Chapter Text
MENJELANG siang udara terasa cukup panas. Angin menggulung-gulung membawa serpihan debu dari jalan-jalan yang gersang; hinggap pada dinding-dinding bangunan dan kendaraan hingga membuatnya terlihat kusam apabila tak rutin dibersihkan. Dari atap atas gedung fakultas yang berhadapan langsung dengan gedung rektorat, aku bisa melihat bumbungan asap hitam pekat yang mencoba mencuil langit. Aku mengembuskan asap rokok yang dilinting dengan tembakau murah berkualitas rendah yang dibawa oleh Harit dari kampung halamannya; turut menyumbang polusi.
Aku menghitung dalam hati, kira-kira sudah berapa lama situasi ini terjadi?
Pabrik-pabrik di sisi kota semakin lama semakin bertambah jumlahnya. Regulasi yang kendur dan sistem politik yang semakin mengabur membuat situasi sosial di tengah masyarakat perlahan merangkak pada garis hancur. Kegiatan produksi di negara ini semakin cepat, bahkan dikatakan oleh media cetak ternama di negara ini produk domestik bruto semakin besar di setiap tahunnya. Aku mendengus; teringat bualan seorang pejabat beberapa hari yang lalu di gedung rektorat. Perputaran ekonomi semakin baik katanya, sedang pada faktanya kehidupan rakyat masih jauh dari kata layak.
Mungkin benar nilai produk domestik bruto semakin besar, tapi apa gunanya jika yang merasakan perputaran ekonomi hanya sepuluh persen dari total jumlah penduduk secara keseluruhan?
Nyatanya yang kaya semakin kaya, si miskin selamanya akan menjadi miskin.
"Jumpol."
Aku menoleh ke belakang sekilas, lalu kembali membuang pandangan ke depan; menatap puncak tertinggi gedung rektorat dengan tatapan tajam. "Hm," responku singkat.
Singto kini sudah berdiri di sebelahku. Ia terdengar terkekeh ketika mengikuti ke mana tatapanku mengarah. "Sudahlah. Kau tidak akan bisa melubangi bendera itu dengan tatapanmu," kelakarnya seraya menepuk pundakku sekilas.
"Menjijikkan," dengusku. Tatapanku masih mengarah pada bendera berwarna biru tua dan putih dengan lambang kepala burung elang di tengahnya. "Institusi pendidikan yang seharusnya netral dalam memberikan pengajaran justru tunduk pada pemerintahan yang mengekang. Bagaimana bisa suara rakyat dibungkam?"
"Oh kau masih marah tentang kebijakan keuangan bulan lalu?"
Aku menoleh pada Singto dengan tatapan sengit. Kudapati bibirnya menyunggingkan senyum miring yang memantik api di sudut hatiku yang memang tak pernah padam. Api dendam. "Borjuis* sialan sepertimu tak pantas bertanya begitu."
Tawa Singto berderu pelan; terdengar jauh lebih sopan dibanding dengungan pasir jalanan yang tersapu angin. Tawa khas orang-orang bangsawan yang menyebalkan. "Yah, aku memahami kemarahanmu. Tapi, apa yang kau harapkan dari universitas swasta yang hembusan kehidupannya bergantung pada yayasan? Donatur satu-satunya pihak yang bisa mengatur."
"Kau pikir aku dan sebagian besar mahasiswa yang lain punya pilihan?!" tanyaku sengit. "Tenaga pengajar terbaik di negeri ini bertumpuk di universitas-universitas swasta dengan fasilitas yang lebih memadai. Sedang universitas negeri hanya diisi para pecundang yang bahkan tak mengerti konsep dasar berkomunikasi, terlebih dana pendidikan yang disuntik dari pemerintah pusat sudah disunat habis. Apa gunanya kuliah murah jika kau tetap bodoh?"
Singto tersenyum mendengar keluhanku yang mungkin hampir setiap hari ia dengar dengan masalah yang berbeda-beda. Ia berbalik—menyandarkan tubuhnya pada pagar pembatas. "Sama sepertimu, para tenaga pendidik juga tak punya pilihan. Mereka pasti akan memilih jalan yang paling aman. Jika dengan mengajar di universitas swasta ternyata lebih menjanjikan, kenapa mereka harus berlari pada pilihan yang tak pasti?"
Aku mendengus keras dengan senyum remeh. "Pola pikir borjuis kapitalis sialan sepertimu memang memuakkan."
Singto tertawa seraya kepalanya menggeleng pelan. "Itu bukan pikiran borjuis ataupun kapitalis, Jumpol. Aku dan mereka hanya berpikir realistis. Lihat dirimu. Apa kau pikir berpegang pada sebatang kayu idealisme yang lapuk bisa membuatmu bertahan dari badai di tengah lautan?" Singto terlihat tersenyum geli. "Kau hanya akan tenggelam."
