Chapter Text
Pagi itu begitu dingin dan tenang. Jenis kesunyian yang terasa terlalu hening, terlalu hati-hati-seperti dunia menahan napas.
Kabut belum sempat benar-benar mengangkat dari permukaan tanah saat suara teriakan keras terdengar dari jembatan di sebuah sungai dekat perumahan warga.
Mereka menemukan tubuh Tenma Tsukasa, salah satu siswa Kamiyama High tahun ke-3 yang paling bersinar, ditemukan hanyut di bawah permukaan dimana arus nyaris tidak bergerak.
Tak lama kemudian suara ambulans menyusul menyayat udara seperti jerit kesakitan yang tertahan.
Mereka para warga lokal keluar dari rumah dan saling bertanya, namun yang lain hanya menggeleng tak mengerti, orang-orang mulai berkumpul di tepi sungai asal dari penyebab keramaian. Beberapa masih memakai pakaian tidur, beberapa hanya diam dengan mata melebar. Semua keheranan dengan situasi mendadak yang membangunkan mereka di pagi hari ini.
Ketika suara sirine sudah berhenti, dengungnya masih menggema jelas di telinga mereka.
Petugas dengan langkah cepat dan gerak terlatih mengangkat tubuh yang sudah tak bernyawa. Basah. Kaku. Ringan, seolah jiwanya sudah lama meninggalkan jasad itu.
Kain putih menutupi wajah korban untuk melindungi identitasnya namun tak cukup untuk menutupi warna rambut pirang yang mencolok dan pakaian seragam sekolah yang basah menempel erat di tubuhnya.
Seseorang di antara kerumunan menyadari sesuatu.
"H- hei.. bukankah Itu seragam Kamiyama High..?"
Bisik-bisik pun mulai merebak bagai angin,
"Anak SMA...?"
"Siapa dia...?"
"Kenapa bisa tenggelam...?"
Seorang wanita tua memejamkan mata dan berbisik, seolah berdoa,
"Semoga keluarganya kuat menerima ini..."
Namun mereka semua tahu ketenangan pagi itu telah tercabik.
Tidak ada luka. Tidak ada darah. Hanya keheningan.
Tidak ada juga jejak kaki serta bukti. Tidak ada saksi. Dan tidak ada jawaban.
Belum ada yang tahu bahwa tragedi ini bukan sekadar kecelakaan.
Bahwa mungkin.. pembunuhan mungkin telah terjadi di area ini.
Dan… Belum ada yang tahu bahwa sang bintang– Tenma Tsukasa, telah dipadamkan oleh tangan yang belum terungkap.
Cahayanya ditelan oleh dingin dan hening, seperti dipeluk oleh lagu pengantar tidur terakhir.
Dan di suatu tempat, seseorang sudah mulai menyadari bahwa ini adalah permulaan dari runtuhnya panggung mereka.
_____________________________________________________
Tsukasa Tenma, 18 tahun. Pelajar. The Star.
Penyebab kematian: tidak diketahui.
Tersangka: tidak ada.
Satu-satunya pertanyaan yang penting adalah mengapa.
_____________________________________________________
Menit dan detik berlalu tanpa jawaban, TKP hanya justru bertambah ramai dengan para warga yang datang. Dan tentu saja, kepanikan tetap tidak bisa dikendalikan, sebuah mayat baru saja secara misterius ditemukan di area sungai tempat tinggal mereka, ini reaksi yang wajar bukan?
Benar, orang-orang tidak mungkin tenang.
Mereka saling berbisik, saling menebak, saling menggenggam lengan satu sama lain seolah butuh pegangan dari dunia yang tiba-tiba menjadi terlalu nyata.
Yah, hidup memang baru terasa nyata saat kita teringat dengan kematian yang menunggu kita tanpa tahu waktu yang tersisa.
Seorang anak kecil menjerit ketakutan saat melihat tangan pucat itu menyembul dari balik kain penutup, menambah kepanikan yang sudah ada. Ibunya buru-buru menutup matanya, menariknya menjauh dari tepian sungai yang mulai dipenuhi garis polisi.
“Mohon menjauh dari lokasi kejadian! Kami mohon agar semua warga tetap tenang,”
teriak salah satu petugas, namun suaranya tenggelam di tengah kerumunan.
Salah satu wartawan lokal tiba dengan tergesa, kamera digantungkan di leher, pena dan buku catatan sudah siap di tangan. Ia menoleh ke arah petugas medis yang baru saja mengangguk pelan kepada polisi.
“Jenis luka?”
“Tidak ada.”
“Dugaan sementara?”
“Masih diselidiki.”
Bahkan polisi pun berbicara dengan suara pelan, seolah takut mengganggu keheningan yang terlalu mencekam.
Mayat Tsukasa dibawa ke ambulans, tapi jejaknya masih ada di sana. Bekas tubuhnya di rerumputan sungai, aroma air dingin yang melekat di udara pagi, dan sesuatu yang tak kasat mata. Bekas keberadaannya yang tak bisa dihapus begitu saja.
Beberapa siswa Kamiyama juga sudah mulai berdatangan, mendengar kabar dari grup chat yang mendadak penuh notifikasi. Mereka berhenti di garis kuning polisi, menatap dengan wajah bingung, nyaris tak percaya.
Salah satu dari mereka, anak laki laki kelas dua bersurai biru berbisik lirih, ada nada horor di suaranya.
“Rambut pirang-? itu.. bukan-... bukan Tsukasa-senpai, kan…?”
Tapi tak ada yang menjawab.
Hanya bisikan angin yang melintasi sungai, membawa kabut yang belum juga mengangkat sejak pagi itu. Dan di tengah arus sungai, tempat tubuh itu ditemukan... hanya ada genangan air yang tenang, terlalu tenang, seolah baru saja menyimpan rahasia besar.
********
Jam pertama di Kamiyama High belum dimulai.
Langit di atas sekolah masih kelabu, dan udara terasa lebih berat dari biasanya, seolah kabut dari sungai belum sepenuhnya hilang dan malah mengendap di sela-sela tembok ruang kelas.
Tidak ada bel masuk, tidak ada suara guru yang menyapa siswa pagi itu. Hanya gemuruh pelan dari murmur yang disampaikan setengah percaya, berita yang terdengar seperti kebohongan.
“Katanya... dari kelas 3-C…”
“Yang rambutnya pirang itu kan? Yang suka tampil di festival...”
“Tenma... Tsukasa...”
Nama itu menyebar seperti noda tinta di atas kertas basah.
Perlahan, tak bisa dihentikan.
Di koridor lantai dua, papan pengumuman baru saja ditempeli secarik kertas putih polos. Tanpa nama. Tanpa foto.
Hanya satu kalimat pendek,
“Pihak sekolah sedang bekerja sama dengan kepolisian terkait insiden yang terjadi pagi ini. Semua siswa harap tetap tenang di kelas dan belajar mandiri.”
Tapi semua sudah tahu.
Ruang klub kosong ditinggalkan kosong pagi itu– kecuali satu. Lapangan yang biasanya ramai di pagi itu terlihat aneh tanpa adanya seorang pun disitu. Bahkan ruang committee yang biasanya sibuk, hanya diisi oleh beberapa siswa pengurus yang duduk dengan kepala tertunduk. Mereka yang mengenalnya menangis diam-diam. Mereka yang tidak mengenalnya... tetap merasa kehilangan sesuatu yang tak bisa dijelaskan.
Dan di ruang kelas 3-C, kursi di dekat jendela kosong.
Tidak ada suara langkah kaki ceria yang menyapa. Tidak ada suara Tsukasa yang biasanya terlalu keras saat pagi hari.
Hanya keheningan.
Dan tempat duduk yang tak akan diisi lagi.
—
Sementara itu di dalam ruangan klub drama, di ruang paling ujung lorong selatan, suara notifikasi ponsel berbunyi, pelan, satu kali.
Lalu disusul oleh yang lain. Dan yang lain.
“Rui!! Kamu udah denger…?”
“Tsukasa– dia… ini cuma rumorkan?”
“Katanya dia ditemuin tenggelam, di sungai..”
“GAADA YANG TAU KENAPA-!”
Pesan-pesan itu menumpuk, tapi sang pemilik tidak membacanya.
Pria bersurai ungu itu hanya terduduk di kursinya, menunggu sendirian. Jari-jarinya memainkan bolpoin tanpa sadar. Ia sedang menunggu atau mungkin hanya berusaha menahan diri untuk tidak berpikir terlalu jauh.
Tsukasa sudah terlambat hampir satu jam.
Bukan hal yang aneh, kadang Tsukasa suka mampir ke konbini atau mengobrol dengan teman kelas lain sebelum janji waktu latihan pagi mereka. Tapi ada sesuatu hari ini yang membuat Rui merasa... kosong. Seperti ada ruang di dalam dadanya yang mendadak dingin.
Pintu akhirnya terbuka.
Tapi bukan Tsukasa.
Yang masuk adalah Nene.
Pintu dibuka dengan dobrakan, wajahnya pucat pasi, matanya merah dan bekas air mata yang belum mengering masih bisa terlihat dengan jelas. Dan begitu dia membuka mulut dengan gemetar, suara yang keluar seperti retakan pertama di kaca yang sudah rapuh
“Rui… kamu udah dengarkan? Tsukasa–”
Kata katanya terpotong begitu saja, seolah pita suaranya juga ikut terpotong
Rui tidak menjawab. Tubuhnya seperti membeku. Ia hanya menatap Nene, lalu berdiri perlahan, tangan meraih sisi meja untuk menjaga keseimbangan.
“Kenapa?”
Suara itu keluar seperti bisikan.
“Kenapa kamu bicara seolah… aku nggak akan bisa lihat dia lagi?”
Nene tidak menjawab, ia hanya jatuh terduduk di lantai tak berdaya dan bersuara.
Tanpa penjelasan lebih lanjut. Tanpa rincian. Tanpa konfirmasi resmi.
Rui buru buru menyambar ponselnya di meja yang sudah terabaikan dari tadi,
Dan tepat ketika di tangan akhirnya ponsel Rui bergetar sekali lagi, layar menyala tanpa suara.
Bukan lagi pesan dan panggilan tak terjawab,
Tapi notifikasi dari berita lokal.
___________________________
[BREAKING NEWS]
Seorang siswa SMA ditemukan tewas di sungai pinggir kota pagi ini.
Identitas telah dikonfirmasi: Tenma Tsukasa (18), siswa kelas 3 Kamiyama High.
____________________________
Semua detak jam berhenti. Bahkan napas pun lupa bagaimana caranya.
Rui tidak langsung membuka artikelnya.
Jarinya hanya menggantung kaget di atas layar, matanya menatap satu kalimat yang berkedip pelan seiring notifikasi masuk.
"Tenma Tsukasa (18), siswa kelas 3 Kamiyama High."
Begitu banyak kata dalam dunia ini. Tapi hanya dua yang mampu menghancurkannya:
"Tenma Tsukasa" dan "ditemukan tewas."
Hening di ruang klub itu tiba-tiba berubah jadi sesuatu yang memekakkan telinga.
Suara jam dinding berdetak terlalu keras. Napasnya sendiri terasa mengganggu.
Kakinya yang berdiri terasa lemas, hampir jatuh goyah seperti tubuhnya sedang belajar lagi bagaimana cara berdiri.
Dia berlari membuka pintu, meninggalkan Nene yang masih diam terduduk di ruangan klub. Lorong sekolah terasa lebih sempit dari biasanya.
Setiap orang yang dilalui menunduk atau mengalihkan pandangan.
Mereka tahu. Semua orang tahu.
Seseorang mencoba memanggil namanya.
Seseorang mencoba menyentuh bahunya.
Tapi semua terasa jauh.
Langkah kakinya terlalu cepat, pikirannya terlalu bising dan dunia terlalu sunyi.
Pikiran Rui tak bisa mencerna sepenuhnya ketika kakinya membawanya ke kantor guru. Ada polisi dan kepala sekolah. Ada suara-suara yang menjelaskan sesuatu—tentang sungai, tentang mayat yang ditemukan, tentang "identitas sudah benar benar dipastikan."
Dan di tengah semua itu, hanya satu nama yang terus bergema di kepalanya.
Tsukasa.
Tidak. Tidak mungkin.
Tsukasa tidak akan meninggalkannya tanpa kata-kata terakhir. Tidak akan pergi tanpa panggung penutup.
Ini pasti lelucon.
Ini pasti salah orang.
Ini... ini...
!!
