Actions

Work Header

The 13 Souls

Summary:

Setiap jiwa itu berharga, termasuk jiwa ketiga belas pemuda ini. Sepanjang hidup mereka, mereka tak pernah membayangkan bahwa kehidupan mereka suatu hari akan runtuh, menghancurkan mereka dari luar dan dalam. Mereka seperti orang yang tersesat di padang pasir, mereka membutuhkan pertolongan, membutuhkan seseorang yang bisa menyelamatkan mereka agar dapat bangkit dari kegagalan mereka. Namun, apa yang akan terjadi jika orang yang mereka butuhkan untuk datang justru juga merupakan seseorang yang hancur, sama seperti mereka? Itu memang terdengar menyedihkan, tapi sebenarnya, mereka tidak mempermasalahkannya. Mereka hanya berpikir bahwa tidak apa-apa, karena ada orang lain di sisi mereka yang juga pernah gagal dalam hidupnya.

“Mengapa kau pikir kita, jiwa-jiwa yang rusak ini, saling bertemu satu sama lain seperti ini?”

Jika mereka bukan SEVENTEEN, apakah mereka masih akan tetap saling peduli antara satu dengan yang lain?

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Chapter 1: SEKUMPULAN ORANG YANG GAGAL

Chapter Text

Choi Seungcheol selalu tumbuh sebagai anak bungsu yang disayangi semua orang dimana pun ia berada. Semasa kecil, hidupnya dipenuhi dengan kebahagiaan dan keceriaan karena ia bisa memiliki dan melakukan apa pun yang ia inginkan tanpa rasa takut atau khawatir. Namun ia tidak bisa selamanya menjadi anak-anak. Saat beranjak dewasa, ia mulai merasakan kekosongan dan kehampaan di dalam dirinya. Dunia orang dewasa terasa menyesakkan, penuh dengan kepura-puraan dan tipu daya. Ia tidak ingin menjadi orang dewasa. Ia hanya ingin tetap menjadi anak kecil yang polos dan bebas. Sayangnya, hal itu mustahil, karena pada akhirnya waktu telah berlalu, dan ia telah menjadi orang dewasa, tanpa bisa kembali ke masa kecilnya.

Yoon Jeonghan selalu memiliki kecerdasan yang luar biasa sejak kecil. Ia menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk memperluas kapasitas intelektualnya, bertekad menjadi seseorang yang pandai dan tidak mudah ditipu oleh orang lain. Sayangnya, dunia bergerak terlalu cepat untuk orang seperti dirinya. Semakin ia dewasa, ia merasa bahwa dunia di sekelilingnya bergerak dengan kecepatan yang membuatnya kewalahan. Tentu saja, ia terus berusaha mengejar, berupaya agar bisa sejajar dengan orang lain. Namun semakin keras ia berusaha, semakin lelah dan kewalahan ia. Pada akhirnya, hal itu membuatnya terhenti di tengah jalan. Ia tidak bisa maju maupun mundur, karena kedua arah itu kini terasa sama jauhnya dari tempatnya berdiri.

Joshua Hong dulu selalu percaya bahwa semua orang pada dasarnya baik. Cara ibunya membesarkannya dan ajaran imannya membuatnya yakin bahwa setiap orang memiliki sisi baik di dalam dirinya. Ia berpikir bahwa tidak ada orang yang benar-benar jahat, karena pasti selalu ada setidaknya sedikit kebaikan dalam diri setiap orang. Sekecil apa pun itu, ia percaya bahwa kebaikan pasti ada, karena tampaknya mustahil seseorang bisa hidup tanpa memiliki sedikit pun kebaikan dalam hidupnya. Namun pada akhirnya, ia menyadari bahwa keyakinannya salah. Melalui seseorang yang dekat dengannya, ia mengalami sendiri bahwa memang ada orang yang benar-benar jahat, orang yang sama sekali tidak memiliki kebaikan di dalam dirinya. Dan dengan perasaan hancur, ia sadar bahwa orang seperti itu benar-benar ada di dunia ini.

