Work Text:
𝙎𝙩𝙖𝙧𝙨
Suara efek dari video game menggema dalam kamarmu. Kau menekan kontroler dengan emosi, berharap mobil keretamu dapat melampaui Xavier yang memimpin pertandingan. Garis akhir hampir terlihat di sudut layar televisi sementara jarak kalian berdua tidak terbentang terlalu jauh.
"Kumohon! Sedikit lagi! Xavier!" pekikmu saat melihat didepan ada benda yang bisa menaikkan kecepatan. Kau berniat menabrak benda itu, dan seperti yang kau takutkan, Xavier justru menabraknya lebih dulu, membuat mobilnya melesat lebih cepat menuju garis akhir.
Tulisan 'You Lose' terpampang di layar. Kau mengerang, berjingkrak-jingkrak gemas sambil mencengkram kontroler.
"Mustahil! Ini sudah kelima kalinya!" serumu.
Xavier menggeser kursi dan mendongak, menatapmu dengan mata biru polosnya. Ia tidak berkata apa-apa, tetapi saat mengetahui kekasihmu bersikap tanpa dosa begitu, kau merasa semakin frustasi.
"Kenapa? Kenapa aku kalah terus?" tanyamu merana. "Biasanya aku lebih jago daripada ini."
"Mungkin kau tidak dalam keadaan prima. Seharian kau pergi ke sekolah dasar untuk memberi pelajaran sederhana mengenai Wanderer, 'kan?"
"Dan kau memutuskan bahwa ini hari terbaik untuk menjadi si paling kompetitif," dumelmu.
Kau merentangkan tangan dan menjatuhkan diri ke ranjang. Bunyi per bergema di telinga. Helaan napas kasar lolos dari bibirmu. Kau memperhatikan langit-langit kamar, penuh hiasan bintang yang kau beli bersama Xavier sebulan lalu.
"Ah, menyebalkan," gerutumu masih tak rela.
Xavier bangkit, pindah dari kursi dan duduk di pinggir ranjang. Seperti biasa, dia menjadi observan. Ia memantau suasana hatimu dan roda gigi seisi kepalanya pasti berputar entah memikirkan rencana apa. Barangkali sebentar lagi dia akan mengajakmu makan—
Alih-alih, Xavier justru menyatukan tangan di depan mulut. Bukan menyatukan seperti mengatupkan tangan untuk menadahkan air atau bertepuk tangan, melainkan saling menautkan jari membentuk genggaman. Kelopak mata Xavier terpejam lembut. Garis-garis mukanya rileks selagi berdoa dengan tenang.
Meski terheran-heran, kau tetap menunggunya sampai selesai. Kau menopang kepalamu, menyampingkan tubuh ketika Xavier mengerjap setelah berdoa dan tersenyum, seakan tak terjadi apa-apa.
"Kenapa mendadak berdoa?" Kau bertanya.
"Aku habis membuat permohonan."
"Tiba-tiba sekali?" Keningmu berkerut.
Xavier mengangguk. "Soalnya tadi ada bintang jatuh."
Makin dalam kerutan keningmu. Seingatmu jendela kamar tertutup oleh tirai. Ditambah lagi, posisi duduk Xavier tidak memungkinkan untuk menghadap jendela. Lantas darimana asal muasal ucapan itu?
Kau hendak menuduh Xavier berbohong namun kau teringat; Xavier lebih sering menyamarkan fakta alih-alih berdusta. Dia jenis orang yang menunggu waktu yang tepat untuk memberitahumu soal sesuatu.
Dalam kasus ini, tampaknya bukan antara dua itu jawabannya.
Kau berpikir keras, mengulas kembali kejadian lima menit terakhir. Kau kalah main video geim, Xavier bersikap biasa saja lalu kau menjatuhkan diri ke ranjang.
Tunggu.
Jatuh?
Dipikir-pikir lagi, Xavier sering menyebutmu bintang, 'kan?
Bintang jatuh. Kau jatuh ke ranjang.
Pandanganmu melejit padanya. "Xavier...." gerammu.
"Iya?" Senyum jahil menghiasi wajah tampannya.
Mendadak sebal, kau melempar bantal terdekat padanya. "Iseng sekali!"
Xavier tertawa lepas. Derai tawanya membuat perasaanmu sedikit membaik tapi masih ingin membalasnya sedikit. Kau merangkak mendekatinya dan berbaring terlentang di sampingnya, memasang ekspresi sedih dibuat-dibuat.
"Daripada menangkapku, kau membiarkanku jatuh dan membuat permohonan...." katamu dengan nada merajuk. "Padahal aku juga punya permohonan tapi kau malah mengorbankanku."
Xavier terdiam sejenak, mungkin merasa bersalah mendengarmu berkata demikian. "Apa permohonanmu?"
"Beritahu dulu apa permohonanmu. Jangan sia-siakan kejatuhan bintangmu ini supaya aku bisa mengabulkannya."
Mendengar pernyataan luwesmu, tawa kecil lolos dari bibirnya. Xavier mengusap kepalamu lembut, kemudian merunduk, mengecup keningmu sejenak sebelum berkata,
"Kau sudah mengabulkannya."
Kau tertegun. Wajah Xavier sangat dekat. Rambut peraknya berjatuhan ke arahmu, menggelitik seperti bulu-bulu sutra. Pipimu terasa panas ditatapi sepasang mata biru cerah. Lantas secara impulsif, kau berkata,
"Aku tidak melakukan apapun."
"Tidak apa-apa. Itu saja sudah cukup." Xavier mengecup pipimu.
Sambil cemberut, kau mengalungkan lenganmu ke lehernya. "Kau mengerjaiku rupanya."
"Aku tidak yakin soal itu." Ia menciummu lagi, kali ini di sudut mata. "Apa permohonanmu?"
"Aku belum mendengar isi permohonanmu," tukasmu, tidak mau menyimpulkan sendiri.
"Sederhana saja. Aku ingin ikut jatuh bersamamu dan mewujudkan permohonan kita bersama-sama."
"Ya ampun, kau memelintir permohonanmu, ya?"
Xavier mencium hidungmu. "Tidak. Tadinya kupikir kita bisa bermain sekali lagi karena sepertinya kau masih bersemangat."
"Nanti kau mengalah padaku."
"Tidak. Kita akan bermain dengan adil."
"Sungguh?"
Tanpa menyahut, Xavier menempelkan bibirnya sekilas pada bibirmu, lantas membelai rambutmu penuh kasih sayang. "Kau bisa pegang janjiku, Hunter."
"Kalau begitu," kau bangun terduduk, menatapnya lekat-lekat. "Boleh aku bertanya sesuatu?"
Xavier mengangguk.
"Kenapa kau tidak menangkapku dan malah ikut jatuh bersamaku?"
Pertanyaan ambigu. Tentu saja seandainya kalau kau hampir jatuh dari ketinggian, Xavier akan menangkapmu. Tapi semisal kau jadi kriminal dan dimusuhi satu dunia, bukankah seharusnya Xavier menangkapmu?
Yah, bisa jadi Xavier tidak terpikir sampai kesana. Mungkin dia bakal berpikir yang kau ucapkan itu perkara bintang jatuh tadi.
Kenyataannya, Xavier justru tersenyum menenangkan. Ia menarik pinggangmu mendekat dan memelukmu dari belakang. Napasnya menggelitik kulit saat wajahnya terbenam di ceruk lehermu.
"Aku percaya padamu," bisik Xavier. "Kau bukan orang egois. Permohonan dan tindakanmu selalu mengutamakan kebaikan dan keselamatan dunia. Aku bersedia menaklukkan rintangan untuk mewujudkannya bersamamu."
"Sekalipun dunia membenci kita?"
Xavier mengangguk dan mencium pipimu lagi. Kemudian kalian bertatapan satu sama lain.
"Karena kita saling mengorbit satu sama lain, My Star. Kita berbagi panjang gelombang yang sama, dan aku selalu menemukanmu sekalipun kau menghilang."
𝙈𝙤𝙤𝙣
Kau terbangun dalam kegelapan. Matamu mengerjap beberapa kali, bingung antara sudah sadar atau masih terlelap. Namun dengan beban yang memeluk pinggangmu dan deru napas teratur di dekat telingamu, kau langsung mengetahui bahwa kau memang sudah terjaga.
Kau membalikkan badan ke arah jendela berada. Samar-samar, matamu mulai menyesuaikan diri dengan semburat cahaya yang menembus tirai putihmu. Tidak ada bulan atau bintang, dan cahaya itu tampaknya berasal dari lampu darurat yang nyaris kehabisan daya.
Itu memberimu sebuah gagasan bahwa seisi gedung dan sekitarnya sedang mengalami pemadaman listrik.
Otot-otot tegangmu melemas. Kau berbalik lagi, menemukan Xavier terlelap pulas di sebelahmu. Meski keadaannya gelap gulita, wajah damai Xavier sangat menarik untuk diperhatikan. Tanpa sadar tanganmu tergerak menyentuh pipinya.
Kerutan kecil muncul di keningnya namun segera lenyap tatkala kau membelai tulang pipinya dengan ibu jari. Kau tersenyum, menikmati kehangatan di antara kalian berdua dan degup jantung sayup yang mengudara.
Kemudian, entah berapa lama waktu berlalu, sinar lampu darurat semakin redup dan redup, hingga akhirnya kegelapan total menguasai pandanganmu. Kantukmu belum kembali, namun karena tidak bisa berbuat apa-apa, kau memaksa dirimu tidur.
Tiba-tiba sesuatu berpendar di balik kelopak matamu. Kau berkedip, mengira listrik sudah menyala. Faktanya, rambut Xavier-lah yang bercahaya. Warna peraknya bersinar terang hingga sedikit menyerupai warna emas. Kau bertopang lengan, terhenyak melihat pemandangan tersebut. Namun kau segera menemukan bahwa sebuah bola cahaya melayang rendah di belakang kepala Xavier.
Kau melirik lelaki itu. Wajahnya yang tertutup bayang-bayang tidak menunjukkan tanda-tanda perubahan ekspresi. Taktik kelas amatir yang hampir sempurna untuk menipumu.
"Xavier...." Kau memukul lengannya pelan. "Kau sudah bangun, ya!"
Dengusan tawa tertahan akhirnya terdengar. Kelopak mata Xavier mengepak membuka, menampilkan dua iris biru jernih menyerupai langit siang hari. Seulas senyum tersungging di bibirnya. "Selamat pagi?"
Kau merebahkan tubuhmu, sedikit cemberut karena tidak sadar kapan Xavier terjaga. "Aku kira sesuatu terbakar di belakangmu," gerutumu.
"Maaf," Xavier memelukmu mendekat, otomatis menempatkan kepalamu ke wajahnya. Ia memberimu kecupan di kening sambil kembali terpejam. Suara seraknya membuatmu meleleh.
Ah, betapa menyenangkannya mendengar suara berat yang seksi itu.
Kedua tanganmu menangkup pipinya. Xavier tidak bereaksi saat kau membelai hidung serta kelopak matanya, tetapi ketika jari-jarimu berkelana menuju jakunnya, Xavier reflek mengangkat dagu dan mengeluarkan erangan.
"Kau..." desisnya memandangmu angkuh. "Apa ini sudah saatnya berburu, Partner?"
"Belum. Aku hanya ingin melihat bulan dari dekat," katamu polos sembari menempelkan kening kalian.
Xavier mendengus, dan tanpa aba-aba langsung menindihmu dengan dua lengan menopang tubuh. Matanya separuh terbuka, mirip kedalaman samudra yang tak terjamah siapapun, sementara bola cahaya buatan Xavier ikut mengambang di belakang kepalanya, bersinar hingga helai-helai peraknya mengingatkanmu pada tekstur lingkaran bulan.
"Kalau begitu," bisiknya parau, "silakan lihat sepuasmu."
"Kau yakin? Tidurmu jadi terganggu." Tanganmu yang terlepas kembali bergerak memangku pipinya.
"Aku sudah bangun," katanya sambil mengerjap, dan kau tahu dia berkata jujur. Sinar itu berkelip di iris birunya.
"Maaf mengganggu tidurmu," ucapmu tidak enak. "Aku tadi terbawa suasana."
"Benarkah? Apa kau menyukainya?" Xavier mengarahkan tanganmu ke lehernya. Senyum terlukis di bibir Xavier, seakan-akan dia meledekmu. Namun kau tidak menyadari hal itu. Jarimu justru membelai sisi leher dengan tatapan menerawang.
"Aku teringat kalungmu," kau menyahut pelan. "Aku tidak tahu kenapa. Aku mendadak gelisah."
"Jangan khawatir. Aku tidak akan menghilang," ada sebuah tekad dalam perkataannya. Xavier menyandarkan kepalanya pada tanganmu yang lain, memejam menikmati kehangatan yang menguar dari kulitmu. "Jadi, kenapa bisa kepikiran soal kalungku?"
"Kau ingat pertemuan kedua kita? Saat di No-Hunt Zone no.7, kau melenyapkan salah satu wanderer di atas tebing. Dan sambil berlatarkan bulan, kalungmu sempat bersinar. Itu saat kau terlalu banyak menggunakan Evol-mu, 'kan? Ingatanku terhubung kesana begitu saja."
"Begitu ya," Xavier tampak termenung sejenak. Tiba-tiba bola cahaya bersinar ke tingkat maksimal, menyebabkan seluruh rambut Xavier berubah keperakan bak bulan malam itu.
"Apa terlalu silau?"
Kau menggeleng dan dia tersenyum lembut.
Xavier tidak menjelaskan apa-apa karena itu tidak diperlukan.
Dia menciummu ketika keraguan naik ke permukaan, membiarkanmu memerhatikannya sepanjang waktu, membiarkanmu menghapus kenangan tentang wanderer, kalung dan bulan itu, serta menggantinya dengan sosoknya yang sekarang, yang senantiasa bersinar layaknya batu star moonstone dalam segala resah dan kegelapan, hingga kau jatuh terlelap dalam dekapannya.
𝙎𝙥𝙖𝙘𝙚
"Kau menyukainya?"
Suaramu mengalun di udara ketika kau berbalik menghadap Xavier. Setelah beberapa minggu kalian menata ulang dekorasi kamarmu, ruangan itu kini menyerupai luar angkasa ketika lampunya disetel remang-remang.
Xavier mengedarkan pandang. Boneka bintang, bulan dan saturnus ungu menguasai ranjangmu. Selimutnya putih bersih seperti warna dasar Bima Sakti. Sarung bantal bergambarkan dua bintang raksasa. Hiasan berupa patung kelinci putih menetap di meja lampu samping ranjang, berbaris bersama jam weker dan tanaman hias dalam kotak kaca.
Di sisi ruangan, meja kerjamu dipenuhi pernak-pernik seputar galaksi. Kau ingat menghabiskan waktu seharian untuk memilih kursi pasangan dan PC terbaik untuk bermain video game bersama Xavier ketika hari libur kerja.
Kau mengganti kertas dinding lamamu dari ungu menjadi abu-abu kosmos. Warnanya sangat serasi dengan lampu-lampu gantungmu yang berdominasi warna kuning temaram. Rak-rak baru yang dipasang Xavier kini telah diisi boneka yang kalian dapatkan dari mesin pencapit. Ada juga komik-komik kesukaan Xavier. Kau sengaja memintanya memindahkan sebagian koleksinya agar dia semakin nyaman berlama-lama di sini.
Kau mendekati meja nakas yang ada di sisi kiri ranjang, dan mengambil botol kaca berisikan lipatan kertas berbentuk bintang. Senyummu mengembang ketika berjalan mendekatinya.
"Ini sudah hampir setahun. Mau membacanya bersama?" tanyamu antusias. Kertas-kertas itu tertulis curhatan maupun permintaan mereka selama ini.
"Bagaimana kalau kita tunggu genap setahun?" usul Xavier, lalu memandang sekitar lagi sambil tersenyum. "Dan aku menyukainya. Kamar ini. Rasanya seperti pulang ke kampung halaman."
Kau tertawa pelan. "Kau terdengar seperti kakek-kakek saja."
"Benarkah?" Nada Xavier selalu terdengar ringan dan jahil jika membicarakan lelucon, membuatmu makin rileks di sekitarnya.
Lantas kau bergegas menukar botol kaca dengan sebuah mesin proyektor mini yang tergeletak di atas meja. "Aku mau menunjukkan ini padamu. Baru datang tadi."
"Apa itu?" Xavier naik ke ranjangmu dan bersandar ke kepala ranjang. Secara natural kau juga memanjat naik, duduk di antara kedua kakinya, membiarkan punggungmu menempel di dadanya.
"Proyektor galaksi," jelasmu singkat, lalu merentangkan tangan panjang-panjang ke samping. "Duh, aku lupa mematikan lampu."
"Biar aku saja," tawar Xavier. Dengan sedikit gerakan, lampu-lampu dipadamkan. Kamarmu mendadak gelap gulita. Sementara itu, bertumpu pada ingatanmu, kau meraba-raba mekanisme proyektor itu, mencari tombolnya. Setelah beberapa saat, kau masih belum menemukannya.
"Butuh bantuan?" Xavier bertanya di telingamu. Spontan kau bergidik. Kau terlalu lengah untuk menerima itu meskipun sudah sering merasakannya.
Pipimu merona samar. "Tolong berikan sedikit cahaya."
"Siap, Tuan Putri," dan hanya dengan satu acungan telunjuk, sebuah cahaya berpendar menerangi kotak proyektor. Kau membalikkan benda tersebut dan menemukan tombolnya.
"Oke, aku akan menyalakan sementara kau mematikan cahayamu. Dalam hitungan, satu, dua... Tiga!"
Secara bersamaan, cahaya Xavier menghilang dan proyektor menyala, menunjukkan kemegahan tata surya yang begitu indah. Decak kagum lolos dari mulutmu, sedangkan Xavier memeluk pinggangmu erat dari belakang. Sekelilingmu yang gelap bertaburkan bintik bintang bermacam warna. Mereka berkelap-kelip, dan batu-batu kecil seperti meteor melintas di sampingmu.
Tergantung arahan jarimu, keadaan tata suryanya bisa bergerak-gerak. Kau bisa memperbesar planet tertentu hingga satelit-satelit mereka terlihat.
"Keren sekali! Replikanya terlalu nyata!" ocehmu bersemangat. "Kita jadi tak perlu susah payah menyewa roket untuk berkeliling planet lagi."
"Pengalaman yang ditawarkan berbeda. Di sini kau tidak bisa mendarat dan berkelana di masing-masing planet. Kalau kau mau berpergian, katakan saja. Aku akan menyewanya untukmu."
"Jangan. Kita harus berhemat!" Kau menepuk pelan lengan Xavier yang melingkari perutmu. "Setelah pengeluaran beberapa bulan terakhir, kita dilarang boros."
"Kau tahu jumlah uang di rekening kita, 'kan?"
"Tetap saja pemborosan itu tidak baik!" Kau mengomel pelan.
"Kalau tiap hari makan Hot Pot di restoran langganan?"
"Ya ampun, itu caramu menghindari makan sayur, 'kan?"
"Aku tidak benci sayur. Hanya saja daging lebih enak."
"Itulah yang dikatakan anak-anak saat merajuk disuruh makan sayur," kau menggeleng tak habis pikir. "Besok aku yang masak makan siang."
Xavier mengeluarkan jurus pamungkasnya. Tatapan bak anak kucing yang meminta pertolongan di pinggir jalan. Kau mengapit pipinya dengan jari-jarimu dan menekan-nekannya. "Tidak mempan. Kali ini kau harus menghabiskan semua sayur."
"Apapun masakanmu akan kuhabiskan," jawab Xavier. Ia meletakkan dagunya di pucuk kepalamu, menggeseknya pelan seperti mencari perhatianmu. Kau menepuk-nepuk lengannya dalam ritme menenangkan.
Selama sesaat, kalian diam menyaksikan pergerakan kosmos. Kau terus mengamati satu persatu planet yang bisa kau temui bahkan kehadiran lubang hitam yang mengancam di ujung sana. Lantas, sebuah pemikiran terlintas dalam benakmu.
"Xavier," kau bergumam. "Kau merindukan kampung halamanmu? Philos?"
Lelaki itu tidak menjawab. Napasnya pelan, begitu juga detak jantungnya yang selalu di bawah rata-rata manusia normal. Kau mengaitkan jari-jarimu ke tangannya, menggenggamnya sembari menanti. Akhirnya setelah beberapa menit terlewati, Xavier menyampaikan isi hatinya.
"Bukan Philos yang aku rindukan," Xavier merunduk, memandangmu dari samping. "Tapi ruang angkasanya. Wilayah di mana aku bisa melihat tempatku seharusnya berada."
Sejujurnya itu sedikit membingungkan. Philos itu seperti apa? Dan bukannya Philos itu kampung halamannya? Tetapi berdasarkan kalimat itu, mungkin yang dirindukan Xavier adalah wilayah di mana dia bisa melihat angkasa sesuka hati; dataran di mana ia bisa bersama seseorang menyaksikan keindahan langit sambil berandai-andai.
"Setiap kau rindu dengan rumah," ucapmu tanpa sadar, "kita akan menyaksikan proyektor ini bersama. Aku akan menemanimu sampai kau merasa baikan," katamu sambil bertindak manja dengan mengusapkan kepala ke lehernya.
Xavier mematung, seakan-akan terpana. Tetapi pada akhirnya ia memelukmu lebih erat, dan mencium kepalamu berlama-lama bak menyerahkan diri seutuhnya pada dirimu.
"Tidak apa," bisik Xavier. "Ini ruang angkasa favoritku sekarang, karena rasanya seperti kau pulang bersamaku."