"Tenggelam ke dasar lautan terdengar jauh lebih baik dibandingkan harus berpegang pada tumpukan bangkai yang mengapung di tengah laut untuk bertahan hidup." Aku mengembuskan asap rokok ke wajah Singto; membuatnya mengerutkan kening sesaat. "Aku tidak akan menggadaikan idealismeku untuk bertahan hidup seperti para keparat yang tak beradab."
Tangan Singto mengibas pelan di sekitaran wajahnya untuk mengusir asap rokokku yang berbau tajam. "Aku mengerti dari mana akar dendammu berasal. Tapi jangan sampai idealismemu itu kau anggap sebagai satu-satunya jalan dan kompas moralmu adalah kebenaran yang absolut—hingga membuatmu memupuk benci yang berlebihan ketika seseorang mengambil cara yang berbeda untuk melawan dan bertahan."
Aku mengangkat bahu. "Aku hanya benci orang-orang munafik."
Singto menyenggol lenganku dengan sikunya. Wajahnya tersenyum cerah dengan kilat jenaka berpendar dari sepasang matanya yang lebih sering menatap dingin. "Bagaimana jika kemunafikan ternyata menjadi senjata yang lebih tajam untuk bertarung di medan dendam?"
"Jangan mencoba memengaruhiku untuk membenarkan apa yang kau pikirkan." Aku menjatuhkan puntung rokok yang tersisa sedikit melewati pagar pembatas tanpa peduli apakah benda yang masih memiliki bara api itu akan jatuh di atas kepala seseorang di bawah sana. "Aku tahu kau sering bertemu dengan orang-orang dekanat di gedung rektorat."
Singto seketika merangkulku erat. "Aku melakukannya untukmu, Sobat. Kau pikir berorasi dan memaki rektor akan memengaruhi keputusan orang-orang yayasan? Kau pikir cerita-cerita menyedihkan dari mahasiswa miskin akan menyentuh hati mereka?" Singto mencebikkan bibirnya. "Tidak, Jum. Mereka tidak peduli. Kita harus memberikan sesuatu sebelum menuntut sesuatu."
Aku mendelik. "Apa yang kau tawarkan?"
"Aku akan muncul di Pers Kampus tingkat fakultas untuk memberi kesaksian bahwa kenaikan UKT di FISIPOL sama sekali tidak ada hubungannya dengan dinamika politik yang sedang terjadi dan sejalan dengan fasilitas yang diberi." Singto menarik napasnya sejenak sebelum kedua netranya beradu dengan tatapanku yang kian menggelap. "Aku juga akan memastikan tidak ada satupun warga FISIPOL yang akan berkata sebaliknya."
Aku merasakan aliran darahku mendidih di bawah lapisan kulit; menyebar hingga ke seluruh tubuh dan menumpuk di puncak kepala. Aku mencengkeram kerah kemeja Singto dengan kuat. "Anjing! Kau ketua BEM, sialan! Kau harusnya menjadi ujung tombak kami, bukan malah menjadi bumerang!"
"Kita sudah melakukan segalanya sesuai dengan kemauanmu untuk mencegah semua kekacauan ini terjadi. Apa hasilnya?" Singto melepas cengkeraman tanganku di kerah kemejanya dengan tenang. "Hanya ini yang bisa kulakukan."
"Dengan menjadi penjilat?"
"Bahkan aku akan menjilat kotoran mereka jika dengan begitu jalan yang akan dilalui angkatan setelah kita bersih dari najis. Aku harus melakukan ini supaya mereka mau menekan biaya UKT menjadi normal seperti semula. Kau tahu 'kan alasan fakultas kita menjadi satu-satunya fakultas dengan kenaikan UKT yang menggila?"
"Karena kita mahasiswa politik!" Aku mendesis. Kutatap lagi gedung rektorat yang menjulang tinggi dengan begitu mewah. Seketika amarahku kembali berkobar; seolah ingin membakar habis gedung yang menjadi lambang sebuah ketamakan. "Mereka berharap tidak akan ada angkatan selanjutnya yang sudi mempelajari ilmu sosial politik di sini; selain karena prospek kerja yang tak pasti, biayanya juga setinggi langit. Fakultas ini ingin dibunuh perlahan-lahan."
"Mereka hanya tidak ingin memelihara singa-singa buas yang akan memakan tuannya," imbuh Singto. "Aku akan mengambil peran penjahat dan aku tidak akan membiarkanmu bertarung sendirian," lanjutnya yang membuat gelembung-gelembung kebingungan semakin besar dalam kepalaku.
Aku mengernyitkan dahi. "Apa maksudmu?"
"Setelah Pers Kampus menaikkan berita pernyataanku yang sudah disusun oleh orang-orang yayasan, aku akan dibenci dan dianggap sebagai pengkhianat fakultas. Maka aku persiapkan bidak catur yang lain untuk menangkap raja lawan, bertarunglah bersama mereka dengan rapi dan tersembunyi."
"Bidak catur yang lain? Siapa?"
"Ohm Pawat; mahasiswa Ilmu Hukum tahun kedua. Dia serigala tak bertuan jadi jangan coba-coba mengendalikannya, tapi kalian akan menjadi teman yang baik karena aku tahu kalian punya dendam yang sama besarnya. Ohm benci pemerintah, sedang kau benci orang-orang kapitalis. Perpaduan yang sempurna untuk mengacak-acak negara ini. Lalu..." Singto menggantung ucapannya. Matanya terlihat menerawang dengan gurat-gurat ragu.
"Lalu apa?" desakku tak sabar.
Singto menumpukan kedua tangannya di pagar pembatas. "Aku tahu satu orang yang akan sangat menguntungkan bila dia sudi bertarung dengan kita, tapi aku rasa tak mudah untuk membujuknya."
"Siapa?"
"Jane Ramida."
"Perempuan?" aku bertanya skeptis. Pasalnya selama ini tidak banyak—bahkan nyaris tidak ada—perempuan yang berminat untuk berontak bersama kami. "Kau yakin dia akan menguntungkan?"
"Kau pikir dia perempuan seperti apa?" Singto tertawa. "Dia ketua Pers Kampus di Fakultas Ilmu Budaya."
Aku tersentak; teringat sebuah berita yang dinaikkan oleh Persus FIB beberapa minggu yang lalu—berita yang menyebabkan Dekan FIB berhasil diperiksa dan didepak dari universitas setelah terbukti melakukan tindakan pelecehan seksual. Selain itu, Persus FIB selama ini memang satu-satunya Pers Fakultas yang paling berbeda, seolah membentuk citra mereka sebagai oposisi kampus.
"Kau tahu Payung Hitam, 'kan?" tanya Singto.
Aku mengangguk. Siapa yang tak kenal dengan media cetak itu?
Di saat hampir semua media cetak ternama di negara ini mengagung-agungkan presiden, perdana menteri, dan jajaran anggota parlemen, Payung Hitam menjadi satu-satunya media cetak yang paling netral bahkan cenderung terlihat seperti oposisi. Di setiap edisinya mereka selalu memuat berita-berita baru dan menampung fakta dari korban kebijakan pemerintah yang tak memihak rakyat golongan bawah. Kritik-kritik runcing juga mereka lemparkan dengan tajam pada pemerintahan.
"Jane Ramida puteri tunggal dari pendiri perusahaan media cetak itu."
Fakta yang baru saja aku dengar terasa menggelitik. Rasanya seperti gelombang semangatku menggulung-gulung tak terkendali. Jika Jane—puteri dari pemilik salah satu media cetak paling ternama—ada di pihak kami, tentu pertarungan ini akan memiliki sedikit harapan untuk dimenangkan. Payung Hitam bisa menjadi penyambung lidah yang lebih panjang untuk suara-suara kami yang lebih sering dibungkam; memuai di atas udara bersamaan dengan polusi hasil produksi orang-orang kapitalis yang menjadi lintah di pemerintahan.
"Ayo dapatkan mereka berdua."
Jari telunjuk Singto mengetuk-ngetuk permukaan pagar pembatas dengan rima yang teratur. Pandangannya mengawang pada segumpalan awan di atas kepala kami. "Kau tak perlu khawatir tentang Ohm. Aku sudah berbicara padanya," ujar Singto setelah jeda yang cukup lama. Tatapannya kemudian jatuh padaku. "Tapi Jane berbeda. Aku bahkan tidak berhasil menemukan keberadaannya setelah beberapa kali mengunjungi fakultas gadis itu. Kata anak-anak di sana, Jane memang jarang sekali berdiam di kampus selain untuk menghadiri kelas dan urusan Persus. Tapi, aku punya informasi menarik tentangnya."
"Apa?"
"Jane punya teman yang sangat akrab dengannya. Menurut kabar yang beredar, Jane tidak pernah lepas dari radar orang ini. Jika Jane akan sulit untuk ditaklukkan, maka langkah yang harus kau ambil adalah meyakinkan teman dekat gadis itu."
Aku mendongakkan kepala ketika angin dengan hembusan yang hangat melintasi kepalaku hingga anak-anak rambut yang menutupi sebagian besar dahi menari-nari tak beraturan. Tanganku menyugar rambut ke belakang agar tak menganggu pandangan. Ku tatap Singto yang masih menerawang ke atas awan. "Akan aku lakukan, apapun itu, jika untuk perlawanan."
Siang itu angin yang berembus kencang mendengar dan menjadi saksi pengorbanan sahabatku dan juga tekad yang kurekatkan dengan erat di dasar rongga dada. Harapanku melambung tinggi, semoga Tuhan memberkati jalan kami.
***
Suara motor tua milik Singto berderu nyaring di atas aspal panas yang permukaannya sudah tak rata. Debu-debu halus dari cekungan semen yang retak di tengah jalan sesekali melambung dan menampar wajahku ketika kendaraan dari arah yang berlawanan melintas. Aku menurunkan laju motor. Selain karena debu yang membuat mata sipitku semakin menyempit, alasan lainnya adalah karena aku harus memarkirkan motor ini di pertigaan tepat di depan toko kain yang sudah tua milik Koh Bojing.
Lelaki tua—yang rambutnya sudah memutih seluruhnya—keluar dari dalam toko tepat ketika aku mematikan mesin motor. Ia menurunkan kacamatanya hingga ke puncak hidung selama sesaat seraya menatapku lamat-lamat, lalu kembali meletakkannya ke pangkal hidung. "Oh, Jun!" serunya.
Aku tersenyum. Sudah lama rasanya tak mendengar sapaan itu. Sebenarnya panggilan dari Koh Bojing berawal dari kesalahpahaman. Pertama kali aku menyambangi tokonya untuk menemani ibu Mike membeli kain, aku memperkenalkan diri sebagai 'Jumpol', tapi karena pendengaran beliau sudah kurang bagus maka dia mengira namaku adalah Junpol. Saat aku mengoreksinya, pria tua itu malah berkilah dengan alasan dia memang sengaja memanggilku begitu karena katanya 'Jun' bermakna kebenaran dan kebaikan. Meski aku tahu ia hanya beralasan, aku mengamini ucapannya diam-diam.
"Wow, Koh Bojing terlihat lebih muda dari terakhir kali yang aku lihat!" kelakarku dengan cukup keras agar ia mendengarnya dengan jelas.
Pria renta itu tertawa. "Berhenti berkata begitu setiap kali kau kemari. Aku tahu kau hanya berkata manis agar aku mengizinkan motor bututmu untuk parkir di sini."
Kali ini aku yang tertawa. Aku lantas turun dari motor untuk menghampirinya. "Aku titip motor temanku, ya, Koh. Lain kali akan aku bawakan bakmi terenak di kota ini sebagai ganti biaya parkir selama ini."
Koh Bojing mendengus. "Kau sudah mengatakan hal itu sebanyak sepuluh kali," cibirnya. Ia terlihat menerawang sejenak ke langit di atas kepala kami yang terasa panas oleh amukan matahari sebelum menoleh padaku. "Kau tidak perlu membelikanku bakmi. Cukup belajar saja yang benar dan dapatkan gelar Sarjana Politik itu lalu berjuanglah untuk negara ini. Aku sudah tua, aku ingin mati di negara yang damai."
Mulutku terkunci rapat. Dadaku menyempit. Perasaanku tercubit.
Ada begitu banyak janji yang ingin kutepati, tapi rasanya pundak ini sudah terlalu penat menanggung bebannya yang kian berat. Janji kepada Ayah Ibu, kepada Singto yang selalu ada di belakangku, kepada Harit, Mike, dan White yang sudi menjadi sangga saat kakiku goyah menentukan arah menapak, kepada Koh Bojing yang mengulurkan tangan pada empat orang anak desa miskin yang luntang-lantung, dan kepada tanah kelahiran yang sedang dijarah habis-habisan.
"Aku berjanji," selorohku singkat dengan senyum yang tak lepas. "Aku pergi menemui Harit dulu."
Aku segera membalikkan tubuh. Menjauh dari toko kain yang menjadi titik awalku ketika tiba di ibu kota. Sepasang kaki yang terbalut sepatu usang berwarna cokelat tua yang sudah memudar terus mengambil langkah di atas jalan yang mulai menyempit. Aku berbelok ke kanan dari pertigaan di dekat toko Koh Bojing. Ku dapati jalan yang tak terlalu lebar itu kini sudah penuh sesak oleh kios-kios kecil sederhana yang menjual berbagai macam kebutuhan.
Beragam bau yang tercampur, debu yang menyebar, terik yang menusuk kepala, dan juga suara teriakan yang bersahutan seolah menjadi potret realitas yang menunjukkan kondisi negara yang disembunyikan. Aku terus berjalan dengan lesu. Sesekali aku melirik kios yang menjual sayur-sayur layu, baju-baju bekas yang kebanyakan sudah terlihat tak layak digunakan, barang-barang rumah tangga yang sudah ketingalan jaman, dan juga anak-anak kecil yang bernyanyi di tengah jilatan pusat tata surya.
Titik buta.
Aku menyebutnya demikian. Jika orang-orang sudi untuk mengulik lebih dalam, maka mereka akan menyadari bahwa negara ini tak ubahnya seperti lahan penjajahan. Pabrik-pabrik menjamur di segala tempat dengan kegiatan produksi yang luar biasa cepat. Orang-orang miskin dipekerjakan dengan tak manusiawi. Jam kerja tinggi dengan risiko besar tanpa adanya jaminan keselamatan diperparah dengan gaji yang dibayar rendah. Undang-Undang Ketenagakerjaan melemah, bahkan aturan tentang minimum gaji karyawan sudah tak berlaku; dibebaskan pada pemilik pabrik dan usaha sepenuhnya.
Kondisi ini semakin memburuk ketika sistem imigrasi juga perlahan lumpuh. Gelombang imigran gelap melaju tanpa ampun. Para imigran ini dimanfaatkan oleh pemilik usaha dan pabrik—yang sering kusebut sebagai borjuis sialan—untuk menjadi pekerja mereka yang bisa mereka bayar semaunya. Pemerintah mendadak menjadi bisu ketika borjuis-borjuis berhati iblis ini menyumpal mulut mereka dengan uang yang dihasilkan dari keringat para jelata. Berharap pada perlindungan Undang-Undang sama saja seperti berharap dapat berjalan di atas air.
"Hey, Jum!"
Aku tersentak. Aku melihat kedua teman masa kecilku memanggul jerigen berisi minyak 20 liter di pundak mereka. Wajah keduanya tampak kusam dan berkilat oleh keringat di bawah sengatan panas matahari. "Kalian tampak menyedihkan," cetusku jujur.
Harit tersenyum lebar sebelum tertawa lepas. Ia menurunkan jerigen minyak dari pundaknya ke atas tanah. "Ada apa kemari?" tanyanya seraya mengelap keringat yang bercucuran di sepanjang garis tulang pipinya yang kian tirus di setiap harinya.
"Aku belikan makan siang," jawabku. Tangan kananku terangkat sedikit untuk menunjukkan bungkusan yang kubawa. "Bebek goreng di depan kampus."
"Terima kasih, Bro. Duduklah dulu di sana. Aku dan Harit akan mengantar jerigen ini ke mobil losbak terlebih dahulu."
Perhatianku kini beralih pada White. Wajah lelahnya begitu ketara terlihat. "Makan saja dulu, White. Nanti bisa dilanjutkan lagi setelah makan siang."
"Betul. Lagipula apa kau tidak merasa letih dan pusing?" tanya Harit. Ia merenggangkan tangannya. "Aku bahkan merasa lututku bergetar setiap mengambil langkah mengangkut jerigen-jerigen ini."
White menghela napasnya. Tampaknya ia begitu lelah untuk berdebat denganku dan Harit. Ia turunkan jerigen yang tampak berat itu dari pundaknya dan kami menepi; duduk di depan pelantaran toko terbengkalai untuk mengisi perut.
"Sejak kapan kalian berganti pekerjaan menjadi kuli panggul?" Aku bertanya di tengah-tengah kunyahan. "Untung kalian melihatku. Jika tidak mungkin aku sudah menghampiri kalian di toko sepatu bekas milik Pak Tua Ompong."
Harit mencebik. Ia menelan kunyahannya dengan tergesa. "Kami sudah dipecat dari dua hari yang lalu karena toko Pak Tua itu tidak memiliki satupun pelanggan dalam satu minggu terakhir. Beruntung seorang imigran dari Vusnad mempekerjakan kami berdua walaupun gajinya tidak seberapa."
Aku berhenti mengunyah. Dahiku berkerut. "Bagaimana bisa pribumi menjadi pekerja untuk seorang imigran?" tanyaku dengan nada tersinggung yang begitu jelas.
"Kenapa tidak bisa?" White balik bertanya dengan tenang. "Nyatanya Si Imigran ini menawarkan lapangan pekerjaan dan Si Pribumi ini butuh uang."
"Ini aneh," komentarku. "Suatu ironi yang tidak seharusnya terjadi."
"Hm. Aku tidak tahu pasti apa yang sepatutnya terjadi dan apa yang tidak. Aku terlalu bodoh untuk memahami konsep itu. Tapi yang pasti, Si Imigran ini punya koneksi dengan pemilik kilang minyak di Provinsi Kotaligal dan dia menjualnya dalam bentuk eceran di pasar masyarakat menengah ke bawah," jelas Harit.
"Apa setidaknya kalian dibayar dengan layak?"
"Sepuluh ribu bits* untuk satu jerigen."
Aku menganga. Jerigen dengan kapasitas 20 liter itu pasti sangat berat untuk dipikul, belum lagi mereka harus mengangkutnya dengan jarak yang lumayan jauh dan juga dalam cuaca panas di tengah situasi jalanan pasar yang kecil dan sempit. Untuk semua tenaga yang dikeluarkan, harga 10.000 bits per jerigen terdengar sangat tidak masuk akal.
"Ini sama seperti diperbudak," gumamku. "Sumber daya alam kita dikeruk oleh orang asing lalu mereka mempekerjakan pribumi dengan gaji yang tidak manusiawi? Apakah ego kalian tidak terganggu dengan fakta itu?"
White dan Harit tampak berpandangan. Sesaat kemudian tawa Harit yang menggelegar menyambar gendang telingaku. "Oh, kami tidak akan sempat mendengarkan ego ketika suara perut yang kelaparan terdengar lebih nyaring."
"Hei, Jum." White memanggilku. Ia memandangi wajahku cukup lama dengan tatapan dinginnya yang khas. "Di situasi sekarang, uang adalah Tuhan. Siapapun yang bisa menukar secuil tenaga menjadi uang akan dianggap sebagai Tuhan dan orang-orang miskin yang tidak punya pilihan seperti kami akan dengan senang hati menghamba kepadanya."
Aku diam, tahu jika White tidak sedang berkelakar dan akan percuma saja menentang ucapannya barusan meski logikaku sangat ingin melakukannya.
Tuhan, ya?
***
Kali ini motor tua Singto mendapati pemberhentian yang berbeda. Hari mendekati petang ketika aku sampai di Bookends—sebuah toko buku rongsokan tak jauh dari kampus yang sesekali aku datangi ketika pikiranku sudah menemui titik buntu.
Ketika aku mendorong pintu masuk, seketika aroma manis seperti campuran vanila dan almond—bau khas buku-buku tua dan juga bau apak dari karpet berwarna merah darah menyapa hidungku. Kedua tungkaiku melangkah dengan pasti ke arah rak rendah yang berada di pojok kanan toko; mengamati deretan surat kabar terbitan Payung Hitam—satu-satunya bahan bacaan yang terus diperbaharui oleh Nyonya Khatia di tokonya.
Aku mengambil surat kabar terbitan terbaru. Dapat aku temukan berita-berita mengenai investor asing, pengerukan sumber daya alam, ketimpangan sosial, dan beragam kritikan lainnya pada kondisi dan situasi negara saat ini. Namun, di lembar terakhir dari surat kabar—tepatnya di sudut terbawah—aku melihat sebuah tulisan yang menarik. Seperti...puisi? Syair? Atau secara umum biasa disebut karya sastra?
Entahlah. Aku tak tahu.
"Kematian Tuhan..." ejaku pelan pada judul yang dicetak tebal.
Pada pagar-pagar yang mengelilingi halaman,
Sekumpulan sapi dibiarkan terkurung tak boleh melintasi batasan.
Mereka diperkenankan memakan rumput yang disediakan, tanpa boleh mengintip hamparan bukit-bukit yang mencuat tinggi dari balik pandangan.
Susu sapi betina diperah mengisi ember-ember kosong untuk diperjualbelikan,
Lalu bertanyalah seekor anak sapi pada induknya, "Ibu, mau dibawa ke mana ember-ember berisi air susumu yang seharusnya untukku?"
Induk sapi kemudian menjawab, "Anakku, susu dariku yang diperuntukkan untukmu juga diinginkan oleh manusia. Mereka akan membawanya dan menjualnya kepada manusia lain yang membutuhkannya."
"Apa manusia tidak bisa menghasilkan susu untuk mereka sendiri?" tanya anak sapi kemudian.
"Bisa anakku, tapi manusia selalu memiliki batas atas segala sesuatu untuk itulah mereka mempergunakan makhluk lain untuk memuaskan kebutuhannya."
Anak sapi tak senang. "Ibu sudah merelakan susumu, dan aku sudah rela berbagi. Lalu kenapa manusia hanya memberikan kita rumput-rumput yang tak segar? Kenapa mereka tak membiarkan kita menjelajahi bukit-bukit di sana? Bukannya ini semua milik seluruh makhluk Tuhan?"
Induk sapi mendundukkan muka dalam-dalam; hampir mencium tanah. "Anakku, manusia adalah makhluk tamak. Ketamakannya tidak bisa dilawan oleh makhluk apapun, bahkan Tuhan yang memiliki keseluruhan alam semesta dipersekusi oleh mereka."
Anak sapi tertegun. Ia ikuti induknya untuk mencium tanah. Meski ia tak sepenuhnya mengerti tapi ia cukup mampu memahami, bahwa di tanah yang ia pijaki Tuhan telah mati.*
Aku merasa bulu romaku berdiri ketika membaca tulisan singkat yang cukup berani itu. Rasanya aku tidak seperti tengah membaca sebuah fiksi aneh tentang percakapan antara seekor induk sapi dan anaknya, tetapi tulisan ini lebih terlihat seperti kritik yang cukup dalam tentang sesuatu yang bermakna ganda.
"Oh, kamu juga membaca karya Syair Embun?"
Aku dengan cepat menoleh ketika mendengar sebuah bisikan dengan napas yang hangat sampai pada daun telingaku. Entah sejak kapan seorang pria dengan tubuh kecil berdiri di samping kananku dengan kepalanya yang ikut melongok pada surat kabar yang sedang aku baca.
"Syair Embun?" ulangku.
Lelaki bertubuh kecil itu kini tak lagi melongokkan kepalanya pada apa yang ku baca. Ia berdiri dengan tegap—sedikit serong ke arahku hingga aku bisa memperhatikan fitur-fitur wajahnya dengan jelas.
Ukuran mukanya sangat kecil, mungkin hanya sebesar telapak tanganku—atau bahkan lebih kecil dari itu. Rambutnya tampak begitu halus seperti surai ekor kuda yang jatuh dan berlenggak-lenggok mengikuti setiap gerakannya dengan warna kecokelatan yang tampak berkilauan dihantam cahaya keemasan petang yang hampir usai. Matanya bulat sempurna, seperti bayi yang masih murni. Hidungnya ramping dan tinggi. Kedua pipinya berisi dengan gurat-gurat merah yang samar. Sedangkan bibirnya tampak berkilauan dan basah seperti mata air.
Cantik.
Apa kata itu pantas untuk disematkan pada seorang lelaki?
Jika iya, maka memang begitu faktanya. Lelaki di sampingku begitu pantas untuk mendapatkan predikat itu.
"Yang kamu baca barusan adalah karya terbaru dari Syair Embun."
Ucapannya membuatku berhenti memaku netra pada pahatan wajahnya. Tatapanku beralih pada deretan diksi yang tadi sempat membuat bulu kudukku berdiri. "Siapa dia?" tanyaku.
"Penulis yang sedang naik daun," jawabnya dengan senyum yang menyalurkan binar-binar ceria di kedua bola matanya yang berwarna cokelat terang—senada dengan rambut halusnya. "Tulisannya singkat, tetapi secara tepat mengkritik sosial politik di tengah masyarakat dengan implisit."
"Bukannya menyampaikan sesuatu secara implisit akan berpotensi menyebabkan kekeliruan dalam pemaknaan? Apanya yang keren dari itu? Bagaimana jika isi kritiknya tak sampai pada pembaca?"
Lelaki di sampingku mendengus sebelum menggelengkan kepalanya yang mungil. "Menurutku seni memang sudah seharusnya begitu. Ia seharusnya begitu ambigu; tidak memberikan sebuah makna yang mengandung kebenaran absolut dan membiarkan penikmatnya memaknainya sesuai nalar dan nurani yang mereka punya."
Tangan halus milik lelaki cantik itu mengambil alih surat kabar yang semula ada padaku. "Jika seseorang hidupnya begitu baik dan sempurna, maka ia akan membaca karya ini tak lebih dari sekadar fiksi tentang hewan semata. Tak salah, sebab memang hanya segitu batas kemampuan nalar dan imajinasinya. Tetapi untuk seseorang yang sepanjang hidupnya dirundung ketidakadilan, ia akan memaknai karya ini dengan lebih kompleks. Bisa jadi kritik tentang paradoks kuasa Tuhan, bisa jadi kritik kepada ketamakan manusia, bisa jadi kritik pada penguasa..."
"... Syair Embun selalu berpihak pada masyarakat bawah. Orang-orang yang dipecundangi hidup akan lebih sensitif terhadap sesuatu yang sekiranya bisa mewakili sakit hati mereka. Orang-orang ini tidak akan pernah salah menginterpretasikan semua karya-karyanya."
Aku menyilangkan tangan di depan dada. "Kau tampak begitu berminat dengan topik ini."
"Tentu saja!" serunya. "Diksi adalah harapan untuk sebagian besar orang."
Harapan...
"Terdengar seperti sedang menghamba," gumamku tanpa sadar karena teringat perbincangan dengan White dan Harit tadi siang tentang sesuatu yang menyangkut hamba dan Tuhan.
"Menarik sekali."
Aku menaikkan sebelah alisku ketika lelaki cantik itu menyahuti gumamanku. "Apanya yang menarik?"
"Apa kamu pernah menerka bagaimana konsep hamba itu muncul?" tanyanya balik.
Aku menggeleng sebagai jawaban, karena aku memang tidak pernah sejauh itu memikirkan hal-hal berbau keagamaan dan turunannya.
"Manusia itu ringkih, dan ia begitu terancam dengan keringkihannya.*" Ia melipat surat kabar yang tadi kami baca untuk diletakkan di posisi semula dalam rak. "Menurutku konsep hamba berawal dari kesadaran manusia atas ketidakberdayaannya. Mereka sadar mereka begitu kecil di semesta yang besar, oleh karenanya mereka butuh berpegang pada sesuatu yang kuat—yang sekiranya bisa menyelamatkan mereka atas ketidakmampuan mereka terhadap sesuatu. Kamu tahu tentang kepercayaan dinamisme?"
Aku mengangguk. "Kepercayaan orang terdahulu kepada benda-benda yang dianggap memiliki kekuatan ghaib."
"Tepat. Manusia di abad yang sekarang mungkin akan berpikir kepercayaan mereka begitu tidak masuk akal. Padahal, di jaman itu memang hanya segitulah batas kemampuan bernalar mereka. Mereka sadar betapa kerdilnya manusia, dan mereka butuh suatu benda atau elemen yang dianggap bisa menyelamatkan mereka dari keterbatasan sebagai makhluk. Semuanya, diawali oleh campuran antara ketidakberdayaan dan harapan."
Lelaki di sampingku menyandarkan tubuhnya pada rak buku; membuat tubuh kami menjadi saling berhadapan dengan tatapan yang saling menantang. Sebuah lengkungan senyum di wajahnya melintang dengan begitu rapi, membuat sepasang lesung pipinya muncul dan baru aku sadari. Lelaki ini... sebenarnya berapa banyak keindahan yang dia sembunyikan?
"Jika kita berpikir tentang konsep ketidakberdayaan ini, maka sangat masuk akal jika orang-orang menghambakan diri untuk sesuatu yang dianggap Tuhan. Bagi para jurnalis dan penyair, diksi adalah Tuhan. Keterbatasan jangkauan suara mereka membuat mereka berserah diri pada diksi-diksi yang bisa lebih jauh menjangkau orang. Bagi para pebisnis, uang adalah Tuhan. Tanpanya mereka akan melarat dalam kemiskinan. Bagi orang-orang yang akrab dengan kesialan, akan percaya pada Tuhan—Tuhan yang sebenar-benarnya Tuhan—berharap kuasa-Nya bisa merubah keadaan."
Aku tergelitik. Tidak hanya cantik dengan fitur-fitur wajahnya yang menarik, tetapi lelaki di hadapanku kini begitu unik dengan sulur-sulur pemikirannya yang rumit. Aku suka melihat bagaimana dia menjelaskan tentang hal-hal yang mengakar dalam kepalanya. Begitu menggebu, seolah gairah untuk membagi pengetahuan begitu panas dalam setiap kalimat-kalimatnya.
Aku ikut menyandarkan tubuh ke rak buku, membuat tubuh kami kini kembali bersampingan. "Lalu jika mereka sudah menemui Tuhannya masing-masing, di mana rumah ibadah mereka dan apa yang mereka lakukan di sana?"
"Umm..." lelaki di sampingku melirik ke atas langit-langit toko yang kusam dengan juntaian sarang laba-laba di mana-mana. "Bagi para jurnalis, penyair, dan sastrawan, rumah ibadah mereka adalah kertas dan mereka memuja Tuhan mereka dengan mempersembahkan sekeranjang diksi penuh kejujuran dan keadilan. Bagi para pebisnis, rumah ibadah mereka adalah pasar dengan pemujaan berupa negosiasi yang lihai. Bagaimana menurutmu?"
Aku terkekeh—tahu jika jawabannya barusan tidak benar-benar serius.
"Hei!" lelaki itu tiba-tiba merubah posisinya menjadi menyamping menghadapku. "Kamu begitu manis saat tertawa. Kedua matamu menghilang; melengkung seperti bulan sabit."
Aku terdiam. Sepanjang kehidupanku, tidak pernah ada yang memuji bagaimana rupa dan penampilanku. Ini kali pertama aku mendapatkannya. Mungkin karena alasan itu, jantungku jadi berdegup sedikit lebih keras dari biasanya.
"Ah, omong-omong soal pembicaraan kita tadi, apa kamu sudah menemukan Tuhan dan menjadi seorang hamba?" tanyanya tiba-tiba; memutar arah pembicaraan pada jalur semula sebab aku tak kunjung memberikan respon atas pujiannya.
Aku berpikir sejenak. Mengingat kembali konsep yang barusan ia jabarkan dan berusaha menemukan jawaban. Satu-satunya titik lemahku adalah dendam yang tak kunjung mendapat kesempatan untuk terbalaskan. Aku sempat putus asa. Namun, egoku memberikan harapan untuk terus melaju dan memperjuangkan semuanya.
"Aku menemukannya."
"Oh, ya?!" tanyanya antusias. "Boleh aku tahu apa itu?"
Aku menoleh ke samping. Wajah kami begitu dekat hingga aku bisa menangkap dan memerangkap dengan jelas ekspresi penasarannya dalam kepalaku. "Aku menghamba pada egoku."
Mata lelaki itu berbinar cerah. Ia bertepuk tangan. "Terdengar seperti jawaban seorang yang keras kepala," cetusnya tanpa ragu.
"Lalu bagaimana denganmu?"
"Aku?" ia menipiskan bibirnya sebelum mengangkat bahu. "Aku belum merasa terancam oleh ketidakberdayaanku, jadi aku belum menjadi hamba untuk siapapun atau apapun. Tapi..."
Lelaki itu menggantungkan kalimatnya. Ia menatap mataku dengan sorot matanya yang hampir bisa bersaing dengan cerahnya matahari yang kini sudah perlahan turun di ufuk barat. Senyumnya mengembang, dan ia terkekeh kecil kemudian—memperlihatkan deretan giginya yang rapi dan bersih.
"...jika suatu saat aku memutuskan untuk menghamba, aku akan siap mati untuknya."
"Attha!"
Sebuah suara menginterupsi perbincangan singkat kami sebelum aku sempat memberikan tanggapan atas jawaban lelaki cantik di sampingku. Seorang wanita dengan rambut sebahu yang bergelombang dan poni tipis di sepanjang dahinya berdiri di ujung lorong.
"Ayo pulang!"
Lelaki di sampingku mengangguk pada wanita itu. Sebelum ia beranjak, wajahnya menoleh padaku untuk memberikan senyum terakhirnya hari itu. "Sangat senang berbincang singkat denganmu, Tuan Bulan Sabit. Aku berharap bisa bertemu dan berbincang lagi denganmu di kesempatan yang lain."
Setelah mengatakan itu, kakinya dengan cepat berlari ke arah wanita di ujung lorong. Ia terlihat menggandeng tangannya dan mereka keluar dari toko buku seraya menertawakan sesuatu yang tak aku tahu.
"Iya. Aku juga berharap bisa bertemu dan berbicang lagi denganmu."
***
To be continued
