Actions

Work Header

so i'll run to you (little by little).

Summary:

“This might sounds stupid, but how do you know if someone looks — or acts like a puppy?"

Atau: Sungho terlalu banyak berkontemplasi, tidak sadar kalau jawaban pertanyaan (dan cinta dalam hidupnya) sudah berada sedekat nadi.

Notes:

this fic is written for #SHineMYouth event hosted by @daengsunghome on x/twitter.

thank you for the amazing prompt @xxjinv! i had fun exploring various character dynamics here, especially myungnyangz. they're very precious to me and i hope i did them justice in this au n_n

note: i use korean names tapi setting-nya 100% lokal!

happy reading ♡

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

(i)

Sungho bukan penggemar K-pop, tapi bila ditanya apakah ia awam sekali dengan dunia K-pop? jawabannya tentu saja tidak.

Bertahun-tahun bergaul dengan anggota keluarga dan teman yang sangat passionate menjadi penggemar, ia jadi tahu rutinitas apa yang biasa mereka lakukan untuk menyalurkan perasaan yang melimpah ruah. Mulai dari menonton penampilan idola di music shows, menabung demi membeli album fisik, memutar lagu lewat platform streaming, mass voting agar idola memenangkan penghargaan, atau yang lebih keras perjuangannya: berusaha mendapatkan tiket konser, bersaing dengan ribuan orang untuk mengincar kursi yang terbaik. Sungho beberapa kali menjadi saksi perjuangan teman-temannya war di warnet terdekat (ia bahkan diseret untuk ikut) — sampai-sampai ia hafal tips dan trik agar tidak terpental dari antrean pembelian.

Karena rentetan pengalaman tersebut, ia tidak pernah menghakimi orang-orang yang rela mengeluarkan uang, tenaga, dan pikiran untuk mendukung sang idola. Esensinya sama saja dengan penggemar secara umum, kan? Mirip-mirip seperti Sungho zaman sekolah yang rela tidak tidur demi mendukung Barça, berteriak sampai suaranya habis saat pemain favoritnya mencetak gol, dan menyisihkan tabungan untuk membeli pernak-pernik resmi klub.

Namun ada satu hal dari penggemar K-pop yang sampai sekarang sulit sekali Sungho pahami, yakni menyamakan idola dengan ... binatang? Not in a bad way seperti sumpah serapah seseorang ketika marah pada figur publik yang ternyata ketahuan sebagai kriminal, namun secara literal menyamakan tingkah laku atau muka menggemaskan sang idola dengan jenis binatang spesifik (yang umumnya jadi piaraan domestik).

Pertama kali Sungho mendengar seseorang menyamakan idola dengan binatang adalah lewat mulut kakak kandungnya sendiri, sewaktu ia masih bocah ingusan baru lulus SD. Si kakak (dulu) cukup menggemari EXO , meski ia jarang membicarakannya di depan umum. Orang lain mungkin menganggap kakaknya sebagai pendengar kasual, tapi Sungho yang tinggal bersama dan melihat kelakuannya tiap hari tahu betul ada masa kakaknya sangat menggandrungi salah satu anggota yang ia samakan terus-terusan dengan hamster.

("Dek, lihat deh, dia kalau ketawa di pojokan bener-bener kayak hamster.")

(“Kakak beli gantungan kunci hamster ini karena mirip banget sama Kak Umin. Menurut kamu gimana? Lucu, gak?")

Sungho bukan penganut keras MBTI, tapi kalau diingat-ingat reaksinya saat itu benar-benar merepresentasikan personalitas T.

("Uhm, miripnya dari segi apa yah? Jujur, Adek gak bisa lihat.")

Redaksinya mungkin tidak sama persis, tapi Sungho juga ingat saat kakaknya menjitak lembut dahinya sambil mencibir, "nanti kamu bakal paham kok, kalau udah ketemu yang pas." — dan well, Sungho penasaran apakah ia benar-benar bisa memahami hal tersebut suatu hari.

Nyatanya di sinilah ia, hampir sepuluh tahun kemudian, menggaruk pelipis di sofa ruang tamu sambil membaca isi group chat bersama beberapa teman terdekatnya di kuliah. Mereka mendiskusikan betapa miripnya foto terbaru bias K-pop mereka dengan foto binatang lucu yang mereka dapatkan lewat media sosial. Satu teman memulai cocoklogi lanjutan dengan mengedit foto biasnya di samping foto otter, lalu berteriak kegirangan sendiri. Member group chat yang lain ikut mendukung dengan mengirimkan stiker dan meme otter.

Sungguh, Sungho bukannya asing dengan pembahasan ini, tapi ia tampaknya masih belum bisa menangkap semua secara lapang. Ia menahan diri tidak merusak momen riang teman-temannya dan hanya mengirimkan stiker tertawa sebagai pertanda ia ikut menyimak dari jauh. Keningnya sedikit mengernyit ketika satu temannya mengirimkan thread berjudul 'Dino as Otter' dengan post pembuka foto idola tersebut sedang ternganga, bersanding dengan foto otter yang menganga dengan angle yang mirip.

Alright, Sungho mengakui konsep fotonya memang layak dipadankan. Tapi ... mengapa harus otter? Mengapa harus hamster? Siapa yang berhak untuk menentukan binatang representasinya? Apakah ada voting di kalangan fans terlebih dahulu hingga mencapai konsensus?

 

"Serius banget lihatin hapenya. Lagi baca apaan, sih?"

Tiba-tiba saja, ada sesosok pemuda tinggi yang duduk di samping Sungho dan menepuk kencang pundaknya. Tepukan itu sukses membuat Sungho tersentak kaget. Seketika ia memukul lengan pemuda itu sambil mendesis. "Bisa normal dikit gak nyapanya."

"Hehe, kalo disapa doang biasanya lo gak bakal noleh," komentar si lawan bicara sambil menjulurkan lidah.

Banyak yang bilang Sungho tidak terlihat seperti anak bontot, saking kalemnya ia menghadapi berbagai situasi dan terbiasa berpikir jauh ke depan sebelum memutuskan. Sungho tidak menampik itu, tapi juga tidak sepenuhnya mengiyakan karena kenyataannya, tetap ada sisi dirinya yang memalukan dan jauh dari kata kalem. Ia hanya pandai menutup-nutupi sisi itu; menonjolkan branding-nya sebagai senior kampus yang sangat bisa diandalkan.

Lalu, faktor lain (dan faktor terbesar) yang membuat Sungho sering dikira anak pertama adalah keberadaan Dongmin — adik sepupu bongsor yang jadi juniornya di kampus.

Mereka sebenarnya berbeda jurusan, meski tergabung di fakultas yang sama. Sungho berani bilang ia lebih sering menghabiskan waktu bersama Dongmin dibanding kakak kandungnya sendiri, bahkan sebelum mereka masuk kuliah. Mungkin karena umur mereka yang hanya terpaut setahun, dan sejak kecil sudah sering bermain bersama. Kebetulan rumah mereka juga hanya dipisahkan satu gang berbeda. Jadilah ia semacam sosok 'kakak' bagi Dongmin, yang menampung cerita dan keluh kesah, sekaligus partner berantem selama bertahun-tahun. Sungho seperti dipaksa menjadi lebih dewasa ketika bergaul dengan Dongmin yang isengnya minta ampun.

Sekarang saja, Sungho cuma bisa menghela napas panjang saat Dongmin berusaha mepet dan mengintip layar ponselnya. Seolah-olah ada rahasia yang ingin Sungho tutupi (padahal tidak ada sama sekali).

"Kalau lo mikir gue lagi chat sama pacar ... gak, gue masih gak punya pacar." Ada penekanan getir di tiap kata yang Sungho sampaikan. Sebagai tambahannya, Sungho menunjukkan layar group chat bernama 'Sunday Cafe Hopperz' yang isinya sekarang ... masih membahas perbandingan idola K-pop dengan foto binatang. Bedanya ada tambahan info tentang merchandise otter yang dijual di suatu art market. Sungho mengabaikan sejenak mention salah satu teman yang menyuruhnya mengecek tautan yang dibagikan. Matanya fokus melirik Dongmin yang menyeringai penuh arti di sebelahnya.

"Kecewa deh, padahal mau gue invite double date," ujar Dongmin sambil manggut-manggut. "Gue abis dapet voucher diskonan dessert cafe di Blok M, lho."

Sungho berusaha keras tidak memencet hidung Dongmin. Ia memutar bola matanya ke atas dan memilih menyandarkan kepala di dudukan sofa. Menanggapi godaan adik sepupunya bakal tidak akan ada habisnya, jadi ia pikir, akan lebih baik ambil posisi aman untuk sekarang.

(Meski ia sangat tergelitik untuk menanggapi bagian 'double date'. Sepertinya ada yang perlu diingatkan lagi momen-momen galau cara nembak gebetan sampai tidak bisa tidur.)

...

"Hmm, coba ajakin gue sebagai orang ketiga. Gue bongkar abis-abisan cerita galau lo pas ngerasa dijauhin sama Si Dedek."

Bingo. Sungho bisa melihat telinga Dongmin jadi sedikit memerah. Menyebutkan panggilan sayang Dongmin pada pacarnya yang baru resmi sebulanan itu memang ampuh menjadi kartu reverse uno. Ia tidak mau ambil pusing memikirkan kapan ia bertemu dengan tuan putri atau pangeran berkuda putih — menggoda adik sepupunya ternyata jauh lebih menyenangkan.

Tapi rencana iseng (balik) itu ia buang jauh-jauh begitu matanya menangkap sekelebat makhluk berbulu yang berlarian dari kejauhan. Ia langsung menoleh pada Dongmin dengan mata penuh harap, melupakan apapun yang ia kontemplasikan beberapa menit yang lalu.

"Eh? Si Mocha udah balik?"

Dongmin berkedip-kedip, agak bingung dengan perubahan alur pembicaraan yang terlalu cepat. Tapi ia harus bernapas lega karena Sungho tidak jadi mengungkit pembahasan soal pacarnya (salah sendiri bawa-bawa topiknya duluan). Ia pun mengarahkan pandangannya ke area taman depan rumah, mencari sosok yang menjadi perhatian baru Sungho.

"Iya, baru balik kemarin. Mau gue bawa ke sini?" tanya Dongmin sambil menaikkan alis.

Sungho mengangguk antusias. Tanpa mengatakan apapun, keduanya sama-sama paham artinya adalah 'Yes, please.'

Meski sering berdebat, ada hal-hal yang bisa menyatukan Sungho dan Dongmin; yang membuat mereka benar-benar terlihat seperti kakak-adik. Pertama, kecintaan mereka terhadap sepak bola. Saat libur semester seperti sekarang — dan kebetulan ada liga yang sedang berlangsung, mereka akan janjian nobar sampai subuh. Kadang di rumah keluarga Sungho, kadang di rumah keluarga Dongmin, bebas pindah suka-suka, toh akan tetap dapat cemilan gratis. Kedua, ketertarikan terhadap musik. Selera keduanya cukup berbeda, tapi mereka sangat terbuka dengan genre musik lain dan rajin mengadakan sesi sharing playlist. Sungho akan merekomendasikan lagu K-R&B dan K-pop (yang kadang ia dapatkan dari teman-teman dekatnya juga), sementara Dongmin merekomendasikan band-band indie yang random ia dengarkan dari hasil shuffle.

Lalu yang ketiga ... adalah perhatian mereka terhadap Mocha.

Mocha adalah golden retriever yang diadopsi keluarga Dongmin sejak 5 tahunan lalu. Ayah Dongmin, alias Oom Han, membawanya sepulang dari kantor dan membuat Sungho - Dongmin yang saat itu nonton sepak bola bersama di ruang keluarga berteriak kegirangan. Meski tidak dirawat sejak masih kecil, Mocha termasuk anjing yang mudah akrab dengan orang baru dan clingy — terutama pada mereka yang sering mengajaknya main. Sungho agak sedih kalau ingat ia sudah jarang main bersama Mocha sejak aktif kuliah, apalagi ia pulang-pergi bisa dari pagi-pagi saat matahari baru terbit sampai hampir tengah malam. Makin sedih lagi saat tahu kalau akhir-akhir ini Mocha sering sakit dan beberapa hari sempat rawat inap di vet.

Karena itu, ia sangat senang bisa bercengkrama lagi dengan Mocha meski sesaat. Ia menyambut anjing yang berukuran cukup besar itu dengan tangan terbuka dan membiarkan pipinya dijilat sampai basah. Jujur, Sungho (dan Dongmin) adalah tipe yang cukup sensitif dengan pelukan. Jika boleh memilih, mereka tidak akan melakukannya dengan sukarela. Tapi untuk anjing semanis Mocha, dan segala jenis hewan peliharaan lain yang mudah dekat dengan manusia, peluk cium adalah pengecualian.

Sambil bermain-main dengan Mocha, pikiran Sungho kembali pada teman-temannya yang menyamakan K-pop idol dengan binatang. Ia sekilas ingat ada idola yang disamakan dengan anjing. Dia tidak hafal siapa, tapi ingatan itu membuatnya kembali mengernyitkan dahi dan menyipitkan mata. Ia membatin, kalau sampai ada yang menyama-nyamakan anjing — terutama our Mocha dengan manusia, sepertinya Sungho perlu menggetok orang tersebut.

"Mukanya balik gitu lagi deh," komentar Dongmin yang datang membawa makanan anjing. Ia hafal raut muka Sungho hanya dalam sekali tatap. "Mikirin apaan?"

Sungho berdehem, tidak mau membuat Dongmin mengira ia sedang terjebak overthinking berkepanjangan soal kuliah atau kehidupan. Ia cuma merenungkan satu topik yang aslinya tidak penting-penting amat. Sayangnya karena hari sudah semakin sore, dengan hawa-hawa liburan panjang yang masih melekat di kepala, proses berpikir Sungho tidak bisa dibawa ke arah yang lebih kompleks. Kalimat yang selanjutnya ia lontarkan membuat Dongmin semakin bingung.

"Menurut lo, kalau Mocha jadi manusia bakal cakep gak?"

"Orang edan..."




(ii)

Baru saja Sungho memasuki kamar dan bersiap-siap menjatuhkan badan di atas kasur, saat menyadari ponselnya bergetar berkali-kali. Sepertinya ia lupa mematikan notifikasi messenger app usai mengaktifkannya sementara tadi. Ia pun beralih duduk di depan meja belajar dan mengecek apakah ada hal penting yang perlu diketahui ... di momen liburan yang cerah ini.

Alis Sungho sedikit terangkat begitu tahu sumber notifikasinya adalah 'Sunday Cafe Hopperz'. Di satu sisi ia lega karena pesannya tidak datang dari grup angkatan atau organisasi kampus (Please, ia masih suka terbayang-bayang padahal sudah memasrahkan kepanitiaan pada juniornya). Tapi kalau teman-temannya di grup spesifik ini pada aktif, sesuai dengan namanya, ada kemungkinan ia akan diculik dalam waktu dekat untuk mencicip makanan ke tempat-tempat baru. Atau, digeret ke comfort cafe yang sudah sering mereka datangi untuk bercengkrama.

Benar saja, bubble chat pertama yang ia baca adalah pesan dari Kazuha — teman baik Sungho sejak zaman SMA sampai kuliah, sekaligus salah satu oknum yang hobi menyandingkan foto idola dengan hewan-hewan lucu (Sungho masih belum bisa melupakan topik tersebut meski sudah dibahas kemarin-kemarin). Ia menyebut nama Sungho dalam pesannya dan bertanya 'Bisa temenin gue, gak? Please please.' Sungho langsung bisa membayangkan muka Kazuha yang penuh harap saat scroll ke bawah dan melihat banyak stiker menangis lucu. Gadis itu biasanya tidak se-desperate ini kalau mengajaknya, pasti ada hal yang ingin sekali ia coba atau beli, sementara anggota grup lain berhalangan.

Usai skimming puluhan chat yang menumpuk dan membalas dengan cepat, intinya adalah: Kazuha mengajaknya pergi ke art market di akhir minggu ini demi membeli merchandise grup K-pop yang digambarkan sebagai hewan-hewan lucu. Sungho harusnya bisa menebak. Penjualnya tidak akan melayani mail order dan hanya akan buka lapak di satu hari saja. Tentu saja pengumuman tersebut membuat para target pasarnya kelabakan. Sungho terkekeh geli, ia tidak keberatan diajak kompetisi siapa yang bisa dapat merchandise incaran lebih cepat. Ck, memang dari sananya sudah punya mental kompetitif.

"Udah biasa diajakin war tiket konser, harusnya war merch bisa lah," gumam Sungho pada dirinya sendiri. Ia melipat tangan dan bertekad akan bangun pagi agar bisa masuk lebih awal ke art market dan mendapatkan barang incaran Kazuha ... dan mungkin mendapatkan trinkets lucu sebagai koleksi pribadi. Ia bukan yang hobi sekali mengumpulkan trinkets, tapi ia senang melihat banyak variasi trinkets yang dibuat oleh artist lokal dan ingin mendukung karya mereka. Kalau dihitung, sudah sekitar lima kali ia diajak ke art market (termasuk oleh Dongmin, ke art market spesifik yang temanya 90an dan digandrungi warga skena sepertinya). Sungho belum bosan, justru kalau ada yang diincar seperti ini membuatnya lebih semangat.

Zuha
Nyo, lo kalau dateng lebih pagi dari gue please beliin dulu yah ㅠㅠ

Chat terakhir dari Kazuha ia balas dengan stiker jempol dan stiker senyum lebar. Teman-teman lainnya di grup tersebut ikut mengirim stiker dan menyemangati Sungho, ala-ala penonton lomba lari yang menyaksikan pemain terakhir mendapatkan tongkat estafet.

Percayakan semua pada Sungho.

 

Or ... not?

Di hari-H art market, Sungho telat bangun 1 jam dari yang ia rencanakan. Kalau Dongmin tahu soal ini, ia pasti akan menertawakan Sungho dan berkomentar, "pede banget, kan lo kalo tidur suka molor, Kak!" dengan nada menyebalkan. Sungho tentu saja kesal, tapi makin kesal lagi karena tahu Dongmin 90% benar. Sisa 10% kesempatan bangun super pagi bisa dicapai jika ia sedang tidur di rumah keluarga Dongmin atau tidak tidur semalaman. Sambil menggerutu, ia menghitung waktu tercepat yang bisa ia lalui untuk bersiap-siap. Mungkin ia akan skip makan pagi dan dandan sekenanya. Syukurnya ia sudah menyiapkan outfit yang akan dipakai hari ini sekaligus apa saja yang perlu ia bawa. Setidaknya, ada satu check point yang sudah terlewati.

Bagian paling menantangnya tentu saja commuting. Ia sudah memotong perjalanan dengan naik ojek, tapi tetap saja masih banyak kilometer yang harus ditempuh. Siapa yang ngide lokasi art market-nya nan jauh di sana? Dari rumahnya sekarang, ia mungkin perlu menghabiskan waktu 2 jam di jalan, mirip-mirip seperti yang ia lalui sehari-hari saat ke kampus. Bedanya, karena akhir minggu, ia tidak perlu terlalu berdesakan atau merenungi jalanan yang macet. Sambil berlari melewati tangga halte, Sungho mengecek chatroom-nya dengan Kazuha. Ia agak was-was temannya satu itu ternyata sudah di lokasi lebih cepat dari dirinya.

Yang bersangkutan rupanya belum mengirim pesan apapun. Sungho yakin Kazuha belum bangun, atau sedang sibuk bersiap-siap. Ia sudah sering melewati skenario yang mirip-mirip, jadi ia tidak akan menunggu Kazuha sampai mereka bertemu di titik tengah.

Waktu menunjukkan pukul 11:35 saat Sungho tiba di depan loket masuk art market. Satu setengah jam lebih sejak gate resmi dibuka. Dengan peluh menetes di dahi, Sungho menghela napas panjang dan menyandarkan diri ke dinding terdekat. Ia berusaha menenangkan detak jantungnya yang terpacu cepat usai banyak berlari. Ya tuhan, ia sepertinya memang harus menginap di rumah Dongmin sebelum ada acara spesifik seperti ini. Kalau orang tua dan kakaknya sedang di rumah, mungkin ada yang membantu mengetuk pintu dan mencegahnya tidur lagi sehabis melek mematikan alarm. Memang manusia tempat berencana (dan terlalu percaya diri).

Dengan langkah sedikit gontai, Sungho mengeluarkan ponsel untuk membuka e-tiket yang sudah dipesankan oleh Kazuha dan bersiap masuk venue. Agak dramatis, tapi di titik ini ia sudah berpasrah kalau kalah war. Dalam pikirannya terngiang-ngiang rentetan chat Kazuha yang kurang lebih berbunyi: 'Artist-nya cuma nyetok nggak sampai 20. Gue gak yakin bisa dapet tapi siapa tahu hoki lah, ya. Dapet gak dapet gue akan begging di depan artist-nya buat cetak lebih banyak lagi atau bikin versi yang mirip.'

Sungho rasa ia akan menitipkan pesan tersebut pada si artist jika memang hal itu terjadi. Sebagai juru bicara andalan 'Sunday Cafe Hopperz', ia akan berusaha sebaik mungkin.

Usai menghabiskan lima menit mengantre masuk (untungnya tidak seberapa ramai) dan lima menit berikutnya berkeliling mengamati nomor booth, Sungho akhirnya menemukan lokasi yang ia cari. Ia menggunakan pengalaman mencari barang di art market sebelumnya dan memaksimalkan kemampuan scanning. Matanya kemudian mendapati satu keychain bebentuk otter lucu yang menggantung santai di display grid paling depan. Ada tulisan kecil 'Last Stock' di samping yang membuat Sungho terkesiap. Dengan panik ia menunjuk-nunjuk keychain otter dan memanggil penjaga booth yang sedang bercakap-cakap dengan pembeli lainnya.

"Halo Kak, mau ambil satu—"

"—Eh gue nambah keychain yang itu satu, dong."

"...."

"...."

Sungho tidak melanjutkan kalimatnya dan memandang pemuda yang berdiri di sampingnya dengan ekspresi bingung. Sepertinya pemuda itu juga merasakan hal yang sama, karena—hei, bisa-bisanya mereka menginginkan stok terakhir merchandise di waktu yang bersamaan? Seperti plot komik sekali, kurang adegan tangan bersentuhan  saja.

Di jeda hening selama beberapa saat, Sungho memperhatikan pemuda yang sekarang berdiri tepat di hadapannya ini punya style lumayan garang. Ia pernah melihat style yang mirip-mirip di music video grup K-pop bertema hip-hop : jaket denim gelap, aksesori rantai menjulur di leher dan di samping ripped jeans, tindik berjajar di telinga, dan rambut hitam yang disisipi highlight abu-abu terang. Bukannya mau menghakimi penampilan — he looks amazing, by the way, tapi Sungho sudah bersiap mengibarkan bendera kalah saing (baca: ia tidak mau berdebat panjang dengan orang asing).

"Hello." Di luar dugaan, si pemuda stylish mengawali percakapan dan berusaha sesopan mungkin menyapa Sungho. "Kamu ... juga mau keychain Chan?"

Sungho mengangguk pelan. "Titipan temen aku sih," lanjutnya sambil meneguk ludah. Chan itu maksudnya nama aslinya Dino, kan? Si Mas-mas yang katanya mirip otter itu.

"Kalau gitu—"

"Oh, buat kamu aja, Kak. Orang ini bisa order personal ke kita kapan aja." Belum selesai si pemuda stylish berbicara, penjaga booth yang dari tadi mengamati canggungnya mereka langsung memotong dan mengambil stok keychain untuk diserahkan ke tangan Sungho. Ia tahu Sungho sekarang punya banyak pertanyaan, jadi ia menjelaskan secara singkat kalau si pemuda stylish ini adalah salah satu kenalannya. Tak perlu merasa bersalah apalagi berpikir sudah merebut barang orang, toh si pemuda — yang berikutnya dipanggil sebagai 'Jae' itu sudah banyak membeli merchandise dalam rangka melariskan dagangan kawan-kawannya.

"Gue juga mau bilang yang sama, tau."

"Lo kurang sat-set." Si kakak penjaga booth memukul pelan lengan 'Jae', dan berbalik untuk melemparkan senyum pada Sungho.

"It's yours, then. Ada yang mau dibeli lagi? Boleh dilihat-lihat dulu. Ini semua yang gambar temen aku, sih, sayangnya dia masih di jalan."

Oh. Bicara soal jalan, Sungho langsung teringat sesuatu.

"Temenku yang ngefans berat sama gambarnya nanti juga menyusul ke sini. She really loves Dino dan from what i heard, artist-nya juga fans Dino dari lama. Semoga nanti mereka bisa ketemu dan ngobrol."

Mereka saling bertukar senyum dan anggukan sopan setelahnya. Karena Kazuha juga akan datang, ia mengambil dan membayarkan terlebih dahulu barang-barang incaran yang krusial di booth yang sama. Sisanya biarlah Kazuha sendiri yang membelinya. Syukurlah selain keychain tadi, stok barang lainnya masih tergolong aman untuk hari pertama.

Sebelum Sungho meninggalkan booth pertamanya itu dan siap-siap berkeliling santai, tiba-tiba si pemuda stylish — Jae? — yang masih berdiri di depan booth untuk merapikan belanjaannya (ia juga sengaja mengalah dan membiarkan Sungho menyelesaikan transaksi lebih dulu), menggenggam pergelangan tangan Sungho sampai badannya agak tertarik ke belakang. Tidak sakit, tapi tentu saja membuat yang ditarik terkejut sampai membelalakkan mata.

"Sorry," ucap Jae lirih. Ia buru-buru melepas genggaman tangan dan ganti menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal.

"Mau mampir ke booth-ku—uhm, booth temen-temen kuliahku? Sayangnya nggak jual Seventeen, tapi ada merchandise grup K-pop lain ... dan originals! Ada banyak stiker perkucingan dan kodok lucu bulat-bulat. Kalau tertarik, booth-nya di J-03." Jae mungkin sadar ia terdengar seperti orang meracau, tapi ia tidak berhenti memaparkan alasan mengapa Sungho harus berkunjung.

"... Kalau kamu ke sana, nanti aku yang akan jadi guide."

Wow.

Kapan terakhir kali Sungho mendapatkan tatapan seperti itu?

Ia memang cuma pernah resmi berpacaran sekali seumur hidup, dengan orang yang ujung-ujungnya lebih nyaman ia jadikan teman. Tapi, ada masanya ia rutin mendapatkan tatapan penuh bintang dan pesan-pesan yang sarat kekaguman. Sepertinya saat ia baru masuk kuliah dan mengenal banyak tipe manusia? Banyak eksplorasi yang dilakukan oleh mereka yang baru mengintip ke gerbang kedewasaan, termasuk dirinya sendiri. Jadi kalau boleh jujur, ia tidak sepolos itu untuk mengabaikan intensi terselubung di balik penawaran Jae barusan.

Sayangnya, Sungho bukan orang paling ahli urusan hati. Kebetulan saja teman-temannya, termasuk Dongmin, menjadikannya tempat cerita karena ia dianggap objektif untuk menilai segala sesuatu. Mungkin by theory, ia sanggup merumuskan putusan yang ideal, dan memberikan dorongan kecil pada mereka yang berusaha keras meluapkan rasa. Tapi bagi dirinya sendiri? Semuanya masih terasa susah.

Karenanya, Sungho hanya bisa menggumamkan 'okay' dengan senyum datar dan muka yang dibuat senetral mungkin, saking tidak maunya mengimplikasikan harapan maupun penolakan.

 

(But oh boy, he was wrong.)

Seperti rencana hari ini yang sudah dipikirkan matang-matang tapi berakhir tak sesuai bayangan, ia pun mengira akan lupa dengan tatapan yang diberikan seorang pemuda asing padanya di akhir sesi belanja. Ayolah, bukan sekali ini juga ia hawa-hawanya ditaksir oleh orang yang baru bertatap muka dengannya dalam waktu kurang dari sejam. Harusnya ia bisa fokus memikirkan hal-hal lain setelah dua-tiga kali mengelilingi jajaran booth, menemukan banyak trinkets menarik untuk dirinya sendiri (dan Dongmin), lalu akhirnya bertemu dengan Kazuha — yang datang dengan muka lelah karena pertama kalinya datang ke art market sejauh ini.

Tapi tiap beberapa menit sekali, kepalanya kembali memutar adegan pergelangan tangannya yang ditarik ke belakang, dan tatapan mendalam yang hanya ditujukan untuknya. Sungho sepertinya kurang tidur atau agak gila karena terlalu banyak lari sebelum makan pagi.

Beberapa kali Kazuha menegur Sungho karena ia hampir menabrak orang di jalan dan tercenung di area strategis tempat pembeli berlalu-lalang. Sampai di titik di mana Sungho menampar pipinya sendiri karena mulai membayangkan bagaimana rasanya berpacaran dengan orang super stylish yang soft spoken dan menatapnya seperti anak anjing—

Wait a minute.

"Hah???"

"Lo kenapa lagi...? Kayaknya beneran efek belum makan, deh. Abis ini kita keluar venue nyari makan dulu lah," usul Kazuha sambil refleks menyentuh dahi Sungho, khawatir kepala kawannya itu sudah mendidih.

Sungho rasa yang mendidih adalah ulu hatinya, bukan kepalanya. Tapi seharusnya ini efek asam lambung naik, bukan karena syok berat dirinya dirinya tiba-tiba menyamakan orang asing dengan anak anjing. Bertahun-tahun ia mempertanyakan mengapa penggemar K-pop suka menyamakan idolanya dengan hewan, ternyata ia sedikit demi sedikit menunjukkan gelagat serupa?

("Nanti kamu bakal paham kok, kalau udah ketemu yang pas.")

Kata-kata mutiara kakaknya di zaman dahulu kala muncul di kepala tanpa permisi, dan Sungho kembali menampar pipinya sendiri.

Semesta makin bercanda saat Sungho mendapati ada sosok familiar yang naik ke atas panggung, tepat ketika ia digeret Kazuha menuju area booth yang paling dekat dengan area khusus penonton. 

Saat mengecek detail art market hari ini di media sosial, Sungho tahu ada beberapa agenda seperti talkshow, kompetisi kecil, juga meet and greet yang diadakan bergantian. Cuma karena merasa topiknya tidak sejalan dengan apa yang biasa ia simak, Sungho tidak ada niatan untuk bergabung. Namun kenyataannya sekarang, ia mematung di antara para penonton yang mulai riuh karena — hah, sejak kapan yang jadi MC adalah Si Jae-Jae tadi??? Ia yakin di sesi sebelumnya MC-nya adalah gadis berambut panjang dengan bando kucing. Apakah konsepnya memang berganti-ganti MC tiap sesi?

Sungho tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya. Jadilah selama lima menit pertama, ia mengamati dengan seksama bagaimana Jae menyambut para penonton dan berusaha mengajak semua kalangan berinteraksi senatural mungkin. He's quite pro, ditambah dengan senyuman yang tak pernah lepas dari wajahnya. Impresi pemuda garang ala rapper K-pop perlahan luntur, tergantikan dengan imej MC ramah yang membuat penonton tertawa lepas karena candaannya.

Masih banyak tanda tanya di dalam kepala Sungho, tapi melihat penampilan Jae barusan, ia mencoba untuk berpikir seobjektif mungkin. Kalau dibandingkan dengan beberapa orang (terutama lelaki) yang pernah mendekatinya, apa yang Jae lakukan lebih bisa ditolerir. Ia tidak menggoda Sungho dengan berlebihan, atau memaksanya membagi nomor handphone. He’s simply recommending his booth, and hoping for the best. Sebagai orang yang terbiasa vibe check, Sungho tidak mendeteksi ada yang aneh pada pemuda tersebut. 

Selama beberapa detik, Sungho menutup matanya seolah sedang melakukan meditasi di tengah kerumunan. Kesimpulan paling rasional yang bisa ia dapatkan saat ini adalah:

Should he give it a try?

Setidaknya dengan tujuan menjalin pertemanan atau menambah koneksi baru. Dari sudut pandangnya, this Jae person memiliki public speaking yang bagus. Ia juga terlihat punya banyak kenalan di art community yang ia pikir akan terus berkembang ke depannya. Orang seperti Jae tidak mungkin ditunjuk menjadi MC di acara besar sembarangan, atau tanpa rekomendasi sama sekali. Siapa yang tahu, ada satu-dua hal yang bisa ia pelajari dengan mengenal Jae lebih jauh. Dan sebaliknya, Jae bisa mendengarkan 1 hari 1 fakta darinya yang punya berbagai macam minat. 

"Hei! Jadi makan, nggak?" tanya Kazuha, melambai-lambaikan tangan di depan muka Sungho usai mengunjungi salah satu booth. Sungho pasti dikira sedang tidak fokus, padahal ia sedang serius menimbang-nimbang agar tidak bertindak sembarangan.

"Jadi, kok." Ujar Sungho sebelum melanjutkannya dengan pernyataan yang membuat Kazuha mengerutkan dahi.

"Tapi setelah makan … gue mau balik ke sini lagi, ya. Ada booth yang harus banget gue kunjungi."




(iii)

Namanya Myung Jaehyun. Biasa dipanggil Jae atau Jeje. Ia ternyata seumuran dengan Sungho dan sudah lama bertempat tinggal di Jakarta. Kini ia tercatat sebagai mahasiswa aktif salah satu kampus di kota Bandung, dan mengisi liburan semester genapnya dengan pulang ke rumah dan mencoba berbagai kegiatan, termasuk ikut art market. Kebetulan banyak seniornya (yang sudah lulus) jadi panitia dan mengajaknya berpartisipasi sebagai MC. Mereka bilang Jaehyun dari dulu sering diminta jadi MC di acara jurusan atau acara yang skalanya sekampus, karenanya tak ada protes ketika namanya direkomendasikan sebagai salah satu pemimpin sesi. Ia juga senang-senang saja menambah pengalaman sekaligus kenalan baru.

Kalau ada orang yang bisa beda jauh imej depan publik dan personalnya, Jaehyun tidak masuk kategori. Luar dan dalam Jaehyun benar-benar definisi sempurna pemuda ekstrover. Ia mengekspresikan apa yang ada dalam pikirannya dengan baik, very cheerful, dan mudah membuat nyaman lawan bicara.

Cuma Jaehyun ini ... ternyata punya tendensi suka menggoda. Walau ia bilang hanya melakukannya pada teman-teman yang ia anggap santai dan tidak menyembunyikan rasa sebal di belakang punggungnya. Ia juga bilang tidak akan menggoda orang sembarangan, apalagi yang baru ia kenal. Kesannya sok akrab dan tidak sopan sekali.

 

"But he teases you a lot already? dan kalian kenalan kayaknya baru dua mingguan."

Sungho tidak bisa menyembunyikan rasa malu meski sudah menutupi mukanya dengan buku tebal yang sedang ia baca. Ia tidak menyesal menceritakan pengalamannya bertemu dengan Jaehyun di art market pada Dongmin. Hanya saja, ia lupa kalau Dongmin ini salah satu orang paling peka dalam hidup Sungho. Plus ia sudah mendengar 9 dari 10 kisah Sungho sejak remaja, jadi sepupunya itu bisa mendeteksi perubahan dalam dirinya dalam waktu yang singkat.

"Ya ... mungkin dia nyaman-nyaman aja ngobrol sama gue?"

"Nyaman atau demen?" Dongmin terkekeh puas begitu Sungho merespons pertanyaannya barusan dengan erangan frustrasi. Tangannya masih sibuk mengelus Mocha yang menyandarkan tubuhnya di atas pangkuan, sambil lanjut mendengar topik serandom apa yang sudah Sungho dan Jaehyun bicarakan lewat chat maupun tatap virtual.

Benar, mereka memang baru berkenalan selama dua minggu.

Sebelum Sungho pulang dari art market, ia menerima tawaran Jaehyun untuk berkunjung ke booth J-03 dan bertukar kontak (seperti yang ia prediksikan). Saat itu Jaehyun yang sudah menyelesaikan tugasnya sebagai MC, menyambutnya dengan mata berkilauan dan senyum ramah — yang Sungho nilai lebih ramah dari yang ia berikan pada penonton ketika berada di atas panggung.

Lucunya, ia tetap memegang apa yang dikatakannya pada Sungho, yaitu bertindak sebagai guide. Diperkenalkanlah Sungho pada teman-teman kuliah merangkap circle artist yang berjualan bersama Jaehyun, meski Jaehyun menolak disebut artist dan bersikeras menjuluki dirinya sebagai penglaris. Tidak salah, sih. Jobdesc utama Jaehyun adalah berdiri di depan booth sambil menarik perhatian calon pembeli. 

Yang Sungho sadari, teman-teman kuliah Jaehyun sekilas memiliki level energi yang mirip. Mereka semua sangat antusias dalam mempromosikan barang dagangan mereka masing-masing. Walau entah kenapa, sesi promosi barang itu dilanjut dengan sesi mempromosikan Jaehyun — as a person, meskipun tidak ada yang bertanya.

'Temen kita ini nih udah cakep, humoris, dijamin gak akan bosen ngobrol sama beliau sampe berjam-jam.'

'Betul, pinter lagi. Meski penampilannya begini, Jaehyun pernah short-term exchange ke US lho.'

'Maksud penampilannya begini tuh apa, oi!'

Mereka jadi saling menyahuti dan berakhir dissing satu sama lain, melupakan tujuan awal untuk promosi. Saat itu Sungho sungguhan terhibur dan hampir terjatuh saking gelinya mendengar rentetan banter tak terduga. Ia tidak tahu apakah mereka memang sengaja melakukan ini agar Sungho mau berlama-lama di depan booth atau kebetulan, yang jelas Sungho sudah 100% yakin Jaehyun memang tertarik padanya (dan menyeret teman-temannya untuk menjadi tim sukses).

Bagaimana tidak yakin? Sepanjang obrolan itu Jaehyun terus-terusan curi pandang ke arah Sungho. Tiap berbicara langsung pada Sungho, telinganya juga sedikit memerah. Belum lagi ketika Sungho mengulurkan tangan untuk berkenalan, telapak tangannya terasa dingin seperti dapat kejutan handshake dengan idola. 

Kalau boleh jujur, di situlah titik Sungho berserah diri. Jaehyun is cute, and he is definitely weak for a cute person. He doesn't mind mengenal Jaehyun lebih jauh, dan berjanji dalam hati akan mengirim pesan ke nomornya lebih dahulu.

 

Fast forward ke detik ini, Sungho belum menyesali keputusannya. Selalu ada hal baru yang ia ketahui ketika berbincang bersama Jaehyun, mulai dari topik yang serius seperti mengkritisi kebijakan baru pemerintah — sampai yang nyeleneh (sebuah perwujudan meme 'weird knowledge increased '). Ia senang bisa membangun relasi dengan intensi spesifik lagi, meski prosesnya bisa dibilang lumayan kilat. Sungho tidak punya wish untuk punya pacar di tahun terakhirnya kuliah, omong-omong. Tapi kalau ternyata takdir merestuinya punya gandengan wisuda, ia tidak akan menolak.

"Gue sejujurnya pengen take it slow, tapi kayaknya dia gak bakat buat itu."

"Kadung kecintaan banget gak tuh sama sepupu gue." Dongmin menanggapi dengan bibir monyong dan mata tertutup, memperagakan pose siap cium. Sungho pun mendorong mukanya dengan kesal.

Kalau Sungho punya cermin yang bisa memantulkan bayangan masa lampau, ia akan putar episode 3 bulan lalu di mana posisinya dan Dongmin sekarang terbalik. Ia menggoda adik sepupunya habis-habisan karena baru menyadari perasaannya setelah lama akrab dengan seorang adik kelas saat SMA. Sungho sih sudah menebak Dongmin naksir diam-diam, tapi terus denial dengan alasan tidak mau membuat hubungan pertemanan jadi canggung. Dih, ujungnya galau berat dia karena sempat dijauhi berminggu-minggu. Memang butuh berantem hebat sebelum akhirnya mereka bisa terbuka dengan perasaan masing-masing. Sungho dulu berkomentar kalau ia menonton kisah percintaan Dongmin seperti sinetron remaja. Tahunya di masa depan, ia menyusul jadi aktor utama.

Bedanya, ia dan Jaehyun (syukurnya) tak perlu saling melempar kode yang berbelit-belit. Mereka tahu apa yang mereka lakukan dengan sangat baik, dan Sungho harus berterima kasih pada Jaehyun karena ialah faktor yang membuat proses mengenal satu sama lain menjadi lebih mudah. Sesimpel saat Jaehyun mengirimkan pap muka segar seperti habis mandi, ia selalu membubuhkan catatan agar Sungho memujinya (dan memberinya pap balik). Atau saat menyisipkan pertanyaan "hari ini ngapain aja?" tiap Sungho merasa ragu berbagi cerita atau fakta baru. Begitu tahu Sungho suka cafe hopping, Jaehyun juga inisiatif mengajaknya menandai tempat-tempat menarik yang bisa mereka datangi untuk berbincang empat mata — memanfaatkan waktu selagi keduanya masih sama-sama di Jakarta.

"Btw Kak, masih minat voucher kafe di Blok M, nggak?" tanya Dongmin, lanjut dengan membuka handphone dan mencari akun Instagram kafe yang dimaksud. Ia mempertontonkan reels berisi ulasan menu andalan dan interiornya yang nyaman. 

"Bukan tipe kafe yang akan bikin lo antre selama dua jam kok, wkwk. Lumayan lah buat ngobrol lama."

"Oh, gue belom pernah tau kafenya. Menarik, tapi bukannya lo mau ngajakin Dedek ke situ?" Sungho ingat sekali Dongmin sempat menawarinya double date di kafe tersebut saat ia belum ada partner buat diajak kencan. 

"Alah, dia diajakin nonton bisbol di GBK sambil makan Popmie juga seneng." Dongmin tersenyum simpul, lalu mengarahkan pandangannya ke arah Mocha. "Bisa juga gue undang ke rumah. Dia kan naksir berat sama Mocha, biar puas-puasin main dan ngajak Mocha jalan-jalan."

"Tau gak sih, Kak. Dia tuh acts like a puppy sometimes, apalagi kalau sedang ngintilin aku di belakang. Kalo barengan sama Mocha jadi duo puppy — walau technically Mocha udah bukan puppy lagi, hehe."

Sungho hampir tersedak mendengar pernyataan Dongmin barusan. Inilah mengapa ia tidak mau agenda kencan bersama terlaksana. Ia tidak mau (jokingly) mual melihat perubahan drastis di depan mata. Siapa sangka akan ada hari di mana Dongmin mendeskripsikan seseorang selembut itu? He's totally smitten. Sial, apakah ia juga terdengar menggelikan saat mendeskripsikan Jaehyun? Semoga saja tidak.

Selain dari itu, ia tidak salah tangkap sepupunya menyebut pacarnya seperti puppy kan?

"Dongmin, this might sounds stupid," Sungho menelan ludah, ia akan kepikiran sampai susah tidur kalau tidak bertanya saat ini juga. "How do you know if someone looks — or acts like a puppy? "

Tentu saja Dongmin tergelak, menatap Sungho seolah-olah ia adalah boomer yang baru pertama kali mendengar istilah Gen Z. Mohon maaf, Sungho bukannya tidak tahu ada sebutan cat or dog person. It's a familiar relationship trope yang bisa ditemukan di bacaan maupun tontonan. Namun sekali lagi, kadang ada hal-hal yang ia pahami secara teori namun sulit untuk dipraktikkan atau dibicarakan secara kasual.

"It's something you will understand kalau ketemu orang yang pas sih, Kak."

"Sumpah, Kak Seonghwa pernah ngomong hal yang persis kayak lo barusan." Sungho langsung memegangi kepalanya, sok-sok merasa pusing.

"Emang kaya gitu. Lo ga punya kenalan dog person kah? Yang kelakuannya kek Mocha lah paling gampang, suka nempel-nempel dan lari ngeliatin lo dengan mata berbinar-binar?" Seolah bisa memahami percakapan kedua manusia di dekatnya, Mocha yang kini berada di samping Dongmin mendongakkan kepala dan berseru, 'guk! guk! '

"Kagak ada…." Atau mungkin sebenarnya ada, cuma Sungho tidak mau pusing-pusing memikirkan satu per satu orang yang pernah ia kenal baik dalam hidup. Lagipula, bukannya terlalu bagus menyamakan orang lain dengan his beloved Mocha? Mocha is the sweetest dog yang selalu menyambutnya dengan sumringah. Yang suka perlahan menghampirinya saat sedang banyak pikiran untuk memberikan cuddle dan jilatan penuh sayang.

Tiba-tiba muncul interupsi di kepala Sungho, memaksanya mereka ulang bayang-bayang seseorang yang menatap ke arahnya dengan penuh harapan. Seseorang yang akhir-akhir ini menjadi alasannya tersenyum dan semangat bangun pagi—

Uhm.

... Jaehyun?




(iv)

Sungho sedang duduk santai di rerumputan sambil menjilat sendok gelato saat Jaehyun merapatkan jarak di antara mereka dan bertanya pelan,

"I'm sorry if this is too sudden, but are you okay with ... skinship?"

Sendok gelato Sungho hampir terjatuh. Mendadak wajahnya terasa panas dan pikirannya lari kemana-mana, tapi dengan cepat ia kuasai diri dan berusaha tidak terdengar bergetar saat menjawab Jaehyun. Skinship bukan berarti ajakan untuk berciuman, kan? Ini pertemuan pertama mereka sejak bertukar nomor di art market, Sungho tidak sanggup kalau diajak menjalani tempo lebih cepat lagi.

"Honestly, I'm not too fond of that." Sungho menggaruk pipinya. Ia tidak biasa menceritakan preferensi sendiri dalam mengungkapkan afeksi pada orang lain. Tapi karena ini Jaehyun, ia rasa ia bisa mengungkapkannya pelan-pelan. "Orang-orang terdekatku bukan yang ... you know, touchy and all. Palingan kita saling peluk atau menepuk pundak satu sama lain kalau ada special occasions."

Sungho ingat sekali betapa canggungnya ia tiap berpelukan dengan Dongmin, misalnya sesudah berkonflik dan saling tidak bicara selama seminggu. Ia dan kakaknya juga bukan sepasang saudara paling lengket yang ada di jajaran keluarga besar, apalagi sejak kakaknya kuliah dan lanjut kerja di luar negeri. Paling-paling ia diberi usapan kepala dan tepukan pundak tiap mereka bertemu. Belum lagi orang tua Sungho yang sering dinas ke berbagai daerah dan membuatnya terbiasa mandiri sejak kecil. Ia dibesarkan dengan afeksi yang tumbuh dari mutual respect dan understanding, jadi ia lebih terbiasa dengan afirmasi positif dibanding dengan sentuhan fisik. Walau tentu saja, lain ceritanya bila berhadapan dengan orang spesial.

"Tapi kalau kamu mau gandengan tangan gapapa, kok." Sungho mengangkat telapak tangannya yang tidak sedang memegang cup gelato di hadapan Jaehyun, secara tidak langsung mengizinkan Jaehyun untuk memegang tangannya — jika ia ingin, saat ini juga.

Bukannya menyambut dengan pegangan tangan normal, Jaehyun malah meletakkan satu genggaman tangannya di atas telapak tangan Sungho, lalu memiringkan kepalanya dengan senyum super lucu. "...Guk guk?"

"Apaan sih, haha." Sungho tertawa geli melihat tingkah pemuda di hadapannya itu.

Selama sebulanan mereka saling mengenal, segala sesuatu tentang Jaehyun selalu Sungho anggap tidak terduga. Seperti saat menentukan tempat mana yang ingin mereka kunjungi untuk mewujudkan quality time empat mata. Semua nama tempat yang Sungho temukan di media sosial dan tersimpan dalam list Google Maps personal, sudah disebutkan dan ditandai kandidat terkuatnya. Salah satunya adalah kafe rekomendasi Dongmin. Ternyata Jaehyun malah memilih ide duduk-duduk di taman dan nyemil jajanan pinggir jalan.

Saat ditanya alasannya, Sungho pikir Jaehyun ingin duduk merasakan angin sepoi-sepoi dan menghindari makanan overprice ibukota. Ternyata ia bilang ingin cari ruang terbuka yang paling enak buat baca buku. Sungho yang saat itu mendengar jawaban Jaehyun lewat voice call langsung tertegun. Ia tidak menyangka Jaehyun ingat curhatan remehnya beberapa hari lalu soal ketinggalan ikut sesi silent reading, saking sibuknya bantu acara keluarga. Padahal ia bisa saja ikut sesi berikutnya atau melipir sendiri ke perpustakaan, tapi Jaehyun dengan sukarela menawarkan diri jadi partner-nya membaca. Walau mungkin ia cuma membawa koleksi komik shonen dari rumah dan tidak janji bisa benar-benar silent.

Selama ini Sungho merasa dirinya adalah tipe yang lebih banyak memperhatikan orang lain. Jadi mendapatkan perhatian balik dari orang yang (semoga) akan menemani hari-harinya di masa depan tentu membuatnya sangat senang. Ia mengiyakan tawaran Jaehyun dan di sinilah mereka sekarang, duduk berdempetan, lumayan jauh dari gelaran karpet piknik pengunjung lain dan individu yang berlalu lalang.

"Sebenernya aku nggak lagi ngajakin gandengan—ya itu aku juga mau sih, nanti pas jalan. Tapi maksud aku skinship adalah … I kinda want to lean on your shoulder, ” ucap Jaehyun begitu mata mereka bertemu.

Dari jarak sedekat ini, Sungho bisa jelas melihat semburat merah di pipi bulat Jaehyun. Everything about him is so sweet, everything about him is so endearing. Ingin Sungho berteriak sambil membawa toa agar seluruh warga tahu efek Jaehyun terhadapnya. Tapi Sungho masih cukup waras untuk tidak memancing keributan dan merespons dengan dehem pelan.

"B-boleh kok silakan."

"You sure?"

"Cepetan sebelum aku berubah pikiran."

Dalam hitungan detik, Jaehyun menjatuhkan kepalanya ke pundak Sungho dan melingkarkan kedua tangannya ke pinggang. Ia tidak bilang apa-apa soal memeluk dari samping, tapi Sungho tak mau ambil pusing. Ke depannya mungkin segala sesuatu tentang Jaehyun akan jadi satu dari sedikit pengecualian dalam hidupnya.

"You smell so good, by the way." Hidung Jaehyun menempel sedikit ke leher Sungho dan membuatnya geli. Spontan ia memukul lengan Jaehyun dengan cukup kencang, sampai Jaehyun mengangkat kepalanya kaget. "Sorry sorry, aku keinget pas pertama kali ketemu kamu — kamu juga wangi banget. Pakai perfume apa?"

Dasar cowok friendly, ada aja basa-basinya.

Di sesi sharing malam hari (yang Dongmin suka sebut sebagai sleep call), Jaehyun sempat cerita kalau ia sering membuat orang lain salah paham karena dianggap terlalu baik dan ramah. Belum lagi kecenderungannya suka menyebarkan afeksi dengan sentuhan. Ia tidak bisa pakai kartu anak bungsu karena Sungho pun anak bungsu? Paling bedanya Jaehyun dibesarkan dengan ekspresi sayang yang melimpah, jadinya ia ugal-ugalan kalau berhadapan dengan orang yang ia suka.

Tiap Jaehyun sengaja, atau keceplosan menyebut 'orang yang ia suka', Sungho menahan diri tidak bertanya lebih jauh. Apalagi bertanya soal apa yang membuat Jaehyun tertarik padanya di pandangan pertama (karena itu terdengar seperti pancingan untuk confess). Katakanlah ia kaku, Sungho ingin proses mereka berjalan senatural mungkin. Ia butuh waktu juga untuk mempelajari berbagai sisi Jaehyun; bahkan sisi yang akan mendorongnya menimbang-nimbang lagi keputusan berkenalan. Walau sejauh ini, Jaehyun masih considerate dan belum pernah membuat Sungho merasa tidak nyaman.

"Jae, abis ini mulai baca, yuk." Ajak Sungho setelah beberapa menit mereka diam di posisi yang sama.

"Boleh. Nanti ceritain ya kamu baca soal apa, nanti aku ceritain balik isi komik ini," ujar Jaehyun sambil menunjuk-nunjuk cover komik yang tergeletak di atas sling bag-nya.

"Tapi sebelum itu, aku boleh kepo gak sih?"

"Kepo soal apa?" Sungho menaikkan sebelah alisnya.

"Hmm knowing you for a while, kamu tuh punya banyak banget interest, ya. Suka bola iya, suka dengerin musik iya, baca buku iya, jalan-jalan ke kafe dan liat pameran juga iya. Tiap kita ngobrol tuh aku merasa seperti protagonis game yang unlock lore baru."

"Same goes to you, Jae." Karena memang itulah esensi proses saling mengenal? berteman dekat bertahun-tahun saja bisa jadi ada sisi yang belum diketahui atau sengaja disembunyikan, apalagi yang baru-baru ini intens berkomunikasi.

"Bener, sih! Cuma aku ... iri dikit. Aku kayaknya pernah cerita kalau gampang bosen sama sesuatu? Nonton series gak pernah bisa sampai tamat, disuruh melihara cupang sama temenku ujungnya aku kasih juga ke orang, bahkan ini—" Jaehyun mengarahkan telunjuknya ke rambut wavy dengan highlight abu-abu ikoniknya. "Gak tau deh bakal bertahan sampai kapan, sebelum masuk kuliah lagi kayaknya bakal aku jadiin item semua dan potong undercut."

"Wajar nggak sih, namanya juga eksplorasi? Aku juga bukannya ngelakuin semua dengan teratur. Kebetulan aja kalau liburan pengen ngelakuin macem-macem sekaligus." Sungho tersenyum tipis, mencoba memvalidasi apa yang dirasakan Jaehyun.

"Lagian kamu tuh sekalinya serius pursue sesuatu bakal bener-bener diusahain sampai dapet, kan? Kalau nggak, kamu gak mungkin sampai ke Chicago," lanjut Sungho, ingin tahu ekspresi apa yang ditampakkan Jaehyun, tapi yang bersangkutan masih betah bersandar di pundaknya. Ia juga ingin bilang kalau Jaehyun tidak perlu iri, he's already amazing in his own way.

"Yeah ..."

Akhirnya setelah beberapa saat, Jaehyun kembali ke posisi duduk awal. Namun matanya tak lepas dari Sungho, sampai yang ditatap merasa sedikit grogi. Jaehyun seharian ini lebih banyak menatapnya dengan berbinar-binar, jadi sekalinya memberikan tatapan intens, dada Sungho berdebar-debar tidak karuan. Rasanya makin mau meledak ketika Jaehyun berucap singkat,

"Sama kayak pursuing kamu."

 

Apakah Sungho sudah pernah cerita kalau ia jelek banget saat salting? 

Ia akan jadi terbata-bata saat menyampaikan sesuatu, atau mengedipkan matanya berkali-kali seperti mainan anak kecil — which is quite normal. Versi tidak normalnya? Ia akan balik menantang. Meski dengan muka yang merah padam dan suara yang sedikit serak. Ia tahu ia tidak akan menang dalam peperangan ini karena God knows how smooth Jaehyun talks. Dia mengeluarkan pujian dan kata-kata manis sudah seperti bernapas. Tapi tidak ada salahnya kan, Sungho sesekali mengeluarkan isi hatinya yang paling dalam?

"Kecintaan banget, nih?"

(Catatan: Sungho terinspirasi ini dari godaan Dongmin, dan ya, ia tak sabar ingin menampar dirinya sendiri.)

Jaehyun tak bisa menyembunyikan senyumnya. Ia kembali mendekat pada Sungho — terlalu dekat, sampai Sungho berpasrah kalau-kalau Jaehyun memilih menciumnya di depan publik.

"Iya lah, salah siapa udah nyuri hatiku sejak pandangan pertama?"

Eh, tolong? 119???

Memang Sungho se-powerful itu kah saat mendatangi art market bulan lalu? Ia cuma ingat memakai kaos putih dan celana hitam seperti yang biasa ia kenakan saat jalan-jalan bersama teman-temannya. Ia saja tak sempat styling rambut, kalau Sungho tak memakai topi di hari itu pasti rambutnya sudah acak-acakan terkena angin dan debu saat berlarian mengejar waktu. Satu-satunya fashion item yang beda dari biasanya cuma kalung dan gelang silver yang ia kenakan dengan terburu-buru. Tidak ada yang spesial. Masa ada pelet di badannya? 

Sebelum Sungho membalas pernyataan menggelikan (tapi otw membuatnya pingsan) barusan, Jaehyun tiba-tiba menunjuk ke kakinya yang terlipat dengan bibir yang sedikit mengerucut. Ia tidak mengucapkan sepatah kata apapun, tapi mengambil garis dari apa yang terjadi sebelumnya, Sungho memahami itu sebagai pertanyaan apakah ia boleh menidurkan kepalanya ke pangkuan.

Sungho menghela napas. "Kalau mau tiduran di situ juga boleh ... lima menit aja, tapi."

Merasa sudah mendapatkan izin meski sebentar, Jaehyun memposisikan kepalanya di atas paha Sungho dan menutup matanya dengan senyum tanda kemenangan. 

"Nego satu jam bisa gak, Kak?"

"Ini gelato yang udah cair bisa aku jadiin topping mukamu."

“Eh jangan dong….”

Sungho sebenarnya tidak keberatan Jaehyun tiduran di situ agak lama, cuma (1) ia gampang kesemutan, bisa-bisa ia mendadak mengubah posisi kaki dan membuat Jaehyun terguling. Lalu (2) bukannya mereka mau memulai sesi membaca sebentar lagi? Kenapa malah santai-santai ala sepasang kekasih begini.

Entah dapat bisikan dari mana, Sungho memilih menoel-noel pipi Jaehyun dengan jari telunjuknya sembari mengomel. "Je, kamu milih ruang terbuka begini biar bisa tiduran di pangkuanku dan bukan buat baca bareng kan? Tolong jawab sejujur-jujurnya."

Jaehyun membuka sebelah matanya dan meringis. "Kalau bisa ngelakuin dua-duanya kenapa enggak? I can read just fine in this position," ujarnya sambil menjulurkan tangan untuk meraih komik dan memposisikan komik tersebut tepat di atas dada.

Lagi-lagi aksi tak tertebak dari Jaehyun membuat Sungho speechless. Ia memilih untuk mengalah dan mengambil satu dari dua tumpukan buku yang sedari tadi bertengger di sampingnya. Lima menit harusnya tidak lama, ia akan coba lanjut baca beberapa halaman sebelum menepuk Jaehyun untuk kembali ke posisi yang lebih nyaman. Sayangnya, Sungho benar-benar tidak bisa fokus. Ia berulang kali membaca paragraf yang sama dan kesulitan memahami inti. Please, bagaimana ia bisa fokus sementara sebelah tangannya menempel pada helai rambut Jaehyun yang fluffy?

Ia benci mengakui ini, tapi semenjak percakapannya dengan Dongmin soal dog person, Sungho jadi suka menyama-nyamakan kelakuan Jaehyun dengan Mocha. Sebut saja ia manusia yang kecipratan ludah sendiri, tapi Jaehyun memang ... sangat puppy?

Cara dia memandang Sungho dengan mata berbinar dan menyapanya dengan senyum ceria sudah persis seperti Mocha yang menyambutnya ketika membuka pagar rumah keluarga Han. Lalu lihat saja kelakuannya hari ini: menyambut uluran tangan dengan antusias, sampai sengaja menggonggong imut dan mulai menunjukkan bibit-bibit clingy. Sungho belum mau membayangkan seberapa dekat mereka saat sudah resmi nanti. Ia akan renungkan konsekuensinya lain waktu. Yang pasti, di detik ini tangannya benar-benar gatal ingin mengelus rambut Jaehyun sekaligus mengacak-acaknya gemas; sebagaimana ia mengacak-acak gemas bulu Mocha di pangkuannya.

Di penghujung menit kelima, Sungho akhirnya mengibarkan bendera putih. Tangannya membelai lembut poni Jaehyun bersamaan dengan momen pemuda itu tertawa lepas melihat adegan slapstick di komik sampai pundaknya bergetar. Batin Sungho sebenarnya sedang berteriak, 'Tolong jangan komentar apa-apa.’ Thankfully, Jaehyun sepertinya tidak menyadari pergerakan tangan Sungho dan sibuk membalik halaman komik—

"You can kiss my forehead, if you want," gumam Jaehyun pelan, tanpa mengalihkan pandangannya ke komik yang sekarang berisi adegan berkelahi. Pas sekali dengan kondisi hati Sungho yang berasa jadi samsak tinju. Sekali kena hantam, ia terancam akan terkapar tak berdaya. Karenanya ia mundur seratus langkah, mencoba tidak mempertaruhkan akal sehatnya.

"Kapan-kapan, ya." Sungho menanggapi tak kalah pelan. Ia sok-sokan membuang muka, tapi senyumnya tersungging selama beberapa detik.

Akan ada saatnya aku bisa kecup kamu tanpa malu dilihat banyak orang. 




(v) : final. 

Setelah Dongmin (dan pacarnya yang dapat info A1), yang sadar kalau ia sedang dekat dengan seseorang adalah para anggota 'Sunday Cafe Hopperz'. Tentu saja, kurang jelas apa lagi kalau mereka masuk dalam close friend Instagram dan melihat story-nya bersama Jaehyun di taman, di perpustakaan, dan di kafe yang berbeda-beda selama dua minggu terakhir. Mereka (jokingly) menyebutnya pengkhianat karena melakukan cafe hopping dengan orang lain yang belum pernah ia kenalkan secara publik. Tapi di sisi lain juga ikut bahagia karena ia punya seseorang yang disebut calon pacar setelah sekian lama.

Maklum, sepertinya imej Sungho di mata mereka adalah cowok yang gampang terjebak dalam situationship yang berbeda-beda. Memang kalau pernah kejadian sekali-dua kali akan terus dijadikan bulan-bulanan warga.

Jaehyun mereka anggap sebagai eksepsi karena Sungho tidak berusaha menutup-nutupinya (seperti yang sudah-sudah). Saat stalking akun Jaehyun, mereka juga menemukan foto Sungho yang terang-terangan dipajang di dalam highlight dengan cover emoji kucing. Dari sekian cerita dan deskripsi yang dipaparkan Sungho, mereka juga menilai Jaehyun adalah orang yang cukup meyakinkan. Meski begitu, mereka sepakat punya satu kekhawatiran — yang kebetulan sama dengan kekhawatiran Sungho: Jika liburan usai dan mereka kembali ke aktivitas masing-masing, akankah mereka jadi asing?

Akankah mereka menemukan cinta baru, dan menganggap keberadaan satu sama lain (kalau mengambil istilah di film-film) sebagai a kind of summer fling?

Sebenarnya daripada Jaehyun, Sungho-lah yang terkesan mengulur-ngulur waktu. Ia hanya ingin memberi jeda agar Jaehyun merenungi perasaannya sendiri. Konon katanya kalau terlalu menggebu-gebu di awal, bakal bosan di belakang. Bagaimana kalau ternyata di luar kota Jaehyun menemukan orang yang lebih menarik?

"Siapa bilang? Belah dadaku isinya kamu doang ini. Boro-boro mikirin gebetan lain, yang ada aku sibuk mikirin gimana tugas-tugasku kelar dan gak dibantai sama dosen."

Jaehyun terdengar sedikit kesal saat Sungho secara terbuka menyampaikan apa yang ia rasakan. Mereka selalu melakukan ini ketika tidak bisa meet up — saling menelepon dan menceritakan apapun yang terlintas di pikiran. It's not always a good thing, tapi dari situlah Sungho mengukur sampai mana mereka bisa mentoleransi satu sama lain.

"Tenang, Je." Ucap Sungho sambil mengetik di tab. "It's just what if. I know I can trust you, cuma kalau udah sibuk aku pasti bakal kangen—"

"Oh?"

Ah, sial.

Sungho menggigit bibirnya. Memang benar, jatuh cinta membuatmu makin sering mengatakan hal-hal yang menggelikan.

"Kita baru ketemu kemarin lusa padahal. Kamu udah kangen lagi, kah? "

Kini Sungho menelungkupkan kepalanya di atas meja. Agak menyesal mengapa pembahasan ini dimulai dan mengekspos kelemahan dirinya sendiri.

"Nevermind. Jaehyun, jangan lupa makan malam. Aku mau ngetik dulu mumpung inspirasinya masih di kepala. Besok aku call lagi."

Terdengar protes keras dari ujung sana, tapi Sungho sudah bertekad untuk mengakhiri percakapan hari ini, daripada kebawa mellow dan tak bisa tidur gara-gara memikirkan sesuatu yang tidak pasti. Ia juga tidak bohong soal mengetik alias mencicil proposal — ia mendapat cukup banyak insight sehabis mengajak Jaehyun ke perpustakaan kapan hari.

Sebagai ganti off duluan, ia mengirimkan selca terbarunya bersama Mocha pada Jaehyun. Ada total 5 foto dengan berbagai gaya, dan ia berharap itu bisa membuat Jaehyun senang sampai 5 jam ke depan (bonus memimpikannya saat tidur).

Mudah ditebak, Jaehyun langsung menyampahi kotak pesannya dengan capslock kalimat yang penuh typo, sekumpulan huruf yang tidak bisa terbaca, dan satu paragraf berisi emoji menangis. Lucu sekali, batin Sungho. Cuteness aggression Jaehyun selalu bangkit ketika ia berinteraksi dengan hewan. Terakhir mereka bertemu kucing di sekitar perpus dan Sungho memberinya sebungkus snack, Jaehyun langsung memekik ala lukisan The Scream

Ia baru ingat Jaehyun belum pernah melihat penampakan Mocha. Cuma mendengarnya beberapa kali dari cerita Sungho, dan tahu kalau Sungho menyayanginya seperti peliharaan sendiri. Jaehyun sedang bertanya-tanya apakah minggu depan ia boleh berkunjung ke rumah sepupunya untuk bertemu langsung dengan Mocha (dan Dongmin), saat Sungho mengirimkan baris pesan yang lumayan mencengangkan — terutama bagi dirinya sendiri.

S.

You look just like him btw

Jeje

Maksudnya???

Aku kek anjing gt kah

Pfttt. Sungho tertawa kecil karena ia bisa membayangkan muka Jaehyun yang kebingungan. Sebelum ada yang salah paham dipanggil anjing in a bad way, Sungho inisiatif menulis esai singkat yang mudah-mudahan membuat Jaehyun merasa tersanjung:

You know how much I adore Mocha, Je. He's our little baby yang cutely wagging his tails dan selalu semangat nyambut aku pas kunjungan ke rumah. Being with him rasanya kayak charge energi dan dipuk-puk hangat. I don't mind cuddling with him all day.

Akan lebih cepat mengatakannya via call atau zoom, sesungguhnya. Tapi Sungho terlalu gengsi untuk mengakui dengan mulut sendiri. Ia ingat pernah membatin akan menggetok siapapun yang menyamakan orang lain dengan anjing selucu Mocha. Sepertinya inilah momen yang tepat untuk menggetok diri sendiri.

Satu pesan dari Jaehyun datang dan Sungho mendadak enggan membukanya. Takut saat membacanya ia akan jadi lilin yang meleleh di atas kursi.

Jeje

Am I also your little baby, then? :)

Kan.

Sungho berteriak, saking kencangnya sampai Dongmin yang nonton di ruang tengah menghampirinya sambil geleng-geleng kepala.

"Udah kena pola pikirnya ini mah."





(epilogue.)

Jika ada yang bertanya-tanya apakah Sungho dan Jaehyun sudah meresmikan hubungan mereka di penghujung liburan, jawabannya adalah: no, not yet. Dongmin yang jadi pendengar setia dari hari pertama saja sudah menampakkan muka bosan. Bagi beberapa orang mungkin 2-3 bulan waktu yang cukup untuk mendekati gebetan, apalagi jika mereka berkomunikasi hampir tiap hari. Namun bagi Sungho, yang butuh ekstra diyakinkan, ia perlu dorongan kecil dan momen spesifik yang membuat hatinya siap menerima.

Jaehyun sebetulnya sudah beberapa kali mengisyaratkan "shall we make it official?" dengan variasi kalimat yang berbeda-beda. Harus diakui ia sangat cakap dalam berkata-kata, dan kebetulan Sungho bisa menerjemahkannya dengan mudah — semudah menyayangi seorang Jaehyun. Sungho rasa kalau saatnya sudah tiba, ialah yang akan maju untuk menawarkan tangan. 

Momen itu hampir melesat di permukaan ketika Sungho menangkap satu pemandangan wholesome dan very much cater to his preferences: Jaehyun mengikuti Mocha yang berlarian semangat di depannya sembari merentangkan tangan dan tersenyum lebar.

Sore ini Sungho izin pada Oom Han (dan Dongmin) untuk mengajak Mocha jalan-jalan di pinggir danau kompleks perumahannya, mumpung Jaehyun mampir. Ia memilih kegiatan ini karena sudah menjanjikan Jaehyun bertemu dengan anjing kesayangannya. Juga karena Sungho merasa berdiam di rumah sambil main game sangat tidak menarik. No one at home selain dirinya, as always. Sesudah mengantongi izin, Jaehyun nampak sangat senang dan memeluk Mocha erat. Beruntung Mocha friendly, jadilah mereka klop dalam waktu singkat dan bisa jalan bersama seperti sekarang.

"Oiii kalau kamu gak lari bakal ketinggalan jauh!" Jaehyun berteriak ke arahnya. Ia yang sedang jalan santai di belakang membalas dengan senyuman dan lambaian tangan.

Menyenangkan bila ada yang memikirkanmu untuk hal-hal remeh seperti ini, batin Sungho.

Jaehyun baru beberapa bulan masuk dalam hidupnya, tapi ia bisa merasakan sedikit demi sedikit sisi hidupnya yang berubah. Sesederhana bangun lebih awal karena ia tak mau ketinggalan membalas ucapan selamat pagi Jaehyun yang lebih mirip seperti sapaan bapak-bapak. Kadang ia mengirimkan foto pemandangan atau selca tanpa konteks, seolah Sungho tidak akan langsung terguling dari kasur begitu menerimanya. Dari situ, Sungho jadi ikutan memotret pemandangan di sekitarnya dan mengirimkannya pada Jaehyun (diam-diam ia suka dengan reaksi hebohnya tiap dapat foto). Selain itu, beberapa percakapannya dengan Jaehyun membuatnya sadar kalau selama ini ada saja sisi dirinya yang belum pernah ia eksplor.

Matanya memandang ke arah matahari yang mulai tenggelam di ujung danau. Ia terhenti untuk kembali melamunkan sesuatu, tapi beberapa menit kemudian, ada yang menarik pergelangan tangannya dengan napas sedikit terengah-engah. Sungho jadi deja vu pertemuan pertamanya dengan Jaehyun yang melibatkan tarikan tangan dan tatapan penuh bintang.

Mau tahu satu TMI? Tatapan itu tidak berubah hingga detik ini.

"Lagi mikirin aku, kah?"

Sungho menyeringai tipis. "Iya, mikirin kapan kita pacaran beneran."

"Sekarang aja. Yuk?"

"Beneran kek ngajakin jajan cireng." Sungho menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya.

"Perlu banget aku duduk berlutut sambil bawa bunga dan deklamasi? Yeah bisa sih. Tunggu aku beli dulu—”

Sebelum Jaehyun melanjutkan kata-katanya, Sungho mendekat untuk menyandarkan kepala pada ceruk leher Jaehyun. Ia hampir memeluknya, tapi tertahan tangan kanan Jaehyun yang memegang tali pengikat Mocha.

Mereka terdiam di posisi sama dalam waktu yang cukup lama, mengabaikan satu-dua orang yang berlalu lalang untuk olahraga sore dan Mocha yang duduk setia menunggu mereka di samping sambil sesekali menggonggong penasaran. 

Setelah berkontemplasi, Jaehyun akhirnya meraih punggung Sungho dengan sebelah tangannya dan berbisik, "You okay?"

Sungho mengangkat kepalanya, menatap Jaehyun dengan mata sayu dan helai rambut yang sedikit berantakan. "Aman. Cuma pengen meluk aja."

"I think ... I never initiate a skinship first. Semoga dengan ini kamu nangkep kalau I also have a huge affection for you."

"Uwaw? Kecintaan banget gak tuh."

"Diem dulu, kocak." Sungho menonjok pelan dada Jaehyun, dan yang bersangkutan meresponsnya dengan batuk-batuk dan mengaduh dramatis. Muka Sungho jadi masam, meski sebetulnya ia sedang menahan geli. Bisa-bisanya Jaehyun selalu dapat kesempatan untuk mengembalikan apa yang pernah ia ucapkan.

Sebelum mereka melepas dekapan satu sama lain dan kembali berjalanan beriringan, Jaehyun mengelus kepala Sungho dan berujar pelan, "Kamu tuh beneran kayak kucing, ya."

Mata Sungho langsung terbelalak dan mulutnya membentuk huruf 'o'. Ia jadi mengingat perenungannya soal menyamakan idola K-pop dengan binatang. Kalau ini beberapa bulan lalu, mungkin Sungho bakal menghakimi Jaehyun dan mempertanyakan penilaiannya. Tapi ia sekarang sudah sangat paham mengapa orang lain bisa berpikir demikian.

Mungkin ia dibilang seperti kucing karena takes time dalam membuka hati? Atau mungkin karena selama ini menunjukkan afeksi dengan canggung — walau setelah cukup nyaman, ia bisa melakukannya lebih bebas? Who knows. Sungho tidak akan menanyakan alasannya hari ini; biarkan Jaehyun yang menjelaskan dengan caranya sendiri. 

"Kalau kamu aneh-aneh bisa kucakar, berarti?" kelakar Sungho, sambil memperagakan jemari yang siap mencengkeram.

"Waduh." Jaehyun memanyunkan bibir. Kali ini tangannya iseng menyentuh dagu Sungho dan mengangkatnya sedikit. "Kenapa harus nyakar kalau bisa ndusel lucu kayak tadi, Sayang?"

 

Arrghhh!!!

Sungho beberapa menit lalu bukanlah Sungho yang sekarang. Saat sadar apa yang ia lakukan tadi (re: mengajak pacaran, memeluk Jaehyun di pinggir jalan, menyatakan rasa sayang) sangat impulsif dan memalukan, ia lari meninggalkan Jaehyun dan Mocha tanpa pikir panjang. Ia bahkan tak sempat memproses panggilan ‘Sayang’ yang baru saja diucapkan.

 

"Lah, kok kabur dia." Jaehyun menggaruk kepala bingung. "Sunghooo kenapa lari?!"

Dari kejauhan Sungho samar-samar meneriakkan "Jangan kejar aku!" sambil melambai-lambaikan tangan. Jaehyun langsung berkacak pinggang dan menatap ke arah Mocha penuh arti, seperti berusaha mentransfer apa yang ia pikirkan ke si golden retriever.

"Jangan dikejar, katanya." Jaehyun tertawa kecil.

(Seolah-olah Sungho bukan alasan Jaehyun untuk kembali semangat berlari. Seolah-olah Sungho bukan subjek afeksi yang rela ia kejar sampai terbenam matahari.)



so i’ll run to you (little by little): end.

Notes:

i was super excited to write a fic again (after few years of hiatus) and didn't expect the result to be this long t__t
hopefully you had a nice read until the end!

hmu @3108lt on x/twt if you want to talk about myungnyangz, sungho, or bnd in general with me ^_^