Actions

Work Header

To Settle the Star

Summary:

Kau lagi senang-senangnya membaca buku. Setiap hari kau mengocehkan isi perasaanmu pada Xavier, berharap dengan begitu, kalian bisa saling berbagi opini mengenai buku itu. Tentunya, kau mengagumi sang penulis yang berhasil membuatmu terbawa alur ceritanya. Tapi.... Apa Xavier juga menganggapnya demikian? Atau dia justru terbutakan emosi lain yang bernamakan cemburu?

#XavMCWeek2025 Day 6: Jealous Xavier

Work Text:

    Manusia punya fase tertentu saat hidup, termasuk fase menyukai sesuatu yang berbeda-beda. Kali ini kau dalam fase kecanduan karakter utama buku favoritmu. Judul itu punya beberapa seri, dan hampir setiap ada waktu luang, kau membaca buku tersebut.

    Kau bahkan tidak bisa berhenti mengoceh tentang karakter kesukaanmu itu.

    "Serius, buku ini bagus banget," katamu pada Xavier di suatu sore. "Aku mau beri bocoran tapi nanti ekspetasimu bakal turun. Pokoknya harus baca! Lihat!" Kau menunjuk salah satu halaman. "Aku suka cara penulisnya menggambarkan Oliver. Indah banget! Puitis tapi tidak bikin pusing. Terus karakternya juga oke. Tidak terlalu sempurna dan manusiawi. Dia bahkan takut sama keong. Aneh banget, ya? Tapi itu bagian lucunya. Rebecca sampai mengantongi cangkang keong buat menjahili Oliver kalau lelaki itu mulai bersikap menyebalkan."

    Xavier menaruh siku di atas lutut dan menopang dagunya ke arahmu. Dia tidak bosan mendengar suaramu, dan itu terbukti dari tatapannya. "Kelihatannya menarik. Apa buku pertamanya sudah selesai kau baca?"

    "Sudah! Nanti kubawakan untukmu."

    "Tidak apa. Aku akan mengantarmu sekalian meminjamnya."

    Kau bersorak. "Bagus. Aku bakal punya teman baru untuk membicarakan ini. Simone bilang dia suka Liam. Menurutku dia juga keren, tapi Oliver sudah merebut hatiku. Wataknya rumit. Kadang garang, tapi disatu sisi dia sarkastik. Cintanya ke Rebecca yang paling seru. Apalagi dia dideskripsikan punya mata hitam sekelam langit malam. Terus aku suka momen di mana Rebecca mengelus rambut cokelat Oliver. Penulisnya menulis rambutnya sangat halus dan mengingatkan Rebecca sama pohon mahani."

    Senyum Xavier terlihat dingin. Tatapan yang biasa diselubungi kelembutan kini diliputi emosi misterius. Sayangnya kau tak mampu menyadari itu. Antusias, kau membalik beberapa halaman dan memperlihatkannya pada Xavier.

    "Aku pernah cerita, 'kan? Kalau Olive itu pencium handal. Di buku pertama, dia mencium Rebecca dengan kasar. Penggemar bilang itu bukan gara-gara mabuk, tapi karena dia selalu menahan perasaannya. Dia mencium Rebecca sampai gadis itu terpaksa menggigit bibir Oliver biar dilepaskan. Tapi, wow, yang jadi pusat perhatianku itu bagaimana cara penulis menarasikannya. Penuh emosi, detail sekali prosesnya sampai-sampai Rebecca bingung sebenarnya ciuman itu tulus atau tidak. Nah," kau memberi jeda sambil menuding satu paragraf dan tatapan Xavier mengikuti jarimu.

    "Yang ini, pas dia begitu putus asa menginginkan Rebecca. Aku akan ceritakan tanpa konteks, tapi caranya memegang leher Rebecca, menyapukan bibirnya di sekitar bibir Rebecca lalu berbisik tentang perasaannya.... Oh, ya ampun! Lihat bagaimana cara penulis menceritakan perubahan perasaan Rebecca selama dicium. Dia dilema. Dia pernah disakiti Oliver, sakit yang membuatmu seharusnya membenci orang itu sampai ke tulang-tulang, tapi bukannya menolak, tubuhnya justru berkata sebaliknya."

    "Jadi Rebecca suka Oliver?"

    "Bisa dikatakan seperti itu. Aku tidak mau membeberkannya lebih lanjut tapi dinamika itulah yang membuat cerita ini makin panas," kau terdiam sejenak untuk membaca beberapa kalimat, lalu meringis salah tingkah. "Ya ampun! Penulisnya hebat sekali! Bagaimana bisa dia memilih kata-kata itu untuk mendeskripsikan detail penampilan tampan Oliver?"

    Xavier bergeser mendekat, dan kau reflek memiringkan buku agar dia dapat membacanya.

    "Disini dijelaskan bagaimana rambut Oliver berjatuhan di sekitar wajah Rebecca, cara Oliver memeluknya dengan posesif, bisikan cintanya, cara mereka saling merapat—ah, membayangkannya saja membuat pipiku panas!"

    Xavier memiringkan kepala. "Apa kau membayangkan dicium Oliver?"

    "Apa? Tentu saja tidak!" Kau cepat-cepat berkilah. "Aku hanya terbawa cerita saja. Menurutku romansanya bagus."

    "Begitu, ya?" Xavier mengalihkan wajah. "Tapi sejak kemarin kau selalu membahas tampangnya, bukan plotnya."

    "Hmm? Benarkah? Apa aku tidak pernah membicarakan tampang Liam atau Rebecca? Eh, tapi sebenarnya novel ini mau diadaptasi jadi film dan aktornya mirip sekali sama Oliver! Kau takkan percaya!"

    Dengan antusias, kau mengambil ponsel dan mencarinya lewat internet lalu menyodorkannya pada Xavier.

    "Lihat! Aku tidak percaya ada orang sesempurna ini."

    Alis Xavier bertaut tak suka. "Jadi menurutmu dia tampan?"

    "Eh? Tidak juga. Tapi kata penggemar, dia memang tampan."

    "Dia memang tampan karena punya rambut cokelat seperti pohon mahoni dan mata hitam sekelam angkasa malam."

    "Itu daya tariknya. Makanya dia jadi aktor nomor satu di acara penghargaan akhir tahun. Aku baru ingat! Aku nonton filmnya! Aktingnya di film itu berhasil bikin aku peluk bantal. Lain kali kita harus menontonnya bersama-sama. Aku benar-benar suka adegan saat dia menyentuh pipi tokoh utama perempuan sambil bermuka setengah menangis. Dia benar-benar merana, dan tatapannya itu... Wow."

    Hening sejenak. "Aku tidak tahu tipe idealmu sudah berubah."

    Rasanya seperti ada yang menuangkan air dingin di kepalamu. Kau tercenung, menoleh pada Xavier, tanpa benar-benar melihatnya. Kau menilai nada bicara Xavier beberapa detik yang lalu.

    "Xavier," kau berkata, "kau cemburu, ya?"

    Xavier tidak segera menjawab. Terlihat konflik batin berkelebat di paras tampannya. Lantas, Xavier mengusap tengkuk sambil melirikmu ragu-ragu. "Yah, kau benar."

    Mendengar itu, tawamu sontak lepas. "Astaga!" Kau menusuk pipi Xavier dengan telunjuk, menyengir jahil. "Ini bukan sesuatu yang kuduga."

    Xavier merengut, berusaha membenamkan wajah ke lututnya. "Setiap hari kau membahas Oliver sementara aku dilupakan."

    "Siapa bilang?" katamu seraya menaruh buku di meja. Kau beringsut mendekat, duduk di antara dua kaki Xavier dan bersandar ke dadanya. Dikalungkannya lengan Xavier di sekitar tubuhmu sehingga aroma tubuhnya langsung menyelimutimu dengan lembut. "Aku bisa cerita padamu secara leluasa karena kau bersamaku. Kalau sudah selalu bersama, mana mungkin lupa?"

    Masih merajuk, Xavier menaruh dagunya di atas bahumu. Mata biru langitnya membidikmu melas. "Jika aku berambut cokelat dan bermata hitam, apa kau akan lebih menyukaiku?"

    Itu deskripsi penampilan Oliver. Bibirmu seketika menekuk menjadi senyum tidak habis pikir, lantas kau jepit dagu Xavier dengan jarimu dan menariknya mendekat, mencium pipinya lama sebelum menatapnya lekat-lekat.

    "Tipe idealku masih sama," tuturmu lembut. "Berwajah tampan, mata seperti langit berbintang dan punya kepribadian lucu, keren sekaligus manis. Sepertinya seseorang di dekatku sudah memenuhi kriteria tersebut. Mustahil berpaling pada aktor atau karakter fiksi manapun jika aku sudah dijerat olehnya."

    Mendengar perkataanmu, raut gelisah Xavier perlahan memudar. Ia tersenyum, memelukmu semakin erat sebelum berkata, "masih ada satu lagi yang harus kutunjukkan."

    "Apa itu?"

    Xavier tidak menyahut. Satu tangannya menggapai pipimu, menangkupnya lembut seakan menyentuh barang rapuh. Ibu jarinya mengelus pucuk hidungmu, kemudian bawah matamu sebelum berakhir di tulang pipi. Ia meloloskan tarikkan napas tertahan, seakan-akan sesuatu yang perih menusuknya.

    Alarm peringatan berbunyi di dalam kepalamu; cahaya di matanya sedikit meredup. Kau buru-buru menaruh tanganmu di atas tangan Xavier, memiringkan kepala di sana sambil menatapnya cemas, "ada apa? Apa ada yang salah?"

    Lagi, konflik batin melintas di wajah Xavier. Tatapannya bergerak gelisah, antara ingin terus melihatmu atau hendak memalingkan muka.

    "Tidak," jawabnya pelan. "Tidak ada yang salah dari ini."

    Kau berkedip dua kali, berusaha memahami maksud Xavier. Namun tiba-tiba Xavier mendekat secara perlahan. Tangannya tergelincir dari bawah tanganmu, merambat ke belakang lehermu selagi merunduk ke arahmu. Kau merinding; usapan bibirnya terasa seperti sengatan listrik, mengirimkan gelenyar nikmat ke seluruh tubuhmu.

    Ia menjilat bibirmu dengan juluran lidahnya, mengingatkanmu pada seekor anjing kecil yang meminta perhatian sang majikan. Kau mencengkram ujung jaketnya, melenguh tatkala bibirmu dihisap. Bunyi kecap dan napas terengah yang kalian lakukan membangkitkan sesuatu dalam dirimu.

    Kepalamu kian terangkat, seakan meminta sesuatu yang lebih. Kau mendengar Xavier mengerang kecil, semakin bersemangat melahap bibirmu. Entah bagaimana, kau merasa panas. Seolah duduk di tengah gurun, kau merasa haus dan meleleh dalam tekanan ini.

    Mendadak, di lubuk hatimu, kau terbayang-bayang sebuah narasi.

    'Oliver lembut, tetapi ini seperti dia berusaha menahan keserakahannya. Rebecca dapat merasakannya. Betapa Oliver frustasi, ingin merasakan setiap inci dari bibirnya. Tangannya yang menyentuh tengkuk terasa layaknya tungku hangat, mengunci dirinya agar tidak bergerak. Lidahnya, seperti anak anjing, menjilat garis bibirnya, seakan memohon untuk diberikan jalur masuk.'

    Deskripsi demi deskripsi berseliweran dalam benak. Ketakjuban perlahan memenuhi dirimu. Jadi ini yang dimaksud sang penulis; perasaan mendamba Oliver pada Rebecca—perasaan yang hendak disampaikan lewat tindakan alih-alih perkataan manis.

    Barangkali karena pemahaman itu, kau memberikan tanggapan lemah pada ciuman. Xavier menjadari kau memikirkan hal lain dan ia tidak segan-segan menunjukkan ketidaksukaannya. Pemuda itu menjauh sedikit, memberimu ruang untuk bernapas dan menatapnya dengan tatapan berkabut, namun itu tidak menghalangimu untuk menyaksikan ekspresi cemberut bercampur kecewanya.

    Iris birunya menggelap. "Jangan berpaling dariku," ucapnya merana.

    Kau hendak menyahut namun Xavier sudah menyambar bibirmu, menciummu dengan sangat gegabah dan tergesa. Kau mencengkram pergelangannya yang melingkar di perutmu, mengerang pelan saat Xavier meraup bibirmu utuh-utuh, mengecapnya dan menggigitnya, melahapmu hidup-hidup menggunakan hasrat terpendamnya.

    Kau berusaha menepuk tangannya tergesa, berusaha memberitahunya untuk menurunkan intensitas tetapi Xavier justru berkehendak lain. Ia menggigit bibirmu cukup keras lalu menghisapnya kuat-kuat, melakukannya berulang kali sampai lenguhanmu lolos setiap diberi kesempatan.

    Dadamu berdebar kencang. Desakan itu tidak kunjung berhenti—lidahnya menjelajahi rongga mulutmu, dan kau dapat merasakan sisa-sisa manis es krim vanila yang ia makan sore tadi. Saat lidahmu berusaha mengimbangi, Xavier justru menjilatnya dan menghisapnya kuat-kuat.

    Gairah mulai membakarmu. Kau mulai beranjak untuk memutar posisi, sebab menengok ke belakang membuat leheemu sakit namun Xavier menolak. Ia menahan pipimu, begitu juga tangan yang melingkar di perutmu. Kau terkejut. Xavier tidak pernah berbuat itu sebelumnya. Sejak kapan dia selapar itu?

    Ia begitu menuntut dan kasar, menggigitmu bak singa pemarah yang cemas mangsanya direbut predator lain. Ia begitu posesif, serakah padamu. Pelukannya semakin erat, membakarmu dengan curahan cintanya. Jantung Xavier berdebar kencang di bawah punggungmu dan kau semakin salah tingkah. Seketika kau teringat narasi novel yang kau baca.

    'Rebecca panik dicium begitu liar oleh Oliver. Ia kekurangan oksigen. Tubuh mereka rapat satu sama lain, saling menarik bagaikan kutub magnet. Tangan Oliver meluncur ke garis tubuhnya, menuruni pinggangnya dalam gerakan yang membuat dunia Rebecca runtuh menyisakan sesosok insan saja, yaitu Oliver. Bulu mata Oliver mengepak di permukaan Rebecca setiap ia memiringkan kepala, membelainya selagi memagut bibir berlapis pewarna merah cerinya. Rebecca merasakan gedoran jantung Oliver saat menyentuh dada pria itu dan saat itu ia menyadarinya. Bahwa Oliver memiliki perasaan padanya, bukan menganggapnya pengisi waktu bosannya, bukan sebagai gadis tunangan sepupunya—'

    "Engh!" Kau mengeryit. Gigitan Xavier kali ini hampir menyakitinya, tetapi hampir seketika lelaki itu menghisapnya lagi. Bibirmu dipagut kasar, gerakan kepalanya yang kian maju seakan mendorongmu mundur. Posisimu semakin tidak nyaman, tetapi kau enggan melepaskannya.

    Ini terlalu nikmat untuk ditinggalkan.

    Kau membalasnya susah payah, pening akibat naiknya suhu tubuh kalian. Kau sesekali membuka mata, memperhatikan rambut perak halusnya mengusapmu. Kau terengah, mengulurkan tangan dan meremasnya pelan. Kerongkonganmu membuat suara-suara rengekan yang tak kau bayangkan akan bunyikan.

    Kau merasakan Xavier berjengit. Dengan geraman tertahan dan tergesa, Xavier mengubah posisi kalian. Ia mendorongmu dengan hati-hati ke sofa, menahan punggungmu agar tidak terbanting tanpa melepaskan pangutan mulut. Kau mencengkram jaketnya.

    "Xavier...." desahmu.

    Xavier tersegal, meraupmu semakin ganas dan liar. Sisa tenagamu semakin terkuras habis. Jantungmu berpacu terlalu cepat sampai semua sarafmu terasa kewalahan. Tubuhmu menggeliat akibat lidahnya yang masuk kembali ke rongga mulutmu, membelit organ pengecapmu seperti orang kelaparan.

    Jari-jarinya menyusuri tengkukmu layaknya tetesan lilin, menyengatmu dalam adiktif samar memabukkan. Kau merangkulnya, balas memangut bibirnya hanya untuk mengetahui dia tak mau membiarkanmu mendominasinya. Bulu matanya membelai wajahmu selagi memiringkan kepala, menggelitik perutmu bagai kepakan kupu-kupu.

    Ciuman kalian semakin intens, semakin tidak terkendali dan semakin mendesak. Waktu seakan tidak terbatas, tapi pasokan napasmu mulai menipis. Bingung memberi sinyal seperti apa, kau terpaksa menggigit bibir Xavier lumayan keras.

    "Ah," Xavier tersentak dan menjauh. Saat itu kau tersadar bahwa sedang ditindih lelaki itu. Dalam pandangan burammu, Xavier menjilat bibirnya yang berdenyut. Rambutnya berantakan akibat perbuatan jarimu, begitu juga posisi jaket berbahan sweaternya.

    Sejenak kalian saling memandang dan mengais napas. Kemudian Xavier meraih pipimu. "Maaf, apa ada yang sakit?"

    "Ada darah di bibirmu," kau mengulurkan tangan sambil beranjak duduk tetapi Xavier telah membungkuk lagi, membuatmu lebih mudah mengusapnya. "Aku menggigitnya terlalu keras. Kita harus mengobatinya."

    Xavier mendengkus kecil. Saat dia memejam sekilas, dia terlihat sangat menikmati perhatianmu. Iris birunya bergulir menatapmu dan ia merapatkan kening kalian. "Bisakah kau mengobatinya dengan bibirmu?"

    Darah mendidih di nadimu. Kau merinding, dalam artian menyenangkan. Sambil menahan seringai, kau merangkul lehernya lagi. "Jangan sampai berteriak kesakitan."

    Tawa sensual Xavier mengudara. "Entahlah," Kata-katanya bergetar nikmat saat dia merunduk menempelkan mulut kalian. Kelopaknya terkulai memejam.

    "Mungkin salah satu dari kita akan berteriak semalaman."

Series this work belongs to: