Work Text:
Itu adalah pesta dansa paling membosankan yang pernah kau datangi.
Perjamuan menyambut delegasi hampir selalu seperti itu. Harus berpenampilan cantik dalam balutan gaun berat, tersenyum seakan tidak masalah dengan kata-kata kurang ajar yang kemungkinan disampaikan lain pihak, dan paling utama, sempurna menjaga sikap agar Kaisar tidak marah.
Ketika acara memasuki bagian dansa, kau diharuskan terlihat takluk pada pesona utusan. Padahal dalam hatimu, kau tidak begitu menyukainya. Pria ini melihatmu genit dan sombong. Kalau bisa, kau ingin merobek rok berlapis itu dan mengangkat sepatumu agar bisa lari ke halaman atau ke kamar.
Kau muak sama simfoni yang mengalun, juga pada aroma parfum menyengat semua tamu undangan. Kau pusing mendengar bisikan gosip, apalagi isinya kebanyakan tidak berbobot. Memangnya kau peduli dengan Count yang selingkuh dengan Baroness? Atau pada pelayan yang naik ke ranjang seorang Marquess saat ia sekeluarga jalan-jalan ke vila di ujung kontinen?
Kau menahan desakan untuk tidak memutar bola mata saat sedang berdansa dengan lelaki itu. Sekonyong-konyong, kau mundur satu langkah tatkala musik memelan, tanda bahwa durasi tarian itu sudah berakhir. Kau mencubit pinggir gaun, mengangkatnya sedikit sambil membungkuk 30°. Kau mengingatkan agar tidak terlalu rendah dalam menunduk.
Kau adalah bangsawan. Kau putri mahkota. Semua mata memandangmu, dan tidak sebanding pujian yang dilayangkan, celaan akan senantiasa mengekorimu berkali-kali lipat jika ada secuil kesalahan.
Takut diajak menari lagi oleh bangsawan tinggi lain, kau cepat-cepat berbalik menuju meja minuman. Langkahmu tegak dan anggun. Tangan bertaut lembut di depan perut sementara air wajahmu begitu tenang hingga isi pikiranmu tak terbaca.
Jarakmu tinggal beberapa langkah lagi dari meja ketika hawa keberadaan seseorang mendekatimu. Itu bukan hawa membunuh atau mencurigakan. Itu keberadaan yang tidak bisa kau abaikan meski kau menginginkannya. Kau membiarkan sudut bibirmu terangkat sesaat sosok itu muncul di hadapanmu.
"Tuan Putri," ucapnya sambil menyodorkan segelas es limun.
Kau mengerling pada pria itu. "Kupikir kau meninggalkanku, Xavier."
"Itu takkan terjadi," jawab Xavier sekenanya sambil menundukkan kepala.
Xavier tampak menawan malam ini. Pakaiannya serba putih seperti jelmaan kabut galaksi Bima Sakti. Ia mengenakan choker hitam berantai emas dan dua kerah jasnya bersilangan dengan perpaduan warna putih dan biru. Sepanjang permukaan kain jas terukir bordir bintang perak sementara bagian dalam ekor jasnya terlukis bulan sabit, bersinar dalam keremangan.
Sekali lihat, kau langsung paham betapa tinggi kualitas pakaian pria tersebut. Xavier mengenakan sarung tangan hitam dan lengannya dilingkari kelat emas putih, seakan memamerkan kedudukannya yang tinggi.
Sekilas, matamu melirik ke bawah. Di sabuk pinggang lelaki itu, terdapat dua benda penting. Yang pertama adalah sarung pedang dan yang lainnya adalah gantungan bulan. Itu pemberian darimu saat Xavier berulang tahun.
Seperti ksatria pada umumnya, Xavier diharuskan memakai topeng ketika mengawal di dalam perjamuan. Tetapi itu tidak mengurangi pesona mata birunya atau rambut peraknya yang berkilauan diterpa cahaya lampu.
Akhirnya, setelah melakukan pemeriksaan singkat, kau mengambil gelas tersebut, menegaknya sedikit sebelum berbalik menghadap lantai dansa, sedangkan Xavier berdiri di belakangmu.
"Kau tidak mengajak siapapun?" tanyamu.
"Tugas saya mengawal anda, Yang Mulia Putri," susunan kalimatnya terdengar tegas, namun kenyataannya Xavier memakai nada santai, seakan-akan menyindir tentang ancaman apa yang berani menyakiti majikannya.
Seringaimu makin lebar namun cepat-cepat kau lenyapkan. Pikirmu, kau masih seorang Tuan Putri dan tersenyum miring begitu akan merusak citra wibawamu.
"Malang sekali nasib para gadis itu," ujarmu. "Dalam hati, mereka pasti menangis karena tak diberi kesempatan mengajakmu berdansa."
Itu benar. Walau tak bermaksud menguping, sesekali kau mendengar decak kagum atau histeris dari kumpulan nona muda ketika kau masuk ke ruangan dansa bersama Xavier beberapa jam lalu.
Xavier menggeleng dengan dengusan tawa kecil. "Saya bukan orang semenarik itu."
"Jangan lupa kau pewaris utama Keluarga Duke, Xavier."
"Kini saya ksatria pribadi anda."
Kau menyesap limunmu sedikit. "Aku masih ingat ekspresi Duke saat kau mengambil keputusan itu."
"Beliau bereaksi berlebihan. Adik saya bisa mengambil alih wilayah Duke dan itu sudah terbukti. Prestasinya di wilayah utara sudah menjadi berita terkini."
"Entahlah. Orang yang hebat sepertimu pasti disayangkan berakhir menjadi pengawalku. Kau bisa mati secara cuma-cuma karena melindungiku. Kau yakin?"
"Itu justru sebuah kehormatan bagi saya," jawab Xavier. "Saya tidak percaya anda masih mempertanyakan itu. Saya sudah melayani anda selama lima tahun."
"Apa itu masalah buatmu, Tuan Muda Shen?" guraumu.
Xavier meloloskan tawa tertahannya. "Jika itu membuat anda senang, saya akan mengatakannya ratusan kali."
"Sungguh sabar jiwamu itu, Xavier. Aku mengaguminya," kau memberikan gelas kosong pada ksatriamu seraya berkeliling pandang.
Perjamuan masih berlangsung meriah dan kau masih menjadi pusat perhatian tamu di sudut area aula itu. Namun herannya tidak ada yang mendekatimu.
"Kali ini mereka lebih tenang, ya?" gumammu. "Biasanya mereka sudah datang untuk menjilatku, 'kan?"
"Tuan Putri, sifat asli anda mulai keluar," tegur Xavier.
Kau berdeham, berusaha mengabaikan kemungkinan seseorang di sekitarmu mendengar ucapan sebelumnya. "Maksudku, mereka lebih memperhatikan suasana hatiku sebelum menghampiri."
Kau tidak menoleh, tetapi tahu senyum tipis bermain-main di bibir Xavier. "Mungkin mereka takut pada predator."
"Maksudmu, Kaisar?"
"Tebakan yang cukup bagus."
"Oh, ayolah," kau akhirnya menoleh. "Kau selalu menyembunyikan bagian terseru."
"Bagian serunya adalah saat anda mencari tahu sendiri."
Kau memutar bola matamu. Tepat sebelum kau berhasil mendebat balik, sebuah kehadiran asing memasuki lingkaranmu.
"Tuan Putri," seorang pria berpakaian mewah membungkuk padamu. Tak lama kemudian, diiringi senyuman percaya diri, ia mengulurkan tangan. "Bolehkah saya mendapatkan kehormatan untuk menari bersama anda?"
Kau meringis dalam hati. Dari aksen kental serta detail pakaiannya, kau yakin dia adalah Pangeran Ketiga dari kerajaan wilayah barat. Terus terang, kau tidak tertarik. Kau baru saja merasa seperti dirimu sendiri ketika bersama Xavier. Memikirkan waktumu bersamanya direngut membuatmu ingin uring-uringan.
Tapi harga diri sebagai Putri Mahkota dipertaruhkan. Secara otomatis, perangai sopan nan elegan terpampang di wajahmu. "Tentu."
Dan kau meraih tangannya.
