Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2025-05-21
Words:
1,726
Chapters:
1/1
Comments:
9
Kudos:
95
Bookmarks:
9
Hits:
985

caraphernelia

Summary:

Sungguh sulit dipercaya, bahwa mulai hari ini jejak keberadaan seseorang lainnya akan tercetak di sudut apartemen Phainon: setiap benda miliknya, seluruh aroma yang identik dengan keberadaannya.

Notes:

Honkai: Star Rail © HoyoVerse; penulis tidak mengambil keuntungan apapun dari fanfiksi ini.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

“Kenapa belum tidur?”

 

Seseorang terdengar menyapa, teguran samar terselip dalam suara tegas sekaligus tajam. Di antara kabut asap yang telanjur menebal Phainon kontan menegakkan punggung—tangannya terangkat panik, reflek pertamanya adalah buru-buru menjauhkan rokok dari bibir.

“M-Mydei…?” Si pemuda mengerjap sembari mencerna situasi, walau ia kemudian teralihkan oleh sepercik bara di ujung rokok. Tergesa, ia menjentikkan sisa abu ke dalam asbak—selagi itu pun tatapan Phainon menyipit penuh tanya, kendati senyumnya berangsur melembut manakala ia dapati Mydei melangkah mendekat.

“...Nggak. Nggak ada apa-apa,” Sisa asap meloloskan diri dari tepi bibirnya seperti hantu abu-abu. “Cuma susah tidur aja. Kayaknya, tadi pagi aku kebanyakan minum kopi.”

“Hmm.”

Mydei menanggapi tenang, sebersamaan angin yang membawa aroma familier ke hidung: polusi kota yang pahit berkelindan dengan segarnya bau dedaunan basah. Mula-mula senyap yang menengahi mereka terasa janggal sekaligus tenteram—Mydei ikut menyandarkan tangan ke pembatas balkon, tatapannya hanyut menekuni purnama yang teduh menerangi gedung-gedung… hingga tanpa peringatan, dalam gerakan ringkas nan gesit, direbutnya rokok dari genggaman Phainon.

Phainon terperangah. Seakan diajak bersekongkol, angin kencang pun mendadak berhembus ke arah mereka, mengoyak tabir asap di sekeliling. Berkat itu sekarang Mydeimos bisa melihat segalanya tanpa kesulitan: wajah Phainon yang rupa-rupanya sedang merona—kedua pipi Phainon makin merah padam ketika ia sadar Mydei cuma bergeming di hadapannya, mempelajari raut Phainon lama sekali.

“Mukamu merah sampai leher,” setelah beberapa detik, Mydei ganti menginspeksi rokok dalam genggaman, mengabaikan Phainon yang masih terbelalak. Jejak asap menari lemah di antara jepitan jari-jari tangan. “Ada apa? Setahuku, kamu cuma ngerokok kalau lagi sedih atau banyak pikiran.”

“...” Duh. Skakmat. Mydei cuma butuh beberapa patah kata untuk membuat Phainon mati kutu, dan demi seluruh dewa dewi yang menopang langit dan menjaga dunia dari malapetaka, bisa kabur ke mana lagi ia? Pasrah, seraya bersikeras tak ingin mengelaborasikan lebih lanjut, ujung-ujungnya Phainon cuma menjatuhkan kepala ke siku yang bersandar ke tepian balkon. Angin sialan yang berkhianat itu sekarang menarik-narik ujung kausnya lembut selagi Phainon memiringkan kepala, ganti mengamati Mydeimos diam-diam.

Mydei belum mengenakan kaus, celana pendeknya kusut seakan dikenakan terburu-buru. Rambut pirang Mydei yang mencuat-cuat serupa surai singa sesekali dimainkan angin, sekarang kulit dahinya yang halus terpapar udara bebas… Tiada yang terasa megah dari penampilan serampangannya, betapa Mydei versi malam hari selalu berantakan dan begitu tanpa pertahanan—tapi tidak tahu mengapa Phainon merasa kekasihnya itu curang sekali sekarang.

Phainon menusuk sisi pinggang Mydei pakai telunjuk; ia abaikan Mydei yang seketika mengernyit masam. “Kamu lebih aneh. Udah tau dingin gini di luar, bukannya cepetan pake baju.”

“Gerah.”

Singkat, padat, datar, lalu seenaknya saja Mydei menariknya—membawa telapak Phainon agar segera merengkuh di lekuk pinggang. Segaris seringai nampak mengintip di sudut bibir Mydei seakan-akan lelaki itu menikmati sekali menjahilinya. “Apa yang mengganggu pikiranmu sekarang, Phainon?”

Memang curang sekali, karena setelah pertanyaan itu Mydei lantas menjatuhkan kening ke ceruk bahunya—tubuh kokoh bersandar penuh-penuh pada sisi pundak Phainon, yang jelas-jelas belum pulih dari kecanggungannya. Napas Mydei memantul panas di leher. Bibirnya lanjut menanamkan kecup kecil di bahu Phainon, meniti sabar ke tulang selangka, dan tahu-tahu ciumnya berhenti di ujung tato matahari; tempat favorit si pemuda pirang. Bibir Mydei lembab dan basah. Helai rambut Mydei menggelitik kulit, lembut dan wangi shampoo… Nggak ada interogasi lanjutan namun detik itu Phainon tahu Mydeimos lagi-lagi berhasil menaklukkannya, tanpa perlu berusaha terlalu keras, seperti biasa.

Phainon merapatkan bibir. Pipinya masih terasa membara ketika ia pada akhirnya membenamkan wajah ke puncak kepala Mydei sambil mengeratkan pelukan di pinggang pemuda itu—

Ujung-ujungnya Phainon cuma mampu berbisik, terlalu malu: “Aku… aku deg-degan, liat kamu tidur di kasur aku. Bikin… overwhelmed.”

“Hah?” Bisa Phainon bayangkan, pasti Mydei sedang memasang wajah sangsi sekarang. “Bukannya aku udah sering nginep di sini?”

“Rasanya tetep aja beda, tau,” belanya lemah. “Kamu gak bakal ngerti.”

“Kata siapa? Jelasin dulu,” usai komando itu Mydei menjulurkan tangan, balas melingkari pinggang Phainon kencang-kencang. Jika dibiarkan, Phainon tahu bisep berotot si pemuda bakalan meremukkan tulang rusuknya. “Apanya yang beda?”

Ini sih bukan ditanya, tapi dia lagi diancam! Phainon kembali meringis dalam hati. Satu lengannya yang tidak mendekap Mydei mulai gelisah, jari-jarinya memilih mengetuk-ngetuk pagar balkon… satu-satunya penawar untuk kecanggungannya, secara ironis, hanyalah panas tubuh Mydei dalam pelukan. Napas Mydei terdengar teratur dan tenang—ia bisa lihat anting Mydei menangkap sinar bulan, berkilauan seperti warna langit musim panas. Usai menghitung satu sampai tiga dalam hati, Phainon akhirnya menyipitkan mata, napas dihela panjang.

Sejenak tatapannya menyeberang ke kejauhan, pada cahaya kota yang menyerupai lautan permata. 

 

“Beda,” suaranya rendah di dekat telinga si kekasih. “Soalnya, mulai hari ini kita tinggal bareng…”

 

…ya. Sungguh sulit dipercaya, bahwa mulai hari ini jejak keberadaan seseorang lainnya akan tercetak di sudut apartemen Phainon: setiap benda miliknya, seluruh aroma yang identik dengan keberadaannya.

Koper Mydei masih terbuka di kamar. Handuk Mydei telah digantung di kamar mandi, parfum-parfumnya yang seharga tiga kali lipat gaji bulanan Phainon dijajarkan rapi dalam lemari di atas wastafel. Aroma shampoo Mydei lekat di bantal dan selimut ketika Phainon terbangun setengah jam lalu—tubuh telanjang Mydei saat itu berbaring nyaman dalam peluknya, garis tato semerah darah terpatri maskulin seakan memeluk lekuk otot di tubuh. Tidur Mydei sungguhlah lelap dan damai, mata terpejam tenteram tanpa menyimpan kegelisahan apapun…

Soalnya, buat apa juga Mydei bangun cepat-cepat? Mulai besok Mydei akan mengambil pakaiannya di lemari Phainon, mandi di kamar mandinya. Mydei boleh kapan pun membuang irisan bawang bombay yang sudah basi di kulkas, sambil mengomentari rak-rak plastik di dalamnya yang minim stok buah segar. Mydei akan mampir ke supermarket setelah pulang kerja, membeli bahan masakan sarat protein untuk makan malam, dan Mydei juga akan… hmm, tunggu. Kenapa sekarang Phainon malah jadi iri dengan seluruh pegawai supermarket…? Mereka pasti bakal terpesona waktu mendapati pemandangan seorang pemuda tampan yang masih pakai kemeja kerja nampak serius memilih-milih brokoli… rambut Mydei dikuncir rapi di tengkuk, tatonya mengintip seksi di tepi-tepi kerah kemeja—

Lepas dari lamunan bodohnya, Phainon berdeham. Hidungnya lantas diusap-usapkan ke puncak kepala Mydei, berulang kali, seakan sedang mencari ketenangan hati dari sana. Sudah pasrah bakal diledek mirip anjing besar oleh pemuda satunya.

“...aku seneng, kita akhirnya bisa tinggal bareng gini,” lanjutnya terlambat, senyum terpulas agak malu-malu di sudut bibir. “Mulai sekarang, bisa bebas liat badan kamu habis kamu selesai mandi, bisa males-malesan sama kamu di depan televisi sambil nunggu ngantuk. Terus, kalau aku capek ngantor, pulangnya bisa minta diusap-usap kepalanya sama kamu… hehe…”

Tawa cengengesannya ditelan malam yang syahdu. Jika dibiarkan ia cuma akan makin mempermalukan diri, maka Phainon tutup segenap kejujurannya itu pakai cengiran tipis. “Gitulah. Saking senengnya, malah jadi susah tidur. Aku pasti payah banget di mata kamu, ya?”

“Menurut kamu?” setelah jeda yang ibarat selamanya, Mydeimos pada akhirnya mendongak. Ia menjauhkan kepala dari bahu bidang tempatnya bersandar sedari tadi—sorot mata si pemuda nyata-nyata geli, percuma saja disembunyikan. 

“Iya, payah. Kamu seyakin itu, kalau aku mau ngusapin kepala kamu tiap hari?” tanpa ampun, Mydei lanjut menjawab lugas. Telapaknya yang kokoh lalu menangkup rahang Phainon, naik ke rambut buat mengacak-acak. “Ranjang kamu nantinya bakal kerasa sempit. Kita harus mulai nabung buat beli yang lebih luas, Phainon.”

“Mm,” saat jari Mydei kembali turun buat mengusap di dekat bibir, mata Phainon menyusul terpejam. Ingin mengingat setiap hangat yang diantarkan sentuh lembut itu. “Sempit, tapi anget. Nggak usah beli baru juga akunya nggak apa-apa.”

“Terus, jangan suruh aku buat masak tiap hari. Gantian.”

“Iyaaa, nanti aku ikutan masak. Telur dadar, besoknya telur gulung, besoknya lagi mi instan pakai bawang goreng sama telur rebus,” mula-mula cengiran Phainon merekah kekanakan—kendati saat ia membuka mata, tatapannya tanpa sadar melunak. “Kasih tau aku, apa saja makanan kesukaanmu? Nanti kucari resepnya di internet.”

“Tarte aux pommes.”

“Tarte…?”

Dan saat Mydei bergerak mundur tanpa menjawab lagi, satu, dua langkah, Phainon putuskan untuk mengikuti. Pintu geser yang membatasi ruangan dan balkon masih menganga terbuka, menawarkan hangatnya kamar mereka. Tangan Mydei beristirahat di tengkuk Phainon, sesekali memainkan rambut kelabu meriap-riap—dan lengan Phainon masih melingkari pinggang si pemuda pirang, mendekap rapat, rasanya seakan mereka sedang berdansa lambat…

“Aku juga mau tau jam berapa alarmmu tiap pagi. Menu dietmu. Kebiasaan-kebiasaan kecil kamu…”

Di hadapannya Mydei tertegun. Sejurus kemudian, ia nampak berjuang menahan senyum.

“Alarmku jam setengah lima pagi,” tangan menarik-narik iseng ujung rambut sewarna salju. “Mulai besok, yang bangun lebih telat harus bikin sarapan. Aku mau makan tarte aux pommes.”

“Hah?” tidak terima, Phainon menyergah cepat. Lantai kamar terasa licin di bawah kaki telanjang. “Curang! Aturan macam apa yang cuma menguntungkan satu orang—”

 

Serta-merta saja ia dibungkam ciuman lembut di bibirnya. 

 

Tangan Mydei bertahan di rahang Phainon, membawa mereka hanyut dalam kecup panjang sebersamaan punggung Mydei yang terhempas lambat ke ranjang. Lampu tidur berpijar lembut menerangi dua pemuda yang mulai sekarang akan menghabiskan sisa usia mereka bersama: Phainon yang balas mencium dengan serakah dan lagi-lagi lupa mengatur tempo napasnya—juga Mydei yang malahan meladeni ketergesaan itu tanpa bantahan, seperti sedang memanjakan seorang bocah kecil.

Ia rengkuh tubuh Phainon agar torso mereka menempel. Seprai wangi lavender mulai kusut di bawah bobot tubuh, dan ciuman Mydei toh sama saja frustrasi—tidak sabar, memburu dan demikian putus-asa… seakan-akan pada siklus kehidupan yang lampau, takdir yang membelit mereka amatlah kelam dan menyedihkan. Seolah pada sepotong hidup baru yang teramat singkat ini, mereka harus mencengkeram kuat-kuat segala hal yang bisa digapai, supaya tidak lekas meluncur pergi dari genggaman—

 

(—dan, mulai sekarang: terbangun panik, bersama-sama, gara-gara alarm laknat Mydeimos yang meraung pukul setengah lima subuh. Berburu diskon supermarket tiap pukul enam sore, mengantri sabar di belakang wanita pekerja kantoran dan ibu-ibu yang beringas saat berebut sayur-mayur. Aroma rokok menthol mengendap samar di balkon penuh debu. Percakapan konyol dibisikkan di sela-sela kantuk, dalam lingkup selimut tebal, antara dua lelaki yang masih telanjang dan bersimbah keringat. Phainon akan mengujar sambil tertawa malu, menganggap dirinya dulu bisa menjadi kekasih Mydei karena tujuh puluh persen usaha dan tiga puluh persen keberuntungan… sementara Mydei akan mengakui lewat gumam pelan, bahwa dulu ia menerima pernyataan cinta Phainon karena seratus persen sayang —)

 

Terengah, Mydei menjauhkan wajah Phainon darinya. Dalam senyap jarinya naik untuk menelusuri garis hidung si kekasih, meraba ke sudut mata dan rahang tegas… diabsennya seluruh fitur favoritnya itu lambat-lambat, penuh sayang.

Sekali itu iris matanya berkilas keemasan lembut, mengerjap sayu—mengalah penuh-penuh. 

“Besok aku nggak akan pasang alarm,” Mydei berbisik parau, seiring tangan yang menelusup ke balik kaus tipis Phainon untuk mencengkeram kuat punggung pemuda itu. Dua kakinya lalu ditekuk dan terangkat—mengepit pinggang Phainon tanpa aba-aba, sebersamaan dengan munculnya senyum penuh makna di ceruk bibir. “Hibur aku lebih lama malam ini, Phainon.”

Mydei tertawa pelan ketika ia mendapati kekasihnya merona sekali lagi.

 

Notes:

AAAAAA AKU BARU KALI INIIII nulis yang 100% fluff TT____TT maafkan kalau aneh!!!?? makasih buat lucy yang udah rikues phaidei ngobrol-ngobrol gemes di balkon hihihi, makasih juga buat yang udah baca sampai selesai 🥰🥰 ak masih denial 3.3 jadi mungkin aku bakal bikin beberapa fic phaidei fluff lagi abis ini,,,,