Wen Junhui sudah mencintai dunia akting sejak kecil. Semua orang di sekitarnya mendukungnya, dan setelah melalui banyak usaha, audisi, dan kerja keras, ia berhasil menjadi aktor di usia yang masih muda. Sejak saat itu, namanya dikenal luas sebagai aktor di Tiongkok. Karirnya terus menanjak dari masa kecilnya hingga ia dewasa, sampai akhirnya ketika ia setuju untuk memerankan karakter dalam sebuah film baru, semuanya berubah. Kisah dalam film itu sangat kontroversial dan menjadi perbincangan masyarakat. Karirnya terguncang hebat, dan pada akhirnya, ia tidak bisa kembali ke posisi awalnya berdiri.

Kwon Soonyoung melihat debut sebagai kesempatan terakhirnya untuk memperbaiki hidupnya dan kehidupan seluruh keluarganya. Selama empat tahun, ia mencurahkan seluruh kerja keras, tenaga, dan usahanya untuk satu tujuan: debut bersama Seventeen. Sayangnya, karena tubuhnya terlalu diforsir, tiga bulan sebelum pengumuman line-up resmi Seventeen, ia jatuh sakit. Sistem imunnya melemah dan ia dipaksa untuk beristirahat total. Ia tidak mau, tetapi agensi bersikeras demi mencegah kondisinya memburuk. Ia terus melawan sampai akhirnya penyakitnya semakin parah, dan kali itu, ia benar-benar tidak punya tenaga lagi untuk melawan. Akhirnya, ia gagal debut bersama Seventeen dan harus mengubur semua mimpinya untuk memperbaiki hidupnya dan keluarganya.

Jeon Wonwoo selalu merasa kesulitan bergaul dengan orang lain. Ia mudah kewalahan setiap kali berada di antara banyak orang dan lebih suka menghabiskan waktu sendirian. Lambat laun, hal itu membuatnya merasa terlalu nyaman dengan isolasi yang ia ciptakan dari dunia luar. Isolasi itu juga menjadi cara baginya untuk tidak membebani orang lain, karena ia merasa bisa melakukan segalanya sendiri. Namun sayangnya, ia lupa bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini. Ketika ibunya meninggal, seluruh dunianya runtuh. Ia mengurung diri lebih dalam lagi, dan tak seorang pun tahu kapan atau apakah ia akan bisa bangkit lagi. Ia sadar bahwa sekalipun ia ingin bangkit, mungkin sudah terlambat, karena ia telah menghabiskan terlalu banyak waktu di dalam kotak yang sudah ia buat sendiri.

Lee Jihoon selalu menyukai menulis dan menciptakan lagu. Itu adalah bakat alaminya, dan pada akhirnya, dunia pun mengakuinya. Ia dikenal sebagai produser hebat, terutama sebagai produser utama grup Seventeen. Selama bertahun-tahun, ia menciptakan karya-karya luar biasa yang dicintai banyak orang. Namun suatu hari, tanpa ia duga sama sekali, ia kehilangan semua inspirasinya. Semua melodi seakan diambil begitu saja dari dalam dirinya. Ia sudah mencoba segala cara untuk mengembalikannya, tapi tidak ada yang berhasil. Lagu-lagu yang ia buat di masa itu terkesan hambar dan publik pun merasakannya. Ia diliputi rasa bersalah, hingga akhirnya memutuskan untuk vakum sejenak, menggunakan waktu itu untuk menemukan kembali dirinya dan membawa melodi itu pulang ke dalam dirinya.

Lee Seokmin selalu menjadi orang yang paling bersinar di antara orang-orang di sekitarnya. Dalam dirinya, ada begitu banyak kebahagiaan dan cahaya yang selalu ia bagikan kepada orang lain. Membuat orang lain bahagia terasa seperti tugas dan tanggung jawab yang harus ia lakukan. Namun dibalik semua keceriaannya, ia menyimpan kelelahan yang tak pernah ia tunjukkan. Ia terus memaksa dirinya untuk terlihat bahagia, bahkan di hari-hari ketika jiwanya terasa berat. Semua orang sudah terbiasa melihat senyumnya, sehingga tidak ada yang benar-benar bertanya apakah ia baik-baik saja. Hingga suatu hari, ia tak lagi mengenali dirinya sendiri. Senyumnya masih ada, tapi tidak lagi mampu menyentuh hatinya. Ia mulai menarik diri, bukan karena membenci siapa pun, tapi karena malu. Malu karena merasa telah gagal menjadi dirinya yang dulu.

