Actions

Work Header

Third dimensions.

Summary:

Di balik gelas kopi dan denting waktu yang terasa lambat, Wooyoung menyembunyikan sebuah kemampuan: ia bisa melihat warna dari perasaan orang. Warna-warna yang selama ini membantunya memahami dunia, tiba-tiba berubah saat Yunho datang—seorang pria asing yang menyimpan lebih banyak rahasia dari yang bisa Wooyoung duga. Saat kedekatan mereka tumbuh, Wooyoung menyadari bahwa Yunho bukan sekadar orang asing. Ia adalah bagian dari dimensi lain, datang untuk memperbaiki kesalahan masa lalu… atau mungkin mengulang luka yang tak pernah sembuh.

Kisah cinta mereka bukan hanya soal waktu, tapi tentang lintas dunia, kehilangan yang berulang, dan takdir yang tak bisa dihindari.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:


PROLOG

Warna selalu lebih jujur dari kata-kata. Sejak kecil, Wooyoung hidup dalam dunia penuh warna yang tak terlihat oleh orang lain. Warna kemarahan, kesedihan, kebahagiaan, bahkan cinta—semuanya menari di udara, melekat pada orang-orang seperti jejak cahaya yang enggan hilang. Tapi semakin ia dewasa, semakin ia sadar: tak semua warna membawa kenyamanan. Beberapa terlalu pekat, menyakitkan. Beberapa bahkan... hampa, seperti abu. Hingga suatu malam, di sebuah kedai kecil yang tersembunyi dari hiruk pikuk kota, Wooyoung bertemu seseorang yang warnanya tidak bisa ia terjemahkan. Bukan merah, bukan biru, bukan emas atau ungu. Tapi kilau asing dari dimensi lain—cahaya yang membawa kenangan, luka, dan sesuatu yang Wooyoung tidak pernah tahu ia rindukan. Namanya Yunho. Dan sejak malam itu, Wooyoung tahu: hidupnya tidak akan pernah sama lagi.


 

WARNA PERTAMA

 

Wooyoung selalu bangun lebih awal dari matahari. Kopi pertama hari itu bukan untuk pelanggan—melainkan untuk dirinya sendiri. Kedai kecil di ujung jalan Setiabudi itu bukan sekadar tempat bekerja baginya. Di sanalah ia menyusun ulang hidup, menata ulang rasa, dan… mengamati warna.

 

Ia menyalakan lampu bar, suara klik-nya menggema pelan di antara meja-meja kosong. Bau kayu tua dan biji kopi yang digiling kemarin menyambutnya seperti pelukan lama. Dunia terasa lebih lembut di jam-jam begini.

 

Wooyoung menyeduh secangkir americano dan duduk di balik meja kasir. Dari sudut matanya, warna-warna mulai bermunculan. Pagi itu, seorang pelanggan tetap datang—biru pucat, tanda kelelahan. Seorang ibu muda masuk, membawa warna jingga hangat penuh kasih sayang. Wooyoung tersenyum tipis, mencatat semuanya dalam diam.

 

Hingga pukul lima sore, semuanya berjalan biasa. Sampai bel pintu berdenting pelan, menandai masuknya sosok asing.

 

Dan warna yang masuk … tidak seperti yang pernah ia lihat sebelumnya.

 

Wooyoung menoleh. Pria itu tinggi, mengenakan jaket hitam dan celana yang sedikit terlalu panjang. Rambutnya berantakan, tapi wajahnya bersih. Kulitnya pucat. Tatapannya tajam, tapi lelah. Dan di sekelilingnya … warna yang berpendar aneh. Seolah cahaya dari dunia lain menyusup di celah kulitnya.

 

"Mau pesan apa?" Wooyoung mencoba terdengar tenang.

 

Pria itu menatap menu. Lalu, tanpa melihat langsung ke Wooyoung, ia berkata, "Apa kopi favorit kamu?"

 

Wooyoung mengernyit. "Kenapa?"

 

"Kamu terlihat seperti orang yang tahu rasa paling cocok untuk hari yang buruk."

 

Wooyoung diam sejenak, lalu berbalik menyiapkan kopi: latte dengan sedikit sirup vanila, taburan bubuk kayu manis.

 

Saat Wooyoung menyajikannya, pria itu mengangkat alis. "Kamu suka ini?"

 

"Iya. Nggak terlalu manis. Tapi ada aftertaste yang... hangat."

 

Pria itu mencicipi, lalu tersenyum tipis. "Ini rasa yang... pernah aku ingat."

 

Wooyoung terpaku. Bukan karena kata-kata itu, tapi karena saat pria itu tersenyum—warna di sekelilingnya berubah. Dari abu keemasan yang samar, menjadi ungu tua. Sebuah warna yang hanya pernah Wooyoung lihat sekali dalam hidupnya: saat ibunya meninggal sambil tersenyum dan berkata, “Akhirnya aku bebas.”

 

"Nama kamu siapa?" tanya Wooyoung cepat-cepat, menyembunyikan gugup.

 

"Yunho. Kamu?"

 

"Wooyoung."

 

"Tempat ini ... tenang ya." Yunho menatap jendela yang mulai dibasahi hujan. "Aku butuh tempat kayak gini."

 

"Kamu dari mana?" tanya Wooyoung hati-hati.

 

Yunho diam sejenak, lalu menoleh. "Jauh. Mungkin terlalu jauh untuk dijelaskan."

 

Wooyoung tertawa kecil. Dan warna Yunho berubah lagi—menjadi hijau tua. Pertanda ... kenyamanan?

 

Saat malam makin larut, Yunho belum pergi. Wooyoung merasa aneh, tapi tidak terganggu. Justru ... ada rasa tenang yang sulit dijelaskan. Mereka berbicara soal musik, soal malam, soal kesepian yang tidak punya nama.

 

Sebelum pergi, Yunho berkata, "Besok kamu buka jam berapa?"

 

"Jam tujuh malam."

 

"Aku akan datang lagi. Kalau kamu tidak keberatan."

 

Wooyoung hanya mengangguk. Tapi dalam dadanya, ada detak pelan yang aneh. Seperti dunia yang bergerak terlalu cepat … atau terlalu lambat, hanya karena satu orang.


 

SENYUM YANG TERTINGGAL DI GELAS KOPI

 

Hari-hari berikutnya, kedai Wooyoung mulai terasa berbeda. Bukan karena pelanggan yang berubah, tapi karena kehadiran satu orang—Yunho. Ia datang nyaris setiap malam, duduk di kursi yang sama di pojok dekat jendela, menatap keluar seolah sedang menunggu sesuatu yang tidak kunjung datang. Tapi yang datang justru kebiasaan baru: obrolan yang mengalir seperti aliran air hangat dan tawa kecil yang membuat udara di sekitar mereka terasa lebih ringan.

 

Yunho sudah tidak lagi menjadi orang asing. Ia kini memesan tanpa perlu ditanya: latte vanila dengan taburan kayu manis, buatan Wooyoung. Dan setiap kali Wooyoung meletakkan cangkir itu di mejanya, Yunho selalu berkata, “Rasanya selalu pas.”

 

Senyum Wooyoung perlahan menjadi lebih jujur.

 

Malam itu, Yunho tiba lebih awal. Wooyoung sedang menyapu lantai, tapi langsung mendongak saat bel pintu berbunyi. “Cepet banget. Aku belum sempat bikin kopi kamu.”

 

Yunho hanya tertawa. Tawanya ringan, tapi menghantam Wooyoung seperti denting nostalgia. “Nggak apa-apa. Aku cuma pengen ngobrol.”

 

"Oh? Biasanya kamu cuma nunggu kopi baru mulai ngomong."

 

"Kamu mulai hafal aku?"

 

Wooyoung diam sebentar, lalu menjawab sambil tersenyum kecil, “Mau kamu aku hapal dari warna, dari kopi, atau dari tatapan matamu?”

 

Yunho mengerjap. Wajahnya memerah sedikit. “Semua kayaknya… berbahaya.”

 

Dan malam itu berjalan lebih hangat dari biasanya. Mereka bicara soal masa kecil, tentang hal-hal konyol yang dulu mereka lakukan. Yunho cerita soal danau besar di dekat rumahnya (yang sebenarnya itu kebohongannya saja karena sejatinya tempat Yunho berasal itu bukan seperti apa yang dibahas), tapi ia ceritakan seperti itu adalah bagian dari kehidupan biasa. Wooyoung cerita soal pertama kali ia tahu ia bisa melihat warna perasaan orang—bagaimana ia ketakutan, tapi lama-lama terbiasa.

 

"Pernah jatuh cinta?" tanya Yunho pelan.

 

Wooyoung berpikir lalu berkata, "Pernah... mungkin. Tapi nggak pernah sampai terasa seperti ini."

 

Yunho menatapnya. Dan di sekelilingnya, warna-warna perlahan berganti: dari biru kehijauan, menjadi ungu lembut. Pertanda rindu. Atau cinta yang tumbuh diam-diam.

 

Interaksi mereka mulai penuh hal-hal kecil yang tak disengaja tapi bermakna.

 

Suatu malam, Wooyoung menjatuhkan sendok di depan Yunho.

 

“Astaga, maaf!” Wooyoung membungkuk, dan di saat yang sama, Yunho juga membungkuk.

 

Dahi mereka hampir bersentuhan. Mereka sama-sama membeku. Mata bertemu. Wooyoung yang dulu biasanya akan cepat menghindar, malam itu tidak mundur. Ia malah tertawa gugup. “Kamu sering bikin aku panik, tau nggak?”

 

Yunho menyeringai. “Tapi kamu tetap kasih aku kopi.”

 

“Itu masalahnya,” batin Wooyoung. “Aku tetap mau kasih kamu semuanya.”

 

Malam itu mereka duduk berdampingan. Tidak bicara selama beberapa menit. Hanya memandangi hujan dari balik kaca. Jarak mereka tak sampai satu jengkal. Dan Wooyoung... bisa mencium aroma Yunho: perpaduan antara hujan, kopi, dan sesuatu yang asing tapi menenangkan.

 

"Kalau dunia kamu berbeda," gumam Wooyoung, "kenapa kamu bisa nyaman di sini?"

 

Yunho menjawab tanpa menoleh, “Karena di sini ada kamu.”

 

Wooyoung ingin tertawa karena itu klise. Tapi ia malah membisu. Karena untuk pertama kalinya, kalimat klise itu terasa nyata.

 

Saat Yunho akhirnya pulang malam itu, Wooyoung berdiri di ambang pintu, menatap punggungnya yang perlahan hilang di balik kabut. Dan ia sadar—ia tidak ingin malam-malam ini berakhir.

 

Malam berikutnya, Yunho datang membawa sesuatu: mug berwarna biru gelap dengan tulisan “Untuk Barista Paling Sensitif di Dunia.”

 

Wooyoung menatapnya dengan alis terangkat. “Ini apa?”

 

“Souvenir. Karena aku tahu kamu bisa ‘melihat’ rasa hati orang, berarti kamu sensitif, kan?”

 

Wooyoung tak bisa menahan tawa. “Kamu ngeselin.”

 

“Tapi kamu ketawa,” kata Yunho bangga.

 

Dan Wooyoung, untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun, merasa seperti anak remaja jatuh cinta.

 

Malam itu mereka duduk bersebelahan di sofa kecil yang biasanya Wooyoung hindari karena terlalu sempit. Tapi malam itu ... justru terasa pas. Lengan mereka bersentuhan. Bahu mereka saling menyandar sebentar. Dan tak ada yang ingin menggeser jarak.

 

“Kalau aku dari dunia yang beda banget, kamu masih mau ngobrol sama aku tiap malam kayak gini?”

 

Wooyoung menoleh, menatap mata Yunho yang bersinar menyala bak bintang yang bersinar pada malam itu.

 

“Kalau kamu dari dimensi yang paling gelap sekalipun,” jawab Wooyoung pelan, “asal kamu bawa mug ini dan minta kopi, aku tetap bikinin.”

 

Dan warna di sekitar mereka malam itu begitu terang. Begitu hangat.

 

Yunho bersandar pelan di bahu Wooyoung.

“Jangan jatuh cinta sama aku, ya.”

Wooyoung diam sebentar, lalu membalas, “Terlambat.”


 

GEMURUH DI BALIK SENYUM

 

Malam di kedai itu mulai jalan seperti biasa. Tapi hari ini berbeda: Wooyoung merasa ada sesuatu yang akan mengubah ritme yang sudah ia kenal. Ia baru selesai menyusun tumpukan gelas saat suara bel pintu berdentang dan terdengar suara berat, “Jadi ini tempat kerjamu sekarang?”

 

Wooyoung membalikkan badan. Matanya membesar, lalu senyumnya mekar. “Mingi?”

 

Di ambang pintu berdiri seorang pria tinggi, berotot, dengan rambut sedikit acak-acakan dan jaket kulit yang tampak sudah melintasi banyak perjalanan. Mingi, sahabat masa kecil Wooyoung. Mereka sempat terpisah karena Wooyoung bekerja sebagai pelatih basket di luar negeri.

 

Mingi, yang tubuhnya menjulang 186cm dengan aura protektif, langsung menarik perhatian semua orang di kedai.

 

Wooyoung memeluknya cepat. “Gila! Kamu di sini?”

 

“Libur panjang. Dan aku kangen kamu,” jawab Mingi sambil mengacak rambut Wooyoung seperti dulu.

