Actions

Work Header

『Story of Season : Autumn 』❅ C. Takiishi x Readers

Summary:

Takiishi Chika yang terkenal lebih gila daripada Yamato Endo itu, ternyata pacarmu?
Apakah seorang seperti Chika adalah seorang yang bisa digapai?

Notes:

❅ Story by : MelodyRann ❅

❅ Pair : Takiishi Chika x Readers ❅

❅You as [Name] ❅

❅ Fandom : Wind Breaker [Bofurin] ❅

❅ Oneshoot ❅

❅ Sebagian cerita mengandung spoiler.

❅ Another Universe, beberapa masih mengandung manga.

❅ Kemungkinan Karakter akan OOC.

❅ Ditulis dengan bahasa baku.

❅ Wind Breaker [Bofurin] hanya milik Satoru Nii.

Work Text:

Merah dan oranye adalah warna yang paling [Name] suka, karena warna itu sangat indah, layaknya kobaran api, sama seperti Takiishi. 

Namun, Takiishi pernah bilang, kalau [Name] itu indah seperti lautan yang dalam, yang bisa menenggelamkan seseorang hanya dengan sebuah tatapan. 

Karena itu [Name] lebih indah jika digambarkan dengan warna biru tua. 

Terdengar jahat, namun [Name] menyukainya, karena terhitung sangat jarang sekali Takiishi memuji dirinya. Bahkan Takiishi setuju menjadi pacar [Name] pun seperti halnya seperti menemukan jarum diatas tumpukan jerami, hampir seperti tidak mungkin terjadi. 

Namun itu terjadi. 

Meskipun [Name] sempat kebingungan, karena pada dasarnya Takiishi memang tidak pernah sekalipun memukulnya meskipun ia sering bersikap kurang ajar kepadanya, tidak seperti Yamato yang baru bicara kurang ajar dalam satu bait, Takiishi langsung menghajarnya. 

"[Name]."

Tiba-tiba suara Takiishi menyadarkan [Name] dari lamunannya. 

"Hm?" sahut [Name] sembari berjalan menghampiri kekasihnya yang baru saja berkelahi dengan puluhan berandalan. 

[Name] sudah terbiasa, malahan ini tidak ada apa-apanya, masih bisa dibilang kalau Takiishi masih mengasihani mereka. 

Takiishi tiba-tiba mengulurkan tangannya yang sedikit memerah karena sudah meretakkan beberapa tulang manusia, dan hebatnya tulang Takiishi ini seperti terbuat dari baja, atau malah pemiliknya mati rasa? 

"Sakit?" tanya [Name], ia menangkap tangan tersebut, kemudian mengelusnya dan meniupnya, barangkali rasa sakit itu akan hilang. 

Empunya sama sekali tidak memberikan reaksi apapun, namun ia juga tidak menolak perlakukan yang kekasihnya berikan. 

Aneh, dan [Name] tidak pernah mengerti. 

Tiba-tiba Takiishi menunjuk ke arah plastik belanja yang [Name] bawa, isinya adalah beberapa buah kembang api yang rencananya ingin mereka mainkan hari ini. 

"Di sini?" tanya [Name], dan senyap, Takiishi mengambil kembang api tersebut tanpa bicara lagi.

Ia berjalan menuju beberapa berandalan yang sudah terkapar tidak sadarkan diri, kasihan, tapi yang Takiishi lakukan selanjutnya adalah menyalakan kembang api tersebut tepat di atas tubuh-tubuh yang terkapar itu. 

[Name] merinding, tapi kalau ia protes, takut Takiishi akan memukulnya seperti Takiishi menghajar Yamato tanpa pikir panjang ketika Yamato melakukan hal yang tidak Takiishi suka. 

[Name] berjalan mendekati Takiishi, kemudian tersenyum sembari berkata, "Chika, kembang api itu sama sepertimu, bersinar indah di atas langit, cantik dan menakjubkan."

Hening panjang, sebelum akhirnya Takiishi berucap, "Benarkah?" 

[Name] tersenyum dan mengangguk. 

"Aku tidak mengerti," sahut Takiishi tanpa mengalihkan pandangannya dari langit. 

Ah, benar juga. 

Di dunia Takiishi, hanya ada sesuatu yang ia suka dan ia benci. Kemudian ia juga melihat seseorang menjadi dua hal, yaitu orang yang memberikan hal-hal yang ia sukai, dan juga ada orang-orang yang menghalangi jalannya. 

[Name] sama sekali tidak tahu ia berada di mana, namun Takiishi juga tidak menolaknya. 

Ada kalanya ia berpikir Takiishi melihatnya seperti ia melihat Yamato, yaitu orang yang memberikan Takiishi hal-hal yang ia suka, meskipun setelah mengingat lagi, [Name] sama sekali tidak tahu kapan ia memberi hal-hal yang Takiishi suka. 

[Name] ingat terkadang ia sering menunjukkan apa yang ia sukai, dan hampir semua yang ia sukai pasti pada akhirnya akan menggambarkan seorang Takiishi. 

"[Name]."

Lagi-lagi Takiishi mengulurkan tangannya, dan [Name] dengan senang hati menerimanya, kemudian Takiishi menggenggam erat tangan yang lebih kecil tersebut, sedikit kurang ajar, Takiishi lupa tangan yang digenggam adalah milik seorang perempuan, hingga genggamannya terasa sedikit sakit. 

Namun bukannya mengaduh, [Name] justru tersipu dan menundukkan kepalanya. 

Aneh, padahal saat ini sedang musim gugur, udaranya pun sudah mulai dingin karena sudah mendekati musim salju, tapi wajah [Name] terasa hangat, hanya karena seorang Takiishi. 

─🍁─

Hari ini, seperti biasanya [Name] berjalan mengikuti Takiishi, entah untuk berkelahi, entah untuk melihat kembang api, atau hanya sekedar ingin berjalan-jalan. 

Yah, meski harus bertukar tatapan tajam dengan Yamato karena [Name] sangat sering mendominasi Takiishi dari Yamato. 

"Chika," ucap [Name] sebelum ia menghampiri salah satu dari pohon maple yang mengiringi jalan mereka.

Takiishi menghentikan langkahnya, kemudian menoleh ke arah [Name] yang tangan nya sudah sembarangan memetik daun-daun di pohon tersebut. 

"Daun maple ini cantik, seperti Chika," ucap [Name], tersenyum sembari mengulurkan daun itu kepada Takiishi.

Takiishi menerima daun itu, tapi hanya menatapnya dengan lekat. 

"Ini bisa dimakan," ucap [Name] dan dengan wajah tanpa ekspresi, Takiishi nyaris saja memasukkan daun itu ke mulutnya, untungnya [Name] segera menahan tangan Takiishi. 

"Bukan yang baru dipetik, ini kotor! Harus diolah dulu!" ucap [Name], panik. 

Untungnya Takiishi langsung menuruti [Name] dan membiarkan [Name] merebut kembali daun tersebut dari tangannya. 

"Biasanya akan diolah menjadi tempura," ucap [Name] sebelum ia melepaskan daun tersebut, kemudian ia menggenggam tangan Takiishi dan kembali melanjutkan langkah mereka. 

"Aku bisa membuatnya, kapan-kapan mau coba?" tanya [Name], kemudian disahuti anggukan oleh Takiishi. 

[Name] menarik tangan Takiishi sesaat, membuat empunya kembali berhenti berjalan. 

Takiishi menoleh ke arah [Name], masih sama dengan ekspresi wajah datarnya. 

[Name] mengulurkan tangannya untuk meraih sebuah daun kecil yang terselip di hair extension Takiishi. 

"Ini tersangkut," ucap [Name] sembari merapikan rambut Takiishi, sedangkan pemiliknya menatap lekat ke arah [Name]. 

Tiba-tiba genggaman tangan mereka di lepaskan oleh Takiishi, tangan itu naik dan mendekati wajah [Name], [Name] pikir Takiishi akan menghajarnya karena sudah menyentuh rambut Takiishi tanpa seijin pemiliknya. 

"Kau juga," ucap Takiishi, tangannya menarik daun kering kecil yang terselip di surai [Name]. 

Seketika wajah [Name] terasa hangat, Takiishi sepertinya juga tidak peduli, ia kembali menggenggam tangan [Name] sembari mereka berjalan. 

Aneh, padahal sedang musim gugur, udaranya pun sejuk, tapi [Name] merasa hangat. 

━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━

-End