Saat diboyong ke tengah lantai dansa, kau melirik ke arah Xavier. Berbeda dari tarian pertama, ksatria pribadimu tidak lagi bersembunyi dalam bayang-bayang. Dia di sana, di tempat kalian menyendiri, di dekat tiang, dan mata biru jernihnya mengawasimu dengan satu tangan di atas pegangan pedang.
Selagi menjawab pertanyaan sederhana sang Pangeran, kau tak bisa menahan diri 'tuk mengecek keadaan Xavier. Kau penasaran tentang reaksi yang dia berikan, dan benar saja, iris biru bagaikan butir safirnya menyala-nyala. Tubuhnya menegang tak suka, dan kelihatannya Pangeran bisa dicincang seketika jika Xavier menemukan indikasi perbuatan kurang ajar darinya.
Entah mengapa itu membuatmu senang. Kau merasa dipedulikan. Kau merasa dihargai. Sebab tak satupun orang berpikir apakah perlu menanyakan kau suka atau tidak menjalani tugas bodoh ini.
Setelah tiga menit yang melelahkan, akhirnya kau dan Pangeran itu berpisah. Kau segera berbalik, telah diperingati tubuhmu sendiri bahwa ajakan lain akan segera datang. Kau berharap Xavier ada di dekatmu, mengajakmu kabur dari sana meski itu mustahil.
Alih-alih, lampu tiba-tiba padam dan kau menabrak sesuatu. Rupanya seorang perempuan. Gadis itu menjerit dan seketika cairan anggur merah tumpah membasahi gaun putihmu. Kau terkesiap; lenganmu dipegang seseorang agar tak terjungkal ke belakang dan lampu pun menyala.
"Demi Malaikat," gadis itu, yang kau tabrak, terlihat ingin menangis. Mukanya pucat pasi. "Putri, maafkan saya. Saya bersalah! Mohon ampuni saya!"
Kau menoleh pada penolongmu. Itu Xavier. Ujung antingnya mengetuk sudut matamu, seakan-akan menyuruhmu sadar. Kau pun membenahi posisi, dan tersenyum lembut pada gadis itu.
"Tidak apa. Jangan khawatir. Ini bukan masalah besar."
"Tapi—Gaun anda—Saya tidak yakin—"
"Kau tak perlu menggantinya," ucapmu sambil menarik ke belakang bagian rok yang ternodai. Kerumunan mulai padat. "Kau tidak apa-apa, 'kan?"
Gadis itu mengangguk kaku, sangat terguncang. Matanya memerah mencegah tangis. "Maaf—"
Ini tak bisa dibiarkan lebih lama lagi, pikirmu.
"Pelayan," panggilmu. "Tolong antar dia ke ruang istirahat. Penuhi apa yang dia butuhkan."
"Baik, Yang Mulia Putri," ucap pelayan terdekat dengan patuh.
Gadis itu hendak menolak. Lantas kau mengangkat sebelah tangan untuk menghentikannya, memberitahunya bahwa dia sebaiknya beristirahat selagi kau akan pergi berganti pakaian. Sementara gadis itu dibawa pergi, kerumunan di sekitarmu mendesah kecewa.
Ya, mereka pasti menginginkan keributan, bukan? Tipikal bangsawan jelek.
Xavier tidak ikut campur dengan peristiwa itu, sebagaimana seharusnya, namun segera memberimu lengannya ketika dibutuhkan. "Saya akan mengantar anda ke ruang istirahat, Yang Mulia Putri."
Tatapan kalian bertemu, dan seketika kau tahu rencana yang dirancangnya. Lenganmu otomatis menggandengnya. "Ayo, kita pergi."
Meski terdengar bisik-bisik menyayangkan di kiri-kanan, kau dan Xavier tetap santai melenggang keluar aula. Pintu raksasa itu berayun menutup, meninggalkan gema. Kalian berdua masih menjaga sikap, hingga akhirnya ketika mencapai tikungan pertama, kau membuang napas kasar.
"Akhirnya aku bisa bernapas lega!" ucapmu, menoleh pada Xavier. "Kau mematikan lampu dengan Evol-mu, 'kan? Boleh juga taktikmu. Tapi harus kuakui, aku kasihan padanya. Dia kelihatan seperti mau pingsan."