 

Yunho, yang baru saja masuk dari pintu samping menuju pojok favoritnya, langsung berhenti. Tatapannya tertuju pada Mingi—lebih tepatnya pada tangan Mingi yang masih mengacak-acak rambut Wooyoung.

 

Wooyoung menyadari kehadiran Nara dan langsung beralih. “Oh! Yunho, ini Mingi. Sahabatku dari kecil. Mingi, ini Yunho…”

 

Yunho mengangguk singkat. “Hai.”

 

Mingi menatapnya tajam sebentar, lalu tersenyum lebar dan menyodorkan tangan. “Kamu sering disebut Wooyoung melalui telepon. Ternyata kamu nyata.”

 

Yunho menjabat tangannya, ekspresi tenang. “Dan kamu yang selalu Wooyoung ceritakan saat dia ketawa sendiri waktu cuci gelas, kan?”

 

Suasana mendadak tegang. Tapi Wooyoung tertawa, berusaha mencairkan.

 

“Aku buatkan dua kopi favorit kalian, ya?”


 

Hari-hari berikutnya, Mingi jadi sering mampir, terutama menjelang pukul tujuh malam. Ia duduk di belakang bar, membantu Wooyoung saat kedai ramai, atau mengangkat karung biji kopi tanpa keluhan. Pelanggan mulai memperhatikan keakraban mereka. Bahkan ada yang bertanya, “Kalian pacaran?”

 

Wooyoung akan tertawa, dan Mingi hanya mengedip. Tapi Yunho—

 

Yunho mulai datang lebih jarang.

 

Saat Wooyoung menanyakannya ketika Yunho duduk di tempat spot favoritnya, Yunho hanya menjawab, “Lagi sibuk. Urusan dari... tempatku yang lama.”

 

Tapi Wooyoung tahu ada yang berubah. Warna ungu lembut di sekitar Yunho kini menggelap, jadi abu-abu redup. Seperti awan mendung sebelum hujan.

 

Malam itu, tepat pukul tujuh, Wooyoung nekat menyusul Yunho yang duduk sendiri di halte dekat taman kota yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kedai kopi tempat Wooyoung bekerja—sekitar 500 meter dan jalannya lurus. (Wooyoung sudah meminta tolong kepada Mingi untuk menjaga kedai kopinya.)

 

“Aku ganggu kamu?”

 

Yunho menoleh pelan. “Enggak. Aku cuma… mikir.”

 

“Kenapa akhir-akhir ini menjauh?”

 

Yunho diam lama. Lalu berkata, “Kamu bahagia. Sama dia.”

 

Wooyoung mengerutkan kening. “Mingi sahabatku. Dari kecil. Kita berantem, kita baikan, kita ngopi bareng. Tapi dia bukan kamu, Yunho.”

 

Yunho tertawa miris. “Tapi dia nyata. Kamu bisa peluk dia kapan aja. Bisa bicara tanpa was-was dia bakal lenyap kalau dimensi waktunya selesai.”

 

Wooyoung terdiam. Angin dingin menyapu pelan.

 

“Aku bukan bagian dari duniamu, Wooyoung,” bisik Yunho. “Dan semakin sering aku ada di sini… aku mulai berharap bisa selamanya.”

 

Wooyoung menggenggam tangannya. Kuat.

 

“Tetaplah berharap. Karena aku juga berharap. Setiap malam.”


 

Namun keesokan malamnya, tepat pukul tujuh, semuanya berubah.

 

Wooyoung menemukan Mingi berdiri di depan kedai, memegang sesuatu di tangannya. Sebuah buku kecil, lusuh, dengan simbol aneh yang Wooyoung tidak pernah lihat sebelumnya.

 

“Ini jatuh dari tas Yunho,” katanya pelan. “Aku buka karena penasaran.”

 

Wooyoung menatapnya. “Dan?”

 

Mingi menatap lurus. “Yunho bukan manusia. Dia... makhluk dari dimensi lain, bukan cuma secara fisik, Wooyoung. Dia pengamat waktu. Penjaga keseimbangan. Kalau dia tinggal terlalu lama di sini, ini—” ia menunjuk langit, “semua bisa rusak.”

 

Wooyoung membeku.

 

Mingi menatapnya penuh iba. “Aku tahu kamu sayang dia. Tapi kamu harus siap kehilangan.”

 

Malam itu Wooyoung tidak bicara sepatah kata pun. Tapi saat pukul tujuh itu tiba, ia duduk di kursi pojok milik Yunho, berharap sosok itu muncul. Dan ketika akhirnya Yunho datang, Wooyoung berdiri.

 

“Aku tahu semuanya.”

 

Yunho tidak bertanya bagaimana. Ia hanya mengangguk pelan.

 

“Kenapa kamu nggak bilang dari awal?” suara Wooyoung gemetar.

 

“Aku takut. Karena untuk pertama kalinya... aku ingin tinggal.”

 

Dan Wooyoung pecah.

 

“Kalau tinggal disini berarti hancurin dunia ini, kenapa aku justru pengen kamu nggak pernah pergi?”

 

Yunho berjalan pelan ke arahnya, menatap mata Wooyoung dalam-dalam. Lalu, dengan suara yang nyaris tak terdengar, ia berkata, “Karena cinta kadang tak bisa dilogika. Dan aku terlalu lama hidup hanya dengan logika.”

 

Wooyoung menggenggam pipi Yunho, jempolnya menyapu lembut bawah matanya. “Aku nggak peduli dimensi apa kamu berasal. Kamu milikku sekarang. Selama kamu bisa di sini, meski satu hari lagi … aku mau habiskan semua yang kupunya untuk itu.”


 

Yang Pernah Kita Jalani 

 

Pukul tujuh malam.

Langit kota seperti terbakar pelan oleh luka-luka yang tak pernah sembuh. Hujan turun pelan dan ragu-ragu, seolah langit pun sedang belajar cara menangis diam-diam. Di dalam kedai kopi kecil yang masih bertahan di antara riuh dunia, Wooyoung berdiri sendirian di balik meja bar—dalam senyap yang hampir terasa suci.

 

Seminggu terakhir, malam-malam seperti ini jadi satu-satunya hal yang ia nantikan. Seperti ritual. Seperti agama yang diam-diam ia anut, bukan karena kepercayaan, tapi karena kebutuhan akan hadirnya seseorang yang seolah berasal dari waktu yang berbeda.

 

Yunho

 

19:01.

 

Detik jam terdengar lebih keras dari biasanya. Wooyoung tahu itu hanya di kepalanya. Tapi malam ini ... suara waktu terasa kejam. Seolah sengaja menertawakannya.

 

Ia menyiapkan satu cangkir kopi. Cinnamon sedikit. No sugar. Two shots. Tanpa konfirmasi. Tanpa tanya. Karena ia sudah tahu. Karena ia mengingat, walau Yunho tak pernah benar-benar meminta.

 

Itulah bahayanya cinta diam-diam—ia membuatmu menghafal seseorang lebih dalam daripada mereka pernah sadari. Saat uap tipis dari kopi itu mengepul, bel pintu berdenting. Dan Wooyoung tahu, tubuhnya bereaksi lebih dulu daripada pikirannya. Jantungnya menghentak, otot-otot di bahunya menegang, dan telapak tangannya yang memegang cangkir mendadak berkeringat.

 

Dia datang.

 

Basah kuyup. Rambut gelapnya menempel di pelipis, dan jaketnya meneteskan air ke lantai kayu. Tapi ... yang paling menghantam Wooyoung bukan penampilannya—melainkan tatapan matanya.

Tatapan orang yang akan pergi ... tapi diam-diam masih ingin tinggal.

 

"Maaf," suara Yunho pecah. "Aku telat."

 

“Tiga menit,” balas Wooyoung, tanpa tersenyum. Tapi tangannya sudah lebih dulu menyodorkan cangkir kopi yang ia siapkan.

 

“Udah aku siapin. Cinnamon-nya agak lebih banyak ... kupikir kamu butuh yang manis malam ini.”

 

Yunho tersenyum kecil. Tapi senyum itu seperti pecahan bulan—tak utuh, tak terang. Ia duduk. Menggenggam cangkir seperti seseorang yang mencoba menyelamatkan sesuatu yang tersisa. Wooyoung memperhatikan. Diam-diam. Dengan mata yang menelanjangi waktu.

Karena ia tahu ... malam ini bukan malam biasa.

 

“Aku harus jujur, Wooyoung.”

 

Yunho mengangkat wajah. Kali ini, matanya seperti jendela yang dibuka paksa.

 

"Aku... nggak bisa ada di sini lebih lama lagi."

“Waktuku udah habis.”

 

Wooyoung tak langsung menjawab. Napasnya tercekat. Ia menunduk, menatap meja kayu yang punya terlalu banyak kenangan dalam senyap.

 

"Apa maksudmu nggak bisa?"

 

Yunho menelan ludah.

 

"Aku datang dari tempat lain—kamu tahu itu. Tapi... dunia asalku bukan cuma diam melihatku pergi. Sistem di sana menarikku balik. Mereka tahu aku udah terlalu lama tinggal di sini. Realitas... sedang memperbaiki dirinya. Dan aku bagian yang nggak seharusnya ada."

"Kalau aku tetap di sini, sesuatu yang lebih besar bisa rusak. Jadi... malam ini, Wooyoung. Malam ini terakhir."

 

Wooyoung menutup matanya. Di dalam kepalanya, semua malam yang mereka lewati mengalir seperti kilasan film. Dari malam pertama yang hening... sampai percakapan kecil yang jadi kebiasaan... hingga kehadiran Yunho yang perlahan-lahan tumbuh jadi kebutuhan.

 

"Kamu tahu aku akan jatuh cinta."

 

Suara Wooyoung pelan. Rapuh. Tapi tegas.

 

"Kamu tahu... dan kamu tetap datang malam-malam ini. Tetap bikin aku nunggu setiap jam tujuh. Tetap bikin aku percaya.”

 

Yunho mengusap wajahnya kasar dan berkata, 

 

“Karena aku juga jatuh cinta, Wooyoung.”

“Tapi aku nggak bisa tinggal.”

 

Hening.

Dunia seperti melambat. Angin seperti mengintip dari sela pintu. Di luar sana, realitas berjalan seperti biasa. Tapi di dalam kedai kecil itu ... semuanya hancur dalam senyap.

 

Wooyoung berdiri pelan, mengitari meja. Langkahnya berat—seperti menyeret seluruh harapannya. Ia berdiri di depan Yunho yang masih duduk. Wajah mereka hanya terpisah beberapa jengkal. Tapi jarak itu... seperti jurang semesta.

 

"Kalau kamu harus pergi... biarkan aku tetap jadi rumah. Biarkan aku... menyimpan perasaanmu di sini.” 

 

Yunho berdiri. Matanya merah. Tapi ia tidak menangis. Mungkin ia tidak boleh. Atau mungkin ia tidak bisa.

 

“Kalau semesta ini terbuka lagi, dan kamu bisa datang—temui aku.”

 

Wooyoung mengangguk. Dengan bibir gemetar. Tapi mata yang mantap.

 

"Aku akan cari kamu. Bahkan kalau kamu udah nggak inget aku. Aku akan tahu.”

 

Saat itu, lampu-lampu kota di luar berkedip sekali.

Dan Wooyoung tahu.

Waktunya sudah habis.

 

Yunho menarik Wooyoung ke pelukannya. Hangat. Lama. Tapi tetap terasa terlalu singkat.

Ia mencium kening Wooyoung, lalu berbisik:

 

“Terima kasih udah jadi rumah paling tenang yang pernah aku kenal.”

 

Dan saat Wooyoung membuka mata—Yunho sudah tidak ada.

 

Tidak ada suara langkah. Tidak ada pintu terbuka. Hanya ada kursi kosong dan cangkir yang masih menguap hangat. Dan di atas kursi itu ... Sepotong kertas kecil. Lusuh. Tapi Wooyoung tahu tulisan itu.

 

“Jangan tunggu aku. Tapi tetap cinta aku.” 


 

Dunia Tanpa Malam, Tanpa Wooyoung

 

Yunho berdiri di lorong panjang yang dingin dan sunyi, dinding-dinding beton abu-abu menyergapnya dengan kesunyian yang hampir membunuh. Lampu-lampu neon putih menggantung di langit-langit, memancarkan cahaya steril tanpa kehangatan, membuat bayangannya sendiri tampak seperti sosok asing. Udara di sini berat dan kering, seolah menelan setiap napas yang diambilnya.

 

Tangannya yang halus dan pucat terulur, seolah mencoba meraih sesuatu yang tak pernah bisa ia sentuh. Pandangannya kosong, namun hatinya kacau, bergolak dengan tumpukan perasaan yang tak pernah ia izinkan keluar.

 

Di dunia ini, cinta adalah kelemahan. Emosi adalah cacat bawaan. Dan Yunho—yang seharusnya menjadi salah satu penjaga kestabilan emosi—adalah anomali yang terlalu lama dibiarkan hidup.

 

Ia bukan manusia. Bukan juga robot. Ia adalah produk dari eksperimen ratusan tahun yang lalu, ketika manusia nyaris punah karena emosi mereka sendiri. Untuk bertahan, mereka menciptakan makhluk seperti Yunho: tubuh manusia, pikiran yang dikendalikan, hati yang dinonaktifkan. Tetapi entah bagaimana, satu kesalahan dalam sistem telah menyelipkan sesuatu ke dalam dirinya: kemampuan untuk merasakan.

 

Dan itu menjadi awal kehancurannya.

 

“Bagaimana bisa aku terjebak di sini, di dunia yang tak pernah mengenal malam, yang tak pernah punya ruang untuk perasaan...?” suaranya bergetar ketika ia bertanya pada dirinya sendiri. “Aku yang dulu penuh harapan dan cinta, sekarang jadi bayangan yang tak berarti. Apakah aku masih manusia, atau hanya sebuah kenangan yang dilupakan?”

 

Yunho menunduk, menatap permukaan lantai yang licin dan dingin. Ia tahu jawabannya, tapi tak ingin mengakuinya. Ia merindukan sesuatu yang lebih dari sekadar keberadaan—ia merindukan Wooyoung.

 

Hologram transparan di depannya perlahan menyala. Terpancar dari permukaan kaca itu gambaran bumi, dengan segala hiruk pikuk kota dan kehidupan yang berdenyut. Di sebuah sudut, ia melihat Wooyoung duduk di kedai kopi kecil yang hangat. Rambut hitamnya yang acak-acakan jatuh lembut di dahinya, sementara matanya menatap cangkir kopi yang mengepul. Senyum kecil yang jarang ia tunjukkan muncul di bibir Wooyoung. Di sampingnya, berdiri seorang pria tinggi berotot—Mingi. Aura hangat dari pria itu berbeda, tapi jelas membuat Wooyoung nyaman.

 

Yunho menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan jantungnya yang berdebar liar. “Dia sudah punya dia sekarang,” bisiknya tanpa suara. “Orang yang bisa membuatnya tersenyum tulus, yang bisa menyentuh hatinya tanpa takut. Bukan aku lagi ....”

 

Matanya mulai basah. “Aku ingin dia bahagia, benar-benar. Tapi bagaimana caranya aku melepasnya tanpa rasa sakit yang membunuh ini?”

 

Yunho menggenggam sebuah alat kecil di saku bajunya, sebuah perangkat transmisi antar dimensi yang dilarang digunakan. Ia tahu risikonya, tapi cintanya tak membiarkan dia diam.

 

Dengan tangan gemetar, ia mengaktifkan alat itu dan menempelkan dekat telinganya. Suara Wooyoung terdengar samar, seperti bisikan dari kejauhan.

 

“Yunho ... ? Apakah benar itu kau?”

 

“Ya, Wooyoung,” jawab Yunho, suaranya pecah penuh kerinduan. “Aku di sini. Aku tidak pernah berhenti mencintaimu, walaupun dunia ini mencoba memisahkan kita.”

 

“Aku bingung, Yunho. Aku merasa terperangkap antara masa lalu dan masa depan. Aku...” suara Wooyoung terdengar berat dan penuh dilema.

 

Yunho tersenyum pahit. “Kau harus memilih, Wooyoung. Pilihlah yang membuatmu bahagia. Tapi ingatlah, aku pernah ada di hatimu, dan aku mencintaimu dengan seluruh jiwaku.”

 

Detik-detik berlalu, dan alarm berbunyi keras di lorong itu. Waktunya hampir habis.

 

“Ini bukan akhir, Wooyoung,” katanya dengan suara lirih, “Ini hanya jeda... Aku akan selalu ada di sudut hatimu.”

 

Matanya menatap hologram yang mulai memudar. “Aku akan meninggalkan dunia ini, walaupun aku harus melawan dimensi ini, tunggu aku.”


 

Dalam hati, ada harapan kecil yang terus menyala, bahwa suatu saat, Wooyoung akan mengingat dan merasakan kembali cinta yang pernah mereka bagi. Namun, di bawah semua itu, ada rasa getir yang mendalam—perasaan menjadi terlupakan, tapi tetap mencintai tanpa syarat.

 

Yunho berdiri di depan panel kaca transparan yang membentang dari langit-langit hingga ke lantai. Di balik kaca itu, dunia Wooyoung terpampang dalam pendar lemah: realitas berdimensi paralel yang dulu tak sengaja ia jamah saat sistemnya mengalami gangguan. Dunia itu berbeda—berisik, acak, penuh warna yang tak beraturan. Tapi di sanalah ia melihat Wooyoung pertama kali, berdiri di kedai kopi malam itu, dengan tubuh kecilnya yang hangat, sorot mata yang lembut, dan warna di sekelilingnya yang tidak bisa Yunho lupakan: warna yang tidak bisa dijelaskan oleh sistem mana pun di sini.

 

Wooyoung adalah warna pertama yang pernah Yunho lihat.

 

Dan sejak saat itu, segalanya berubah. Yunho menyusup ke celah dimensi beberapa kali, melanggar aturan sistem. Tapi ia hanya bisa bertahan sebentar. Setiap pelintasan menimbulkan reaksi balik—bagi dirinya, dan bagi Wooyoung. Terlalu sering tinggal di dunia itu akan mempercepat kehancuran. Namun terlalu lama berada di sini akan membuatnya mati pelan-pelan.

 

“Aku tidak bisa lagi menunggu sistem menghapus semua memoriku,” gumamnya pelan, menatap panel kendali di tangannya. Di layar transparan itu, ada indikator merah menyala: “Emotion Contamination Level: CRITICAL.”

 

Itu berarti waktunya habis. Sistem telah mendeteksi bahwa ia terlalu lama ‘merasa’.

 

Ia harus pergi.


Lorong menuju ruang pelintasan sunyi seperti makam. Cahaya biru di sepanjang dinding mengalir seperti darah beku. Yunho berjalan pelan, membawa satu benda yang dilarang: Emotion Transfer Node, perangkat kecil yang menyimpan semua memorinya bersama Wooyoung.

 

Di dunia ini, cinta adalah penyakit. Tapi Yunho memilih untuk menjadikannya obat. Meski harus mencuri. Meski harus menghilang dari catatan sistem.

 

Tapi sebelum ia melintasi batas dimensi, ia berdiri sejenak di ruang steril itu, dan memejamkan mata. Untuk pertama kalinya, ia membiarkan dirinya merasakan semuanya: rasa sakit, kerinduan, ketakutan.

 

Dan di antara semua itu, ada satu rasa yang paling membuatnya goyah—harapan.

 

"Wooyoung … kalau kau sudah melupakan aku, biarkan aku mencintaimu sekali lagi. Kalau kau masih mengingatku … aku mohon, jangan tolak aku."

 

Dengan langkah pelan, Yunho memasuki portal dan tubuhnya memudar ke dalam pusaran cahaya.


 

Saat Hujan Mulai Pelan

 

Hujan turun perlahan, menyapu trotoar Setiabudi dengan ritme yang nyaris menyakitkan. Seolah hujan pun tahu bahwa malam ini bukan tentang kenangan, melainkan tentang keberanian membuka luka lama.

 

Wooyoung berdiri di ambang pintu kedai kopi kecil yang sudah ia jaga bertahun-tahun. Lampu gantung berwarna kuning temaram menyoroti wajahnya, menekankan garis lelah di matanya. Tangannya menggenggam kain lap, tapi pikirannya terikat pada sosok yang berdiri diam di seberang jalan—Yunho.

 

Rambut Yunho basah. Jaketnya melekat pada tubuh karena hujan, dan sorot matanya tidak lagi tajam seperti dulu. Ia tampak seperti seseorang yang baru saja kehilangan rumah, padahal di sinilah rumah itu pernah ada.

 

Dan di dalam kedai, Mingi menyaksikan semuanya. Ia tak perlu bertanya siapa pria itu. Ia tahu. Ia mengingatnya dari potongan-potongan cerita yang Wooyoung pernah bisikkan dengan suara kecil—tentang masa lalu, tentang luka yang dibungkus warna, tentang orang yang membuat warna ungu di matanya muncul lagi setelah bertahun-tahun dan bagaimana ia mengenal Yunho karena Wooyoung yang memperkenalkan mereka berdua.

 

“Biar aku yang panggil dia,” kata Mingi pelan.

 

Tapi Wooyoung menggeleng. “Biar aku sendiri.”

 

Ia melangkah ke luar. Udara malam menyambut dengan dingin yang menusuk, dan hujan menyapu wajahnya tanpa belas kasihan. Ia menyeberangi jalan, pelan tapi pasti. Dan Yunho… tetap diam, seolah takut satu langkah akan membuat semua ini menghilang seperti mimpi.

 

“Masuklah,” kata Wooyoung tanpa basa-basi. “Sebelum kita lupa kenapa kita bertemu lagi.”

 

Yunho butuh waktu. Tapi akhirnya ia melangkah.

 

Di dalam kedai, ketiganya duduk. Tak ada pelanggan lain malam itu. Hanya suara hujan yang masih menggantung dan lagu LANY – Thick And Thin yang mengalun dari pemutar tua di sudut ruangan.

 

Wooyoung menyajikan secangkir kopi ke hadapan Yunho. Tanpa bertanya, tanpa ragu. Yunho menyeruputnya, dan seulas senyum tipis muncul di sudut bibirnya.

 

“Kau masih ingat.”

 

“Tentu,” jawab Wooyoung. “Seseorang yang membuat warna seindah itu tak akan mudah dilupakan.”

 

Mingi berdiri di dekat bar, mengamati percakapan yang menggantung. Tapi hatinya tak sekeras yang ia kira. Ia tahu apa yang terjadi di antara mereka tak pernah benar-benar usai. Tapi ia juga tahu, tempatnya di hati Wooyoung… tak bisa begitu saja dihapus.

 

“Aku membawa ini,” kata Yunho, mengeluarkan sebuah benda kecil berkilau dari saku jaketnya. Emotion Transfer Node. Semua memoriku tentang kau ada di dalam sini.”

 

Wooyoung dan Mingi terdiam.

 

“Seharusnya aku menghapus semuanya,” lanjut Yunho. “Tapi aku tidak bisa. Jadi aku datang ke sini, tidak hanya membawa ingatan… tapi juga harapan. Bahwa mungkin, kita bisa mulai lagi. Dengan cara baru.”

 

Keheningan meluas. Tapi bukan keheningan yang kosong.

 

Wooyoung menatap Mingi. Mata mereka saling mencari makna.

 

“Aku dan Mingi… sudah melewati banyak hal,” ucap Wooyoung perlahan. “Kami membangun sesuatu dari kehancuran. Tapi itu tak pernah berarti aku sudah melupakanmu.”

 

Yunho menunduk.

 

“Aku tak ingin kau memilih,” kata Mingi akhirnya, suaranya serak. “Karena kupikir... kita semua hanya ingin merasa dicintai, tanpa harus mengorbankan satu sama lain.”

 

Kata-kata itu membentang seperti jembatan yang selama ini tak berani mereka tapaki.

 

Wooyoung menggenggam tangan keduanya. Tangan Mingi yang kokoh dan hangat, tangan Yunho yang dingin tapi gemetar.

 

“Mungkin,” katanya pelan, “cinta itu bukan tentang memilih satu. Tapi tentang membiarkan semuanya tumbuh, bersama. Kalau kita berani.”

 

Di luar, hujan mulai reda. Tapi di dalam kedai, hujan emosi baru saja berhenti mengguyur.

 

Malam itu, mereka tidak bicara soal masa lalu atau masa depan. Mereka hanya duduk, saling memegang tangan, mencoba merajut kembali sesuatu yang pernah rusak. Mencari cara agar tiga hati bisa berdetak berdampingan, tanpa saling meninggalkan.

 

Dan untuk pertama kalinya, mereka tidak takut akan warna yang mereka lihat di mata satu sama lain. Karena warna itu kini milik mereka bertiga.


 

Yang Harus Dibayar

 

Malam itu hujan turun lebih deras dari biasanya. Jakarta Selatan tenggelam dalam gerimis yang nyaris konstan sejak sore. Di Setiabudi, suara kendaraan menyatu dengan rintik air, membentuk semacam kesunyian yang bergerak. Kedai kopi itu tetap menyala, lebih hangat dari biasanya, seperti tempat persembunyian kecil yang tak terdaftar dalam sistem manapun.

 

Di dalamnya, ketiga tubuh duduk dalam diam. Wooyoung di kursi bar dengan secangkir kopi yang sudah mendingin. Mingi berdiri di sisi jendela, memperhatikan bayangan samar di balik tirai hujan. Yunho… berdiri di tengah ruang, di depan terminal kecil yang tersambung pada perangkat terakhir miliknya: Emotion Transfer Node yang kini terbuka, bagian-bagiannya terpampang seperti luka lama yang belum sempat dijahit.

 

“Waktu kita sudah habis.” Suara Yunho nyaris tenggelam oleh suara hujan.

 

Mingi menggeleng pelan. “Tidak. Bukankah kita sudah menutup jalurnya? Bukankah sistem itu tak bisa masuk ke sini lagi?”

 

“Mereka tak perlu masuk. Mereka hanya perlu menekan dari seberang. Dimensi itu... sedang merapat. Perlahan. Tapi pasti. Dan ketika waktunya habis... mereka akan menutup semua celah, termasuk kenangan tentangku.”

 

Wooyoung menatapnya, matanya seperti menahan sesuatu yang tak bisa dibicarakan sejak hari pertama Yunho kembali. “Kalau kau pergi ... dan aku lupa ... kalau semua warna tentangmu hilang ... lalu apa yang tersisa dari kita?”

 

Yunho menunduk. “Itu kenapa aku tidak akan pergi.”

 

“Yunho …” Mingi memanggil pelan, tapi nadanya seperti peringatan. Ia tahu risiko dari keputusannya. Dan Yunho tahu ... bahwa ia tetap memilih untuk bertahan.

 

“Mereka ingin menghapus dataku dari sistem. Tapi sistem itu tidak bisa menyentuh yang bukan bagian dari mereka. Tubuhku, pikiranku—aku bisa lepaskan koneksinya. Tapi itu artinya ... aku tak bisa kembali lagi. Aku akan jadi seperti makhluk liar. Tak punya negara. Tak punya masa lalu. Tak punya dimensi asal. Aku akan tetap di sini. Bersama kalian. Tapi …”

 

“Tapi?” Wooyoung berbisik.

 

“Aku bisa kehilangan diriku perlahan. Karena yang menyusun identitasku … terikat pada dunia itu.”

 

Keheningan jatuh di antara mereka. Lalu Wooyoung berdiri, mengambil langkah perlahan ke arah Yunho. Ia menyentuh wajah laki-laki itu, menyusuri lekuk pipinya dengan ujung jari. Mingi mendekat, berdiri di sisi mereka tanpa kata. Dan untuk pertama kalinya, mereka berdiri bertiga—dalam satu garis, dalam satu ruang yang selama ini hanya muat untuk dua.

 

“Kalau kau kehilangan dirimu,” Wooyoung berkata pelan, “biarkan kami mengingatkanmu siapa dirimu. Kau bukan hanya bagian dari sistem. Kau juga bagian dari sini. Dari kami.”

 

Yunho menghela napas panjang. Perlahan, ia mengambil Node itu dan meletakkannya di atas meja. Ia membuka panel terakhir, menyentuh bagian yang menautkan kesadarannya dengan dimensi asal. Satu sentuhan terakhir, dan koneksi itu terputus.

 

Lampu kecil di perangkat itu padam. Sejak saat itu, Yunho adalah milik dunia ini sepenuhnya. Hujan belum berhenti. Tapi segalanya terasa lebih hening, lebih lembut.

 

Wooyoung menyiapkan kopi untuk mereka bertiga—kopi kesukaan masing-masing, yang perlahan ia hafal sejak hari pertama Yunho datang kembali. Mingi membantu membereskan kursi, membuka tirai yang menutup jendela. Dan Yunho … duduk di bangku panjang dekat pintu, memandangi malam Jakarta seperti sedang menulis ulang makna rumah.

 

Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi esok hari. Tidak ada jaminan mereka bertiga bisa terus bersama tanpa ada bahaya baru. Tapi malam itu … tak ada lagi sistem. Tak ada lagi lorong. Tak ada lagi ancaman dimensi lain.

 

Yang tersisa adalah mereka. Tiga hati. Satu cinta.

 

Dan satu janji yang tak perlu diucapkan: kalaupun dunia tak mengenali mereka, mereka akan tetap mengenali satu sama lain.


 

Segala yang Ditinggalkan

 

Malam itu Jakarta diguyur hujan deras. Langit menumpahkan isi dadanya dengan cara yang hanya bisa dimengerti oleh orang-orang yang pernah kehilangan. Dan di dalam kedai kopi kecil di Setiabudi, cahaya temaram menyorot tiga bayangan yang duduk dalam diam. Tak ada pelanggan malam ini. Tak ada suara selain detak jam tua di dinding dan gemericik air yang memukul kaca jendela. Tapi di dalam dada mereka, ada badai yang jauh lebih ribut dari langit di luar sana.

 

Yunho duduk di pojok ruangan, tangannya menggenggam benda kecil berwarna hitam—satu-satunya sisa dari dunianya. Core Node, perangkat terakhir yang masih terhubung dengan sistem dari dimensi tempat ia berasal. Di dalamnya, semua identitasnya masih tercatat. Semua akses. Semua kenangan. Tapi juga ... semua jejak yang masih bisa membuatnya ditemukan.

 

“Kalau kita nonaktifkan ini ... kamu gak bisa kembali,” ucap Mingi perlahan, matanya menatap benda itu seakan itu adalah bom waktu yang siap meledak kapan saja.

 

“Aku gak mau kembali,” balas Yunho, suaranya serak, nyaris seperti bisikan. “Aku gak punya apa-apa di sana.”

 

Wooyoung memandang Yunho, matanya sendu. Tapi bukan karena kasihan. Lebih karena ia tahu... beratnya melepaskan masa lalu yang pernah jadi segalanya. Walaupun masa kini menawarkan kebebasan, selalu ada bagian kecil dari kita yang ingin menggenggam sisa-sisa siapa diri kita sebelumnya.

 

“Ada satu cara,” kata Wooyoung akhirnya. Ia berjalan ke meja kecil di dekat rak piring dan membuka laci. Di sana, ada perangkat lain—semacam adaptor transfer data dengan kabel tua yang terjuntai seperti urat. “Kita bisa hapus semua jejakmu. Tapi itu artinya ... kamu gak akan pernah bisa akses memorimu lagi. Semua riwayat hidupmu. Rekam emosi. Foto. Duniamu …”

 

Yunho menutup mata. Kepalanya menunduk. Ia sudah tahu ini dari awal. Tapi mendengarnya diucapkan oleh orang yang ia cintai membuatnya terasa lebih nyata. Lebih menyakitkan. Tapi juga... lebih meyakinkan.

 

“Aku gak butuh mereka kalau aku bisa punya kalian,” ujarnya, pelan namun tegas.

 

Mingi tersenyum tipis, sedikit getir. Ia tahu ini bukan keputusan kecil. Tapi Yunho sudah memilih. Dan malam ini, mereka akan menyelesaikan semuanya.

 

Dengan hati-hati, Wooyoung menyambungkan kabel ke node di tangan Yunho. Lampu kecil menyala di sisi alat itu, berwarna merah berkedip-kedip seperti detak jantung yang gelisah. Di layar laptop tua milik Wooyoung, sistem mulai berjalan. “Final Memory Erasure — Confirm?”

 

Yunho mengangguk. Lalu tanpa bicara apa pun lagi, ia menekan tombol “YES”.

 

Seketika ruangan dipenuhi suara dengung lembut, nyaris seperti bisikan kenangan yang dihapus. Di layar, potongan memori muncul sebentar—siluet anak kecil di tempat yang luas, suara memanggil samar dari seseorang yang mungkin ibu kandungnya, dan rekaman visual dari pelatihan militer dimensi mereka. Semua itu muncul... lalu padam. Satu demi satu, lenyap seperti pasir yang tersapu gelombang.

 

Saat proses selesai, node mati. Layar menjadi hitam. Dan untuk pertama kalinya, Yunho benar-benar menjadi bagian dari dunia ini—tanpa jejak, tanpa jalan kembali.

