Actions

Work Header

Rasanya seperti seteguk soda pertama

Summary:

Ini bukan pertama kalinya Ryohei melihat Fujiwara Shuu bertanding, tapi akhir-akhir ini rasanya seperti ketika ia minum cola untuk pertama kali: perasaannya begitu meletup-letup

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

“Indah ya.”

Minato yang duduk disebelah Ryohei ikut mengangguk ketika mendengar kata yang keluar dari bibir Ryohei, entah dalam keadaan sadar atau tidak, tetapi pemuda dengan tinggi 182 cm itu bahkan tidak mampu mengalihkan pandangannya dari Fujiwara Shuu yang sedang fokus memanah.

“Aku setuju.” Balas Minato dengan tenang. “Shuu punya postur memanah yang indah.”

Lalu dari arah belakang, Seiya dengan muka masamnya menyahut rendah. “Tapi postur mu lebih indah, aku lebih menyukainya.”

“Ini bukan kompetisi postur kan, jangan ributkan hal tidak berguna.” Kali ini Kaito membalas dengan kasar, namun dengan lirikan posesif yang ia layangkan pada Seiya yang balas membenarkan letak kacamatanya. Nanao yang berdiri di sebelah Kaito terkekeh kecil mendengar perdebatan ketiga temannya, lalu dengan suara pelan ia menyenggol lengan Kaito dan memberi kode kepada mereka bertiga untuk melihat Ryohei yang membuka mulut dan matanya lebar-lebar.

“Dia seperti bocah yang baru pertama kali melihat panahan.” Bisik Seiya.

“Bukankah ini bukan pertama kalinya dia melihat Fujiwara bermain?” Kaito menanggapi. “Tumben sekali dia sefokus itu.”

“Mungkin itu.” Nanao mengering genit ke arah tiga temannya yang langsung memasang ekspresi jijik. “Bisa tidak kalian berhenti menatapku seperti itu?”

“Itu apa?” Minato bertanya.

“Ituloh.” Dengan senyum kecil Nanao melanjutkan perkataannya. “Love at first sight.”

Dengusan sebal Kaito lontarkan atas omong kosong (setidaknya menurut Kaito) yang Nanao katakan, Seiya yang hanya terkekeh kecil dan Minato yang tampak bingung dengan perkataan Nanao. Sedangkan subyek yang dimaksud—maksudnya Ryohei Yamanouchi masih belum bisa mengalihkan pandangannya dari sosok Fujiwara Shuu di depan sana.

Benar kata Kaito bahwa ini bukan pertama kalinya mereka menonton pertandingan Kirisaki dan Fujiwara Shuu bermain, tetapi, baru akhir-akhir ini— atau bahkan semenjak mereka bertukar pesan di hari ia mengembalikan busur panah mahal milik tuan muda Fujiwara itu, membuat cara pandang Ryohei berbeda kepada Shuu. Terutama setelah Shuu secara tersirat memberinya semangat, bahkan malam itu setelah pulang dari kediaman Fujiwara, Ryohei dibuat terjaga semalaman untuk berpikir. Berpikir tentang kemampuannya dalam memanah dan berpikir mengenai waktu singkat yang ia habiskan bersama dengan Shuu dan Sae.

“Yosh!” Suara gemuruh tepuk tangan terdengar setelah Fujiwara berhasil mendaratkan empat busur panah. Dengan ini, Kirisaki akan melanjutkan ke babak selanjutnya.

“Aku ingin memberinya semangat.” Ia bergumam pelan, tetapi Minato yang ada di sebelahnya berhasil menangkap perkataannya.

“Kalau begitu ucapkan saja.” Balas Minato dengan senyum kecil. “Aku yakin Shuu akan senang jika kamu menyelamati nya.”

“Senang ya.” Ryohei mendongak, menatap langit cerah yang menyapa mereka hari ini. Tangannya yang berada di atas paha bergerak naik untuk menyentuh dadanya, tepat di atas jantungnya yang tiba-tiba berdetak kencang ketika ia membayangkan dirinya dengan hakama dan jaket kazemai, berlari untuk menemui Shuu. Lalu mereka berdiri berhadapan dan ia bisa kembali menatap mata teduh Shuu yang menenangkan.

“Maaf, aku mau ke toilet sebentar.”

Belum sempat keempat temannya menjawab, Ryohei sudah berlari terlebih dahulu dengan wajah yang memerah.

✧˖°. — ✧˖°.

Ryohei benar-benar lari ke toilet dengan wajah merah, membiarkan air keran terbuka untuk mengaliri air, dan poni pendeknya basah dibagian ujung. Ia menunduk, tidak berani mengangkat wajahnya dan membiarkan cermin menampilkan bias dirinya. Karena Ryohei tau seberapa konyolnya diri dia sekarang ini. Apa-apaan itu. Jantung berdetak lebih kencang hanya ketika dia membayangkan pertemuannya dengan Fujiwara Shuu, rasanya seperti—

“Seperti gadis remaja yang sedang jatuh cinta.”

“Siapa yang jatuh cinta?”

“AKKH!” Ryohei berbalik, berjengit terkejut, dan menatap horor pada sosok Fujiwara Shuu yang berdiri kebingungan.

“Aku minta maaf karena mengejutkan mu.”

“Tidak! Tidak! Aku yang minta maaf karena berteriak.”

Mengangguk, Fujiwara Shuu berjalan ke wastafel di sebelah Ryohei yang mati kutu. “Jadi, siapa yang sedang jatuh cinta? Ryohei-kun?”

“Ehh!” Meskipun yang pertama kali memanggil dengan nama adalah Shuu (kejadian ini terjadi ketika ia berkunjung ke rumah Fujiwara Shuu beberapa waktu yang lalu, dan sampai sekarang, Ryohei masih suka gugup ketika mendengar Shuu memanggilnya dengan nama belakangnya) “ya, ya, bukan aku. Bukan aku..maksudnya…aku tadi hanya asal berbicara.”

“Begitu? Aku minta maaf karena menguping.”

“Sudah kubilang aku hanya asal berbicara.” Dengan ekspresi seperti anak anjing yang sedih karena tidak jadi di ajak jalan-jalan, Ryohei memasangnya di hadapan Fujiwara Shuu yang tersenyum kecil.

“Kazemai berhasil lanjut ke babak berikutnya, ya.”

“Iya, Kirisaki juga…yah aku tidak terkejut kalau itu kalian, jadi eum, selamat.”

“Terima kasih, aku menunggu untuk melawan kalian lagi.”

Perkataan itu diucapkan dengan nada tegas dan mata yang serius, seolah-olah Fujiwara Shuu bisa saja melawan mereka pada saat ini, di posisi ini, dan di waktu ini. Makanya, melihat pantulan dirinya dari mata teduh Shuu yang berdiri di hadapannya, Ryohei, tidak mampu menahan dirinya untuk maju mendekat, mempersempit jarak diantara mereka, dan membiarkan satu jengkal ruang itu untuk memisahkan mereka. Tinggi mereka tidak jauh berbeda, tetapi Shuu lebih pendek sedikit dari Ryohei. Atau mungkin, Ryohei tidak sadar kalau dia bertambah tinggi.

“Kami nggak akan kalah semudah itu.” dengan nada tenang, Ryohei membalas. “Makanya.” Keberanian itu datang secara tiba-tiba, bersamaan dengan jantungnya yang meletup-letup, tubuhnya yang gugup, tapi matanya yang fokus pada mata lawan bicaranya— Yamanouchi Ryohei meraih tangan Fujiwara Shuu. “Shuu juga jangan menyerah di pertandingan berikutnya, jangan sampai kalah sampai kamu melawan kami. Ya, Shuu-kun.”

Ada keheningan yang menyelimuti mereka, anehnya, keheningan itu terasa menyenangkan. Saking menyenangkannya, Ryohei hampir dibuat pingsan ketika ia merasakan hangat tangan Fujiwara Shuu yang membalas genggamannya.

“Maaf…” Meski meminta maaf dengan wajah merah, Ryohei tidak terlihat ingin melepaskan tangannya dari tangan Fujiwara. Begitu juga dengan Fujiwara yang balas terkekeh.

“Aku juga akan berjuang dengan keras, Ryohei-kun juga ya. Aku menunggu mu dan mungkin menunggu kedatangan mu lagi di rumah ku.”

“Aku akan bawa cola lagi nanti kalau mampir, dan beberapa jajanan lain yang belum pernah kamu coba.”

“Oh, aku tidak sabar untuk menunggu hari itu tiba.”

Satu usapan manis di tangan Fujiwara Shuu yang Ryohei torehkan, menjadi salam terakhir bagi mereka. Setelahnya, Fujiwara yang terlebih dahulu meninggalkan toilet dan Ryohei yang berteriak kesenangan di dalam toilet.

Notes:

Habis nonton ulang tsurune and i can't help myself untuk lari ke notes dan drafting cerita mereka 😭Habis nonton ulang tsurune and i can't help myself untuk lari ke notes dan drafting cerita mereka 😭😭

Ngomong-omong, Terima kasih sudah mampir, membaca, dan meninggalkan kudos atau comment. It's my first work here, i hope you guys enjoy the story ₍ᐢ. .ᐢ₎