Actions

Work Header

First Born

Summary:

Kau merasa ketakutan dan kesakitan melewati persalinan tetapi kau tahu siapa yang akan selalu mendukungmu disaat seperti ini.

Xavier mengelus keningmu, menyingkirkan rambut yang menempel dan mencium tanganmu. "Aku di sini."

#XavMCWeek2025 Day 2: Firsts

Notes:

Aku memakai Hun sebagai panggilan sayang Xavier ke MC. Hun dari Hunnie/Honey, atau bisa dari pinyin Hun yang berarti jiwa (cmiiw)

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Kau mengerang. Rasanya sakit sekali. Tidak ada perbandingan konkrit untuk mendeskripsikannya. Perutmu seakan hendak meledak. Keringat dingin mengucur deras dari pelipis maupun tubuhmu. Napasmu memburu tidak beraturan.

Cahaya putih lampu ruang melahirkan ataupun keriuhan orang di sekitarmu tidak bisa kau dengar dengan baik. Kepalamu pusing. Kesadaranmu terasa diambang batas, tetapi kau mendengar dokter memintamu agar tetap kuat selagi kakimu terbuka lebar-lebar.

"Sakit..." Erangmu entah berapa juta kalinya. Pandanganmu berkabut akibat isak tangis yang kau loloskan. "Xavier..."

Sebuah tangan yang sejak tadi menggandengmu semakin mempererat cengkramannya. Xavier mengelus keningmu, menyingkirkan rambut yang menempel dan mencium tanganmu. "Aku di sini."

"Sakit sekali. Aku tidak bisa."

"Kau bisa, Hun. Aku yakin kau bisa."

"Nyonya Shen, atur napas sekali lagi, ya. Tarik, embuskan," dokter berusaha menenangkanmu.

Kau mengangguk, menggigit bibirmu. Sakitnya sungguh tak tertahankan. Berapa lama lagi kau harus mengatasi kontraksi ini?

"Tidak apa-apa, Hun. Semua akan baik-baik saja," bisik Xavier. Perutmu dielus sepintas olehnya sebelum keningmu dicium.

Kau berusaha mempercayai itu di tengah-tengah kubangan kecemasan. Banyak kasus melahirkan yang menewaskan bayi dan ibunya, bagaimana kalau itu menimpamu? Kau menangis lagi, membiarkan air mata meleleh sementara kontraksinya makin menjadi.

Dokter terus memberi arahan padamu, memantau keadaan di bawah dengan perhatian profesional. Perawat berada di sisi lain ranjang, memeriksa denyut jantung bayi pada kardiotokografi.

Sesuatu dalam perutmu berguncang, dan tendangan menyusul. Dan entah bagaimana kau tahu, pembukaan terakhir sudah terjadi.

"Nyonya Shen, anda bisa mendorongnya sekarang," pinta dokter.

Kau mengejan sekuat tenaga. Suaramu terdengar tidak enak di telinga, tetapi kau tidak peduli. Kau merasa butuh menjerit akibat tubuh bagian bawah yang seakan terbelah. Kau berhenti sejenak untuk mengambil napas.

"Perlahan saja, Nyonya. Tarik dan embuskan. Tarik, embuskan," dokter melakukan yang terbaik untuk membuatmu nyaman.

Kau terisak. Pening itu menusuk otakmu sementara tenagamu merembes keluar seperti ban bocor. Tetapi kau mencoba mengumpulkannya lagi, berfokus pada satu arah. Arahan kembali dilayangkan. Kau mendorong isi perutmu. Sebuah tonjolan samar-samar berada di ujung bagian bawahmu, tetapi kau mulai lemas sehingga berhenti dan terengah-engah.

"Nyonya, kita coba sekali lagi."

Kau mengangguk. Ketegangan ruangan kebas menyelimutimu. Penglihatanmu berkunang-kunang. Perasaan sedih karena kecewa tidak bisa melakukan yang terbaik sebagai calon ibu mengerumunimu bak semut. Kau berharap bisa melihat anakmu secepatnya, menghujaninya dengan sejuta ciuman. Tetapi dengan rasa sakit ini, kau menjadi tidak yakin.

"Aku..." Air mata bercucuran tanpa kau inginkan.

"Hun," bisik suara rendah yang selalu menemani malam-malammu. Genggaman Xavier mengencang, memberitahu kehadirannya. "Kau bisa melakukannya. Aku percaya padamu."

Di ambang batas sadar dan tidak, kau menoleh sekilas padanya, menemukan tampang kusutnya, bajunya yang berantakan dan wajah yang dibanjiri air mata oleh gabungan takut serta tekad untukmu. Iris birunya dikelilingi warna merah, dan dilapisi cinta dan harapan buatmu. Kau takjub melihatnya.

Dia ada bersamamu, membagi kehangatan dan kekuatannya lewat sentuhan.

"Nyonya Shen!"

Satu kata itu bagai cambukan. Benar, kau Nyonya Shen. Kau satu-satunya Nyonya Shen dari Shen Xavier yang perkasa. Kau bisa melakukan ini.

Kau mengejan, mengerang selagi mengatupkan rahangmu. Urat lehermu menonjol ke permukaan. Perawat membantu mengangkat lipatan kakimu, mencoba memberi kemudahan selagi tangan lainnya mendorong bagian atas perutmu. Otot panggulmu ikut merespon, bekerja sama mendorong bayimu keluar. Xavier menyebut namamu berulang kali, memberimu kata-kata penyemangat.

Kemudian, sesuatu yang besar melewati organ intimmu, dan ketegangan serta merta pecah menjadi kelegaan yang membanjiri. Kau mengembuskan napas lega tetapi dokter memintamu melakukan dorongan terakhir dan menghitung sebagai acuan.

Kau memberikan segala yang kau punya hingga akhirnya bayimu sepenuhnya lolos dari tubuhmu. Kau ambruk di ranjang, mengerjap tanpa daya sambil menyaksikan setiap mata melebar penuh antisipasi.

Kemudian, dari tangan paramedis yang tengah membersihkan bayimu dari darah dan air ketuban, lengkingan tangis pecah menebas kesunyian, seperti kembang api menyinari malam.

"Selamat, Nyonya Shen, Tuan Shen," kata dokter. "Anak perempuan anda lahir dengan selamat."

"Syukurlah," Xavier berbisik sebelum kau sanggup berbicara. Ia melihatmu, dan kau balas menatapnya. Wajahnya diliputi sukacita. Ia melompat memelukmu, mengecup pipi dan keningmu dengan diikuti serangkaian usapan di kepala.

"Terima kasih, Hunnie. Terima kasih. Terima kasih sudah bertahan. Terima kasih sudah melahirkan anak kita. Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu," ucapnya parau.

Kau meremas rambutnya, mencoba membalas pelukan dan kecupannya sebisa mungkin meski merasa lelah. Kau tidak terlalu memperhatikan apa yang mereka lakukan pada bagian bawahmu. Sakitnya sudah jauh berkurang sehingga bius penghilang rasa sakit mampu menyamarkannya.

"Nyonya," perawat menghampiri sambil menggendong bayi kalian. "Apa anda ingin memeluk anak anda?"

Kau terkesiap, otomatis menyahut setuju. Xavier segera menjauh agar kau bisa meraih buah hati kecilmu. Kesan pertamamu saat memegangnya adalah cemas. Bayimu terlalu rapuh, tulangnya begitu lunak sampai kau takut bergerak kasar sedikit saja bisa menyakiti anakmu, tetapi ketika melihat wajah kecilnya menangis dengan mata terpejam dan kulit yang memerah, semua kekhawatiran pupus seketika.

Kau terisak, memeluk anakmu ke pipimu dan merasakan denyut jantungnya di atas bahumu. Putri yang kalian tunggu, buah hati yang kau cintai segenap hati bersama suamimu, kini hadir di antara kalian. Bernapas dan menangis, memberi tahu dunia tentang kedatangannya.

Xavier mengusap air matanya dan mengelus kepala sang putri saat kau mengubah posisi gendongan; bayimu perlahan kau turunkan ke sepanjang lenganmu, dan siku menopang kepalanya. Ia bergerak-gerak kecil merespon sentuhan Xavier.

"Dia mirip sepertimu," ucap Xavier, membungkuk untuk melihat lebih dekat. "Mirip sekali. Mata, hidung dan bibirnya...."

Kau meloloskan tawa kecil. "Aku sedikit berharap anak kita mirip denganmu. Versi perempuanmu pasti cantik."

"Aku tidak keberatan jika begitu, tapi seperti ini saja aku sudah sangat bahagia," Xavier mengusap pipimu sayang. "Sekarang aku punya dua bintang untuk kujaga."

Cinta meluap-luap dari benakmu. Kau reflek memejamkan mata ketika kecupan Xavier mendarat di keningmu.

"Tuan, apa anda tidak mau mencoba menggendong putri anda juga?" tanya sang perawat sambil memasangkan topi yang kau rajut selama mengandung. Topi merah muda berpola bunga forget-me-not.

Sejenak tubuh Xavier menegang. Tangannya yang senantiasa percaya diri dalam memegang pedang mendadak mengepal layu. Ia melirikmu gelisah, begitu juga rautnya yang berkaca-kaca. "Aku belum pernah menggendong bayi. Bagaimana seandainya aku.... Aku... Kau tahu, 'kan...?"

Saat itu, kau terpana. Antara takjub akan keraguan Xavier dan tersentuh dengan betapa mirip mereka memikirkan hal yang sama untuk anak mereka.

"Tidak apa-apa," kau meraih tangannya, memberikan senyum terbaikmu. "Dia anak kita. Putrimu, dan kau papanya."

Sesaat iris safirnya membulat berkilauan, seolah-olah dia mendapatkan pencerahan dan kebenaran tak terbantahkan.

"Kau benar," seulas senyum terbit di wajah berantakannya. Xavier mengulurkan tangan, ekstra hati-hati saat memegang kepala sekaligus punggung bawah buah hati kalian yang terbungkus handuk.

Kau bisa merasakan Xavier membeku ketika mengangkatnya sedikit, seolah mendapat peringatan dini mengenai betapa lunak tubuh bayi yang baru lahir. Ditambah lagi, tangisan buah hati kalian semakin melengking.

Ia melirikmu cepat, panik antara harus tetap meneruskan atau tidak. Kau mengangguk, masih tersenyum menyemangati. Akhirnya Xavier tetap melanjutkan, berhasil berdiri tegak sambil mendekatkan bayi ke dadanya.

Meski sempat linglung, insting Xavier langsung mengambil alih. Dengan cekatan, ia menempatkan tangannya di belakang kepala sang bayi, dan menggoyangkan badannya ke kiri dan kanan, memberi timangan sambil menatap putrinya lekat-lekat.

"Shh, jangan menangis," bisik Xavier, mendesis pelan.

Kau menyamankan diri di atas ranjang selagi perawat melepas alat-alat bantu medis. Pandanganmu tak lepas darinya. Kau merasa beruntung memiliki Xavier sebagai suami. Sejak awal kehamilan, kau sudah cemas tentang segala proses ini. Mendengar pengalaman orang lain di internet membuatmu tertekan.

Namun Xavier senantiasa mengingatkanmu bahwa dia akan berjuang mendampingimu. Mulai dari mengecek kehamilan, menyediaman hal-hal idamanmu yang unik, membeli perlengkapan bayi sampai saling berpelukan memilih nama. Dia tak pernah membiarkanmu kelelahan dan selalu memperlakukanmu bak ratu.

Xavier sempurna dengan caranya sendiri.

"Tuan Shen sangat hebat," puji perawat. "Ini pertama kalinya saya melihat seorang ayah langsung paham mengenai cara menggendong bayi. Seperti cara penempatan tangan, dan bagaimana mengatur kekuatan gendongannya."

"Benarkah?" Kau berkedip takjub.

Xavier tersenyum menanggapi sambil lanjut bersenandung, menepuk-nepuk pelan lengannya agar tidak mengejutkan si bayi. Suara rendahnya membuatmu merasa lebih baik, seolah-olah peristiwa menyakitkan itu tak pernah terjadi.

Tiba-tiba, tangisan bayimu memelan dan berhenti. Xavier menoleh padamu; panik, bingung dan gelisah. Ini pertama kalinya kau melihat Xavier begitu serba salah. Kemudian, hal baik terjadi. Telapak tangan bayimu membuka, menangkap pinggir baju Xavier, namun terlepas lagi lantaran sendi-sendinya belum kuat terbentuk. Ia menguap, menguburkan kepalanya ke dada Xavier dan dadanya naik-turun teratur.

Xavier melejitkan matanya padamu, terbeliak.

"Hun, kau lihat itu?"

Kau sama terperangahnya dengan Xavier. Suara perawat menengahi momen kalian.

"Tampaknya sang putri punya cara tersendiri untuk mengatakan terima kasih pada ayahnya," komentar ners, sinar irisnya penuh ketulusan. "Siapa nama anak kalian, Nyonya, Tuan? Saya perawat baru yang ditugaskan, dan ingin berkenalan dengannya."

Xavier berjalan mendekati ranjang, memegang lembut sebelah tanganmu dan menatap penuh arti. Kau balas tersenyum, merasakan kehangatan yang tersalur.

Bersama, kalian menoleh pada sang perawat.

"Namanya adalah....."

Notes:

Karena sudah baca sampai sini, kira-kora kalian mau namain anak MC dan Xavier dengan nama apa nih?

Series this work belongs to: