Actions

Work Header

Sleepy

Summary:

Seharian bekerja membuatmu super duper lelah. Apalagi kau melewatkan makan malam dan hanya mengisi perutmu dengan sebongkah roti. Dengan kondisi mengantuk, kau bertemu Xavier di depan apartemenmu.

Dan tanpa ragu, kau pun meminta tolong padanya.

"Tolong gantikan bajuku, ya?"

#XavMCWeek2025 Day 7: Free Day

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

    Pekerjaan hari itu terasa lebih berat dari biasanya. Awalnya kau diminta menyelidiki anomali Protofield bersama Tara, namun entah bagaimana situasinya berubah. Wanderer, seperti yang dikhawatirkan, muncul dan kau tak punya pilihan lain selain menghabisinya dengan seluruh perlengkapan yang kau punya.

    Setelah berhasil keluar dari situasi itu, kalian berencana kembali untuk membuat laporan. Banyak protocore berenergi aneh yang tidak pernah ditemukan. Alih-alih, saat menyusuri sisa hutan No-Hunt Zone no.21, kalian menemukan sebuah pondok yang berisi anak-anak pucat dan tak berdaya.

    Sebagian besar dari mereka menatap kosong atap, seakan-akan tidak bernyawa meskipun bernapas. Sebagian yang lain terkapar di atas ranjang, berdarah-darah dengan selang ditanam di tubuh mereka.

    Amarah, duka dan iba seketika bergelora dalam tubuhmu. Sakit yang tertoreh akibat serangan Wanderer seketika terhapus. Kau meminta Tara untuk memanggil bantuan selagi mematikan mesin.

    Satu jam kemudian, kau mendapati diri memboyong anak-anak malang itu ke tempat pengungsian. Kau membuat laporan dari pertarungan sampai evakuasi, semua dilakukan dalam sehari penuh tanpa jeda. Setidaknya kau berhasil memaksakan diri untuk melahap roti, atau kau sudah pingsan sekarang.

    Malam telah larut. Jam Hunter-mu menunjukkan pukul dua pagi. Kau bersandar ke dinding lift, sedikit menikmati guncangan yang dihasilkan dari mesin pengangkut tersebut.

    Helaan napas lolos dari mulutmu. Rasanya kau ingin berlari ke kamar dan segera tidur. Atau mungkin... makan sambil nonton anime adalah ide yang bagus. Kau bisa tidur setelahnya dengan perut kenyang.

    Kau menguap lebar saat keluar dari lift. Jalanmu sempoyangan, matamu memburam oleh air mata akibat menguap. Memikirkan harus memasak membuatmu menggeram malas. Kau jelas ingin tidur saja.

    Lantas, saat berbelok menuju lorong selanjutnya, kau mendapati sesosok pria berdiri di depan apartemenmu. Pria berambut perak, bertubuh tinggi tegap dan berpakaian serba putih. Satu tangannya di pinggang, sementara satu tangan lainnya sedang dalam perjalanan meraih daun pintumu.

    Saat langkah kakimu terdengar, pria itu menoleh padamu. Sinar lampu membuat iris birunya menyala-nyala. "Kau baru pulang?" tanyanya.

    "Xavier..." panggilmu tanpa sadar, terdengar seperti rengekan. Kau menyeret kakimu lebih cepat dan merentangkan tangan ke depan. Kau tidak terlalu sadar apa yang kau lakukan, kau hanya menuruti instingmu.

    Tanpa pikir panjang Xavier menghambur maju sambil membuka lengannya lebar-lebar. Tubuh kalian bertabrakan, dan kau segera melingkarkan tanganmu di lehernya, memeluknya sekuat mungkin. Begitu juga lengan kokoh berotot milik Xavier. Kehangatan membungkusmu layaknya selimut. Kau pun mengubur wajahmu di perpotongan lehernya.

    "Xavier..." bisikmu.

    Sambil memperdengarkan dengusan, Xavier menggesek hidungnya ke bahumu. "Ada apa?"

    "Entahlah. Aku hanya lelah," kau melemaskan seluruh tubuhmu, membiarkan Xavier menahan beratmu tanpa pikir panjang. Kau memeluknya kian erat, bergelantungan layaknya anak kecil padanya. "Hari yang panjang."

    Gumaman Xavier bergetar di kulitmu. "Kau sudah makan? Aku tidak membicarakan roti yang kau sebut di pesanmu."

    "Belum," suaramu lemah dan parau. "Kenapa kau kesini?"

    "Pesan terakhirku tidak dibalas, dan aku tidak mendengar langkah kakimu selama sejam terakhir. Aku bermaksud mengecek sebentar. Ternyata kau memang belum pulang."

    "Benarkah?" Kau mengecek jam tangan Hunter-mu tanpa menjauh darinya. "Ah, kau mengajakku makan Hot Pot, ya? Aku memang lapar. Ayo, kita—"

    "Kita pesan layanan antar saja," Xavier cepat-cepat memotong.

    Kau bergumam setuju. Sungguh, kehangatan yang menguar dari tubuh Xavier membuatmu semakin rileks dan mengantuk. Kau memejamkan mata, kian lemas dalam dekapan Xavier. "Yah, kita lakukan itu saja."

    "Kau mau tidur dulu?" Tangan Xavier menyusuri pahamu dan sedikit mengangkatnya. Itu semacam sinyal yang tidak kau tolak, karena secara otomatis, kau membiarkan kakimu naik melingkari pinggangnya.

    "Tidak. Aku tetap harus membersihkan diri," katamu. "Hei, Xavier..."

    "Ya?"

    "Bisakah kau mengurusku semalaman?"

    Xavier terdiam sejenak, tapi kau tahu kau tidak akan jatuh. Kekasihmu itu menggendongmu dengan sempurna, persis koala yang mengasuh anaknya. Lantas kau merasakan bibirnya tersenyum. Sebuah kecupan mendarat di pipimu sesudahnya.

    "Itu mudah," kata Xavier sambil membuka pintu apartemen.

    Sepintas kau berpikir betapa memalukan jika ada tetangga yang melihatmu digendong seperti ini, namun rasa lelah membuat nalarmu tumpul. Rasanya seakan kepala kosong tetapi disaat yang sama dipenuhi kabut padat yang memusingkan. Kau melamun menyaksikan pintu tertutup, hampir terlelap jika saja Xavier tidak menurunkanmu perlahan.

    "Tunggu disini sebentar," ucap Xavier.

    Kau mengencangkan pelukanmu. "Tidak mau."

    Xavier tersentak. "Apa kau tak mau ganti baju?"

    Kau terdiam sejenak. Pakaian Hunter, meski sudah dibersihkan dari tanah bekas bertarung tetap saja kotor. Kau menggesek wajahmu ke leher Xavier, memutuskan mengungkapkan keputusan impulsifmu.

    "Tolong bantu aku berganti."

    Xavier mengeluarkan suara terkesiap. "Kau yakin?"

    "Memang kenapa? Kita sudah melihat satu sama lain secara terbuka," debatmu dalam gumaman malas. Entah mengapa semua yang kau ucapkan terasa masuk akal dan merupakan sebuah fakta. Tidak ada yang salah dari itu.

    Xavier tampaknya tidak setuju. Napasnya agak memburu ketika kesenyapan itu berlangsung. Kau pun tidak mempermasalahkannya. Toh kelihatannya tidur di mana pun tidak masalah. Yang penting rasa kantuk ini terhilangkan.

    "Tidak apa, Xavier," kau mengecup pipinya, sedikit menjauhkan kepala agar bisa menatap wajah tampannya. "Aku bisa tidur sebentar di sofa dan ganti baju nanti. Mungkin setelah itu kita bisa makan?"

    "Maksudmu, sarapan?" Xavier balas mencium bibirmu. Matanya berbinar temaram mirip langit berbintang. "Kau bisa sakit kalau tidur di sini. Biar aku gantikan bajumu lalu kau tidur di ranjang."

    "Yey," sorakmu pelan, kembali menidurkan kepala di bahunya. "Maaf merepotkanmu seperti ini."

    Kecupan mendarat di kepalamu selagi kakinya mengayun menuju kamarmu. "Tidak masalah. Kau sudah bekerja keras. Menyelamatkan anak-anak dan bertarung."

    Walau tidak menghanguskan rasa kantukmu sepenuhnya, api amarah berkobar kecil dalam lubuk hatimu ketika teringat kondisi anak-anak di pondok No-Hunt Zone. "Aku tidak percaya mereka diperlakukan begitu," katamu diselubungi geraman. "Pelakunya harus dihukum berat. Tanpa terkecuali."

    "Mata dibalas mata?"

    "Menjadikan mereka sebagai bahan eksperimen?" Kau menggeleng. "Terlalu barbar—Dan terlalu ringan juga, sebenarnya. Karena pelakunya pasti sudah dewasa. Rasa sakitnya tidak akan terasa fatal. Mereka harus menerima penderitaan yang lebih parah daripada anak-anak itu."

    "Tapi apa? Memenjarakan mereka tidak ada bedanya dengan sebuah pengampunan."

    "Meski kebebasan mereka dirampas, ya?" Kau bergumam panjang. Pening kantuk tiba-tiba membuatmu menggeram. "Serahkan saja itu pada Kapten Jenna. Aku tidak sanggup berpikir apa-apa lagi."

    "Koala yang malang," Xavier tertawa kecil.

    Kau menggigit kuping Xavier pelan. "Menyebalkan."

    Tawa lelaki itu selanjutnya lebih berat dan terseret, seakan takut memicu bom meledak di dekatnya. Xavier berhenti di depan lemari pakaian, mengambil piyama berwarna merah muda dan membawamu ke samping ranjang. Setiap hentakannya seperti timangan buatmu. Kesadaranmu perlahan kian menipis, nyaris membuatmu terbang ketika tiba-tiba kau mendengar Xavier berisik memecahkan kabut kantukmu.

    "Bisa lepaskan aku sebentar?" katanya. "Sulit bergerak kalau tanganmu seperti ini."

    Kau mengerjap pelan, agak mabuk. Butuh waktu separuh menit sampai kau menyadari situasinya. Kau sudah duduk di pinggir ranjang, dan Xavier membungkuk rendah, menunggumu melepaskan lingkaran lengan dari lehernya.

    Kau merengut. Untuk suatu alasan, aroma tubuh segar khas malam Xavier sangat adiktif. Kau tidak ingin melepaskannya. "Bisakah kita tetap seperti ini untuk sementara waktu?"

    Lagi-lagi, Xavier mengusap hidungnya di pipimu. "Bukannya aku tidak mau, tapi lebih baik selesaikan dulu ganti bajunya."

    Kau merengek. "Setelah itu, apa kau akan meninggalkanku?"

    Ada keheningan ganjil dan tubuh Xavier seperti membeku sejenak. Kau memanfaatkan itu untuk mendekapnya semakin kuat. Rasa manja terpendammu mulai mengambil alih. "Tidak mau. Jangan pergi, Xavier. Jangan tinggalkan aku..."

    "... Kau mabuk atau mengantuk?" Akhirnya Xavier berbicara demikian. Ia mundur perlahan, dan karena tenagamu terkuras oleh rasa kantuk, lingkaran lenganmu dengan mudah terlepas.

    Satu tangannya meraih pipimu dan kau merasakan betapa lembut serta menenangkan usapan ibu jarinya di kulitmu. Mata birunya bercahaya sendu namun tegas di antara kabut kantukmu, memberikan kesan satu-satunya cahaya dalam kegelapan.

    "Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Itu pasti. Karena tempatku adalah di sampingmu."

    "Untuk selamanya?"

    "Selamanya."

    Kau merunduk, berpikir betapa bagusnya memiliki mimpi indah seperti ini, dan itu membuat bibirmu melengkung membentuk senyum tipis. Matamu pun terpejam merasakan kehangatan tangannya.

    "Janji, ya?"

    "Aku berjanji," Xavier berlutut, tak melepaskan pandangan darimu. Lalu tangannya beranjak menuju lehermu. "Sekarang, boleh kulepas bajumu?"

    "Silakan."

    Kau tidak terlalu ingat apa yang terjadi setelahnya. Semuanya kabur dan terasa ringan. Kepalamu terantuk-antuk beberapa kali, menjagamu tetap sadar. Sesaat kau bergidik merasakan dingin, kemudian sebuah sentuhan merayap di belakang punggungmu, melepaskan pengait bramu.

    Kau berkedip pelan, mendapati Xavier bersemu merah layaknya orang demam. Tanpa sadar kau mengulurkan tangan, membelai mukanya. "Apa kau sakit?"

    Xavier tersentak dan tidak bergerak. Sekilas, tampak kelebat aneh di matanya sebelum Xavier bergerak lagi, kali ini mengancing kemeja piyamamu.

    "Itu akan jadi masalah kalau aku sakit di dekatmu."

    "Kau tahu," mengikuti dorongan hati, kau mendekap kepalanya erat-erat. "aku tidak masalah merawatmu setiap hari."

    Lelaki itu membeku dalam pelukanmu. Napas yang berembus di dadamu terasa hangat. Kau mengusap kepalanya, menganggap itu sebagai bantal penghangat sementara kelopak matamu mulai terasa berat lagi.

    Seperti yang sudah-sudah, Xavier menjauh tiba-tiba tatkala kesadaranmu nyaris menghilang—membuatmu terbangun lagi dengan kepala pening. Tangannya, selembut sutra, menarik satu tanganmu tinggi.

    "Kau harus mengganti celanamu juga," pinta Xavier.

    Kau pun berdiri, masih merasa tidak nyaman melalui serangkaian aktivitas penghambat tidurmu. "Kau akan melakukannya, 'kan? Menggantikannya untukku?"

    "Tidak," kali ini Xavier menukas cepat. Ia menyerahkan celana piyama padamu, memastikan kau betul-betul menangkapnya sebelum mengusap kepalamu lembut. "Ganti sendiri. Aku akan keluar."

    Kau menatapnya hampa. "Kau akan meninggalkanku?"

    "Aku akan kembali kalau kau sudah selesai."

    "Kalau begitu, balik badan saja," kau membuka kancing celanamu dan seperti yang kau duga, Xavier menuruti permintaanmu. Pria itu langsung berbalik badan.

    "Lain kali berikan aba-aba," ucapnya.

    Kau hanya tertawa pelan.

    Selagi kau melepas celana dengan lamban—karena entsh mengapa kau sangat tidak bertenaga—Xavier terus-menerus mengusap tengkuknya tidak nyaman. Kau juga mendapati telinganya memerah. Kau membatin, Xavier pasti sakit dan mencoba menutupinya lagi. Sudah hafal di luar kepalamu jika Xavier seringkali menyembunyikan sesuatu.

    Terlalu lama melamun, kakimu tak sengaja masuk ke pipa celana yang salah saat memakai piyama. Kau mengerang, limbung ke belakang sampai terjatuh ke ranjang.

    "Aduh!"

    "Ada apa?" Xavier berbalik cepat, dan lagi-lagi mematung. Ekspresinya sulit dijelaskan. Antara melongo, salah tingkah, dan pasrah melihat kecerobohanmu.

    Tetapi kepalamu terlalu berkabut untuk menyadari hal tersebut. Sambil berbaring dengan kedua kaki ke atas dan menendang-nendang, kau pun merutuk. "Salah lubang."

    "Bukan begitu caranya menjelaskan situasi," tegur Xavier. Matanya bergerak naik-turun cepat, seakan curi-curi kesempatan menatap sesuatu. Ia pun berjalan mendekat, mengulurkan tangan untuk membantumu.

    "Akan jauh lebih mudah kalau kau membantuku sejak awal," gerutumu selagi memindahkan kaki ke pipa celana yang seharusnya.

    Sambil menghela napas, Xavier membungkuk di atasmu dan menarik celanamu tinggi-tinggi, dan setelah dirasa sudah betul posisi celanamu, ia menepuk pinggangmu pelan. "Kau yang mengantuk seperti ini ternyata lebih ceroboh, ya?"

    Cahaya lampu bersinar dari atas. Rambut perak Xavier berpendar mirip kilatan permata, sementara biru matanya gemerlapan di dalam bayangan. Kau mengalungkan lengan ke lehernya, memiringkan kepala. Tatapanmu sayu padanya. "Apa kau membencinya, Xavier?"

    Senyum tipis mewarnai wajahnya. "Mana mungkin."

    "Sekalipun aku mau tidur bersamamu?"

    Xavier mengangguk.

    Dengan sigap, kau menangkap pinggang Xavier dengan kedua kakimu. Keseimbangan Xavier goyah, nyarih jatuh menindihmu sepenuhnya andai tidak buru-buru menaruh lengan sebagai penopang.

    Tanpa dosa, kau mempererat pelukan koalamu, mengusap hidung di dekat telinganya. "Ayo, tidur bersama."

    "Aku tidak berencana menolaknya..." Meski terdengar sedikit bimbang, pada akhirnya Xavier menyerah. Dia membatalkan apapun rencana yang dibuat sebelumnya lalu menggendongmu ke atas, membaringkanmu ke posisi yang benar.

    Kau menggeliat nyaman ketika kepalamu menempel di bantal. Sungguh rasa paling memabukkan yang pernah kau rasakan. Selimut ditarik menutupi setengah badanmu, dan kau spontan memeluk Xavier lagi. Matamu enggan diajak terbuka bahkan untuk mengintip.

    "Selamat malam, Xavier," bisikmu.

    Samar-samar kau merasakan kecupan mendarat di keningmu.

    "Mimpi indah, Hun."

    Ucapan itu bagaikan doa yang terkabul.

    Kau memimpikan sesuatu yang dipenuhi cahaya indah. Kau melupakan jalan ceritanya, tetapi jelas itu berisi tawa dan pengalaman menyenangkan hingga membuatmu merasa bahagia selama mimpi berlangsung. Kau terbangun dengan perasaan lebih ringan dan segar.

    Kau menguap, termenung beberapa lama guna mengumpulkan nyawa sampai akhirnya wajah terlelap Xavier muncul di depanmu. Pemandangan yang amat manis. Secercah cahaya lolos dari perpotongan tiraimu, menggarisi keningnya yang tertutup poni.

    Kau beranjak duduk, menyadari tanganmu berada dalam genggamannya. Berusaha tidak menyenggolnya, kau mulai memeriksa keadaan sekitar. Mesin di otakmu perlahan bekerja, berusaha memanggil kembali ingatan semalam.

    Tiba-tiba perutmu keroncongan.

    "Sudah kuduga kau pasti kelaparan," Xavier bergumam serak, memeluk pinggangmu tanpa bangun.

    Melihat matanya masih terpejam, kau tergoda mengelus rambut berantakannya. "Kau ingin apa untuk sarapan?"

    Xavier menjawab dengan dengkuran halus. Kau pun tersenyum, lanjut mengusap kepalanya. Halus dari helai peraknya membuatmu melamun. Secara natural, pikiranmu melayang-layang memikirkan hal lain. Misalnya, kejadian semalam.

    Alasan kau lapar sudah pasti karena tidak menerima asupan apapun sejak menyantap sebuah roti isi. Lalu kau pulang dengan bis, berjalan masuk ke lift. Ingatanmu agak samar. Omong-omong bagaimana Xavier bisa tidur di sini?

    Oh, kau ingat. Dia berdiri di lorong serba putih dan sunyi. Jika saja dia tidak bereaksi saat memangil namanya, mungkin kau pikir dia adalah hantu. Kau mendekatinya dan memeluknya. Lalu....

    Kau digendong seperti koala.

    Kau terbeliak. Digendong seperti itu di tempat umum?! Itu memalukan! Bahkan digendong ala pengantin saja cukup memalukan jika seseorang melihatnya!

    Kau menunduk, menepuk panik piyama kusut yang membungkusmu. Eh? Kapan kau ganti baju? Dengan kondisi mengantuk berat, harusnya kau sudah pingsan di sofa, ngiler atau terjatuh ke lantai di tengah malam seperti hari kerja lembur biasanya.

    Tapi kali ini berbeda. Kau terlelap di ranjang mengenakan baju bersih, yang berdasarkan pengamatanmu, itu hasil usaha Xavier. Dia pasti semalaman berusaha membuatmu terjaga—oh.

    Kilasan memori itu melintas dalam sekejap.

    Seperti cipratan air dingin, kau teringat aib-aibmu. Kau merengek pada Xavier agar membantumu berpakaian. Xavier yang melucuti pakaianmu satu persatu. Mengingat betapa keras upaya Xavier mengontrol diri selama mengancing kemejamu. Kau teringat betapa kaku Xavier saat kau mendekap kepalanya ke dadamu.

    Dan yang paling memalukan, Xavier membantu membetulkan letak celanamu.

    Kau reflek menutup muka. Kau ingin berteriak, ingin kabur kemana saja asal tidak bertatap muka dengan Xavier. Rasa malu yang terkubur entah dimana seketika memanggangmu hidup-hidup.

    "Ya ampun, apa yang kulakukan?" ratapmu. Kau melirik Xavier dari sela jarimu.

    Seolah tahu kau mengintipnya, senyum bermain-main di bibir Xavier. Satu matanya terbuka, mengintipmu dengan senyum miring. Ia menggeliat manja mendekatimu, menggerakkan hidungnya di pinggangmu seperti kucing yang sedang merajuk.

    "Apa aku boleh menyantap sarapanku sekarang?"

    Tidak ada nada aneh dalam pertanyaan itu. Tapi entah kenapa instingmu berkata sebaliknya. Apalagi jika dinilai dari ekspresi Xavier.

    "Uhm... Yah... Aku akan bangun...? Biar aku masak dulu—Astaga! Xavier!" Dalam sekejap, Xavier menggulingkan posisi kalian. Kau terlentang di bawahnya, berdegup kencang mendapati dia menindihmu. Kedua tangan Xavier menahan lenganmu. Rambut peraknya berjatuhan, membingkai wajah tampannya.

    Senyum jahil itu tidak sirna. Malah, kau melihat niat terselubung darinya.

    "Selamat makan."

    "T-Tunggu, Xavier!"

    Meski begitu, kau malah berakhir menyamai rasa laparnya.

Notes:

Akhirnya selesai juga! Memang seharusnya ini dilakukan perhari di awal bulan Mei kemarin tapi aku pantang menyerah buat nyelesaiin challenge ini. Hitung-hitung buat mengisi fandom kesukaanku.

Terima kasih buat yang sudah mengikuti series-ku ini. Semoga kalian semua terhibur ^^

Series this work belongs to: