Actions

Work Header

I'll fight by your side, forever

Summary:

Kau terjebak dalam labirin dengan pakaian berwarna merah bagaikan mawar. Masalahnya, kau bahkan tidak ingat apapun. Kau hanya mengikuti arah bintang yang muncul setelah kau memungut senjata-senjata itu. Sayangnya, tidak ada jalan keluar. Bintang penunjuk terakhir menetap di tempat, bahkan nyaris hilang.

"Bintang, kembalilah padaku!"

Dan bintang itu kembali, untuk bertarung bersamamu melawan Wanderer yang menginginkan kematianmu.

#XavMCWeek2025 Day 5: Little Prince

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

    Kau bermimpi panjang hari itu.

    Kau terjebak dalam labirin semak bunga setinggi tiga meter. Langitnya gelap saat kau mendongak. Wanginya menguasai udara seperti tusukan panah yang tajam. Kau mengeryit, sedikit kewalahan mencium bau itu, lantas kau menunduk ke bawah.

    Kau mengenakan pakaian merah seperti darah; kelam namun berani, celana panjang dan jas berekor mekar layaknya gaun. Warnanya serasi dengan bunga-bunga di sekitarmu. Mawar, kau menyadari dalam waktu singkat. Ada mawar di mana-mana. Bahkan hiasan setelan dan aksesorismu bertemakan bunga mawar yang telah mekar maupun berkuncup.

    "Dimana ini?" Kau bergumam, berputar mencari petunjuk.

    Keberuntungan menghendakimu. Yang kau temukan adalah sebuah pedang menancap di tanah, bercahaya terang bagaikan lampu penunjuk jalan. Kau pun tersadar, cahaya yang sejak tadi menerangimu di lingkungan gelap itu adalah pedang tersebut.

    Kau reflek mendekatinya, ragu-ragu meletakkan tangan di pegangan pedang. Terlintas di benakmu bahwa mungkin pedang itu terkutuk atau semacamnya, namun saat menyentuhnya, yang kau rasakan adalah kehangatan dan kerinduan, serta keakraban. Kau mencabut pedang itu dengan seluruh tenagamu.

    Ternyata tancapannya tidak sekuat yang kau kira.

    Kau terhuyung-huyung ke belakang, nyaris terjungkal akibat kekuatanmu sendiri. Pedang itu sedikit meredup menyesuaikan matamu saat kau menaruh ujung bilahnya di tanganmu, menjatuhkan ribuan bubuk emas bak hujan sebelum lenyap menyentuh tanah.

    'Pedang apa ini?' Kau bertanya-tanya dalam hati, membolak-baliknya sejenak sebelum mengibas-ngibasnya seperti seorang ksatria. Dan lagi-lagi perasaan familiar merayapimu.

    Apa kau pernah menjadi ksatria atau sejenisnya?

    Bingung dengan identitasmu, kau mulai memperhatikan jalur yang ada. Ada dua jalur saat ini, mundur atau maju, tetapi kau pun bingung jalur mana yang kau lewati sebelumnya karena rasanya seolah kau baru jatuh di sana.

    "Seandainya ada petunjuk lain...."

    Ajaibnya, bagai menjawab ucapanmu, pedang itu kembali bersinar. Kau terperanjat kaget, menyentakkan pedangnya sejajar wajah dan setelah mengamati dengan kepala jernih, hanya ujungnya saja yang bercahaya.

    Kau mulai ketakutan. Apakah itu indikasi bahwa ada monster jahat yang hendak menyerang? Gugup menggerayangimu. Kau mengambil kuda-kuda, yang membuatmu sedikit terkejut karena kau tidak merasa pernah menjalani pelatihan semacam itu sebelumnya. Kau ayunkan pedang secara memutar, mengecek kedua jalur maupun dinding labirin, tetapi sinarnya tetap stabil.

    Heran, kau menjatuhkan ujung bilah ke bawah. Cahaya itu mendadak padam menjadi titik kecil. Otakmu seketika bekerja menyatukan potongan teka-teki, dan mendadak muncul firasat bagaimana cahaya itu bekerja.

    Kau menarik napas, dan mengacungkan pedangmu ke atas. Semburat cahayanya menjadi menyilaukan seperti sinar matahari. Kau memejamkan matamu sejenak, tetap meneguhkan lenganmu tinggi-tinggi. Sesaat cahayanya perlahan memudar, matamu mengerjap, mendapati bubuk-bubuk emas yang tadinya melayang jatuh kini terbang ke angkasa, membentuk sebuah benang tipis berkilauan ke langit.

    Sesuatu yang ajaib terjadi. Bintang tiba-tiba muncul di kanvas malam, berkelap-kelip menunjukkan napasnya. Lalu, satu bintang lain muncul, dan lainnya muncul lagi. Mereka bermunculan secara berurutan, membentuk barisan lurus dan berbelok di kejauhan.

    Melihat itu, ide sekaligus harapan ikut mekar dalam benakmu. Lantas kau menatap jalur di depanmu, yang mana sejalur dengan arahan bintang.

    Rasa syukur membanjirimu. Kau menengadah, tersenyum lebar terhadap bintang-bintang.

    "Terima kasih!"

    ****

    Itu aneh. Kau menemukan tiga senjata lainnya di tiga tempat berbeda. Yang pertama pistol kembar, yang kedua adalah pedang raksasa dan yang ketiga merupakan tongkat magis. Masing-masing memunculkan serangkaian bintang saat kau mengangkatnya ke langit, memandumu ke destinasi selanjutnya.

    Dengan denyut jantung menggebu-gebu, kau menenteng pedangmu ke destinasi terakhir. Entah kenapa, tiga senjata lainnya bisa menghilang dan muncul sendiri ketika kau membayangkannya. Sungguh praktis bukan? Kau memiliki empat senjata untuk melindungi dirimu dari bahaya.

    Tetapi ketika kau berdiri di bawah bintang terakhir, kau tak menemukan apapun. Kepalamu celingukan, dan kau sadari dinding labirin itu dipenuhi bunga-bunga layu. Semak-semaknya berwarna kuning seakan dehidrasi. Putus asa menyambangimu, tetapi kau berusaha berpikir positif.

    Mungkin ini saatnya kau berjalan sendiri tanpa panduan bintang. Maka kau melangkahkan kaki ke jalur lain, dan menemukan persimpangan. Kau memilih arah ke kiri, mengikuti instingmu. Setelah beberapa meter, kau kembali ke tempat yang sama. Kau mencoba belokan kanan, namun setelah perjalanan berkelok-kelok berulang kali, kau hanya sampai ke titik awal.

    Di simpang itu.

    Kau tersesat.

    "Bagaimana ini?" gumammu, sambil pulang ke bawah bintang terakhir. Bintang-bintang lain telah lenyap sehingga tak mungkin kau kembali ke tempatmu terbangun tadi.

    Merasa sedih, kau jatuh terduduk di sana, memeluk lututmu erat-erat. Pedangmu bersinar temaram, seakan-akan mencerminkan suasana hatimu.

    Kau ingin pulang. Tapi bagaimana? Mengapa kau dilindungi empat senjata? Bahaya apa yang mengancammu? Apakah harus melawan sesuatu terlebih dahulu agar menemukan petunjuk pulang?

    Matamu menatap ke arah bintang. Durasi kelap-kelipnya semakin lama semakin pelan, seperti detak jantung yang sekarat. Mengapa seperti itu? Apa karena kekuatan cahaya dari senjatamu kurang?

    Tunggu. Apa kau salah lihat? Sepertinya bintang itu berpindah posisi meski sedikit, dan sinarnya semakin redup seakan menjauh.

    Tanganmu mengepal emosional. Jika bintang itu hilang, maka satu-satunya temanmu ikut menghilang. Maka dengan pemahaman sederhana, kau mempertaruhkan segalanya di gagasan tersebut. Kau memunculkan semua senjatamu dan menancapkannya ke tanah dalam keadaan terbalik, kecuali pedang pertama.

    Sulit melakukannya mengingat harus mengarahkan ujung masing-masing senjata ke langit, terutama pedang raksasa itu.

    Setelah beberapa kali percobaan, akhirnya kau berhasil. Kau menepuk tangan dari tanah lalu berdiri merentangkan pedang ke langit.

    "Bintang, kembalilah padaku!"

    Cahaya terang meluncur dari masing-masing senjata ke angkasa. Cahayanya dapat membutakan mata sehingga kau reflek terpejam erat. Durasinya bahkan lebih lama dari sebelumnya sehingga kau harus berdiri sampai kaki dan tanganmu pegal.

    Kemudian, cahaya itu sirna seperti uap. Kau menghirup udara malam sebelum mengerjap. Untungnya, seperti yang kau harapkan, bintang tunggal itu bersinar kian membara, tetapi tetap tak mengundang bintang lain. Itu sudah cukup sebagai alasan agar kau bertahan di sini.

    "Oke, sekarang waktunya untuk berkeliling—"

    Ucapanmu terpotong keributan di suatu tempat, seperti campuran raungan, rintihan dan ratapan yang memilukan jiwa, merangkak-rangkak dalam bunyi menghanguskan sekaligus dentuman keras dari dua jalur yang mengapitmu.

    Entah bagaimana kau tahu apa itu meski tidak pernah mengenalnya di dimensi ini.

    "Wanderer...." Kau mengatupkan rahang. Cengkramanmu terhadap gagang pedang mengencang tatkala sekumpulan wujud monster itu muncul dari tikungan labirin.