"Itu diluar prediksiku," Xavier mengakui. "Aku berniat menculikmu keluar."
Perubahan gaya bicara Xavier membuat dadamu membuncah antusias. Gembok yang mengunci segala kepribadian aslimu seketika terbuka. "Itu akan menjadi masalah. Kau tahu sendiri bagaimana keluarga kerajaan membuat heboh segalanya. Kalau tadi aku tidak bertindak cepat, Permaisuri mungkin akan menghampiri kita dan menyuruhku ganti baju. Itu berarti gerakan kita akan lebih diawasi. Ah, memikirkannya saja membuatku merinding."
"Kau betul-betul benci pergaulan sosial, ya?"
"Kau juga, 'kan?"
Kalian saling menatap penuh arti sebelum akhirnya derai tawa menyembur bersama.
"Seharusnya kau menikung utusan itu," katamu saat mencapai belokan terakhir. Koridor berlandaskan karpet merah dan cahaya kandelir yang menggantung di atas kepala menonjolkan kecantikan perhiasan yang kau kenakan. "Aku lebih suka menari bersamamu daripada mereka."
Xavier terdiam sejenak. Saat menuruni undakan tangga, tangannya menyentuh lenganmu yang menggamitnya. "Kalau begitu, apa kau mau berdansa denganku?"
Keningmu spontan mengeryit. "Kau mau menyeretku kembali lagi?"
"Tentu saja tidak. Kita ke tempat lain."
Lantas, kau menatap gaun putihmu yang kini terlihat mengenaskan. "Dengan pakaian seperti ini?"
"Anda terlihat indah mengenakan pakaian apa saja, Yang Mulia Putri," sahut Xavier meyakinkan. Kau melihat ketulusan di mata itu dan merasa tersentuh. Xavier memang selalu berkata apa adanya alih-alih berbohong. Kau merasa tidak kekurangan apapun saat dia memboyongmu ke sayap kanan bangunan.
Sebagai penghuni Istana, arah ini sangat familiar bagimu. Wewangian harum segera menyambut tatkala kalian menginjakkan kaki di jalan setapak. Rembulan melayang di angkasa, menyinari hamparan bunga seperti cahaya magis. Di tengah-tengah kebun bunga, air mancur memperdengarkan suara percikannya, menggantikan alunan samar pesta dansa di belakang.
Kau menghirup napas dalam-dalam. Seharusnya kau merasa pening dengan kombinasi kuat antara melati primrose, bakung, dan mawar, namun kau justru merasa itu masih jauh lebih menyegarkan daripada mencium parfum pekat yang kau kenakan.
Angin berembus pelan, mengibarkan rambut dan ekor pakaian kalian. Kepalamu menengadah, mendadak merasa bahagia menemukan lebih banyak taburan bintang yang mengisi kanvas malam.
"Aku suka di sini," ucapmu setengah terpana. "Di bawah bintang. Berdua bersamamu. Tidak ada yang mengganggu atau memarahiku untuk melakukan ini dan itu."
"Aku juga," kata Xavier. "Kau tampak lebih cantik daripada di dalam."
"Sungguh?" Kau menelengkan kepala, tersenyum usil. "Aku takkan meminta Kaisar menaikkan upahmu meski kau merayuku, tahu."
Gelak tawa Xavier mengudara. Kemudian, tanpa kata-kata, langkahnya berhenti di depan air mancur, menghadapmu. Waktu seakan berhenti. Pantulan cahaya di aliran air berkilauan. Iris birunya menatapmu sendu, dan kau bisa menyaksikan kosmos berputar di dalamnya. Helai peraknya meliuk-liuk bagai gelombang sutra sayap peri.
Tangan lebarnya meraih tanganmu dan jarinya mengelus punggung telapakmu dengan kelembutan luar biasa, membuatmu bertanya-tanya bagaimana dia menjaga kulitnya tetap halus terlepas latihan pedang setiap hari.
Selama kau sibuk dengan pikiranmu, Xavier mengangkat punggung tanganmu ke wajahnya, menempelkan kehangatan bibirnya di kulitmu. Kecupan itu berlangsung singkat namun berhasil membuat napasmu tercekat.
Jantungmu berdetak kencang menyaksikan kelopak matanya terbuka, tertuju padamu. Dengan sorot cahaya yang tepat, Xavier seperti sosok makhluk dunia lain. Terlalu tampan, terlalu memikat. Seakan-akan semesta berada dalam genggamannya.
Tiba-tiba sesuatu mengusikmu dari pemandangan itu. Sebelah tanganmu terangkat secara impulsif, dan menyingkirkan topeng perak yang menghalangi matanya. Xavier mengerjap, kembali menatapmu, dan dadamu sesak oleh luapan takjub.
Xavier terlalu indah untuk jadi nyata.
"Tuan Putri?"
Bahkan suaranya terdengar bagaikan candu.
Kau berdeham, berusaha menetralkan ekspresi apapun yang kau tampilkan sekarang. "Itu aneh."
"Anda tidak suka?" Lagi, mata itu seperti berbicara kepadamu, dan kali ini dibayangi sorot merajuk mirip anak kucing.
Kau tak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum. "Tidak juga. Hanya merasa terlalu tiba-tiba."
"Kalau begitu, apa kau mau berdansa bersamaku?"
Kali ini seringai yang kau buat. "Nah, seharusnya kau bilang itu daritadi, wahai Ksatriaku."
Dengan satu tarikan pelan, kau mendekat padanya. Kau memegang bahunya dan satu tangannya di pinggangmu. Kalian berputar bersama, menari satu langkah ke kiri dan kanan. Sesekali maju dan mundur tetapi tautan tangan kalian tidak terpisahkan.
Ketukan lagu sama sekali tidak dibutuhkan. Irama kalian saling melengkapi, seakan-akan kalian adalah potongan puzzle yang tepat untuk satu sama lain. Kau bersenandung lembut dan memejamkan mata sesekali. Suhu hangat memancar dari tubuh Xavier, menyelimutimu tanpa betul-betul membakarmu.
Gerakan selanjutnya merupakan putaran. Kau mengendurkan pegangan pada tangan Xavier lalu berputar beberapa kali. Rokmu terentang lebar mengikuti putaran, menciptakan riak putih kemerahan di tengah kebun bunga. Saat hendak kembali merapat ke posisi semula, lengan Xavier menyelinap ke pinggangmu dan kau tahu maksudnya.
Kau melengkungkan tubuhmu ke bawah, seolah hendak jatuh dan seperti yang kau percayai, tangan Xavier menahan punggungmu tepat waktu dan ia pun membungkuk.
Momen singkat itu terasa spesial; wajah kalian sangat dekat. Kau melihat bulan berada di atas kepalanya, melingkar terang bagaikan cincin halo perak. Tetapi matanya menghisap perhatianmu. Figurnya yang kuat serta gesturnya seperti berteriak kau merupakan hal paling berharga dihidupnya.
"Ada apa, Tuan Putri?" kelakar Xavier sambil mengangkatmu berdiri.
"Kau pandai menari," ucapmu asal lantaran malu dipergoki memerhatikan dirinya.
Xavier tersenyum, senyum yang mampu membuat wanita manapun histeris. "Aku masih tidak ada apa-apanya dibanding Master Gabriel."
"Kau terlalu merendah." Sebuah ide muncul di benakmu. Kau mengayunkan tubuhmu, memberi aba-aba untuk melanjutkan tarian. "Maksudku, berarti kemampuanmu di bawahku, 'kan?"
Xavier mengeryit, terlihat curiga tetapi masih mengikuti langkahmu. "Dalam pergaulan sosial, kau memang yang pertama."
"Mengesampingkan Kaisar dan Permaisuri, masih ada Putra Mahkota, Pangeran Kedua, dan Pangeran Ketiga. Putri Kedua juga sedang unjuk gigi belakangan ini."
"Dan kau tidak?"
"Mungkin di bidang lain?" Tanpa menimbulkan suara, kau membuat gerakan putaran tajam. Tampak di sudut matamu Xavier tercengang, namun dengan cepat ia menangkap pinggangmu dan menggiringmu kembali ke ritme semula.
Kau tak mengalah. Manuver gerakan lain kau lakukan; menjauh sambil merentangkan tangan lalu menghambur maju seperti ingin menerobos ke sisi lain. Seakan sudah mengantisipasi, Xavier menggagalkan rencanamu; menahan pinggangmu untuk membuatmu mundur lagi sembari memutarmu dan berakhir saling berpegangan tangan.
Bibir Xavier melengkung tipis. "Apa ini? Kau menantangku?"
"Aku ingin membuktikan aku bisa mengambil kendali."
"Benarkah?" Xavier memiringkan kepala, lalu mengalihkan pandang sejenak. Kau memakai kesempatan itu untuk merentangkan tangan ke samping dan berputar dengan langkah ringan seakan melompat.
Xavier lagi-lagi berhasil mematahkan seranganmu; merentangkan lengan dan menarikmu dalam kukungannya. Ia maju selangkah dan memeluk pinggangmu sementara genggaman tangan kalian yang satunya terangkat. Aroma tubuhnya menerpamu. Aroma sejuk seperti wangi hutan pada malam hari dan tegas seperti tanah lapang. Kau melawan lagi dan lagi, tetapi terus gagal.
Lama-kelamaan tarian kalian menjadi sengit. Gerakan tajam dengan ritme berubah-ubah namun disaat yang sama tubuh kalian bergerak anggun. Mau tak mau kau berpikir apa jadinya jika kalian menari seperti ini di aula. Apa tamu-tamu akan takut, atau justru takjub?
"Kau punya semangat juang yang tinggi," puji Xavier.
Kau cemberut. Bagimu, itu terdengar mengejek. Tanpa melirik di mana benda itu berada, kau melakukan gerakan tipuan. Kau mengayunkan tubuhmu ke samping dan berputar. Saat itu tanganmu terulur meraih pedangnya.
Bilahnya berdesing nyaring saat ditarik keluar olehmu. Memperhitungkan jarak dan panjang pedang, kau menekuk lengan dan berputar dua kali, berhenti dengan memantapkan kuda-kuda di kaki. Xavier membelalak ketika melihatmu mengacungkan pedang legendarisnya, berpose miring seperti ksatria.
"Aku menang," katamu yakin.
Xavier mendengus, menyamarkan senyum. Ia meletakkan sebelah tangan di pinggang. "Itu tak adil."
"Tapi aku berhasil mencurinya," kau mengembalikan pedang itu. "Apa aku sudah melampauimu, Senior?"
Walau tertutup bayang-bayang, mata Xavier tampak berbinar mendengarmu memanggilnya begitu. "Kemampuanmu meningkat sedikit—dan jangan gunakan tarian sebagai latihan. Walau serupa tapi itu tidak sama. Kau bisa datang ke lapangan lusa untuk bergabung bersama yang lain."
"Kalau aku mengalahkan 10.000 wanderer dengan pedang, apa kau akan mengakuiku?"
"Tidak," tukas Xavier. "Aku sudah lama mengakuimu."
"Sebagai yang nomor dua," ralatmu.
"Kau selalu yang pertama dalam hatiku, Tuan Putri."
Seketika, darah berkumpul di pipimu. Kau bersedekap, menyelipkan helai rambut ke telinga. "Sudah sewajarnya. Aku atasanmu."
"Duduklah," Xavier melepas jas, dan meletakkannya ke pinggir air mancur. Lengannya telanjang, memamerkan otot-otot bisepsnya. Ajaibnya, dia sama sekali tak berkeringat.
Kau pun mengikuti saran Xavier; duduk menghadap gedung Istana, berlatar butiran bintang berwarna-warni. Jalan setapak yang membawa kalian kesana berlandaskan batu berukir, diapit bunga-bunga. Kakimu bergoyang santai, merasa nyaman berkat hawa air mancur mendinginkan punggungmu.
Kepalamu bersandar ke bahu Xavier. Kelelahan yang kau tak hiraukan akibat adrenalin perlahan timbul merayapimu.
"Kenapa bintang berkelap-kelip?"
"Itu tanda mereka bernapas." Xavier melepas sarung tangannya, dan meletakkannya di samping.
Kau memerhatikan tangan putih mulusnya, teringat sesuatu. "Apa menurutmu Kaisar akan tetap menentangku menjadi ksatria?"
"Jangan khawatir. Tanpa pengakuan Kaisar sekalipun, siapapun yang melihat kemampuanmu akan langsung menganggapmu sebagai seorang ksatria."
Ucapan itu meninggikan hatimu. Xavier adalah ksatria terhebat di Kekaisaran. Itu sebabnya Kaisar memerintahkannya menjadi pengawal pribadimu, supaya bisa mengekangmu berbuat nekat. Padahal kau suka berpedang.
Kau jatuh cinta pada seni itu saat pertama kali menyaksikan Master Gabriel menyelamatkanmu dari bandit di usia belia. Saat kau tahu tujuanmu menjadi ksatria, kau menginginkan posisi itu. Kau sayang pada kakak pertamamu dan anggota keluarga lainnya. Kau ingin jadi pelindung mereka. Dan ketika bertemu Xavier, teman seperjuanganmu di akademi, kau juga ingin melindunginya.
Tiba-tiba pertanyaan itu terlintas dalam benakmu.
"Xavier, kenapa kau ingin jadi ksatria?"
"Untuk melindungimu."
"Kau selalu bilang begitu. Padahal kau lebih dulu masuk akademi ketimbang aku. Bagaimana mungkin alasanmu adalah melindungiku?"
"Aku tidak berbohong. Itu kenyataannya."
"Tapi aku tidak penting dan tidak cocok jadi bangsawan," kau menatap permukaan tanganmu. Banyak jejak kapalan dan kulit terkelupas akibat terlalu sering mengayunkan pedang. Para pelayan bekerja ekstra keras demi menutupinya malam ini dan semua itu hilang setelah berdansa dengan Xavier. "Aku lebih suka buku daripada perhiasan. Aku lebih suka berlari daripada berdansa. Aku lebih peka terhadap postur berpedang daripada tata krama pergaulan sosial. Permaisuri bahkan kadang-kadang sampai angkat tangan mengajariku. Adikku lebih cocok dengan kriteria tersebut, sementara kakak-kakak lainnya sudah menjalankan suatu wilayah. Aku hanya anak yang tidak diinginkan."
"Itu tidak benar." Xavier menjerat jari-jarinya disela jemarimu dan mengangkat gandengan kalian ke mulutnya. Kau bergidik, merasakan lembut napas dan bibir menyentuh tanganmu.
Kemudian, Xavier menatapmu lembut. Lewat cahaya matanya, alam semesta seakan ikut berbicara kepadamu.
"Aku menginginkanmu," bisik Xavier. "Tidak peduli apa yang orang katakan, tak peduli apa yang kau miliki atau apa identitasmu, kau selalu menjadi yang kuinginkan. Aku akan menemukanmu di manapun kau berada, karena tempatku berada di sisimu."
Seketika kau merasa lemas. Dunia terasa kabur kecuali sosok Xavier.
Pernyataan itu lebih menyentuh dari sumpah ksatria yang pernah kau dengar. Tidak diperlukan upacara mewah, atau serangkaian formalitas untuk disaksikan khalayak umum. Kau hanya perlu ketulusan, cinta dan hormat darinya di waktu pribadi ini.
Sebuah keintiman agape yang tak mungkin dipahami kebanyakan orang.
Kau hendak menghapus air matamu namun Xavier sudah lebih dulu melakukannya. Elusan ibu jari yang lembut dari hidung ke tulang pipi.
"Ingatlah," suaranya rendah dan halus. "Telingaku milikmu. Tubuhku milikmu. Aku akan selalu mendengar semua keluh kesahmu."
Kau mengangguk, dan ia tersenyum. Seakan bangga padamu, Xavier menempelkan kening kalian. Kau memejamkan mata, tidak berekspetasi apa-apa selain menikmati kehangatan yang disalurkan saat dia menambahkan,
"Dan jika itu belum cukup, maka aku berjanji. Aku punya ribuan waktu cahaya untuk selalu meyakinkanmu."
