Actions

Work Header

Your Help

Summary:

Sebagai anak baru di suatu perusahaan, tentu saja kau punya pembimbing tetapi bagaimana ini? Selagi Senior Pembimbingmu, Xavier, tidak masuk lantaran sakit paska kecelakaan ringan, dua seniormu justru membebankan tugas mereka padamu! Kau harus menghabiskan waktu semalam suntuk untuk mengerjakan tugas yang bahkan bukan bidangmu.

Namun, keajaiban terjadi.

"Senior Shen?"

"Kenapa kau masih di sini?"

#XavMCWeek2025 Day 4: Office AU

Work Text:

   

    Malam sudah larut. Seisi gedung perusahaan tempat kau bekerja sunyi senyap. Semua orang sudah pulang, dan hanya tersisa kau di balik meja kerja dengan layar monitor menyala.

    Kau membanting punggungmu ke sandaran kursi, menghela napas kasar dan menangkup muka. Matamu perih akibat terlalu lama menatap layar. Sekujur tubuhmu menjerit pegal sampai kaku sendi-sendinya.

    Rasanya menjengkelkan. Dadamu terasa berat mengingat pekerjaan yang tidak selesai-selesai kau kerjakan. Ini semua gara-gara para senior divisi sebelah yang asal melempar pekerjaannya padamu.

    Sejujurnya kau bisa saja menolak, dan kau pasti akan melakukannya dengan tegas. Kau tahu itu bukan tanggung jawabmu, terlepas kau pegawai baru yang bagi mereka bisa seenaknya disuruh-suruh. Tetapi mereka memakai cara curang.

    Setelah buru-buru menjelaskan isi dokumen yang harus dikerjakan, senior pertama langsung kabur tanpa memberimu kesempatan berbicara. Senior kedua juga bergegas memohon padamu sambil menyerahkan setumpuk kertas. Dia beralasan hari ini ulang tahun pernikahannya dan tak mau membuat istrinya sedih menunggunya pulang terlambat.

    Mendengar itu, hatimu tersentuh. Kau memujinya sebagai suami yang baik, lalu menolak permintaannya. Kau menggunakan bahasa santun mengingat usianya yang setengah abad, namun dia tetap bersikeras memaksamu, berjanji mentraktirmu di lain hari sambil meninggalkanmu menuju lift.

    Kau tecengang. Amarah mendidih naik ke ubun-ubun. Di tengah kesunyian kantor, kau hampir menjerit tidak terima. Tentu saja kau berpikir untuk melongos pulang dan bersikap seolah tak terjadi apa-apa. Itu pilihan terbaik, apalagi dua tugas yang diberikan bukan bidangmu. Namun sebuah pertimbangan muncul menghentikan langkahmu.

    Mereka adalah senior dengan posisi terkuat di sini. Senior pertama punya banyak koneksi. Jenis orang yang menguasai jaring pergaulan seisi perusahaan. Sedangkan senior kedua, dia sangat dihormati akan kepandaiannya dalam bekerja. Kau curiga tugas mendadak ini juga hasil limpahan dari atasan lain.

    Memikirkan dampak dari mengabaikan permintaan mereka membuatmu pusing. Akhirnya kau memutuskan untuk mengerjakan sebisamu. Setidaknya dasar-dasar konsep dan perhitungannya sudah kau pahami.

    Saat berpikir kau sudah menyelesaikannya dengan baik, kau menemukan kesalahan di mana-mana. Banyak sekali sampai kau berulang kali merevisinya. Namun semakin lama, masalah baru bermunculan. Perhitungannya tidak seimbang, diagramnya tidak sesuai dan benda-bendanya kurang sesuai dengan bukti tagihan yang ada.

    Kau menelpon senior-seniormu tetapi tidak diangkat. Rasa frustasi mengalahkan rasa laparmu. Kau ingin pulang tapi disaat yang sama kau tidak sanggup membayangkan wajah kecewa atau meremehkan terpampang di muka mereka.

    Bagaimanapun kau masih pegawai baru. Posisimu masih rentan di sini. Kau takut didepak jika dinilai tidak becus kerja. Jiwa perfeksionismu juga tidak banyak membantu di situasi seperti ini.

    Dengan berbagai terjangan emosi, bola matamu terbakar air mata. Kau menggigit bibir sementara badanmu bergetar menahan isak tangis. Kau merasa buruk. Kau merasa tidak berguna. Semua usahamu terlihat sia-sia. Kenapa kau bisa sebodoh ini? Apa kerja di perusahaan ternama memang menguras kewarasan?

    Seandainya Senior itu datang membantu....

    "Junior?"

    "Kyaa!" Kau terperanjat kaget. Kursimu tergelincir ke belakang akibat rodanya tak mampu menahan gerakan tiba-tiba. Kau panik, tak sempat menangkap pinggir meja dan kakimu terlalu lemas untuk menghentikan lajunya. Kau nyaris terperosot jika saja seseorang tak memegang sandaran kursimu.

    Di tengah gedoran detak jantung, kau mendongak tinggi, menemukan wajah tampan yang balik terbeliak menatapmu. "Senior Shen?"

    "Kenapa kau masih di sini?" Xavier menyahut bingung. Ia mengenakan jaket putih dan celana panjang, tampak seperti anak kuliahan yang baru lulus sepertimu.

    Kau menelan ludah, celingukan menatap jam di layar monitor. Apa dia berhalusinasi?

    "Senior sendiri kenapa di sini? Bukannya Senior kecelakaan kemarin? Harusnya Senior istirahat di rumah!"

    Itu benar. Shen Xavier adalah senior yang ditunjuk atasan kalian sebagai mentormu. Minggu pertama kau bekerja terasa lancar berkat bantuan Xavier. Ia sangat profesional. Tutur katanya sopan dan mudah dimengerti sehingga otakmu yang encer dapat cepat menyerap bimbingannya. Namun karena kecelakaan tabrak lari yang menimpanya, Xavier dipaksa ambil cuti untuk masa penyembuhan.

    Xavier menyunggingkan senyum. Ia menarik kursi kerjanya yang persis di sebelah mejamu, sedikit terseok saat mencoba duduk. "Aku mau mengambil dokumen. Direktur memintaku memeriksanya. Katanya besok ada pertemuan penting antar pemegang saham."

    "Tapi kaki Senior terluka, 'kan? Kenapa tidak minta tolong saja padaku?"

    "Aku sudah menelponmu tapi sambungannya sibuk," jelas Xavier. "Saat aku lewat apartemenmu, kulihat lampunya mati. Kupikir kau jalan-jalan dan tak mau diganggu, ternyata kau bermalam di sini," matanya bergulir melirik layar monitor. Lantas kerutan muncul di keningnya. Bukan karena heran, melainkan jengkel. "Bukannya ini kerjaan divisi sebelah?"

    Kau menunduk gugup. "Itu... Emm... Kau benar. Senior-senior melimpahkannya padaku."

    "Kau bisa mengerjakannya?"

    "Tentu saja tidak! Mereka egois. Seenaknya saja melempar pekerjaan padaku."

    "Lalu kenapa tidak menolaknya?"

    "Sudah kulakukan, tapi mereka tidak mendengarkanku. Aku tidak bisa mengabaikannya karena aku anak baru. Aku takut dipecat."

    "Itu takkan terjadi. Aku akan membelamu. Terutama kalau dilihat dari diagramnya, ini sama sekali bukan gaya mereka dalam menjelaskan," Xavier menuding satu diagram. "Kau lihat ini? Kalau kau perhatikan presentasi minggu lalu, mereka menyusunnya bukan seperti ini. Direktur punya mata yang jeli, jadi pasti ketahuan kalau ini bukan pekerjaan mereka."

    "Dengan kata lain, kalau aku berhasil mengerjakan ini, apa aku bisa mengambil hati Direktur?" ucapmu bersemangat. "Barangkali posisiku jadi tidak rawan dipecat lagi."

    Xavier menopang dagunya, menyunggingkan senyum tipis. "Kau takut dipecat, ya?"

    "Tentu saja. Aku sudah nyaman bekerja di sini. Cari pekerjaan baru juga tidak semudah membalikkan telapak tangan. Lagipula, kapan lagi bertemu senior sebaikmu?" Kau mengacungkan jempol dan menyengir lebar.

    Xavier tertawa. "Aku tidak sebaik itu, tapi aku bisa membantu mengarahkanmu."

    "Benarkah?" Kau berseru. "Terima kasih sudah menyelamatkanku! Aku akan mentraktirmu, Senior!"

    Kemudian, hal yang tak terduga terjadi. Perutmu keroncongan. Suaranya nyaring sampai-sampai menggema ke seluruh penjuru ruangan. Kau spontan memeluk perutmu, mengalihkan pandang dengan muka merah. "Senior tidak dengar apa-apa, 'kan?" ucapmu tergesa.

    Xavier mendengus geli. "Sepertinya tadi ada benda jatuh. Kau pikir itu hantu?"

    "Cerita hantu lagi?" katamu merajuk. "Sudahlah, Senior. Aku tidak takut."

    "Menurutmu begitu?" Xavier tersenyum miring. "Kira-kira kemarin siapa yang minta tolong ditemani sampai ke depan apartemen gara-gara takut lorong sepi?"

    "Senior!" Kau meninju lengannya ringan. "Kita satu apartemen. Tidakkah senior tidak mau membantu tetangganya? Ini lagi musim penjahat. Manusia lebih menakutkan daripada hantu!"

    "Benarkah?"

    "Benar!"

    "Tapi, apa kau tahu? Kau beruntung tidak suka kopi."

    "Hm? Apa maksudmu? Aku suka. Kopi seduh di dapur divisi enak."

    Xavier mengerjap, lalu merenung serius dengan jari menempel di dagu. "Aneh sekali."

    "Kenapa?"

    "Seingatku ada yang tewas karena keracunan kopi seduh. Makanya kopi seduh di dapur ditiadakan dan diganti kopi kaleng."

    "Huh?" Kau membeku di tempat. "Tapi... Di rak ada kopi seduh. Tanggal kadaluarsanya juga masih lama!"

    "Apa kau yakin bukan punya orang terdahulu?"

    Matamu melirik lorong. Suasana sunyi senyap yang kau anggap menenangkan mendadak menimbulkan kengerian. "Senior, jangan takut-takuti aku. Nanti aku tidak berani lembur lagi."

    "Biar aku temani," Xavier menarik kursinya mendekat. "Sebaiknya kita selesaikan ini dulu lalu pergi makan."

    Kau melirik jam tanganmu dan meringis. "Aku tidak sadar sudah jam 11 malam. Apa masih ada yang buka?"

    "Hotpot masih buka."

    "Eh? Semalam ini? Memangnya mereka buka 24 jam?"

    "Kalau tidak salah, menjelang festival, mereka buka sampai tengah malam."

    "Oke! Aku tidak sabar makan yang panas-panas!" katamu sambil menggeser kursi ke meja. Kau menoleh pada Xavier dengan cengiran lebar. "Senior, mohon kerja samanya!"

    *******

    Setelah dua jam yang panjang, akhirnya pekerjaanmu selesai. Xavier benar-benar senior yang bisa diandalkan. Kau bersyukur dia tidak mendiktemu mentah-mentah. Dengan begitu, kau dapat mempelajari hal baru selama sesi bimbingan. Suasana hatimu juga berbunga-bunga lantaran mendapat pujian bertubi-tubi.

    Saat turun ke lobi, kau menyadari Xavier berjalan tertatih-tatih. Itu membuatmu merasa buruk sebab tidak tahu harus melakukan apa untuk menolongnya.

    "Senior," panggilmu lembut. Lampu jalan menyorot sendu di atas trotoar. "Lukamu separah apa?"

    Xavier bergumam rendah. "Tidak sampai patah."

    "Itu bukan jawaban yang tepat," gerutumu, lantas kau menghela napas. "Seandainya ada bis di sini."

    "Jangan khawatir. Restorannya dekat."

    "Aku tahu itu..." Kau menunduk sejenak memperhatikan caranya melangkah dan bahumu merosot sedih. "Kelihatannya sakit sekali."

    "Aku tidak akan jatuh begitu saja," Xavier tertawa menanggapi. "Tapi kalau kau sangat khawatir, bagaimana kalau pegang tanganku?"

    "Hm?" Kau menatap tangan mulus nan lentik yang terulur kepadamu. Sepintas, heran menghampirimu. Tetapi kemudian kau memahami maksudnya. Dengan senang hati, kau menyambut tangan Xavier dan menggenggamnya erat. "Serahkan padaku. Aku bisa menahanmu seperti tongkat bantu jalan."

    "Itu melegakan," balasnya ringan.

    Kalian mengobrol sepanjang perjalanan. Kebanyakan adalah ceritamu di kantor saat dirinya tidak masuk. Kau memberitahunya kisah-kisah lucu dan gosip yang beredar. Seperti yang kau duga, Xavier tidak begitu tertarik dengan kabar burung. Dia terlihat mengantuk.

    "Apa kita pulang saja?" tanyamu sewaktu sampai di pertigaan. Restoran hotpot dan apartemen kalian berlawanan arah.

    Xavier menggeleng, mengucek sudut matanya. "Rasanya tidak enak tidur dalam keadaan perut kosong."

    "Senior belum makan malam juga?"

    "Aku tertidur sepanjang hari. Dan aku tidak ingat apakah aku makan siang..."

    Kau mendesah kagum. "Bagaimana caranya kau masih hidup sampai sekarang?" katamu. "Senior, pola hidupmu kacau."

    "Entahlah," ia menarikmu ke jalan sebelah kanan, ke jalan di mana restoran berada. "Aku hanya tahu, kalau tidak makan sekarang, kau akan makan mie instan."

    "Eh? Darimana kau tahu?!"

    "Kau suka makan di dekat jendela. Aromanya terbawa sampai ke atas apartemenku."

    "Ah, maafkan aku."

    Xavier menggoyangkan genggaman tangannya. "Kau suka rasa apa? Kuperhatikan kau mencoba setiap rasa."

    "Rasa original yang terbaik, walau yang rasa daging sapi juga enak."

    "Rasa daging sapi mirip rasa hotpot tapi kering."

    "Benar! Ternyata kita sependapat, ya?" katamu antusias. "Ah, itu restorannya. Hati-hati, Senior. Jangan buru-buru."

    Aroma tajam khas rempah-rempah mengepung kalian sesaat pintu terbuka. Rasa laparmu meningkat seketika. Kau mengedarkan  pandang, mencari meja kosong. Tanpa diduga, ternyata banyak meja yang terisi oleh bapak-bapak. Semuanya mengenakan baju kantor.

    "Kurasa restoran ini penyelamat bagi orang-orang yang kelaparan, ya?" gumammu sambil memboyong Xavier ke meja paling pinggir. Kalian pernah sekali makan di sana, dan menurutmu itu tempat paling nyaman karena tidak mencolok. Namun entah mengapa, kalian tetap jadi pusat perhatian saat melintasi ruangan.

    "Senior, pesanlah apapun yang kau suka," katamu penuh percaya diri. "Aku juga akan makan banyak."

    "Apa kau yakin?" tanya Xavier.

    Kau berasumsi Xavier mencemaskan keuanganmu. Sebagai pegawai baru dan masih harus membayar cicilan lainnya, tentu saja itu bisa dibilang pemborosan. Tapi apa pedulimu? Kau sudah memantapkan hati untuk puas makan hari ini.

    "Tidak apa! Hitung-hitung aku balas budi padamu, Senior," ucapmu tulus.

    Xavier tersenyum dan kau merasa dunia ikut bersemi gara-gara senyuman indahnya. "Kalau begitu, aku takkan menahan diri."

    *****

    Kau sering menghabiskan waktu sendirian dengan bermain geim tetapi ini pertama kalinya kau terjaga sampai jam dua pagi dengan seorang pria. Dari semua itu, berita baiknya, kau makan sampai perutmu hampir meledak.

    "Aku tidak yakin apakah bisa bangun tepat waktu," gumammu sambil menyesap kuah hotpot. "Sudah hampir subuh dan aku takut tidur kelamaan gara-gara kekenyangan."

    "Aku akan menjemputmu nanti pagi," sahut Xavier, menjepit potongan daging terakhir dengan sumpit dan melahapnya tanpa beban. Kau takjub akan perut karetnya, tapi disaat yang sama kau terheran-heran.

    "Senior, kakimu masih sakit, 'kan? Jangan memaksakan diri."

    "Tidak. Mengecek dokumen-dokumen ini bisa menghabiskan waktu semalaman. Aku takkan tidur lagi. Kakiku juga sudah baikkan berkat seseorang," Xavier mengerling padamu dan kau merasakan jantungmu berdetak kencang.

    "Yah," kau menyahut gugup. "Kalau itu mau Senior, aku akan sangat berterima kasih. Aku punya firasat kalau ditelpon sekalipun tidak mempan padaku."

    "Bukankah kita semua begitu?" jawab Xavier santai. "Kau sudah bekerja keras hari ini. Aku harus menunjukkan mukaku di kantor sebagai orang yang paling bangga akan itu."

    Kau tersipu. "Padahal Senior bisa ambil cuti lebih lama lagi."

    "Kau tidak suka aku datang?" Lelaki itu menatapmu melas, persis anak kucing yang menatap induknya. Dan saat itulah kau tahu kau memiliki kelemahan terhadap tatapan itu. Kau buru-buru mengayunkan tangan, agak salah tingkah.

    "Tidak, bukan begitu. Aku khawatir Senior kerepotan gara-gara aku."

    "Kau tidak pernah merepotkan, Junior," sahut Xavier. "Sebaliknya, kau meringankan bebanku."

    "Benarkah?" Sorot matanya yang tertuju lekat padamu membuatmu sedikit canggung. "Oh, maksudmu kerjaan, 'kan? Baiklah, aku akan berjuang lebih keras agar bisa mengambil sebagian kerjaan Senior!"

    Xavier tertawa. Alunan nadanya menenangkan hati alih-alih menyakiti telinga. "Sekarang kau yang memaksakan diri."

    "Tidak. Aku sangat ikhlas," ucapmu, lalu berpaling mengambil tas selempang. Kau mengulurkan tanganmu sambil berdiri. "Ayo, Senior, kita pulang."

    Xavier menggandeng tanganmu tanpa banyak bicara tetapi jelas senyumnya menolak luntur. Kau membawanya ke kasir. Saat kau menyebut nomor meja dan hendak menempelkan ponselmu pada mesin pembayaran, sang kasir segera mencegahmu.

    "Pesenan anda sudah dibayar semua, Nona," ucapnya sopan.

    "Eh? Siapa yang bayar?"

    Sang kasir menunjuk sebelahmu. Xavier memiringkan badan ketika kau menoleh padanya. Senyum usil menghiasi wajah tersebut. Kau menepuk lengannya.

    "Senior! Kapan kau membayarnya? Aku sudah bilang biar aku yang traktir," omelmu.

    "Aku punya kartu anggota di sini. Seumur hidup," kata Xavier sambil menunjukkan kartu dari dompetnya.

    Kau tercengang, dan menatap sang kasir untuk konfirmasi. Kasir itu balas mengangguk padamu. "Benar. Tuan Shen adalah tamu VVIP yang sudah lama langganan di sini."

    Kau kehabisan kata-kata. "Whoa..." dengusmu tak percaya.

    Xavier mengangkat bahu, dan membungkuk mensejajarkan pandangan kalian. "Kalau begitu, mari kita pulang, Junior?"

    Masih tidak habis pikir Xavier adalah tamu VVIP, kau membiarkan Xavier berjalan lebih dahulu keluar restoran. Tentu saja tanganmu masih reflek menopang tubuhnya yang terpincang-pincang. Namun setelah beberapa saat, ketika angin dingin subuh membelai pipimu, kau cemberut.

    "Aku merasa ditipu," ungkapmu jujur. "Aku ingin mentraktirmu. Kau sudah banyak membantuku sejak hari pertama masuk kerja."

    "Kau bisa melakukannya lain kali," Xavier menyahut pelan. "Kecuali kau berniat berhenti setelah satu bulan bekerja."

    "Mana mungkin! Aku saja takut dipecat."

    Xavier mengangkat kepala, memancingmu memandang ke arahnya. Emosi sendu memenuhi mata sejernih kristalnya. "Aku tidak punya rekan sebelumnya jadi aku masih beradaptasi."

    "Sungguh? Kalau begitu," kau mengeratkan genggamanmu dan menyunggingkan senyum. "Aku akan jadi rekan terbaikmu, Senior. Silakan bersandar padaku kalau kau mengalami kesulitan. Aku akan berjuang meringankan lebih banyak bebanmu."

    Raut Xavier, jika memungkinkan, semakin lembut menatapmu. Kau bisa melihat percikan emosi positif di permukaan retina birunya, dan pipinya yang bersemu merah.

    "Kau sangat baik," bisik Xavier.

    Kau hendak membantah bahwa itu salah, bahwa Xavier jauh lebih baik hingga rasanya mustahil tidak menganggapnya jelmaan karakter sempurna. Namun entah kenapa, atmosfirnya sedikit berubah saat lelaki itu mengucapkan kalimat selanjutnya.

    "Jangan cemas, Junior," tekad menyelubungi suaranya. "Aku akan membuat jalanmu dipenuhi bunga."

    *****

    Keesokan harinya, Xavier dan dirimu jadi bahan pembicaraan orang-orang.

    Kau tidak tahu di mana Xavier berada, namun saat kau hendak membeli minuman kaleng di lorong buntu, kau mendapati sekumpulan senior sedang istirahat di sana, menggosipi hubungan kalian berdua.

    "Kau lihat Shen tadi?" seseorang memulai topik dan kau reflek bersembunyi di balik tembok tikungan. "Dia menyeringai pada Senior Zhang dan Zhao sebelum masuk ruang rapat. Dia benar-benar marah sampai mereka tidak berkutik."

    "Caranya mematahkan semua argumen Senior Zhang terlalu halus sampai tidak terlihat balas dendamnya. Aku sampai merinding."

    "Sebentar, kenapa kalian ribut begitu? Bukannya mereka adalah top tiga di perusahaan? Tentu saja mereka saling bersaing."

    "Kau ini! Shen tidak pernah membalas meski keduanya selalu cari gara-gara," orang itu mengecilkan suaranya namun kau masih bisa mendengar. "Sebenarnya, dokumen presentasi dan laporan hari ini mereka limpahkan pada juniornya Shen. Rencananya, kalau hasilnya jelek, mereka akan merundungnya. Tapi kalau hasilnya bagus, mereka ambil kreditnya dan diam-diam menyuruhnya kerja lagi."

    "Wah, itu keterlaluan."

    "Apa menurutmu juniornya mengadu?"

    "Sepertinya tidak. Senior Zhang yakin anak baru itu tidak berani. Dari wataknya, mustahil dia mau mengganggu waktu istirahat Shen."

    Memang benar, kau menyakui dalam hati. Kau tidak tega menelpon Xavier gara-gara itu.

    "Kalian tidak ada di ruangan jadinya tidak mengerti," sela seseorang. "Tapi sepertinya anak itu mengadu. Shen tahu juniornya dimanfaatkan dan terang-terangan menyudutkan mereka selama presentasi. Idenya dipuji Direktur, lalu dia pun bilang kalau juniornya juga sudah bekerja keras. Dari sana dia menjelaskan secara implisit bahwa hasil kerja para Senior adalah pekerjaan si anak baru. Wah, aku berani bersumpah, suasananya tegang sampai aku berdoa biar rapat cepat-cepat selesai."

    "Seseru itu?"

    Kau mengambil dua langkah mundur sepelan mungkin, lalu berlari menjauhi tempat itu. Entah kenapa kau ingin bertemu Xavier. Kau ingin melihat wajahnya. Kau sadar tidak baik mengungkit kejadian tadi atau mengkonfirmasi apapun yang dibahas mereka.

    Kau hanya ingin melihat penyelamatmu.

    Kau mencari ke berbagai macam tempat tapi Xavier tidak dimana-mana. Kau bertanya-tanya apakah dia sudah pulang duluan mengingat kondisinya yang masih sakit. Kau meraih ponsel. Dilema melandamu ketika terlintas ide untuk menelponnya.

    Kau memutuskan menjadikannya sebagai cara terakhir dan pergi menuju tangga darurat. Kau punya firasat jikalau Xavier kelelahan, maka tempat itu yang paling sempurna untuk beristirahat.

    Pintu berdebum pelan di belakang. Tidak sampai tiga undakan kau turuni, kau sudah melihat penampakan Xavier terlelap dalam keadaan duduk bersandar di tengah-tengah perpotongan tangga.

    Posisinya sangat tidak nyaman; setengah meringkuk dan satu kaki lurus. Kepalanya tertunduk menghadap tembok. Kau meringis seolah-olah ikut merasakan ketidaknyaman tersebut.

    Kau duduk di sampingnya, perlahan dan tanpa suara. "Senior?" bisikmu.

    Tidak ada respon.

    Kau mengayunkan tanganmu di depan wajahnya.

    Masih tidak ada respon.

    Kau terdiam sejenak. Mengamati posisi Xavier lalu secara hati-hati menggerakan kepalanya ke bahumu. Lenguhan tipis terdengar, dan kau tercekat, bersiap merangkai alasan semisal Xavier terbangun, namun Xavier justru kembali tenang. Tanpa sadar bibirmu melengkung.

    "Terima kasih," kau berbisik lembut sambil menatap kejauhan. "Aku tidak akan melupakan kebaikanmu, Senior."

    Kau sudah menduga tidak mendapat jawaban. Yang tidak kau duga adalah matamu ikut terpejam lelap hingga matahari terbenam, di bahu seseorang berambut perak.

Series this work belongs to: