Actions

Work Header

'Kujadikan Indah

Summary:

[SONGFIC - ST12: RASA YANG TERTINGGAL]
-
Coffeeshop AU! Age gap, but both of them are of legal age!
-
Kazuha bertemu pria paling cantik di dunia saat ia hampir selesai shift sore di kafe tempatnya bekerja. Melodi di hatinya bersenandung, dawai dalam jiwanya terpetik, satu kisah dan satu lagu pun dimulai di antara mereka berdua.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Bila asmaraku telah tiba

Merenggut nafas dijiwa


Kazuha pertama kali bertemu dengan orang itu di dalam cafe. Di pintu masuk, hanya sesaat sebelum kafe tutup. Ketika Kazuha biasanya akan memaksa senyum di tengah lelah dan terpaksa melayani pelanggan (karena haram hukumnya mengusir pelanggan dengan cara apa pun di tengah usaha yang sedang merintis—begitu pesan owner kepadanya) kini Kazuha terpukau dan terpana. 

Pria itu datang dalam jas kantoran yang sangat rapih, bahkan terlalu rapih untuk pakaian yang terlihat di malam hari, selepas jam kerja semua orang. Apakah dia shift malam? Tapi baju kantoran dengan jas dan dasi seperti itu jarang sekali punya shift malam. Apa dia petinggi sebuah pabrik? Tidak, Kazuha berani berasumsi lebih jauh. 

Dia hanya bisa melihat dan menyimpulkan satu hal: pria itu tampan. Sangat tampan. 

Mata kelabu yang indah, rambut hitam seperti langit malam, tatapan yang rasanya hanya akan bisa kau lihat di dalam drama-drama televisi yang menceritakan kecantikan surgawi, bibir yang ranum, tulang pipi yang tajam, dan jari jemari yang ketika menyapu anak-anak rambut itu tampak lentik dengan gerakan halus yang serupa gerakan seorang penenun kain, alih-alih pekerja kantoran.

Pria itu memiiki pesona yang langsung memikat hati. Bukan jenis ketampanan yang sekadar memukau mata dan membuatnya melirik sekejap mata, tapi ketampanan yang juga dikombinasikan dengan kecantikan tiada tara yang tak bisa dijelaskan dengan kata. Tipe kecantikan yang mencuri pandang dan napas seketika dalam sapuan mata yang pertama. Sebuah kecantikan aristokratik yang mungkin tak akan ada lagi dalam dua ratus tahun ke depan. 

Tanpa sadar, Kazuha menyentuh dadanya sendiri. Jantungnya sendiri.

Keterpaksaan hilang, lenyap sudah dari hatinya. Ketika matanya beradu pandang dengan sosok pria yang datang melalui pintu masuk. Melalui satu denting bel, saat itu juga Kazuha merasa dawai jiwanya terpetik dalam alunan nada yang belum pernah ia tuai sebelumnya. 


 

Itu dia yang datang hadirkan cinta

Menyebar ke dalam rasa

 


 

Selama sesaat, Kazuha yakin dirinya betul-betul berhenti bernapas. Dia memegangi dadanya, mencoba meyakinkan diri bahwa dia masih hidup, jantungnya masih berdetak dan dia masih bernapas. 

Oh, Tuhan, kecantikan itu nyaris membuatnya mati dalam bahagia.

“Permisi, apa kafe ini masih bisa mengambil pesanan?” Tanpa Kazuha sadari, pria cantik dan menawan itu sudah berdiri di depan meja kasir. 

Sebagai satu-satunya yang tersisa di shift malam itu, Kazuha memilki kewajiban penuh untuk melayaninya. Situasi itu biasanya diladeni Kazuha dengan senyum masam, karena besok dia masih harus kuliah dan ada kelas pagi, tapi jika pelanggannya setampan ini, selayaknya malaikat yang entah kenapa jatuh ke bumi di malam hari, siapa yang akan keberatan?

“Ya, tentu saja masih buka, Kakak.” sapa Kazuha ramah. “Mau pesan apa?”


Dapatkah ku mengatakannya

Perasaan yang ku punya

 


Menggemaskan sekali, Kazuha membatin. Ketika dia mengira pria cantik itu akan memesan minuman sejenis flat white atau latte, ternyata dia justru memesan Espresso On The Rock dengan es batu sedikit.

