Actions

Work Header

Siblings Problem

Summary:

Awalnya hanya ingin melerai aduhan warga tentang sekelompok pemabuk yang meresahkan, di perjalan Tsubaki merasakan ada yang aneh dengan kedua wakil kaptennya. Tsubaki punya perasaan kalau dua saudara kembar ini sedang tidak akur dan dia ingin memperbaiki hubungan keduanya karena tidak enak merasa canggung di antara keduanya. Namun sepertinya sebelum membantu saudara itu Tsubaki malah di hadapkan oleh 'suatu' perkelahian kecil yang cukup serius.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Chapter 1: Beginning of the Problem

Chapter Text

Hari ini ada sedikit kericuhan di sudut Makochi, tidak terlalu banyak masalah sebenarnya karena hanya di isi segerombolan orang-orang mabuk. Ya, tidak salah lihat mereka memang mabuk di siang hari, tidak punya pekerjaan lain selain meminum miras untuk menghancurkan diri perlahan dan mengganggu orang-orang yang tidak bersalah.

Hari ini jadwal patroli di pimpin oleh tim Jikoku, tentu saja di isi oleh anak kelas 3 dan 2. Tsubaki sebagai pemimpin faksi ini ikut turun sebagaiamana tanggung jawabnya, bersama wakil kapten kembarnya mereka akan langsung mengamankan tempat kejadian.

“Seiryu, Uryuu ada apa?” Ucap sang Peminpin kala dua wakil kaptennya tidak terdengar seperti biasanya.

Tsubaki sudah bersama mereka sejak menginjakan kaki di Furin, tentu saja dia tidak se-abai itu untuk tidak tau perubahan signifikat dari orang-orang terdekatnya. Seiryu hari ini jauh lebih diam dan Uryuu masi sama seperti biasa, tidak ada yang bisa menebak kembar yang lebih kecil kalau tentang suasana hatinya, tapi melihat Seiryuu yang jadi lebih diam tentu membuat Tsubaki heran.

“Tidak ada, kita harus cepat bukan?” Seiryu tersenyum kecil dan mengalihkan percakapan serta perhatian Tsubaki, Uryu juga mengangguk samar walaupun tidak terlalu enggan untuk menanggapi perkataan kembar yang lebih tua.

Karena keadaan yang mengharuskan mereka untuk cepat, Tsubaki hanya bisa menghela nafas sejenak dan melanjutkan langkahnya. Mempercepat langkah kaki untuk sampai ke lokasi, orang-orang yang meresahkan ini harus di bereskan lebih dulu sebelum ia melakukan sidang terbuka pada wakil kapten kembarnya ini.

Sesampainya di tempat kejadian, Tsubaki melihat beberapa orang terluka dan ada juga yang tergeletak di trotoar. Bau alkohol menusuk hidungnya, Tsubaki reflek menutup hidung dan kembali melihat kesekeliling. Mencoba mencari cara tanpa menimbulkan gesekan dan memulai perkelahian, tapi sayang dengan parasnya yang cantik. Beberapa laki-laki lain yang mabuk mulai mendekatinya, aroma orang-orang yang terus mendesak ini membuatnya sesak.

Rambutnya di elus dengan pelan, Tsubaki bisa mendengar banyak kalimat pujian dari bibir-bibir orang mabuk ini dan dia mencoba untuk mengambil kesempatan dengan berbicara pada mereka untuk meninggalkan area ini karena tidak ada minuman di sini. Tapi sepertinya tidak mempan, karena pengaruh alkohol yang kuat, ajakan itu malah di tangkap sebagai hinaan dan pengusiran.

Rambut panjang yang sebelumnya di belai, sekarang di tarik dengan kuat hingga rintihan keluar dari bibir Tsubaki. Dia masih menahannya karena orang yang melakukannya jauh lebih tua darinya, ia masih punya rasa hormat dan tidak ingin menyakiti. Namun tarikan dan makian yang semakin gencar keluar dari bibir pemabuk tua itu membuat dua wakilnya jengah.

Seiryu melepaskan tangan pemabuk tua itu dari rambut Tsubaki dan Uryuu langsung memukul tengkuknya hingga pemabuk tua itu hilang kesadaran dalam waktu singkat, tidak ada cara lain, mereka tidak ingin ada yang terluka di antara mereka.

“Terimakasih,” Tsubaki merapikan rambutnya terlebih dahulu sebelum menatap dua wakilnya.

“Hmmn, sepertinya tidak bisa dengan kata-kata,” Seiryu bersenandung ringan, ia tengah memperhatikan banyaknya orang mabuk yang terlihat seperti mayat hidup di film zombie yang di tontonnya minggu lalu.

“Yaa, mereka terlalu banyak. Kalau di suruh kembali ke perbatasan Bar di area Shisitoren pasti akan memakan waktu yang lama, mereka jauh lebih liar dari dugaan ku,”

“Tsubaki.. sepertinya tatapan mereka berubah,” menyadari adanya perubahan, Seiryu melirik Tsubaki di sebelahnya.

Mereka jadi pusat perhatian dan malah terkepung, apa karena pemabuk tua yang menarik rambut Tsubaki tadi adalah ketua mereka? tapi orang mabuk tidak punya kesadaran, jadi kenapa mereka menatap Tsubaki dan si kembar seperti musuh??

“Ne Seiryu, seharusnya orang mabuk tidak punya akal sehat bukan?” suarat heels yang begesekan dengan aspal terdengar, Tsubaki mengambil kuda-kuda.

“Seharusnya..” Seiryu melirik Uryu sejenak sebelum ia mengalihkan perhatianya ke arah depan lagi.

Segerombolan pemabuk itu terlihat menyeret benda apapun, mulai dari pisau lipat, tongkat kayu atau baseball, botol miras dan lain-lain. Mereka berniat menghabisi mereka bertiga di sini??

Tsubaki harap mereka mendapat pertolongan.

Lemparan botol kaca jadi awal perkelahian di mulai, pecahan kaca dan cipratan air dari dalam botol mengenai ketiganya. Mereka reflek menutupi wajah, dan tiba-tiba seseorang melompat ke arah Seiryu sambil mengayunkan tongkat kayu hingga dia terpisah dari dua lainnya. Tsubaki meneriaki nama Uryu agar membantu Seiryu tapi yang di dapat malah wajah tegang, Tsubaki kaget karena baru kali ini mendapati Uryu yang gemetar.

Tsubaki berusaha mendekatinya untuk menenangkan Uryu di tengah hantaman balok kayu dan benda tumpul lainnya, mereka masih terus menghindari serangan tapi netra coklat Uryu tidak berhenti bergetar. Tsubaki tidak pernah melihat emosi seperti ini sebelumnya pada Uryu, ia mencuri pandang ke arah lain dan tidak mendapati Seiryu di dekat mereka.

Uryu meringis kala pipinya tergores benda tajam, ia melompat dan punggungnya bersentuhan dengan punggung Tsubaki yang baru saja menerima pukulan benda tumpul lain. Saat punggung mereka menempel, Uryu bisa merasakan getaran hangat di dadanya yang sebelum ini bergemuruh hingga membuatnya tidak fokus sama sekali.

Uryu menyeka lelehan darah dari pipinya dan kembali ke kenyataan, melihat banyaknya orang yang mengangkat senjata ke arah mereka. Tunggu dulu, mereka tidak sebanyak ini tadi?????

“Tsubaki, aku rasa ini jebakan,”

Tsubaki reflek mengarahkan kepalanya untuk melihat Uryu, bukan masalah Uryu yang tiba-tiba berbicara tapi dia baru sadar kalau jumlahnya malah jadi semakin tidak seimbang. Tsubaki menoleh kesana kemari mencari Seiryu, hatinya tidak tenang karena tidak dapat melihat kemana Seiryu.

“Uryu, ayo cari Seiryu. Kita gak boleh terpisah sampai yang lain datang,” Heelsnya mengudara, terangkat dengan penuh tenaga untuk menciptakan hentakan kuat. Uryu mengambil tempat setelah celah yang di buat Tsubaki berhasil memecah perhatian banyak orang, ia melompat dan menendang dengan kuat.

Tumitnya menajam, nafasnya memburu. Keduanya membelah kerumunan sambil bertahan, fokus mereka sekarang ada pada Seiryu yang masih belum terlihat sejak tadi. Rasa perih di pipi Uryu juga ngilu di rahang Tsubaki tidak menghentikan keduanya untuk mencari salah satu dari mereka.

“Tsubaki,”

Langkah kaki Tsubaki terhenti saat Uryu menarik Gakuran-nya, netra birunya menatap Uryu dengan pandangan bertanya sambil menahan hantaman balok kayu yang terus menerus datang.

“Dia gak ada di sini,”

Sesaat setelah kalimat itu keluar dari bibir Uryu, hantaman keras menghantam kepala Tsubaki hingga ia terhunyung kebelakang. Uryu menangkapnya sebelum ia jatuh terduduk dan jadi bulan-bulanan orang gila ini, Tsubaki tidak mengerti kenapa semuanya jadi berputar. Awalnya hanya ada laporan sekumpulan orang mabuk yang meresahkan warga, tapi tiba-tiba berubah jadi seperti pengeroyokan berencana.

