Actions

Work Header

"Secepatnya, Sakura."

Summary:

Musim panas, kota dengan sentuhan tangan Tuhan, pertemuan yang terhitung kurang dari sebulan dan perasaan yang tidak kunjung diberi validasi sampai pertemuan terakhir mereka dalam penggalan kata "secepatnya".

Notes:

#/TMI you can skip it hehe

I made this fanfiction because I recently went to the beach just to watch the sunset lol, but I suddenly thought of suosaku, and during the trip I also suddenly thought of cmbyn... because I miss them (miss the pain I guess). Agak lebay, but every time my fingers touched the sea water while on the boat, I imagined suosaku doing something 'dramatic' in their summer. Dan TADAAA, ini dia another fanfict SuoSaku yang aku buat, heheh

Selamat membaca! Semoga terhibur ◝(ᵔᗜᵔ)◜

(See the end of the work for more notes.)

Chapter 1: Kelana

Chapter Text

Makochi, kota kecil yang katanya memberikan pengalaman cinta: kehidupan, suasana, rencana. Meski tidak banyak penduduk juga tidak ramai orang luar sengaja datang ke kota ini dengan alasan pribadi mereka, nyatanya, Makochi termasuk kota yang 'hidup'.

Diberi sentuhan cantik oleh Tuhan, Makochi dikenal dengan pemandangan elok tersembunyi. Hanya warga lokal yang mengetahui di mana dan bagaimana rupanya. Entah apa yang membuat kota ini begitu istimewa sehingga Tuhan menghadiahkan banyak hal untuk warga setempat sendiri.

Karena sentuhan Tuhan begitu luar biasa, maka orang-orang berpikir, kota ini memiliki banyak campur tangan oleh cinta.

Sering dijadikan inspirasi sebagai lokasi penemuan kisah romansa, atau dijadikan kota peri dalam dongeng. Makochi seindah itu, katanya. 

Dan mungkin, Suo sebagai orang luar akan mendapati kesempatan melihat bagaimana rupa cantik yang terbenak di kepalanya. Apakah sesuai dengan imajinasi yang dia karang sendiri atau jauh lebih indah melebihi kapasitas imajinasi seorang manusia. Suo tidak yakin, namun dalam hatinya dia menantikan.


"Sampai kapan kamu tinggal di sini?" 

Cuaca panas, semangka dan gelas berisi air es. Definisi sempurna bagi siapapun yang menganggap bahwa musim panas adalah simulasi neraka, mereka rela mendapat surga kecil berupa air dingin yang mengalir di tenggorokan. Hanya saja, Suo Hayato tetaplah Suo Hayato yang akan meminum teh panas di mana pun dan bagaimana pun keadaannya. Pada dasarnya, selera Suo tidak dapat dimengerti, bahkan oleh Kiryu—teman dekat—sendiri.

Sesekali teh panas diseruput pelan, menahan embun yang tercium bibir Suo. "Tidak yakin, mungkin dua minggu? Apa itu cukup?"

Lelaki dengan surai merah muda mendengus dan tersenyum kecil, merapikan futon dekat meja bundar di mana Suo meminum tehnya.

"Dua minggu itu lebih dari cukup. Teman-teman yang lain biasa datang hanya menetap dua hari saja."

Terakhir kali Suo pergi ke Makochi saat sekolah menengah pertama kelas dua, bertujuan untuk bermain di rumah Kiryu yang baru karena dia harus pindah ke Makochi. Setelah itu Suo tidak pernah menapakkan kaki lagi di Makochi, tidak seperti teman-teman lainnya yang lebih sering datang untuk menginap atau bahkan pulang pergi.

Bukan berarti Suo tidak diundang untuk ikut, hanya saja lelaki itu akan inisiatif menolak sebelum diajak. Tidak tanpa alasan, tentu. Tapi alasan itu masih disimpan Suo seorang, tidak ada yang mengetahui karena tidak ingin suatu hal kecil—menurutnya—menjadi perusak pertemanan. Namun apakah hal tersebut dapat merusak untaian benang dengan teman-temannya? Tidak tau juga, Suo hanya tidak ingin menerima perusak kecil dalam hidupnya.

Kini Suo telah kelas tiga menengah atas, sudah lumayan bebas untuk bepergian lebih jauh dari kota yang dia habiskan selama hidupnya. Selama liburan musim panas ini, harus dimanfaatkan dengan baik agar Suo dapat pulang tanpa rasa kecewa.

Akhirnya setelah sibuk dengan urusannya sendiri, Kiryu ikut duduk berhadapan dengan Suo, mengambil potongan semangka dan menghabiskannya sekali gigit. "Tapi aku tidak menyangka, kamu akan datang lima hari lebih awal sebelum mereka datang. Apa kamu punya rencana sebelumnya?"

Rencana, ya....

Suo tidak yakin, tapi salah satu tujuannya ke sini bukan hanya untuk bertemu teman lama dan menghabiskan malam bersama mereka. Dia akan berkeliling sendiri, mencari tempat yang katanya 'disembunyikan' Tuhan itu berada, menghitung berapa banyaknya, dan pulang jika sudah merasa puas.

"Entah, mungkin terpikirkan secara tiba-tiba nanti. Rencana selalu datang kapan saja." tangan semula menangkup gelas, kini sudah terlipat di atas pangkuannya, membiarkan air dalam gelas itu dingin perlahan di atas meja.

"Nikmati saja waktumu. Jangan sungkan jika membutuhkan sesuatu atau bahkan jika ingin keluar pada malam hari."

Suo menautkan alisnya bingung. "Memangnya ada apa di malam hari?"

Yang diberi pertanyaan awalnya enggan menjawab bahkan setelah menghabiskan dua potong semangka lagi—karena tau Suo tidak akan memakannya. Tapi begitu Kiryu melempar biji semangka ke halaman belakang rumah yang berhadapan dengan kamar yang ditempati Suo untuk menginap, surai merah muda itu menopang dagunya.

Dan bukan jawaban yang dia berikan, melainkan sebuah pertanyaan. "Pesta kecil-kecilan?"


Suo senang mengambil gambar, apapun yang dianggap cantik dengan senang hati dia tangkap. Kamera sudah bertengger di leher dengan tali yang melingkar. Berharap matanya akan melirik hal elok, tangannya menjepret pemandangan indah. Lalu jika dia mau, Suo akan memposting—minimal satu—foto di media sosial. Setelah itu? Pulang jika tidak ada lagi yang menarik.

Rencana yang cukup klise, namun tidak terjamin pula rencana tersebut akan sesuai keinginannya, karena Suo adalah orang yang lumayan penasaran dengan hal baru setiap mata memandang. Siapa tau dia tiba-tiba sudah di tempat jauh dari rumah Kiryu karena baru saja menemukan tempat baru, suasana baru dan orang baru.

Lihat saja nanti.

Pemilik rumah menampakkan batang hidung segera setelah Suo baru saja menggeser pintu rumah, "Hati-hati di jalan, Suo. Kalau butuh sesuatu secara mendadak hubungi aku, ya!" Kiryu melambaikan tangan dengan ponsel di genggamannya, mengisyaratkan sesuatu yang sudah jelas Suo mengerti.

"Oh, dan jangan terlalu malam juga, aku ingin kamu berkenalan dengan teman-temanku, mereka lahir dan tumbuh di sini." tambah Kiryu setelah dia melihat isi ponselnya.

Lelaki dengan penutup mata itu tersenyum, mengucapkan 'sampai jumpa' dan pergi tanpa melihat belakang.


Kota kecil, katanya. Namun dalam sudut pandang Suo sendiri, karena dia hanyalah manusia dengan ukuran tinggi standar, kota ini masih sangat besar untuk disebut kecil. Banyak warga berlalu-lalang untuk datang-pergi ke tempat tujuan mereka, berbeda dengan Suo, masih pagi dan tidak ada tempat tujuan. Biarkanlah angin membawanya bebas ke mana saja, asal pulang tetap selamat.

Sebenarnya tempat Suo berada saat ini adalah lapang luas yang berisi banyak kegiatan warga setempat: ada yang berdagang, melakukan pertunjukan musik kecil, membawa barang besar di pundak mereka, mendorong gerobak isi bahan pangan dasar dan lainnya. Sangat ramai. Berbagai toko juga berjajar melingkari lapangan tersebut, Suo menebak lapangan luas ini kerap dijadikan tempat acara yang meriah di hari tertentu.

Namun Suo masih belum juga menemukan pemandangan 'pilihan' Tuhan berada. Bukan bermaksud Suo mengatakan keadaan saat ini bukan 'hadiah' dari Tuhan, tentu saja ini salah satu pemandangan yang tak kalah indah saat Suo mengambil gambar dengan kameranya. Yang dia maksud adalah: di mana tempat tersembunyi yang dimaksud orang-orang?

Di antara banyaknya toko yang menarik mata untuk dilirik, Suo memilih toko yang menyediakan menu makan sederhana di papan depan gerai. Begitu kenop pintu dia buka, bunyi bel nyaring berasal dari atas kepalanya saat dia mendongak.

Yang paling pertama Suo lihat adalah vas bunga kecil dengan setangkai bunga di setiap meja, sudut tempat mendapatkan penerangan yang baik dari lampu atap, kipas angin atap berputar pelan, dan aroma manis lewat tanpa permisi di indera penciuman Suo.

Tujuan utama Suo memasuki toko untuk membeli minum pelepas dahaganya lalu bertanya pada pekerja toko, adakah tempat rekomendasi yang cantik untuk dikunjungi.

hanya saja... ternyata di dalam tidak ada siapapun. Suo bahkan tidak mendengar adanya kegiatan di dapur belakang, asumsinya berkata: mungkin penjaganya absen selagi tidak ada pengunjung. Namun begitu Suo akan membalikkan posisi menghadap pintu untuk keluar dari toko, pintu tiba-tiba saja terbuka sehingga menabrak tubuhnya.

Pelaku yang membuka pintu itu adalah seorang perempuan dengan rambut menyentuh bahu, lalu tahi lalat hinggap di salah satu bawah matanya. Dia menggunakan apron hijau, mungkin perempuan ini penjaga tokonya.

Ekspresi panik menghiasi wajah perempuan surai pendek itu, lalu menepuk tangan, mengarahkan keduanya di depan kepala dengan sedikit tertunduk.

"Astaga, sungguh maafkan aku! Aku tidak sadar kamu berdiri tepat di depan pintu, padahal pintu cukup menerawang untuk melihatnya dengan jelas. Maafkan aku." 

Lelaki berpenutup mata tersenyum tipis, tangannya memberikan isyarat kepada perempuan di hadapannya untuk tenang. “Tidak apa-apa. Apakah kamu ada yang terluka?”

“Seharusnya aku yang bertanya seperti itu! Maafkan aku sekali lagi.”

Kotoha. Nama yang terpampang di label bajunya, sudah pasti dia penjaga toko.

Begitu telah membungkuk sedikit untuk minta maaf, Kotoha mengarahkan lengannya ke meja di belakang kiri Suo. “Apakah kamu ingin memesan sesuatu? Maafkan aku karena tadi tidak ada di tempat untuk melayani.”

Menghabiskan sepuluh menit untuk menunggu minum yang Suo pesan. Jam dinding menunjukkan pukul sepuluh pagi, tapi matahari di langit sungguh cerah sehingga Suo merasa sedikit terbakar.

Teh apel dingin disediakan di meja bar tempat Suo duduk. Gelas mengeluarkan embun di luarnya dan bersatu menjadi tetesan air yang jatuh ke bawah sudut gelas.

“Maaf hanya tersedia minuman saja, bahan pangan belum datang karena yang mengantarnya entah pergi ke mana. Bahkan telur saja belum dia antar…” gumam Kotoha sedangkan dirinya fokus membersihkan gelas dengan lap. “Mungkin dia lupa lagi.”

Fokus pada kamera di tangannya untuk memasang lensa tambahan, Suo menundukkan kepala sebagai tanda berterima kasih. “Tidak apa, ini sudah cukup.”

Perempuan itu akhirnya memberikan seluruh atensi pada lelaki di hadapannya. “Kamu bukan dari sini, ya? Kamu terlihat asing.”

“Ya, aku di sini untuk mengunjungi teman lama dan menetap sebentar.” sedotan ia putar pelan mengelilingi isi gelas minumannya.

Kotoha ber-oh ria tanpa suara, lalu menopang dagu pada meja bar. Kotoha hanya melihat Suo tengah fokus mengganti sesuatu pada kameranya, bukan hal yang dirinya mengerti tapi Kotoha menikmati gerak-gerik Suo yang sibuk dan keduanya hanya terdiam ditusuk suasana yang sedikit canggung.

Sesaat, Suo baru mengingat tujuannya setelah mematikan kamera di tangan. “Aku hampir lupa, apakah aku boleh bertanya sesuatu?”

“Tergantung apakah aku bisa menjawabnya,” usil Kotoha tersenyum memperlihatkan deret giginya. “Katakan saja.”

Sebelum Suo mengatakannya, dia menggaruk tengkuk yang tak gatal, merasa malu karena ternyata dirinya begitu kukuh untuk melihat pemandangan di Makochi. 

“Apa ada tempat rekomendasi yang harus aku datangi di kota ini? Maksudku, memiliki pemandangan alam? Seperti itu.”

Akhirnya lelaki itu dapat bernapas lega hanya untuk melontar kalimat pertanyaan sederhana, hanya saja begitu Suo mengalihkan perhatian pada Kotoha, perempuan itu tengah menahan napas—keterbalikkan dari Suo.

“Ini bukan pertama kalinya aku mendapat pertanyaan serupa dari orang luar Makochi.” diiringi tawa renyah Kotoha.

Jari telunjuk menghadap dagu mengisyaratkan sedang berpikir, “Apa kamu sudah mengunjungi pantai, ladang bunga, bukitnya, air terjun yang sudah sering disebutkan di situs internet?” 

“Aku sebenarnya belum mengunjungi satupun dari mereka.” cicit Suo sedikit malu. “Tapi maksudnya yang jarang orang tau, aku ingin pergi ke sana.”

Jari-jari Kotoha semula menghitung tempat yang dia sebutkan, kini mengetukkan telunjuknya di meja. “Maka aku tidak bisa memberi rekomendasi kalau itu. Karena kamu harus mencarinya sendiri.”

Bohong jika Suo tidak merasa sedikit kecewa, tapi dia beroptimis untuk mencari tau sendiri bahkan sebelum Kotoha mengatakan harus mencari sendiri.

“Memang benar Makochi itu banyak tempat tersembunyi, tapi saat bersamaan, orang-orang di sini tidak ada yang begitu antusias sebagaimana orang luar ingin mencarinya.”

Suo berpikir sejenak, membayangkan butuh waktu berapa lama untuk menjelajahi Makochi hingga sudut-sudutnya. Jika ternyata Makochi membiarkan dirinya berjelajah lebih dari dua minggu selama menetap di sini, mau tidak mau, Suo harus pulang dalam keadaan penasaran. 

Dia bisa saja menemukan tempat terbaik di antara sepuluh tempat yang akan dia kunjungi, tapi itu seperti satu banding seratus seandainya Suo mencari seorang diri. Namun jika dia mengajak Kiryu untuk ikut, bisa saja lebih cepat sebelum dua minggu.

"Sebaiknya kamu mendatangi tempat yang mudah dikunjungi dulu. Tidak perlu terburu-buru, karena aku yakin mereka yang akan menemukanmu lebih dulu, bukan sebaliknya."

Memang benar, selagi masih ada waktu dan dia menikmatinya, maka tempat itu akan ditemui tanpa rencana. Menikmati kota untuk hari ini juga tidak buruk. Baru saja Suo akan berterima kasih dan pamit pergi, Kotoha menepuk pelan meja di depannya secara pelan.

Dalam gumamnya, Kotoha ingat ada tempat yang layak untuk dikunjungi oleh orang luar di hadapannya meski tempat itu 'dijaga' keras oleh seseorang. Kotoha juga memutar ulang memori ketika dia mengatakan bahwa lokasi tersebut cocok untuk melepas gundah, sambil tersipu malu.

“Bagaimana kalau tempat itu?”


Matahari semakin naik tepat di atas kepala, menjadikan apapun di bawahnya memiliki bayangan. Tidak sepanas yang dibayangkan, namun tetap saja Suo yang sudah berjalan hampir sejam menuju lokasi merasakan nikmatnya terik secara gila merambat dari ujung kepala hingga kaki.

Karena musim panas, pilihan menggunakan lengan—sedikit—pendek dari pakaian yang biasa dia pakai adalah pilihan tepat, bahannya lebih tipis juga sehingga Suo bisa merasakan butiran keringat berjatuhan di punggungnya. Menjadikan sensasi geli selama dia berjalan.

Langkah Suo memberikan jejak sepatu yang ia pakai di atas pasir, sesekali melihat kebelakang untuk tau bagaimana hasil 'mahakarya' dari kakinya. Terdengar pula desiran ombak seolah menyapa kawan lama dan menggoda agar dia mau untuk menyentuh airnya, buih dari ombak semakin naik mencoba meraih dari jauh, dapat dirasa air asin menusuk indera penciumannya. Dan juga anting-anting Suo ikut menari bersama arah angin menerpa.

Sebentar lagi dia akan sampai di tempat tujuan. Kotoha menyarankan Suo untuk datang ke tempat yang mudah ditemui saja dulu, maka dari itu Kotoha membuka map di ponselnya dan memperlihatkan lokasi pantai. Tapi, tidak hanya sampai di pantainya saja, dia harus terus berjalan sampai akhirnya menemukan batu besar yang menjadi penghalang antara tempat tujuannya. Begitu instruksi dari Kotoha. Bukan tempat biasa, katanya.

Semua terasa familiar walau ini pertama kalinya Suo mengunjungi pantai di Makochi, mungkin yang dimaksud adalah saat dia berkunjung ke pantai dengan keluarganya—ralat, dia hanya pergi sendiri sedangkan keluarganya sibuk mengurus bisnis. Menghibur diri di hadapan burung camar yang terbang tinggi di atasnya. Suo iri karena ingin bebas juga. 

Bercerita di tepi pantai seorang diri, Suo mengaku merindukan sesuatu yang sebelumnya belum pernah terjadi.

Selagi lensa kamera tidak henti menangkap adegan dramatis alam dan Suo merasakan letupan kecil dalam hati—puas melihat hasilnya, batu penghalang kini tepat di hadapannya. Lirik mata memperhatikan sekeliling. Batu karang berukuran setengah dari tinggi tubuh Suo terlihat 'melindungi' batu tinggi di belakangnya. Semakin mendekati ujung pantai, tebing sebelahnya juga kian tinggi.

Alas kaki Suo lepas untuk menghindari basah karena dia harus menginjak tumpuan batu yang dimandikan laut ketika ombak menerpa. Ada tujuh batu yang harus dia injak di depan, dengan hati-hati Suo melangkah, memastikannya agar tidak tergelincir selagi satu tangan sibuk memegangi batu di sebelahnya.

Begitu Suo kembali lagi menginjak pasir, dia disambut mulut gua yang tidak diketahui kedalamannya. Namun karena adanya sinar mentari masuk, cukup untuk menjadi penerang sehingga Suo dapat melihat sekitar dengan baik. Tapi apakah dia akan masuk gua lebih dalam? Tentu saja tidak, ada sedikit rasa waspada dalam hatinya.

Jika dipikir lagi, tempat seperti ini tentu hanya warga lokal saja yang tau. Maksudnya, tidak semua orang luar akan berani untuk masuk gua ini tanpa memikirkan hal buruk, karena siapa tau di dalamnya ada hewan buas bersembunyi—tidak mungkin.

Sebenarnya di sudut kanan mulut gua tadi, terlihat abu dari kayu yang berserakan, sepertinya tempat ini belum lama dipakai seseorang atau kelompok. Setidaknya tempat ini tidak terbengkalai begitu saja dan masih berpenghuni.

Setelah berdiri di mana sinar yang masuk tidak dapat meraih lagi kedalaman gua, Suo terhenti, masih menilik kegelapan. Yah, sebaiknya dia duduk di tepi gua sambil menikmati deru ombak, sedikit bercerita dari hati ke hati tentang masa lampau. 

Namun kala Suo akan memutar tubuhnya, sudut mata tidak sengaja menangkap siluet seseorang dari dalam kegelapan. Kaku baginya hanya untuk berdiri dalam posisi semula dan memastikan rupa seseorang yang berdiri di seberangnya, terlebih gelap membutakan pandangannya.

Sedangkan lelaki yang Suo maksud menyilangkan tangan di dada, langkah demi langkah dia ambil untuk lebih dekat dengan lelaki berpenutup mata itu. Suo mengambil langkah mundur, membiarkan dia untuk tetap maju dan terkena sinar agar lebih terlihat.

Tidak dikira, Suo akan mendengar suara yang menggema dari seseorang di depannya. Terdengar sedikit serak karena sebenarnya empunya suara baru terbangun dari tidur, meski begitu, suara nyaring itu masih terdengar berani dan menantang. Juga terdengar angkuh.

Satu kata dan Suo terdiam lagi untuk mundur.

"Siapa?"