 

Ia menatap kedua lelaki di hadapannya. Tangannya sedikit gemetar. Tapi senyumnya perlahan terbentuk.

 

“Sekarang, aku cuma Yunho. Yang milik kalian.”

 

Mingi mendekat lebih dulu, menarik Yunho ke dalam pelukan hangat. Pelukan yang tak butuh kata-kata, hanya keberadaan. Wooyoung datang kemudian, menyandarkan kepalanya di bahu mereka. Tiga tubuh yang tak berasal dari dunia yang sama, tapi kini bernaung di bawah satu atap. Satu keinginan. Satu cinta.

 

Di luar, hujan mulai reda. Langit belum sepenuhnya bersih, tapi cahaya lampu jalan mulai menembus kabut. Seolah dunia pun ikut menghapus jejak masa lalu, perlahan-lahan membuka ruang untuk hari yang baru.

 

Malam itu mereka tidur di sofa besar, tak bicara banyak. Hanya membiarkan napas masing-masing menjadi irama yang menyamankan. Di antara mereka, tak ada yang utuh. Tapi justru karena itu... mereka saling melengkapi.

 

Dan kedai kopi kecil di Setiabudi tak pernah terasa sehangat ini.


 

Hari-Hari yang Pelan

 

Jakarta Selatan bangun perlahan. Matahari mengintip dari celah gedung-gedung tinggi, menyinari trotoar sempit yang mulai dipenuhi langkah kaki dan aroma gorengan dari abang-abang di pinggir jalan. Suara klakson, tawa anak sekolah, dan motor yang melaju terlalu cepat bersatu menjadi simfoni kota yang tak pernah betul-betul tidur.

 

Di sebuah kedai kopi kecil di Jalan Setiabudi, aroma kopi yang baru digiling menyambut siapa pun yang masuk. Lampu gantung temaram bergoyang pelan karena angin pagi, dan suara musik lembut dari speaker kecil di pojok ruangan membaur dengan suara mesin espresso yang bekerja tanpa keluhan.

 

Wooyoung berdiri di balik meja bar, mengenakan celemek biru tua yang sudah mulai pudar warnanya. Tangannya cekatan menuang susu ke dalam gelas, membentuk pola daun di atas cappuccino pesanan seorang pelanggan tetap.

 

“Kamu bangun pagi banget, padahal semalem begadang nonton film,” suara dalam bariton lembut datang dari arah dapur.

 

Yunho muncul dari balik pintu dapur, rambut masih sedikit berantakan, mengenakan kaos abu-abu dan celana santai. Di tangannya ada roti panggang dan dua telur rebus setengah matang.

 

“Kamu yang ngajakin maraton trilogi, bukan aku,” balas Wooyoung tanpa menoleh, tapi senyum kecil muncul di sudut bibirnya.

 

Tak lama, Mingi datang dari arah tangga loteng—tempat tinggal mereka di atas kedai. Ia baru selesai jogging, earphone masih menggantung di leher, dan napasnya masih terengah. “Eh, siapa yang lupa naro handuk di kamar mandi? Tadi aku hampir mati kedinginan!”

 

“Itu Yunho,” sahut Wooyoung cepat.

 

“Eh? Aku?” Yunho mengangkat alis.

 

“Refleks nyalain alarm aja cepet. Tapi giliran tanggung jawab ...” Mingi menggoda sambil mengambil segelas air.

 

Mereka bertiga tertawa.

 

Tak ada lagi rahasia. Tak ada lagi dinding yang tak bisa ditembus. Setiap pagi dimulai dengan candaan kecil, kopi hangat, dan keberadaan satu sama lain. Kadang mereka bertiga bekerja di kedai bersama. Kadang hanya satu orang yang berjaga, sementara dua lainnya menikmati waktu sendiri atau menyelesaikan urusan kecil—belanja ke pasar, membaca di taman, atau sekadar berjalan di sekitar Setiabudi, menyusuri jalan-jalan kecil yang dulu hanya terasa asing.

 

Yunho sekarang bisa mengenal semua pelanggan tetap: ibu-ibu yang selalu pesan latte tanpa gula, anak SMA yang suka ngopi sambil belajar, pegawai kantor yang selalu datang jam 8.45 tepat. Ia juga mulai belajar cara membuat kopi dari Wooyoung—meski hasil seninya kadang menyerupai katak bersedih alih-alih daun atau hati.

 

Mingi masih aktif dengan hobi fotonya, sering memotret kedai mereka dalam berbagai cahaya. Ia mulai mengisi dinding kosong kedai dengan hasil karyanya. Ada foto Wooyoung tertawa di bawah cahaya senja, Yunho yang sedang tidur dengan buku terbuka di dada, dan tangkapan kecil dari momen-momen yang sederhana tapi bermakna.

 

Pada suatu sore, saat kedai sudah hampir tutup dan langit Jakarta berubah jingga, ketiganya duduk di luar, memandangi kendaraan yang lalu-lalang.

 

“Dulu aku pikir cinta itu harus sempurna. Harus seperti yang ada di film—drama, kejutan, pengorbanan,” ucap Wooyoung pelan.

 

“Ternyata?” tanya Yunho, memiringkan kepala.

 

“Ternyata... cinta itu kayak hari ini. Kayak pagi tadi yang ribut soal handuk, atau kayak sore ini yang tenang banget.” Wooyoung menatap mereka berdua. “Cinta tuh... kamu dua orang ini. Dan cara kalian membuat aku mau pulang, tiap hari.”

 

Mingi tersenyum kecil. Yunho menggenggam tangan Wooyoung pelan.

 

Tak ada petir. Tak ada dimensi yang runtuh. Tak ada kabar dari dunia Yunho yang dulu.

 

Yang ada hanya hari ini. Dan rencana kecil esok hari—seperti memasang lampu baru di dapur, mengganti meja kayu yang sudah miring, atau mencoba resep croissant baru dari YouTube.

 

Dan dalam segala hal yang pernah mereka lalui—patah hati, kehilangan, keberanian untuk memulai—hari-hari seperti ini adalah hadiah.

 

Kedai kopi itu tetap berdiri, hangat dan penuh warna. Tak seperti dulu, di mana hanya Wooyoung yang bisa melihatnya. Sekarang, mereka bertiga bisa membacanya tanpa berkata-kata.

 

Cinta. Tak sempurna. Tapi nyata. Dan milik mereka sendiri.

SELESAI.

Notes:

Maaf ya kalau banyak putus-putusnya karena aku buat ini sambil memikirkan plot apalagi yang harus aku taruh dan aku lanjut ... ini narasi pertamaku, terima kasih!

(ps. aku ga suka slow burn jadi begini deh hehe ><)

Aku aktif di X juga kok, kalau mau mampir silahkan @uyccng