Work Text:
“Gerah!” teriak [Name] sembari menyusun perlengkapan yang akan ia gunakan untuk berjualan di festival nanti malam.
“Namanya juga musim panas, sabar ya.”
Suara itu membuat [Name] mendongak, ia pun segera tersenyum lebar sambil berkata, “Jo! Ramune ku!!”
“Ini,” ucap Togame sembari memberikan sebotol ramune yang baru saja ia beli.
“Eh? Mana alatnya?”
“Oh, aku melupakannya.”
[Name] menghela nafasnya sebelum menjadikan jarinya sendiri sebagai korban untuk menjatuhkan kelereng yang menghalangi minumannya.
“Segar!!!” ucap [Name] setelah meminum ramune miliknya, tangannya kembali bergerak untuk menyusun barang-barang jualannya.
“Maaf, ya. Padahal kau sibuk, tapi menyempatkan diri datang kesini untuk membantuku,” ucap Togame sampai tersenyum.
“Tidak apa-apa! Lagipula aku sudah sering melakukan ini, dan lagi, Jo sudah lama tidak ikut, kan? Kau pasti akan nostalgia.”
Togame tersenyum sembari membantu [Name] menyusun barang-barang dan perlengkapan untuk berjualan.
[Name] terdiam setelah melihat senyuman Togame, sudah lama ia tidak melihat itu.
Yang ia ingat, dulu, tidak lama setelah Togame menolak pernyataan cinta darinya, tiba-tiba Togame berubah menjadi sosok yang menakutkan dan sangat sulit untuk digapai.
“Malam ini anggota Shishitoren akan mampir?” tanya [Name], namun pandangan nya masih sibuk ke arah pekerjaannya.
“Mungkin, tapi kalau mereka datang, orang-orang akan kabur, kan?” sahut Togame.
“Benar juga, ya. Padahal kalian sudah berubah, jauh lebih baik dari sebelumnya,” ucap [Name], membuat Togame seketika menoleh.
“Benar juga, ya,” ucap Togame sebelum ia kembali tersenyum.
“Padahal dulu kau takut.”
[Name] tertawa kecil, “Aku juga takut padamu.”
“Aku?” tanya Togame dengan polosnya.
“Siapa lagi,” ucap [Name], sebelum ia berdiri untuk mengangkat sebuah kompor ke meja bagian samping.
“Aku menakutkan?”
[Name] mendongak, kemudian mengangguk, “Ya, tapi sekarang aku sudah tidak setakut dulu.”
Hening, [Name] melanjutkan pekerjaannya, sementara Togame sedang berlarut di dalam pikirannya.
“Maaf, ya.”
[Name] seketika mendongak, namun senyuman terbentuk di wajah gadis itu.
Benar, Togame sekarang sudah berubah, jadi ia tidak perlu khawatir Togame akan memukulnya.
“Oke, sudah siap! Aku pulang dulu, ya!” ucap [Name].
“Ya, maaf, sudah merepotkan mu,” ucap Togame, ia tersenyum dengan lembut, membuat [Name] segera menggelengkan kepalanya.
“T─Tidak, tidak, aku sudah biasa melakukan ini. Aku akan kembali lagi nanti sore, oke?”
Togame menganggukkan kepalanya, menatap kepergian [Name], sembari gadis itu melambaikan tangannya.
─🎆─
Sesuai janji, [Name] kembali saat sore hari, dengan yukata dan juga rambut yang sudah dihias dengan tusuk rambut berbentuk bunga lily.
Bukannya menikmati festival, ia malah membantu Togame berjualan di stand makanan. Kebetulan karena Togame sendirian dan stand nya cukup ramai, jadi [Name] memutuskan untuk membantu.
“Kame-chan!”
Suara yang tidak asing itu membuat [Name] dan Togame menoleh, tidak lain dan tidak bukan, Tomiyama, ketua Shishitoren.
“Oh, ramai,” ucap [Name] setelah mendapati beberapa anggota Shishitoren ikut dengan Tomiyama, untungnya mereka tidak mengenakan jaket Shishitoren, karena itu akan mengundang banyak tatapan.
“[Name]-chan!!!” teriak Tomiyama sedang semangat.
“Halo, semangat mu penuh seperti biasa, ya?” ucap [Name] sambil tersenyum, masih setia berdiri di depan kompor agar makanan yang ia masak tidak gosong.
“Sudah lama aku tidak melihatmu,” ucap Tomiyama.
“Eh? Padahal aku selalu ada setiap festival,” ucap [Name], tidak kalah polos.
Sedangkan anggota Shishitoren sedang bertukar tatapan, mereka sadar sebelumnya mereka menghabiskan waktu untuk bertarung dan membuang sampah-sampah yang menghambat tim mereka, sampai tidak punya waktu untuk bersantai seperti ini.
“Makanannya enak-enak sekali, Kame-chan dan [Name] tidak pergi jalan-jalan?”
“Yah, kami sedang sibuk, lihat,” sahut Togame.
“Oh, benar juga,” ucap Tomiyama, sebelum ia menoleh ke arah Togame.
“Kalau begitu, kami akan menggantikan kalian, jadi kalian berdua bisa jalan-jalan! Lagipula, lihat! [Name]-chan kepanasan!” ucap Tomiyama dengan senyuman khas miliknya.
“Eh? Tapi─”
“Percayakan pada kami!” ucap Tomiyama, memotong protes [Name].
Setelah paksaan dari Tomiyama dan di bantu oleh beberapa anggota Shishitoren lainnya, akhirnya [Name] dan Togame berjalan mengelilingi festival bersama.
Beruntungnya banyak stand makanan dan minuman yang masih buka, juga beberapa stand permainan, mereka jadi bisa bersenang-senang sesaat.
“Sudah waktunya kembali? Sepertinya kita sudah cukup lama─”
“Tidak apa-apa, ayo duduk sebentar.”
Kalimat [Name] dipotong oleh Togame, laki-laki itu mengajak [Name] untuk duduk di kursi kosong.
Baru [Name] duduk, tiba-tiba suara kembang api terdengar.
Benar juga, festival selalu kurang bila tanpa kembang api.
[Name] terdiam sembari menatap ke langit, tidak sadar bahwa sedari tadi Togame sedang terpana oleh [Name].
“[Name].”
[Name] menoleh meskipun suara kembang api memenuhi pendengarnya.
Togame menundukkan kepalanya, “Apakah kau benar-benar tidak takut lagi pada ku─ pada kami semua?”
“Tiba-tiba saja?” [Name] balik bertanya.
Togame hanya mengangguk pelan.
“Bohong kalau ku bilang tidak takut, tapi aku jujur, sekarang sudah tidak setakut dulu. Kalian sudah berubah, benar, kan?” ucap [Name], mencoba mengurangi beban pikiran Togame.
“Lagipula kau sudah kembali seperti dulu, matamu mengatakan semuanya,” ucap [Name] sembari ia memakan dango -nya.
“Ya, anak bernama Sakura itu yang merubah cara berpikirku,” ucap Togame.
[Name] menoleh sebelum ia tersenyum, “Syukurlah,” ucap [Name] sebelum ia kembali menatap langit yang di penuhi kembang api.
“Ayo kembali, aku mulai khawatir dengan stand makanan mu,” ucap [Name], ia pun berdiri, namun sebuah tangan menahannya.
“Jo?”
“Temani aku menulis tanabata sebentar.”
Melihat Togame yang akhirnya kembali menjadi dirinya di masa lalu, [Name] tidak bisa menolak.
Ia lantas mengangguk dan menemani Togame untuk menulis di secarik kertas, untuk digantung di atas pohon.
[Name] berdiri di samping Togame, terkadang melirik apa yang Togame tulis di tanabata, namun justru membuat [Name] memerah dan buang muka.
[Name] yakin ia pasti bermimpi.
“Terima kasih sudah tetap percaya kepadaku. Aku masih menyukaimu, semoga kau juga masih sama, [Name].”
Setelah menulis tanabata, mereka berdua kembali ke stand makanan milik Togame, dan benar saja, di sana terjadi sedikit kekacauan yang untungnya bisa segera di tangani oleh [Name] dan Togame.
“Tuhan, aku benar-benar tidak akan mempercayakan kompor lagi kepada para laki-laki ini,” ucap [Name] sambil menoleh ke arah Tomiyama, dan anggota Shishitoren lainnya.
“Maaf ya, [Name]-chan, Kame-chan,” ucap Tomiyama sembari menunduk, membuat [Name] terdiam dan sedikit tidak percaya.
“Tidak apa-apa, syukurlah kalian baik-baik saja,” ucap Togame sembari menatap satu-persatu anggota Shishitoren.
[Name] menghela nafasnya, namun akhirnya ia kembali tersenyum.
Benar ternyata, Shishitoren yang sekarang tidak seburuk sebelumnya, mereka mengaku salah bila mereka benar-benar salah, mereka juga orang-orang yang baik dan saling membantu.
[Name] bersyukur, cinta pertamanya kembali berubah menjadi orang yang ia kagumi, sosok yang hangat dan baik hati itu.
━━━━━━━━━━━━━━━━━
-End
