyusul di belakang terburu-buru
Mendapati cengkraman mydei melemah, flame reaver segera melepaskan diri dan mundur ke arah portal. Mydei tak menghentikan nya sama sekali, ia hanya melihat portal itu semakin mengecil seiring phainon mendekat.
"Mana flame reaver? Ia lari lagi? Kamu gak luka kan?" Dengan cepat phainon menelusuri luka pada tubuh mydei, padahal dirinya sendiri tau mydei abadi, luka sebesar apapun akan hilang sempurna. Tak ada angin maupun hujan mydei langsung mendekap tubuh phainon dan dirinya, yang di dekap kaget tak berkutik, ia mengalungkan lengan pada pundak kekar kekasihnya itu tanpa berkata apa-apa.
Pasti salah lihat, mungkin efek halusinasi ujian tadi masih memberkas pikirannya. Batin mydei mengeratkan genggaman pada pinggang phainon.
Di ujung sebelah sana flame reaver tertatih masih menggenggam pergelangan tangannya erat, walau ia bisa memulihkan tulang-tulang ini kembali, tapi tetap saja menyakitkan rasanya. Ia lupa, mydei adalah raja dalam medan perang, walau dulu beberapa kali mereka sudah bertanding tanpa ampun, ternyata ia tak mengerahkan seluruh kekuatannya. Terasa sekali perbedaannya saat ia dan mydei tidak bersanjung bersama.
Dirasa sudah jauh, ia terduduk pada bangunan tua yang sudah hancur, topeng emas ia turunkan, iris biru gelap terhias lambang kephale itu melirik cincin yang masih terjaga, warna merah tak cocok pada jari-jemari manisnya, terlalu mencolok. Kekasihnya berniat mengganti namun ia bersikeras mengatakan bahwa tak ingin menyia-nyiakan hadiah oleh sang kekasih, lagipula ia senang kok.
Sekarang kekasihnya sudah tak ada, dia sudah tidur dengan nyenyak bertahun-tahun lama nya
Tidak, bukan kekasihnya saja, tapi semua rekan dan orang okhema tak ada yang tersisa, lagi-lagi dirinya sendirian. Baik itu desa Aedes elysiae maupun seluruh amphoreus meninggalkan ia sendiri, pandangan nya mengganti menuju langit
Kapan terakhir kali ia bisa istirahat? Tidak pernah
Sejak dahulu mau sekarang ia tak pernah di beri istirahat oleh para titan, ia di hadapi wabah kehancuran, permohonan para warga yang tak berdosa, menanggung beban dunia pada pundak sendirian. Tak sekali dua kali ia berpikir untuk menghilangkan dirinya selamanya.
Namun layaknya komedi, ia kembali lagi pada awal segalanya, kehancuran, kematian, kehidupan. Tiga hal yang selalu ia saksikan dengan mata telanjang. Jika ia salah langkah sedikit, semua orang akan meragukan, jika ia tak melangkah semua orang itu juga akan marah. Sejak awal, menjadi pahlawan bukanlah tujuan yang ia tuju, tetapi entah kenapa mereka tanpa berdosa memberikan tanggungan mereka sendiri pada dirinya, dan sama sekali tak menghiraukan jika itu membebani.
Semua mata berharap, semua harapan mengelilingi.
Jika ia ingin jujur, dalam lubuk hati yang terdalam ia tak ingin mengabulkan harapan itu.
Ia menutup mata kesekian kalinya, menggenggam pedang yang sudah menemani kesekian hidup nya berjalan
Ayo akhiri ini.