Kim Mingyu selalu menjadi sosok yang sempurna sejak kecil. Terlalu terbiasa menjadi “yang sempurna” membuatnya lupa bagaimana rasanya menjadi “cukup”. Orang-orang mengaguminya karena mereka hanya melihat versi terbaik dari dirinya, dan ia pun terbiasa dengan hal itu. Namun seiring waktu, semua itu menjadi beban. Ia merasa tidak boleh gagal, tidak boleh salah, tidak boleh terlihat lemah. Semakin lama ia berpura-pura, semakin ia merasa seperti penipu. Semua hal yang seharusnya membuatnya bangga justru membuatnya membenci dirinya sendiri. Ia merasa hampa dan pada akhirnya, cermin menjadi tempat yang paling ia hindari karena saat menatapnya, ia bisa melihat dirinya yang sebenarnya. Hingga suatu hari, ia membuat satu kesalahan kecil. Satu kegagalan kecil dan seketika, pandangan orang-orang terhadapnya berubah. Mereka akhirnya melihat bahwa ia tidak sempurna, bahwa ia juga cacat.

Xu Minghao selalu menyukai ketenangan, keseimbangan, dan keteraturan. Ia mencari kedamaian melalui seni, meditasi, dan menjauh dari keramaian, tetapi semua itu hanya ada di permukaannya saja. Di dalam dirinya, selalu ada kegelisahan yang tak pernah benar-benar hilang. Ia terus berusaha menenangkan pikirannya lewat yoga, melukis, dan kesendirian, tapi semakin ia menjauh dari dunia, semakin berisiklah kesunyiannya. Ketidakseimbangan itu perlahan menggerogotinya dari dalam, dan ia tidak tahu bagaimana menghentikannya. Ia pikir menjauh adalah bentuk perlindungan dari kebisingan dunia, namun ternyata, di tengah ruang tenangnya itu, justru ada kebisingan yang jauh lebih keras dari sebelumnya.

Boo Seungkwan sejak kecil selalu mudah bergaul dengan orang lain. Bersosialisasi membuatnya bahagia dan ia merasa pandai melakukannya. Namun seiring waktu, saat jumlah temannya semakin banyak, ia mulai merasa bahwa tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar mengenalnya dan ia pun tidak benar-benar mengenal mereka. Semua hubungan yang ia miliki terasa dangkal, begitu pula cara orang lain melihatnya. Realisasi itu membuatnya sadar bahwa meskipun dikelilingi banyak orang, ia tetap merasa sendirian. Tidak ada seorang pun yang benar-benar bisa menjadi tempat baginya untuk bersandar dan berbagi beban.

Hansol Vernon Choi sejak kecil selalu merasa berbeda dari orang-orang di sekitarnya. Ayahnya orang Korea dan ibunya orang Amerika. Di Amerika, ia sering mengalami perlakuan tidak adil karena wajahnya yang tetap terlihat seperti orang Asia, meskipun ia merasa fitur dirinya lebih mirip orang Amerika. Di usia 14 tahun, ia pindah ke Korea Selatan dan sama seperti di Amerika, ia kembali menghadapi diskriminasi karena stigma masyarakat di sekitarnya. Saat itu ia menyadari bahwa ia tidak pernah benar-benar merasa cocok di mana pun. Tempat yang seharusnya menjadi rumah baginya selalu terasa asing dan perasaan asing itu membuatnya tumbuh dengan rasa takut dan cemas yang terus-menerus. Takut dihakimi, takut akan pandangan orang lain. Pada akhirnya, semua ketakutan dan kecemasan itu menciptakan dinding antara dirinya dan orang lain, membuatnya lebih banyak menghabiskan waktu sendirian.

Lee Chan sebagai anak tertua di keluarganya, merasa bahwa ia tidak pernah benar-benar mendapatkan apa yang seharusnya menjadi haknya. Hidupnya lebih banyak dibentuk oleh ekspektasi daripada pengalaman. Ia tumbuh dewasa bukan karena waktu, tapi karena tuntutan. Sejak kecil, ia selalu ingin dianggap pantas menjadi tempat sandaran bagi semua orang termasuk orang tuanya, adiknya, bahkan teman-temannya. Secara sederhana, ia selalu ingin memberikan yang terbaik karena merasa itu adalah kewajibannya. Ia belajar menahan tangis, berbicara dengan hati-hati, dan hanya menunjukkan hasil terbaiknya demi mendapat pengakuan orang lain. Ia tidak pernah mengizinkan dirinya gagal, bukan karena merasa hebat, tapi karena takut. Takut karena ia tidak tahu bagaimana caranya gagal dengan tenang, karena setiap kesalahan terasa seperti akhir dari segalanya. Semua hal itu pada akhirnya membuatnya kehilangan hak untuk bertumbuh, karena ia terlalu sibuk membuktikan dirinya.

Seungcheol gagal menjaga jiwa kecil di dalam dirinya.

Jeonghan gagal mengikuti ritmenya sendiri.

Joshua gagal mempertahankan kepercayaannya.

Junhui gagal menjaga rumahnya.

Soonyoung gagal memanfaatkan kesempatan terakhirnya.

Wonwoo gagal menjaga hubungannya dengan orang lain.

Jihoon gagal mempertahankan gairahnya.

Seokmin gagal menjaga keceriaannya.

Mingyu gagal mempertahankan topeng kesempurnaannya.

Minghao gagal menjaga keseimbangannya.

Seungkwan gagal merasakan keterikatan yang tulus.

Hansol gagal menemukan tempatnya di dunia.

Dan Chan kehilangan masa mudanya.

Mereka gagal dalam hidup mereka, namun entah bagaimana, justru kegagalan itulah yang mempertemukan mereka satu sama lain. Awalnya, mereka mengira pertemuan itu tidak masuk akal. Mereka bertanya-tanya, mengapa semesta mempertemukan orang-orang gagal seperti mereka? Mereka semua adalah orang-orang yang gagal dan bahkan diri mereka sendiri tidak bisa menyelamatkan mereka dari kegagalan itu. Bertemu dengan orang lain yang juga gagal tentu tidak akan membantu. Lalu mengapa mereka dipertemukan?

Pertanyaan itu terus bergema di kepala mereka, sementara mereka berusaha menemukan jawabannya. Beberapa dari mereka berpikir bahwa pertemuan itu hanyalah kebetulan. Yang lain berpikir bahwa mungkin memang sudah waktunya mereka bertemu. Tapi mereka tidak pernah menyadari bahwa alasan sebenarnya, alasan utama mengapa semesta akhirnya mempertemukan mereka adalah sesuatu yang jauh lebih rumit dari yang bisa mereka bayangkan.

Jadi, bisakah mereka menemukan jawabannya pada akhirnya?

Kisah ini menyoroti kehidupan Choi Seungcheol, Yoon Jeonghan, Joshua Hong, Wen Junhui, Kwon Soonyoung, Jeon Wonwoo, Lee Jihoon, Xu Minghao, Lee Seokmin, Kim Mingyu, Boo Seungkwan, Hansol Vernon Choi, dan Lee Chan sebagai individu yang ditandai oleh kegagalan, kekecewaan, dan rasa tertinggal.

Mereka sama-sama tidak istimewa. Mereka bukan bintang, bukan idola, dan juga bukan pahlawan. Mereka hanyalah manusia biasa, manusia yang hancur dan terluka dengan cerita yang berbeda. Namun entah bagaimana, di tengah kesunyian hati mereka dan beban yang mereka pikul, mereka mulai menemukan satu sama lain.

Semuanya dimulai dengan tenang dengan sebuah pertemuan singkat, sebuah percakapan yang anehnya terasa familiar. Sebuah mimpi yang terlalu lama tertinggal setelah mereka bangun. Perlahan, mereka mulai menyadari bahwa pertemuan mereka bukan sekadar kebetulan. Ada sesuatu yang mengikat mereka, sesuatu yang dalam, tak terucap, dan sama-sama mereka rasakan.

Mereka tidak tahu kenapa. Mereka tidak tahu bagaimana. Tapi di dalam diri satu sama lain, mereka mulai melihat pantulan kehidupan yang tak pernah mereka jalani, dan perasaan yang tak bisa mereka jelaskan. Dan melalui koneksi itu, perlahan, mereka mulai sembuh.