Chapter Text
Junhui belajar bahwa tidak semua hal akan berjalan sebagaimana yang diinginkannya. Misal, berharap perasaan Seungcheol tidak akan pernah goyah, berharap kakaknya berhenti mengabaikannya ataupun berharap semua orang mengertinya.
Baru beberapa menit lalu pintu itu ia masuki, namun kakinya sudah melangkah keluar. Tangannya gemetar. Junhui diam beberapa lama menatap nanar lantai di bawahnya.
Ia menunggu.
Tiga puluh menit berlalu, suara pintu terbuka itu tetap tidak membuat Junhui bergeming. Ia tidak perlu menebak bagaimana ekspresi dua orang yang di sana.
“Junhui??”
“Dek—”
Itu suara Jeonghan dan Seungcheol. Seperti suara tikut terjepit. Sekarat saking kagetnya.
Junhui masih melanjutkan tatapannya pada lantai di bawah, seakan lantai itu menyedot pikirannya dalam-dalam. Ia tidak mampu mengangkat kepalanya. Tidak mampu melihat cetakan merah di leher Jeonghan. Bibir bengkak Seungcheol.
Dua orang itu gelagapan. Berusaha mengeluarkan suara untuk berbicara padanya, tapi Junhui tidak yakin apa yang mereka berdua bicarakan.
Berikutnya, begitu ia menghela napas berat dan kasar, Jun berhasil mengangkat kepala. Ia hanya menatap Seungcheol, dengan tatapan paling berantakan, paling patah, paling menyedihkan…
Satu tahun yang ia jalani dengan Seungcheol, yang bagi Junhui adalah momen paling bahagia. Sepertinya hanya sebuah lelucon.
“Kayaknya emang bener aku yang salah di sini, Kak. Nggak seharusnya aku masuk ke hidup kamu. Karna pada akhirnya perasaan kamu cuma buat Kak Jeonghan.”
Dengan air mata yang menetes, Junhui mengetukkan kaki terlahir kali dan melangkah pergi.
Seungcheol yang merupakan cinta pertamanya, yang menyodorkan es krim kepadanya, yang merangkulnya untuk bermain bersama, satu-satunya yang tidak menganggapnya anak bawang. Seungcheol yang dulu adalah patah hati pertamanya, saat lelaki itu menjalin hubungan dengan Jeonghan, menjadi pasangan paling bahagia pada masanya. Seungcheol yang kemudian dikhianati oleh pacarnya. Seungcheol yang menghilang. Seungcheol yang muncul lagi dan memperlihatkan bahwa hidupnya juga bisa berwarna…
Seungcheol yang meyakinkan Junhui bahwa perasaannya hanya untuk ia seorang. Tidak ada yang lain. Pada akhirnya itu hanya omong kosong.