Berkebalikan dengan wajah cantiknya, pria ini punya selera yang cukup maskulin. 

“Ada yang ingin begadang malam ini, ya?”

Sunyi kemudian. 

Oh, sial, Kazuha mengumpat dalam hati. Apa dia sudah melewati batas? Dia sudah membuat pria tampan ini marah? 

Kazuha berdeham. “Ja-di … satu gelas saja, ya?”

“Ya…” Pria itu menjawab dengan nada lamat-lamat yang aneh. “Karena yang mau begadang hanya saya saja.”

Saat itu, Kazuha seperti mendengar suara melodi yang merdu dari nada suara sang pria. Kazuha pun mendongak, dan langsung berhadapan dengan senyum tipis paling hemat, namun palng indah yang pernah ia lihat dari seorang pelanggan. 

“Sepertinya ada anak muda yang masih semangat bekerja kendati sudah malam.” Pria itu menaruh tangannya di atas meja. Matanya, Kazuha menyadari, tertuju pada name tag yang ia kenakan. Seketika Kazuha merasa bersyukur dia tidak sedang bertukar apron dengan Heizou saat ini. “Kamu cukup bersemangat dalam pekerjaanmu ya … Tuan Kazuha?”

Kazuha langsung merasa jantungnya melompat dari sangkar dada. “E-eh, panggil saya Kazuha saja, Kak.”

“Mana bisa begitu?” Pria itu tersenyum jahil. “Kamu bekerja di sini. Dan ini masih jam shift-mu, bukan?”

Melihat tatapan yang memperingatkan itu, Kazuha langsung tersenyum lesu. Pundaknya turun. Sepertinya dia baru saja kena tolak secara halus.

“A-ah, ya … benar. Ini masih jam shift saya.” Kazuha segera mengetik pesanan itu dan mencetak struk. “Kalau begitu ini struknya, mohon ditunggu, saya akan segera buatkan pesanannya.”

Pria itu meraih struk belanjaannya. 

“Terima kasih … Kak Kazuha.” Mendengar panggilan itu Kazuha berjingkat. “Wah, wah, apa aku sekali lagi melakukan kesalahan? Kamu tidak suka dipanggil kakak juga?”

“Eh? Ti-tidak maksud saya bukan begitu, saya hanya kaget…” Merasa tak mungkin bisa menyangkal dan yakin kalau dia menyangkal lagi, malah akna berdampak buruk bagi percakapan ini dan membuatnya mati kutu, Kazuha pun memutuskan untuk mengalah. “Kalau begitu … panggil saya Kakak saja…”

“Nah, begitu, dong. Lelaki itu harus tegas selama masih muda.” Pria itu tersenyum murung. “Tunjukkan semangat mudamu ke pelanggan lain, jangan malas-malasan ya, Kak Kazuha.”

Ugh, belum apa-apa, sudah diledek, Kazuha membatin pasrah. “Ya, saya paham … Kak…”

Kata-kata Kazuha lantas terputus, baru menyadari bahwa dia belum memiliki nama kakak itu.

“Scaramouche.” Pria itu menyahut tanpa Kazuha minta. “Panggil saja Scara.”

Setelah mendengar jawaban itu, sekali lagi, Kazuha mendengar melodi merdu mengalun di telinganya. Melodi yang begitu asing, tak ia kenali, tak pernah ia dengar, tapi entah kenapa membawa kesyahduan tak terelakkan ke dalam sanubarinya.


 

Untuk dia mestinya ku ungkapkan saja

Tuk dapat jawaban darinya

 


 

Malam itu berlalu dengan Kazuha menyerahkan pesanan kepada sang pria cantik: Scaramouche namanya. 

Tapi perasaan yang mendera Kazuha tak berlalu begitu saja. Perasaan itu bahkan terus bersarang dalam pikirannya, bagai benalu, terus menggerayangi benak dan imajinya dalam hari-hari yang seolah berlalu semakin lambat saja. 

Setiap kali terpejam, Kazuha terbayang wajahnya, wajah pria yang paling rupawan yang pernah ia jumpa. Hatinya tak bisa diam begitu saja. Dalam bangun pun, yang terbayang hanya wajah cantik Scara seorang saja. Seolah tak bisa lupa, seolah benaknya menolah untuk melepaskan begitu saja. 

Ditambah melodi itu seolah terperangkap di telinganya. Kazuha yang tak bisa diam akhirnya mengambil gitar di hari libur dan mulai menenun nada demi nada sambil membayangkan Scara di benkanya, menanamkan apa yang ia alami dan rasakan di malam itu sebagai dasar musik yang ia cipta.

Bait demi bait larik lagu pun muncul dari suaranya.


 

Dapatkah aku memeluknya

Menjadikan bintang di Surga

Memberikan warna yang bisa

Menjadikan indah

 


 

Dapatkah aku memeluknya? ‘Tuk jadikan bintang di surga … Kazuha menyenandungkan pertanyaan itu dalam hati dan melodi yang mengalun dari bibirnya dalam setiap waktu luang di sela kerja. Di sela jam istirahat, dan bahkan setelah shift nya selesai. 

“Kamu ngapain, sih, sampai bersenandung mulu begitu, seharian ini?” Aether, rekan kerjanya, bertanya iseng ketika jam pergantian shift dimulai. 

“Biasa, paling lagi ketemu muse baru.” Heizou menyahut dari balik meja kasir. Lalu tersenyum jahil. “Atau mungkin si pujangga muda kita ini akhirnya jatuh cinta.”

Jatuh cintakah itu? Kazuha mendapati dirinya bengong pada pernyataan itu. Apakah jantungnya yang berhenti tatkala menjumpai kecantikan tiada tara itu bisa diartikan sebagai cinta? Apakah cinta tak jatuh perlahan-lahan sebagaimana daun gugur dari tangkainya, seperti yang dikatakan para penyair? Melainkan datang tiba-tiba laksana petir dan gemuruh di malam hari tak berbadai? Tiba-tiba dan mengguncang seluruh dunianya. 

“Apakah itu cinta…?” Kazuha bertanya-tanya pada diri sendiri.

“Yeu, kenapa tanya kami?” Aether menyikutnya kesal. “Kamu yang seharusnya paling tahu, kan? Ini kan perasaanmu.”

“Memang anak ini terlalu lama di langit ketujuh.” Heizou menggelengkan kepala dengan prihatin, tapi kemudian pemuda berambut magenta itu pun menyandarkan sikunya ke pundak Kazuha. “Tapi aku jadi penasaran. Siapa yang bisa menarik hatimu sampai segininya demam cinta, Oh Pujangga seribu puisi romansa?”

Bagai pucuk dicinta ulam pun tiba, bel kafe berdenting saat itu juga. Kala kafe belum lagi naik ke jam menjelang tutup. Pintu kafe terbuka dan wajah cantik nan rupawan Scara berjalan masuk ke dalam kafe dengan setelah formalnya yang lain, kali ini berwarna burgundy dan jas hitam. Senyumnya tampak sedikit masam malam ini, tapi Kazuha punya firasat senyum itu bukan ditujukan untuk dirinya. 

“Apa kalian masih punya Espresso Double Shot lagi untuk malam ini?”

Saat itu, Kazuha mendengar dengan jelas Heizou bersiul pelan di sisinya dan berbisik: “Pantas saja kau terpesona, Pujangga Muda,” pujinya. “Dia secantik Monalisa.”

Di hadapan pujian itu, Kazuha mendapati dirinya tak bisa berkutik. 

Ah, mungkin Heizou benar. Mungkin kazuha sudah terperdaya cinta. 

Dia terpanah perasaan yang datang bagai kilat, tapi bukannya datang sesaat seperti halnya pesona dan kekaguman, perasaan ini tertinggal di hatinya, menancap dan mengakar kuat, menjadikan cinta yang membuai dan memperdayanya sedemikian rupa sampai ia mabuk kepayang. 

Ah, jadi inilah, Kazuha membatin. Inilah yang namanya Kasmaran.

 


 

Aku tak mampu mengatakan

Aku tak mampu tuk mengungkapkan

Hingga sampai saat ini

Perasaan tlah tertinggal

 


 

Setelah itu, kunjungan Scara menjadi rutin ke kafe Summer Breeze. 

Entah kenapa, Scara sendiri tak mengerti apa sebabnya. Menurutnya, espresso yang disajikan di kafe itu lezat. Hanya itu alasannya. Seharusnya dia bisa mencari alternatif pengganti untuk minuman semacam itu. Toh, dia bukannya ada di jalan yang sepi dari coffeeshop. Ada banyak coffeeshop sejenis setiap kali kau melangkah. Di gedung kantornya pun ada coffeeshop sendiri. 

Tapi entah kenapa, malam demi malam, Scara mau berjalan kaki lebih lama untuk tiba di kafe Breeze demi menyeruput sedikit espresso yang disajikan oleh pemuda berambut putih dengan sedikit highlight merah di rambutnya itu. Mungkin karena senyum canggung pemuda itu, mungkin juga karena sikapnya yang malu-malu dan imut yang mengingatkan scara pada anak-anak muda yang dulu sempat ia didik. Biar bagaimanapun, dia sudah ada di pertengahan tiga puluh. Sudah bukan usia wajar bagi dirinya untuk jatuh cinta pada pemuda berusia … entahlah, dua puluh tahun mungkin? Atau lebih? 

Ah, ya, Scara baru ingat. Mereka tak saling mengenal, lebih dari sekadar nama. Anak itu bahkan tak tahu apa pekerjaan Scara, di mana ia bekerja, dan bahkan tidak tahu siapa nama lengkapnya. Tapi cukup dengan sebuah nama, cukup dengan itu dan segelas kopi nikmat yang menghubungkan mereka di malam yang penat itu, Scara bisa datang berulang kali ke kafe ini. 

Kadang kala mereka tidak berbicara, kadangkala saling bertatap, kadang kala saling bicara. Awalnya di satu meja di ujung kafe. Lalu ke tengah kafe, dan akhirnya di dekat meja. Entah sejak kapan, Scara menjadi betah dan nyaman ada di dekat pemuda itu setiap kali dia kedapatan shift jaga. Setiap kali Kazuha ada di belakang breakfast bar, Scara langsung duduk di depan dan meminta satu minuman yang biasa. Tanpa gula, Kazuha sudah hapal seleranya dan Scara tersenyum setiap kali mengingatnya. 

Menu favoritnya diingat oleh orang lain bukan pengalaman baru baginya. Biar bagaimanapun, satu divisi sudah tahu minuman favoritnya. Tapi ketika seseorang yang asing mengenalnya dan mengenali seleranya, semua terasa berbeda, entah bagaimana. 

Rasanya seperti diingat oleh seseorang. Rasanya seperti … sedikit berarti. 

Entahlah, Scara tidak paham. Dia menjadi tidak paham banyak hal belakangan ini. Sejak mengenal Kazuha, sejak terperangkap di sepasang mata merah yang lebih mirip warna langit senja itu, Scara lebih banyak tak tahu apa-apa. Mulai dari kenapa dia jadi semakin rutin ke kafe, semakin dekat dengan meja Kazuha, hingga sampai dia dan Kazuha mulai bersentuhan. 

Dimulai dari ujung jari yang tak sengaja bertemu di pinggir cangkir kopi, hingga di satu saat, jari Kazuha berhenti di atas tangannya. Hanya satu jari. Tapi gerakan sekecil itu membuat Scara mendongak, menatap sang pemuda tepat di kedua matanya. Dan mendapati pemuda itu pun juga tengah memandangnya dengan tatapan teduh yang sama. 

“Kazuha…?”

“Kak … Scara…”

Imajinasikah ini? Sejak kapan wajah Kazuha menjadi begitu dekat? Sejak kapan … mata Kazuha menenggelamkannya seperti ini? 

Ah, Scaramouche tidak peduli. Apa yang terjadi di malam ini, mungkin hanya mimpi indah yang tak akan terulang kembali di hidupnya yang penuh kegagalan dan kehilangan. Mungkin mimpi ini akan segera berakhirdir dan dia akan terbangun lagi di apartemennya yang sepi.

Jadi biarkan dia terbuai dalam ciuman yang beraroma rokok dan espresso robusta dingin ini dengan segenap hati.


 

Dapatkah dia merasakan

Satu nafas yang tersimpan

 


 

Gila, gila, gila, Kazuha merasa dia akan gila.

Apa dia baru saja mencium Scara kemarin malam? Saat mereka sedang berdua di dalam kafe? Dan setelah Scara mendoronnya secara tiba-tiba, dia pun meninggalkan Scara setelahnya tanpa kata-kata, seolah dia memperlakukan semuanya seperti sekadar mimpi belaka? Fantasi di tengah pengaruh cafeine dan adrenalin dan rasa lelah? 

Oh, seberengsek apa sebenarnya Kazuha? Dia bisa memperlakukan One Night Stand sebagai sesuatu yang biasa, tapi ciuman? Ciuman atas dasar suka sama suka? Tunggu, memangnya tahu dari mana dia, kalau itu ciuman suka sama suka? Bisa saja mereka hanya terbawa suasana. Bisa saja mereka dimabuk oleh rasa letih dan ketertarikan sesaat yang tidak akan berbuah apa-apa jika diteruskan. 

Mungkin dorongan Scara semalam adalah tindakan yang benar. Mungkin mereka hanya terlalu impulsif dan terlalu terbawa suasana. Beruntunglah mereka, kejadian itu berlalu dan berhenti cepat, sebelum semuanya menjadi terlalu rumit. Sebelum mereka terjebak terlalu dalam. 

Beruntung, memang … tapi kalau memang dia baru saja terhindar dari masalah, jika yang dia lakukan adalah benar, jika permisahan dadakan semalam adalah jalan yang paling tepat bagi mereka…

Apa kiranya rasa sakit tak terperi yang mendera Kazuha tiap siang dan malam ini?


 

Itu bukan cinta

Sekedar cinta biasa

Yang sesaat dan trus hilang

 


 

Kazuha tak menyangka, dirinya sudah merasaka patah hati lebih dulu daripada merasakan cinta. Dia sudah menyaksikan bagaimana bunga gugur dalam kuncupnya, jatuh ke atas tanah beserta daun dan kelopak emreka yang tak sempat berbunga. 

Dia sudah merasakan patah hati bahkan sebelum cintanya bersemi. Sebelum sempat mekar. 

Rasa sakit itu berkepanjangan. Pada malam-malam terburuk, Kazuha meratap dan menangis sendiri. 

Sejak hari itu, ia tidak lagi pernah bertemu Scara. Seolah pria itu hilang selamanya. Tidak pernah hadir dalam hidupnya dan hanya mimpi-mimpi indah di siang bolong dari seorang pemuda tanggung yang bahkan tak mampu melepas mimpi masa kecilnya untuk bisa jatuh cinta pada pandangan pertama ke orang yang tepat. 

Dalam kubangan keterpurukan yang ia buat sendiri, Kazuha meraih gitarnya dan mulai bernyanyi. Ia tak bermaksud merekam suaranya sedang patah hati atau merekam permainan gitarnya yang sedang dirundung sepi. 

Tapi rupanya ia bermain gitar di tengah kafe pada saat itu dan setelah pulang, Aether memberikan kepadanya salinan rekaman performanya menghibur para pengunjung di akhir pekan dengan live music. 

Ia memutar rekaman itu berulang kali, berulang kali. Awalnya hanya untuk iseng, mengusir sepi, lalu karena rekaman itu diambil dari depan dan semua not jarinya terbaca jelas, Kazuha pun mulai mencatat setiap cord. F, G, A minor—selalu berkutat di tiga nada itu. Hanya berputar di sana. Seperti sebuah kubangan rasa. Dia terjebak di dalamnya. 

Ah, Kazuha menyadari. “Sepertinya aku benar-benar jatuh cinta.”

Ke dalam labirin tak berujunglah, ia berlabuh. Ke dalam lubang tak berdasar, ia menjatuhkan diri dengan bahagia. Ke dalam sebuah siksaan dunia bernama cinta. Siksaan sedih sengsara tiada dua, tapi entah kenapa selalu didamba dan ingin dicicip oleh semesta. Dalam kesakitan dan dalam rasa yang berputar silih berganti dalam siklus abadi, dua hati selalu terpaut, bertemu, berubah, dan saling rasa. Saling mengakui. 

Setelah memahami perasaan itu, Kazuha pun meraih gitarnya. Kali ini dengan perasaan yang lebih lega. Secara psikis, dia sudah jauh lebih membuka diri. Jauh lebih menerima keadaan. 

Dan ia pun mulai menyanyi. Dan terus bernyanyi, hingga tiba waktu tampilnya lagi di atas panggung kafe, tempatnya memerik gitar, dan sekali lagi menatap ke arah kerumunan orang, dan di sanalah, matanya bertemu lagi. 

Seperti di awal mereka bertemu, di malam yang sepi itu. Meksi kini situasi ramai, Kazuha merasa, saat itu di kafe hanya ada mereka berdua. Semesta berisi dirinya dan Scara saja. Sama-sama tercenung. Sama-sama terdiam tanpa kata. Lalu anpa kata, Kazuha hanya memberinya sekilas pandang dan menatap kerumunan penonton. 

“Selamat malam, Semua Pengunjung Breeze Cafe yang budiman.” Kazuha mengalungkan gitanrnya. “Siap mendengar musik malam ini?”

Pertanyaannya disambut riuh gempita. Semua kecuali satu orang, menyambutnya. Kazuha tersenyum tenang. 

“Kalau begitu, mohon dengarkanlah, suara hati saya ini.” Satu nada ia petik. “Sebuah lagu sederhana dari hati, diciptakan oleh saya sendiri, kepada sang pujaan hati.”

Kemudian Kazuha melempar pandangan terakhir kepada Scara. Pria itu terlonjak dan Kazuha tersenyum puas. Pesannya telah tersampaikan. 

Kak Scara, Kazuha membuka mulut. “Lagu ini untukmu.”


 

Dapatkah aku memeluknya

Menjadikan bintang-bintang di Surga

Memberikan warna yang bisa

Menjadikan indah

 


 

Scara terbawa ke dalam tabula rasa. Dalam memori yang telah terlewat di antara mereka berdua, terekam abadi dalam memori, tapi terpotong pendek dengan kecerobohan semata. 

“Bila asmaraku telah tiba…”

Ketika mereka bertemu kala cafe sedang sepi. ketika hanya ada mereka berdua di dalam ruang sepi, seolah hanya tersisa mereka berdua di tengah semesta yang sunyi…

“Merenggut nafas di jiwa…”

Sebuah pertemuan sederhana, diawali sapaan sederhana, tanpa ada niatan apa-apa selain berkenalan semata, membentuk relasi. Berkenalan dengan tempat baru, selera baru, secangkir kopi yang baru. Sebuah suaka baru. Tidak kurang, tidak lebih. 

“Itu dia yang datang hadirkan cinta…”

Tapi sekarang Scara tahu, dia menganggap tempat ini jauh lebih dari tempat singgah. Dan ia telah jatuh terlalu dalam untuk sekadar menganggap Kazuha sebagai pelayan sebuah kafe semata. Detik pertama dia mendengar Kazuha menyapanya, detik pertama dia melihat rasa malu pemuda itu, mendengar dendang lagu darinya yang dinyanyikan tanpa sadar oleh pemuda itu di saat-saat sepinya menyeduh kopi, lalu melihatnya sungguh-sungguh bernyanyi di pertunjukan perdana yang ia saksikan sembunyi-sembunyi … saat itu hati Scara telah tercuri.

Melihat bagaimana pemuda tanggung yang berusia jauh di bawahnya itu dapat memikat hati, menghipnotis, Scara mendapati dirinya yang sudah jauh berpengalaman, jadi sepolos biri-biri. Tak tahu apa yang harus dilakukan dan dipilih hati. Dia mendapati dalam gedoran jantung yang tanpa henti, dirinya tak bisa memilih. Dalam wajah yang panas tersipu yang datang tanpa sebab, Scara hanya bsia memalingkan wajah dan mencoba mengeraskan hati. 

Kau sudah terlalu tua untuknya, ia membatin. Ingat, dia masih dua puluh satu tahun. Masih panjang jalan hidupnya. Masih banyak pilihannya. Lagipula, apa ditinggal dua kali tak cukup bagimu, Scaramouche?

Tapi tak peduli seberapa keras ia mencoba, tubuhnya tak juga bisa beranjak. Seolah tenaga enggan menghampiri kedua kakinya dan dunia seolah ingin mempermalukannya di hadapan orang yang ia tahu … menyimpan rasa yang dalam untuknya. 

“Menyebar ke dalam rasa…”

Saat itulah, Scara mengingat apa yang ia katakan malam itu, segera setelah insiden ciuman mereka terjadi. 

“Aku tidak layak untukmu, Kazuha. Aku … kita sudah sangat jauh berbeda.”

“Apa Kakak dapat tahu kapan hati memilh?” Kazuha bertanya balik, lalu meraih tangan Scara, menariknya dan menaruh tangan itu di atas dadanya sendiri, tepat di jantungnya yang menderu cepat. “Karena saya tidak tahu kapan hati saya memilih Kakak. Saya pun tidak tahu ke mana takdir kita akan dibawa. Tapi …kebenaran bahwa saya mencintai Kak Scara tidak akan pernah berubah.”

Segera setelah mengingat kata-kata itu, Scara mendapatkan tenaga kembali untuk bangkit berdiri. Dan seperti malam itu, ia pun berbalik dan pergi. Tidak pernah menoleh lagi, meninggalkan sekumpulan orang kebingungan dan bertanya-tanya, sementara hatinya sendiri? Oh, jangan ditanya. Perasaannya tak keruan. Antara cinta dan malu, antara perasaan tak pantas dan juga ingin memiliki, semua keegoisan dan kepedulian berpadu menjadi satu kekacauan yang membuatnya pusing. Berdebar dan tak terkendali, Scara merasa dirinya akan meledak sekarang juga. Jadi sebelum sesuatu yang tak dia inginkan terjadi, ia pun pergi dari tempat itu. Tanpa sempat mendengar akhir lagu Kazuha. Tanpa sempat melihat pemuda itu lagi.

Tapi setelah itu, Scara sayangnya harus menerima satu fakta, bahwa sama seperti Kazuha yang demam cinta, dirinya pun sudah dilanda kasmaran. 

Tidak ada hari berlalu setelah hari itu, tanpa Scara berhenti memikirkan Kazuha barang sekali saja. Tidak sedetik pun sejak hari itu, dilalui Scara tanpa Kazuha menghantui pikirannya, membuainya dalam ilusi dan mimpi-mimpi masa muda yang tak akan bisa ia raih lagi.

Atau sungguhkah begitu?


 

Aku tak mampu mengatakan

Aku tak mampu tuk mengungkapkan

Hingga sampai saat ini

Perasaan tlah tertinggal

 


 

Kazuha menyelesaikan lagunya dengan tepuk tangan meriah dari orang-orang. Sekali lagi ia ditolak, ia tahu itu saat melihat Scara berlari terburu-buru keluar kafe. Tapi melihat wajah itu jelas memerah dari dahi sampai leher, bahkan sampai ke telinga, Kazuha tahu, dia sudah tidak menderita sendiri. Setidaknya sekarang Scara juga merasakan nelangsa yang sama seperti yang menghantuinya sejak berbulan-bulan lalu, sejak ia mengenal sosok paling cantik di dunia bernama Scaramouche yang telah menarik hatinya. 

Sejak saat itu dunianya tidak lagi sama. 

Dan untuk sisanya? Masalah dia diterima atau tidak dan bagaimana kisah mereka bergulir nantinya, Kazuha bisa menunggu. 

Karena seperti kata Scara, dia masih memiliki jalan yang panjang. Waktu masih banyak baginya. Kazuha hanya perlu memanfaatkan waktu itu sebaik mungkin sekarang, demi meraih hati sang pujaan hati yang sepertinya masih tak mau mengakui kalau dia juga menyambut perasaan Kazuha. 

“Bagaimana kalau satu lagi lagi?” Kazuha bertanya pada para penontonnya. Dan semua orang pun menyambut antusias. 

Dia masih bisa menunggu. Kazuha tersenyum. Dan ia akan terus menunggu sampai Scara siap dan mau mengakui dirinya.

 

- END -

 

Notes:

Lama tak jumpaaa
Datang2, bawa songfic karena kangen mereka
Semoga suka dengan one shot ini. Terima kasih untuk kudos dan komennya. See you next stories ^^)