Work Text:
Tidak pernah sekalipun Wisa membayangkan, ia bisa mendapatkan kebahagiaan dengan cara seperti ini.
Sedangkan Maga merasa dunia tidak pernah adil, karena selalu memberinya kebahagiaan yang hanya sebentar.
Start—
26 Mei 2025. Jam 18:30
Musim pancaroba—atau biasa disebut peralihan dari musim semi ke musim panas, musim dimana hujan sering datang tiba-tiba—seperti hari ini. Rintik yang awalnya pelan berubah menjadi deras dalam hitungan menit, membasahi trotoar dan membuat udara terasa lebih lembap dari biasanya.
“Hujan di musim semi adalah yang terburuk” pikir Wisa—seorang mahasiswa tingkat akhir dengan rambut hitam legam diatas bahu, yang sekarang lepek menempel di kening karena air hujan. Kacamata bulat bertengger di hidungnya yang mancung, berkabut oleh embusan napasnya sendiri. Di telinganya terpasang sepasang headphones, memutar lagu favorit yang entah sudah keberapa kali ia dengarkan.
“I’m falling from cloud nine, crashing from the high…”
Lirik lagu berjudul Wide Awake by Katy Perry mengalun samar di tengah suara hujan. Wisa mempercepat langkahnya, setengah berlari menuju halte bus yang masih beberapa ratus meter di depan. Celana jeansnya sudah basah setinggi betis, dan sepatu kanvasnya menampung air seperti ember bocor.
Ia mengumpat dalam hati. Hujan di musim semi tak hanya dingin dan tak terduga, tapi juga membawa serbuk-serbuk bunga dari pohon sekitar yang membuat hidungnya gatal dan dadanya sesak.
Langit yang tadi berwarna jingga keemasan kini nyaris hitam, seolah sore sedang ditelan malam lebih cepat dari biasanya.
Kampus tempat Wisa kuliah terletak di atas bukit, cukup terpencil dan berdampingan dengan hutan yang kerap disebut angker oleh para mahasiswa. Banyak cerita beredar dari mulut ke mulut—tentang suara langkah kaki di malam hari, tawa yang menggema entah dari mana, dan mahasiswa yang pernah tersesat tanpa jejak. Kali ini, demi cepat sampai rumah, Wisa memutuskan mengambil jalan pintas—jalur setapak yang melintasi hutan, toh Wisa tidak percaya dengan adanya hantu.
Wisa bukan anak yang ceroboh—ia sebenarnya sangat berhati-hati. Semua kali ini salahkan saja pada kacamatanya yang basah oleh air hujan, membuat penglihatannya kabur. Ia terus-menerus mencoba mengelapnya, tapi percuma jarak pandangnya pun nyaris nihil dibawah hujan deras.
Aspal sempit dan bobrok yang dilaluinya kini tergenang air bercampur tanah, membuat langkahnya terancam oleh jalanan yang licin dan berbahaya. Dan ya, tak lama setelah itu, Wisa tergelincir setelah kakinya tanpa sengaja tersandung retakan yang ada di aspal.
Wisa terguling guling jatuh sampai badannya menabrak sebatang pohon yang sudah tumbang. Bukan hanya pohon itu yang tumbang, Wisa pun sama, perlahan kesadarannya hilang.
“I’m wide awake…” suara Katy Perry dan gemuruh langit serta suara hujan yang memekakkan telinga adalah hal terakhir yang ia dengar, sebelum semuanya menjadi gelap.
Di sisi lain, di dimensi yang berbeda, seorang pria berkulit tan eksotis sedang berlari sekuat tenaga, dikejar kawanan manusia berjubah bulu serigala. Tapi manusia manusia ini jelas bukan seperti manusia di dunia yang kalian kenal. Ukuran tubuh mereka jauh lebih besar, dan gerakan mereka… hampir melayang saat melompat—melanggar logika gravitasi.
Sebenarnya, Maga—si pria berkulit tan itu—bukanlah sosok lemah. Di dunia bernama Utopia ini, kemampuan fisiknya bahkan di atas rata-rata. Tapi setelah hampir dua jam berlari tanpa henti, tubuhnya mulai kehabisan tenaga. Terik matahari yang menggantung di langit kelabu pun seolah ikut membakar sisa sisa nafas terakhirnya.
Saat langkahnya mulai goyah, tiba-tiba langit bergemuruh. Cahaya menyilaukan membelah udara—begitu terang hingga membuat manusia-manusia itu meraung keras terdengar seperti auman serigala lalu tersentak mundur. Mata mereka memang satu satunya kelemahan yang mereka punya: terlalu sensitif terhadap cahaya mendadak dan intens.
Dengan sisa tenaga, Maga berlari menuju sebuah gua di pinggir lereng. Tempat itu sebenarnya selalu ia hindari—konon gua itu adalah sisa mulut dimensi lama, tempat di mana realitas menekuk dan waktu bisa lupa arah. Tapi entah kenapa, kali ini kakinya seperti punya kehendaknya sendiri, menyeretnya ke arah gua tersebut.
Begitu yakin dirinya tak lagi dikejar, Maga duduk di bagian depan gua, dibalik semak semak dan samping dinding batu, mencoba mengatur nafasnya yang putus-putus. Namun ketenangan tak sempat bertahan lama. Ia mendengar erangan—lemah, dalam, seperti suara seseorang yang mencoba menahan rasa sakit. Sumbernya… dari dalam gua.
Instingnya langsung siaga. Dengan gerakan pelan dan langkah hati-hati, Maga menyusuri lorong gelap, hingga pandangannya menangkap sosok seseorang di ujung sana. Seorang pria mungil, dengan tas punggung yang sangat besar, basah kuyup dari ujung kepala hingga kaki, terduduk membelakanginya.
Seperti kucing hitam yang tercebur kedalam sumur. Too cute, he thinks.
Lalu Maga membeku—walau hanya sebentar, aneh, di hari sepanas ini, kenapa ada seseorang yang basah seperti baru tercebur ke sungai? Dan kenapa ada disini? di dalam gua yang bahkan tak ada setetes air sekalipun?
Maga berjalan mendekat. Di kaki kiri pria itu, terlihat luka besar dan dalam, seolah tertarik paksa oleh sesuatu. Pria itu mengerang—rupanya itu sumber suara tadi.
Maga menyentuh pelan pundak pria mungil itu. Tapi sentuhan itu membuat pria tersebut tersentak kaget, langsung mencoba menyerang tanpa sadar.
Untungnya Maga punya refleks yang sangat bagus dan cepat. Ia menangkap pergelangan tangan pria itu dan menahannya sebelum sempat ada serangan benar-benar terjadi.
“Yo, calm down. Gue bukan orang jahat. Nggak ada niatan buat nyakitin lo. I was outside the cave, and overheard strange sounds from inside. Jadi cuma memastikan doang, di dalem ada anak kucing yang butuh bantuan atau nggak. So, I found the kitten, are you okay? Do you need help?”
Itu bukan gaya bicara Maga yang biasanya. Ia bahkan bingung bagaimana bisa kalimat sebanyak itu keluar dari mulutnya—kepada orang asing, pula.
“Cave? Maksud kamu gua? Nggak, aku nggak mungkin ada di dalam gua. Aku tadi pingsan karna kepleset trus nabrak pohon! Yakali bangun-bangun udah di dalam gua?” jawab pria mungil itu— begitu cepat, penuh emosi, dan berusaha melepaskan diri.
“Then, where do you think we are now kitten?” sahut Maga sambil perlahan melepaskan genggamannya, berhati-hati agar tak melukai pria itu.
Pria tersebut—masih setengah linglung— mengedarkan pandangan ke sekitar. Kegelapan yang sejak tadi disangkanya malam, ternyata adalah kegelapan batu, ia berada di dalam gua. Lalu Ia berdiri perlahan, tertatih, berjalan ke arah cahaya samar di mulut gua.
Mata Wisa menyipit saat melihat luar gua. Bukan… ini bukan hutan tempat ia terjatuh. Pepohonan di luar tampak aneh, dengan daun berwarna ungu tua dan batang pohon yang menyala orange samar. Langit… seperti kaca buram yang berdenyut.
Saat itulah ia sadar: ini bukan dunianya. He’s lost.
“Nama lo siapa? Kenapa basah kuyup gini, padahal liat sendiri kan di luar panas. Tadi malam juga nggak hujan. Lo habis nyebur di mana?” suara Maga terdengar dari belakang—tenang, tapi mengagetkan.
“Ck, bisa nggak sih nggak ngagetin? Hobi kamu tuh bikin orang punya penyakit jantung karena kaget ya?”
Maga diam. Pria itu melanjutkan.
“Nama aku Wisangga Jatmika. Panggil Wisa aja. Tadi tuh hujan tau pas aku lagi jalan mau pulang dari kampus ke halte bis. Trus kepleset, makanya luka dan basah gini. Oh iya, pulang!! Aku harus pulang. Tapi ini di mana? Kamu siapa?”
Maga mengernyit pelan. “Kampus”… “halte”… semua kata itu asing di telinganya.
“Gw Manggala Jayantaka. Maga for you kitten. Calon Key Bearer yang ke-256. I think I just connected the dots and know where you are from, Jatmika.”
Wisa hendak protes terhadap cara Maga memanggilnya, tapi sebelum itu, matanya tertarik pada dinding gua di balik badan besar berotot Maga. Cahaya dari luar menyorot sebagian permukaan batu yang dipenuhi pahatan— terlihat seperti gambar-gambar purba yang aneh, tapi terasa familiar—padahal dia tidak pernah melihat itu sebelumnya— yang menggelitik perutnya, memberikan sensasi yang sangat aneh.
Gambar gambar tersebut adalah: Pertarungan. Potret tiga sosok manusia dan seekor makhluk besar menyeramkan —seperti monster— yang saling bergandengan tangan. Satu manusia berimbah darah, lalu simbol seperti mata terbuka, celah melingkar, dan… seseorang yang berdiri sendirian, mengangkat tangan ke langit yang terbelah.
Wisa melangkah perlahan, jarinya menyentuh pahatan itu. Lebih tepatnya di telinga sang makhluk menyeramkan yang entah kenapa di mata Wisa terlihat seperti telinga anjing peliharaannya di rumah.
“Aneh…” gumamnya pelan. “Kok… aku kayak pernah lihat ini semua.”
Maga menatapnya dari belakang. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, firasatnya terasa jelas: pria ini—Wisa—bukan sekadar tersesat.
Ia adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar.
Sesuatu yang baik atau bisa jadi hal buruk akan segera terjadi. Dan pastinya dalam skala yang besar.
Maga melirik langit yang mulai menggelap dari mulut gua. Tanpa berkata banyak, ia merobek bagian bawah bajunya dan jongkok di depan Wisa, mengangkat kaki yang luka itu tanpa banyak basa-basi.
“A—aw! Pelan-pelan napa?!” Wisa nyaris menendang wajah Maga saking kaget dan sakitnya.
“Nggak ada waktu buat manja manja. Bentar lagi malam datang, dan gua ini tempat terakhir yang pengen gue jadikan tempat tidur,” sahut Maga dingin, tetap fokus membersihkan luka Wisa dengan air dari kantong kulitnya.
Wisa mencibir, “Ya tapi tetep aja bisa pelan-pelan, kali! Bukan aku yang maksa kamu buat bantuin juga.”
Maga berhenti sejenak, menatap Wisa dengan tajam. “Kalau lo mati kedinginan di sini, gue yang bakal kena getahnya karena ninggalin orang asing begitu aja. Jadi diem dan tahan sakitnya.”
Wisa mendengus, tapi tak lagi protes. Sesekali ia meringis, namun memilih menggigit bibir sendiri. Di sela-sela gerakan kasar Maga, ada ketelitian yang tak bisa ia abaikan—seolah-olah lelaki ini memang terbiasa mengobati luka.
Begitu luka dibalut seadanya, Maga berdiri dan menarik napas panjang. “Lo bisa jalan?”
“Bisa,” jawab Wisa ketus, walau jelas pincang.
Maga mengangkat sebelah alis, “Gue bisa gendong lo, kalau lo bisa janji nggak ngoceh sepanjang jalan.”
Wisa memelototinya. “No need Mr Armstrong. Aku lebih milih pincang sampe kaki aku putus daripada digendong sama orang yang mukanya semuram hari senin.”
Maga tak menanggapi, hanya berbalik dan mulai berjalan meninggalkan Wisa. Wisa pun akhirnya mengekor sambil menyeret kakinya, masih sesekali mengomel pelan.
Perjalanan mereka cukup sepi, hanya diselingi suara dedaunan dan sesekali raungan binatang malam. Ketika akhirnya mereka tiba di sebuah rumah sederhana yang tersembunyi di balik rimbunnya pohon tinggi, terbenam seperti di dalam bukit kecil Wisa nyaris jatuh terduduk.
“Kamu tinggal di sini?” tanyanya setengah tak percaya. “Kok kayak rumah di tengah film fantasy gitu? Tau The Hobbit nggak? Persis, ooh atau atau kayak telletubies, tau telletubies nggak? Disini ada telletubies nggak ya?”
“Bukan film. Ini hidup gue, and don’t say any other weird stuff in here” jawab Maga singkat sebelum mengetuk pintu dua kali. Tak lama, seorang pemuda berambut pirang dan mata sipit seperti hamster dengan ekspresi yang amat begitu ramah membukakan pintu.
“Harsya,” ujar Maga sambil sedikit menyingkir. “Ini Wisa. Ketemu di gua, luka, trus basah kuyup, gue pungut ke sini.”
“Selamat malam,” sapa Wisa sopan, sedikit menunduk. “Maaf merepotkan. Saya… jatuh dan kebetulan ketemu dia.”
Harsya tertawa kecil. “Pungut?! lo kira anak kucing apa? And, Tenang, nggak usah terlalu kaku kalau sama gue. Masuk aja. Gue Harsya, teman satu rumahnya si wajah galak itu.”
“Sifatnya lebih galak dari muka, iya,” celetuk Wisa pelan, yang dimaksud hanya untuk dirinya sendiri.
Maga menoleh cepat, sinis, tapi tak membalas. Ia justru berjalan masuk lebih dulu tanpa bicara lagi.
Tak lama kemudian, dari ruangan dalam muncul seorang pria berperawakan lebih dewasa—rambutnya berwarna silver keabu-abuan yang memantulkan cahaya lilin, dengan postur tegap dan bahu yang lebar, meski tinggi badannya masih kalah dari Maga. Ia mengenakan jubah panjang berlapis, Wisa pada sosok Dumbledore, namun dengan sentuhan yang jauh lebih muda, tampan dan elegan. Wajahnya tegas, dengan garis rahang yang kuat dan mata bulat yang tajam menatap sekeliling—namun senyumnya justru hangat, menampilkan lesung pipi samar di pipi kirinya. Ada karisma tenang darinya, seperti seseorang yang terbiasa membawa beban banyak orang tanpa mengeluh.
“Abi,” panggil Maga sopan. “Ini Wisa. Dia perlu tempat nginap.”
Abi mengangguk. “Selamat datang, Wisa. Kamu aman di sini.”
“Saya sangat berterima kasih, Pak,” jawab Wisa dengan sangat sopan. “Terima kasih sudah mau menerima saya, walaupun saya orang asing.”
Abi hanya tertawa kecil. “Tidak usah panggil ‘Pak’ Abi saja. Kamu anak yang sopan. Tapi besok saja kita bicara lebih lanjut, ya. Malam ini, kamu lebih baik istirahat dulu. Harsya, pinjamkan dia baju dan kamarmu terlebih dulu ya.” Lalu Abi pergi menuju arah belakang rumah.
Wisa mengangguk dan melirik ke arah Maga, yang kini duduk diam di sudut ruangan, tampak benar-benar berbeda dari sikap cerewetnya sepanjang jalan.
Harsya memiringkan kepala, berbisik ke Wisa, sambil menunjuk ke arah Maga. “Dia nggak gitu banyak ngomong kalau sama orang lain. Lo spesial, tuh. Ayo gue tunjukin kamar buat lo.”
“Spesial karena ngeselin kayaknya.” gumam Wisa, tapi wajahnya tak bisa menyembunyikan senyum tipis yang tiba-tiba muncul, sambil berjalan mengikuti Harsya.
Malam itu, ketika seluruh rumah telah tenggelam dalam keheningan…
Wisa terbangun dengan perlahan. Tenggorokannya kering, perutnya kosong dan memprotes dengan pelan tapi menyebalkan. Dia baru ingat belum menyantap apapun sejak bangun di gua tadi.
Matanya menyapu sekeliling kamar yang diterangi dengan samar cahaya bulan dari celah jendela. Dinding kayu yang hangat, lantai bersih, dan sehelai baju ganti yang kini membungkus tubuhnya. Ia bahkan tak ingat kapan terakhir kali merasa senyaman ini.
“Air,” gumamnya lirih. Ia bangkit, melangkah pelan-pelan membuka pintu kamar, berusaha tak menimbulkan suara. Dapur—ia pikir tempat itu adalah tujuan paling masuk akal.
Namun langkahnya berhenti begitu saja saat ia mendengar suara dentuman samar dari luar jendela belakang rumah. Seperti benturan, tapi ritmis… terkontrol.
Rasa haus mendadak tergantikan rasa penasaran.
Wisa mengikuti suara itu, menyusuri lorong gelap menuju pintu belakang yang setengah terbuka. Cahaya bulan membuat pekarangan rumah terlihat jelas, dan disanalah… tiga sosok itu.
Abi. Harsya. Dan Maga.
Wisa membeku di balik kusen pintu, tak berani membuat suara sekecil apa pun.
Harsya—yang sebelumnya tampak seperti pemuda biasa—kini berdiri seperti melayang dua jengkal dari tanah dengan kedua tangan yang bersinar kehijauan. Dari telapak tangannya, mengeluarkan seperti bayangan hitam, melingkar dan melesat ke arah Abi, yang menangkisnya dengan telapak tangan kosong.
Namun, bukan itu yang membuat Wisa terpana.
Abi berdiri tanpa senjata, tapi tubuhnya seakan menyatu dengan tanah. Ketika dia menginjak bumi, dari balik tanah muncul batu-batu tajam seperti tombak yang diarahkan ke Harsya dan Maga. Seolah bumi sendiri menjawab panggilannya.
Dan di tengah dua sosok luar biasa itu… ada Maga.
Tidak bersinar. Tidak memanggil apa pun dari alam. Tapi tubuhnya bergerak cepat, sangat cepat—hampir tidak terlihat. Dia hanya membawa dua belati panjang di tangannya, menghindar, menyerang, menangkis, dan melompat.
Namun anehnya… setiap kali Harsya atau Abi berhasil mengenai dirinya, tak ada luka. Tak ada darah. Tak ada erangan kesakitan.
Tubuh Maga seperti menolak luka. Tapi jelas dia bukan makhluk berkekuatan sihir seperti dua lainnya.
Wisa terpaku, matanya tak bisa berpaling.
Apa ini… mimpi?
Tiba-tiba suara berat terdengar dari sampingnya.
“Kalau haus atau lapar, kamu bisa bilang.”
Wisa menoleh cepat dan mendapati Abi yang sudah berdiri tepat di sebelahnya, entah sejak kapan, dengan ekspresi tenang tapi jelas menyadari kehadirannya sejak lama.
“Maaf, saya… saya nggak sengaja…,” gumam Wisa gugup.
Abi tersenyum tipis. “Nggak apa-apa. Kamu akan tahu cepat atau lambat.”
Dari ujung matanya, Wisa melihat bagaimana luka di bahu Harsya—yang sebelumnya jelas terlihat terbuka karena tebasan Maga—menutup perlahan. Kulitnya kembali utuh seolah tak pernah terluka.
“Dia… kalian… kalian bukan manusia?” suara Wisa bergetar.
Abi hanya menatapnya, lalu berkata pelan, “Kami manusia. Hanya dari bagian dunia yang berbeda. Dunia yang belum tentu kamu percaya kalau aku jelaskan sekarang.”
Wisa membuka mulutnya, tapi tak tahu harus berkata apa. Di luar sana, Maga dan Harsya terlihat sedang membersihkan dirinya dari tanah dan kotoran lalu membubarkan diri, berjalan kembali ke dalam rumah tanpa banyak bicara. Kali ini, wajah Maga nyaris tak bisa dibaca. Harsya hanya menyapanya dengan anggukan pelan dan senyum hangatnya yang selalu membuat matanya hilang.
Abi menuntunnya duduk di kursi kayu kecil di dekat pintu belakang.
“Entah dari mana kamu berasal. Mungkin di duniamu tak mengenal sihir, Wisa. Tapi kamu sekarang ada di tempat yang menjadikannya bagian dari hidup sehari-hari. Dan kalau kamu bisa sampai ke sini… berarti kamu juga punya peran. Entah apa.”
Wisa menggigit bibir. “Kalau saya nggak punya apa-apa? Cuma salah masuk doang gimana? Saya, bukan siapa-siapa…”
Abi menggeleng pelan. “Yang tanpa apa-apa tak mungkin bisa menembus batas dunia. Alrok tak pernah salah Wisa.”
Dan untuk pertama kalinya, Wisa merasa… takut akan jawaban yang mungkin sudah lama menunggunya di tempat asing ini.
Pagi datang jauh lebih cepat dari yang Wisa harapkan. Wisa merasa tubuhnya berat. Ada panas aneh merambat dari punggung ke leher. Seperti aliran listrik. Tapi ia diam. mungkin hanya kecapekan, pikirnya.
Matanya membelalak saat melihat sinar matahari yang masuk dari sela-sela jendela, ia bangun… kesiangan. Wisa lalu bangkit secepat kilat, menghiraukan rasa sakit di sekujur tubuhnya, rambut acak-acakan dan wajah masih separuh bantal. Panik.
“Astaga! Ini udah jam berapa?!”
Dengan langkah limbung, ia membuka pintu kamar dan langsung mencium aroma makanan hangat dari dapur. Ia mengikuti aroma itu dengan harapan tak terlalu memalukan jika muncul tiba-tiba.
Begitu sampai, ia mendapati Abi sedang duduk santai di meja makan, sementara Harsya bersandar di kusen dapur sambil memainkan sepotong roti. Dan… Maga, duduk tenang di ujung meja, hanya melirik sekilas saat Wisa muncul dengan wajah setengah hidup.
“Selamat pagi Wisaa… atau siang, lebih tepatnya,” sapa Harsya dengan nada menggoda.
Wisa langsung ingin menghilang kedalam sumur sekarang. Mukanya sudah semerah tomat matang.
“Maaf… aku, uh, ketiduran…”
Abi mengangguk tenang. “Itu wajar. Tubuhmu butuh pemulihan. Duduklah, makan dulu.”
Wisa patuh dan duduk. Sepiring nasi hangat, telur rebus berwarna ungu (yang membuatnya sempat kaget) dengan ukuran 2x lebih besar dari yang pernah Wisa lihat, dan potongan sayur yang tidak ia kenali, dihidangkan di depannya.
Tanpa banyak bicara, Wisa mulai makan. Namun, rasa lapar dan gugup membuatnya tidak hati-hati. Sendoknya terpental, telur ungu hampir jatuh ke lantai, dan ia nyaris tersedak karena mencoba mengunyah dan bicara bersamaan.
“Gila… ini enak banget. Eh, ini apa sih— huk!… air! Air!!” Wisa panik, tangannya meraih gelas tapi hampir menumpahkannya juga.
Tiba-tiba terdengar suara tawa.
Dari arah Maga.
Samar. Lembut. Pendek. Tapi nyata.
Harsya langsung memutar kepala. “WOAH—Did my ears deceive me? Bro, lu ketawa barusan?!”
Maga hanya menghela napas, memalingkan wajah yang sedikit ada rona merah, sambil berkata pelan, “Refleks.”
“Refleks katanya!” Harsya tertawa puas sambil menunjuk Wisa, “Good job, bro. Lu berhasil bikin orang ini ketawa. Prestasi itu.”
Wisa nyengir malu. Tapi dalam hatinya, ia merasa sedikit… bangga.
Beberapa saat kemudian, setelah makan… Abi mendekati Wisa yang sedang melamun di halaman belakang. Abi menghampirinya, dengan membawa aroma rempah dari teh hangat yang baru saja diseduh.
“Masih ada yang mengganjal dalam benakmu, Wisa?” tanya Abi dengan nada tenang namun penuh ketegasan.
Wisa menoleh cepat, sedikit terkejut. “Ah, Kak Abi… maaf. Aku… kemarin malam… aku nggak sengaja ngeliat kalian. Aku nggak niat ngintip, sumpah.”
Abi duduk di sampingnya, menjaga jarak dengan penuh sopan, memberi secangkir teh hangat kepada Wisa lalu menatap langit. “Tidak perlu meminta maaf. Lagipula, cepat atau lambat kamu memang harus tahu apa yang sedang terjadi. Aku mengerti perasaan kamu Wisa.”
Wisa mengerutkan kening. “Terima kasih kak. Itu… tentang kalian yang latihan? Atau tentang kalian yang punya kekuatan?”
Abi tersenyum tipis. “Itu bukan sekadar latihan. Itu adalah bagian dari tugasku sebagai penjaga—atau dalam istilah lamanya, Key Bearer. Tugasku menjaga keseimbangan antar dimensi, memastikan batas antar dunia tidak rusak atau tertembus secara tidak sah. Maga sebagai calon penerus ku dan Harsya adalah pendamping kami berdua.”
“Kalau kekuatan, semua orang yang terlahir di Utopia, dan semua orang yang berpindah dimensi ke Utopia, selama masih tinggal disini akan mendapatkan kekuatannya masing masing. Paling cepat di hari kedatangan, paling lama 3 hari.” Lanjut Abi menjelaskan.
“Tapi ingat satu hal. Kekuatan itu hanya hidup di sini. Di luar Utopia—jika kamu kembali ke dunia asalmu—semuanya akan hilang. Seolah tidak pernah ada.”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan, “Jadi kalau suatu saat kamu bisa pulang… kamu harus siap kehilangan apapun yang Utopia berikan.”
Wisa terdiam. Kata-kata itu terdengar seperti sesuatu yang hanya ada dalam film, namun sorot mata Abi membuat semuanya terasa nyata.
“Dan kamu… Kak Abi… kamu asli dari dunia ini ya?”
Abi menatap Wisa sejenak, kemudian menggeleng perlahan.
“Aku berasal dari dunia bernama Eltherion. Sebuah dunia yang jauh lebih tua dari dunia ini, dibangun di atas prinsip harmoni antara energi dan kesadaran. Aku juga mengalami hal yang sama sepertimu Wisa. Aku pindah dimensi tanpa keinginanku sendiri. Tapi seperti kataku tadi malam, tidak ada satupun orang tanpa perannya bisa ada di Utopia. Peranku sebagai penjaga. Dan kehadiranmu, Wisa, berhubungan dengan semua itu.”
Wisa menelan ludah. “Tapi kenapa aku? Aku cuma orang biasa.”
“Kamu mungkin tampak biasa,” ucap Abi lembut namun tegas, “namun semesta memiliki alasan atas setiap kejadiannya. Termasuk kenapa kamu dipertemukan dengan Maga di gua itu.”
Wisa menunduk, teringat akan bagaimana nasibnya jika sore itu dia tidak diselamatkan oleh tangan dingin Maga. Ia belum sempat mengucapkan terima kasih.
“Ngomong-ngomong… Maga. Dia… aneh ya. Dinginnya itu kayak bukan manusia.”
Abi terdiam sejenak sebelum berkata, “Maga adalah anak yang istimewa. Diam bukan berarti tak peduli. Dia hanya memikul terlalu banyak untuk usianya yang masih muda. Aku tidak tahu dari mana asalnya, bahkan dia sendiri tak pernah berkata apa pun tentang masa lalunya. Tapi aku tahu… dia memiliki luka yang dalam.”
“Lalu Harsya?” tanya Wisa pelan.
“Jika Maga adalah malam yang sunyi, maka Harsya adalah matahari yang tak pernah padam. Ia membawa keceriaan ke mana pun ia pergi. Yang aku tau, mereka berdua kehilangan orang tua masing-masing sejak lama, namun alih-alih menjadi hampa, mereka saling mengisi seperti yin dan yang. Seperti adik dan kakak kandung, meski tidak sedarah.”
Wisa mengangguk pelan. “Dan kamu? Kalau boleh tahu… kamu sendiri, kenapa bisa mengerti perasaanku?”
Abi menoleh, dan untuk pertama kalinya, tatapannya mengandung sesuatu yang lebih dari sekadar kebijaksanaan—ada kesedihan di sana.
“Karena aku juga kehilangan. Karena aku juga pernah merasa tak punya tempat disini. Meskipun Eltherion bukan dimensi yang sama dengan asalmu, perasaan kehilangan itu… universal.”
Suara burung berkicau teredam dalam keheningan yang mendalam. Wisa menatap Abi dalam diam, merasa untuk pertama kalinya ada seseorang yang benar-benar memahami kegelisahan hatinya.
“Kalau gitu… apa yang bakal terjadi sama aku?” tanyanya pelan.
Abi menatapnya. “Itu tergantung padamu, Wisa. Dunia ini tidak akan memaksamu. Tapi jika kamu memilih untuk melangkah… maka ini baru permulaan.”
Hari demi hari berlalu. Sudah seminggu Wisa berada di Utopia. Setiap malam dia selalu bermimpi buruk, dan setiap kali ia bangun, ia masih merasakan lelah yang tak berhenti. Selama apapun Wisa beristirahat, badannya masih terasa remuk dimana mana. Terkadang ada sedikit lebam di sisi sisi badannya.
Untungnya, ia kini cukup dekat dengan Abi dan Harsya, sehingga dia bisa melupakan mimpi mimpi buruk tersebut. Tapi tidak dengan Maga, Entah kenapa, Maga selalu pergi di pagi buta dan baru pulang menjelang tengah malam. Memang, Harsya juga selalu ikut bersama Maga, tapi Harsya masih menyempatkan diri untuk sekadar menyapa atau melempar candaan pada Wisa.
Pagi itu, udara lebih dingin dari biasanya. Wisa terbangun lebih awal dari yang lain. Ia melangkah pelan ke ruang tengah, hanya untuk melihat Abi duduk sendirian di meja, mencoret sesuatu di selembar kertas dengan tulisan aneh yang tak ia kenal.
“Kak Abi?” tanyanya pelan.
Abi tersentak kecil, cepat-cepat melipat kertas itu dan menyelipkannya ke saku jubahnya.
“Oh… pagi, Wisa. Kamu bangun pagi sekali.”
Wisa mengangguk. “Tadi mimpi aneh… jadi gak bisa tidur lagi.”
Abi hanya tersenyum tipis. Tapi senyuman itu tak sampai ke matanya.
“Kamu gak tidur lagi, Kak?” tanya Wisa lagi, merasa ada sesuatu yang ganjil.
Abi terdiam sejenak, lalu menjawab, “Kadang… tidur justru bikin mimpi yang lebih berat,” “Hari ini jangan pergi kemana mana ya Wisa, dirumah saja, cuaca hari ini sedang tidak baik baik saja.” Lanjut Abi.
Wisa hendak menyangkal—aneh, di luar padahal matahari sedang terik teriknya, kenapa Abi melarangnya pergi keluar? tapi Maga tiba-tiba muncul dari lorong, menyela percakapan.
Abi berdiri, mengangguk singkat, dan berlalu keluar.
Wisa menatap punggungnya. Entah kenapa… ada sesuatu di mata Abi tadi. Bukan sekadar lelah. Tapi seperti… ketakutan.
“Lo udah bisa jalan agak jauh?” tanya Maga, mendekati Wisa.
“Kayaknya bisa. Kenapa?”
“Ayo ikut, gue ajak keliling desa. Ada pasar juga yang cuma dibuka di akhir pekan.”
Wisa sedikit terkejut, ingin mengiyakan ajakan Maga, tapi Wisa segera ingat kata kata Abi barusan. “Tadi kata kak Abi aku nggak boleh keluar Ga.”
Entah dari mana, Harsya langsung nimbrung, “Udah ikut aja, ada kita kita ini kok!! Daripada bengong di rumah. Sekalian gue mau beli bahan yang Abi minta. Orang dia yang nyuruh gue sama Maga keluar tadi kok.”
Wisa lalu mengangguk, “Tapi jangan jalan cepet cepet ya.”
Maka mereka pun berjalan menyusuri jalanan tanah yang mengarah ke desa kecil di kaki bukit. Di sepanjang jalan, Wisa terpesona. Pohon-pohon aneh warna warni, bunga yang bersinar dalam warna biru lembut, dan anak-anak kecil bermain dengan makhluk seperti kelinci yang punya dua ekor.
“Dunia ini kayak terlalu bagus buat nyata,” gumamnya.
Harsya menyeringai. “Iya, tapi jangan terlalu percaya sama keindahan di Utopia. Kadang, bunga paling cantik, adalah yang racunnya paling kuat. Sama seperti kalimat don’t judge a book by its cover.”
“Deep banget, Shay,” goda Wisa. Lalu Harsya tertawa mendengar candaan Wisa.
“Aku ngerasa kayak masuk film fantasy.” Lanjut Wisa dengan gumaman pelan.
“Kita sih nyebutnya… hidup,” jawab Maga tanpa menoleh.
Wisa meliriknya. “Kamu tuh ya… hemat kata banget. Tapi justru itu bikin kamu keliatan kayak… ya gitu deh.”
Maga menoleh sedikit. “Kayak gitu gimana?”
Wisa terkekeh. “Rahasia.”
Harsya menyenggol bahu Wisa. “Hati-hati, nanti jatuh cinta loh.”
Wisa langsung memukul pelan lengan Harsya sambil tertawa. “Nggak lucu!”
“Aku sih lucu ya, menurut aku sendiri,” Harsya menyahut memberikan wajah yang dia buat seimut mungkin lalu tertawa lepas. Wisa tertawa juga. Dan di momen itu, mereka berdua menyadari—mereka punya selera humor yang sama. Seaneh dan se-receh itu. Lalu mereka lanjut saling melempar lelucon aneh, yang Maga tidak paham dimana letak lucunya.
Maga melirik mereka berdua sebentar, lalu kembali fokus menatap jalan. Namun ujung bibirnya terangkat tipis.
After a long time, he finally feels…. Alive.
Beberapa langkah kemudian, mereka melewati tiang tua yang menempel papan pengumuman dari kayu. Kertas-kertas tipis tertempel di sana, beberapa sudah pudar dan robek dimakan waktu. Tapi ada satu yang terlihat baru—tintanya merah menyala, dengan simbol mata terbuka di tengah lingkaran.
Wisa melambat. “Eh… ini apa?”
Ia menunjuk selebaran dengan simbol mata terbuka dan tulisan asing, tapi ada satu kata yang bisa ia baca dengan jelas: “Erebus.”
Harsya menghela nafas. “Lagi-lagi bikin propaganda…”
“Erebus?” tanya Wisa, kening berkerut.
Maga menoleh, akhirnya angkat bicara. “Kelompok ekstremis, Mereka percaya semua dimensi harus dibuka. Nggak peduli akibatnya.”
Harsya menyambung, nada suaranya lebih ringan tapi waspada. “Mereka sekumpulan penduduk asli Utopia. suka nyari dan ngorbanin orang dari luar—kayak kamu, Wis. Pendatang dari dimensi lain, untuk ngelakuin ritual. Mereka pikir kalian punya potensi untuk jadi kunci pembuka.”
Wisa menggigit bibir. “Kenapa harus buka semua dimensi? Bukannya itu bahaya?”
“Makanya disebut gila,” sahut Maga datar. “Kalau gerbang antar dimensi jebol, gak ada yang bisa jamin dunia ini masih bisa berdiri.”
Harsya menunjuk poster lain di sampingnya—lebih usang, hampir hilang tertutup lumut. Tapi terlihat lambang bulat bercahaya di tengahnya.
“Kalau yang itu… lambang Key Bearer. Penjaga gerbang dimensi. Kaya Abi, calon penggantinya ya orang galak itu.”
Maga pura-pura tak dengar.
Wisa membaca pelan tulisan di bawah lambang itu. “Keseimbangan dijaga, bukan dibuka paksa…”
Ia menoleh ke dua temannya, suara mulai pelan. “Jadi kalau aku datang dari dimensi lain… mereka akan…”
“Ngincar lo?” potong Harsya, senyum sirat. “Mungkin. Tapi tenang aja, lo sekarang bareng dua orang paling menyebalkan sekaligus paling susah dibunuh di Utopia. Dan Abi nggak mungkin biarin lo dibunuh mereka.”
Maga mendengus. “Kita lanjut. Gue gak suka terlalu lama diam di tempat antah berantah gini.”
Wisa sempat melirik kembali ke selebaran Erebus sebelum melangkah pergi. Ada sesuatu di simbol itu… sesuatu yang terasa terlalu familiar. Ia tidak tahu kenapa, tapi bulu kuduknya meremang.
Saat sampai di pasar desa tiba tiba Harsya berkata
“Eh, tadi waktu Abi ninggalin dapur, gue sempet liat dia diem aja di depan pohon. Nulis sesuatu, ngomong hal nggak jelas, trus kertasnya dibakar.”
“Mungkin salah satu ritual yang biasa Kak Abi lakuin? Aku sering liat dia ngelakuin hal hal aneh pas kalian pergi pergi keluar.” Sahut Wisa.
“Tapi beda tau, ini kayak bukan Abi yang biasanya. Gue ngerasa Abi lagi nyembunyiin sesuatu dari kita.” Balas Harsya, memperkuat spekulasinya.
“Eh gue pisah dulu ya,” kata Harsya tiba-tiba. “Ada yang dititip sama Abi, biji cakar naga, trus apa lagi ya?? nanti gue nyusul kalau udah selesai. Ketemuan di pohon deket air terjun ya Ga!! Lo berdua jangan ilang,” ujarnya sambil menunjuk dua jari ke mata dan mengarahkannya ke mereka. “Gue pantau.”
“Bijiiii apaaa?” Wisa masih ternganga saat Harsya melambai dan lenyap di tengah kerumunan pasar.
Maga melirik Wisa. “Kalau lo makin banyak tanya, kita bisa muter di tempat sampe malam.”
Wisa manyun. “Kamu tuh nggak pernah jawab dengan baik baik ya, harus kah selalu sinis gitu…”
“Nggak ada yang sinis, dan nggak ada yang perlu di baik baikin kan?” balas Maga santai.
Wisa menghela napas panjang. “Okey Mr. Armstrong, ini bakalan jadi perjalanan panjang…”
Tanpa mereka sadari, betapa mereka sudah mulai nyaman dengan kehadiran satu sama lain dalam waktu yang sangat singkat ini. Dan betapa pelan-pelan, dunia ini—dan orang-orang di dalamnya—mulai terasa seperti sesuatu yang ingin Wisa pahami… dan pertahankan.
Setelah Harsya pergi, suasana jadi lebih sepi di antara mereka berdua. Tapi bukan sunyi yang canggung—melainkan semacam kenyamanan tak diucapkan.
Mereka menyusuri pasar yang ramai. Bau manis buah-buahan bercampur aroma rempah dan daging panggang memenuhi udara. Wisa menatap sekeliling dengan mata berbinar, mulutnya sesekali terbuka, takjub oleh bentuk dan warna benda-benda asing di sekitarnya.
“Apa itu?!” tanyanya sambil menunjuk buah biru transparan yang tampak seperti terbuat dari kaca.
“Namanya buah ilmah. Manis banget, tapi bisa bikin lo ketawa tanpa alasan sejam penuh kalau makan lebih dari dua,” jawab Maga dengan nada datar, tapi ada senyum kecil yang tidak bisa ia tahan di ujung bibirnya.
Wisa mendecak kagum. “Yang bener aja?! Lucu banget. Aku jadi pengen nyobain tujuh sekaligus deh.”
Maga menggeleng pelan, menahan tawa. “Lo beneran pengen dikira kerasukan di tengah pasar?”
Tawa ringan lolos dari mulut Wisa, dan tanpa sadar mereka berjalan lebih dekat. Bahu mereka nyaris bersentuhan.
“Kamu sering ke sini?” tanya Wisa.
“Setiap akhir minggu,” jawab Maga. “Cuma biasanya sendirian.”
“Kamu pasti orang yang suka menyendiri, ya?”
Maga mengangkat bahu. “Gak juga, cuma gak suka ribet dan rame aja.”
“Trus, kenapa ngajak aku ke sini?” goda Wisa.
Maga menoleh, menatap mata Wisa yang tertangkap sinar mentari. Dia membuka mulut, ingin bilang sesuatu—tapi tak jadi. Sebaliknya, dia hanya menjawab pelan, “Entah. Mungkin karena lo… nggak ribet dan bikin rame yang nyebelin.”
Wisa tidak tahu harus menjawab apa. Jadi dia hanya menunduk, menatap bayangannya di tanah.
“Tempat ini… aneh, tapi nyaman,” ucap Wisa, menatap seorang ibu tua yang menjual lilin beraroma di pinggir jalan. “Aku nggak ngerti kenapa rasanya nggak takut, padahal ini dunia asing.”
Maga menoleh perlahan. “Mungkin karena lo orang yang gampang adaptasi.”
Wisa nyengir. “Atau mungkin aku emang udah capek takut terus terusan aja.”
Di tengah langkah mereka, Wisa tiba-tiba berhenti di depan penjual mainan kayu. Matanya tertarik pada sebuah boneka kecil berwarna merah tua yang menyerupai… seekor anjing. “Lucu banget. Mirip anjingku.”
Maga ikut menatap mainan itu. “Lo punya anjing?”
“Punya. Namanya Mangu. Adikku, Chandra, yang paling sayang sama Mangu.”
“Lo cuma tinggal berdua?”
Wisa mengangguk, lalu senyumnya perlahan memudar. “Orang tuaku meninggal waktu aku SMA.”
Maga terdiam. Matanya tak lepas dari wajah Wisa. “Kecelakaan?”
“Bukan. Penyakit. Papa kena serangan jantung mendadak. Mama nggak kuat sendiri… nyusul beberapa bulan kemudian. Sejak itu rumah selalu kerasa dingin, karna cuma ada aku dan adek.”
“Rumah…” gumam Maga, matanya menatap jauh. “Kadang gue lupa rasanya.”
Maga menggigit bibir bawahnya. Tiba-tiba pikirannya dibanjiri oleh memori lama—satu momen yang selama ini selalu tertancap dalam benaknya.
“Gue pernah ngerasa kehilangan juga,” ucap Maga lirih. “Waktu kecil. Orang tua gue meninggal gara-gara kecelakaan. Gue ingat waktu itu nangis terus di rumah sakit, gak mau ngomong sama siapapun… kecuali satu anak kecil. Dia juga pasien di situ. Sakit, tapi lebih kuat dari orang dewasa. Dia yang sakit, tapi dia yang malah nenangin gue. Aneh, ya?”
Maga berhenti berbicara, lalu berjalan terus ke arah pohon dekat air terjun—tempat mereka berjanji untuk bertemu dengan Harsya.
Wisa menatap langit, lalu berkata lirih. “Kadang… dunia nyakitin kamu bukan karena kamu lemah. Tapi karena kamu terlalu kuat untuk dihancurkan. Jadi dia coba segitunya.”
Maga tersentak. Matanya melebar. Jalannya tiba tiba terhenti, padahal mereka sudah hampir sampai. Wisa yang tidak menyadarinya terus berjalan sampai di depan pohon tinggi besar dengan batang berwarna kuning terang, dan daun seperti kapas yang terjuntai hampir menyentuh kepala Wisa.
“MAGAAA NGAPAIN BERHENTI DISITU? SINII NGADEM BARENG!!” Teriak Wisa yang membuat kesadaran Maga kembali.
Saat Maga sudah sampai dan duduk disebelah Wisa, Wisa melanjutkan ceritanya.
“Kamu tau nggak? Itu yang sering papa bilang ke aku waktu kecil. Jadi aku selalu pakai kata-kata itu ke semua orang yang aku temui dan keliatan lagi lemah, biar aku selalu inget.” Wisa menoleh sambil tertawa kecil ke arah Maga.
Maga memandangnya—lama. Ada sesuatu di dadanya yang menghangat, sekaligus menyesakkan. Senyuman itu, senyuman yang selalu membekas di ingatan Maga dari kecil, yang dia kira tak akan pernah dia lihat lagi— senyuman dengan kerutan lucu di hidung.
Suara. Wajah. Kata-kata.
Tiba-tiba semua itu terasa seperti potongan puzzle yang selama ini dia cari.
“Lo…” gumam Maga. “Dulu… rambut lo pendek hampir botak gitu?”
Wisa mengerutkan kening. “Iya. Pendek banget. Ya nggak sampe botak sih. That's called buzz cut okay! Karena aku sering diinfus, jadi ribet kalau panjang. Kenapa?”
Maga tidak menjawab. Tapi pandangannya pada Wisa kini berubah. Seperti seseorang yang akhirnya menemukan lembaran yang hilang di buku lama yang pernah sangat ia cintai—penuh debu, yang ternyata tak pernah benar-benar hilang.
Dalam diam, Maga tahu: Wisa adalah anak itu.
Dan dalam hati, sebuah bisikan kecil muncul untuk pertama kalinya sejak lama:
“Ternyata dunia tidak sepenuhnya kejam. Dia hanya butuh waktu untuk mempertemukan kembali apa yang sempat hilang.”
Dan di tengah pasar kecil yang asing itu, dua orang dari dunia yang sama, tanpa sadar mulai saling menemukan lagi.
Langit perlahan menggelap, berubah jingga keemasan seiring matahari mulai tenggelam di balik bukit jauh. Taman yang awalnya penuh dengan anak anak kecil yang sedang bermain mulai lengang, dan mulai kembali ke rumah mereka masing masing. Tapi ada satu hal yang belum kembali—Harsya.
“Udah hampir satu jam,” gumam Wisa, melirik jam bayangan di tengah alun-alun. “Dia ke mana sih? Katanya bentar doang”
Maga mengangguk, ekspresinya berubah waspada. “Harusnya dia udah balik. Biasanya paling lama dua puluh menit.”
Wisa menyadari perubahan ekspresi itu dan ikut merasa tidak tenang. “Kamu ngerasa aneh juga, kan?”
Maga tak menjawab. Ia hanya menoleh ke sekeliling jalanan yang kemungkinan Harsya akan datang. Tapi, Suasana di sekitar mereka mendadak sunyi. Terlalu sunyi.
Tidak ada satupun tawa anak-anak. Tidak ada suara pedagang menutup lapak dari arah pasar. Tidak ada lagi suara riak air dari arah air terjun. Bahkan angin seolah berhenti.
“Tutup kuping lo sebentar,” bisik Maga tiba-tiba.
Wisa mengernyit, tapi menurut. Dan saat ia melakukannya—BUKK! Sebuah suara keras menghantam tanah di kejauhan. Getarannya terasa sampai ke kaki mereka.
Jelas itu bukan gempa. Atau longsor, suara ini seperti seseorang sengaja menghantamkan tangannya ke arah tanah, tapi seseorang dengan kekuatan seperti apa sampai bisa membuat suara sekencang itu sampai memekakkan telinga?
“Suara apa itu?” Wisa menoleh cepat.
Maga sudah siaga. “Ayo pulang. Sekarang.”
“Tapi—Harsya—”
“Kalau dia belum balik, dia akan cari kita ke rumah. Tempat paling aman tetap di sana,” kata Maga, suara rendah dan tegas. “Gue gak mau lo di luar pas malam tiba. Bahaya.”
Wisa menggigit bibirnya, lalu mengangguk. Mereka mulai berjalan cepat, hampir berlari. Wisa sudah tidak mengindahkan lagi rasa sakit dari kakinya.
Namun sepanjang jalan pulang, sesuatu terasa… off. Awan menggumpal lebih cepat dari biasanya. Cahaya-cahaya di pinggir jalan meredup, seolah ketakutan. Dan Wisa—yang bahkan belum terbiasa dengan dunia ini—merasa bulu kuduknya merinding.
“Tempat ini, tadi gak seserem ini kan ya?” bisik Wisa.
Maga mencabut senjata tipis seperti belati dari balik bajunya. “Enggak. Ini pertama kalinya juga gue ngerasa kayak gini.”
Mereka melintasi jalan setapak menuju rumah. Tapi sebelum sampai gerbang, Wisa menghentikan langkahnya.
“Maga… liat itu,” katanya pelan.
Di antara pepohonan, ada kabut hitam—tebal dan bergerak seperti punya nyawa. Dari baliknya, terdengar suara… jeritan samar.
Maga menarik lengan Wisa, menyuruhnya diam. Lalu dalam satu gerakan cepat, mereka memotong jalur melalui jalan kecil di sisi barat rumah.
Setibanya di rumah, pintu depan terbuka sedikit. Tidak terkunci.
Mereka masuk dengan nafas memburu. Di dalam rumah, keheningan terasa menyesakkan. Maga dan Wisa saling bertukar pandang, lalu mulai memeriksa ruangan demi ruangan.
“Abi? Harsya?” seru Maga pelan.
Tidak ada jawaban.
Tapi di ruang tengah, mereka menemukan sesuatu: baju yang Harsya pakai tadi. Tergeletak. Basah. Dengan bercak darah kecil.
“Abi gak mungkin pergi gitu aja tanpa bilang apa-apa,” gumam Maga, langkahnya cepat menyusuri lorong rumah yang kini terasa asing. “Dan ini…” Ia menunjuk pintu ke ruang belakang yang setengah terbuka, “Biasanya selalu dikunci.”
Wisa menahan napas dan berjalan menuju kamarnya. Ketika pintu didorong, dia langsung merasakan ada yang tidak beres.
Tasnya—yang semula ia letakkan rapi di dekat ranjang—tergeletak di lantai, terbuka, isinya berserakan.
“Mereka tahu,” bisik Wisa, suaranya tercekat. “Mereka tahu aku bukan dari sini.”
Di antara barang-barangnya, ada yang hilang: dompet, handphone, bahkan jurnal kecil tempat Wisa mencatat semua perubahan aneh tentang dirinya sejak ia tiba di Utopia.
Maga datang berdiri di belakangnya. Wajahnya menegang.
“Ini udah bukan sekedar orang masuk rumah,” kata Maga pelan. “Mereka nyari sesuatu. Atau seseorang.”
Maga menggeleng, tapi tidak langsung menjawab. Ia malah berjongkok, memungut sesuatu dari lantai dekat jendela.
“Potongan kain,” katanya sambil menunjukkan secarik kain hitam dengan simbol asing di sudutnya. “Nggak ada satu pun yang pakai kain ini di rumah.”
Matanya menyipit. “Dan ini… simbol milik Erebus.”
Wisa menoleh cepat, suara paniknya tak tertahan. “Berarti bener… yang mereka incar itu aku, kan? Bukan Harsya…”
Ia menunduk, menatap bekas darah dan robekan di kain yang tadi mereka temukan. “Terus… Harsya kenapa? Kenapa mereka bawa dia?”
Maga berdiri, pandangannya tajam. “Harsya diculik. Mungkin buat dipaksa bicara… atau dijadikan umpan.”
Wisa menggigit bibir, hatinya makin kacau. “Terus Kak Abi ke mana? Kenapa dia gak ada dirumah?”
“Aku gak tahu,” jawab Maga pelan. “Tapi kalau dia masih hidup, dia akan coba cari kita.”
Ia menoleh ke Wisa, lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam jaketnya—selembar kain kecil bertuliskan simbol kuno.
“Aku sudah tinggalkan catatan. Ditulis dalam kode Key Bearer. Hanya Abi yang bisa membacanya. Dia akan tahu ke mana kita pergi.”
Ia langsung membuka laci lemari dekat pintu. Mengambil sabuk selempang besar yang ia kaitkan menyilang di dada bidangnya. Ia mengisi kantong-kantong sabuk itu dengan beberapa senjata kecil, kantong makanan, dan benda-benda aneh yang fungsinya hanya dia yang tahu.
Wisa buru-buru kembali ke kamar untuk mengambil tas selempang dari dalam tas ranselnya. Ia mengisinya dengan perban, obat-obatan, senter mini, dan pulpen kecil yang juga bisa menyala UV.
“Wisa.”
Wisa menoleh. Maga berdiri di ambang pintu, sorot matanya tegas.
“Aku gak bakal tinggal diam. Aku bakal cari Harsya, dan jaga kamu juga.”
Wisa menggenggam tasnya erat, mengangguk. “Aku ikut. Ini bukan cuma tentang Harsya, ini juga soal… kenapa aku bisa ada di sini. Dan siapa yang sebenarnya tahu tentang kita.”
Maga membuka pintu belakang perlahan. Langit sudah gelap total, hanya diterangi cahaya bulan dan lentera di kejauhan. Kabut masih menyelimuti sebagian jalan desa.
Sebelum pergi, Wisa menoleh sekali lagi ke rumah yang selama kurang lebih seminggu terakhir memberinya kehangatan—sesuatu yang sudah lama tak Wisa rasakan. Ada sesuatu dalam dirinya yang berbisik: tak akan ada lagi yang sama setelah ini.
Mereka melangkah masuk ke kegelapan, tanpa tahu bahwa apa yang mereka cari… juga sedang mencari mereka.
Malam itu sunyi. Bahkan suara jangkrik pun terasa jauh, seakan dunia ikut menahan napas. Maga dan Wisa berjalan menyusuri jalanan desa kecil yang mulai mereka hafal, tapi malam ini semuanya terasa berbeda—mencekam.
Wisa sesekali melirik ke arah Maga. Cahaya bulan membias di wajah pria itu, menyoroti rahang kokohnya dan ekspresi serius yang tidak pernah berubah sejak mereka meninggalkan rumah.
“Gak nyangka ya…” Wisa akhirnya bersuara, pelan. “Baru kurang lebih seminggu kenal, tapi aku udah ikut kamu nyusup keluar rumah, bawa tas penuh obat, siap buat dikejar-kejar kelompok rahasia.”
Maga menoleh sekilas, matanya masih tajam. Tapi ada sedikit senyum tipis yang terselip di sudut bibirnya. “Lo ngomong terus tuh bisa jadi senjata juga. Bikin musuh pusing.”
Wisa mendengus kecil, setengah kesal. “Makasih ya… antara pujian atau hinaan gak jelas itu.”
Tapi dalam hati, ia lega. Meski tegang, setidaknya Maga masih bisa bercanda. Itu berarti situasinya belum seburuk yang ia bayangkan.
Mereka terus berjalan sampai melewati hutan kecil di ujung desa.
Di tengah jalan, Maga tiba-tiba menghentikan langkahnya. Ia mengangkat tangan, memberi isyarat agar Wisa diam. Mata Maga tajam menatap jejak samar di tanah berlumpur.
“Ini… bekas sepatu Harsya,” gumamnya. “Tapi ada jejak lain juga. Lebih berat. Mungkin dua atau tiga orang.”
Wisa berjongkok di sebelahnya, ikut memperhatikan. Tapi alih-alih fokus, pikirannya justru teralih ke tangan Maga yang memegang ranting untuk menunjukkan arah. Tangan itu—kasar, penuh luka lama, tapi terasa… hangat.
“Apa?” tanya Maga saat menyadari Wisa memandangi tangannya.
Wisa buru-buru mengalihkan pandangan. “Nggak… cuma mikir… tangan kamu kuat ya. Tapi tetap bisa telaten waktu bersihin lukaku waktu itu.”
Maga terdiam sesaat. Lalu berdiri lagi, merogoh kantong dan mengeluarkan sehelai kain. Ia menyerahkannya pada Wisa.
“Kalau kita kejebak dan kepisah, ikat ini di tangan lo. Gue bakal nyari lo sampe ketemu.”
Wisa memegang kain itu erat. Ada sesuatu dalam suaranya tadi—serius, dalam, dan… hangat.
“Kenapa kamu baik banget sama aku, Ga?”
Maga tidak langsung menjawab. Ia menatap langit sebentar sebelum kembali menatap Wisa.
“Ada sesuatu dari lo… yang bikin gue inget rumah. Bikin gue inget… siapa gue dulu.”
Wisa mengernyit, memiringkan kepala sedikit. “Kita pernah ketemu sebelumnya ya?”
Maga menunduk sesaat, senyum tipis terbentuk di sudut bibirnya, tapi matanya tampak sayu.
“Entah. Mungkin pernah…” Ia terdiam sejenak, lalu menatap Wisa dalam. “Tapi rasanya… aku gak mau kehilangan kamu juga. Kayak waktu aku kehilangan semuanya dulu.”
Kata-kata itu membuat dada Wisa terasa sesak. Tapi sebelum ia sempat bertanya lebih jauh, Maga sudah kembali berjalan.
Mereka terus menyusuri hutan sampai akhirnya menemukan bekas tenda kecil yang terlihat seperti baru ditinggalkan. Di atas tanah, ada lembaran kecil dengan simbol yang sama seperti kain hitam di rumah tadi.
“Ini milik Erebus,” gumam Maga. “Tapi… kenapa ditinggal gitu aja?”
Sebelum mereka bisa memeriksa lebih jauh, terdengar suara langkah dari balik semak.
Maga segera menarik Wisa ke belakangnya. Tangan satunya meraih senjata yang tergantung di selempang dadanya.
Seseorang muncul—tertutup jubah, dan topeng wajahnya tidak terlihat jelas.
“Kalau kalian nyari si bocah berisik itu… dia masih hidup,” ucap orang itu pelan. “Tapi waktu kalian gak banyak.”
Wisa melangkah maju. “Who are you? Kenapa kalian culik Harsya?”
Orang itu hanya mengangkat satu benda—sebuah kalung berbentuk lingkaran cahaya—dan melemparkannya ke arah Maga.
“Simpan dia tetap hidup. Karena Harsya bukan target kami. Tapi… dia. We’ll meet again when it's done” Ia menunjuk Wisa. Lalu menghilang secepat kemunculannya.
Wisa berdiri membeku. Dada berdegup cepat.
“Apa maksudnya… aku?”
Maga melangkah maju, menggenggam bahu Wisa erat. “Apa pun itu… kita cari Harsya dulu. Dan kita hadapi ini bareng, Wisa.”
Untuk pertama kalinya, Wisa merasa aman—meski dunia di sekitarnya terus berubah jadi asing dan berbahaya.
Dan untuk pertama kalinya, Maga sadar… rasa takut kehilangan mulai kembali merayap. Tapi kali ini, ia bersumpah tidak akan diam saja.
Tidak untuk Wisa. Dia berjanji akan selalu menjaga Wisa agar selalu disisinya.
Malam itu, mereka memutuskan bermalam di reruntuhan pondok tua yang tersembunyi di balik semak dan pohon rimbun.
Langit malam bertabur bintang terlihat dari sela langit langit pondok, tapi suasana hati Wisa tak seindah langit semenjak kepergian pria misterius itu. Kata-kata dari pria itu masih terngiang-ngiang di kepalanya, menggema seperti mantra kutukan yang tak bisa dihapus.
‘Semua salahnya semua ini salahnya. Kenapa malam itu dia tidak pulang lewat jalan biasa saja? Kenapa harus lewat jalan memotong? Jika ia tidak nekat lewat jalan itu, mungkin sekarang Harsya masih tersenyum hangat dirumah. Mungkin sekarang Kak Abi masih duduk membaca bukunya di kursi kesayangannya di rumah. Dan mungkin Maga tidak perlu bersusah payah kehilangan orang orang yang sudah Maga anggap keluarganya.’
Wisa duduk menyandar di dinding kayu pondok tua yang nyaris runtuh dimakan waktu. Angin malam menembus celah-celah dinding, membawa hawa dingin yang tak hanya menusuk kulitnya, tapi juga menghantam lurus ke jantung. Maga duduk tak jauh darinya, menyalakan api kecil di perapian rusak yang mereka temukan di sudut ruangan. Cahaya api yang bergetar membuat bayangan mereka tampak seolah hidup—bergerak sendiri.
Wisa memeluk lututnya, dagunya bersandar di atasnya. Matanya menatap api dengan kosong. Nafasnya berat, tidak stabil. Setiap kali ia menutup mata, bayangan wajah Harsya muncul. Dan rasa bersalah itu menjeratnya seperti tali yang melilit leher.
“Aku takut, Ga…” suara Wisa nyaris seperti bisikan. “Kalau mereka ngincer aku… berarti semuanya ini salahku?”
Maga menoleh, wajahnya suram. “Bukan, Wisa. Jangan ngomong gitu. Mereka yang salah, bukan kamu.”
“Tapi kalo aku nggak pernah deket sama Harsya… dia nggak bakal kena apa-apa. Dia diculik karena aku. Yang mereka cari aku. Aku yang bikin semuanya kacau…” Wisa menghela nafas dengan kasar. “…kalau nanti Harsya kenapa napa… trus Kak Abi… trus kamu?? Aku nggak akan pernah bisa maafin diriku sendiri, Ga.”
“Kamu nggak bisa nyalahin diri sendiri buat sesuatu yang di luar kendali kamu.”
Wisa tak menjawab. Matanya kosong, menatap api yang menari tanpa makna. Suaranya bergetar saat akhirnya ia bicara lagi.
“Aku pengen nyerah…” bisik Wisa, air mata menetes diam-diam. “Tapi aku nggak bisa. Karena kalo aku nyerah, artinya semua ini sia-sia. Artinya aku ninggalin Harsya. Kayak mama ninggalin aku dan adekku dulu.”
“Aku nggak mau jadi kayak mama, Ga.” Lanjut Wisa.
Maga terdiam. Perkataan Wisa menghantamnya lebih keras dari yang ia kira. Ia tahu Wisa menyimpan banyak luka, tapi tidak menyangka luka itu sedalam ini. Api kecil di hadapan mereka berderak pelan, memantulkan cahaya ke mata Wisa yang basah, memantulkan kesepian yang tidak bisa disembunyikan.
“Aku nggak tahu harus ngomong apa…” gumam Maga, suaranya lirih. “Tapi satu hal yang aku tahu pasti, kamu bukan mama kamu, Wis. Kamu bukan orang yang bakalan ninggalin orang orang yang kamu sayang. Kamu orang yang milih buat tetap tinggal, walaupun kamu sendiri udah tau kamu bakalan sakit. Kamu orang baik Wisa.”
Wisa memejamkan mata, menahan isak yang nyaris pecah.
“Dulu waktu Mama pergi, aku kira itu karena aku. Karena aku nggak cukup pintar, anak bandel, nggak bisa bantu mama jaga adek, nggak bisa kasih kekuatan ke mama. Makanya mama milih buat nyusul papa. Adekku masih kecil waktu itu. Dia nggak ngerti apa-apa. Tapi aku ngerti. Aku tahu rasanya ditinggalin orang yang harusnya jaga kita.”
Suara Wisa pecah di akhir kalimatnya. Ia menggigit bibirnya sendiri, seolah rasa sakit fisik bisa mengalahkan nyeri emosional di dalam dada.
“Dan sekarang… sekarang semua orang yang aku sayang lagi-lagi dalam bahaya karena aku. Aku ninggalin adekku sendiri di bumi. Harsya diculik karna mereka mau informasi tentang aku. Tapi aku tetap nggak bisa ngelakuin apa-apa.”
Maga mendekat, duduk di samping Wisa. Ia tak berkata apa-apa, hanya menyandarkan bahunya ke bahu Wisa. Diam-diam, ia meremas tangan gadis itu.
“Kamu nggak sendiri,” ucap Maga akhirnya. “Kamu nggak harus ngadepin semua ini sendirian, Wis.”
Mereka terdiam lama. Di luar pondok, suara hutan terdengar samar—angin menggesek daun, suara burung malam, dan… sesuatu yang entah apa. Tapi mereka terlalu tenggelam dalam ketakutan dan penyesalan untuk memedulikannya.
Malam makin larut, dan api makin kecil. Wisa menyandarkan kepalanya ke bahu Maga, tubuhnya masih sedikit gemetar. Ia terlalu lelah untuk menangis lagi, tapi pikirannya tidak berhenti berputar.
Dan ketika akhirnya Wisa mulai terlelap, mimpi buruk pun datang.
Ia berdiri di lorong rumah sakit yang sepi. Lampu berkedip-kedip, dan tak ada suara selain detakan jantungnya sendiri. Di ujung lorong, ada seorang anak laki-laki yang duduk sendirian—menangis, tubuhnya kotor dan penuh luka. Wisa melangkah maju, ingin menghampiri. Tapi setiap langkahnya terasa berat, seolah ia berjalan dalam lumpur.
Lalu, suara itu terdengar lagi. Suara pria misterius itu.
“Kau tidak bisa menyelamatkan mereka, Wisa. Karena kaulah penyebab semuanya.”
Wisa menjerit dalam tidurnya.
Maga langsung terbangun, panik. Ia mengguncang bahu Wisa.
“Wisa! Wis, bangun! Kamu mimpi buruk!”
Wisa terbangun dengan nafas tersengal, tubuhnya basah oleh keringat dingin. Matanya liar, seperti mencari kenyataan.
“Ga…” suaranya serak. “Aku ngerasa kayak… aku udah kehilangan semuanya.”
Maga menggenggam tangannya lebih erat.
“Belum. Kita belum kalah. Kita masih di sini. Kita masih bisa nyelametin mereka.”
Dengan sedikit terisak Wisa berkata “Salahku Ga, semua ini salah aku.”
Maga menoleh pelan. “Bukan salahmu. Dunia ini memang selalu milih orang-orang yang gak salah buat jadi korban.”
Kata-kata itu membuat Wisa menoleh, menatap mata pria di hadapannya. “Kamu pernah ngerasain juga, ya?”
“Waktu aku kecil… aku pernah dikejar-kejar kelompok yang sama yang sekarang nyulik Harsya. Bahkan beberapa saat sebelum ketemu kamu di gua. Mereka bilang aku pembawa kehancuran.”
“Kenapa?”
“Aku… juga bukan dari dunia ini.”
Wisa terdiam. “Jadi kamu… dari dimensi lain juga?”
Maga mengangguk. “Aku dari Bumi, ya…. kita dari tempat yang sama, Wisa. Aku gak ingat semuanya. Tapi aku ingat… rumah sakit. Kecelakaan. Dan kata kata sok bijak dari anak kecil botak beberapa menit sebelum aku pindah dimensi.”
Wisa mematung.
Maga adalah anak itu. Anak yang dulu ia temui sedang menangis sendirian di bangku taman rumah sakit tempat Wisa dirawat.
Anak yang ia tinggalkan sebentar karena kebelet pipis, dan saat kembali… bangku itu sudah kosong.
Anak yang diam-diam ia tunggu setiap sore, berharap bisa bertemu lagi. Tapi sampai ia sembuh dan pulang dari rumah sakit, anak itu tak pernah muncul.
Hari itu perlahan mengabur di ingatan—tersapu waktu dan kenyataan.
Tapi sekarang… di sini, di Utopia, di dunia yang bahkan tak pernah ia bayangkan… mereka dipertemukan kembali. Karena sejak detik pertama mereka bertemu, benang merah di antara mereka sudah tertarik.
“Itu aku.” ucap Wisa pelan. “Anak botak itu, itu aku ga.”
Maga hanya diam. Tapi tatapannya menjawab lebih dari cukup.
Lalu, tiba-tiba… dada Wisa terasa sesak. Nafasnya memburu. Tubuhnya panas, seperti ada sesuatu di dalam darahnya yang mendidih. Ia menggenggam lengan kirinya erat, lalu menjatuhkan diri ke tanah.
“Wisa?” seru Maga, refleks berlari menghampirinya.
Tapi sebelum bisa menyentuhnya, tubuh Wisa mulai berubah.
Suara tulang bergeser. Suara jeritan yang bukan dari manusia. Mata Wisa bersinar terang kehijauan, rambutnya menjuntai memanjang dengan liar, kuku-kukunya memanjang seperti cakar. Bentuk tubuhnya membesar, mengerikan, menakutkan.
Wisa berubah menjadi makhluk yang sangat mengerikan—monster—itu yang sering orang orang gunakan untuk menyebutnya.
Maga terkejut, tapi tidak mundur. Ia menarik belatinya, bukan untuk menyerang, tapi berjaga.
“Wisa! Dengar aku! Itu kamu! Jangan biarin dia ambil alih!”
Namun, monster itu—Wisa—menggeram dan menghantamkan tangan ke tanah, membuat tanah retak. Maga menghindar, tapi satu cakar melukai lengan kirinya. Darah mengucur deras.
Sangat aneh, Maga yang mempunya kekuatan regeneration biasanya hanya membutuhkan waktu sepersekian detik untuk menyembuhkan luka di badannya. Tapi luka ini—yang disebabkan oleh cakar Wisa— tidak bisa ia sembuhkan.
Maga seperti manusia tanpa kekuatan di depan Wisa.
“Wisa!” seru Maga lagi, kali ini lebih keras. “Kamu bisa lawan ini!”
Mata monster itu menatapnya, dan untuk sesaat… ada air mata di ujungnya.
Lalu tubuh itu mulai mengerut, mengecil, dan berubah kembali menjadi manusia, Wisa yang telanjang, lemas, dan terbaring di tanah penuh luka dan debu.
Maga cepat-cepat menyelimuti tubuh Wisa dengan jubahnya sendiri, lalu memangku Wisa ke dekat api unggun.
Beberapa saat kemudian, Wisa membuka mata. Tangannya menggenggam lengan Maga yang berdarah.
“Ga… aku… aku nyakitin kamu?”
Maga hanya mengangguk pelan. “Nggak apa apa.”
Air mata Wisa mengalir. “Maaf… aku gak sengaja… aku gak tahu kenapa aku bisa…”
“Ssshh…” Maga menyentuh pipinya. “Kamu gak salah. Tapi kamu harus belajar ngendaliin itu. Karena kita gak punya pilihan lain.”
Wisa menatap mata Maga, dan di sana… ia tak melihat ketakutan. Hanya tekad. Dan… kelembutan.
Wisa menunduk, suaranya pelan tapi berat
“Keadaan aku sekarang… cuma bakalan jadi beban buat kamu, ga. Kamu harus nyelametin Harsya, dan aku malah bikin semuanya makin rumit.”
Dia menghindari tatapan Maga, seolah takut melihat kekecewaan di sana.
“Mungkin akan lebih gampang kalau kamu tinggalin aja aku disini.”
Maga mendekatkan wajahnya. Hidung mereka hampir bersentuhan.
“Aku harus bilang berapa kali ke kamu Wisa, aku bakalan jaga kamu. Aku nggak mau kehilangan kamu lagi… aku nggak mau kamu pergi.”
Hening. Nafas mereka saling menyatu. Dan perlahan, Wisa menyentuh wajah Maga.
“Aku juga gak mau kamu pergi,” bisiknya.
Dan untuk pertama kalinya, Maga mencium kening Wisa. Lembut. Penuh janji. Bukan sekadar pelarian, tapi sebuah awal.
Keesokan paginya, Wisa terbangun lebih cepat. Luka-luka Maga sudah dibalut rapi, dan keduanya mulai latihan dasar—dari mengatur emosi sampai latihan fisik.
Maga sabar. Ia mengajarkan Wisa cara mengalihkan energi marah menjadi kendali. Wisa jatuh berkali-kali, tapi Maga selalu membantunya berdiri lagi.
Setiap sentuhan, setiap tawa kecil, perlahan membangun sesuatu di antara mereka. Sesuatu yang bukan sekadar kerja sama. Tapi ikatan.
Beberapa hari telah berlalu sejak insiden malam itu. Sejak Wisa untuk pertama kalinya berubah menjadi sosok yang bahkan ia sendiri tak kenal. Sejak luka di lengan Maga—yang entah kenapa tidak bisa sembuh dengan cepat, menyatukan mereka dalam ikatan yang tak terlihat, tapi perlahan tumbuh kuat.
Sudah sangat jauh mereka dari rumah, sudah tiga hari latihan demi latihan dilakukan oleh Wisa dan Maga. Sangat banyak luka luka baru mereka dapatkan.
Disela sela sesi latihan mereka, Wisa tiba tiba meminta istirahat karena dia sudah merasa semua energinya hilang.
Terlalu susah mengontrol monster yang ada di dalam badannya. Setiap dia berubah monster tersebut selalu ingin mengambil alih kesadaran Wisa. Wisa jadi harus bertarung di dalam badannya dengan sang monster dan juga Maga yang selalu mencoba untuk membuatnya melawan. Yang dimana membuat Wisa harus mengeluarkan dua energi dalam satu waktu.
Wisa lalu duduk bersandar di akar pohon besar, jari-jarinya memainkan daun gugur di tanah, sambil mencoba menenangkan nafasnya. Maga duduk tak jauh darinya, menatap air terjun kecil di kejauhan.
“Kamu deket banget ya sama Harsya,” kata Wisa pelan, memecah sunyi.
Maga menoleh sebentar, lalu mengangguk. “Dia kayak adikku sendiri.”
Wisa diam sejenak sebelum melanjutkan, suaranya lebih hati-hati. “Kamu tau gak… soal masa lalunya? Orang tuanya?”
Maga menggeleng pelan. “Gak banyak. Yang aku tau… kedua orang tuanya udah meninggal. Abi yang nemuin dia waktu masih kecil, katanya sendirian di tengah hutan.”
Wisa mengerutkan dahi. “Abi?”
Maga mengangguk. “Iya.”
Wisa memutar pandangan ke langit, berpikir. “Abi juga yang bantuin kamu waktu kamu dikejar kejar Erebus pas kamu baru pindah dimensi… lalu Harsya kecil…”
“Iya.”
“…jadi kalau dipikir-pikir…” Wisa menoleh cepat ke Maga. “Abi udah nemuin kamu dan Harsya waktu kalian masih kecil, kan?”
Maga mengangguk lagi, pelan.
“Loh, tapi berarti… Abi tuh udah harusnya tua banget dong?” Wisa memelotot. “Tapi kelihatannya cuma beda dua atau tiga tahun dari kita??”
Maga akhirnya terkekeh, nada suaranya agak malas. “Wisa… kamu pikir dia manusia biasa?”
Wisa masih bingung, lalu mendesak, “Ya enggak, tapi maksudnya—”
“Abi dari dimensi lain,” potong Maga. “Orang-orang dari sana punya sistem regenerasi beda sama kita. Mereka bisa hidup sampai tiga ratus tahun lebih, dan penuaan mereka… lama banget.”
Wisa terdiam.
“Kalau kamu mau bandingin pake umur manusia kayak kita,” lanjut Maga, “Abi itu baru sekitar delapan belas atau sembilan belas tahun. Bahkan secara hitungan usia, dia bisa aja lebih muda dari kita.”
Wisa menganga. “Serius?”
Maga mengangguk. “Mukanya aja yang boros.”
Wisa ngakak. “Parah banget.”
Maga ikut tertawa pelan, tapi cepat kembali tenang, menatap langit yang mulai gelap. Suara air terjun mengisi kekosongan di antara mereka.
Wisa memperhatikan sisi wajah Maga dalam diam. Sorotan cahaya jingga menyapu pipi dan garis rahangnya. Senyap. Tapi untuk pertama kalinya, keheningan itu tidak membuatnya canggung.
“Ga…” panggilnya pelan.
Maga menoleh, alisnya terangkat sedikit. “Hm?”
“Kamu takut nggak sih… semua ini nggak nyata?”
Maga mengernyit. “Maksud kamu?”
“Utopia. Perjalanan ini. Bahkan… kita.”
Maga tak langsung menjawab. Ia menunduk, mengambil kerikil kecil dan melemparkannya ke arah air. Riaknya membesar, lalu hilang begitu saja.
“Kalau ini mimpi,” katanya akhirnya, “aku tetep nggak mau bangun.”
Wisa terdiam.
“Dan kalau kamu bagian dari mimpi itu…” Maga menoleh, menatap mata Wisa dalam-dalam. “…aku bakal tetap nyari kamu, meskipun aku bangun.”
Jantung Wisa seperti melompat sekali. Matanya terbelalak, tapi tubuhnya tak bisa bergerak.
“Apa tadi…? Kamu lagi ngegombal?” bisiknya, setengah bercanda.
Maga nyengir kecil. “Mungkin.”
Wisa tertawa, tapi cepat-cepat menunduk. Tangannya gemetar sedikit, jadi ia menggenggam lututnya agar diam. Lalu tanpa sadar, ia menyandarkan kepala ke bahu Maga. Tidak lama. Hanya sebentar.
Maga tak bergerak. Tapi ia juga tidak menyingkir.
Dan saat langit benar-benar kehilangan jingganya, dan suara air jadi satu-satunya musik, mereka tetap di situ.
Diam. Tenang.
Nyaman.
Sesi latihan sepertinya tidak begitu memberikan banyak hasil. Wisa masih belum dapat begitu leluasa dalam mengontrol bagaimana dan kapan dia berubah. Hari ke empat sudah dilalui Maga dan Wisa, tapi belum ada tanda tanda kelompok Erebus akan mendatangi mereka kembali.
Di hari ke empat ini Maga dan Wisa memutuskan bermalam di sebuah menara tua. Menara itu dulu sepertinya berdiri kokoh—entah untuk apa, tapi sayangnya kini atapnya runtuh di beberapa sisi dan dinding batu berlumut menyisakan celah–celah yang menjorok ke angkasa. Mereka memanjat sisa tangga melingkar yang masih tersisa, setiap langkah bergeming pelan di antara batu lapuk.
Begitu tiba di “lantai dua” yang lapangnya hanya sekitar tiga meter persegi— hanya bilik inilah yang paling layak dihuni dari semua yang ada di dalam menara— Maga segera menata alas dari selimut tebal dan ranting kering, memastikan tidak ada cahaya yang bocor ke luar. Satu lentera digantung di pilar batu terdekat, menebar sinar temaram yang menari di permukaan lumut. Sebuah obor kecil lain dipasang di sudut untuk menerangi sudut ceruk, menciptakan zona terang-gelap yang membelai tubuh mereka dengan kehangatan.
Hening di antara mereka. Bukan canggung, tapi sarat. Ada banyak hal yang menggantung di udara—rasa takut, penyesalan, dan kerinduan yang belum sempat diberi nama.
“Wisa, maaf cuma kamar sempit ini yang paling layak buat tempat istirahat. Tapi kalau kamu nggak nyaman tidur deket banget sama aku, aku bisa tidur duduk di….. di kursi itu” tunjuk Maga ke arah kursi yang bahkan tidak bisa di sebut kursi lagi karna bentuknya sudah tidak karuan. Sepertinya sudah lapuk dimakan rayap.
Maga lalu duduk menyandar di dinding menara, menjauh sedikit dari tempat tidur seadanya yang telah ia siapkan. Ia tak menyentuh apapun kecuali kain pembalut di lengannya—luka lama dari cakar Wisa yang masih belum sembuh. Di wajahnya tak ada amarah, tapi juga tak ada senyum.
Wisa memandang ke arahnya dalam diam, lalu perlahan menarik selimut lebih erat ke tubuhnya.
“Maaf,” gumam Wisa pelan.
Maga menoleh. “Kenapa minta maaf? Kan aku yang minta maaf sa.”
Wisa menunduk, jarinya mencengkram ujung selimut. Nafasnya berat. “Karena aku nyakitin kamu. Karena aku berubah jadi sesuatu yang bahkan aku sendiri nggak kenal. Karna aku sampe sekarang masih belom bisa ngontrol monster itu. Dan karena… aku bikin kamu takut.”
Maga tak langsung menjawab. Ia sekadar diam, seolah menunggu Wisa menyelesaikan pikirannya.
“Aku tahu kamu nggak mau tidur deket aku, Ga,” lanjut Wisa, suaranya bergetar. “Kamu bilang soal kursi rusak itu… seolah-olah kamu kasih pilihan, tapi sebenernya kamu cuma cari alasan biar bisa jauh dari aku, kan?”
Sorot mata Maga berubah. Ia perlahan bangkit dari tempatnya, tapi Wisa lebih dulu bicara lagi.
“Aku ngerti. Kamu jijik, kan? Aku juga jijik sama diriku sendiri, apalagi waktu pertama berubah. Kamu berdarah gara-gara aku. Dan lukanya… bahkan kamu nggak bisa sembuhin kayak biasanya.”
Wisa menahan napas, menatap tangan Maga yang masih diperban. “Kalau nanti aku berubah lagi, dan aku nyakitin kamu lebih parah… kamu boleh pergi, Ga. Aku gak akan marah. Aku gak mau kamu terus terluka karena aku. Aku gak mau…”
Nadanya pecah.
“…ngeliat orang yang aku sayang… ninggalin aku lagi.”
Lagi lagi pikiran pikiran buruk itu mendatangi kepala Wisa, semua kemungkinan kemungkinan buruk yang tidak ada hentinya membuat Wisa takut, takut Maga akan meninggalkannya.
Maga berdiri dalam diam. Beberapa detik berlalu sebelum ia perlahan melangkah ke arah Wisa. Tatapannya dalam, tapi bukan karena amarah atau jijik—melainkan karena sesuatu yang lebih berat dari itu.
Ia berlutut di depan Wisa.
Maga mengangkat dagu Wisa untuk melihat kearahnya, ekspresinya nyaris marah. Tapi tangannya menyentuh lembut pipi Wisa—hangat dan gemetar sekaligus. “Jangan bilang gitu.”
“Kamu pikir aku takut sama kamu?” suaranya rendah, nyaris pelan. “Aku takut kehilangan kamu, sa. Takut kamu terus mikir kayak gitu dan dorong aku pergi. Padahal aku gak ke mana-mana.”
Wisa memalingkan wajah, tapi Maga mengangkat dagunya perlahan dengan dua jari.
“Aku tidur agak jauh bukan karena aku jijik. Tapi karena aku pikir kamu yang butuh ruang. Aku pikir kamu butuh waktu buat nerima semuanya. Bukan karena aku gak mau di dekat kamu.”
Ia menatap mata Wisa dalam-dalam. “Aku masih di sini. Empat hari ini, aku gak pernah ninggalin kamu, sedetikpun nggak. Bahkan waktu kamu berubah, aku tetap tinggal. Karena apa pun bentuk kamu… I know deep inside that monster, is you, my Wisa.”
Wisa terdiam. Air matanya mulai jatuh satu-satu, tanpa suara.
“Dan luka ini,” Maga mengangkat tangannya yang diperban, “bukan alasan buat aku pergi. Tapi pengingat kalau kamu butuh seseorang yang bisa nerima kamu, bahkan waktu kamu gak bisa nerima diri kamu sendiri.”
Wisa menutup mata, lalu membuka perlahan. “Aku takut, Ga. Aku takut kamu bakal berhenti lihat aku kayak Wisa. Aku takut kamu lihat aku cuma sebagai sesuatu yang bisa berubah, yang bisa… jadi berbahaya.”
Maga mendekat, duduk di samping Wisa. Ia tidak menyentuhnya dulu, hanya berkata, pelan, sabar:
“Aku lihat kamu sebagai orang yang lagi belajar jadi utuh. Sama kayak aku. Dan aku, nggak akan kemana-mana.”
Wisa menoleh padanya. Ada keraguan, tapi juga secercah harapan di matanya.
“Kamu janji?”
“Aku janji.”
Wisa menahan napas. Jemarinya perlahan menyentuh luka di lengan Maga, sangat pelan, seolah ingin menggantikan rasa sakit itu dengan kehangatan dari tubuhnya sendiri. Mata mereka masih terkunci. Tak ada suara selain api yang berderak pelan dan desir angin di luar.
Tanpa sadar, jarak mereka semakin dekat. Nafas mereka menyatu, pelan… dalam. Wisa menyentuh leher Maga, pelan, seolah memastikan ini nyata—bahwa pria di hadapannya benar-benar ada, dan tidak akan pergi seperti semua orang lain dalam hidupnya.
“Ga, you’ll stay.”
“I will… I will always stay by your side.”
Lalu tanpa ragu, mereka saling mendekat. Bibir mereka bertemu—bukan tergesa, bukan terbakar nafsu, tapi seperti dua kepingan yang selama ini mencari tempatnya. Ciuman itu penuh luka, penuh pengakuan, dan penuh rasa terima kasih karena masih bisa bertahan.
Wisa menarik nafas dalam-dalam di sela ciuman, dan untuk pertama kalinya, rasa takutnya sedikit mereda. Tangan Maga melingkar di punggungnya, menarik tubuhnya ke dalam pelukan yang kokoh, penuh perlindungan.
Mereka tidak butuh kata-kata. Di malam sunyi itu, mereka saling menyembuhkan, pelan-pelan, dengan tubuh dan hati yang sama-sama retak.
Malam menjadi saksi bagaimana dua jiwa yang terluka saling membuka—bukan untuk mengisi kekosongan, tapi untuk menerima bahwa luka itu ada… dan bisa tetap dicintai.
Paginya, Maga terbangun karena dingin yang menusuk. Ia meraba sisi kanan dan kiri tempat dia tidur—kosong. Wisanya tidak ada. Detik itu juga, ia duduk tegak, nafasnya tercekat. Keringat dingin mengalir di pelipis.
“Wisa…?” gumamnya panik.
Ia cepat-cepat mengenakan pakaian, lalu berlari keluar dari bilik tempat mereka bermalam. Saat hendak menuruni tangga, pintu di samping tangga terbuka. Di sana, Wisa berdiri—menggenggam secarik kertas, wajahnya sudah basah oleh air mata.
Maga lega, tapi hanya sepersekian detik. Sesuatu jelas salah.
“Wisa, sayang, kenapa? Itu kertas apa?” tanyanya cemas. Ia mendekat dan Wisa menyerahkan surat itu tanpa berkata-kata.
Pelan-pelan, Maga membaca. Setiap kata menusuk. Tulisan itu sangat dikenalnya. Surat untuk Erebus. Perintah untuk membunuh. Rahasia tentang kekuatan dalam tubuh Wisa. Dan di sudut bawah: inisial A.K.
Abhimanyu Kaleian. Abi.
Mata Maga melebar. Tenggorokannya tercekat.
Abi tahu terlebih dahulu dari pada Wisa sendiri tentang kekuatan Wisa. Abi yang memberitahu Erebus. Abi yang menyuruh mereka meninggalkan Wisa sendirian hari itu. Hari saat Harsya diculik—yang sepertinya hari dimana Wisa yang jadi target.
Wisa memeluk dirinya sendiri, tubuhnya bergetar. Ia merasa hancur. Dikhianati. Disalahkan.
Maga menggertakkan gigi. Ia tidak bisa mempercayai ini. Abi—orang yang ia hormati—ternyata rela menyerahkan Wisa ke tangan ekstrimis.
Kenapa? Apa salah Wisa? Apa pantas ia dibunuh hanya karena sesuatu yang bahkan tak ia pahami sepenuhnya?
Maga mencoba mencari alasan. Satu saja. Tapi tak ada satupun yang masuk akal. Tidak satupun yang bisa membenarkan pengkhianatan ini.
Dengan gemetar, ia membanting barang terdekat. Marah, kalut, semua emosi berlarian di dalam badan Maga. Ia kembali menatap surat itu—membacanya lagi. Dan lagi. Seolah tak percaya pengkhianatan ini nyata.
Wisa akhirnya bicara, suaranya parau, entah sudah berapa lama ia menangis sampai membuat suaranya terdengar seperti itu.
“Maga… selama aku tinggal di rumah kalian—selama seminggu terakhir itu…”
Maga mendongak, menatapnya. Wisa masih menggenggam ujung bajunya sendiri, seolah itu bisa menahan dirinya untuk tidak runtuh, pecah kembali dalam tangisan.
“…kamu dan Harsya sering pergi keluar dan bahkan bermalam. Tapi kak Abi, dia selalu ada,” Wisa menatap lantai. “Dia kayak…. kakak…. Nggak, dia bahkan kayak ayah buat aku. Kak Abi jadi seseorang yang… yang benar-benar tau aku. Yang tau kalau aku lagi ngerasa sakit… bahkan sebelum aku sempat bilang atau sempat ngerasain sakitnya.”
Mata Wisa berkaca-kaca lagi.
“Kak Abi yang bantu rawat aku pas aku tiba-tiba demam tengah malem. Dia yang ngajarin aku cara nenangin diri waktu sihir di tubuhku mulai aktif tanpa aku sadar. Dia yang ngajarin aku tentang Utopia, tentang hukum didimensi ini… semua hal baru yang nggak pernah aku ngerti sebelumnya.”
Maga tak menyela. Ia membiarkan Wisa terus bicara, meski hatinya terus menjerit.
“Dia… tahu semuanya tentang aku, Maga. Dia perhatian. Dia sabar. Dia buat aku ngerasa aman.” Suaranya pecah. “Bahkan lebih dari kamu. Lebih dari Harsya.”
Ucapan itu menusuk. Tapi Maga tahu Wisa tidak bermaksud menyalahkan. Ia hanya sedang mencoba mengerti.
“Jadi… kenapa?” Wisa menatapnya penuh luka.
“Kenapa orang yang paling aku percaya justru yang nyuruh mereka buat bunuh aku? Aku nggak seberharga itukah? Atau, eksistensiku di dunia kalian itu ancaman makanya kak Abi mau aku mati aja? Benerkan Ga, harusnya aku, harusnya aku dirumah aja biar Harsya nggak diculik mereka.” Tangis sudah tidak bisa lagi Wisa tahan, pecah, pecah untuk yang Maga sendiri tidak tahu berapa kali Wisa menangis.
Maga tak punya jawaban.
Tangannya gemetar saat menggenggam surat itu. Baru sekarang ia sadar—Abi telah memberi lebih banyak kepada Wisa dari yang ia dan Harsya berikan selama ini. Bukan hanya soal perlindungan, tapi juga soal pemahaman. Keberadaan. Kedekatan.
Dan sekarang, semua itu tak berarti apa-apa karena fakta pahit ini: Abi-lah yang membuka pintu bagi Erebus.
Maga menarik nafas dalam-dalam. Kepalanya penuh pertanyaan.
Abi tahu kekuatan Wisa. Abi tahu bahaya Erebus. Abi tahu segalanya.
Jadi kenapa? Kenapa sekarang ia ingin Wisa mati?
Dan lebih dari itu… kenapa ia menyerahkan Wisa ke tangan Erebus—kelompok yang ingin memusnahkan semua pendatang dari dimensi lain? Kelompok yang percaya hanya penduduk asli Utopia yang layak memiliki sihir dan hidup di sini? Padahal jumlah populasi mereka cuma 10% dari total populasi di dunia ini.
Apa Abi… mulai percaya pada ideologi mereka?
Atau… ada sesuatu yang lebih dalam? Sesuatu yang belum mereka lihat? Sesuatu yang terlewat oleh pandangan mereka?
Maga diam. Lama. Tangannya masih menggenggam surat itu, sementara pikirannya terus berputar. Ia perlahan melangkah menjauh dari Wisa yang masih terisak, mendekati jendela yang tersiram cahaya pagi.
Matahari sedang naik perlahan dari balik pepohonan. Cahayanya lembut, tapi cukup menyilaukan. Maga membuka jendela. Angin pagi menyapu masuk. Dingin. Segar. Tapi tak mampu menenangkan hatinya yang penuh gejolak panas.
Ia menatap surat itu lagi, untuk kesekian kalinya. Tapi… ada yang berbeda.
Tepat di bawah cahaya matahari, tinta samar muncul di balik kalimat terakhir. Perlahan-lahan, bentuknya menjadi lebih jelas—seperti mantra yang hanya bisa dibaca di waktu tertentu, di cahaya tertentu.
Maga menyipitkan mata, menajamkan fokus.
Sebuah alamat.
Bukan alamat rumah mereka tinggal. Tapi juga bukan tempat yang asing bagi Maga.
Tempat itu…
Tempat meditasi para Key Bearer terdahulu.
Tempat yang hanya diketahui oleh mereka yang dipersiapkan menjadi penerus.
Tempat yang pernah ia datangi dalam diam, dalam latihan, dalam pengasingan.
Tempat yang tak pernah ia ceritakan pada siapa pun—bahkan pada Harsya teman satu rumahnya.
“Tidak mungkin…” bisik Maga pelan.
Ia menggenggam surat itu lebih erat, jantungnya berdegup keras. Apakah Abi ada di sana? Apakah ini petunjuk? Atau… jebakan?
Maga membalikkan badan. Tatapannya bertemu dengan Wisa yang masih berdiri di ambang pintu sudah tidak ada isakan keluar dari bibir cantiknya tapi sayangnya—matanya merah, tubuhnya terlihat sangat lelah, tapi sorotnya masih menyimpan keberanian yang belum padam.
“Wisa,” ucap Maga pelan namun mantap. “Tempat ini… tempat yang ditulis Abi di surat… aku tau di mana itu.”
Wisa mengangkat kepala, menatapnya penuh tanya.
“Itu tempat para Key Bearer dulu bermeditasi. Tempat rahasia. Hanya mereka yang dipilih yang tahu jalannya. Aku… aku pernah ke sana. Sering. Sebelum semua ini dimulai.”
Ia menunduk sebentar, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih berat, lebih dalam.
“Mungkin Abi nulis ini sebagai petunjuk terakhir. Atau mungkin dia ingin aku datang sendiri.” Maga berhenti sejenak, lalu menatap Wisa dengan keyakinan yang bulat. “Tapi aku nggak akan kesana sendiri.”
Wisa mengernyit pelan.
“Aku nggak akan ninggalin kamu, Wisa,” ujar Maga. “Setelah semua ini, aku nggak bisa, dan aku nggak mau. Dan aku udah janji sama kamu kalau apapun yang terjadi, aku nggak akan ninggalin kamu. Bahaya kalau kamu sendirian di sini. Kalau Erebus datang lagi… atau kalau sesuatu di dalam dirimu—”
Wisa langsung menunduk, merasa takut akan kemungkinannya sendiri.
“Bukan berarti aku nggak percaya kamu,” kata Maga cepat, lembut tapi pasti. Ia mendekat dan menggenggam tangan Wisa. “Tapi kamu tau kan… kamu belum sepenuhnya bisa ngendaliin kekuatan itu. Kalau kamu kepancing, kamu bisa… ngelukain banyak orang. Bahkan tanpa niat.”
Wisa menggigit bibir bawahnya.
“Jadi aku nggak akan tinggalin kamu. Kita pergi bareng bareng okay?. Kita temuin Abi. Kita tuntut jawabannya. Together.”
Diam sejenak. Wisa mengangguk pelan, lalu lebih yakin. “Oke, Ayo pergi kesana. Kita pergi sekarang?”
Maga tersenyum tipis, walau hatinya masih berat. “Sekarang.”
Wisa menarik nafas dalam-dalam, mencoba menguatkan diri. Ia tahu—di tempat itu, jawaban akan datang. Entah itu kebenaran yang bisa menyembuhkan… atau luka yang akan mengubah segalanya.
Langkah-langkah mereka sunyi tapi juga tergesa, menyusuri jalur rahasia yang menyempit dan menanjak, dikelilingi akar-akar raksasa dan rerimbunan dedaunan ungu tebal. Cahaya matahari hanya menyelinap lewat celah-celah kecil. Hutan ini diam, tapi tidak tenang. Sudah berjam jam mereka berjalan, langit pun sudah mulai menggelap.
Tiba-tiba, suara dedaunan terinjak menggema di kejauhan.
Maga menghentikan langkah, mengangkat tangan memberi isyarat pada Wisa untuk diam.
Dari kejauhan, muncul sosok tinggi besar—melayang setengah langkah di atas tanah, jubahnya terbuat dari kulit dan bulu serigala yang bergoyang setiap ia bergerak. Wajahnya tersembunyi, tapi auranya dingin dan mematikan.
Erebus.
Mereka tidak sempat kabur—dua sosok lain muncul di belakang. Tiga Erebus. Pengepungan.
“Jangan sentuh dia,” geram Maga, berdiri di depan Wisa.
Erebus pertama melompat, tinggi dan cepat—seperti bayangan besar menerkam. Maga menyambutnya dengan tangan kosong. Tubuh mereka bertubrukan keras, lalu terlempar ke batang pohon. Maga mengerang, tapi luka di pelipisnya sembuh hanya dalam hitungan detik. Ia kembali berdiri, tangannya mengepal. Maga mulai mengeluarkan belati yang dia simpan menyilang didadanya.
Pertarungan berlangsung cepat dan brutal. Maga menangkis, menendang, menusuk, melempar apapun yang dia bisa lempar. Dan setiap kali tubuhnya terkena serangan, luka muncul lalu hilang dalam sekejap. Tapi dia kelelahan. Erebus tak henti. Dia diserang dari kanan dan kiri, dua lawan satu, tidak seimbang. Satu orang lainnya mulai mengepung Wisa.
Dan saat itulah…
Sesuatu dalam tubuh Wisa… bergetar.
Suara raungan rendah menggema dari dadanya. Matanya mendadak berubah—gelap, penuh retakan cahaya merah. Udara di sekitarnya menjadi berat, bergetar.
Monster itu… bangkit lagi.
Tapi kali ini, Wisa berdiri tegak. Giginya terkatup rapat. Tangannya gemetar—bukan karena takut, tapi karena berusaha mengendalikan.
“Aku gak akan biarkan kamu… ngendaliin aku lagi… kali ini, kamu nurut ke aku!” gumamnya.
Dalam sekejap, tubuhnya berubah. Kulitnya menebal, matanya menyala, badannya berubah menjadi dua kali lebih tinggi, melebihi tinggi Maga dan para Erebus. Suara raungan dan geraman keras keluar dari tenggorokannya. Tapi ia tidak menyerang Maga. Ia melesat ke arah para Erebus yang sedang mengepung Maga.
Satu. Dua.
Monster itu menyerang cepat dan presisi. Cakar menebas dada salah satu Erebus, tak bisa berkutik lagi, mata membelalak dan lalu mati ditempat. Yang lain terlempar lalu kepalanya menabrak batu besar hingga tak bangun lagi. Yang ketiga dengan cepat mengelak, tapi sayang, kakinya tetap terkena cakaran Wisa, mencoba kabur, berdarah parah, tertatih, lalu melompat dan menghilang ke dalam gelap.
Lalu, keheningan.
Monster itu—Wisa—berdiri, dadanya naik turun cepat, lalu perlahan… tubuhnya mengecil kembali. Matanya kembali seperti semula.
Dan ia jatuh.
Maga berlari dan menangkapnya tepat waktu.
“Wisa?! Sayang?! Hei! Wisa!” seru Maga, panik. Ia mendekap tubuh Wisa yang sekarang terasa ringan, lemas, seolah semua energi di tubuhnya telah hilang. Ia langsung mengangkat Wisa dalam gendongan bridal, memeluknya erat.
“Aku bawa kamu ke sana, disana ada banyak stock ramuan, kita hampir sampai, kamu bakalan baik baik aja, aku janji Wisa” bisiknya dengan suara gemetar, lebih ke dirinya sendiri daripada Wisa yang nyaris tak sadar.
Tapi saat ia membalikkan badan—
Di sana, di ujung jalan batu menuju tempat meditasi…
Seseorang berdiri.
Tangan di belakang. Tubuh tegap. Mata tajam.
Abi.
Maga langsung berhenti. Nafasnya tercekat.
“…Sejak kapan lo di situ?” desisnya. “Dari tadi lo diem? Ngikutin kita? Nunggu gue mati?! Apa nunggu Wisa mati?!”
Abi tetap diam, pandangan matanya tajam namun sulit dibaca.
Maga menggenggam Wisa lebih erat. “Lo pikir… karena lo bisa hidup berkali kali lebih lama dari gue, lo bisa buang gue? Lo bisa buang Wisa?! Lo kira gampang cari penerus?!”
Abi tetap tak menjawab. Ia hanya melangkah maju, perlahan, mengulurkan tangan ke arah Wisa.
Maga mundur, reflek melindungi. Matanya merah oleh amarah.
“LO NGAPAIN SIH, BI?!” teriak Maga. “GUE DAH CAPEK YA DARI TADI, NGEJAGA EMOSI GUE KE LO?! GUE DAH COBA JAGA HORMAT! GUE MAU NGERTI DARI SUDUT PANDANG LO, GUE MAU DENGER DARI MULUT LO! TAPI LO DIEM?! SEKARANG LO MAU AMBIL WISA DARI GUE?! MAU BUNUH DIA PAKE TANGAN LO SENDIRI SEKARANG?! IYA?! OVER MY DEAD BODY!”
Abi berhenti. Hening sesaat.
Lalu, dengan suara yang sangat pelan, ia berkata:
“…Maaf.”
“CUMA MAAF?! CUMA ITU DOANG YANG BISA KELUAR DARI MULUT LO BI?!” Emosi Maga kembali tersulut.
Abi masih berdiri diam, menatap Wisa yang terkulai dipelukan Maga. Suaranya pelan, nyaris tenggelam dalam desir angin sore yang menerpa lembut pepohonan di sekeliling mereka.
“Aku… harusnya cerita dari awal, harusnya nggak ada yang aku tutupi dari kalian semua,” katanya. “Hari ketiga dia tinggal bersama kita.”
Maga hanya menatapnya dengan tatapan membunuh. Tapi Abi tetap melanjutkan, nadanya berat.
“Kamu dan Harsya malam itu menginap di luar, cari bahan kristal untuk proyekmu, Maga. Wisa demam tinggi. Aku yang jaga. Tengah malam, aku ke dapur ganti kompres, cuma sebentar. Tapi waktu kembali ke kamarnya…”
Abi menelan ludah, suaranya bergetar.
“Dia sudah bukan Wisa lagi.”
Adegan itu muncul kembali di ingatannya dengan jelas—bau lembab kamar, suara napas berat, dan—
“Sosok besar, tinggi… bertelinga panjang. Matanya—demi Arlok —matanya merah menyala, penuh amarah. Ia mengaum, dan sebelum aku bisa berfikir, dia melompat ke arahku. Cepat. Secepat kilat.”
Abi mengepalkan tangannya.
“Aku panik. Tapi insting… tanganku mengubah air di baskom jadi pedang, keras seperti es. Aku ayunkan ke arahnya. Dia terpental, menghantam dinding kamar. Dan dalam sekejap, dia berubah lagi. Jadi Wisa. Tidur, seperti tak terjadi apa pun.”
Abi menghela napas panjang.
“Itu pertama kalinya dalam hidupku melihat manusia berubah menjadi sosok seperti itu.”
Ia menatap tanah, berusaha menata napas yang mulai tak beraturan.
“Aku nggak tahu harus gimana. Setelah menidurkannya lagi, aku ke perpustakaan. Buka puluhan buku. Tak satu pun ada jawaban. Sampai aku lihat satu buku usang, hampir hancur, terjebak debu di atas lemari. Aku baca lembar demi lembar.”
Ia memandang Maga sekarang. Tatapannya penuh beban.
“Ada gambar… sangat mirip dengan bentuk monster Wisa. Dan satu halaman itu—Demi Arlok, Maga—tertulis: ‘Dangerous human beings: cannot be controlled, need to be banished.’”
Maga terdiam. Abi melanjutkan pelan.
“Berarti… dulu pernah ada yang seperti dia. Tapi mereka dimusnahkan. Bukan karena mereka jahat, tapi karena tidak bisa dikendalikan.”
Abi mendesah, matanya tampak gelisah.
“Tapi itu bukan akhir. Ada potongan kalimat lain yang bisa kubaca, meski tintanya nyaris hilang: ‘Other… ability… alive… open portal to every dimension.’”
Ia menatap Maga, serius.
“Kalau Erebus tahu ini, kalau mereka tahu apa yang ada di dalam tubuh Wisa… mereka akan menggunakan dia untuk membuka semua portal, menguasai semua dimensi. Dunia akan hancur.”
Abi tersenyum getir, mengingat pagi setelah malam mengerikan itu.
“Tapi kamu tahu Maga di pagi harinya… Wisa duduk di meja makan, senyum ceria. Bilang terima kasih karena aku sudah menjaganya. Katanya badannya segar. Ramuanku manjur. Dia tidak ingat apa pun, Maga. Sama sekali.”
Diam. Udara terasa berat, seolah seluruh Utopia menahan napas.
Abi menatap Maga dan Wisa.
“Aku takut, Maga. Takut kehilangan, dia yang padahal baru beberapa hari aku kenal, dia yang sudah kuanggap adikku sendiri.Takut kehilangan kalian. Tapi lebih dari itu… aku takut Utopia hancur. Dan itu semua… di pundak pria yang bahkan tidak tahu dia menyimpan kehancuran di dalam tubuhnya.”
Maga mengepalkan rahangnya, amarahnya masih belum surut. Pelukannya pada tubuh lemas Wisa menguat, seolah ia takut kehilangan Wisa lagi.
“Kalau lo tahu semua itu…” suaranya berat, lirih, namun penuh tekanan, “kenapa lo malah jual informasi Wisa ke Erebus? Lo nulis surat itu, Bi! Dengan nama lo sendiri! Lo nyuruh mereka bunuh Wisa! Kenapa?!”
Abi terdiam sejenak. Lalu, perlahan, ia menggeleng pelan.
“Aku… nggak pernah benar-benar berniat membunuhnya,” bisiknya. “Surat itu… bohong. Isinya setengah rekayasa.”
Maga memicingkan mata, tidak percaya.
Abi menghela napas panjang. “Aku tahu kalau Wisa tidak bisa mengontrol kekuatannya, dia akan berbahaya. Bukan hanya bagi kita, tapi juga bagi dirinya sendiri. Dan aku tahu Erebus juga takut—mereka takut pada apa pun yang lebih kuat dari mereka.”
“Aku tulis surat itu untuk menakut-nakuti mereka. Kukatakan bahwa pria bernama Wisa ini memiliki potensi untuk menghancurkan mereka semua. Dan… aku pura-pura mau bantu mereka membuka portal asal mereka mau membunuh Wisa sebelum kekuatannya tumbuh.”
Suara Abi bergetar.
“Waktu itu aku berfikir…. itu jalan paling aman. Jika memang tak ada cara mengontrolnya, mungkin mati lebih baik ketimbang dimanfaatkan Erebus…”
Maga terlihat muak, tapi belum sempat ia menyahut, Abi melanjutkan—lebih cepat, seolah mengejar waktu.
“Tapi kemudian aku dapat penglihatan. Beberapa jam setelah kalian berangkat ke pasar.”
Abi menatap jauh, tatapannya kosong, seperti melihat masa depan yang ia benci.
“Aku lihat Wisa—lebih kuat, dia bisa mengendalikan kekuatannya, hampir mengalahkan Erebus. Tapi dia melawan Erebus sendirian. Tidak ada satu pun dari kita di sisinya. Dan karena itu… dia kalah. Mereka rebut tubuhnya. Mereka pakai dia untuk ritual pembukaan portal semua dimensi. Semua. Bukan cuma Utopia, tapi bumi, Eltherion, dunia dunia lain, dunia yang belum kita kenal. Semuanya. Hanya dalam sekali ritual.”
Abi menunduk, air matanya mulai jatuh.
“Dan dunia-dunia itu… hancur. Semua. Bahkan Utopia, karena kita ninggalin dia sendirian.”
Sunyi. Angin pagi berdesir lembut, kontras dengan kekacauan dalam dada Maga.
“Setelah aku mendapatkan penglihatan itu,” Abi berkata, suaranya berat dan penuh sesal, “aku mau memperbaiki semuanya. Aku mau tulis surat baru, aku mau lindungi Wisa. Tapi—”
Ia mengepalkan tangan.
“Waktu aku menulis surat kedua untuk Erebus itu… Harsya pulang. Dia bilang, dia lupa apa saja bahan yang perlu dibeli. Aku belum sempat sembunyikan surat itu, dan saat aku mau memberitahukan kebenaran ke Harsya—mereka datang.”
Abi menengadah, menatap langit sejenak sebelum menatap Maga.
“Sepuluh orang Erebus dari depan, sepuluh dari halaman belakang, Maga. Kami terkepung. Aku hanya berdua dengan Harsya. Aku bahkan belum sempat melakukan apa apa. Mereka menyerang rumah. Aku bisa tahan beberapa… tapi aku mereka mengancam akan membunuh Harsya jika aku terus melawan. Harsya dibawa. Rumah kita hancur.”
Abi menunduk.
“Aku luka. Aku berniat menyusul kalian ke pasar, ke jalan. Tapi aku tidak menemukan kalian disana, dan kita tidak pernah berpapasan.”
Ia mendongak, menatap Maga—tatapannya penuh luka.
“Aku nggak pernah bermaksud meninggalkan kalian. Aku cuma terlalu terlambat untuk memperbaiki semuanya.”
Maga terdiam.
Tangannya masih memeluk tubuh Wisa yang lemas. Keringat dingin mengalir dari pelipisnya, bukan karena rasa takut, tapi karena campuran rasa marah, kecewa, dan—lebih dari segalanya—rasa hancur.
“Gue percaya sama lo, Bi,” gumam Maga, nyaris tak terdengar. “Gue percaya lo lebih dari siapa pun. Gue tinggalin Wisa di rumah itu karena gue percaya lo bakal jaga dia. Tapi ternyata…”
Mata Maga memerah. “Ternyata surat itu beneran lo yang nulis. Beneran ada niat dari lo… buat ngelempar dia ke tangan Erebus.”
Abi menunduk. “Aku salah… Aku terlalu takut, terlalu cepat ambil keputusan.”
Maga memejamkan matanya, menggigit bibir sampai berdarah. Tapi pelukan pada Wisa tak pernah goyah.
Wisa masih tak sadarkan diri, nafasnya berat, wajahnya pucat. Tapi tetap terlihat damai dalam pelukan Maga, seolah percaya pada satu hal saja—Maga tak akan membiarkannya sendiri.
Abi melangkah satu kali mendekat. “Maga…”
Maga menoleh perlahan, sorot matanya tajam seperti pisau.
Abi berhenti di tempat.
Lalu, dengan suara lirih tapi penuh ketegasan, ia berkata:
“Kali ini, untuk terakhir kalinya… tolong beri aku kesempatan kedua, sebagai permintaan maafku, biarkan aku membantu kalian.”
Ia menarik napas dalam.
“Biarkan aku mengajarkan Wisa cara mengontrol monster itu… mengontrol emosinya.”
Suaranya mulai mengeras, yakin.
“Biarkan aku menebus semuanya—dengan menyelamatkan Harsya… menyelamatkan Utopia. Beserta semua dimensi lainnya.”
Diam.
Lalu, perlahan, Maga menatapnya, masih tak bicara. Abi tak tahu apakah tatapan itu adalah pengampunan, penolakan, atau hanya kelelahan semata.
Tapi akhirnya, Maga mengeratkan sedikit tubuh Wisa dalam pelukannya—lalu menoleh pada Abi, dengan nada datar namun penuh beban:
“Kalau lo bohong lagi… gue bakal pastiin lo nggak akan pernah sempat minta maaf kedua kalinya.”
Abi mengangguk pelan. Matanya berkaca.
Dan untuk pertama kalinya sejak semua hancur, mereka bertiga—Abi, Maga, dan Wisa yang masih belum sadar—berada di sisi yang sama lagi. Di tengah reruntuhan kepercayaan, dan di bawah langit yang perlahan menjadi kelabu, mereka berdiri di ambang babak baru: melawan Erebus… dan melawan ketakutan dalam diri sendiri.
Pagi keesokan harinya…
Hangatnya sinar matahari menembus celah-celah jendela kayu yang sudah tua, mengguratkan pola cahaya di atas seprai lusuh.
Wisa menggeliat pelan.
Keningnya terasa dingin… ada sesuatu menyentuhnya. Tangan?
Begitu matanya terbuka, yang pertama kali ia lihat adalah wajah tenang itu—Abi, duduk di sisi ranjang. Tangan kirinya masih menempel di dahi Wisa, dan bibirnya melengkungkan senyum tipis yang… familiar tapi asing disaat bersamaan. Hangat, tapi menyimpan beban yang tidak bisa Wisa baca.
Tubuh Wisa langsung menegang.
Matanya melirik cepat ke sekeliling. Ruangan asing, dinding batu, aroma dupa samar. Tapi bukan itu yang membuat nafasnya tercekat.
Maga tidak ada.
“Maga…,” gumamnya panik. Ia langsung berusaha bangkit, meski tubuhnya masih terasa berat dan gemetar. “Dimana Maga? Apa yang lo lakuin ke dia? Lo apain Maga?!”
Abi menurunkan tangannya dari kening Wisa, tapi tidak menjauh. “Tenang, Wisa. Dia baik-baik saja. Dia cuma lagi ambil air di mata air belakang. Dia minta aku jagain kamu.”
“Kenapa gue harus percaya sama lo?” desis Wisa. Nafasnya berat. “Lo… lo yang ngirim Erebus buat bunuh gue, kan?”
Abi terdiam sejenak. Tatapannya menurun, lalu kembali menatap mata Wisa, kali ini dengan luka di balik ketenangannya.
“Aku tahu aku salah,” ucapnya pelan. “Dan mungkin kamu tidak akan pernah bisa memaafkan kesalahanku… tapi biar aku menjelaskan semuanya.”
Wisa menatapnya tajam, tapi tidak bicara. Abi menarik napas panjang. “Kenapa gue harus percaya?”
Abi tidak langsung menjawab. Ia menarik nafas pelan, lalu menatap Wisa dalam-dalam.
“Aku tahu kamu tidak akan langsung percaya… tapi tadi malam saat kamu pingsan setelah berubah menjadi sosok itu…. Aku sudah menjelaskannya ke Maga. Dan sekarang, waktunya aku jujur ke kamu juga Wisa.”
Abi pun mulai menceritakan apa yang terjadi malam itu, saat pertama kali ia melihat Wisa berubah menjadi monster. Ia tidak menyebutkan setiap detail, tapi cukup bagi Wisa untuk memahami—tentang perubahan, tentang buku tua yang memperingatkan soal makhluk seperti dirinya, tentang ketakutan Abi, dan alasan di balik pengkhianatannya.
“Disaat itu, aku sepenuhnya percaya jika kamu adalah pembawa kehancuran, Wisa. Aku berfikir, lebih baik kamu mati sebelum kamu jatuh ke tangan Erebus.”
Abi menunduk sebentar.
“Tapi setelah penglihatan disaat kalian pergi…. Semuanya berubah, aku salah. Dan sekarang, kalau kamu belum mau memaafkan kesalahan yang ku buat itu tidak apa apa. Tapi tolong, izinkan aku untuk membantu kalian, membantu kamu, untuk yang terakhir kalinya.”
Wisa masih terduduk di ranjang, selimut melorot sampai ke pinggang. Tubuhnya masih terasa berat, tapi pikirannya jauh lebih berat lagi. Semua yang baru didengarnya dari Abi masih berputar-putar di dalam kepalanya. Kepercayaan. Pengkhianatan. Harapan. Takdir.
Suara dan kata kata Abi masih menggema, berlarian di kepalanya.
Wisa menunduk, kedua tangannya saling menggenggam erat di atas pangkuannya. Ia tidak tahu harus merasa apa. Tapi sebelum ia sempat menjawab, pintu terbuka perlahan.
Maga muncul dengan nafas sedikit terengah dan sebaskom air di tangan.
“Akhirnya kamu bangun juga,” katanya, lega sekaligus cemas, lalu menatap ke arah Abi.
Abi mengangguk pelan. “Aku tahu ini sangat banyak untuk kamu cerna, Wisa. Apalagi kamu baru bangun dari pingsan kamu. Aku tidak akan membuat kamu menjawab sekarang.” Ia berjalan mendekat, meletakkan sesuatu di meja. “Kalau kamu sudah menemukan jawabannya, kamu bisa temui aku di sebelah air terjun. Aku akan bermeditasi di sana.”
Ia memberi tatapan terakhir pada keduanya, lalu melangkah keluar—memberi ruang yang sunyi dan pribadi.
Begitu pintu tertutup, keheningan turun. Maga meletakkan baskom air ke meja, lalu menatap Wisa seperti seseorang yang baru saja kehilangan sesuatu sangat berharga—dan baru menyadari betapa takutnya dia kehilangannya.
Tanpa berkata apa-apa, Maga mendekat. Duduk tepat di sebelah Wisa.
Wisa sempat mau bertanya, tapi kata-katanya tertahan saat tangan Maga menyentuh pipinya dengan sangat lembut. Pandangan mata mereka bertemu.
Dan tiba-tiba, bibir Maga menyentuh keningnya.
Lalu mata kirinya.
Mata kanannya.
Pangkal hidungnya yang mancung.
Tahi lalat kecil di bawah mata kanan Wisa yang sering kali Maga amati diam-diam selama ini.
Pipinya.
Dan akhirnya… bibirnya.
Lama, dalam, tapi tetap lembut. Seakan seluruh ketakutan dan kekhawatiran Maga ia salurkan lewat ciuman itu. Wisa merasa seperti dirinya tidak hanya dicintai—tapi dirindukan, dikhawatirkan, dan diselamatkan. Elusan lembut Maga berikan di pipi Wisa.
Maga menarik diri perlahan, menempelkan dahinya ke dahi Wisa.
Wisa tak bisa berkata-kata. Matanya mulai berkaca-kaca.
“Aku kira aku kehilangan kamu…” bisik Maga dengan suara nyaris patah. “Aku kira aku gak akan sempat bilang semua ini. Kalau kamu… berarti segalanya buat aku. Aku sayang kamu Wisa.”
Wisa menarik nafas dalam-dalam, tangannya naik dan menggenggam tangan Maga yang masih menyentuh wajahnya.
“Aku di sini, Maga… Aku gak pergi ke mana-mana. Dan ya, aku sayang kamu juga.”
Untuk sekarang.
Untuk pagi ini.
Untuk momen ini.
Mereka hanya saling menatap, membiarkan dunia luar—bahkan beban keputusan yang besar itu—sejenak menghilang.
****
Air terjun itu tersembunyi di balik rimbunnya pepohonan, suara gemuruh air memecah kesunyian pagi. Cahaya matahari menembus celah-celah dedaunan, menciptakan pantulan berkilau di permukaan air yang jernih. Di atas sebuah batu datar, duduklah Abi—bersila, matanya terpejam, nafasnya tenang.
Wisa melangkah perlahan, membiarkan ranting-ranting basah dan tanah lembab membungkam langkah kakinya. Saat ia cukup dekat, Abi membuka matanya—seakan sudah tahu Wisa akan datang.
Mereka saling diam untuk beberapa detik.
Lalu Wisa berkata, suaranya pelan namun mantap.
“Aku udah buat keputusan.”
Abi bangkit berdiri, menatapnya. Wajahnya tenang, tapi sorot matanya menunjukkan rasa bersalah yang masih tinggal.
“Aku maafin kamu kak Abi,” lanjut Wisa. “Tapi dengan syarat.”
Abi mengangguk perlahan. “Apa pun.”
“Kamu harus bantu aku dan Maga selamatin Harsya. Dan apa pun yang terjadi nanti—apa pun penglihatan yang kamu dapet lagi… kamu gak boleh berubah pikiran.” Wisa menatap langsung ke mata Abi, suaranya bergetar. “Jangan ada alasan baru. Jangan ada ‘tapi.’ Sekarang kita selamatin Harsya. Sekarang kita lindungi Utopia.”
Abi mengangguk sekali lagi, lebih mantap.
“Aku janji.”
Tapi Wisa belum selesai.
“Aku punya satu permintaan lagi.”
Abi menunggu.
“Kalau nanti… di tengah jalan, harus ada yang dikorbankan…” Wisa menarik napas dalam, mencoba menahan air mata yang mulai terbentuk. “Selamatkan Maga duluan. Apa pun yang terjadi diantara kita semua, tolong lindungi dia. Kalau harus pilih, pilih dia.”
Abi terdiam, jelas kaget dengan permintaan itu. Tapi sorot mata Wisa tidak gentar—ia tahu apa yang ia minta. Ia tahu risikonya.
Abi perlahan menunduk, satu tangan mengepal di samping tubuhnya.
“Permintaan itu… berat, Wisa.”
“Aku tau,” jawab Wisa. “Tapi itu satu-satunya permintaan aku. Aku gak tahu apa yang bakal terjadi nanti… Tapi kalau aku harus kehilangan segalanya—asal bukan dia. Kalaupun aku harus kehilangan diriku sendiri, asal bukan Maga. Kalau nanti aku kehilangan kontrol dan kamu harus bunuh aku, aku persilahkan kak Abi, lebih baik aku mati ditangan kamu daripada di tangan Erebus. ”
Abi mengangkat wajahnya kembali. Kali ini, ia tidak hanya melihat seorang anak yang terlempar ke dunia asing. Ia melihat seseorang yang siap bertarung. Siap melindungi. Dan siap dikorbankan.
“Baik,” jawab Abi akhirnya, pelan tapi tegas. “Kalau kamu sudah berpendirian seteguh itu, akan jaga dia… Sebisa aku. Sedalam yang kamu minta. Besok kita mulai latihan pertama kamu. Semakin cepat kamu bisa mengontrol monster itu semakin baik agar kita bisa cepat selamatkan Harsya.”
Wisa mengangguk. Ia tidak mengatakan apa-apa lagi. Tak perlu. Ia hanya membiarkan suara air terjun menjadi saksi diam atas keputusan yang baru saja ia buat—dan permintaan yang hanya akan ia dan Abi yang tahu.
Di tempat lain, Maga sedang mencari Wisa, tanpa tahu bahwa orang yang paling ia cintai… baru saja memilih siapa yang harus selamat jika semuanya hancur.
Keesokan harinya, udara di sekitar air terjun masih dipenuhi embun tipis. Riak sungai kecil memantulkan cahaya pagi yang redup, menciptakan bayangan berkilau di wajah Wisa yang sedang berdiri di tengah lingkaran batu alami. Nafasnya berat. Tubuhnya terasa panas dari dalam—seperti ada sesuatu yang bergerak tak sabar, berdesak di balik kulitnya, menuntut keluar.
Abi berdiri tak jauh darinya, kedua tangan disilangkan di dada. Ekspresinya dingin, tapi matanya waspada. Sementara Maga duduk di batu tak jauh dari sana, tak berkedip memandangi Wisa.
“Fokus,” suara Abi terdengar tajam. “Kendalikan pusat energimu. Jangan biarkan dia mengambil alih.”
Wisa menggertakkan gigi. Tubuhnya mulai bergetar, matanya berubah sedikit keemasan, dan kuku jarinya tumbuh lebih panjang. Suara rendah dari tenggorokannya terdengar seperti erangan hewan.
“Aku… aku gak bisa… kak….!” Wisa jatuh berlutut, tangannya mencakar tanah. Urat-urat di lengannya menegang, dan sejenak, ekor panjang hitam mulai muncul dari punggungnya.
Maga berdiri dengan cemas, hendak mendekat, tapi Abi mengangkat tangan, menahannya. “Biarkan dia berjuang sendiri dulu.”
Mata Maga menyipit, rahangnya mengeras. Tapi dia tidak bergerak.
“Rasakan kekuatannya,” Abi kembali bersuara, kini lebih keras. “Tapi jangan tunduk. Kau harus jadi tuannya, bukan budaknya!”
Tubuh Wisa kembali bergetar. Sebuah raungan keluar dari mulutnya, dan dalam sekejap, sebagian wajahnya berubah: tulangnya menonjol, matanya merah menyala, dan giginya menjadi tajam.
Abi melangkah maju dan menghentakkan kaki ke tanah. Akar-akar pohon menjulur dari tanah, membungkus kaki Wisa, menahan gerakannya. “Fokus, Wisa!” serunya. “Kalau kamu gak bisa mengendalikannya sekarang, kamu akan membunuh siapa pun yang kamu sayangi!”
Tiba-tiba, suara Maga terdengar, penuh kemarahan. “Cukup, Abi!” teriaknya. “Kamu keterlaluan! Wisa bukan alat—”
“Diam, Maga!” bentak Abi. Untuk pertama kalinya suaranya meledak. “Kamu terlalu sibuk memikirkan satu orang sampai lupa tanggung jawabmu sebagai calon Key Bearer!”
Maga terdiam, matanya membulat.
Abi melanjutkan, suaranya bergetar menahan emosi. “Kalau kamu memang tak bisa melepaskan perasaanmu, bagaimana kamu bisa menyelamatkan dunia ini? Key Bearer bukan penjaga satu jiwa. Dia penjaga semua makhluk, semua dunia.”
Sejenak, hanya suara air terjun dan geraman dari Wisa yang sudah berubah menjadi monster menjadi satu satunya suara yang terdengar.
“Aku juga pernah jatuh cinta, Maga,” kata Abi dengan suara lebih pelan. Tapi lebih tajam. “Alden… aku korbankan dia. Bukan karena aku tak cinta. Tapi karena aku harus memilih: dia, atau ribuan nyawa lain yang bisa aku selamatkan. Tanggung jawab kita sebagai Key Bearer itu besar. Bukan hanya tentang diri sendiri, bukan hanya memikirkan keinginan diri sendiri,”
Kata-katanya menggantung di udara. Maga menunduk, rahangnya mengencang, tangannya mengepal. Wisa, yang kini mulai berubah kembali ke wujud manusia, terduduk lemas di tanah, tubuhnya gemetar karena kelelahan, tapi matanya terbuka. Jauh lebih baik daripada terakhir kali dia berubah.
Abi menatap keduanya dengan berat.
“Ini bukan tentang siapa yang paling kau sayangi, ini tentang berapa banyak yang bisa kau selamatkan.”
Suasana hening masih menggantung setelah ledakan emosi Abi. Wisa masih terduduk, tubuhnya gemetar, dan peluh menetes dari keningnya. Maga berdiri di tempat, menatap tanah tanpa kata.
Abi menghela nafas panjang, lalu melangkah mendekat. “Latihan cukup sampai sini.”
Maga mengangkat kepala dengan cepat. “Apa?”
“Kalian berdua butuh makan. Dan istirahat. Siangnya kita lanjut lagi,” kata Abi tanpa menatap keduanya langsung. “Kalau terus dipaksa dalam kondisi seperti ini, bukan kemajuan yang kita dapat, tapi kehancuran.”
Wisa menunduk pelan. Tubuhnya masih terasa lemas, tapi di balik kelelahan itu, ada sesuatu yang tumbuh pelan: kendali. Kesadaran bahwa dia bisa melawan, meski untuk itu ia harus jatuh berkali-kali.
Maga lalu berjalan mendekati Wisa, membantu Wisa berdiri, lengannya melingkari bahu Wisa. Tapi sebelum mereka melangkah pergi, Abi bersuara lagi.
“Maga.”
Maga menoleh, mata mereka bertemu.
“Mulai siang ini, kamu juga ikut latihan.”
Maga mengernyit. “Maksud kamu apa bi?”
“Bukan cuma Wisa yang harus siap. Kamu juga,” jawab Abi datar. “Tubuhmu terlalu lembek untuk calon Key Bearer.”
“Hey—”
“Kalau perang terjadi, kamu gak cuma bisa berdiri di belakang, bergantung dengan kamu yang tidak bisa luka dan berharap semuanya baik-baik saja. Kamu harus siap bertarung. Melindungi. Bukan cuma Wisa, tapi semuanya.”
Maga hendak membantah, tapi tak jadi. Tatapan Abi terlalu serius, terlalu tajam. Ada sesuatu di sana yang tak bisa dia bantah—kebenaran.
Mereka lalu kembali ke tempat tinggal kecil di bawah tebing, di mana api unggun kecil masih menyisakan bara. Saat makan, tak ada banyak percakapan. Wisa hanya sesekali mencuri pandang ke Abi, yang terlihat sangat fokus dan sibuk mengiris buah liar. Sementara Maga tampak murung—seperti seseorang yang dipaksa mencerna dua hal sekaligus: rasa bersalah, dan tanggung jawab.
***
Siang hari, latihan dimulai lagi. Tapi suasananya berbeda.
Abi tampak lebih tenang, tidak lagi meledak-ledak. Dia membagi waktunya antara Wisa dan Maga. Untuk Wisa, ia membimbing teknik pengaturan nafas, membangun kesadaran terhadap emosi yang memicu perubahan. Abi bahkan mengajarkan semacam meditasi berbasis elemen air—bagaimana mengalirkan amarah tanpa membiarkannya meledak.
“Setiap perubahan itu bukan sekadar kekuatan,” kata Abi sambil membentuk lingkaran dari air sungai. “Tapi cermin dari luka. Kalau kamu bisa menyembuhkan lukanya, kamu akan tahu bagaimana mengendalikannya.”
Wisa menatap lingkaran air itu, lalu menutup matanya. Perlahan, dia mengingat: semua kesakitan. Semua rasa kehilangan. Semua rasa tak tahu arah. Tapi juga… semua harapan yang ia temukan di mata Maga.
Untuk Maga, latihan dimulai dari dasar. Gerakan tangan. Bertarung tanpa senjata— karena Maga selalu bergantung dengan senjata senjatanya. Menjatuhkan lawan dengan keseimbangan. Tubuhnya kelelahan, kaosnya basah oleh keringat. Tapi Abi tak mengendurkan tempo.
“Lebih cepat lagi!” seru Abi saat Maga gagal menghindar lemparan tongkat kayu. “Kamu tidak punya waktu untuk merasa lelah!”
Maga menggeram pelan. “Lo ini gak ada kasihan ya?!”
Abi menatapnya tajam. “Kamu pikir lawanmu di medan perang akan kasihan padamu? Kenapa kamu bisa jadi selemah ini Maga?! Terakhir kita latihan kamu sudah berkembang pesat! Tapi kenapa sekarang yang aku lihat malah kemunduran?”
Maga mengatupkan rahangnya, lalu kembali berdiri, melawan rasa perih di bahunya. Dan dalam sekejap, mereka saling serang dengan kayu, keringat membanjiri pelipis mereka, suara benturan memenuhi udara.
Saat senja tiba, mereka duduk bersisian di tepi sungai. Abi berdiri memandangi langit, tangannya bersedekap.
“Besok kita lanjut lagi,” katanya pelan. “Semakin kuat kalian, maka semakin banyak yang bisa kita selamatkan.”
Wisa hanya menatap tangan maga yang diam-diam menggenggam jemarinya di atas rerumputan, hangat dan kokoh.
Dan untuk pertama kalinya, dalam jeda keheningan itu, Wisa mulai berpikir… mungkin, hanya mungkin… dirinya tak lagi sendirian menghadapi monster dalam dirinya.
Malam hari datang begitu cepat, angin malam menyusup pelan di sela pepohonan. Air sungai mengalir tenang, memantulkan cahaya bulan yang redup. Di tepiannya, Wisa duduk sendirian, menggulirkan batu kecil ke air, satu per satu, dalam diam. Api unggun kecil di kejauhan tinggal bara.
Langkah pelan terdengar dari balik semak. Abi mendekat, awalnya tanpa bicara, hanya berdiri sebentar sebelum duduk di samping Wisa.
“Kamu belum tidur?” tanya Abi, matanya masih memandangi permukaan air yang beriak.
“Belum bisa,” jawab Wisa lirih. “Masih banyak yang muter di kepala.”
Abi tidak langsung menjawab. Mereka berdua larut dalam keheningan sejenak, hanya suara alam yang menemani.
“Aku takut, Kak.”
Abi mengangguk perlahan. “Kamu pikir aku tidak takut waktu pertama kali melihatmu berubah?”
Wisa menunduk, suara seraknya mengambang. “Aku tau. Aku bisa rasain kok…. kamu jijik waktu itu.”
“Bukan jijik,” potong Abi pelan. “Kaget. Dan… ya, takut. Tapi sekarang aku tahu, rasa takut itu bukan karena kamu. Tapi karena aku tidak tahu bagaimana cara melindungimu—atau menghentikanmu—kalau kamu kehilangan kendali.”
Wisa menoleh sedikit. “Jadi kamu pikir aku masih bisa kehilangan kendali?”
Abi menatapnya dalam. “Kalau kamu menyerah pada rasa takutmu sendiri, iya. Tapi kalau kamu tetap berdiri, walau gemetar sekalipun… itu sudah lebih dari cukup. Karena yang bisa mengendalikan monster yang ada di dalam dirimu ya cuma kamu. Bukan aku, bukan Maga.”
Diam-diam, kalimat itu mengendap di dada Wisa.
“Aku bakalan terus latihan. Demi Maga. Demi semuanya.”
Abi menghela napas kecil. “Dan demi dirimu sendiri.”
Beberapa detik kemudian, suara dedaunan berisik dari arah tempat mereka tinggal. Maga keluar dari kegelapan, membawa dua botol air. Dia sempat berhenti saat melihat Abi dan Wisa duduk berdua.
“Maaf ganggu,” kata Maga datar, lalu mendekat, meletakkan satu botol di dekat Wisa.
Abi bangkit berdiri perlahan. “Kalian minum dulu. Istirahat. Besok pagi kita lanjut latihan.”
Wisa menatapnya. “Kak Abi.”
Abi menoleh.
“Terima kasih… dan… aku janji akan mencoba lebih kuat.”
Abi hanya mengangguk tenang, lalu berjalan menjauh. Tapi dia tidak kembali ke dalam rumah. Api unggun yang terletak tepat di depan rumah hampir padam, dan langit makin gelap. Abi duduk di depan nyala api yang hampir padam, diam menatap bara.
Beberapa saat kemudian, Maga menghampiri.
Maga duduk perlahan di sisi lain api unggun, tubuhnya masih dibalut sisa kekesalan dari latihan tadi.
“Dia mulai percaya lagi ke lo bi,” gumamnya sambil menatap nyala api. “Wisa.”
Abi tetap diam, menunggu kalimat itu selesai.
Maga melanjutkan, suaranya sedikit lebih keras. “Tapi lo tetap terlalu keras ke Wisa. Bahkan lebih dari lo ngajarin gue.”
Abi menghela napas, pelan tapi dalam. “Kamu pikir aku berlebihan?”
“Gue tau dia harus kuat,” balas Maga, menahan emosi. “Tapi dia juga masih belajar. Dia baru loh bi sampe di Utopia, Masih nyoba adaptasi sama dunia baru ini, masih nyoba buat berdiri pake kakinya sendiri. Dia sendirian disini bi, jauh dari keluarganya. Dan yang penting Wisa bukan alat perang.”
Abi akhirnya menatap Maga. “Dia juga bukan anak kecil lagi.”
“Tapi kalau lo dorong dia terus kayak gitu, dia bisa jatuh, Abi. Gue tau dia. Dia bakalan terus nyoba, bahkan sampai hancur. Dan lo—lo ngedorong dia ke sana. Ke kehancuran diri dia.”
Abi terdiam. Api unggun memantulkan cahaya redup ke matanya.
“Dulu…” suaranya pecah sedikit, “aku juga pernah merasakan apa yang kamu rasakan sekarang. Aku pernah ingin melindungi seseorang lebih dari apa pun. Lebih dari diriku sendiri. Namanya Alden.”
Maga menoleh cepat. Baru kali ini dia mendengar nama itu dari mulut Abi.
“Dia bukan pejuang. Dia seorang healer— seseorang yang mempunyai kekuatan menyembuhkan. Tapi dia malah memilih untuk berdiri disampingku, bersamaku… selama perang besar. Aku kira… asal dia ada disisiku, dia akan aman. Tapi aku salah.”
“Aku terlalu percaya diri bahwa kekuatanku cukup untuk melindungi kami berdua. Tapi aku salah. Justru karena kekuatanku, karena rasa cintaku padanya, dia menjadi target.”
Suara Abi terdengar berat, seperti menahan sesuatu yang sudah lama dipendam.
“Pada akhirnya, aku kehilangan dia. Karena aku ragu. Aku ingin selamatkan dia dan semua orang sekaligus. Tapi… aku tidak bisa. Dan karena aku tidak bisa memilih, aku kehilangan segalanya.”
Abi mengepalkan tangan. “Dia mati di hadapanku. Karena aku tidak bisa memilih. Aku ingin menyelamatkan dia, dan pada saat bersamaan aku ingin menyelamatkan semua orang. Tapi pada akhirnya… aku kehilangan segalanya.”
Maga menunduk, bibirnya mengatup rapat. Kata-kata Abi menyentuh sesuatu yang sangat familiar di dalam dirinya.
“Dan sekarang lo takut hal yang sama terjadi lagi, dan kejadian ke gue?” gumam Maga, lebih pada dirinya sendiri.
Abi mengangguk, pelan. “Sebagai calon Key Bearer, kamu harus mampu memilih Maga. Bahkan jika itu berarti kehilangan orang yang paling kamu cintai. Wisa. Dan kamu akan dihadapkan pada pilihan yang sama. Sebagai calon Key Bearer… kamu harus bisa memilih. Harus bisa mengorbankan… kalau itu yang dibutuhkan.”
Maga mengepalkan tangannya. “Lo nggak tau seberapa penting Wisa buat gue bi.”
Abi menatapnya, dalam dan penuh luka yang lama mengering. “Aku tahu, Maga. Justru karena aku tahu, aku bilang ini sekarang. Kalau kamu cuma melihat Wisa, kamu akan buta pada dunia yang lebih luas. Kadang… menyelamatkan satu orang, berarti membiarkan yang lain jatuh.”
Maga tak menjawab. Tapi matanya mulai memerah.
Abi melunakkan suaranya. “Dan aku bukan hanya menasehati sebagai Key Bearer ke calon penerusnya. Aku menasehatimu karena pernah ada di posisimu. Tapi sekarang… aku harus pastikan kamu nggak ulangi kesalahanku.”
Hening sesaat. Hanya bunyi api dan serangga malam.
Abi berdiri, menepuk debu di pakaiannya. “Besok akan jadi hari terakhir kita latihan….. kita semua harus sudah siap lusa. Bukan cuma Wisa yang harus siap. Kamu juga. Aku juga.”
Maga mendongak.
“Kalau perang benar-benar terjadi,” lanjut Abi, “aku tidak bisa lagi pilih siapa yang aku lindungi. Kalian harus bisa melindungi diri kalian sendiri. Dan kalau kalian ingin melindungi satu sama lain… kalian harus kuat.”
Abi tak menunggu jawaban. Ia berbalik dan berjalan pergi, membiarkan malam menyelimuti Maga yang kini sendiri.
Maga memandangi api yang mulai meredup. Kata-kata Abi bergema di dadanya, berat dan menyesakkan. Tapi ia tahu… sebagian dari dirinya memang perlu mendengar itu.
Pagi menyingsing tanpa banyak suara. Kabut tipis menggantung di antara pepohonan, dan embun masih menempel di ujung-ujung daun saat latihan dimulai kembali. Abi berdiri diatas batu di tengah tanah lapang kecil itu, menatap kedua anak muda di hadapannya—Maga dan Wisa—dengan mata yang tidak ada menyimpan kemarahan, hanya keseriusan.
“Ini akan menjadi sesi latihan terakhir kita. Kita sudah kehilangan cukup banyak waktu. Tujuan kita bukan sekadar memperkuat Wisa, tapi memastikan ia mampu mengendalikan dirinya—mengenali siapa yang patut dilawan, dan siapa yang tidak. Perlu diingat, kita di sini bukan sedang mempersiapkan perang,” katanya tegas, mengawali latihan hari itu.
“Tapi kita tetap harus siap menghadapi kemungkinan terburuk. Kita akan menyusup ke markas Erebus, dan menyelamatkan Harsya. Tapi jika ada yang menghalangi, kita harus bisa bertahan. Kita harus bisa pulang bersama.”
Wisa dan Maga mengangguk. Tak ada satupun dari mereka ingin pertempuran pecah, tapi mereka tahu dunia tak selalu mengikuti keinginan.
Latihan berlangsung sepanjang hari. Abi membagi sesi menjadi dua bagian. Pagi untuk penguatan fisik dan refleks—Maga belajar bertarung tanpa senjata, sementara Wisa dilatih untuk menyalurkan kekuatan monster dalam dirinya ke gerakan yang terkontrol.
Abi berdiri di samping Wisa, suara tenang namun tetap tegas. “Tarik nafas dalam. Rasakan amarahmu, tapi jangan ditelan. Arahkan dia ke dalam gerakan. Biarkan ia jadi aliran, bukan ledakan.”
Wisa mengepalkan tangan, dan perlahan, pola hitam yang biasa muncul di kulitnya saat berubah mulai merambat dari leher ke lengan. Tapi wajahnya tak lagi diliputi ketakutan. Dia mengaturnya—menahannya. Dan untuk pertama kalinya, dia mampu memanggil sebagian kekuatannya tanpa kehilangan kesadaran.
Mata Abi menyipit, mengamati dengan seksama. “Bagus. Sekarang lepas perlahan… dan tarik kembali.”
Wisa menghembuskan nafas, dan pola hitam itu surut kembali masuk kedalam kulitnya, seperti gelombang pasang yang memilih mundur, lalu hilang. Dia menatap tangannya, lalu menoleh ke Abi dengan senyum kecil.
“Aku bisa,” bisiknya, nyaris tak percaya.
Sore harinya, Wisa berdiri di pojok dekat air terjun latihan sendiri sedangkan Maga dan Abi melakukan duel di tengah lapangan kecil dekat hulu sungai tak begitu jauh dari tempat Wisa, agar mereka tetap dapat mengawasi Wisa.
Maga yang kini berguling di tanah, keringat menetes dari dagunya, bangkit dengan nafas berat. “Gue gak nyangka latihan bisa sesakit ini. Biasanya gue nggak pernah sampe segila ini ngelawan lo sama Harsya pas kita latihan dirumah.”
Abi menyeringai tipis dan menyilangkan tangan, suaranya tenang namun tegas. “Karena kali ini yang dipertaruhkan bukan lagi sekadar menang atau kalah. Kita sedang melatih diri agar bisa bertindak tepat… saat waktu dan keadaan tidak berpihak.”
“Tapi tujuan kita nyelametin Harsya, bukan ngehabisin siapa pun.”
“Benar,” sahut Abi, nada suaranya menjadi lebih lembut. “Tapi bahkan dalam misi penyelamatan, kita harus siap menghadapi penjaga, jebakan, bahkan penghianatan.”
Mata mereka bertiga bertemu. Tak ada ketakutan di dalamnya. Hanya tekad.
Wisa berdiri tegak, tubuhnya tegap, nafasnya teratur. Ketika ia mengulurkan tangan, bulu bulu berwarna gelap muncul sebentar, lalu lenyap kembali. Dia tersenyum kecil. “Kalau aku bisa mengendalikan ini… aku bisa masuk ke markas Erebus tanpa kehilangan kendali.”
Abi menatapnya, untuk pertama kalinya dengan ketulusan yang tak disembunyikan. “Kamu bukan ancaman, Wisa. Kamu senjata yang bisa memilih untuk tidak melukai siapa pun.”
Maga mendekat, meletakkan tangan di bahu Wisa. “Kita bakalan selametin Harsya… terus kita pulang bareng, ya.”
Abi mengangguk. “Malam ini kita istirahat. Besok… kita susun rencana. Kita tidak datang untuk perang. Kita datang untuk membawa pulang salah satu keluarga kita.”
Langit mulai berwarna jingga, dan di tengah udara yang perlahan mendingin, ada rasa hangat yang merayap perlahan di antara mereka—rasa percaya bahwa mereka bisa melakukannya.
Bersama.
Malam belum sepenuhnya menyelimuti langit saat mereka kembali duduk mengelilingi api unggun. Kali ini bukan untuk beristirahat, atau berbincang santai. Tapi, untuk membicarakan satu hal: penyusupan ke markas Erebus.
Abi menekuk lutut, tangannya menggambar bentuk kasar di tanah berdebu. “Ini tembok luar kota mereka,” ujarnya, membuat garis melingkar. “Kota ini bernama Xenóktonos—‘pembunuh orang asing’. Nama yang bahkan dibenci oleh sebagian besar penduduk Utopia.”
Wisa mengerutkan kening. “Berarti orang-orang Erebus semuanya tinggal di situ?”
“Tidak semuanya,” jawab Abi, suaranya rendah. “Sebagian hanya menjadikan tempat itu markas, pusat kendali ideologi mereka. Tapi semua yang tinggal di dalamnya adalah penduduk asli Utopia. Tidak ada pendatang. Tapi, tidak semua penduduk asli mendukung Erebus. Yang menolak, mereka diusir atau melarikan diri.”
Maga duduk bersila di sisi lain, memandangi gambar itu. “Gimana kita bisa masuk? Temboknya tinggi, dijaga di atas dan bawah. Dan setiap Erebus pake jubah kulit serigala, yang—jelas aja—cuma mereka yang punya.”
Abi mengangguk. “Karena itu kita butuh satu langkah sebelum menyusup: kita harus mencuri jubah itu dari salah satu dari mereka. Kalau kita beruntung, dan mayat dua orang Erebus yang dibunuh Wisa masih ada disana, kita hanya butuh satu jubah lagi.”
“Berarti kita harus cari Erebus yang keliatan di luar kota,” timpal Wisa. “Yang sendirian. Kita lumpuhin dia diam-diam, ambil jubahnya, lalu menyamar.”
Abi menatap Wisa, mengangguk. “Tepat. Kita butuh satu jubah lagi saja, semoga tidak susah. Kita akan bergerak cepat dan senyap. Tapi hanya butuh satu kesalahan… dan mereka bisa mencium ada yang aneh.”
Maga menyandarkan punggung ke batu. “Kalo kita berhasil dapetin jubah… kita masuk ke kota sebagai salah satu dari mereka. Tapi… abis itu?”
“Pasar,” jawab Abi, cepat. “Tempat paling ramai. Di sana informasi beredar seperti angin. Kita dengar, kita cari gosip. Mungkin… ada berita soal tahanan, atau penculikan.”
Wisa menarik napas dalam-dalam. “Kalau Harsya ada di sana, kita pasti dengar sesuatu.”
Angin malam berhembus pelan, menggoyangkan pucuk dedaunan. Api unggun berderak pelan, menciptakan bayangan-bayangan yang menari di wajah mereka.
Abi memandang ke langit yang mulai menghitam. “Kita berangkat sebelum fajar. Kita butuh waktu untuk mengikuti jejak Erebus yang berkeliaran di luar tembok. Begitu kita dapat jubah, kita tidak boleh buang waktu.”
Maga menoleh ke Wisa, lalu kembali ke Abi. “Kita masuk. Kita cari dia. Dan kita keluar. Tanpa buat masalah.”
Abi menjawab pelan. “Kalau bisa, ya. Tapi bersiaplah untuk kemungkinan terburuk.”
Tak ada yang bicara setelah itu. Tapi ketiganya tahu: mulai malam ini, segalanya akan bergerak cepat. Dan keputusan yang mereka buat akan menentukan apakah mereka bisa membawa pulang Harsya—atau tidak kembali sama sekali.
Hari sudah bener benar kelam saat Abi dan Maga meninggalkan tempat mereka menginap dalam diam. Wisa telah tertidur, tubuhnya kelelahan setelah latihan panjang. Maga memastikan selimutnya terpasang rapi sebelum menyusul Abi yang sudah lebih dulu menuruni lereng bukit, menuju tempat mayat para Erebus terakhir mereka lihat.
Langkah mereka sunyi, hanya sesekali terdengar suara ranting patah di bawah kaki.
Tak butuh waktu lama sampai mereka tiba di sana—dua tubuh kaku bersandar di akar pohon besar, sebagian tubuhnya tertutup daun dan ranting yang mereka tumpuk beberapa hari lalu. Bau tanah dan darah sudah menyatu, samar namun tetap menusuk.
Maga berjongkok, menarik napas dalam sebelum mulai melepaskan jubah dari salah satu tubuh. “Gue kira mereka bakal balik, loh,” gumamnya pelan. “Temannya mati di sini. Tapi gak ada satupun yang dateng nyari.”
Abi menatap tubuh yang lain dengan ekspresi datar. “Mereka lebih peduli sama barisannya daripada orang-orangnya. Kalau ada yang jatuh, mereka anggap itu kelemahan sendiri. Lebih baik dilupakan.”
Maga mencibir. “Kayak mayat ini gak ada artinya. Padahal bisa aja sebelum ketelu gue dan Wisa mereka makan bareng, bercanda bereng bareng.”
Abi menunduk dan mengambil jubah kedua. “Kalau aku yang mati, aku gak bakal jadi tumpukan yang ditinggal begini, kan?”
Maga menoleh cepat. “Enggak. Kita saling bawa pulang. Apa pun yang terjadi. Dan nggak ada yang bakalan mati bi.”
Abi hanya mengangguk. Sepi sejenak menyelimuti mereka, hanya suara daun yang bergoyang tertiup angin.
Mereka berdiri, masing-masing membawa satu jubah serigala. Bahan kulitnya sudah agak kaku, dingin dan lengket di tangan. Tidak nyaman, tapi cukup untuk penyamaran.
Fajar bahkan masih enggan untuk bersiap datang saat mereka berjalan meninggalkan tempat itu. Langit masih menyisakan semburat biru tua yang berpendar samar di balik siluet pepohonan. Suara dedaunan bergesekan perlahan seiring langkah mereka yang hati-hati, menyusuri jalan setapak menuju barat—arah markas Erebus.
Mereka bertiga bergerak dalam diam. Maga berjalan paling depan, tangan kirinya menggenggam erat gagang belatinya. Di punggungnya tergulung dua jubah kulit serigala, peninggalan dua Erebus yang Wisa kalahkan beberapa hari lalu. Satu untuk Wisa, satu untuk dirinya. Yang belum mereka miliki hanyalah satu jubah lagi—untuk Abi.
Rencana mereka sederhana, tapi berisiko: mencuri satu jubah dari anggota Erebus yang mereka temui sedang berkeliaran di kota. Tanpa itu, penyamaran mereka akan gagal sebelum sempat dimulai.
Wisa berjalan di tengah, matanya terus mengamati sekitar. Dada dan bahunya terasa lebih ringan sekarang. Sejak ia berhasil mengendalikan wujud monsternya kemarin, ada semacam ketenangan baru yang menyelubunginya. Bukan karena dia tidak takut, tapi karena dia tahu, kini ketakutannya tak lagi punya kuasa penuh akan dirinya.
Abi berjalan di paling belakang, menutup barisan. Matanya awas, sesekali menoleh ke belakang. Ia tak berkata banyak, tapi dari cara ia mengepalkan tangan dan langkahnya yang mantap, jelas bahwa ia sepenuhnya siap untuk apa pun yang menanti.
Beberapa kilometer dari tembok kota Xenóktonos, mereka bersembunyi di balik semak tinggi saat suara langkah berat mendekat dari arah jalan utama. Tiga sosok berjubah serigala melintas perlahan, menyusuri jalur kecil menuju pos luar. Mereka tampak lelah, mungkin baru kembali dari patroli.
Maga mengisyaratkan dengan tangan. Diam. Tunggu.
Saat yang tepat datang ketika salah satu dari mereka memisahkan diri dari rombongan untuk buang air kecil ke balik pepohonan.
Tanpa suara, Abi menghilang ke dalam gelap. Butuh hanya beberapa detik sebelum sosok itu jatuh tak sadarkan diri, dan Abi kembali dengan jubah tambahan di lengannya. Ia tidak membunuh, hanya memukul bagian leher yang membuat Erebus itu terkapar sementara. Diamankan, diikat dengan tali dari akar pohon yang dibuat Abi, dan disembunyikan di balik semak lebat.
“Tepat sasaran,” gumam Maga, menyeringai kecil.
“Sekarang kita punya tiga,” kata Abi sambil menyerahkan jubah itu.
Tak lama, mereka bertiga mengenakan jubah kulit serigala. Bahan jubahnya kasar, berbulu tebal, dan baunya tajam seperti binatang liar dan darah. Wisa hampir mual, tapi menahannya. Dia sudah mengalami yang lebih buruk.
Beberapa ratus meter di depan, tembok batu menjulang tinggi. Tembok itu melingkari seluruh kota seperti rahang raksasa yang siap menelan siapa pun yang masuk. Di atasnya, penjaga berjalan perlahan sambil membawa lentera api dan tombak panjang. Di bawahnya, dua penjaga berdiri di sisi gerbang logam yang berat.
Tak ada suara selain gesekan angin dan gemerincing rantai penjaga.
“Aku dan Maga yang bicara,” bisik Abi. “Wisa, jangan terlalu angkat kepala. Kalau ada pertanyaan, biar kami yang jawab.”
Wisa mengangguk.
Mereka berjalan menuju gerbang. Detak jantungnya meningkat, adrenalin memacu jantungnya untuk bekerja lebih, tapi langkahnya tetap tenang. Dia tahu satu langkah keliru saja bisa membuat mereka mati di tempat.
Penjaga di gerbang menatap mereka curiga. “Baru balik patroli?” tanyanya.
Abi mengangguk singkat, suaranya dalam dan datar. “Dari utara. Kami dapat kabar soal pergerakan pengkhianat.”
Penjaga mendengus, lalu menyingkir. “Xenóktonos sedang panas. Ada gosip aneh di pasar. Hati-hati.”
Abi tidak menjawab. Mereka bertiga masuk, melewati gerbang batu yang berat dan kini terbuka perlahan dengan suara berderit yang seram.
Kota Xenóktonos membentang di depan mereka.
Bangunan batu yang gelap. Jalanan sempit yang ramai tapi muram. Api unggun besar di tengah alun-alun utama. Bau logam dan asap terbawa angin. Semua orang berpakaian mirip—jubah serigala, wajah tegas, dan mata curiga. Tapi tidak semuanya tampak fanatik. Beberapa hanya tampak… lelah.
Abi berbisik, “Ke pasar. Di sana biasanya berita beredar lebih cepat dari mulut siapa pun.”
Mereka menyusuri jalan utama dengan langkah meyakinkan, menuju pusat keramaian—pasar. Tempat di mana mulut-mulut tak bisa diam, dan rahasia bisa bocor tanpa sadar.
Tempat di mana, mungkin, kabar soal Harsya masih tersisa.
Wisa berjalan di antara Abi dan Maga, matanya waspada, menyapu bangunan batu yang rapat dan menjulang.
“Arah pasar di sana,” bisik Maga sambil menunjuk gang sempit yang terbuka ke sebuah area luas.
Pasar Xenóktonos ramai dan padat. Tenda-tenda berdiri berdekatan, menjual segala macam hasil bumi, kain, senjata, bahkan racun. Suara para pedagang dan pembeli tumpang tindih, membentuk kekacauan yang justru jadi penyamaran sempurna.
Mereka masuk ke salah satu tenant penjual buah. Tumpukan buah merah tua dan ungu gelap teronggok rapi di depan mereka. Pemilik lapak, seorang pria tua berjubah lusuh, melirik ketiganya sebentar sebelum kembali pada pekerjaannya. Wisa membolak-balik buah ungu aneh yang bentuknya seperti gabungan manggis dan leci, sementara telinganya menguping keras-keras percakapan di tenant sebelah— sekelompok wanita dan lelaki muda sedang berbincang sambil memilih rempah dan daun obat.
“Serius, katanya anaknya balik. Putra mahkota. Yang selama ini dikira mati,” bisik seorang wanita di tenant sebelah, sambil menimbang rempah.
“Aku pikir dia mati,” kata salah satu wanita dengan suara rendah namun penuh antusiasme. “Ibunya kabur, katanya selingkuh, lalu bunuh diri bawa dia.”
“Yang lebih gila lagi—putra mahkota itu balik,” sahut yang lain cepat. “Katanya masih hidup selama ini. Gak jelas dia di mana.”
“Markas utama sekarang panas banget. Antara dia dan ayahnya—mereka berantem terus. Katanya si anak nuntut penjelasan, kenapa ibunya sampai kayak gitu. Bahkan ada yang bilang si anak nyaris dihukum mati.”
“Eh, dan katanya ada yang lihat dia di ruang atas, tapi malah ada yang bilang dia disekap di penjara bawah tanah. Gara-gara berantem mulu sama bapaknya yang sekarang jadi ketua tertinggi.”
”Wisa menunduk, berpura-pura memeriksa buah, namun bisikannya pelan, cukup terdengar oleh dua orang di sampingnya. “Putra mahkota?”
“Mereka punya sistem kerajaan?” gumam Maga heran.
“Lebih seperti pengkultusan kekuasaan,” sahut Abi, matanya tak lepas dari kerumunan. “Tapi… ini aneh. Harsya diculik, lalu tiba-tiba ada putra mahkota yang muncul setelah lama menghilang?”
Maga berkedip beberapa kali. “Yah. Mungkin kebetulan semata… dan mungkin dia penting?”
Abi mengangguk sok tahu. “Iya. Mungkin dia bisa bantu kita. Atau… mungkin dia berbahaya. Kita gak tahu, kan?”
“Tapi kalau dia disekap di penjara bawah tanah, bisa jadi Harsya juga ada di sana, ya kan?” kata Wisa. “Tempat penyekapan.”
Maga langsung menepuk tangan pelan. “Nah iya! Si putra mahkota ini mungkin bukan siapa-siapa. Tapi penjara bawah tanah… bisa jadi tempat Harsya!”
Abi mengangguk setuju seperti detektif baru dapat petunjuk. “Kita harus cari jalan masuk ke penjara itu.”
Mereka bertiga saling pandang dan mengangguk, merasa sangat pintar telah menghubungkan gosip kerajaan dengan misi penyelamatan Harsya. Tak satu pun dari mereka—tidak satu pun—mempertimbangkan bahwa putra mahkota yang mereka bicarakan barusan… bisa saja adalah Harsya.
Sebelum mereka sempat memutuskan untuk mencari dimana letak markas utama, dari ujung pasar terdengar suara terompet pendek—datar, kering, seperti tanda pergantian penjaga.
Abi segera bergerak. “Kita gak boleh terlalu lama di tempat yang sama. Kita cari tempat lebih sepi. Kita perlu obrolin ini.”
Tangan Wisa menggenggam erat sisi jubahnya. Pandangannya masih tertahan pada arah kerumunan yang tadi berbicara. Di dadanya, rasa cemas mulai menebal. Wisa tiba tiba merasa ada yang salah dengan cara penalaran mereka. That's something off from the gossip they just heard.
Malamnya, mereka menyelinap menuju kompleks utama dimana itu juga letak markas utama. Setelah mengamati dari kejauhan dan mempelajari pola patroli penjaga, mereka akhirnya berhasil menyusup lewat lorong sempit yang mengarah ke bawah tanah.
Udara lembap dan bau logam menusuk hidung mereka. Dinding-dinding batu yang dingin dan remang-remang membuat setiap langkah terasa mencurigakan. Hanya suara tetesan air dari langit-langit yang menemani mereka.
“Ini tempatnya,” bisik Abi. “Wisa, kamu tenang ya, atur emosi kamu. Kalau Harsya ada di sini, kita jemput dia dan langsung keluar.”
Mereka berjalan perlahan, melewati beberapa sel kosong dengan jeruji berkarat. Suasana semakin sunyi, sampai akhirnya…
Di salah satu sel dengan pintu setengah terbuka, seseorang duduk santai di atas dipan kayu. Rambutnya kuningnya sedikit lebih panjang, tubuhnya tampak sehat. Wajah itu…
Maga menahan napas. “Eh… itu…”
Obor kecil di tangan Wisa hampir terjatuh. Matanya membelalak.
Abi mematung. “…itu Harsya.”
Harsya mendongak, menatap mereka dengan ekspresi campur aduk antara lelah dan malas.
“Kalian ngapain disini?” katanya santai.
Abi membuka mulut. Menutupnya. Membuka lagi. Tidak keluar suara.
“Lo… gak disekap?” tanya Maga akhirnya, masih melongo.
“Nggak. Gue cuma lagi istirahat.” Lalu Harsya menghela napas panjang. “Gue tinggal di sini sekarang. Kamar gue di atas lagi direnovasi.”
Wisa terduduk pelan di lantai batu. “…hah?”
Di ujung hatinya, Wisa merasa ada yang ganjil. Sejak mereka mendengar gosip tentang putra mahkota, dia memang sudah merasakan keanehan. Semua terlalu kebetulan. Tapi tetap saja—dia tak pernah benar-benar berpikir itu Harsya.
“Kamu….. putra mahkota itu?” bisik Wisa, akhirnya memberanikan diri bertanya.
Harsya mengangguk kecil. “Baru inget beberapa minggu lalu, setelah gue dibawa paksa kesini. Ayah gue sekarang jadi tetua tertinggi Erebus. Jadi ya… secara teknis, gue itu putra mahkota.”
Maga langsung membeku. “APA?”
“Shuut!! Kalau lu berisik nanti penjaga balik kesini Maga bego. Tenang, chill men gue nggak gabung Erebus,” potong Harsya cepat. “Gue masih orang yang sama. Harimau Harsya yg sama, bukan serigala. Justru karena gue beda pandangan, gue selalu berantem sama dia.”
Abi akhirnya bisa bicara. “Ayah kamu…. Si ketua itu?”
“Yup musuh besar kita itu, yap,” jawab Harsya datar. “Kalau kalian penasaran kenapa gue malah tinggal sama Abi bukan disini. Bokap gue dulu selingkuh. Tapi yang orang-orang tahu, malah nyokap gue yang dituduh. Gue konfrontasi dia soal itu. Gue bilang, lu bisa bohong ke seluruh dunia, tapi jangan berharap gue bakal diem.”
Abi menatap Harsya lebih lama, dan perlahan, wajahnya berubah sendu.
“Sekarang aku jadi paham,” katanya pelan. “Waktu aku menemukan Harsya dulu, dia masih lima tahunan. Itu ibu Harsya yang menitipkan kamu. Dia yang minta buat aku jaga kamu jauh dari Erebus, jauh dari semua ini. Pada saat itu aku kira ibu Harsya cuma salah satu pemberontak biasa. Dan yang terakhir aku dengar kabarnya dia bunuh diri, agar tidak ditangkap oleh Erebus.”
Harsya menunduk. Wisa menggenggam kain di lengannya erat-erat. Maga mengalihkan pandangannya ke dinding, matanya berkaca.
“Jadi sekarang…?” tanya Maga pelan.
“Gue di sini buat cari jalan. Kalau bisa… dari dalam,” jawab Harsya. “Tapi gue butuh kalian.”
Harsya menunduk sejenak sebelum akhirnya membuka suara lagi.
“Gue bener tinggal di sini, iya. Tapi bukan berarti gue bebas. Gue nggak boleh keluar dari markas utama, apalagi balik ke rumah kita.”
Abi menyipitkan mata. “Jadi… kamu sama saja dengan disekap?”
“Technically, yes. Gue nggak dikurung kayak tahanan, tapi setiap gerak-gerik gue diawasin. Mereka ngasih gue kamar, makanan, bahkan latihan sih, tapi… itu semua cuma buat sekalian ngawasin gue, biar gue nggak bener bener sendirian terlalu lama.” Harsya menyentuh dinding batu di sampingnya pelan. “Gue udah coba cari celah buat kabur, tapi belum nemu waktu yang pas.”
Harsya bersandar ke dinding, menatap kosong ke arah langit-langit batu yang dingin. Dia menarik nafas panjang.
“But finally I found the exact good time. Dua hari lagi, mereka bakal ngadain ritual pembukaan gerbang dimensi. Pas disaat itu semua Erebus bakalan kumpul disini, buat lihat ritual itu, kita bisa nyelinap kabur. Ide gue brilliant kan?” Dengan semangat menggebu Harsya memberi tahu mereka tentang rencananya tanpa tahu ketiga orang di depannya menengang mendengar informasi yang tanpa sengaja di berikan oleh Harsya.
“Gerbang?” Wisa mengulang, tegang.
Harsya mengangguk. “Iya. Dari yang gue denger, mereka nemuin… makhluk gede banget. Monster raksasa katanya, badannya dipenuhi sihir kuno. Mereka percaya sihir itu bisa dipakai buat buka portal. Serem banget bayangin monster kayak apa yang mereka temuin.”
Maga melangkah maju, wajahnya kaku. “…makhluk?monster?”
“Iya,” jawab Harsya tanpa sadar. “Katanya nih ya, makhluk itu udah kayak wadah sihir zaman dulu. Ada beribu sihir kuno didalam badannya, dan kalau sihirnya dikeluarin—entah dipotong, dibedah, apalah—ritualnya bakal berhasil.”
Harsya kemudian menggeleng pelan karena menggigil membayangkan kengerian tentang ‘monster’ tersebut.
“Yang anehnya, itu monster nggak dikurung. Mereka bilang… makhluk itu bakalan datang sendiri ke tempat mereka. Kayak udah ditakdirin atau gimana. Mereka cuma nunggu.”
Abi bergumam pelan, hampir tak terdengar. “…jadi itu alasannya mereka nggak bunuh lo.”
Harsya memutar kepala, bingung. “Apa?”
Abi tidak menjawab pertanyaan Harsya, yang Abi lakukan sekarang adalah melirik ke arah Wisa yang nafasnya sudah mulai pendek pendek. “…Wisa?”
Wisa merasa darahnya berhenti mengalir. Di dadanya, ada denyutan yang tak bisa dijelaskan. Nafasnya susah untuk diatur, kata-kata Harsya menggema di telinganya, dan semuanya terasa terlalu pas untuk jadi kebetulan.
Makhluk. Monster. Sihir kuno di dalam tubuh.
Itu dia. Mereka bicara tentang dirinya.
Harsya masih melanjutkan tanpa bisa membaca keadaan di depan kepalanya. “Gue nggak tahu monsternya kayak apa, tapi waktu gue denger mereka deskripsiin… gue bahkan ngerasa ngeri sendiri. Dan kalau mereka beneran ngelakuin itu… portalnya bisa kebuka. Gue harap monsternya nggak sebodoh itu buat dateng kesini deh. Iiih ngeri”
Darah di sekujur tubuh Maga mendidih, sejak tadi dia diam membiarkan Harsya membual tentang ‘betapa seramnya monster tersebut’ tapi setelah Maga mendengar kata ‘Monster bodoh’ keluar dari mulut Harsya, amarah yang ditahan dari tadi seperti tertarik keluar begitu saja, meledak.
“HEH BANGSAT!! MONSTER YANG LO KATAIN SEREM BAHKAN BODOH KALAU DATENG KESINI ITU DATENG BUAT NYELAMETIN LO BODOH!! LO YG BODOH!! BUKAN DIA!! LO DISEKAP DISINI BERMINGGU MINGGU LO KIRA KITA NGGAK KHAWATIR APA?!” Meledak begitu saja tanpa aba aba, membuat bukan hanya Harsya, tapi Abi dan Wisa terkejut.
“EH ANJING!! GUE NGGAK KENAL SAMA MONSTER ITU YA BEGO?! TRUS NGAPAIN SI MONSTER INI MAU NYELAMETIN GUE KALAU GUE AJA NGGAK KENAL SAMA DIA?!” Balas Harsya tidak mau kalah.
Abi yang merasa suara kedua orang ini akan menjadi lebih besar dari yang sekarang dan mungkin akan memancing para penjaga untuk datang, dan malah membuat rencana mereka berantakan akhirnya mengambil langkah cepat. Abi mengeluarkan kekuatannya dengan membuat tanah dibawah kakinya naik melilit badan Maga dan Harsya, menutup mulut mereka berdua dengan tanah seperti segel.
Harsya dan Maga menggeliat mencoba melawan tanah yang di kontrol oleh Abi. Tapi apa daya, seluruh tubuh mereka benar-benar sudah dikekang oleh tanah membuat mereka tidak bisa melawan.
“Cukup. Pertengkaran kalian nggak ada gunanya di saat seperti ini. Kalau penjaga mendengar suara kalian, kita semua akan mati di tempat, tanpa sempat mengucapkan sepatah kata pun.” Sahut Abi setelah melihat Maga dan Harsya mulai tenang dalam balutan tanah.
“Harsya, terimakasih untuk infonya, itu sangat amat membantu. Maga, kamu memang tidak salah untuk emosi, tapi Harsya disini tidak tahu apapun dengan kondisi Wisa yang sekarang. Harusnya kamu bisa lebih tenang dalam menjelaskan kepada Harsya mengenai Wisa.” Lanjut Abi yang membuat Harsya bertambah bingung dengan keadaan ini.
Harsya akhirnya melihat kearah Wisa yang masih mengatur nafasnya sambil memegang dadanya sendiri. Ada satu hal yang aneh, lengan Wisa yang tidak tertutup oleh jubah serigala, mengeluarkan bulu hitam lebat, lalu hilang, lalu timbul lagi, apa itu? Mata Harsya membelalak melihat hal tersebut.
Pada akhirnya, Abi membuka segel bagian mulut Harsya dan Maga, tapi tidak dengan bagian lainnya. Agar tetap bisa mengontrol Harsya dan Maga, jika salah satu dari mereka meledak kembali.
“Ya Harsya, monster yang kamu sebut sebut dari tadi adalah Wisa. Monster itu ada didalam badan Wisa.” Abi menatap lurus ke arah Harsya, dan untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu kembali, wajahnya tidak lagi terlihat seperti mentor atau orang yang selalu tahu harus berbuat apa. Ada luka di matanya—luka lama yang belum sembuh.
“Aku harus jujur sama kamu, Harsya,” ucap Abi pelan. Suaranya berat, terdengar seperti seseorang yang memikul beban dunia. “Selama kamu di sini, banyak hal yang terjadi di luar. Terutama… sama Wisa.”
Harsya mengerutkan kening. “Maksud lo?”
Abi menoleh ke arah Wisa, yang kini terduduk memeluk lututnya sendiri di sudut ruangan. Nafasnya mulai stabil, tapi tatapannya kosong, seperti tersesat di pikirannya sendiri.
“Kamu tahu waktu itu, hari ketiga semenjak Wisa tinggal dengan kita—disaat kamu dan Maga pergi bermalam buat cari bahan bahan project Maga?”
Harsya mengangguk perlahan.
Abi menarik napas dalam-dalam. “Malam itu… dia berubah. Dia demam tinggi, tubuhnya panas, dan… tiba-tiba berubah jadi makhluk besar. Bukan manusia. Bukan juga monster biasa. Dia—dia punya kekuatan yang bahkan tanah ini takut padanya. Dan waktu dia berubah, dia gak sadar. Tidak ingat apapun saat kembali sadar.”
Harsya terpaku, bibirnya terbuka tanpa suara.
“Aku panik. Bahkan tidak sempat untuk berfikir dengan waras. Sampai pada akhirnya aku menemukan satu buku tua di ruang penyimpanan—bahkan bahasanya pakai simbol kuno. Di sana ditulis… tentang makhluk seperti Wisa yang di jaman dulu ada banyak sekali. Mereka menyebutnya ‘Dangerous human beings: cannot be controlled, need to be banished.’. Manusia yang membawa sihir zaman kuno dalam tubuhnya. Tubuh yang bisa membuka portal antar dimensi kalau kekuatannya dibuka paksa.”
Wisa masih diam, seolah mendengar ceritanya sendiri dari mulut orang lain.
“Pada saat itu aku terlalu takut, terlalu kalut oleh pikiran burukku sendiri. Sebagai Key Bearer insting pertamaku adalah menyelamatkan banyaknya makhluk hidup. Dan aku pikir Wisa itu ancaman.”
Abi menunduk, rahangnya mengencang.
“Maka dari itu, aku mengirim informasi palsu ke Erebus. Tentang lokasi Wisa. Supaya mereka datang dan… bunuh dia.”
Maga langsung membalikkan badan. “Abi…”
Harsya menatap Abi dengan ngeri. “Lo… ngebocorin lokasi Wisa ke Erebus? Lo… lo nyuruh mereka ngebunuh Wisa?!”
Abi mengangguk pelan. “Iya. Dan aku sangat menyesal. Demi Arlok Harsya, aku sangat amat menyesal dengan keputusan terburu buru itu”
Abi menggigit bibirnya, menahan emosi.
“Tapi sesaat setelah aku mengirim surat tersebut , aku sadar. Wisa… dia bukan ancaman. Dia orang paling kuat yang pernah aku temui—bukan karena monsternya, tapi karena hatinya. Dia nggak pernah nyerah. Bahkan setelah tahu monster itu ada di dalam dirinya… dia nggak kabur. Dia lawan rasa takutnya sendiri. Dia jatuh. Bangun. Jatuh lagi. Tapi dia terus maju.”
Abi menoleh ke arah Wisa, suaranya mulai bergetar.
“Dia melatih dirinya. Dia menangis tiap malam tapi tidak pernah berhenti latihan, tidak pernah menyerah. Dia bahkan pernah minta aku agar melukainya saat dia mulai kehilangan kendali, agar dia bisa belajar menahan rasa sakit dan tetap sadar. Semua itu… karena dia cuma punya satu tujuan.”
Abi menatap Harsya dalam-dalam.
“Wisa mau menyelamatkan kamu Harsya.”
Harsya membeku. Nafasnya tercekat. Matanya beralih ke arah Wisa yang kini mulai berdiri perlahan.
“Aku nggak tahu… sejak kapan monster itu mulai bangun,” ucap Wisa akhirnya, suaranya lirih. “Tapi sejak aku tahu dia ada di dalam tubuhku, aku selalu takut. Takut kalau aku nyakitin kalian. Takut aku bakal kehilangan kendali lagi.”
Dia mengangkat wajahnya. Di balik sisa-sisa bulu hitam yang masih muncul dan menghilang dari lengannya, mata Wisa terlihat jernih.
“Tapi aku nggak akan lari. Bukan cuma karena aku harus nyelametin kamu, Harsya. Tapi karena aku… nggak mau orang lain ngalamin kehilangan yang sama kayak aku.”
Harsya menutup mata. “Wisa… gue…”
Harsya terdiam. Pundaknya bergetar.
“Gue minta maaf. Gue ngomong sembarangan soal… monster itu. Gue nggak tahu. Kalau gue tau… gue nggak akan…”
Wisa menghampiri Harsya, lalu berhenti tepat di depannya. Mereka saling menatap dalam diam.
“Aku maafin,” ucap Wisa tenang. “Aku tau kamu nggak bermaksud.”
Sejenak, hanya suara nafas mereka yang terdengar.
Dan malam itu, di lorong bawah tanah yang dingin dan pengap, keempatnya menyadari satu hal: mereka bukan hanya berempat. Mereka utuh. Dan mereka tidak akan pergi dari tempat ini tanpa saling melindungi.
Akhirnya mereka setuju agar malam ini, mereka berlindung di salah satu ruangan kecil yang gelap dan lembab di sisi paling sunyi lorong bawah tanah. Satu-satunya cahaya berasal dari obor kecil yang dibiarkan menyala temaram, sementara suara penjaga kadang masih terdengar samar di kejauhan.
Abi duduk bersandar ke dinding, menutup matanya sejenak, menyisakan ketiganya dalam kesunyian.
Wisa duduk di sudut, memeluk lututnya. Lengan kirinya yang tidak tertutup jubah perlahan kembali berubah—bulu hitam samar muncul dan menghilang seperti denyut jantung gelap yang hidup di bawah kulitnya.
Maga duduk agak dekat, tapi tetap menjaga jarak. Dia menatap Wisa lama, matanya penuh rasa bersalah dan khawatir. Tapi dia tahu, sekarang bukan waktunya memaksa bicara.
Sementara itu, Harsya masih memproses semuanya. Kepalanya bersandar ke dinding, matanya menerawang.
“…sekali lagi maaf gue nggak tahu,” gumamnya pelan. “Gue kira gue yang paling sial di antara kita. Punya bokap yang ternyata orang paling kejam di Utopia. Ternyata gue yang paling buta.”
Abi membuka mata. Tapi tak bicara. Ia membiarkan mereka menemukan kata-kata sendiri.
Harsya perlahan menoleh ke arah Wisa.
“Gue… minta maaf,” ucapnya pelan. “Gue ngomong sembarangan tadi. Gue nggak tahu… kalau monster yang gue hina-hina itu ternyata lo sa.”
Wisa tak langsung menjawab. Ia menatap lantai batu. Diam. Tapi tidak marah. Tidak lagi.
“Aku pun nggak tahu aku kayak apa sekarang,” jawab Wisa akhirnya, suaranya lemah, tapi jujur. “Tapi… aku masih aku. Aku datang ke sini buat nyelametin kamu, Harsya.”
Wisa menahan napas sebentar, menunduk.
“Aku tau kamu nggak tau apa apa. Tapi tetap aja, sakit.”
Harsya terdiam. Kepalanya tertunduk.
“Gue bener-bener nggak bermaksud nyakitin, Wis,” katanya pelan. “Kalau gue tahu… bahkan setengahnya aja… gue pasti diem dari awal.”
Lalu Wisa menggeleng. Perlahan ia mendongak menatap Harsya. Ada kelelahan di matanya, tapi juga ketulusan.
“Kayang yg aku bilang tadi, aku maafin kamu,” ujarnya akhirnya. “Karena yang lebih penting sekarang bukan itu… tapi kita harus keluar bareng-bareng dari sini. Kita harus bertahan.”
Maga akhirnya bicara, suaranya pelan tapi tegas.
“Dan kita bakal keluar bareng. Gue bakal pastiin itu.”
Mereka bertiga terdiam sesaat, tapi keheningan itu terasa berbeda. Bukan lagi karena ketakutan atau canggung—melainkan karena rasa percaya yang mulai terbangun kembali.
Abi membuka suara akhirnya.
“Besok kita mulai gerak lebih dekat ke kompleks utama. Dua hari lagi mereka adakan ritual, dan kita harus tahu seperti apa sihir yang mereka pakai… dan bagaimana mereka ingin mengeluarkan sihir itu dari tubuh Wisa. Kalau bisa kita harus hancurin altar itu, agar mereka tidak bisa melakukan ritualnya.”
Abi menatap Wisa lama.
“Tapi malam ini, kalian harus tidur. Tenang. Kuat. Karena besok… kita mungkin menghadapi perang yang tidak bisa dihindari.”
Pagi datang lambat di lorong-lorong bawah tanah. Tidak ada sinar matahari, hanya hawa lembap yang tak lagi terlalu dingin. Mereka bangun bergantian, menyantap roti keras seadanya dan memeriksa perbekalan.
Harsya menunjukkan jalur kecil ke arah ruang pemujaan utama Erebus. Dia memberitahu, dua tingkat di atas tempat mereka bersembunyi sekarang adalah markas pusat, tempat di mana para tetua Erebus biasa berkumpul.
“Mereka pakai sihir jenis pengikat waktu,” jelas Harsya sambil menggambar simbol kasar di tanah, “yang cuma bisa aktif dua hari lagi, saat rasi tertentu muncul. Kita harus tahu letak titik pusatnya… dan jalan keluar tercepat kalau segalanya gagal.”
“Apa kita akan masuk sekarang?” tanya Maga pelan, matanya belum sepenuhnya tenang.
Abi menggeleng. “Belum. Pagi ini kita hanya amati. Kalau ketahuan sekarang, kita belum tahu pasti penjagaan seperti apa yang mereka letakkan di sekeliling altar ritual”
Dari pagi hingga sore mereka selalu mengamati bagaimana penjaga penjaga di markas berkeliaran, bagaimana rutinitas mereka dan kapan celah yang pas untuk masuk ke dalam ruangan altar ritual.
Lorong-lorong sempit yang mereka lewati penuh sarang kelelawar, dinding-dindingnya lembab dan ditumbuhi jamur bercahaya redup. Dari celah sempit di balik dinding retak, mereka akhirnya melihat ruangan utama: sebuah aula besar dengan atap terbuka, menara batu menjulang di tengahnya. Cahaya merah menyala dari altar utama dibagian tengah ruangan.
Puluhan penjaga berkeliaran. Tapi anehnya, tak satu pun dari mereka tampak seperti manusia sepenuhnya—mata mereka menyala redup, dan tubuhnya dibalut jubah kulit serigala berwarna hitam.
Wisa mengamati dalam diam. Dadanya sesak. Tempat itu mengalirkan rasa yang aneh ke tubuhnya—seperti ada sesuatu di dalam altar itu yang memanggilnya pulang.
Setelah kembali, mereka berempat duduk melingkar agar memberikan kehangatan untuk satu sama lain di dinginnya penjara bawah tanah. Abi sedang mencatat simbol yang ia lihat tadi di tanah, dan Harsya sibuk menggambar denah kasar di dinding.
Lalu Wisa berdiri menjauh, membiarkan angin bawah tanah menyentuh pipinya. Maga menghampiri, berdiri di sampingnya.
“Kamu oke?” tanyanya lembut.
Wisa menoleh. “Enggak tau,” katanya jujur. “Tempat itu… kayak manggil aku. There’s something in there calling my name Ga,”
Maga tak menjawab. Ia hanya berdiri di samping Wisa, cukup dekat untuk membuat kehadirannya terasa tapi tak memaksa.
“Aku takut,” bisik Wisa akhirnya. “Bukan cuma karena tempat itu… tapi karena aku nggak tahu siapa aku setelah semuanya ini selesai. Aku takut kehilangan kendali Ga.”
Maga menghela nafas pelan, menjulurkan tangannya untuk mengelus kepala Wisa perlahan, lalu ia bicara.
“Kalau nanti kamu lupa siapa kamu, aku bakal ingetin.”
Wisa terdiam. Matanya menoleh, dan mereka bertemu pandang.
“Kamu yakin?” bisiknya, seolah itu rahasia paling rapuh yang pernah ia ucapkan.
Maga mengangguk, pelan tapi pasti, dengan tangannya yang menangkup pipi Wisa, mencoba membantu agar Wisa merasa lebih tenang.“Aku yakin sama kamu… lebih dari aku yakin sama siapa pun.”
Detik itu, Wisa tidak menjawab. Tapi jari-jarinya perlahan menyentuh kain yang masih melilit pergelangan tangannya—kain pemberian Maga di hari pertama mereka memutuskan untuk mencari Harsya. Ia menggenggamnya erat.
Meski tanpa pelukan, tanpa ciuman, tanpa janji yang diucapkan, malam itu hati mereka berbicara dalam sunyi. Cinta itu tak diungkap, tapi justru semakin mengakar.
***
Malam dingin menjadi tambah dingin di bagian paling bawah markas Erebus. Udara malam itu tebal oleh sihir dan sesuatu yang lebih kelam—seperti dunia menahan nafas, menunggu sesuatu pecah.
Mereka bergerak diam-diam melalui lorong tersembunyi yang sebelumnya dipetakan Harsya dan Abi. Jubah hitam berkepala serigala mereka berkibar ringan saat mereka menyelinap melewati penjaga yang mulai berkumpul di ruang pemujaan untuk persiapan ritual esok.
Abi berhenti di persimpangan gelap. Cahaya merah samar dari altar terlihat tak jauh di depan.
“Ini waktunya,” bisiknya. “Kita bisa keluar sekarang, lewat lorong sebelah timur. Tapi kalau kita hancurkan altar itu sekarang… kita bisa hentikan upacara sebelum dimulai.”
Wisa menatapnya ragu. “Tapi kalau gagal, kita bahkan nggak sempat keluar.”
Abi menoleh ke mereka satu per satu. “Kita mungkin nggak akan dapat kesempatan kedua. Altar itu pusat segalanya. Tanpa itu, sihir Erebus runtuh.”
Harsya menunduk. Tangannya mengepal, dan suara yang keluar dari bibirnya pelan. “Kalau memang harus dihancurkan… aku ikut.”
Maga tak bicara. Tapi ia berdiri di sisi Wisa, tanda ia juga memilih tetap tinggal.
Abi menarik napas dalam. “Kita ke altar.”
Aula kosong. Terlalu kosong. Hening yang bukan hening biasa, tapi seperti jebakan yang menyamar sebagai ketenangan.
Altar itu berdiri megah di tengah ruangan, batu hitam dengan urat emas yang berdenyut pelan seperti nadi. Di sekitarnya ada ukiran-ukiran kuno yang sama seperti di dalam buku tua yang dulu Abi temukan.
“Siap?” bisik Abi. Ia mengangkat tangannya, energi mulai berkumpul di telapak tangannya, bersinar biru keperakan.
Namun saat mereka melangkah mendekat—
“Sudah cukup, Abhimanyu.”
Suara itu datang dari kegelapan. Dalam, dingin, dan begitu akrab bagi Harsya hingga tubuhnya langsung menegang.
Dari bayangan, seseorang melangkah keluar. Tinggi, tegap, mengenakan jubah serigala putih berbeda dengan yang lainnya, kepala serigala tidak menutupi kepalanya, tapi menyilang di pundak, seperti serigala pun tunduk dengannya. Dan dengan lambang Erebus di dada. Mata menyala merah. Ares.
Ayah Harsya.
“Sudah kuduga kau akan mencoba sesuatu seperti ini,” katanya, suara tenangnya menusuk. “Kau memang selalu terlalu penuh harapan, Abhimanyu. Dan Harsya…” matanya beralih, penuh kekecewaan. “Anakku yang memilih jadi pengkhianat, seperti ibunya. The apple doesn’t fall far from the tree — bitch made just like his mama.”
“Say one more thing about my mom, and you’ll regret it. Dan kamu bukan ayahku,” kata Harsya pelan, tapi gemetar. “Kamu cuma… monster yang membunuh ibu.”
Ares tersenyum kecil. “Dan kau adalah anak yang menyia-nyiakan warisannya.”
Wisa merasakan hawa altar berubah. Kekuatan yang terkandung di dalamnya mulai bergetar, merespons kehadiran Ares. Maga langsung berdiri di depan Wisa, siaga.
Abi maju setengah langkah. “Kalau kau berfikir kami datang tanpa perlawanan, kau salah.”
Ares mengangkat tangannya.
Dan dalam sekejap—lantai retak. Dinding mengerang. Bayangan menjulur ke segala arah, menjebak mereka dalam pusaran sihir hitam.
“Kalian tidak akan pernah keluar dari sini,” kata Ares. “Dan ritual akan tetap terjadi.”
Bayangan menyelimuti ruangan. Dinding bergetar oleh tekanan sihir. Ares berdiri di depan altar, seperti dewa penghakiman yang turun langsung dari neraka.
“Wisa, mundur,” kata Maga cepat, melemparkan belati ke arah salah satu bayangan yang merayap dari kaki Ares, lalu seperti mempunyai nyawa bayangan itu menggeliat di bawah tusukan beli Maga.
Abi dan Harsya sudah meluncur lebih dulu. Ledakan api biru menghantam lantai tempat Ares berdiri, sementara Harsya menyerang dari sisi berlawanan, cambuk bayangan di tangannya menjerat udara. Tapi Ares mengangkat satu tangan, dan sihir di sekitarnya seperti menelan segalanya—serangan Abi terserap, dan bayangan Harsya dipatahkan seperti ranting kering.
“Kalian pikir bisa menyentuhku?” Ares mendesis. Ia membalas dengan sihir hitam kental seperti darah yang meledak dari telapak tangannya, menghantam dinding dan membuat batu runtuh di belakang mereka.
Maga berlari ke depan, membentuk perisai dengan jubah serigalanya lalu berteriak “Jangan biarkan dia dekat altar!”
Abi menghentak tanah, menyalurkan sihir tanah yang menjebak kaki Ares sejenak. Harsya menggunakan celah itu untuk menebas lengan Ares—sayangnya, darah yang keluar berubah jadi asap hitam, membentuk tombak yang langsung melesat ke arah Maga.
“MAGA!” Wisa berteriak.
Maga sempat menangkis satu tombak. Tapi satu lagi melesat dan mengenainya tepat di bahu, menghantam keras hingga ia terlempar ke samping, menabrak tiang batu dan terhempas ke lantai. Darah mengalir. Ia mengerang.
Wisa membeku. Nafasnya memburu. Jantungnya berdentum begitu keras hingga terdengar di telinganya sendiri.
Abi berteriak: “WISA KONTROL EMOSI KAMU JANGAN BIARKAN EMOSI—!”
Tapi terlambat.
Sihir dari altar bergejolak. Ukiran-ukiran di sekitarnya bersinar, seakan merespons energi dalam diri Wisa. Aura di sekelilingnya berubah. Tanah bergetar. Udara menjadi lengket, penuh muatan tak kasat mata.
Wisa berlari dan menjatuhkan diri di samping Maga. “Maga… kamu nggak apa-apa…?”
Maga membuka matanya perlahan menatap ke arah Wisa—senyum tipis penuh kesakitan, tapi tenang. “Aku… masih di sini… jangan berubah, Wisa.”
Tapi kata-kata itu tak cukup.
Altar meledak dalam pancaran cahaya ungu dan merah tua. Dari pusatnya muncul pusaran energi yang langsung menarik nafas Wisa—dan mengalirkan sesuatu ke dalam dirinya, menabrak punggung Wisa. Sesuatu yang tua, ganas, dan lapar.
Wisa menjerit. Tubuhnya terangkat dari tanah. Rambutnya beterbangan, matanya bersinar kuning terang—kemudian berdenyut sekali… dua kali… berubah menjadi merah menyala.
Tanduk keluar dari pelipisnya. Taringnya tumbuh. Kulitnya mulai dipenuhi garis-garis bercahaya kehitaman.
Abi mundur selangkah. “Tidak…”
Sosok Wisa kini menjulang, bukan lagi manusia seutuhnya—melainkan makhluk dari legenda terlarang yang disebut dalam buku tua yang dulu pernah dibacanya.
Ares menatapnya, awalnya dengan kekaguman… lalu dengan ketakutan.
“Ini… ini mustahil…” gumamnya.
Wisa menggeram—dan menyerang.
Satu lompatan, dan Ares terhempas ke pilar batu. Ia bangkit, mencoba melawan—tapi Wisa bukan lawan yang bisa diprediksi. Ia tak hanya kuat—ia haus darah.
Pasukan Erebus berdatangan. Puluhan Erebus berpakaian tertutup dari kepala sampai kaki dengan jubah serigala memenuhi ruangan, bersiap membantu Ares.
Namun semuanya sia-sia. Mereka tidak melihat Wisa sebagai manusia. Tidak juga sebagai monster. Tapi sebagai penghancur.
Dengan teriakan rendah dan garukan brutal, Wisa membantai. Darah menyembur. Bayangan dipatahkan. Sihir dihancurkan bahkan sebelum selesai dirapal.
Abi berteriak, mencoba menghentikan Wisa. Harsya memanggil namanya berkali-kali. Maga, yang bersandar pada reruntuhan, memohon pelan.
Tapi Wisa tidak mendengar.
Matanya merah penuh. Dan kini, semua makhluk di ruangan itu hanyalah musuh.
Tawa Ares menggema di antara puing-puing altar yang porak-poranda. Darah menetes dari dagunya, tubuhnya penuh luka, tapi matanya bersinar dengan kegilaan.
“Luar biasa… luar biasa…! Monster ini—! Ritual akan menjadi sempurna jika aku menyerap kekuatannya! Lihat kekuatan ini! Dia bahkan membantai kawannya sendiri—”
Wisa—atau apa pun yang kini mengendalikan tubuhnya—mengeluarkan geraman rendah. Abi sudah terkapar, tubuhnya terbakar sebagian oleh sihir pantulan. Harsya berdarah di pelipis, berusaha berdiri sambil melindungi Maga.
Ares maju. Tangannya bersinar. “Kau akan jadi kunci… pengorbanan paling suci untuk membuka dimensi agung—”
ZRAKK.
Semua berhenti.
Dalam satu gerakan—cepat, tenang, dan mutlak—cakar Wisa menebas leher Ares. Tubuh Ares bergetar sesaat, matanya membulat tak percaya… lalu terjatuh. Kepala terlempar sejauh dua meter dan menggelinding dalam genangan darah.
Senyap.
Para pengikut Erebus—yang tersisa—membeku. Satu per satu mulai gemetar… lalu lari tunggang-langgang seperti binatang buruan. Tak ada yang berani melawan.
Tapi monster itu belum berhenti.
Wisa mengangkat wajahnya, mengendus udara. Yang tersisa hanya tiga sosok: Abi, Harsya, dan Maga.
Dan entah kenapa, baginya… mereka juga musuh.
“Wisa, hentikan… Ini kami…” Abi berdiri meski kakinya gemetar, tangannya terangkat tak bersenjata. “Wisa ingat yang aku ajarkan selama ini, atur emosi kamu, Maga baik baik saja. Jangan mau kalah dengan monster ini Wisa!! Ini bukan kamu!!…”
Wisa tidak menjawab. Matanya merah, bersinar dalam gelap. Giginya mencuat. Nafasnya berat.
Harsya melangkah maju. “Kalau kamu masih ada di dalam sana… ingat siapa kami. Ingat tujuan kamu kesini Wisa!! ARES SUDAH MATI!! MAGA BAIK BAIK SAJA! AYO KITA PULANG!”
Tidak ada reaksi. Suara angin, gemuruh sihir dari altar, dan gelegar jantung monster itu mengisi ruangan.
Secara tiba tiba Wisa melompat.
Langsung ke arah Maga.
Maga tidak melawan. Ia memejamkan mata. Tidak ada sihir. Tidak ada gerakan menghindar. Hanya nafas yang tertahan dan luka yang belum sembuh di bahunya.
Dalam benaknya, hanya satu kalimat:
“Kalau ink bisa membuat Wisa bebas dari monster itu… aku tidak apa apa, demi Wisa.”
Lompatan Wisa berhenti di udara. Cakar-raungnya hampir mengenai wajah Maga—
Lalu…
Basah. Ada sesuatu menetes di pipi Maga.
Bau darah. Tapi bukan miliknya.
Suara jeritan.
“ABI!!!” Harsya berteriak.
Wisa—monstert itu tiba-tiba terdiam. Tubuhnya masih besar, masih mengerikan—tapi matanya berguncang. Dari tubuhnya, tergantung lengan Abi yang kini penuh luka. Abi, dalam sekaratnya, melompat di depan Maga, menahan cakar Wisa dengan tubuhnya sendiri.
Darah mengucur deras dari perut dan dadanya. Tapi wajahnya tenang.
“Wisa…” Abi berbisik, senyum tipis di bibirnya. “Maaf… aku terlambat percaya padamu… maafkan aku Wisa tidak mengajarkan kamu mengontrol monster ini lebih cepat… maafkan kak Abi ya Wisa.”
Tubuh monster itu menggigil. Seolah gempa terjadi dari dalam. Cakarnya menurun. Nafasnya tercekat. Badannya mengigil.
Mata merah yang membara mulai redup… perlahan berubah menjadi kuning, lalu padam.
Tubuh raksasa itu menciut. Tanduknya lenyap. Garis bulu hitam di tubuhnya menghilang.
Wisa terjatuh—kembali menjadi manusia. Telanjang, luka-luka, penuh darah. Nafasnya tersengal. Ia menatap tangannya… tubuh Abi di bawahnya… dan membeku.
“Kak Abi…?”
Abi tersenyum, matanya mulai menutup.
“Kamu… akhirnya kembali… Alden…”
Gelap.
“Kak Abi!!! KAK ABI BANGUN!!”
Tubuh Wisa lunglai, lututnya menghantam lantai batu yang dingin, gemetar memeluk tubuh Abi yang mulai kehilangan suhu.
“BUKAN INI YANG AKU MINTA!!” teriaknya, histeris, “Bukan kamu yang mati!! Kamu janji… kamu janji bunuh aku kalau aku mau nyakitin Maga!!”
Wisa mengguncang tubuh Abi, darah menodai seluruh lengannya, “Kak Abi, bangun!! KAK ABI BANGUN!!!”
Harsya berdiri terpaku. Wajahnya pucat, nafasnya tertahan, dadanya naik turun tidak teratur. Ia ingin berlari. Ingin menarik Wisa, ingin membenarkan tubuh Abi, tapi… kakinya tak bisa bergerak.
Maga perlahan mendekat. Wajahnya penuh luka dan kotoran, tapi matanya hanya tertuju pada Wisa—dan tubuh Abi di pelukannya.
“Wisa… Sayang…” bisiknya. Pelan, seolah takut suara keras akan menghancurkan laki laki yang sangat terlihat rapuh itu.
Wisa tak menjawab. Bahunya berguncang hebat. Tangisnya bukan hanya karena kehilangan… tapi karena kehancuran.
“Aku… aku nyakitin dia… Aku nyakitin kak Abi…” suara Wisa bergetar, “Aku nyakitin kalian semua… Aku… harusnya aku yang mati.”
Maga akhirnya berlutut di sampingnya. Perlahan, ia sentuh bahu Wisa—dan tak berkata apa pun.
Tangan Wisa menepis awalnya, lalu menggenggam erat lengan Maga. Seolah kalau ia lepas, tubuhnya akan hancur berkeping-keping.
“Maaf… Maaf… Maaf…” berulang kali. Isakannya tak terbendung.
“Kamu kembali…” bisik Maga, suaranya pelan, lelah, dan nyaris putus. “Itu yang penting sekarang Wisa, ayo kita ikhlaskan Abi, biar dia bisa tenang disana.”
Harsya akhirnya bergerak, menyeret kakinya untuk mendekat, menutup mata Abi dengan tangan gemetar.
“Dia tahu yang dia lakukan.” Harsya berkata tanpa ekspresi, tapi suaranya retak. “Dia memilih.”
“Tapi aku yang membunuhnya!” Wisa menatap mereka berdua, mata kuningnya masih berlinang. “Aku yang—”
“Dia mati untuk menyelamatkanmu.” Maga memotong dengan lembut. Matanya menatap lurus ke mata Wisa. “Dan dia… akan sangat marah kalau kamu menyianyiakan hidupmu setelah itu.”
Hening.
Suara api sihir dari altar yang menghilang perlahan. Angin menggoyangkan reruntuhan.
“Kita belum selesai di sini,” kata Harsya akhirnya. Ia berdiri, menoleh ke arah tempat Ares terbunuh. “Altar itu… harus dihancurkan. Kalau tidak, pengorbanan Abi—sia-sia. Akan ada Erebus Erebus lainnya yang ingin memakai kekuatanmu untuk membuka portal dimensi.”
Wisa mengangguk pelan. Masih gemetar, masih dipenuhi luka dan darah, tapi tatapannya kini lebih sadar.
“Aku akan menghancurkannya sendiri.”
Maga menyentuh pundaknya.
“Kita lakukan bersama.”
Harsya menggenggam liontin kecil milik ibunya, yang tergantung di sabuknya.
“Untuk semua yang sudah mereka rusak… ini saatnya kita akhiri.”
Mereka bertiga berdiri di atas darah dan kehancuran, di atas tubuh orang yang mereka sayangi…
dan menatap lurus ke jantung Erebus.
Tubuh Abi mereka baringkan perlahan ke samping altar yang kini retak. Wisa berjongkok sebentar, menyentuh dada Abi—seolah memastikan bahwa meskipun tubuhnya diam, jiwanya masih menyaksikan mereka.
“Lihat kami, Kak,” bisiknya pelan. “Lihat kami hancurkan tempat yang sudah terlalu lama menyakiti semua orang. We will do this for you, for Utopia, Eltherion, Bumi, dan dimensi dimensi lainnya”
Harsya menaruh kain penutup wajah serigala di dada Abi, Maga mengaturnya agar kepala Abi menghadap ke arah altar. Sunyi. Tapi bukan sunyi yang hampa—ini sunyi penghormatan.
“Untuk yang sudah pergi…” ucap Harsya.
“Dan yang masih bertahan,” lanjut Maga.
Wisa berdiri. Matanya menyala kuning lagi. Tubuhnya bergetar hebat saat dia menunduk, menahan kekuatan yang mulai membuncah.
“Aku akan berubah,” katanya. Suaranya lirih tapi pasti. “Tapi kali ini… aku akan mengendalikannya.”
Maga dan Harsya mengangguk.
Dengan satu tarikan napas, Wisa melangkah ke depan—dan tubuhnya mulai berubah. Suara tulang berderak. Kulitnya menggelap, membentang menjadi monster yang sama seperti sebelumnya…
Tapi kali ini, mata monster itu tetap kuning, bukan merah. Dan tangannya tetap terulur untuk menggenggam tangan Maga dan Abi, lalu Maga menggenggam tangan Harsya, Harsya mengenggam tangan dingin Abi.
Mereka bertiga berdiri dalam formasi persegi, dengan tubuh Abi yang mereka dudukan didekat mereka, tangan saling menggenggam, cahaya dari tubuh mereka mulai menyatu: biru pucat dari Harsya, merah keunguan dari Maga, dan cahaya kuning menyilaukan dari Wisa.
Altar itu bergetar. Batu-batunya memekik seperti makhluk hidup. Sihir hitam yang tadinya menyelimuti langit perlahan terkoyak. Retakan muncul di permukaan altar. Mereka terus memberi kekuatan.
Sampai—
CRAAAKKK!!!
Altar hancur. Pecahan sihir meledak ke segala arah seperti kaca raksasa yang pecah dalam diam. Tidak ada ledakan besar. Tidak ada guncangan bumi.
Yang ada hanya… kelegaan.
Mereka bertiga terduduk. Nafas berat. Tapi tawa kecil keluar.
“Kita berhasil,” kata Harsya, nyaris tidak percaya.
“Abi pasti lihat semua ini, and he’ll be proud of us for sure” ucap Maga, matanya mulai berkaca.
Wisa—masih dalam wujud monster yang mulai mengecil perlahan— memakai jubah serigala agar menutupi tubuh telanjangnya, tertawa kecil, lalu memeluk mereka berdua.
Namun…
Langit bergemuruh.
Bukan seperti badai.
Tapi seperti… robekan.
Wisa sontak menoleh. Cahaya putih keperakan muncul dari langit—berkilau seperti magnet dari dimensi lain.
“Apa itu?” tanya Harsya panik.
“Itu… bukan dari sini…” Maga menoleh tajam ke arah Wisa.
Tubuh Wisa mulai terangkat.
“TIDAK!!” serunya, kakinya menendang-nendang udara. “APA YANG TERJADI?! TIDAK, TIDAK, JANGAN SEKARANG!!”
Maga langsung menangkap pergelangan tangan Wisa.
“ENGGAK! Aku gak akan lepasin kamu lagi!!”
Harsya memegang kaki Wisa, mencoba menarik.
Tapi kekuatan itu terlalu kuat. Tubuh Wisa perlahan tertarik ke langit. Seperti ada kekuatan tak kasat mata yang tahu… ini saatnya dia pergi.
“MAGAAA!!!” jerit Wisa. Tangannya berusaha mencakar udara, mencari apa saja untuk bertahan.
“WISA!! Pegang aku! Pegang aku!!” Maga tak menyerah. Tangan mereka masih tergenggam, tapi jari Wisa mulai meleset satu per satu.
“Aku gak mau ninggalin kalian!!” air matanya mengalir deras. “Aku gak mau balik!!”
“Kita bakal cari cara! Kita bakal buka portalnya lagi!” teriak Harsya.
“Ingat aku!!” teriak Wisa sekuat tenaga.
“Aku akan balik!!! Aku janji!!!”
Jari terakhir terlepas.
Dan Wisa… hilang.
Cahaya di langit tertutup. Seperti sobekan kain yang kembali dijahit paksa. Sunyi turun sekali lagi.
Harsya terjatuh. Maga diam berdiri, menatap langit kosong.
Kain milik Maga masih terikat di pergelangan tangan Wisa saat dia menghilang.
Dan di tengah altar yang hancur, hanya ada dua orang dan satu jasad,
…dan udara yang terasa terlalu sepi untuk sebuah kemenangan.
Suara musik berdengung pelan.
“I’m wide awake…”
Angin semilir menyentuh wajahnya.
Ada cahaya jingga kemerahan dari mentari sore yang nyaris tenggelam. Hujan baru saja reda. Bau petrichor—aroma tanah yang menguar setelah hujan—menyeruak ke dalam hidung Wisa, segar sekaligus wangi yang sudah lama tidak dia hirup. Suara burung sesekali terdengar dari kejauhan, bercampur dengan deru mobil yang melintas pelan di jalanan basah. Lalu…
“Kok…?”
Wisa membuka mata.
Dia tidak melihat reruntuhan altar. Tidak ada langit berwarna ungu yang sobek. Tidak ada Maga. Tidak ada Harsya. Tidak ada tubuh Abi. Tidak ada darah.
Yang ada hanya halte bus.
Halte bus kampus.
Langsung di depannya, terparkir satu bus yang baru saja menurunkan penumpang. Seorang ibu dan anak kecil berjalan melewatinya sambil tertawa. Seorang bapak paruh baya sedang membuka termos dan menyeruput kopi dari bangku sebelah kiri halte.
Wisa langsung duduk tegak.
Di kepalanya masih menempel headphone—dan dari sana, pelan, mengalun suara Katy Perry – Wide Awake.
Kacamata masih bertengger di hidung. Tas ransel besar dan berat di punggung. Pakaian persis seperti yang dia pakai sebelum semuanya berubah: jeans hitam, jaket hijau tua, sepatu yang sedikit usang.
Tanggal di jam tangannya: 26 Mei 2025. Jam 18:30 Hari yang sama. Jam yang sama saat dia terjatuh di tengah hutan. Apa selama ini dia cuma bermimpi?
Tapi…
Tangannya bergetar.
Dengan pelan, dia melirik ke lengan kirinya.
Kain itu.
Masih terikat.
Kain pemberian Maga.
Bukan mimpi, semua itu bukan mimpi. Seharusnya tidak ada di sini. Tapi ia ada. Warna merah keunguan khas Utopia. Sedikit sobek. Tapi utuh. Nyata.
Wisa menatapnya dalam diam.
Lalu… seperti badai yang mendadak muncul dari langit cerah—semuanya menyerbu masuk ke kepalanya.
Ares.
Altar.
Abi yang diam.
Tangan Maga yang terlepas.
Suara Harsya.
Monster.
Darah.
Janji.
Matanya membelalak. Nafasnya tercekat.
Tangannya langsung menekan dada.
Monster itu… masih di sana.
Ia bukan sekadar kenangan. Ia bukan mimpi buruk yang hilang saat bangun. Ia menyatu dalam dirinya.
Dan sihir. Ia masih bisa merasakannya. Berdenyut. Mengalir.
“Ini bukan mimpi,” bisiknya.
Dia benar-benar kembali. Tapi tidak sepenuhnya.
Matanya mulai berair. Ia menengadah—langitnya oranye, bersih, penuh awan tipis, dan samar pelangi terlihat di langit sore. Tak ada yang sobek. Tapi hatinya…
“Maga… Harsya… Kak Abi…”
Suara bus yang pergi memekakkan sejenak. Tapi Wisa hanya diam.
Dia tak tahu harus merasa bersyukur atau patah.
Dia pulang. Tapi kehilangan.
Dia pulang. Tapi tidak sendirian.
Sesuatu ikut kembali bersamanya.
Sesuatu di dalam dirinya,
yang tidak akan pernah sepenuhnya tidur lagi.
The End.
