Actions

Work Header

Burn Your Flower.

Summary:

Shin is a witch who works as a royal painter to hide his identity. And that's where he meets Natsuki—a caretaker of the Queen's flower garden.

Notes:

My first attempt for joining Natsushin week! Maybe I'll post the English version if I'm not busy later...

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Raganya menyusut dalam keheningan malam, rangka jendela tua yang berdecit temani dirinya yang masih terjaga di tengah buaian angin malam. Alangkah agungnya—lihat bagaimana jari lentiknya melekuk indah di atas kanvas putih yang masih kosong. Entitasnya sempurna seperti sebuah purnama, dengan surai selembut sutra yang berkibar cantik, bingkai garis wajahnya dipahat dengan sempurna. Ditatapnya kanvas putih di depannya, begitu polos dan tanpa cela, ingatkan si pemilik surai pirang bahwa ia pada awalnya jua tak ayalnya sebuah karya Tuhan tanpa cela dan noda seperti kanvas ini. Sebuah penghibur yang diciptakan dalam duka, hanya untuk selanjutnya diabaikan begitu saja.

Mungkin ia hanya tersesat. Tapi, siapa yang tahu? Ia hanyalah seekor kumbang yang kehilangan sayapnya—mungkin setahun yang lalu? Dua tahun yang lalu? Atau 300 tahun yang lalu? Dia sudah berhenti menghitung waktu tepat ketika api melahap seluruh emosi yang dimilikinya.

Pria itu menoreh tiap-tiap guratan emosi ke dalam lukisannya, kemudian dibawa tubuhnya tuk masuki jajaran rak penuh buku—beberapa lektur ia duga sudah hancur lantak, pun dapati carik usang suah menguning dan tercerai-berai di bawah lantai.

Ruangan ini berbeda dari terakhir kali ia kesini, tapi tak ada guna tuk coba perbaiki sisa-sisa dari kehidupan lamanya yang masih tersisa. Lentera di tangannya kian meredup, buat pendarnya hanya bisa mengintip secara sayup-sayup.

Oh, purnamanya mulai hilang, ditelan apa yang acapkali manusia sebut sebagai cahaya sang fajar yang terbit. Dilihatnya tempat ini tuk terakhir kali—curi pandang sebelum ia lepas semua beban dipundaknya. Senyumnya terulas kecil. Hanya—setidaknya, biarkan bangkai kecil dipijaknya, yang hanya berupa susunan kayu dan batu menjadi makam sang penyihir yang tengah meratap.

Suara lonceng mengiring langkah kakinya yang mulai menjauh dari sana. Begitu anggun, namun—oh, wahai penyihir yang rupawan—betapa anda penuh dengan cela. Wajah cantiknya simpan ribuan dendam tak terkira, baik kepada sang pencipta, dan bahkan kepada dirinya sendiri. Tapi dalam perjalanannya kali ini, ia perlahan-lahan mulai menemukan ketenangannya. Harap banyak bahwa waktu bisa sembuhkan semua luka yang ada, menutup rongga-rongga kosong pada boneka yang telah cacat.

Ruangan tempat penyihir itu berdiri sudah tak karuan, dipenuhi bau gosong dan debu yang sesakkan napas. Shin—sang penyihir, mengambil sebuah buku yang masih tersisa di sana. Di dalamnya, terdapat puluhan jenis kelopak bunga yang tertempel dengan apik, lengkap dengan nama dari tiap-tiap jenis kelopak yang berbeda. Dadanya terasa begitu sakit, tanpa sadar dicengkramnya buku koleksi itu sembari terbatuk, muntahkan kelopak bunga berbagai jenis—persis seperti koleksi kelopak bunga yang ada di dalam buku tersebut.

"Pada akhirnya, saya akan mati dengan bermandikan taman bunga—seperti keinginan beratus tahun yang lalu. Saya—menepati janji saya, Natsuki. Mari bertemu kembali di tanah perjanjian, Myosotis."


Edinburgh, 300 tahun yang lalu—adalah saat ketika Shin pertama kali bertemu Natsuki. Pria berambut pirang itu adalah seorang penyihir yang menyamar sebagai pelukis untuk keluarga kerajaan. Di sanalah dia bertemu dengan Natsuki, seorang konsultan untuk kebun bunga sang Ratu. Kala itu, Shin diminta tuk lukiskan hamparan petak yang dipenuhi oleh banyak jenis bunga, sesuai dengan keinginan sang Ratu. Jadilah, dia duduk di gazebo taman guna rajut inspirasi.

Tugas kala itu mengantarnya tuk bercakap dengan Natsuki—yang kala itu sedang merawat bunga milik sang Ratu. Shin, yang selalu berdedikasi pada pekerjaannya, tak bisa untuk tak bertanya panjang lebar tentang makna satu persatu jenis bunga yang ada di kebun ini. Menurutnya, hal itu dapat membantunya tuk hasilnya mahakarya yang bisa puaskan hati banyak orang—termasuk dirinya sendiri.

Natsuki mengambil dua buah tangkai bunga yang berada di bagian kiri taman sebelum memberikannya pada Shin—sedang sang penyihir menatapnya dengan bingung.

"Yang di sebelah kanan itu bunga Alstroemeria, atau Lily Peru. Kebetulan warnanya kuning, identik sama energi dan kebahagiaan. Kalau yang satunya itu, Lily Bakung, identiknya dengan kemurnian atau keberuntungan."

"Eh, enggak apa dikasih ke saya gitu aja?"

Natsuki mengangguk sebelum menyeka dahinya yang berkeringat dengan handuk kecil di lehernya. Dia mengambil kembali perkakas yang digunakannya untuk merawat tanaman-tanaman tersebut sebelum menaruhnya di rak yang terletak tidak jauh dari gazebo. "Enggak apa, Nyonya ga akan sadar kalau bunganya hilang barang satu atau dua tangkai."


Hari berikutnya—dan seterusnya, berlalu dengan begitu cepat. Entah siapa yang mengawali kedekatan ini pada awalnya, namun setelah pekerjaan Shin selesai, intensitasnya bertemu pria berambut hitam itu tidak berkurang sama sekali—justru, keduanya jadi sering habiskan waktu di luar jam kerja. Natsuki yang pertama kali menyerukan ide ini, berkata bahwa bukankah ini membosankan—hanya bertemu di gazebo taman dan membicarakan hal-hal yang sama setiap harinya; yang mana langsung tuai gelak tawa dari si pirang, sedikit tak menyangka bahwa sosok yang ia kira begitu berdedikasi dengan bunga dan tanaman juga bisa muak dengan hal yang begitu ia cintai.

Bahkan saat Shin sudah tidak melukis untuk pesanan sang Ratu, Natsuki kerap kali membawakannya setangkai bunga dengan jenis yang berbeda setiap harinya. Shin bukanlah penggiat bunga—namun sejak Natsuki terus meracuninya dengan info menarik mengenai makhluk kecil tersebut, dia tak sanggup hati tuk buang begitu saja bunga pemberian Natsuki. Akan tetapi, ia juga tidak punyai cukup waktu tuk rawat bunga itu dengan menaruhnya ke dalam vas. Jadilah, dia mulai menempelkan satu persatu kelopak bunga pemberian Natsuki, menuliskan nama dari jenis bunga tersebut beserta arti yang tersembunyi dibalik paras cantik kelopak indah tersebut.

"Aku jadi suka bunga gara-gara kamu." Ucap Shin sore itu, kala keduanya baru saja keluar dari gerbang istana. Sudah 5 bulan sejak Shin mengenal Natsuki, dan pada 3 bulan yang lalu—keduanya berinisiatif untuk tinggal bersama. Jangan berfikir yang tidak-tidak—hanya saja, rumah Shin berada jauh di dalam hutan (yang sedikit banyaknya membuat Natsuki bingung dan curiga, namun ia tak mengatakan apapun), hal ini membuat Natsuki iba dan memberikannya tumpangan—dengan syarat agar pria berambut pirang itu membantunya tuk mengurus rumah.

Rumah Natsuki tidak besar, namun tidak begitu kecil. Kebetulan ada dua kamar di dalam, yang satu memang milik Natsuki, sedang yang satu dulunya milik adik Natsuki yang sekarang kosong sebab sang adik merantau di negara sebrang tuk lanjutkan pendidikan. Interior rumah milik pria pecinta bunga itu tidak mewah, namun sarat kental bau bunga dan tanaman menguar di mana-mana.

"Oh, iya? Terus, paling suka bunga apa?"

Pertanyaan Natsuki tak segera dijawab oleh Shin—yang sedang sibuk berkontemplasi. Dia suka bunga mawar—atau anggrek? Tapi bunga matahari begitu hangat—Oh, tapi... lavender sangat harum! Dan orchid terlihat begitu memukau. Shin bingung—dia menyukai hampir semua bunga. Apalagi dengan arti yang terselip di antara kelopak-kelopaknya yang indah.

"Bunga yang kamu beri untukku—apapun itu jenisnya."


"Aku kayanya baru pertama kali lihat bunga jenis itu."

Natsuki menoleh, temukan Shin sedang bersandar di meja kecil sembari memegang segelas kopi di tangan. Sang pemilik rumah sedang bergulat di meja kerjanya, rangkai beberapa jenis bunga yang berbeda menjadi satu. Akhir-akhir ini, dia tidak hanya fokus bekerja untuk istana, melainkan mulai membuka pesanan costume untuk para bangsawan lain yang ingin menyewa jasanya.

"Oh, ini—mawar hitam, forget-me-not, dan anyelir putih. Berduka atas kematian cinta sejati, ringkasnya."

Shin mengerjap beberapa kali sebelum bersenandung pelan. Dari ketiga bunga yang dipegang Natsuki, hatinya jatuh pada mawar hitam yang nampak begitu elegan. "Tapi romantis banget, gak sih?"

"Romantis gimana? Dia lagi berduka, loh."

Shin menaikan bahu, menaruh gelas kopi di atas nakas sebelum menghampiri Natsuki—menopang kepala dengan kedua tangannya sembari mendongak dan tersenyum kepada sang lawan bicara. "Nggak tahu, tapi kedengaran romantis aja. Kematian kan identik sama hal yang menyeramkan, gimana bisa sebuah bunga—yang sejatinya sesuatu yang indah, jadi lambang kematian?"

Natsuki hanya melirik Shin dan terdiam, tidak mengatakan apapun. Dia gerakkan kembali jemarinya tuk satukan tangkai demi tangkai bunga yang dipegangnya.

"Aku suka bunga—aku juga suka Natsuki. Kamu bukan bunga, tapi kamu udah jadi bunga favoritku. Kalau aku mati nanti, aku mau tidur di tengah-tengah ladang penuh bunga—biar nafas terakhirku ditemani oleh peluk malaikat."


Nafas Shin tercekat, lututnya yang sakit sebab bergesek dengan lantai kayu yang kasar sudah tidak lagi ia rasakan. Telinganya berdengung karna teriakan yang begitu memekakkan—hingga ia menyadari bahwa itu adalah teriakannya sendiri.

"Tidak—JANGAN! Bunuh saya, saya mohon... Jangan siksa dia..." Ratapannya tak didengar oleh puluhan warga yang mengamuk, dibutakan oleh amarah sejak mereka mengetahui identitasnya.

"Penyihir itu licik—pria ini pasti sudah bersekongkol dan menyembunyikan penyihir ini selama ini. Manusia penuh dosa sepertinya memang pantas untuk turut dihukum mati!"

Shin berteriak lagi ketika sol sepatu yang keras menginjak punggungnya, sebelum kemudian menendang pipi bagian kanannya. Sakit—sangat sakit. Namun dari semua itu, hatinya tercabik-cabik kala lihat pemandangan di depannya. Kondisi Natsuki tidak jauh berbeda darinya—tidak, bahkan lebih parah. Natsuki adalah manusia, dia tidak memiliki kemampuan untuk beregenerasi dengan cepat sepertinya. Natsuki-nya yang ia cintai—yang selalu ia puja, yang selalu membuatnya merapal doa kepada Tuhan ditiap-tiap malam walau penyihir itu tak percaya dengan adanya Tuhan. Natsuki-nya yang rapuh, satu-satunya bunga kesukaan Shin—terikat tak berdaya di sebrang sana, tubuhnya dipenuhi lebam luka yang mengerikan dengan darah mengalur deras disekelilingnya.

Mata Shin memerah, wajahnya yang cantik dan anggun rusak oleh tangan-tangan kotor yang tak berhenti meninjunya. Penyihir itu memberontak dengan panik ketika satu persatu warga mulai keluar—seharusnya itu jadi pertanda bagus, jika saja indra penciumannya tak deteksi bau gas yang begitu kuat disekelilingnya. Dia tak peduli dengan keselamatannya—namun, gambaran melihat bunga rupawannya terbakar habis di depannya sudah lebih dari cukup tuk membuatnya muntah.

"Natsuki—bertahanlah... Tolong, saya tidak bisa—tidak bisa... Maaf, saya tidak seharusnya berada didekat anda. Maafkan saya—maaf, tidak seharusnya mencintai anda—tidak seharusnya... Natsuki, saya—"

Yang sudah terkulai lemas membuka kedua matanya dengan perlahan, nafasnya yang memburu jadi pengingat bahwa keduanya sedang dikejar oleh kematian.

"Jangan meminta maaf, Shin. Saya memuja anda sebagai diri anda sendiri, bukan—bukan sebab anda seorang pelukis, atau karna anda adalah penyihir. Saya—tidak pernah menyesalinya, tidak sekalipun. Bahkan jika dikehidupan selanjutnya saya harus menderita demi bisa memuja anda, saya akan melakukannya."

Ruangan itu begitu panas, asap tebal mulai menguar ketiap-tiap inci sudut rumah ini—begitu pula dengan kobaran api yang mulai melahap seisi rumah. Ucapan Natsuki begitu berdenging diotaknya, bersamaan dengan gedebuk keras plafon yang jatuh tepat di depannya—buat Shin berhenti bernafas selama beberapa saat. Tubuhnya terciprat oleh darah yang bukan miliknya—darah dari orang yang paling ia cintai.

Begitu mual dirasanya, jadi Shin kembali muntah untuk kedua kalinya. Kali ini bukan hanya darah yang keluar dari mulutnya, namun juga kelopak biru dari bunga Myosotis.

Notes:

Shin is a witch—and have a very quickly regeneration. Yes, he did survive and didn't burn that night. But instead, he suffered from Hanahaki for hundreds of years before giving up.