Actions

Work Header

Settle Down

Summary:

Sebuah kisah hidup seorang yaksha tersembunyi dengan segala pasang surutnya. Menjadi satu-satunya yang selamat bersama dengan sang penakluk iblis, Xiao. Dia yang dikenal dengan inisial " Speratus ", menjalani hidup menyendiri dengan kontrak yang tetap dipegang teguh hingga akhir hayat.

Antara bertahan dengan karma atau menghembuskan selamat tinggal... Apa yang akan menjadi akhirnya?

Notes:

Untuk chapter kali ini menggunakan nama dari penulis. Untuk self-insert akan ada di Chapter 2

Chapter Text

Settle Down.

Angin dingin menepis panas, menyingsing Matahari yang telah lama tenggelam.

Jauh di atas sana adalah bentang langit hitam bertaburkan bintang. Ketenangan dunia manusia sementara adalah makna harfiah dari malam.

Namun, walau umat manusia bilang bahwa ini waktu paling aman, tapi bagi para abadi, penjaga siang-malam, petarung tanpa rehat, dan mereka yang dikatakan " Yaksha ", tak ada yang namanya jeda dalam medan perang.

Terlebih lagi melawan sisa-sisa dari yang seharusnya sirna milenia lalu.

Festival lentera, katakanlah ๐˜“๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ ๐˜™๐˜ช๐˜ต๐˜ฆ, seharusnya menjadi hari penuh gelimang emas dari ribuan lentera yang terbang menghias langit malam kali ini.

Indah. Hangat. Berkelap-kelip seperti fajar di garis horizon pada subuh hari.

Bersimbah darah dari wajah hingga ke ujung kaki, pakaian seorang perempuan yang nampak baru selesai menghabisi monster yang terkorupsi karma residu dewa-dewi jahat, nampak begitu kotor dan jauh dari kata suci.

Pasang matanya menatap berbinar-binar ke ribuan lentera di langit. Di suatu tempat tak jauh dari Wangshu Iin, di hamparan tanah luas dengan mayat-mayat musuh yang lama mati dibuatnya, dia berdiri bagai ksatria di medan perang yang memaksa tegar dalam raga yang gentar.

" ... Indah. "

Senyumnya masih lengket di muka. Ratusan tahun penderitaan yang hanya berisi timpaan karma tak usai-usai, si yaksha perempuan itu masih lekat dengan ciri khas yang ia janjikan kepada saudara-saudarinya--senyuman hangat yang akan terus menumpas kejahatan.

Walau pahit adalah keabadian di lidah, walau tenggorokan macam dililit jutaan akar duri, namun terangnya lentera mengingatkannya dengan saudara-saudari yakshanya yang telah lama berpulang.

Perempuan ini tak sekuat 5 jenderal yaksha terkenal, dia tak seharusnya pantas untuk menjadi seseorang yang dihargai sebegitu dalamnya oleh Rex Lapis hanya karena dialah yang tersisa.

Tak lebih dari bawahan, hanya kekuatan cadangan yang menumbalkan diri pada akhirnya.

Tapi hari ini dia bernapas. Masih bertahan. Kukuh dalam pendirian walau karma tak henti-hentinya berteriak. Tombak digenggamnya kuat, senyuman semakin terik seperti Mentari, dan semangat hidup makin melonjak tinggi.

Hidupnya adalah jerih parah saudara-saudarinya. Jika memang diizinkan, maka ia hidupi selamanya tanpa beban, tanpa penyesalan, dan atas kehormatan.

" Kakak-kakak semua... Lihat lentera di langit sana. Mereka benar-benar terang dan bagai bintang jatuh seperti cerita sebelum tidur yang kalian ceritakan... "

Walau harus dalam kesendirian tanpa usai.

" Speratus harap kakak-kakak bisa lihat pemandangan ini... Hah. Apakah kalian juga ikut melihatnya di Surga sana? "

Bernama Speratus, bermakna harapan. Seperti yang diharapkan kepadanya dari para kakak yang tiada. Lahir dari ketiadaan, terjebak dalam asusila, dan ditarik dari Neraka, kemudian. Tak bernama maupun dinamai, Speratus yang masihlah yaksha kecil saat itu, pun diberi nama dari hasil kolektif para kakaknya.

Berdasar pada perjuangannya yang selalu meraih cahaya tanpa henti, lalu melawan kejahatan yang bengis. Ia adalah definisi dari api jiwa, Mentari terik, namun juga tenang seperti air.

Speratus menyeka darah dari wajahnya dengan lengan atasnya. Mengotori lengan baju indahnya sementara. Jika para kakaknya masih ada, mungkin saja kepalanya berakhir dihajar mati-matian.

Di tengah pembersihan, Speratus jengkel dengan darah lengket yang tak kunjuk terbasuh di belakang tubuhnya. Walau tangannya menekuk begitu kencang ke belakang untuk meraih titik itu, ia tetap tak bisa.

" Ah, sial! Kenapa susah sekali... Waaargh?! "

Sebenarnya ada beberapa orang yang sempat lewat, namun buru-buru memutar karena adeptus kocak nan misterius yang sibuk sendiri di malam festival ini.

Sampai akhirnya menyerahlah dia.

" Ah, sudahlah. Tak ada yang marahi ini kalau aku tidur bersimbah darah. Aku hidup sendiri juga- "

" Kamu jorok juga untuk sekelas yaksha laut. "

" DEMI REX LAPIS TUGASKU MASIH BANYAK- "

Sebelum mengangkat kaki dari sisa medan perang dan tak acuh dengan bajunya, seorang yaksha lelaki dengan suara bariton yang agak berat, pun muncul dengan asap hitam kehijauan di belakangnya--tiba-tiba berbicara seperti nubuah dewa dari langit. Membuatnya terperanjat kaget hingga menusuk jiwa.

Tombaknya jatuh, teriakannya histeris sebelum kepalanya menengok dan mendapati siapa di belakangnya.

Xiao. Pendekar tombak. Pembasmi iblis. Salah satu jenderal dari 5 jenderal tinggi yaksha.

Legenda hidup yang memerangi kejahatan. Bersumpah atas Rex Lapis sebagai pelindung Liyue, rekan paling terpercayanya sekaligus hampir menjadi anak lelakinya, dan yang setara dengan Cloud retainer atau Xianyun, Moon carver, Mountain Shaper, Madame Ping maupun Ganyu.

Speratus membeku kaku di tempat dengan posisi kaki kanan terangkat dan kedua tangan memeluk diri sendiri, sebelum kemudian berdeham dan langsung berlutut.

" E, ekhem! Jenderal agung. Hormatku padamu. Apa yang membawa engkau datang kemari ke hadapan saya. "

๐—ž๐—ฟ๐—ถ๐—ธ

๐—ž๐—ฟ๐—ถ๐—ธ

๐—ž๐—ฟ๐—ถ๐—ธ

๐—™๐˜†๐˜‚๐˜‚...

" Kurasa panggilanmu berlebihan, Speratus. Sudah kubilang untuk panggil aku Xiao. "

" Maaf. Saya tak bisa menggunakan panggilan yang hanya pantas diucap oleh adeptus lain yang lebih mulia. Yaksha rendahan seperti saya seharusnya bersyukur untuk didatangi oleh jenderal yaksha agung tersendiri. "

Speratus teguh dengan pendirian. Sebuah visualisasi dari prajurit sebenarnya. Kepalanya menunduk, matanya tertutup. Senyuman hangat tadi sudah sirna dan kalah dengan profesionalitasnya di hadapan jenderal.

Namun sikapnya yang begitu rendah terhadap dirinya membuat Xiao bertanya-tanya tentang banyak hal serta... Jengkel.

" Perang sudah usai. Tak ada serangan gentir dari musuh. Tak perlu lagi ada formalitas di antara kita. Hanya kita yang tersisa di antara para yaksha, Speratus. "

Ungkap lelaki bersurai hitak kehijauan itu sembari memegang pundak Speratus dan memintanya berdiri. Namun, perempuan itu menolak.

" Sumpahku pada kakak-kakakku adalah untuk menghormati kelima yaksha agung. Sampai akhir hayat. Hingga nanti waktunya, maka itu takkan luntur. "

Speratus menyendiri selama 500 tahun belakangan ini. Pergi dari alam dimensinya sendiri ketika menjalankan tugas dan tidur untuk meredam hutang karmanya supaya bisa terus menjalankan sumpahnya pada Rex Lapis maupun para kakaknya.

Ia merasa, bergaul dengan orang lain amat tak pantas bagi hidupnya yang berlandas belas kasih. Kehidupannya yang menyendiri hampir membuatnya terlupakan oleh rekan seperjuangannya. Namun tidak untuk tuannya sendiri.

Speratus adalah rekan sejawat dengan Xiao. Umur mereka hanya berbeda 2 tahun dengan Xiao yang lebih tua. Perbedaan umur yang pendek ini tak seharusnya membentangkan kecanggungan kokoh.

Dan ini adalah kali kedua pertemuan pribadi mereka setelah ribuan tahun lamanya, mungkin?

" Sebagai salah satu dari kelima yaksha yang kamu maksud, aku memintamu secara pribadi untuk tidak memasang batas padaku. "

Speratus membelalak kaget. Kepalanya langsung diangkat menghadap sang jenderal di depannya dengan mulut sedikit menganga.

Jenderal agung... Memintanya... Untuk... Menyingkirkan... Formalitas?

" Ampuni saya. Ini sumpahku pada para- "

" Para kakakmu tak pernah menentang setiap perintah yang terucap dari mulutku. Lantas apa yang menahanmu? "

Mendengar suara Xiao yang sedikit menekan, Speratus lantas menunduk paham dengan ketakutan mulai berdesir di tubuh.

" ... Baiklah, jende- koreksi, tuan- ekhem... Koreksi, Xi... Xiao. "

" Bagus. Sekarang bersihkan dirimu sebelum beristirahat. Kerja bagus untuk hari ini. "

Speratus kembali mendongakkan kepala. Afeksi tiba-tiba dari jenderal agung ini terasa aneh bin mitos.

" Jende- ma, maksudnya Xiao... Anda tak perlu mengkhawa- "

" Kubilang bersihkan dirimu sebelum istirahat. Apa perkataanku kurang jelas? "

" Ba, baik! Saya akan bersihkan diri di alam dimensi saya! Selamat malam! "

Speratus lantas berdiri, membungkuk 90ยฐ derajat dan tancap gas teleportasi meninggalkan percikan air yang jatuh ke tanah sebagai residu perpindahan. Meninggalkan Xiao sendiri di tengah malam buta dan jalanan.

" Hah... Dia benar-benar lupa atau bagaimana? "

Tiba di alam dimensinya sendiri yang adalah lantai air tak berujung dengan bentang langit biru redup, Speratus langsung merebahkan diri di lantai air itu dan membiarkan darah mulai luntur seiring waktu berjalan. Diiringi sensasi dingin yang halus ke sekujur kulit.

" Haah... Festival kali ini aneh sekali... Ratusan tahun aku hidup, baru kali ini jenderal agung mendatangiku dan bertatap muka... Kakak semua, apa maksudnya ini? Apa kalian tak suka aku hidup sedamai ini? Sendirian juga? "

Suaranya bergema di ruang tak berbatas, hanya memantul darinya dan kembali kepadanya.

Speratus merenung. Apa yang membuatnya didatangi jenderal agung tersebut? Apa dia tak sengaja menghancurkan berhala Rex Lapis? Membuat rusuh? Atau malah membunuh tak sengaja?

Tidak, tidak, tidak. Mana mungkin? Ayolah. Dia selalu terbangun dengan segar dan hutang karmanya tak sebesar jenderal agung. Masa dia kehilangan fokus?

" Lima ratus tahun sudah dilampaui, ratusan tahun hidup transparan tanpa ada yang tahu... Kenapa baru sekarang... "

" Haah... Apa aku gagal menyembunyikan keberadaanku dengan benar? "

Tanpa sadar menutup mata, tak lama kemudian kesadaran, pun hilang berkala. Terlelap dalam tidur tak bermimpi yang hanya menyisakan sedikit lelah yang masih bisa ditahan.

Ketika esok hari menyapa, Speratus terbangun dengan baju yang bersih dari darah dan sedikit segar. Memutuskan keluar dari dimensinya, Mentari pagi menyambut hangat kedatangan. Membelai pelan wajah yang masih melembut dengan senyuman.

Tujuannya hari ini bukan memburu monster.

Tapi...

" Bayangkan kamu dan seniormu yang amat kau hormati itu menjadi satu-satunya yang tersisa dari grup besar. Tiba-tiba saja dia datang menghampiri dan peduli setelah bertahun-tahun tak bersapa lebih dari sekali, menurutmu itu kenapa? "

Duduk di atas batang kayu tua bersama dengan seorang petualang perempuan berpakaian seragam Adventure Guild, bernama Vera yang punya ciri khas rambut cokelat sepundaknya, Speratus memegang tusuk sate dengan ikan tertusuk di sana dan tengah membakarnya di api unggun depannya.

Vera tertawa kecil sembari menjulurkan tangan untuk mendekatkan ikan hasil tangkapannya ke api. Manusia ini kenal Speratus amat kental sejak pertemuan pertama mereka dua tahun lalu, ketika Speratus menyelamatkan Vera dari serangan hilichurl ketika ia memasak.

Sesi curhat.

" Kurasa dia baru sadar kamu? "

" ... Hum. Agak aneh. Dia bukan tipe yang mengingat bawahan. Di zaman aku masih aktif jadi prajurit, aku hanya pernah bersapa SEKALI, dengannya. Hingga saat ini... Kek, hah?! Apa, dah??? "

Ikannya tak kunjung matang, menarik amarah untuk semakin lantang bersama jengkel tak terbendung bagai awan kalbu. Namun kesabaran Speratus di atas rata-rata. Ayolah, kau yaksha, masa seperti ini? "

" Tapi menurutku, mungkin dia hanya ingin memperbaiki hubungan ketika baru sadar bahwa rekan sejawatnya yang tersisa hanya dirimu. Kamu tahu? Manusia juga seperti itu. Mencoba dekat ke orang yang seangkatan dan terjebak dalam tempat sama sebagai satu-satunya. "

Vera bernubuah seperti dewa di atas sana. Membuka pikiran Speratus yang adalah penyendiri kelas akut yang tak tahu apapun seputar hubungan.

" Lagipula, dia hanya punya dirimu yang paham bagaimana hidup sepertinya di era sama ia pernah jaya. Cobalah bergaul dengan dia. Tak ada yang salah. Lima ratus tahun mengurung diri itu tak baik, Spera. "

Ungkap Vera sepenuh hati dan kemudian meniup ikan bakarnya yang telah matang.

Speratus menarik ikan bakar miliknya dan langsung melahapnya dalam satu gigitan. Tak peduli panas atau dingin, duri maupun tulang.

Masih bisa dicerna. Tak usah repot memakannya.

Vera ialah sahabat karib teramat karib. Tempat Speratus berkeluh kesah tentang iblis yang tak kunjung habis dan ocehan terhadap manusia lain.

Vera tahu banyak hal tentang yaksha perempuan ini. Bahkan sudah tahu siapa si " Senior " yang dimaksud Speratus ini.

Maksudnya, yaksha mana lagi selain jenderal Alatus atau sering dikenal Xiao yang menjadi yaksha lain yang tersisa?

" Hei, Spera. "

Si yaksha menengok ke kawannya yang kini bergelimang senyum dengan ikan bakar di depan mulutnya.

" Tak maukah kamu pensiun... Atau menikah, gitu- "

" ME-... MENI... KAH?! "

Speratus lebih keliatan seperti kelinci yang ditakut-takuti pemangsanya daripada seorang yaksha terhormat di mata Vera.

Masalah tunggal dan nasional untuk para perempuan di usia yang " Matang ".

Pernikahan.

Melahirkan keterkejutan jiwa mendalam. Boom! Seperti bom! Meledak-ledak! Heboh! Huah!

" Ayolah, jangan berlebihan. Aku hanya menyarankan... "

" Ya... Aku tak menyalahkan saranmu, tapi pensiun dengan kontrakku? Ayolah, para kakakku tak mungkin begitu. "

Dan tak mungkin ia akan berakhir dengan akhir bahagia.

Menikah, bersama yang tersayang, menghabiskan waktu selamanya...

Bukankah itu berlebihan untuk seorang yaksha rendah sepertinya?

" Kamu berpikir rendah lagi dengan dirimu. Haah. Ayolah, yaksha hebat, kawan sejatiku. Setidaknya jika tak mau pensiun, kamu bisa mencari seseorang untuk pulang ketika lelah, untuk menangis ketika semuanya berat, untuk berkeluh kesah saat jengkel. "

" Maksudnya, kamu juga pasti merasa kosong saat kembali ke alammu dan hanya ada dirimu sendiri. Tak ada siapapun, hanya kekosongan tanpa ujung. Tidakkah kamu lelah? Selama lima ratus tahun ini? "

Jika membahas kesepian atau tidak, sebenernya Speratus tak sama sekali peduli. Kesendirian struktural yang stabil dan tak tergeser sudahlah lebih cukup. Bukankah para adeptus juga seperti itu?

Tapi jika membahas kekosongan... Memang benar adanya bahwa lubang di hatinya kerap kali terasa sakit. Seakan jiwanya bergema saking kosongnya.

Dan di situlah dia sering mengalami episode karma mematikan yang selalu hampir melahapnya. Memanggil memori para kakaknya atau membayangkan mereka memeluknya adalah obat ampuh untuk menekan karma tersebut. Walau sejenak.

Tapi sudah berapa ratus tahun sejak ia dipeluk? Atau sekedar melakukan kontak fisik? Ia tak pernah menyentuh Vera, takut membuat karma yang tak tertahan malah menyerang balik Vera. Jadi ketika berkumpul, Speratus selalu duduk 1 meter darinya.

" ... Dipikir lagi... "

" Aku lupa rasanya menyentuh makhluk hidup. "

Speratus melempar tusuk kayu untuk ikannya ke api unggun, membakarnya ketika mencapai dasar.

Panas api yang meradiasi terasa hangat di kulit.

Namun panas ini tak sama seperti pelukan para kakaknya dan kebersamaan mereka kala itu.

Jika menjadi yaksha adalah menyendiri dan tersiksa, baginya, itu bukan bayaran mahal untuk bisa terus hidup.

Namun, adakalanya dia jenuh.

Speratus juga ingin membahas masa lalu bersama rekan sejawatnya. Seperti Cloud retainer atau Xianyun, Moon carver, Mountain Shaper, Madame Ping maupun Ganyu.

Sekedar beristirahat lama, lama dan lama dengan teman hidup.

Tapi dia jauh dari kata kuat. Dia tak pantas. Yaksha air lemah yang hanya hidup dalam bayang-bayang dan tak pernah mengunggah prestasi amatlah hina untuk berbicara dengan para adeptus yang lebih tinggi darinya.

" Heh... Aku tak pantas menikah dan mengikuti tradisi kalian para manusia. Jangankan menikah, punya temanpun sedikit. "

" Hei! Jangan merendah mulu, dong! Yaksha macam apa kamu ini?! "

" Yaksha dramatis... Lihat aku di atas gunung nanti memainkan melodrama- "

" Aku tak mau bercanda! Kamu itu sama berharganya dengan adeptus lain! Masa bodoh dengan kekuatanmu! Lagipula, kamu juga membantu banyak saat penyerangan Osial dengan memanggil rantai suci peninggalan para kakakmu untuk mengikat dewa itu, kan! Kau bahkan berhasil menahan mereka saat para adeptus lain mengumpulkan kekuatan di Jade Chamber! "

Vera memaksa untuk mendekat, mengikis jarak untuk meraih pundak Speratus lalu mengguncang yaksha perempuan pesimis itu.

" Kau. Adalah. Petarung. Tanpa. Tanda. Jasa! Kau. Penyayang! Pekerja. Keras! Kau. Pantas. Disayangi! "

" Weh, weh, weeh... Aah, berhenti mengguncangku... Ya, ya... Aku akan meminta pendapat teman lamaku tentang ini, deh! "

-----

" Alkisah, ketika laut membelah dirinya sendiri dalam gentingnya perang yang melanda, ketika pekik doa dari para Manusia sudah begitu menumpuknya, maka terlahirlah sebuah keajaiban! Dialah yaksha yang tercipta atas kehendak laut dan dewa-dewi di sana... "

" Sang jenderal laut dalam. Yaksha laut... "

Secangkir teh hangat mengepulkan asap, membawa aroma penenang bagi mereka yang menggemari. Narator terus berbicara, mengisahkan sebuah kisah yang familiar di benaknya.

Seperti mengingat teman lama. Bertanya-tanya, ke mana dirinya sekarang?

" Ia adalah bayangan yang lebih tak terlihat. Membasmi kejahatan tanpa sedikitpun sisa dari dirinya yang tertinggal. Hilang dalam misteri, menipis dari sejarah. Yaksha laut adalah salah satu yaksha yang mengiringi Rex Lapis saat perang terdahulu. "

" Walau namanya terkubur jauh di masa lalu, kepercayaan masih ada dengan sebuah potensi bahwasanya ia masih bernapas, hingga saat ini. Namun ke manakah dia? Apakah beristirahat di balik embun pagi? Atau dalam desir ombak malam hari? "

Rutinitas harian seorang pegawai Wansheng Funeral Parlor, atau akrabnya Zhongli. Mata Ambernya menyaksikan dengan teramat fokus terhadap cerita yang dibawakan.

Beberapa orang tak percaya bahwasanya ada yaksha lain yang masih selamat dari hantaman umur dan karma. Selama ini, hanya penakluk iblis yaitu jenderal Xiao yang diketahui merupakan salah satu yaksha kuat dari lima yaskha yang masih hidup dan melindungi Liyue.

Karena sejarahnya yang tak pernah terukir di batu, semua serpihan tentang masa lalu itu hanya dapat ditemukan dalam tabloid adeptus lain. Tak pernah ada dedikasi untuk sejarahnya sendiri.

Di bayangannya, Zhongli mengingat bagaimana para yaksha bawahan lima yaksha itu mengerubungi seorang yaksha perempuan kecil ketika ia menemui mereka di Dihua Marsh.

Sebuah masa lalu yang masih terukir jelas di kepala.

" ๐˜›๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜™๐˜ฆ๐˜น ๐˜“๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช๐˜ด! ๐˜Œ๐˜ฉ, ๐˜š๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข! ๐˜ˆ๐˜บ๐˜ฐ ๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช... ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ญ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ต๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ! "

Salah seorang yaksha lelaki memanggil yaksha perempuan tersebut. Masihlah kecil dan mengingatkannya dengan salah seorang yaksha lain.

" ๐˜ˆ... ๐˜ˆ๐˜ฎ... ๐˜๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต- "

Ketika gadis itu membungkuk, ia malah bablas terjatuh dan menghantam kepalanya ke rumput. Seperti rubah menghajar lubang salju.

" ๐˜ˆ, ๐˜ข๐˜ฉ?! ๐˜š๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข! ๐˜’๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข? "

Yaksha lelaki itu lantas membantunya berdiri dan memeriksa luka. Respon lucunya menarik atensi Rex Lapis yang tiba-tiba saja tertawa kecil.

" ๐˜๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข... ๐˜ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ด๐˜ฉ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต. ๐˜‹๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข? "

" ๐˜’๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ด ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ถ-๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ธ๐˜ข ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ช๐˜ด๐˜ช๐˜ณ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ช. ๐˜’๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ธ๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ญ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ญ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช... "

Si yaksha lelaki itu tersenyum manis dan selesai mengibas debu dari baju sang gadis. Kemudian, ia memintanya baik-baik untuk berkenalan.

" ๐˜”๐˜ข, ๐˜ข๐˜ง! ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ฉ! ๐˜๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต... ๐˜ˆ๐˜บ๐˜ข๐˜ฉ... "

Ketika yaksha tadi ingin mengoreksi ucapannya, tuannya langsung menahannya dengan menatapnya sebentar. Ia mengerti dan menutup mulut.

" ๐˜š๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ด! ๐˜ˆ๐˜บ๐˜ข๐˜ฉ! ๐˜•๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ... ๐˜š๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข... ๐˜›๐˜ถ๐˜ด! "

" ๐˜‘๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜š๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ด? ๐˜š๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ญ. ๐˜•๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜™๐˜ฆ๐˜น ๐˜“๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช๐˜ด. "

" ๐˜ˆ๐˜บ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜™๐˜ฆ๐˜น! ๐˜›๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข... ๐˜’๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ! ๐˜”๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ... ๐˜š๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข! "

Salah satu memori hangat yang begitu deras mengalir. Zhongli yang awalnya adalah Rex Lapis... Mengingat jelas bagaimana gadis itu awalnya hanya sebatas yaksha muda.

Tak bisa bertarung dan butuh banyak belajar.

Tapi yang membuatnya terpukau adalah bagaimana dia bisa bertahan dengan jutaan siksa dari tuan terdahulunya. Tekadnya nyata, mentalnya baja.

Suatu saat, dia akan menjadi yaksha terkuat.

" ๐˜ˆ๐˜บ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜™๐˜ฆ๐˜น. "

" ๐˜’๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ช๐˜ญ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข. "

" ... ๐˜Œ๐˜ถ๐˜ฎ... ๐˜ˆ๐˜บ๐˜ข๐˜ฉ... ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ต ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ? "

" ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜จ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ด๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ช๐˜ต๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข? "

" ๐˜ ๐˜ข! ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ๐˜ถ ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ. ๐˜”๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฌ! ๐˜š๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ข๐˜ต ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช ๐˜ต๐˜ช๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข! "

" ๐˜”๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ. "

Memori berakhir dengan penekanan terakhir si narator cerita di panggung kecil sana. Mengakhiri sesi cerita yang hanya sebuah nostalgia baginya.

" Maka doa kita kepada Rex Lapis agar terus menjaga sang yaksha. Jasanya tak ternilai dalam kegelapan. Ia adalah pahlawan tanpa nama yang patutnya kita hormati setiap titik darah yang telah tumpah. "

Cerita ditutup dengan haru, para penonton bertepuk tangan, diikuti Paimon yang nampaknya tersedu-sedu dengan kisahnya.

" Waah! Hidup yaksha itu sama sedihnya seperti Xiao... Bayangkan betapa kesepiannya menyendiri hingga sejarahnya sedikit! "

Lumine, si gadis pirang itu langsung mengelus kepala Paimon dan bergeleng kepala. Helaan napas dihembuskannya.

" Haah... Mungkin itu yang diinginkannya. Bicara seorang yaksha selain Xiao, apakah kamu tahu tentang ini, Zhongli? "

Lumine melempar pertanyaan sementara Zhongli menyeruput lagi segelas teh hangatnya. Lelaki itu berdeham sebelum kemudian membuka cerita.

" Tentu saja. Yaksha itu, mari katakan, sejawat dengan Adeptus Xiao. Mereka pergi ke medan perang yang sama dan berjuang pada masa yang sama. Perbedaan umur mereka amatlah pendek. "

" Namanya adalah Speratus. Yaksha yang terlahir dari laut dalam untuk menyelamatkan manusia. Tapi, nama itu hanya nama yang diberikan para yaksha yang menemukannya yang kerap ia panggil ' Para kakak ' dan menghabiskan sebagian besar waktu berjuang dengan mereka. "

" Namun seperti hukum alam untuk kehidupan. Banyak dari kakaknya gugur dalam medan perang, menyisakan dia yang selamat seperti halnya nasib penakluk iblis. "

Paimon, pun ikut kecewa sebelum akhirnya memilih untuk menaikkan suasana

" Yah! Tidak apa-apa! Yang paling penting adalah dia masih hidup dan kita bisa melihatnya jika ada kesempatan! Paimon juga penasaran rupa lain yaksha selain Xiao! "

" Tapi, bagaimana kita bisa menemukannya? Kita bahkan tak pernah melihatnya bahkan saat dua kali menyelamatkan Liyue. "

Ketika Lumine bertanya, Paimon, pun ikut bertanya-tanya juga. Keduanya menatap Zhongli yang juga nampak merenung. Seakan dia sudah lama sekali tak melihat mereka.

" Speratus hidup di alam dimensinya sendiri. Aku, pun, sudah lima ratus tahun tak bertemu dengannya secara langsung. Aku menghormati keputusannya jika dia ingin menjauh agar karmanya tidak menyebar. "

" Tapi tentu saja, aku lebih berharap dia bisa reuni dengan kawan adeptusnya yang lain. Hidupnya penuh kesendirian. Aku tak mau kabar yang datang ke telingaku adalah kabar kematiannya. "

ย 

-----

Wangshu Iin adalah tempat peristirahatan. Tempat bernaungnya yaksha yang sekiranya sejawat dengan siapa yang ia cari.

Di tempat andalan sang yaksha, balkon lantai paling atas Wangshu Iin, ia berdiri menunggu panggilannya dijawab. Bersama sapuan angin meniup rambut cokelat dengan ujung jingga yang diikat ekor kuda bawah, malam ini masihlah begitu nikmat seperti biasanya.

Hingga tak lama dari itu, muncul asap hitam kehijauan yang memudar jadi debu di belakangnya, dan Xiao hadir atas panggilan sang tuan.

" Re- Zhongli... "

" Selamat malam. Xiao. Sepertinya kabarmu membaik. Apa kamu bertemu pengembara akhir-akhir ini? "

" Kami kerap berpapasan saat ia melakukan misi. Apa yang membuatmu memanggilku? "

Sang yaksha kemudian diminta berdiri di samping sang tuan untuk menjadi kawan dalam memandangi pemandangan indah bentang alam Liyue. Xiao menurut tanpa basa-basi.

" Apa kamu menemukan sang yaksha laut? "

Xiao berdiam sejenak, sebelum kemudian menjawabnya.

" Speratus? Kemarin malam aku bertemu dengannya setelah Lantern Rite. Aku tak sengaja melihatnya bersimbah darah setelah menghabisi monster yang jumlahnya memukau. Tapi pembicaraan kami... Seperti yang dibayangkan. Dia masih menaruh formalitas dan hormat tinggi terhadapku karena perintah para kakaknya. "

" Dan juga fakta bahwa dia tak ingat apapun tentang diriku selain yang diberitahu kakaknya, itu masih melekat. "

Zhongli mengangguk. Paham betul sikap putrinya dalam menghadapi orang lain.

" Dia prajurit setia pada sumpahnya. Kontraknya bahkan masih ia pegang, sama sepertimu. Dan masalah memorinya... Mungkin gugurnya para kakak miliknya cukup membebani pikirannya. "

" Maupun begitu, aku masih berharap kalian berdua bisa menemukan alasan untuk beristirahat dari semua ini. Perang telah lama usai, nikmatilah sisa hidup kalian dengan baik. Istirahatlah. "

Xiao merenung dalam diamnya. Ia masih berpikir bahwa kontraknya tak pantas untuk ditinggalkan. Sama halnya yang Speratus pikirkan. Mereka masih tak bisa lepas dari sumpah dan mungkin takkan berhenti sampai ratusan tahun lamanya.

Namun kemudian...

" Dan juga, aku ingin melihat yaksha lain selain kalian berdua. "

Petir bersambar, hati berguncang, gempa di pikiran, semua bertabrakan, semua berhantaman dan... Dunia runtuh.

Apa maksudnya?

Apa keinginannya?

" Yak... Sha... La... In? Maksudnya? Ha, hanya kami yang tersisa, Zhongli. "

Zhongli hanya tersenyum seperti yang ayah lakukan ketika meminta kepada anaknya.

Dan Xiao seperti dihajar serangan jantung di detik itu juga.

" Tak bisa biarkan rasa itu dibungkam selamanya, kan... Nak? "

-----

" Ohohoho! Sahabatku dan putriku, Speratus! Baiknya dirimu mau mentraktirku beberapa gelas anggur untuk hari ini! "

" Ya... Maksudnya kalau mau mengajakmu, tentu saja aku harus bayar... Kan? "

Dawn Winery, petang hari di lantai 2 dengan meja untuk berempat, tersedia sekitar 30 botol anggur dandelion tersaji untuk sahabatnya dan satu pengamen yang dikenalnya akrab.

" Hoho, kamu masih ingat keunikanku bahkan setelah sekian lama~ "

" Yang benar saja... "

Venti segera menyambar salah satu botol dan menenggak habis alkohol tersebut dalam satu tegukan. Manis, sedikit asam dan rasa khas dari anggur merah amatlah kaya dan menari-nari di lidah. Sebuah Surga kecil dalam dunia Manusia.

Pengamen yang terlihat lebih muda dari Speratus walau di belakangnya tersimpan umur tua. Cukup hebat jika penyamaran pemuda ini masih berlaku ke semua orang kecuali tuan pemilik bar ini.

๐—ง๐˜‚๐—ธ

" Puah! Segar! Baiklah, sepertinya kamu datang untuk menanyakan sesuatu dengan raut muka sebingung itu. Jadi, jadi, tanyakan saja~ "

Tawarnya dengan tangan menyambar botol lain yang kali ini ditenggaknya hingga setengah. Sementara Venti tergila-gila dengan alkoholnya, Speratus merenung dengan pikiran linglung serta hutang karma yang makin memperburuk.

" Menurutmu... "

" Apakah aku harus " Menetap "? "

Venti berhenti minum sejenak, lantas melempar lirikan terhadap kawan di depannya. Dia terlihat penuh konflik batin. Ribuan tahun mereka berkenalan, tak pernah Venti lihat Speratus sebingung ini dalam hidup.

" Menetap? Dalam konteks apa? "

" ... Eum... Kamu tahu... Ya... Pensiun dan mencari seseorang untuk hidup bersama? "

Venti mengerti. Mulutnya ber-oh-ria yang disusul senyum simpul dan anggukan.

" Zhongli pastinya mau kamu juga melepas kontrak dan hidup tenang tanpa beban menjaga negara tersebut. Lagipula, Manusia sudah mandiri di era ini. Mengapa tidak lakukan demikian? "

" ... Aku merasa aku belum lunas membayar kontrak dan belas kasihnya. Setelah kejadian di Chasm dan bagaimana si penakhluk iblis berhasil menyelamatkan kawannya... "

" Hargaku semakin jauh dari kata kebebasan. "

Venti memiringkan kepalanya, mulut tertutup dan condong ke depan dengan bingung tersebar rata pada wajah.

" Tapi, itu, kan, urusan pribadinya? Apa yang membuatnya menjadi terhubung dengan hargamu untuk kebebasan? Kebebasan adalah hak semua orang. Tak terikat dengan apapun dan sebuah syarat. "

" Hah... Speratus... Berhentilah merendahkan diri hanya karena kamu merasa kurang kontribusi. Ayolah, kamu sama berjasanya dengan adeptus lain. Sebagai dewa kebebasan, aku sendiri merasa kamu pantas dengan kebebasan dari kontrak. Dalam segi kekuatan, kamu lebih kuat dariku dan jasamu sudah amat cukup ke Liyue. "

Entah apa yang mendorongnya untuk terus merendahkan diri.

Sumpah ke para kakaknya?

Atau ketidakmampuan untuk mau bergaul walau perbedaan kekuatan dan kasta menyerta ke para adeptus lain?

Apa? Apa? Apa? Apa?!

" Hah... Sebenarnya, temanku menyarankanku untuk menikah dan pensiun dari tugas yaksha... "

Sunyi menyertai. Senyap ini amat berat. Canggung langsung membasahi. Namun di kemudian saat...

" Haaah! Spera! Anakku! Hiks... Akhirnya dia sudah besar... "

" Oi, selama ini kau kira aku masih anak kecil? "

Venti diguyur kebahagiaan dengan rencana Speratus. Air matanya bahkan menitik seperti orang tua yang bangga dan tersedu-sedu ia dibuatnya.

" Oi... Dramatis sekali... "

" Ayolah, tak sudikah kamu melihatku bahagia! Ohiya! Hei, hei! Dengan siapa kamu ingin menikah?! "

Speratus tersenyum. Tanpa arti, tanpa makna, tanpa ekspresi.

Dan tanpa dosa menghancurkan harapan.

" Tak tahu. "

>:(

" Hei... Hei... Hei! Apa maksudnya! "

" Ya, aku tak tahu. Aku tak kenal siapapun yang mau jadi calonku... Eurgh... Tuhan melarang seorang yaksha hanya terpikirkan untuk melajang, kah? Tapi itu hanya rencana. Aku tak berpikir aku cocok dengan siapapun sebagai pasangan. "

Venti berpikir dalam ruwetnya benak.

Dari persepsinya, tak ada yang menurutnya bisa dipasangkan kecuali si " Senior " Speratus...

" Bagaimana dengan seniormu itu? Bukankah kalian sama-sama yaksha? "

" Haah. Ayolah, kastaku berbeda dengannya walau jenis kami sama. Lagipula, bukankah dia bersama pengembara perempuan dengan peri berisik itu? Siapa namanya ya... Aku tak tahu. Tapi dia membantu banyak saat tragedi Chasm dan saat Liyue terkena bencana Osial saat itu. "

" Heeh~ kamu cemburu ya? "

Tak ada yang bisa menggambarkan macam apa muka yang dipasang Speratus.

Kau bisa bayangkan wajahnya seperti kucing yang jengkel ke pemiliknya.

" Haah... Kamu tak pernah bisa digoda! "

" Untuk apa aku cemburu dengan orang yang lebih baik dariku? Pengembara cantik itu bahkan bisa melemahkan hutang karma senior. Sementara aku hanya terus bergelut dengan dunia milikku... Tanpa sadar aku hampir mati karena kesendirian... Dan karma. "

" Desir tajam di tubuhku saat episode karma terburuk menyambar... Tenggorokanku bagai ditarik macam tali tambang... Tubuhku seperti dihajar berkali-kali, akalku diguncang hebat, sakit menjalar luar biasa hingga rasanya tubuh ini akan copot satu persatu. Aku hanya bisa tergeletak di dimensiku sendiri, menangis kesakitan hingga darah menitik dari mata... "

Speratus memeluk dirinya sendiri dalam pilu dan kesendirian. Venti melihatnya jelas, bagaimana aura gelapnya begitu kuat dan deras hingga tumpah ruah.

" Suatu saat, jika aku tak terlihat di hadapanmu selama dua tahun... "

" Tolong datangi tempatku di Luhua Pool dan jadikan tubuhku menyatu dengan angin laut. Oke...? Sahabatku. Karena... Seseorang yang ingin kunikahi... Juga sudah lama pergi menjadi angin laut. "

-----

" ๐˜š๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ด... ๐˜๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ... ๐˜๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ... ๐˜๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ฌ๐˜ถ. "

" ๐˜š๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ด ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ถ... ๐˜›๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช... ๐˜‘๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช... "

" ๐˜š๐˜ฑ๐˜ฆ... ๐˜™๐˜ข... ๐˜›๐˜ถ๐˜ด... ๐˜๐˜ข๐˜ฉ... ๐˜’๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ถ. "

" ๐˜‘๐˜ข๐˜จ๐˜ข ๐˜“๐˜ช๐˜บ๐˜ถ๐˜ฆ ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ฌ๐˜ถ, ๐˜บ๐˜ข! ๐˜š๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ด~ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข๐˜ณ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข! "

" ๐˜š๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ด... ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ต... ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ช... "

" ๐˜š๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ด. ๐˜‘๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช. "

" ๐˜š๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฆ๐˜ฆ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ข๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ถ๐˜ถ๐˜ด! ๐˜›๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ซ๐˜ข๐˜จ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ซ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข, ๐˜บ๐˜ข! "

" ๐˜š๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ด... ๐˜š๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฑ ๐˜™๐˜ฆ๐˜น ๐˜“๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช๐˜ด... ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ... ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช... ๐˜”๐˜ข๐˜ข๐˜ง. "

" ๐˜š๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ด. ๐˜‰๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜จ๐˜ช๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ. "

" ๐˜š๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ด! ๐˜๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช, ๐˜บ๐˜ข! "

" ๐˜š๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ด. ๐˜’๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ค๐˜ฆ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ถ... "

" ๐˜š๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ด, ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜จ๐˜ช๐˜ข, ๐˜บ๐˜ข? "

" ๐˜š๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ด... ๐˜‹๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ต๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช... ๐˜‘๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ถ... ๐˜ ๐˜ข? "

" ๐˜š๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ด. ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ด๐˜ฉ๐˜ข. "

" ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ... ๐˜๐˜ข๐˜ข๐˜ฉ... ๐˜”๐˜ข๐˜ข๐˜ง๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ... ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ... ๐˜š๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ด. "

" ๐˜š๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ด. ๐˜ˆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ญ ๐˜ต๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฌ๐˜ถ. ๐˜‰๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ. ๐˜’๐˜ข๐˜ณ๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ถ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข. "

" ๐˜›๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข-๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข. ๐˜š๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ด. ๐˜›๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ถ... "

" ๐˜‹๐˜ช๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ด๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ถ. ๐˜›๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ด๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ถ... "

Memori bermekaran dalam raga yang tertidur.

Ketika hampir direnggut karma, maka seluruh kalimat-kalimat terakhir para kakak sebelum kematian, pun datang menyelamatkannnya.

Dan sekali lagi, memberinya kesempatan hidup.

Maka terbuka matanya disambut dunia lama. Berlinang air mata yang terus jatuh, Speratus bangun dari tidurnya dengan masih berada di bentang alam Liyue.

Perasaannya kosong. Seakan lumpuh. Ada sakit dan perih bercampur rindu, tapi terlalu jauh untuk diraih karena jiwanya lagi-lagi berduka.

Di atas puncak-puncak area gunung Aozang, Speratus tertidur di salah satunya dengan beralaskan rerumputan hangat.

Mentari di atas sana pun menyingsing, memberi sentuhan jingga pada langit. Mengakhiri hari, sekali lagi.

" Kamu sudah bangun... ? "

Speratus mendengar sebuah pertanyaan, dilempar ke arahnya. Suara bariton halus menggema ke telinganya, menanyakan kondisinya.

Namun Speratus seakan tuli. Dia tak merespon dan terus menatapi langit jingga. Serbuan angin hangat menerpa, meniupkan tiap surai yang lemah terhadapnya.

๐˜ˆ๐˜ฅ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ช๐˜ญ... ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด... ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ด๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜จ... ๐˜‹๐˜ช๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ถ, ๐˜บ๐˜ข?

๐˜š๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ... ๐˜—๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜”๐˜ข๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ข๐˜ด๐˜ข...

Speratus bermonolog dalam benak, sampai kemudian belaian halus, mendarat di dahinya dan menepikan poni-poni yang menghalau.

" Serangan karmamu amat kuat... Sampai merespon saja kamu sulit. "

" Istirahatlah. Aku akan terus di sini. "

Speratus melirik ke seseorang di samping kanannya. Langit semakin gelap, namun orang ini memancarkan cahaya yang biasanya dikatakan harapan. Amat jelas di mata yang berat.

Dalam buramnya persepsi, ia melihat seorang dengan bentuk tubuh lelaki. Memakai baju putih, kalung dengan warna unik dan rambut hijau tua. Wajahnya tak terlihat, tapi itu terlihat familiar.

" Aku menemukanmu pingsan di bukit ini saat patroli... Dan ternyata, serangan karmamu sedang terjadi. Untuk mencegah kejadian buruk, aku menetap di sini. "

Suara itu halus sekali... Kapan terakhir kali dia mendengar suara orang sehalus ini? Siapa lelaki ini?

" Namun, kondisimu memburuk. Aku berniat membawamu beristirahat di Wanshu Iin, tapi kamu keburu menarik tanganku dan memintaku untuk tinggal... "

" Masih sama seperti dulu, ya? "

Speratus tak mengerti apa yang dikatakannya. Memorinya camput aduk dan matanya kembali gelap--sampai akhirnya menutup.

Ia tertidur lagi. Begitu lelap dan pulas. Sampai seseorang di sampingnya berbicara dengan dirinya sendiri.

Ia melepas kekehan lembut kala dilihatnya sang puan lagi-lagi tertidur. Kemudian, menurunkan kepalanya ke dekat dahi--lalu mengecupnya tepat di simbol lingkaran biru kecil pada tengah dahi.

" Selamat malam. BวŽobรจi. "
-----

Pagi menyerta Bumi dengan hangatnya, sang Fajar bangkit untuk mengambil tahtanya dari Rembulan yang menyingsing. Kicau burung-burung yang menjelajahi garis horizon membuat paduan suara indah dari langit suci.

Speratus terbangun dari tidurnya, mendapati diri berada di Luhua Pool bermandikan air di kolamnya.

Ia bangkit dari sana. Kepalanya terasa pusing namun fajar sudah berteriak waktu untuk bekerja.

Peregangan sebentar dan memandangi alam yang ia lindungi, Speratus menghilang jadi percikan air, pergi ke sebuah kuil yang telah diperbaiki entah kapan di kaki gunung Tianheng.

Membawa piring berisi 3 porsi ikan Harimau bakar, Speratus masuk ke dalam kuil dan langsung diberi anggukan dari penjaga kuil, Wang Ping'an.

Piring itu ditaruh di samping patung Pervases dan Speratus membungkuk di depan patung tersebut.

" Lama tak berjumpa, kakak Pervases. Aku lihat kuilmu sudah diperbaiki dan sekarang kamu takkan terlupakan lagi. Aku berterima kasih pada siapapun yang melakukannya. "

Speratus mengenang memori ratusan tahun yang lalu. Di mana Pervases sering mengajaknya memancing dan membakar ikan. Sekarang, itu menjadi salah satu makanan kesukaannya bahkan andalannya untuk dimasak.

" Aku masih ingat tidur di reruntuhan kuilmu karena karmaku yang semakin memburuk. Bagaimana kepalaku dielus dalam tidurku bahkan saat kamu tak lagi di sini... "

" Aku amat... Merindukannya... Oh? "

Dalam renungan masa lalu, Speratus menemukan secarik kertas di meja persembahan.

Ia mengambilnya dan lantas membukanya. Tak disangka, itu adalah puisi.

Puisi yang mengisahkan keindahan yaksha dan perjuangan mereka dalam bentuk literatur.

" Hooh... Ini menarik juga... Eh, tunggu... Tulisan ini, sepertinya aku pernah lihat... "

" Ah. Maaf mengganggu, tapi surat itu sepertinya ditinggalkan oleh oleh sang adeptus. "

Wang Ping'an datang menghampirinya dengan ramah dan menjelaskan siapa yang mengirimnya. Speratus lantas tersenyum dan tahu maksudnya.

" Hoo, begitu. Pantas saja tulisannya mengingatkanku dengan tulisan rencana penyerbuan Dihua Marsh ribuan tahun lalu. "

" Eh? Kamu pernah menemukan skrip rencana perang adeptus? Woah... Hebat. "

" Setidaknya begitu. Baiklah. Terima kasih untukmu yang mau merenovasi kuil kakakku. "

Wang Ping'an, pun tersenyum dan melambai-lambai malu.

" Ahaha. Tidak apa-apa. Ini hanya bagian dari permintaan maafku tentang kejadian masa lalu. Omong-omong... Kamu bilang, mendiang Pervases adalah kakakmu... Apa maksudnya, kamu juga adalah adeptus? "

" Ya. Sedikit dariku, kakak Pervases adalah senior yang membimbingku dalam bertarung. Bahkan membangun hobi memancing dan makan ikan bakar. Hahaha... Aku ingat kala itu, saat sayembara kemenangan perang dan waktu istirahat, aku dan kakak bertarung tentang siapa yang bisa menghabiskan ikan terbanyak. "

Bagi Speratus, Manusia itu ajaib. Terkadang mereka menyebalkan, kadangkala juga, mereka adalah teman bicara menyenangkan. Walau tak ada yang tahu adeptus apa dirinya, setidaknya bisa berbicara dengan orang lain sudah cukup.

" Wah, kalian hebat bisa menemukan keseruan walau di tengah perang. Aku yakin, mendiang Pervases pasti bangga denganmu hingga saat ini. "

Ucap lelaki itu ramah. Speratus terkekeh kecil, merasa terharu.

" Hahaha, terima kasih. Dia adalah adeptus baik. Seringkali membawaku terbang di punggungnya saat kecil hingga besar. Dia juga yang menyelamatkanku dari kematian dengan membawaku di pundaknya selama berjam-jam menuju tempat medis... Jasanya akan selalu hidup dalam diriku. "

" Baiklah. Terima kasih karena mau berbicara denganku. Aku titip kakak denganmu, ya? "

Dan begitulah, Speratus hilang meninggalkan embun dingin di sekitar, tepat di saat yang sama Xiao tiba dan membawa sepiring Almond Tofu.

" Hum... Siapa yang baru datang ke sini? "

" Ah, ada seorang adeptus perempuan yang datang membawa sepiring ikan harimau bakar tadi. Dia bilang dia adalah adik dari Pervases dan berkunjung tadi. "

Xiao terdiam sejenak, lalu kembali bertanya.

" Apa kau tahu ke mana dia? "

" Maaf. Sayangnya dia pergi tanpa bilang mau ke mana. "

Xiao mengerti dan kemudian menaruh bawaannya di atas meja. Dia menatap beberapa saat patung Pervases sebelum sedikit tersenyum.

" Eum, maaf jika aku terdengar tidak sopan... Tapi, apakah tuan adeptus tahu siapa dia? Beliau seperti baru terlihat akhir-akhir ini. "

" Tentu saja aku tahu dia. Dia jarang muncul karena keinginannya sendiri melindungi Manusia. Momen langka jika kamu bertemu dengannya. "

Wang Ping'an ber-oh-ria dan tersenyum. Ia merasa lega untuk bisa bertemu dengannya walau sekali seumur hidup.

" Aku beruntung. Semoga Rex Lapis selalu melindunginya. "

-----

Tombak berputar kencang, menebas seluruh musuh jadi dua begitu lincahnya bahkan tanpa dipegang. Seperti mesin pembunuh terbang, musuh-musuh di hadapannya yang menyerbu, pun menjadi debu merah dan sirna.

Speratus memanggil kembali tombaknya dan melepas topeng yang digunakannya dalam berburu. Ketika sadar, hari sudah kembali senja.

" Haah... Hidup ini sepi tanpa para kakak... "

" Aku bertanya... Kapan aku menyusul kalian? "

Speratus menatap langit jingga dengan Fajar yang menyingsing dari tahtanya. Seperti harapannya yang mulai pudar beserta semangat yang tak lagi membara.

Speratus hilang arah. Dia semakin jauh dari kehidupan dan terus pergi entah ke mana.

Dan serangan karma, pun semakin ganas ketika itu menyetrumnya. Speratus dibuat tumbang dan terjatuh ke tanah dengan tangan menjambak rambutnya sendiri.

" Argh! Haah!... Eurgh... "

Suara-suara makian mulai berdenging di telinganya. Aura hitam yang menyiksa kembali membasahi seluruh jiwanya.

" Aaargh! "

Tersiksa dalam kesendirian, Speratus bahkan menghantam kepalanya ke tanah dengan kedua tangan menarik kuat-kuat rambutnya. Agoni dan siksa begitu nyata, sampai mata meneteskan darah.

" แดแด€แด›ษช sแด€แดŠแด€ แด‹แด€แดœ! "

" sแด‡แดแดœแด€ แด‹แด€แด‹แด€แด‹แดแดœ แดแด€แด›ษช แด‹แด€ส€แด‡ษดแด€ แด›แด€ษดษขแด€ษดแดแดœ. "

" ส™แด€ษขแด€ษชแดแด€ษดแด€ ส€แด€sแด€ษดสแด€ สœษชแด…แดœแด˜ แดแด‡ษดแดŠแด€แด…ษช แด˜แด‡แดส™แดœษดแดœสœ? "

" แด‹แด‡ษดแด€แด˜แด€ แด‹แด€แดœ แดแด€sษชสœ สœษชแด…แดœแด˜?! แด‹แด‡ษดแด€แด˜แด€ แด‹แด€แดœ แด›แด€แด‹ แดแด€แด›ษช ส™แด‡ส€sแด€แดแด€แด‹แดœ! "

" Diam... Diam... Bajingan penuh dengki... "

Speratus masih terus melawan dan melawan. Hewan-hewan yang berada dalam radius 15 meter, pun terlihat berlari menjauhinya karena karma yang semakin menumpuk dan menumpuk.

Suara-suara itu terus berteriak. Mendoakan kematian. Berharap ia mampus di saat itu juga.

Siksaan ini dikenalnya dekat. Ribuan tahun lamanya.

Tanpa bantuan siapapun bahkan Rex Lapis karena dia menolak untuk meminum obat, Speratus terus melawan dalam pertarungan solonya yang akan berlangsung selamanya.

" Haah! Haah!... Kakak... Kakak... Tolong aku... "

" Sakit... Sa... Kit... Sakit. Tolong aku... Bawa aku... Kumohon... "

Pekiknya dalam kekosongan. Suaranya terlampau bisu di telinga orang. Kaisan pertolongannya tak terjawab sampai akhirnya dia jatuh pingsan dengan mata dan hidung berdarah-darah.

Buram, menggelap, suram. Matanya hampir tak kuat menahan kesadaran.

Hingga suara samar memanggil namanya bagai doa yang terijabah dalam kegelapan.

" BวOBรˆI! "

Tunggu... Nama siapa itu?

Itu bukan namanya... Ia tak pernah dengar nama itu...

Tapi...

Seseorang... Seseorang pernah memanggilnya seperti itu...

" ๐˜‰๐˜ขฬŒ๐˜ฐ๐˜ฃ๐˜ฆฬ€๐˜ช... ๐˜š๐˜ถ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ ๐˜ด๐˜ข๐˜ข๐˜ต ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ถ๐˜ด๐˜ข๐˜ช... "

" ๐˜ˆ๐˜บ๐˜ฐ ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข. "

Siapa? Siapa dia?

Siapa yang dia lupakan?

" ๐˜‰๐˜ขฬŒ๐˜ฐ๐˜ฃ๐˜ฆฬ€๐˜ช! ๐˜๐˜ข๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ด๐˜บ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ-๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข... ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ต ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ค๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ด ๐˜จ๐˜ถ๐˜จ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฌ-๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฎ๐˜ถ... ๐˜๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ง๐˜ฐ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฉ... "

Apa kesalahannya? Siapa? Siapa, siapa, siap, siapa dia?!

" BวŽobรจi! BวŽobรจi! Kamu dengar aku?! BวŽobรจi! Bertahan denganku! Ikuti instruksiku! "

Speratus terus bertahan untuk tetap sadar. Kesakitan dan merintih, Speratus terus mengeluarkan darah dari mata dan hidungnya hingga terengah-engah napasnya.

" Tak apa... Tak apa... Aku di sini... Aku di sini... Tenangkan diriku, dengarkan suaraku... BวŽobรจi... "

Dahinya ditempeli oleh sesuatu yang hangat, seperti kulit... Halus dan amat lembut menyentuhnya.

Tangan kanannya kemudian digenggam, bersama dengan eratnya pelukan di tubuhnya. Bahaya.

" Pe... Pergi... Kau... Kau akan ter- luka... Haah... Hah... "

" Tidak. Aku takkan pergi lagi. Aku akan berada di sisimu sampai ini berakhir... "

Speratus tak berdaya. Lagipula, besar kemungkinan ini hanyalah ilusi dari residu dewa yang mempermainkan kelima indranya.

Lambat laun... Karmanya melemah... Serangannya menipis... Sakitnya mulai sirna.

Masih tergesa-gesa dalam bicara, Speratus berbicara pada dirinya sendiri. Tangan kirinya menjulur ke langit di mana para kakaknya beristirahat tenang di sana.

" Ka... Ka-kak... Kenapa... Kena-pa... Ja, jauh? Jangan... Ti, tinggalkan... Spera... "

" Kaka... Kakak... Spera... Takut. Spera... Sendiri... "

Mendengar dari orangnya langsung tak mungkin seperih ini.

Bagaimana dia memohon untuk para kakaknya. Kesendirian selama ratusan tahunnya pasti menumpangtindihkan tiap kesedihannya hingga terlalu berat dipikul.

Ada saatnya ia juga seperti ini. Namun setidaknya, dia diselamatkan.

Sementara Speratus? Tak ada seorang, pun yang bisa menjangkaunya karena isolasi diri dalam alam dimensinya.

Terlebih lagi, sebagian besar para kakaknya, dibunuh oleh tangannya sendiri karena kehilangan kendali akibat karma.

Dia mungkin tak secara langsung membunuh saudara-saudaranya juga. Namun ketika mengingat tragedi kematian mereka, terkadang itu menenggelamkan jiwa ke lubang yang melolong kencang.

Bagaimana jika itu dirinya di posisi Speratus? Apakah dia bertahan? Atau jatuh ke kegilaan?

Malam sudahlah datang. Gelap hampir membutakan jika Rembulan tidak berbelas kasih. Area sekitar mulai dikelilingi monster.

Kala dilihatnya Speratus yang membaik, ia bergegas pergi dari sana di saat itu juga. Enggan membuang waktu yang terlanjur sedikit.

" Sekali lagi saja... "

" Bergantunglah padaku. "

(To be Continued)