Actions

Work Header

8 pages of 4 sheets

Summary:

Gunwook is a freakish bookish nerd who has a hobby of writing fiction. One day, something weird happened from his 8 pages of 4 sheets about his two classmates, Gyuvin and Ricky.

Notes:

This is a work of BXB FANFICTION that contains depiction and/or strong implication of 𝗰𝗼𝗻𝘀𝗲𝗿𝘃𝗮𝘁𝗶𝘃𝗲 𝘀𝗼𝗰𝗶𝗲𝘁𝗮𝗹 𝗵𝗼𝗺𝗼𝗽𝗵𝗼𝗯𝗶𝗮. Contain 𝗵𝗮𝗿𝘀𝗵𝘄𝗼𝗿𝗱𝘀. The genre would probably be fantasy, thriller, and angst.

(See the end of the work for more notes.)

Chapter 1: Gunwook and his own world

Chapter Text

Gunwook is that nerdish bookish freak yet so lovable in school.

Kesehariannya cukup membosankan. Anak semata wayang dari keluarganya tumbuh sebagai sosok yang cerdas dan berprestasi — tentu saja. Ia dirawat oleh orang tuanya dengan luar biasa hingga tumbuh dengan apik — ia sangat tinggi, wajahnya terbingkai tegas dengan apple cheek yang sedikit chubby, bibir dan alisnya tebal, pupilnya gelap nan tajam.

Oh, Gunwook itu memesona.

Namun, ya, kalimat pertama yang rumpang itulah, yang perlu kembali dinyatakan bahwa keseharian Gunwook begitu membosankan.

Bagaimana tidak? Pagi ia sekolah, kemudian setelah pulang sekolah ia pergi ke bimbingan belajar, setelahnya ia masih harus ikut kursus piano, malam harinya ia tentu harus mengerjakan tugas. Kegiatan repetitif itu kadang diselingi dengan kegiatan OSIS yang memotong jam bimbelnya.

Ah. Sudah membosankan,

dan melelahkan.

Karena itulah, pada waktu-waktu kosong di sekolah, Gunwook memilih untuk bermalas-malasan. Ketika teman-temannya push rank bersama, Gunwook memejamkan matanya. Ketika teman-temannya meminta diajarkan suatu materi yang tak mereka pahami, yang mana sebenarnya adalah aksi yang baik, tetapi Gunwook memilih untuk berikan jawabannya karena ia malas mengajarkan. Ketika teman-teman sekelasnya fokus dengan materi yang dipaparkan oleh guru, Gunwook memilih untuk corat-coret fiksi di bukunya.

Kepenatannya setiap hari memancing Gunwook untuk mencari kegiatan yang membuatnya senang—dan menulis adalah salah satu yang paling sering dilakukannya. Berangkat dari hobi yang sebenarnya dipaksa oleh Ayahnya untuk membaca buku fiksi membangun imajinasi Gunwook untuk ikut curahkan ide-idenya.

Fiksi yang ia tulis bukanlah fiksi yang berat dan serius, bahkan jauh dari kata bagus. Paling, apa sih, perihal ujian, soal ketua osis, soal ulang tahun, tentang surat cinta—tema-tema klise yang tidak serius. Yah, namanya juga hobi selingan untuk melepas penat.

Gunwook biasa menulis di buku catatan bersampul warna hijau miliknya yang memang dikhususkan untuk menuangkan ide-idenya. Ia juga terkadang menulis dengan tab. Panjangnya pun tak seberapa. Tak lebih dari tiga halaman kalau di buku, dan tak lebih dari 600 kata kalau di tab.

Mulai dari minggu lalu, sekolah ribut dengan kabar kedatangan murid baru di kelasnya, 11 IPA 1. Gunwook tidak begitu memerhatikan gosipnya, karena, yah, ia malas saja. Lagipula itu tidak terlalu penting dan berpengaruh untuknya.

Yang Gunwook dengar, seharusnya siswa baru itu sudah bergabung dengan mereka pada awal minggu ini.

Namun, ini sudah memasuki hari Jumat. Mana orangnya?

Gunwook mulai skeptis. Katanya orang itu berprestasi. Digadang-gadang bisa jadi saingan Gunwook dan Seungeon — juara kelas sebelah yang menempati posisi peringkat pertama satu angkatan IPA. Tapi mana? Empat hari penuh bahkan absennya dibuat alfa oleh ketua kelas 11 IPA 1, Jang Wonyoung, yang katanya sudah kenal dengan si anak baru.

Gunwook rasa, omongan itu hanyalah gosip itu tersebar penuh lebih-lebihan dari mulut satu ke mulut yang lain.

Namun, ketika sosok asing dengan rambut pirang terang dan poni yang tersibak rapi membingkai dahinya, Gunwook menganga.

Jantungnya berdetak kencang.

Ia reflek membuka kacamatanya dan berbalik arah. Tangannya memegangi dadanya. Wajahnya memanas.

Fuck. Is that the new student? Siswa baru yang dibicarakan seantero sekolah? Siswa baru yang berprestasi itu?

No wonder he is popular even before he showed himself at school.

Bagaimana tidak? Selain surai pirang dan poni tersibak yang membingkai dahinya, orang itu juga punya rahang yang begitu tegas, hidung tinggi yang begitu apik, jangan lewatkan matanya yang terbentuk layaknya seekor kucing, oh— juga tatapannya yang tajam. Ditambah alisnya tebal, bibirnya yang melengkung seksi, bentuk badannya yang semampai dan proporsional.

Gunwook kehabisan kata-kata untuk mendeskripsikan orang itu selain satu kata: sempurna.

Telinga Gunwook tanpa sadar bekerja lebih keras. Ia yang semula acuh dengan gosip soal anak baru kini mengupingi semua informasi yang bisa ia dengar.

Namanya Ricky Shen. Gunwook melipat bibir dan menepuk dahinya malu karena ternyata Ricky adalah atlet basket yang dua hari lalu ia tonton di televisi sambil makan keripik barbekyu, meledek ayunan tangan si Shen bernomor punggung 04 itu loyo hanya untuk menerima pukulan dari kakak sepupunya. Katanya Shen sedang cedera kaki sehingga tak bisa berperforma dengan maksimal.

Mata Gunwook sama sekali tak bisa putus dari sosok Ricky, ia juga lihat ke arah kakinya yang memang diperban—ternyata kakak sepupunya tidak asal bicara. Jantung Gunwook makin berdetak kencang saat Ricky menoleh padanya dan sunggingkan senyum manisnya.

Brengsek. Stop senyum ke arah gue!

Gunwook merogoh tasnya, mengambil buku bersampul hijau miliknya—Iya, imajinasinya meliar. Jantungnya yang berdegup kencang memberikan dorongan bagi imajinasinya untuk menuliskan sebuah kisah cinta klise atas jatuh cinta kepada seorang murid baru.

Sebentar.

Jatuh cinta?

Bahu Gunwook turun bersamaan dengan adrenalinnya. Seutas senyum miring tergurat pahit pada bibirnya.

Pada lingkungan masyarakat konservatif dan penuh penghakiman pada perbedaan yang menyimpang, bagaimana bisa Gunwook sebutkan gemuruh dalam dadanya adalah bentuk dari jatuh cinta?

Jatuh cinta seharusnya didefinisikan sebagai perasaan yang menggembirakan. It supposed to gives you butterfly, cotton candy, flowers, and honey—some kind of that feeling. Namun dalam norma kemasyarakatan ini, perasaan tersebut hanya bisa didefinisikan antara rasa cinta laki-laki terhadap perempuan, begitu juga sebaliknya.

Jadi, Gunwook yakin, gemuruh dalam dadanya hanyalah sebuah perasaan kagum dan takjub terhadap sesamanya.

Kepalanya kembali menoleh ke arah Ricky, di mana ia tangkap langkah Ricky yang menuju ke arah di mana ia akan duduk selama satu semester ke depan.

Di sebelah Kim Gyuvin.

Benar. Gunwook semakin yakin bahwa degupan jantungnya hadir sebab ia kagum terhadap Ricky, layaknya ia kagum dan takjub kepada Kim Gyuvin tempo lalu— orang pertama yang pernah membuat jantung Gunwook bertalu-talu selama menjadi saingan kampanye calon ketua OSIS yang kemudian dimenangkan oleh Gyuvin.

Gunwook kembali menyimpan buku hijaunya ke dalam tas sebab bel masuk sudah berbunyi, digantikan dengan serentetan kertas soal dan buku catatan untuk memulai pelajaran.

Waktu senggang menunggu sang pengajar masuk ke kelas Gunwook gunakan sambil memerhatikan Gyuvin yang meminjamkan buku catatannya kepada Ricky kala mereka mulai bertukar cakap. Entah apa yang Gunwook bisa gunakan untuk mendefinisikan debaran dalam dadanya. Namun satu senyuman manis terbentuk.

Gyuvin anak yang baik dan pintar. Ia pasti dapat membantu Ricky mengejar ketertinggalannya selama beberapa minggu ini. Dan Gunwook juga percaya diri bahwa teman-temannya akan sebutkan namanya kalau Ricky butuh bantuan, tentu saja Gunwook akan senang hati membantu Ricky.

Sang pengajar masuk, begitu juga sisi sang juara kelas Park Gunwook yang diaktifkan. Sebagai sosok yang menopang ekspetasi orang tua, Gunwook harus utamakan pelajarannya, kan?