    Tiga wanderer sekaligus. Satu monster bertangan runcing bagaikan bilah, monster singa beraliran listrik menyelubungi tubuh dan wanderer Golem berlumut raksasa.

    Informasi mendadak mengisi benakmu, seakan-akan ada yang menyuntiknya.

    "Herte Knave, Thunderoar dan Byro Golem..." Kau mengenali nama mereka satu persatu, begitu juga dengan titik lemah mereka.

    Mendengar bunyi terseret-seret dari jalur lain, kau pun mengintip ke sana. Kali ini yang muncul adalah segerombolan Vulcaneon, wanderer bundar dengan dua lempengan batu melayang di sampingnya. Kau segera tahu bahwa itu adalah wanderer yang menyusahkan mengingat mereka bisa menerbangkan batu-batu beberapa detik sekali.

    "Berarti harus selesaikan tiga ini dalam waktu dua menit, ya?" Kau menyeringai setengah hati, mengibas-ngibaskan pedang layaknya seorang ahli sambil memikirkan rencana penyerangan paling efisien.

    Kakimu menapak mantap di tanah, menunggu para wanderer itu masuk ke batas wilayahmu sebelum kau melompat ke arah mereka dengan ayunan pedang. Kau merasakannya; sensasi familiar dari menyerang secepat kilat.

    Cahaya putih melesat seiring tebasan yang kau lakukan pada Herte Knave, mencabik lengannya hingga salah satu bilahnya putus. Kemudian kau melakukan kibasan miring, merontokkan pinggulnya dari bagian atas punggung. Wanderer itu ambruk tanpa meninggalkan bercak darah, alih-alih sebuah asap hitam membumbung seperti uap dan lenyap.

    Kau berpaling pada Thunderoar, dan dengan cepat melompat mundur tatkala wanderer itu menyergapmu dengan lompatannya. Ekornya melecut ke arahmu, tetapi kau berhasil mengelak. Bekas tusukan ekornya yang mengenai tanah mengeluarkan percikan listrik. Kau mengeryit, mengingatkan diri agar tidak melewati area itu jika tak mau tersetrum sebelum kembali menerjang maju.

    "Kembalilah ke asalmu!" Kau berusaha mencabik-cabik tubuh kerasnya dengan empat kibasan dan satu hujaman, namun itu tidak cukup. Tubuhnya lumayan keras ketimbang Herte Knave sehingga terkadang kau kembali mundur sambil mencari jarak aman sebelum menyerang.

    "Ini sulit," kau melirik Byro Golem yang hanya beberapa meter dari lingkaran pertempuran kalian. Wanderer satu itu mulai mengejarmu lagi, dan mau tak mau kau melompat menghindari tinjunya yang berasal dari atas.

    Keseimbanganmu sempat goyah saat mendarat. Kau cepat-cepat memperbaiki postur tubuhmu dan menukar senjatamu dengan pistol. Kali ini bunyi letusan peluru memborbadir tubuh Thunderoar dan Byro Golem. Dengan senjata jarak jauh, kau bisa berlarian ke sana kemari menghindari serangan mereka yang lambat dan presisi.

    Thunderoar gugur menjadi debu hitam. Byro Golem menggebuk-gebuk tanah murka. Aura protocore kehijauan meledak bersama raungannya, mengempaskanmu hingga jatuh berguling-guling. Kau menggeram kesakitan, buru-buru bangkit tatkala sebuah bayangan raksasa terbang ke arahmu.

    Byro Golem melompat ke arahmu.

    Dengan adrenalin mencekik leher, kau merangkak menghindar. Byro Golem mendarat persis sepuluh senti dari ujung kakimu, menggetarkan daratan dengan beban tubuhnya. Embusan anginnya membuatmu terlempar hingga menabrak semak labirin.

    "Yang.... benar saja..." kau bergumam lirih. Tanganmu mencengkram semak, menjadikannya penopang selagi susah payab berdiri. Sekujur tubuhmu terasa remuk, luka-luka akibat duri mawar mengoyak kulitmu, tetapi disaat yang sama gerombolan Vulcaneon mulai terlihat memasuki ke lingkar Protofield.

    Dua menitmu hampir habis.

    Kau mendongak. Byro Golem berjalan garang ke arahmu. Peluru sudah dipastikan tidak akan mempan dalam jarak sedekat ini. Tanganmu terbuka lebar ke samping dan pedang raksasa claymore mendadak muncul menjawab panggilanmu.

    "Oke, mari kita coba," gumammu sambil melesat maju. Kau menebas tubuh batu itu dalam satu ayunan besar dan melompat mundur. Cahaya memantul keluar dari claymore, begitu juga kekuatan tersembunyi dalam dirimu.

    Kau melakukannya sampai tiga kali, meretakkan sisi tubuhnya hingga Byro Golem tampak hendak tumbang. Batu-batu yang jatuh terkikis memberitahumu bahwa satu serangan brutal dapat mengakhiri hidup semunya. Sebelum Byro Golem itu sempat menggebuk tanah, kau mengerahkan seluruh tenagamu untuk melakukan satu manuver mematikan.

    "Rasakan ini!" Aura kuningmu membara. Kau melompat setinggi mungkin, mengayunkan pedang dari sisi samping bawah tubuh, dan mengibasnya secara diagonal. Kepala Byro Golem terputus. Beban pedang membuatmu melakukan satu kali tebasan lagi sebelum mendarat.

    Tubuh Byro Golem seketika pecah berkeping-keping di belakangmu, menguap hilang menjadi debu kelam. Kau mengais napas keras-keras dan rakus, sesak akibat kekurangan oksigen dan adrenalin. Kau jatuh berlutut, menjadikan claymore sebagai pegangan.

    "Sampai kapan aku harus bertahan?" gumammu seraya mendongak menatap jalur. Keringat membanjiri wajahmu seperti lelehan lava, dan begitulah panas yang akan dihasilkan Vulcaneon sebentar lagi di tanah Protofield ini.

    Tidak ada waktu lagi untuk menghindar. Kau menghilangkan claymoremu dan memunculkan tongkat sihir dari ketiadaan. Sambil berjuang bangun, kau mengumpulkan energi lalu menembakkan cahaya keemasan bertubi-tubi ke arah mereka.

    Tongkat itu memberimu dua serangan lain, yaitu menyentakkan musuh ke atas selama sedetik dan serangan area beberapa saat. Setidaknya serangan itu berhasil mengulur waktu serta mengembalikan tenaganya. Itu aneh, tetapi kau sama sekali tidak memusingkan mekanismenya.

    Nyawamu sekarang lebih penting.

    Entah berapa lama kau bertarung malam itu, tetapi matahari tak kunjung terbit. Musuh tidak henti-hentinya mengincarmu. Keempat senjatamu terus kau gunakan untuk melindungi diri laksana duri bunga mawar dalam pertahanan.

    Gemetar akibat kelelahan, kau bersandar pada pedang. Mulutmu terbuka, terengah-engah dengan mual dan pusing yang melanda dashyat. Tubuhmu lengket oleh darah dan peluh, seakan-akan berkata bahwa kau akan tinggal tengkorak jika memaksakan diri.

    Sekumpulan wanderer lain sudah terdengar dari tikungan, mengirimkan kengerian padamu.

    "Astaga, kapan ini berakhir?" Kau mendongak tinggi pada langit. Bintangmu masih di sana, bersinar terang layaknya lampu penunjuk. Tetapi kau merasa sengsara karena sendirian melawan semua bahaya.

    "Dimana kau berada?" ratapmu tanpa sadar. "Kembalilah padaku."

    Kau bisa merasakannya setelah pertarungan sengit tadi. Kau punya seseorang yang bertarung bersamamu. Kau punya seseorang yang akan menjaga punggungmu selagi menghunuskan pedang. Seseorang yang biasa kau anggap rival dan teman seperguruan.

    Seseorang yang kau ketahui sebagai partnermu.

    Partner.

    "Xavier..." Kau terkesiap. Nama itu berdentang bagaikan lonceng dalam kepalamu. Kau terhuyung, mengerang sambil mencengkram sisi kepala. Kau ingat semuanya.

    Dia yang meninggalkanmu dengan pesawatnya. Dia yang tersenyum padamu terakhir kali sambil mengikrarkan janji. Dia yang menjadi seniormu dalam berlatih pedang. Dia yang berambut putih, bermata biru seperti langit berbintang dan bersikap jahil dengan kelembutan luar biasa.

    Dia partner bintangmu.

    Setetes air mata jatuh dari pelupukmu.

    "Xavier..." Kau merentangkan tangan ke atas. Beban di dadamu bertambah menyiksa. "Kembalilah pada bintangmu ini."

    Lengkingan Foulwings memotong sentimentalmu. Ia terbang ganas bersama kawanan kecilnya, bersiap memasuki Protofield. Kau mencabut pedangmu dari tanah, tidak mempedulikan darah yang mengucur dari luka-lukamu. Kau menghirup aroma dingin malam, menelan ludah sambil mengambil ancang-ancang.

    "Tahan sedikit lagi—"

    Dengung tajam seolah meledak memotong angkasa. Kau sontak mendongak. Betapa terkejutnya dirimu melihat bintang tunggalmu semakin dekat, jatuh mengarah padamu. Tetapi setelah diamati lebih lama, kau menyadari bahwa itu bukanlah bintang.

    Melainkan kapal angkasa.

    "Tunggu dulu!" jeritmu panik. Pesawat itu hampir beberapa ribu meter lagi darimu. "Jangan bilang itu jatuh ke sini?!"

    Kau celingak-celinguk, mencari tempat berlindung walau itu mustahil. Kemudian, lampu pesawat berkedip-kedip heboh. Yang kau lihat selanjutnya adalah lintasan pesawat itu berubah—atau mungkin memang tidak pernah mengarah padamu. Pesawat itu melesat ke kejauhan, ke titik awal kau terbangun.

    Saat pesawat itu jatuh, dentumannya menghasilkan gelombang angin dashyat. Kau menancapkan pedang sedalam mungkin dan berlutut, berdoa dalam hati agar wanderer dari jalur itu tidak terlempar ke arahmu, atau sebaliknya, kaulah yang terempas ke kumpulan wanderer.

    Tetapi kau tak merasakan apa-apa. Bahkan angin pun berhenti mengenaimu padahal jelas terdengar desaunya di sekitar. Matamu mengerjap hati-hati, bertanya-tanya apa yang menjadi tamengmu dan kau pun terhenyak.

    Anginnya seakan berhenti disuatu tempat. Seakan-akan sebuah sungkup transparan melindungimu. Kau menggeleng tak percaya setelah mengulurkan tangan. Tidak, itu bukan sungkup. Anginnya mundur ke belakang persis beberapa meter darimu. Bagaimana itu terjadi? Bagaimana waktu angin bisa diundur?

    "Ketemu," seseorang berbisik, dan kejadiannya begitu cepat. Seakan kilat lepas dari tanah, cahaya melonjak seperti jaring, merusak tubuh-tubuh wanderer di sekitar hingga rontok menjadi abu hitam.

    Sebuah bayangan berdiri di hadapanmu. Seraya mendongak, kau mendapati baju familiar berwarna putih gading dengan garis keemasan. Rambut peraknya bergerak mengikuti angin sementara pedang di tangannya bersinar temaram. Sosok itu menoleh ke belakang, dan seketika dadamu membuncah penuh kerinduan.

    "Xavier!"

    Semua rasa lelah seakan raib dari kakimu. Kau melompat bangun, membuka lengan lebar-lebar dengan linangan air mata. Xavier berbalik kencang. Mata birunya melebar seperti cawan langit biru. Ia menghambur baju dan pedangnya dilempar sebelum menangkapmu ke dalam dekapannya.

    "Aku tahu," ucapmu bergetar. "Aku tahu kau pasti kembali, Pangeran Kecilku."

    "Bintangku," bisiknya di telingamu. Nadanya sarat akan ketidakpercayaan selagi membenamkan wajahnya di ceruk lehermu. "Aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi."

    Kau mengangguk. Kehangatan yang menyebar dari tubuhnya terasa melelehkan semua kekhawatiranmu. Kau terkulai lemas dalam pelukannya dan Xavier menghela napas seakan seseorang meninju perutnya. Ia memeluk pinggangmu erat.

    "Kita harus pindah dari sini."

    "Tidak apa-apa. Aku masih bisa bertarung," ucapmu sambil menarik diri. Sorot mata Xavier menandakan ketidaksetujuan tetapi kau menggeleng sambil berputar menghadap sumber suara raungan, di mana wanderer lain berbondong-bondong menghampiri kalian.

    "Terlalu berbahaya," akhirnya Xavier membantah. "Kau terluka, dan hampir pingsan."

    "Berapa lagi yang akan datang?" ucapmu sambil menoleh pada pesawat terbang berteknologi canggih yang karam beberapa ratus meter dari lokasi kalian. Dinding labirin telah rusak akibat tiupan angin sehingga para wanderer juga bisa melewati itu. "Sebelum kemari, kau seharusnya sudah lihat berapa jumlah mereka."

    "Tiga gelombang lagi, dan satu wanderer SSS," jelas Xavier sambil berdiri menghalangi jarak pandangmu. "Aku akan melindungimu tapi jangan terlalu gegabah."

    "Aku mengerti," ucapmu sambil memunculkan pedang. Wanderer Malachite dan Carmine Talon sudah memasuki jarak pandangmu. "Kita bisa menuntaskan ini bersama-sama. Sudah jadi tugas Lightseeker untuk membunuh Wanderer."

    "Ya," kata Xavier. Pedangnya berdesing saat dikibaskan. "Mari kita lakukan dengan cepat."

    Dengan langkah serentak, kalian menyongsong maju ke gelombang pertama. Memori badanmu mengambil alih. Tanpa ucapan, serangan kalian saling melengkapi untuk menumbangkan satu musuh demi musuh. Pedangmu menghunus dan menebas, sementara Xavier berusaha memberi ruang bagimu dengan cara menumbangkan wanderer lain yang hendak mengincarmu di titik buta.

    "Hati-hati! Menjauh darinya!" Xavier berteriak padamu sesaat Thunderoar mencoba menerjang. Ia menangkisnya dengan pedang hingga wanderer itu melompat mundur. "Apa kau masih bisa lanjut?"

    Kau menusuk dada Herte Knave yang hendak menggorok lehermu. "Ya! Aku bahkan belum berkeringat."

    "Tetaplah di belakangku," bisik Xavier dan kau bergegas mengekorinya ke Wanderer tingkat A lain.

    Galewings terbang seperti elang pematuk di angkasa. Kau berlari mengelak, mencoba memotong kakinya saat ia terbang merendah. Xavier menepis salah satu sayap batunya hingga Galewings tersebut jatuh tersungkur. Erangannya mengundang belasan Wanderer.

    Kau terkesiap, lalai menyadari serangan ekor Velox Venator. Luka melintang sepanjang lenganmu, mengucurkan darah merah segar. Xavier terkesiap mendengar eranganmu setelah menjatuhkan Flamma Ignis di sisi lain Protofield.

    "Kau tidak apa-apa?"

    "Ya, aku cuma ceroboh saja," sahutmu sambil menyentakkan tangan. Sakit, tetapi tidak mengganggu pergerakan. Kau berbalik, menghadapi ombak terakhir Wanderer. "Setelah ini kita melawan Wanderer SSS, kan?"

    "Ya. Berhati-hatilah, jangan sampai terkena serangannya lagi."

    "Kalau begitu, aku akan menggunakan ini," kau menyongsong maju ke gerombolan Malachite, dan menggunakan Shining Blade's Shadow—sebuah kemampuan untuk menebas dalam kilatan cahaya yang memberikan dampak area.

    Tiga Malachite itu langsung gugur menjadi debu, tetapi begitu juga dengan dirimu yang sedikit terhuyung.

    "Jangan berlebihan," tegur Xavier sambil melayangkan serangan Starlight Storm pada Velox Venator, menghancurnya hingga tak bersisa.

    Kalian kembali menari dalam kilatan pedang. Tidak peduli sebanyak apa luka yang menodai kulit kalian atau siapapun yang terempas, kalian akan saling melindungi satu sama lain, dengan teknik berpedang yang kalian pelajari di akademi.

    Perlahan-lahan, jumlah musuh berkurang.

    Kau terengah-engah. Tenagamu jelas terkuras banyak setelah bertarung sejam tanpa henti. Tampaknya Herte Knave tadi adalah yang terakhir dalam gelombang. Kau berbalik mencari Xavier. Lelaki itu berlari menghampirimu.

    "Wanderer SSS-nya?"

    "Dia datang—"

    Raungan ganas menggetarkan tanah. Bayangan datang dari atas, sebelum kau sempat menangis layangan kapak, Xavier sudah mendorongmu ke samping. Kau jatuh terguling-guling, begitu juga Xavier yang tak sanggup menahan kapak dengan pedangnya.

    "Xavier!" jeritmu bergegas membantunya berdiri.

    "Tak apa-apa," Xavier mengusap mulutnya dari darah. "Perhatikan gerakannya, lalu kita lakukan Resonasi."

    Kau mengangguk. Kau tidak menunggu penjelasan apa artinya resonasi, kau tahu saja apa yang harus dilakukan jika waktunya sudah tiba.

    Kapak melayang lagi, dan kali ini kalian berpencar kedua arah sebelum melawannya habis-habisan dengan tebasan pedang. Kau melakukan Slicing Light berulang kali, berusaha mencari titik butanya namun Myst sangat pintar. Ia kadang-kadang berputar-putar sambil merentangkan kapaknya layaknya gasing kematian.

    Kau ingin sekali mengomel. Itu manuver paling mengesalkan yang pernah kau lihat. Tetapi itu belum seberapa. Myst bahkan bisa membuat area kabut yang mampu melarutkan apapun di dalamnya sehingga kalian harus berhati-hati dalam melangkah.

    Xavier mengaktifkan Starlight Storm—cahaya meliputi pedangnya dan memanjang, dan dalam sekali kibasan kasar serangan diagonal Myst berhasil dibatalkan. Kau melihat mata Xavier melirik cepat ke segala arah, memperhitungkan banyak hal dalam waktu singkat sebelum menyerang lagi.

    Sementara itu, kau mencabik sisi tubuh Myst, memperhatikan serpihannya jatuh selagi wanderer itu melolong marah. Mundur dalam jarak aman, kau berlari mengitarinya dan mendapati lubang kecil keropos di punggung Myst. Seakan sadar akan kehadiranmu, wanderer itu berbalik tiba-tiba, berusaha melindungi bagian belakangnya menggunakan ayunan kapak.

    Secara gegabah, kau menahan kapak tersebut, membuatmu terseret beberapa meter. Terdengar teriakan Xavier. Perhatian Myst teralihkan, begitu juga kapaknya yang kini membidik lelaki itu.

    "Xavier! Aku melihat titik lemahnya!" serumu sambil mempersiapkan pedang.

    Setelah berhasil menghindar dari serangan, Xavier berlari menuju satu titik. "Berdasarkan pola gerakannya.... Kita bisa resonasi sekarang!" serunya.

    Badanmu sontak melesat mengejar Xavier. Ia tahu Xavier mengincar titik itu, posisi dimana Myst tidak bisa melindungi bagian belakangnya ketika panik.

    "Comet Trail!" Kau dan Xavier berhenti dan saling memunggungi, dan melakukan pengumpulan energi pada pedang. Dua jarimu menyusuri bilah dari bawah ke atas. Xaviee melakukan hal yang sama, mengirimkan kekuatannya padamu. Cahaya ungu seketika berkumpul di jarimu dan kau merasakannya. Energi dashyat yang hendak menghancurkan.

    "Jatuhlah!"

    Kau menghantamkan telapak tanganmu ke tanah. Tiba-tiba, seolah ditarik menggunakan cahaya ungu tersebut, pedang raksasa jatuh menusuk Myst, membuatnya tak berkutik.

    "Musuh dalam keadaan sekarat. Ini kesempatan kita!"

    Tanpa banyak bicara, serangan pedang menghujani Wanderer tersebut. Tidak ada rasa kasihan dalam diri kalian. Slicing Light, Shining Blade's Shadow dan Starlight Storm dikerahkan secara bertubi-tubi.

    Lolongan pilu Myst memberitahumu bahwa tinggal sedikit lagi nyawanya akan lenyap.

    "Habisi dia." bisik Xavier. "Dengan Galactic Pulse."

    "Siap! Sword of the Stars!" Kau menarik napas dalam-dalam. Melakukannya penuh penghayatan, kau mengibaskan pedang secara horizontal sambil menyerap kekuatan cahaya yang berada di sekitarmu. Bintik putih berkelap-kelip, saling menyambung menjadi sebuah rasi bintang yang menari di sekitar pedangmu. Kau menarik pedang sejajar telinga, berancang-ancang.

    Di saat yang sama, Xavier melakukan pengumpulan energi dengan pose ksatria—meletakan pedang lurus di depan wajah sebelum berdiri di samping dirimu selagi menekuk lutut sedikit, bersiap menerjang.

    "Kita harus selalu menunjuk ke arah yang sama."

    "Dimengerti!"

    Tanpa menghitung mundur, secara kompak kalian melesat bersama, dalam kecepatan yang tidak bisa dilihat manusia, menjadi kilatan cahaya putih yang menembus Wanderer hingga bunyi desing pedang mencabik-cabiknya sampai meledak.

    Kalian berdua mendarat, mengibaskan bilah ke samping sebagai upaya pembersihan sisa energi kotor. Ketegangan dan waswas berdengung di seluruh nadi. Kalian berbalik, mengamati bubuk hitam membumbung ke udara seperti uap cerobong, menyisakan sebuah protocore kuning keemasan.

    Setelah melayang sejenak, akhirnya protocore itu jatuh di atas rerumputan. Kesunyian terasa nyaring di telingamu. Sambil mendesah lega, kau merosot jatuh. Xavier berlari menangkap pundakmu.

    "Bertahanlah," bisik Xavier menggelitik telingamu.

    Kau mengerjap. Semua tenaga terkuras habis hingga kepalamu pening. Luka-luka terasa tumpul, tidak mampu menjaga kesadaranmu. Kau tidak bisa berpikir apa-apa, bahkan tidak bisa memutuskan langkah apa yang harus kau lakukan selanjutnya.

    Hanya satu hal yang kau ketahui.

    Kau meraih tangan Xavier, meremas jari-jari lecetnya menggunakan sisa tenagamu.

    "Xavier..."

    "Aku di sini."

    Kau menoleh, menatap lurus pada mata biru cerahnya meski pandanganmu sudah memburam.

    "Aku bersyukur kau kembali padaku."

    Kelelahan seketika membungkus kesadaranmu. Kau tenggelam, terseret arus kegelapan tiada batas, dan hal terakhir yang kau dengar adalah suara Xavier memanggil namamu.

    *****

    Kau mengeryit. Sinar yang amat menyilaukan mengarah ke matamu. Indramu perlahan-lahan berfungsi lagi. Kau mencium aroma bunga, mendengar kicauan burung dan merasakan hangatnya cahaya mentari.

    Setelah beberapa saat, kau berhasil mengerjap. Yang pertama kau lihat adalah langit oranye. Gumpalan awan berarak mengikuti angin seperti sekumpulan kapas. Kau menoleh, mendapati tanaman-tanaman hias mengisi balkon.

    "Sudah bangun?" Suara lembut menyapamu.

    Kau menoleh ke sumber suara. Xavier setengah duduk menghadapmu. Sinar matahari tumpah menghujaninya, bagaikan sorotan agung yang menonjolkan rambut peraknya. Bibir Xavier melengkung menanggapi kebingungan di wajahmu.

    "Tidurmu pulas," ucap Xavier sambil mengusap kepalamu. "Aku tak tega membangunkanmu. Tapi sepertinya matahari tadi terlalu menyilaukan, ya?"

    Butuh waktu lima detik untukmu menyadari bahwa Xavier sebelumnya berbaring di sampingmu, tetapi begitu menyadari sinar matahari menyakiti matamu, dia memilih duduk menghalanginya.

    "Berapa lama aku tertidur—huh?" Saat kau berusaha bangun, sebuah buku jatuh dari perutmu. Buku anak-anak bergambar anak kecil bermahkota.

    "Kau tertidur saat membaca, dan sepertinya sudah hampir lima jam?"

    "Hah? Kenapa kau tidak membangunkanku!?" pekikmu tidak percaya.

    "Kau kelelahan. Bukankah sepanjang hari kemarin kau melawan Wanderer di No-Hunt Area? Kau hampir binasa."

    "Tapi kau datang menyusulku," jawabmu otomatis.

    "Mustahil aku tidak melakukannya," Xavier menggenggam tanganmu. "Apa kau lapar? Aku sudah memesan makanan. Atau kau mau menonton matahari terbenam bersamaku terlebih dahulu?"

    Kau berpaling dari wajah tampannya ke depan. Meski tidak terlihat sepenuhnya, ufuk barat yang dipenuhi pucuk-pucuk gedung Kota Linkon sudah berwarna ungu-oranye. Kehidupan kota memang tidak menyajikan keindahan alam yang megah tetapi itu cukup membuat hatimu terasa lapang.

    Kau balas menggenggam tangan Xavier dan merebahkan kepala ke bahunya.

    "Aku ingin tetap tinggal sebentar lagi."

    "Baiklah," Xavier balas memiringkan kepala ke arahmu.

    Kesunyian yang diisi riuh rendah kota beserta napas teratur kalian membuatmu teringat mimpi yang samar-samar. Kau lupa sebagian besar detailnya, tetapi perasaan mencekam, putus asa dan adrenalin, serta kilasan-kilasan pedang memenuhi benakmu.

    "Xavier, apa aku mengigau?"

    Partnermu tidak langsung menjawab. "Beberapa kali kau memanggil namaku."

    "Begitu, ya."

    "Kenapa? Kau merindukanku dalam mimpi?"

    Secara tiba-tiba, kau menjauh darinya. Xavier memandangmu penasaran. Ada percikan kelakar di matanya dan itu membuatmu cemberut. "Iya," jawabmu menyetujui. "Kau tidak menemuiku di mimpi."

    "Benarkah?" Xavier mengecup tanganmu. "Lalu, apa yang harus kulakukan sebagai hukumannya?"

    "Apa, ya?" Kau menangkup wajahnya dan menggoyangkannya sejenak sambil berpikir. Xavier hanya menurut, menunggu keputusanmu tanpa lupa mencium telapakmu seperti anak kucing.

    Kemudian kau menyerah. Hukuman apa yang bisa kau berikan pada orang yang tak bersalah? Kau memeluk perutnya dari samping erat-erat dan membenamkan wajah di dadanya.

    "Sering-seringlah menemuiku, kau Pangeran Kecil menyebalkan!" gerutumu tidak jelas akibat teredam di bajunya.

    Kau tidak tahu ekspresi apa yang dihasilkan dari ucapanmu. Tetapi kau mendengar Xavier mendengus tertahan, membelai kepalamu lembut dengan satu tangan mendekap pundakmu.

    "Tentu saja. Aku akan selalu menemuimu setiap hari, Bintangku."

    Kau mengalihkan muka sedikit, menatap matahari yang semakin hilang dari balik gedung pencakar langit Linkon. Sebagian kecil dirimu teringat pada sebuah kutipan di buku.

    'Bila sedih, kita senang menatap matahari terbenam.'

    Tetapi kau tidak sedih. Kau merasa tentram menyaksikan matahari terbenam bersama partnermu.

Notes:

Cerita ini fokus ke action battle sebenarnya. Aku merasa idenya cukup bagus, dengan sedikit bumbu-bumbu drama(?) tapi entah kenapa resultnya malah condong me aksi partner xD Mungkin gara-gara aku kehausan konten bertarungnya Xavier wwww

Series this work belongs to: