Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2025-05-14
Words:
3,659
Chapters:
1/1
Kudos:
12
Hits:
137

First Boyfriend

Summary:

Setelah menyatakan perasaannya, Isagi akhirnya berpacaran dengan Nagi.
Oh, Tuhan memang maha pengasih dan penyayang, sehingga mengabulkan permintaan Isagi sebelum hari Valentine benar-benar tiba.
Tetapi setelah statusnya berubah, Isagi baru mengetahui satu fakta baru tentang Nagi, yang membuatnya memikirkan ulang keputusannya untuk berpacaran dengan Nagi.

Notes:

Sejujurnya cerita ini ingin aku post saat Valentine, tapi sayangnya belum kelar. Lalu, aku berencana post saat ulang tahun Isagi, dan ternyata belum rampung juga. Setelahnya aku bertekad akan menyelesaikannya sebelum ulang tahun Nagi... tapi aku baru menyelesaikan setengah bagian. Akhirnya hari ini tulisan ini benar-benar bisa aku post hhhhh T_T

Sebenarnya aku ingin post tulisan ini kemarin, berbarengan saat chapter 302 bllk update, tapi aku tidak sanggup melakukannya... Aku terlalu sedih... Air mataku mulai menumpuk di pelupuk mata saat melihat Nagi...

Jadi aku menguploadnya setelah hatiku lebih tertata sekarang, semoga cerita ini bisa menjadi penghibur, selamat membaca~!

Semua karakter Blue Lock adalah milik Muneyuki Kaneshiro dan Yusuke Nomura. Penulis tidak mendapat keuntungan apapun dari fanfiksi ini dan hanya meminjam nama untuk kepentingan cerita.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Pernyataan Cinta

Orang-orang sering menyebut bulan Februari sebagai bulan penuh cinta. Hal ini karena pada bulan Februari terdapat hari yang diperingati sebagai hari kasih sayang yang jatuh pada tanggal 14 Februari. 

Isagi Yoichi, siswa kelas 2 SMA berumur 16 tahun itu sedang meratapi nasibnya yang sudah menjomblo sejak lahir. Ia tidak pernah pacaran sekalipun. Jangankan pacaran, mendapatkan coklat di hari Valentine saja tidak pernah. Jika kalian bertanya pada Isagi berapa jumlah coklat yang ia dapat tahun lalu, maka jawabannya pun selalu sama, yaitu nol. 

Oleh karenanya, kali ini ia bertekad untuk mempunyai seorang pacar sebelum hari Valentine tiba. Itu yang Isagi harapkan dan sepertinya Tuhan mungkin mengabulkannya keinginannya.

Karena hari ini, ia memberanikan diri untuk menyatakan perasaannya pada pemuda yang sering ia temui saat di toko rental komik. Seorang laki-laki tinggi semampai berwajah tampan yang telah mencuri perhatiannya selama enam bulan ini.

“Aku suka padamu… Maukah kau jadi pacarku?” 

Tentu saja Isagi tak berharap banyak, ia sudah siap dengan segala penolakan. Namun, tak disangka pemuda tersebut langsung menerimanya.

Pernyataan cinta yang singkat. Tapi setelah penantian lama, akhirnya Isagi Yoichi mempunyai seorang pacar.

 


 

Kilas Balik Pertemuan

Isagi pertama kali bertemu Nagi saat ia berada di salah satu toko rental komik yang baru buka di kotanya. Pertemuan mereka bermula saat tangan Isagi tidak sengaja bersentuhan dengan pemuda itu saat ingin mengambil komik yang ingin ia baca.

Isagi harus sedikit tengadah ketika menyadari pemuda tersebut lebih tinggi darinya.

“Ah…”

Sial, pemuda ini tinggi sekali. Apa perbedaannya 10cm … Tidak, apakah 12cm?

Isagi buru-buru meminta maaf karena tidak sengaja menyentuh tangan pemuda itu, sebelum terlalu lama memandang wajahnya.

“Kau juga suka Cyborg Kuro-chan?”

Bukannya menjawab permintaan maaf Isagi, pemuda yang memiliki tatapan sayu seolah ‘tidak tertarik’ itu malah melayangkan sebuah pertanyaan dadakan padanya.

Isagi mengangguk dengan cepat menjawab pertanyaan tersebut, “Iya, apa kau juga penggemar Cyborg Kuro-chan?”

“Un,” Pemuda itu mengangguk menanggapi Isagi. “Yo, Yo, Yo~ 'Cyborg' terkuat dan paling epik Kuro-chan muncul lagi.”

Sesaat setelah mendengar nyanyian khas opening lagu tersebut, wajah Isagi menjadi sumingrah, rasanya seperti memenangkan hadiah lotre. Diantara teman seusianya, akhirnya ia menemukan seseorang yang bisa ia ajak berbagi kisah dan bertukar pendapat tentang komik kesukaannya.

Sejak saat itu tiap akhir pekan, Isagi sering menghabiskan waktu mengobrol bersama pemuda yang kini ia tahu namanya adalah Nagi Seishiro.

Di pertemuan mereka yang ke-sekian Isagi bahkan mengetahui bahwa ternyata Nagi juga mengikuti klub sepak bola di sekolahnya.

“Kau juga bermain sepak bola?!” Isagi bertanya dengan penuh semangat dan mata berbinar. Isagi sangat suka bermain sepak bola, ia sudah bermain sejak umur 4 tahun dan sampai sekarang pun ia masih menekuninya.

“Pada dasarnya aku diminta ikut klub sepak bola oleh temanku, dan itu terjadi begitu saja.”

Memiliki kesukaan dan melakukan hal yang sama, sepertinya rasa nyaman ini yang mungkin membuat Isagi selalu menantikan pertemuannyna dengan Nagi di toko rental komik setiap minggu. Dan entah sejak kapan, Isagi tidak tahu, tetapi ia bisa menceritakan berbagai macam hal pada Nagi tanpa beban. Hingga pada satu waktu Isagi menyadari perasaannya pada Nagi.

 


 

Pertemuan Pertama Setelah Menjadi Pacar

Hari ini adalah hari yang Isagi tunggu-tunggu. Rasanya ia ingin berlari sekuat tenaga saat bel sekolah berbunyi dan segera pergi ke taman. Hal ini karena Isagi dan Nagi akan janji bertemu di taman sepulang sekolah untuk melakukan pertemuan pertama mereka setelah berubah status menjadi pacar. Iya, pacar! Kalian mendengarnya? Isagi Yoichi yang sudah menjomblo selama 16 tahun akhirnya memiliki pacar pertama.

“Hehehe...” Isagi tidak bisa menahan senyumnnya, karena ini adalah kali pertama Isagi pergi bertemu Nagi selain di toko rental komik. Biasanya mereka selalu bertemu saat mengenakan pakaian kasual di akhir pekan, sedangkan hari ini mereka akan bertemu dengan seragam sekolah.

“Bukankah kencan sepulang sekolah terdengar sangat romantis?”

Karena terlalu bersemangat Isagi pun datang lebih awal 10 menit dari waktu yang ditentukan. Isagi memegang dadanya yang berdebar sangat keras. Padahal jika diingat-ingat, Isagi sudah lumayan sering bertemu dengan Nagi, tetapi dirinya benar-benar sangat gugup saat ini.

Ding!

Ponsel Isagi berbunyi, menandakan notifikasi pesan masuk. Isagi segera merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel.

Nagi: Isagi, kau sudah sampai di taman?

Nagi: Aku sebentar lagi sampai.

Tepat saat Isagi ingin membalas pesan Nagi, ia melihat perawakan pemuda tinggi berambut putih sedang menuju ke arah taman.

Posisi tubuh Nagi yang tinggi dan warna rambutnya yang mencolok membuatnya mudah terlihat, Isagi segera melambaikan tangannya. “Di sisni, Na−” Suara Isagi terhenti. Matanya terbelalak ketika ia melihat seragam yang dikenakan Nagi.

Tanpa sadar, badan Isagi bergerak dan menyelinap di salah satu bangunan dekat taman.

Tunggu, kenapa aku sembunyi?

Isagi kembali memperhatikan keseluruhan penampilan Nagi dari atas kepala hingga bawah. Saat itulah Isagi terperangah.

“Aku tidak salah lihat kan…”

Bukankah itu seragam… SMP Hakuho?! 

Isagi mengintip kembali dan memperhatikan Nagi yang masih celingak-celinguk memandang sekitar. Saat Nagi mengetik sesuatu pada ponselnya, saat itu pula ponsel Isagi berdenting. Isagi buru-buru menonaktifkan mode getar pada ponselnya sebelum Nagi menyadari suaranya. 

Pada saat waktu pertemuan janji mereka bertemu, bukannya mendekat, kaki Isagi malah melangkah menjauhi taman. Pergi menjauhi sosok pemuda yang seharusnya ia temui hari ini. 

Ponsel yang kembali bergetar menghentikan langkah kaki Isagi sesaat.

Nagi: Isagi

Nagi: Kamu di mana?

Isagi mengetik dengan cepat sebelum akhirnya kembali berlari menuju rumahnya untuk pulang.

Isagi: Maaf, sepertinya aku tidak bisa bertemu hari ini. Tiba-tiba aku tidak enak badan.

 


 

Lanjut atau Berhenti?

Isagi merebahkan kepalanya di bangku kelas. Isagi menarik napas dan menghembuskannya beberapa kali. “Hah…” Entah ini sudah helaan napas keberapa yang keluar dari mulutnya.

“Kenapa kau lesu? Ada masalah dengan pacarmu?”

Isagi hanya melirik ke arah sumber suara dan mendapati kedua temannya sedang mendekatinya. Namun Isagi tidak berniat menanggapi pertanyaan tersebut. Ia benar-benar tidak bersemangat.

“Apa kau putus?”

Tebakan itu keluar dari mulut Bachira, teman sebangku Isagi.

“Jika benar maka ini adalah sebuah rekor karena pacaran sehari besoknya langsung putus.”

Sesaat setelah mendengar ucapan Chigiri, Isagi langsung bangkit dari tidurnya.

“Bukan seperti itu,”

“Lalu apakah ada masalah lain? Kau terlihat galau, Isagi. Tingkahmu seperti orang sehabis putus cinta.”

“Itu…”

Isagi segera menutup mulutnya setelah sempat terbuka. Isagi tidak yakin bisa memberitahu teman-temannya kalau dia berpacaran dengan anak dibawah umur— Tidak, Isagi sendiri sebenarnya masih dibawah umur, tapi bagaimana bisa dia — seorang siswa SMA berpacaran dengan anak SMP? Isagi hanya bisa menghela napas dan kembali menenggelamkan kepalanya di atas bangku.

Setelah berulang kali berpikir, akhirnya Isagi memutuskan untuk mengajak Nagi bertemu sepulang sekolah. Ia harus benar-benar membicarakan hubungan ini dan meminta putus. Isagi rasa itu adalah keputusan terbaik. Sebagai seseorang yang umurnya lebih tua dalam hubungan ini, Isagi rasa ia yang harus bertindak lebih dewasa dan bijak. Isagi harus berterus terang dan mengatakan bahwa ini adalah keputusan terbaik bagi mereka.

Sejujurnya Isagi sedikit ragu dengan pemikirannya, mereka berpacaran karena Isagi yang menembak duluan dan sekarang Isagi pula yang meminta putus. Belum lagi ia akan menyakiti perasaan Nagi yang masih murni dengan pengalaman kisah cinta SMP yang seperti ini. Namun kalau tidak dilakukan, dan jika ini berlanjut, apakah bisa…

“Isagi!”

Pemikiran Isagi terputus seketika, ketika suara seseorang yang familiar memanggil namanya. Isagi yang duduk di kursi taman hendak berdiri menghampiri Nagi, tetapi pundaknya buru-buru ditahan oleh kedua tangan Nagi.

“Duduklah, bukankah kau masih sakit?”

Tidak, sejujurnya Isagi tidak pernah sakit.

Isagi memperhatikan sekali lagi logo seragam yang dikenakan Nagi saat ini−Hakuho Junior High School.

Itu benar-benar seragam SMP.

Isagi menggigit bibir bagian bawahnya. “Maaf…”

“Kenapa kau minta maaf, sakit itu kan diluar kendalimu.” Nagi melanjutkan. “Kau mau bertemu karena ingin membahas tentang kemarin?”

“Ah, itu… Sejujurnya, Nagi−”

“Oh, tunggu sebentar,”

Nagi memotong pembicaraan Isagi dan merogoh sesuatu dari tasnya. “Aku baru mengingatnya, aku ingin memberikan ini padamu.” Ia mengeluarkan dua buah roti melon dan sebuah kotak hitam kecil yang terbuat dari kayu.

“Aku tidak tahu hal apa yang harus diberikan pada orang yang sedang sakit, jadi aku memberikan roti kesukaanku yang biasa kumakan saat di kelas dan,” Nagi mengusap tengkuk lehernya sebelum melanjutkan. “Kau boleh buka kotaknya.”

Isagi yang telah menerima barang pemberian Nagi pun membuka kotaknya. Mata Isagi tak henti berkedip menatapnya. “Ini…”

“Itu kenkō omamori. Aku membelinya di kuil terdekat, mereka bilang jimat itu adalah yang paling ampuh untuk melindungimu dari penyakit.”

Isagi mengeluarkan jimat berbentuk seperti sebuah kantung dari kotaknya. Jimat itu memiliki warna biru dengan corak putih. Diatasnya tertulis sebuah kanji berwarna emas yang dipercaya dapat memberi pelindungan dari berbagai penyakit dan menjaga pemakainya tetap sehat.

Isagi menggenggam jimat itu dan mendekatkannya hingga menyentuh dadanya sendiri. Menyentuh bagian terdalam hatinya. Isagi merasa sesak, Nagi benar-benar perhatian padanya. “Terima kasih, Nagi.”

“Un, jadi apa yang ingin Isagi sampaikan tadi?”

“Tidak, itu…” Ada nada keraguan yang muncul dari ucapan Isagi. Hatinya berdegup kencang memikirkan susunan kalimat yang akan keluar dari mulutnya dan bagaimana reaksi Nagi nantinya. Ia menghembuskan napas perlahan dengan dada berbedar dan kemudian memandang Nagi. “Aku pikir… kita harus menjadwalkan ulang pertemuan kita yang batal sebelumnya.”

 


 

Isagi merebahkan badannya di atas kasur. Entah mengapa ia merasa hari ini sangat melelahkan. Pemuda berambut biru gelap itu kembali mengeluarkan jimat pemberian Nagi dan memandangnya untuk waktu yang cukup lama.

“Pada akhirnya aku pulang tanpa bisa mengatakan yang sebenarnya…”

Jika Isagi mengingatnya kembali, Nagi memang tidak benar-benar mengatakan bahwa ia adalah siswa SMP, ia hanya mengatakan bahwa dirinya bersekolah di Hakuho dan Isagi sendirilah yang menyimpulkan bahwa Nagi seumuran dengannya karena tinggi badannya.

“Aaakh!” Isagi mengusak-usak rambutnya hingga berantakan, “Bagaimana ini… Aku rasa tidak bisa… aku benar-benar tidak bisa mengatakan putus padanya.”

Isagi menghela napas berat, ia berusaha memejamkan matanya untuk mengistirahatkan pikirannya sejenak. Beberapa menit setelahnya, Isagi kembali membuka matanya dengan cepat, seolah baru mendapatkan ilham yang datang dari Tuhan.

“…Benar, kalau seperti itu mungkin akan berhasil…” Isagi segera bangkit dari kasur dan membuka ponselnya, sebelum ide cemerlang yang terlintas di otaknya itu hilang dan terlupakan.

 


 

Misi

Sejak matahari terbenam hingga bintang-bintang di langit sudah bersinar, Isagi masih sibuk berseluncur di jaringan internet. Ia membuka beberapa website untuk mencari informasi dan petunjuk tentang rencana yang ingin ia lakukan. Sampai akhirnya Isagi menemukan salah satu artikel yang ia cari.

“Cara Jitu Membuat Kekasih Anda Memutuskan Anda”

Isagi tersenyum seolah ia berhasil menemukan sebuah harta karun. Isagi mengangguk mantap setelah membaca keseluruhan artikel tersebut. “Sepertinya ini bisa aku coba…” Jika Isagi tidak bisa mengatakan putus pada Nagi, maka Isagi akan membuat Nagi yang mengatakan putus padanya.

Isagi membuat kepalan tangan dan meninjunya ke udara kosong. “Ayo kita mulai misinya!”

.

.

.

.

.

.

Misi Pertama: Menjauh darinya secara perlahan

“Pertama-tama, mulailah dengan menunda membalas telepon atau pesannya, dan usahakan memperlama jarak antara waktu bertemu atau kencan. Selain itu, jangan menelepon atau mengirim pesan lebih dahulu! Paling tidak jauh lebih sedikit daripada dia.”

Sejujurnya Isagi adalah tipe orang yang ‘fast respond’, ia paling tidak bisa mengabaikan pesan dan telepon dari temannya walau hanya sekedar basa-basi, apalagi jika mereka membutuhkan bantuan. Sekarang jika dihadapkan dengan Nagi−seseorang yang ia sukai … Isagi tidak tahu apakah ia bisa melakukannya. Terlebih mengubah kebiasaan ini dalam sehari sepertinya agak sulit, mengingat ia dan Nagi sudah cukup sering bertukar pesan. Namun ia harus mengikuti saran dari artikel itu jika ingin Nagi mengatakan putus padanya.

Isagi memandang telepon genggamnya yang menampilkan layar pesannya dengan Nagi. Ia kembali membaca pesan terakhir yang Nagi kirim yang berisi ucapan ‘Selamat tidur~’ dengan sticker hantunya. Biasanya sebelum berangkat sekolah, Isagi yang sering mengirim pesan terlebih dahulu kepada Nagi, jadi kali ini ia mencoba menahan diri untuk tidak mengirim pesan.

Tepat saat Isagi sudah bertekad, tiba-tiba ada pesan beruntun masuk yang langsung terbaca oleh mata Isagi.

Nagi: Selamat pagi, Isagi.

Nagi: Apa kamu sudah berangkat?

Nagi: Semangat untuk hari ini~

Nagi: *Stiker*

Isagi yang membaca pesan itu tanpa sadar mengulum senyum lebar, tapi seketika senyum itu pudar karena Isagi mengingat misi yang harus ia jalankan.

Saat ini Isagi merasa bimbang, ia ingin mengetik balasan pesan secepatnya untuk Nagi. Namun kemarin ia juga sudah mantap untuk melakukan misinya. Isagi yang dilanda rasa gundah menggaruk kepalannya yang tidak gatal.

“Bagaimana ini… Tidak usah kubalaskah? Tapi pesannya sudah terlanjur kubaca…”

Isagi menggenggam ponselnya dengan erat. Pemuda bermata biru itu menggigit bibir bagian bawahnya sambil memperhatikan pesan Nagi dan jam yang tertera di ponselnya secara bergantian. Jantungnya semakin berdegup kencang. Setiap detik yang bergulir membuatnya semakin gelisah.

“AH! BESOK, BESOK SAJA AKU LAKUKAN MISINYA!”

.

.

.

.

.

.

Misi Kedua: Minta dia memberi Anda ruang dan waktu untuk sendiri

"Kedua, Jika Anda tidak ingin lagi menghabiskan waktu bersamanya, cara terbaik adalah mengatakan bahwa Anda butuh waktu sendiri. Jika dia menelepon atau mengirim pesan, abaikan."

Kali ini harus berhasil! Isagi membatin.

Saat ini Isagi sedang berbalas pesan dengan Nagi. Kemarin ia gagal karena ia tidak siap dengan pesan yang tiba-tiba muncul. Namun, kali ini Isagi sudah lebih siap. Sebelum membalas pesan, Isagi sudah melihat notifikasi dari Nagi, jadi ia bisa memikirkan kata-kata yang akan ia kirimkan pada Nagi.

Hari ini Nagi mengajak Isagi bertamu ke rumahnya, tapi Isagi menolaknya. Ia beralasan ingin menghabiskan waktu untuk beristirahat di rumah.

Yosh! Baiklah! Setelah ini, jika Nagi menelpon atau mengirimkan pesan padanya, ia akan mengabaikannya.

Isagi menaruh ponselnya di nakas dan berusaha mengabaikan dentingan ponselnya yang berbunyi beberapa kali.

Bukankah aku sudah bertekad? Aku harus mengabaikannya.

Sambil bersidekap tangan, Isagi melirik layar ponselnya yang bercahaya. “Kalau hanya sebatas lihat notifikasi tanpa membalasnya, tidak apa-apa kan?”

Dengan berbedar Isagi mengambil ponselnya. Sejujurnya Isagi juga sedikit penasaran dengan respon Nagi setelah menolak ajakan darinya.

Nagi: Yah…

Nagi: *Stiker sedih*

Nagi: Padahal aku baru saja ingin mengajakmu bermain video games Cyborg Kuro-Chan edisi terbaru

Nagi: *Mengirimkan lampiran foto*

Mata Isagi tak henti berkedip dengan cepat. Video games edisi terbaru… Bukankah itu berarti Cyborg Kuro-chan 2: White Woods no Gyakushū?

…Bagaimana Nagi bisa mendapatkannya? Bukankah itu edisi terbatas?

Pesan terbaru dari Nagi langsung muncul dan tertangkap oleh mata Isagi.

Nagi: Aku ingin bermain bersama Isagi, tapi sepertinya tidak bisa hari ini

Tunggu! Aku ingin memainkannya! Jika ini berkaitan dengan Kuro-Chan bagaimana mungkin aku menolaknya?

Tanpa sadar Isagi mengetik balasan kepada Nagi.

Isagi: Sepertinya aku bisa…

Nagi: Benarkah?

Pesan itu langsung dibalas oleh Nagi didetik berikutnya.

Isagi: Iya… Bisakah kau kirimkan alamatmu, Nagi?

.

.

.

.

.

.

Misi Ketiga: Pura-puralah Anda bosan ketika bersamanya

"Yang ketiga, cobalah bersikap kaku dan tidak nyaman. Beri jawaban singkat pada setiap pertanyaannya, dan jangan coba memulai obrolan menarik. Anda juga bisa bersikap agak jengkel, seolah tidak ingin berada di sana."

Karena misi pertama dan kedua gagal, Isagi berencana melakukan ketiga misi sekaligus dalam satu waktu. Hari ini Isagi ada kencan dengan Nagi. Ia sengaja membalas pesannya sesingkat mungkin dengan durasi balasan yang cukup lama. Pengalamannya pada misi sebelumnya sepertinya sedikit bisa meningkatkan presentase keberhasilan misinya saat ini.

 “Hari ini pasti berhasil…” Ucap Isagi pada dirinya sendiri.

Isagi melihat waktu pada jam tangan yang terpakai dipergelangan tangannya. Ia berencana akan terlambat 30 menit dari waktu yang telah ditentukan. Sejujurnya Isagi sudah berada di dekat tempat mereka janjian, tetapi Isagi mengulur waktu agar Nagi menunggunya.

Setelah 30 menit berlalu Isagi datang sambil berjalan santai, seolah ia tidak berharap datang ke sini. Saat keduanya berserobok, Nagi memasukkan ponselnya ke saku dan segera menghampiri Isagi. “Kau sudah datang?”

“Ma—" Tunggu, apa aku perlu minta maaf? Bukankah aku ingin membuatnya kesal karena menungguku? “Maksudku, ayo pergi.”

Isagi masih setia berjalan berdampingan dengan Nagi. Kalau boleh Isagi berkata jujur, ia sebenarnya bingung mereka akan kemana. Isagi sudah berusaha untuk tidak tertarik dengan tidak bertanya kemana dan apa yang akan mereka lakukan pada kencan kali ini. Tetapi, Isagi tidak mendapatkan petunjuk sama sekali.

“Kita mau kemana sih, Nagi? Apa kita hanya berjalan seperti ini saja? Aku sudah mulai bosan.”

Isagi akhirnya mengeluarkan suara. Ia harap nada bicaranya tidak terdengar aneh karena ia sedang berakting saat ini.

“Kebetulan kita sudah sampai.”

Isagi memandang Stadion Nasional Jepang yang berada tepat di depannya. Tepat saat itu matanya beralih melihat banner yang terpangpang di area depan stadion. “Nagi… Bukankah itu...”

Nagi yang menyadari maksud dari kalimat Isagi itu memperlihatkan dua buah tiket untuk masuk ke dalam stadion. “Un, seperti yang kau lihat. Hari ini aku mengajakmu menonton pertandingan uji coba Bastard Munchen vs tim J League, bukankah kau bilang mengidolakan salah satu pemain Bastard Munchen? Siapa itu namanya… Noal Noe?”

Isagi mendesah. “Namanya Noel Noa… dan ternyata kau mengingatnya…” Hati Isagi berdebar mengetahui hal itu. Padahal Isagi memberitahu hal itu sudah cukup lama saat awal mereka bertemu.

“Ayo, Isagi.” Nagi segera menarik pergelangan Isagi dan membawanya ke dalam stadion.

Dalam diam Isagi mengikuti Nagi menuju stadion dengan perasaan bercampur aduk. Apakah ia boleh menikmati kebersamaannya dengan Nagi seperti ini…?

.

.

.

.

.

.

Tidak ada cara lain, daripada semua semakin berlarut, Isagi akan memakai cara putus paling ampuh seperti yang dikatakan pada artikel yang ia temukan. Setelah ini Isagi yakin, Nagi akan meminta putus.

Misi Keempat: Katakan Anda tidak menyukainya lagi dan carilah kekasih baru

"Terakhir, jika Anda tidak menyukainya, akan lebih baik jika Anda tidak membuat dia berpikir bahwa Anda suka. Tidak ada yang membuat seorang lebih cepat menjauh selain pembicaraan tentang hal rencana mencari kekasih baru. Ini tidak hanya akan melukai ego kekasih Anda, tetapi juga isyarat bahwa dia sudah tidak cukup lagi untuk Anda karena Anda sudah memiliki kekasih baru."

“…Siapa orang ini, Isagi?”

Pertanyaan itu keluar dari mulut Nagi. Mereka sedang berada di taman kota karena Isagi mengajak Nagi bertemu di sana. Pada saat Nagi menemukan Isagi tidak datang sendiri, pemuda berambut putih itu mengeluarkan ekspresi datar, tetapi dari pandangan matanya, Isagi yakin Nagi cukup terkejut dengan kejadian yang terjadi saat ini. Tentu saja, karena Isagi tidak mengatakan ia akan mengajak orang lain.

“Ini pacar baruku, namanya Kira.”

Isagi mengatakannya dengan sekali hembusan napas agar tidak terdengar grogi. Untuk meyakinkan Nagi, ia menggandeng tangan Kira semesra mungkin, meskipun saat ini hatinya tak henti berdebar kencang karena melakukan misi ini.

Disisi lain, mata Nagi tak lepas memperhatikan gandengan tangan Isagi pada Kira. Entah mengapa terlihat jelas aura gelap mulai mengitari Nagi.

“Kau dibayar berapa?”

Huh?

“N-Nagi, apa maksudnya−”

Nagi mendekat, bukan menghadap Isagi, melainkan menghampiri Kira. Laki-laki tinggi itu mengeluarkan beberapa lembar seribu yen dan menyodorkan ke hadapan Kira. “Apa ini cukup?”

Kira dan Isagi terkejut dengan tindakan yang dilakukan Nagi. Kira mulai menoleh kepada Isagi dan uang Nagi secara bergantian. Dan dalam sepersekian detik berikutnya Kira berucap.

“Isagi-kun, maafkan aku.”

Kira mengambil semua uang tersebut dan bergegas pergi meninggalkan mereka berdua. Sebelum bayangannya benar-benar menghilang, Kira masih sempat mengucapkan selamat tinggal sambil melambaikan tangan, “Isagi-kun, semangat~”

Isagi terngaga melihat kejadian yang barusan terjadi. Hah, tidak bisa dipercaya, orang itu kabur begitu saja ketika melihat nominal uang yang lebih besar dari yang kujanjikan. Padahal aku sengaja menguras tabunganku untuk menyewanya.

Setelah mengumpat dalam hatinya, Isagi seperti kembali dijejalkan pada realita. Keheningan begitu mencuat kepermukaan. Tidak ada seorang pun baik Nagi ataupun Isagi yang memulai percakapan. Isagi bisa merasakan keadaan semakin memburuk jika ia tidak mengatakan sesuatu. Saat Isagi hendak membuka mulut, entah mengapa mulutnya kembali tertutup dalam hitungan detik. Pemuda bermata biru itu hanya bisa membasahi bibirnya yang kering dan memandang Nagi dalam diam. Isagi merasa otaknya tiba-tiba tidak bisa berfungsi saat ini.

Apa… yang harus kukatakan sekarang?

Nagi seketika menarik tangan Isagi, membawanya menjauhi taman tanpa sepatah kata pun.

Jantung Isagi berbedar kencang. Apakah ini saatnya Nagi akan mengatakan putus dengannya? Isagi harusnya senang jika hal itu terjadi, tetapi entah mengapa hatinya merasakann hal lain.

“Nagi...”

Keheningan yang cukup lama membuat Isagi semakin tersiksa, ia yakin Nagi benar-benar sudah muak dengannya.

Butuh waktu bebrapa menit hingga akhirnya Nagi menghentikan langkahnya. “Isagi…” Dengan tangan yang masih bergandengan, Nagi berucap dengan lirih sambil memunggungi Isagi. Kata yang keluar sesaatnya membuat dada Isagi merasa sesak. “…Maaf”

Mata Isagi melebar, “Kenapa…?”

Kenapa, Kenapa Nagi minta maaf? Harusnya dirinya yang minta maaf. Dengan segala hal yang ia lakukan belakangan ini, bukan Nagi yang seharusnya meminta maaf.

Isagi tidak bisa melihat ekspresi Nagi saat ini karena ia masih setia memunggungi Isagi.

“Katakan, Isagi. Apa kau merasa terbebani pacaran denganku?”

Pertanyaan itu seperti sebuah ledakan yang berhasil memborbadir hati Isagi.

“Sebenarnya, aku sudah tahu Isagi ingin putus denganku. Isagi melakukan berbagai hal agar aku kesal dan minta putus, kan?”

Isagi hanya bisa terdiam. Ia tidak membantah ataupun mengelak, dan di sisi yang sama, ia merasa ada sesuatu yang menusuk-nusuk hatinya saat ini.

“Maafkan aku karena egois. Sejujurnya aku tidak ingin putus karena aku sangat menyukai Isagi.”

Tidak, ini bukan salahmu. Jangan minta maaf!

“Tapi jika berpacaran dengan anak SMP sepertiku memang menjadi beban untukmu, maka aku tidak masalah untuk putus. Aku akan menghargai setiap keputusanmu.”

Setiap kalimat yang keluar dari mulut Nagi seperti luka yang ditaburi oleh garam. Hal itu membuat hatinya sakit. Isagi pun seperti bisa merasakan kesakitan yang juga dialami Nagi.

Apa yang sebenarnya sudah kulakuan…?

Isagi benar-benar merasa bersalah, ia telah menyakiti orang yang sudah menyukainya. Apakah ia masih pantas disukai setelah melakukan hal seperti ini…?

“Isagi…?” Nagi yang tidak mendapatkan jawaban akhirnya membalikkan badannya untuk melihat Isagi.

Aku orang yang jahat.

“…Isagi, kau menangis?”

Isagi bahkan tidak sadar jika sudah ada cairan bening yang memenuhi matanya. “Maafkan aku…” Isagi mengeratkan genggamannya pada Nagi dan tidak membiarkannya terlepas. “Aku tidak mau putus denganmu.”

Nagi mendesah lega, tangan satunya yang menganggur bergerak untuk mengusap rambut hitam milik Isagi. “Isagi bodoh… Jika ada yang menganggu pikiranmu, seharusnya kau mengatakannya,” Tangan Nagi beralih turun mengusap lembut pipi Isagi dan menghapus air mata yang jatuh mengenai pipi pemuda yang lebih tua darinya itu. “Jika kau melakukan hal seperti ini, bukan hanya dirimu yang sakit… tetapi aku juga.”

Tumpukan penyesalan seolah menggerogotinya. Isagi yang masih terisak menggit bibir bagian bawahnya dan menunduk, ia malu memandang Nagi. “…Padahal aku yang lebih tua, tapi malah kau yang terlihat lebih dewasa. Aku benar-benar minta ma−Ah! Sakit! Nagi! Berhenti mencubit pipiku!”

“Aku akan berhenti, jika kau berhenti minta maaf,” Nagi mengendurkan cubitannya. “Dan Isagi kembali ke diri Isagi seperti biasa… Isagi Yoichi yang kukenal.”

Isagi menatap Nagi dengan penuh haru. Isagi merasa sepertinya ia akan menangis lagi. Tetapi sebelum itu, Isagi mengangguk-ngangguk dengan mantap untuk menjawab pernyataan dari Nagi.

Mulai sekarang, Isagi akan lebih jujur pada Nagi dan pada dirinya sendiri. Jujur bahwa sebenarnya ia tidak ingin putus dengan Nagi.

Bahwa sesungguhnya, dari hati terdalam, Isagi tidak ingin kehilangan Nagi.

“Ngomong-ngomong…” Nagi merogoh sesuatu di sakunya dan memberikannya kepada Isagi.

Napas Isagi terhenti sejenak ketika melihat benda yang diberikan Nagi padanya. Bagaimana ia bisa lupa kalau hari ini adalah…

Nagi tersenyum. “Selamat hari Valentine, Isagi.”

 

Notes:

Untuk kalian yang sudah membaca sampai akhir, terima kasih!

Sejujurnya aku sedikit bingung saat menentukan tags, apakah aku harus memberi tahu bahwa Nagi adalah anak SMP diawal atau tidak... aku takut dikecam karena membuat cerita anak SMP x SMA HAHAHAHHA :'>

Di cerita ini, Nagi berumur 14 tahun (kelas 2 SMP), mereka memiliki gap 2 tahun. Dan kalau boleh jujur, aku juga sempat bingung menentukan alur endingnya, haruskah aku tetap membuat mereka pacaran? haruskah aku membuat Nagi mengikuti akselerasi sehingga satu SMA dengan Isagi? atau aku akan membuat mereka benar-benar putus dan bersama kembali saat memasuki bangku kuliah? Terlalu banyak alur di otakku, tetapi akhirnya aku memilih mereka tetap berpacaran wkwk

Namun, kuharap kalian yang membaca cerita ini dapat menikmatinya ya~! Tolong berikan banyak cinta untuk nagisagi! <3