Darah menetes dari kepalanya saat Uryu masi menahan beban tubuhnya sambil bertahan, ia tidak tau kenapa tubuhnya malah jadi lemas seperti ini. Rasanya seperti tidak merespon, tubuhnya tidak merespon kehendak otaknya untuk saat ini.

Sesaat sebelum hantaman lain menyapa keduanya, tiba-tiba saja salah satu dari pemabuk itu terlempar dan menggagalkan aksi orang yang hendak melayangkan pukulan pada Tsubaki dan Uryu.

“Apa-apaan ini?” suara berat yang tidak asing di telinga Tsubaki itu membuatnya mengangkat kepala, akhirnya ada yang membantu.

“Ragi-chan.. Ren-kun..”

Kenapa Hiiragi dan Kaji ada di sini? Dan lagi keduanya tidak menggunakan seragam Furin, yaa sudah pasti karena hari ini Teamnya yang melakukan patroli. Tidak ada team lain yang berkeliaran selain Team Jikoku, tapi melihat ia melihat keduanya di sini.

“Kaji, beritahu Umemiya soal ini. Kita berdua juga tidak bisa menanganinya dengan mudah, jadi segera kirim pesan untuk bantuan.” Yang lebih muda mengangguk dan dengan cepat menarik ponselnya untuk mengetikkan sebuah pesan SOS agar lebih singkat dan juga Kaji mengirim lokasinya saat ini.

Hiiragi menurunkan kantong belanjaannya terlebih dahulu, ia dan Kaji memang sengaja mengambil rute ini karena Kaji ingin membeli permen di tempat langganannya. Terdengar sangat tidak masuk akal Kaji melewati jalanan ini jika ingin ke toko permen, tapi karena Kaji, Hiiragi bisa mendapati situasi di luar kendali yang tidak memungkinkan di hadapi oleh dua orang saja.

Hiiragi menerjang sekelompok orang yang berkerumun, menciptakan ruang agar Tsubaki bisa bernafas sedikit lebih lega. Kaji mengambil alih Tsubaki dari rangkulan Uryu, ia ingin senpainya membantu Hiiragi karena ia sendiri juga tidak bisa melakukan apapu, Kaji juga masih dalam keadaan cedera. Kaji tau kalau Uryu masi bisa melanjutkan perkelahian, maka dari itu dia langsung mengambil alih Tsubaki.

“Maaf Ren-kun, kamu jadi harus melihat diriku yang seperti ini,”

Kaji menggeleng “Tidak apa-apa senpai, karena kau seorang raja.. bukan berarti raja tidak pernah mengalami kekalahan,” ucapan manis itu membuat Tsubaki tersenyum kecil, Hiiragi kau membesarkan anak yang sangat manis.

“Aku tidak membawa kotak p3k, tapi..” Kaji menyodorkan handuk kecil ke arah Tsubaki, jelas untuk menyeka banyaknya lelehan darah yang membasahi kepalanya.

“Terimaksih Ren-kun,”

“Tidak masalah,” Kaji kembali berdiri, ada hasrat ingin ikut menghajar orang-orang di depan sana. Tapi teringat ia belum stabil setelah perang Noroshi, kepalanya masi sering berdenyut sakit.

“Ren-kun.. bisa aku meminta tolong?” Tsubaki kembali bersuara sambil mengelap semua cairan berwarna merah di wajahnya, Kaji hanya menjawab dengan bergumam. Netra birunya tidak lepas dari Hiiragi dan Uryuu di tengah sana, begitu keras dan kuat.

“Aku akan kembali ke sana, tapi kamu.. bisakah kamu mencari kemana Seiryu?”

Kepala Kaji tertoleh ke arah Tsubaki, Kaji jadi baru sadar kalau Seiryu tidak ada di sini. Tidak mungkin senpai-nya yang anak kembar terpisah, jadi kepalanya yang pintar langsung memastikan kalau sesuatu terjadi pada Seiryu.

“Kamu cukup mencari lokasinya, tidak perlu memaksakan diri mu. Aku tau kamu belum sembuh total, setelah ketemu tolong kabari kami,” Tsubaki bangkit dengan susah payah setelah meletakkan handuk pemberian Kaji, ia juga menepuk pundak Kaji dan tersenyum manis pada ketua kelas 2 Tamon ini agar tidak perlu khawatir terhadapnya.

“Baiklah, senpai juga.. jangan memaksakan diri mu,”

“Yosh, aku mengandalkan mu Ren-kun!”