Work Text:
Beberapa menit sebelum bel pelajaran masuk di kelas 1-A Hanasakigawa, sudah banyak murid yang duduk di tempat, menunggu pelajaran pertama dimulai. Misumi Uika, salah satu idol papan atas yang lagi naik daun bersama rekannya Sumita Mana yang diberi nama Sumimi, hampir datang terlambat ke kelas. Saat di kelas, matanya menyapu seluruh ruangan untuk mencari dua orang yang sangat ia butuhkan saat ini.
Shiina Taki dan Yahata Umiri.
“Umm…Shiina-san, Yahata-san, apakah kalian ada waktu siang nanti?”
Kedua orang yang awalnya saling melempar sindiran satu sama lain (baca: flirting), menoleh ke sumber suara di sampingnya. “Ada yang ingin kau sampaikan? Kenapa gak disini aja?” tanya Taki.
“Umm…aku ingin bertanya tentang sesuatu, pokoknya aku tunggu kalian di rooftop siang nanti,” katanya dengan wajah yang memerah dan suara yang hanya bisa didengar oleh mereka, kemudian bergegas kembali ke tempat duduknya.
Hal ini mengundang tanya di kepala kedua orang itu, namun mereka tidak sempat berpikir lebih lanjut karena waktu pelajaran pertama telah dimulai.
Jam makan siang, di rooftop yang hanya ada mereka bertiga disana, sembari menyantap bekal mereka, Umiri akhirnya bertanya. “Jadi, hal apa yang mau kau tanyakan Misumi-san? Jangan bilang kau berniat merebut Taki dariku?” katanya melayangkan tatapan tajam.
Uika sontak terkejut dan buru-buru menjawab. “Tidak tidak tidak, aku ingin bertanya dan meminta saran dari kalian bagaimana cara PDKT ke gebetan,” katanya sekali tarikan nafas.
“Oh bilang dong daritadi,” kata Umiri melunak.
“Lagian dia belum bilang apa-apa langsung kau simpulkan, dasar bodoh,” kata Taki sambil memberikan chop ke kepala Umiri.
“Jadi Misumi-san, bisa tolong kamu jelasin dari awal?”
“Umm…jadi aku punya seseorang yang aku suka, tapi aku bingung bagaimana cara mendekatinya, bisakah kalian membantuku?” tanya Uika sambil memainkan kedua jarinya.
“Boleh aku tau siapa orang itu Misumi-san?”
“A-aku gak bisa bilang karena malu, intinya dia bersekolah di Haneoka dan rambutnya panjang,” ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya saking malunya.
Ah…pasti yang dimaksud Togawa-san.
Inimah yang dimaksud Sakiko.
“Ok, kami bersedia bantu,”
“Jadi yang pertama harus kamu lakukan adalah–”
Ok, yakinkan dirimu Misumi Uika, kamu pasti bisa. Pikirnya mempersiapkan mental untuk menemui sang pujaan hati. Beberapa catatan mengenai diskusi kemarin bersama Taki dan Umiri ada di genggamannya dan berjalan menuju Haneoka sepulang sekolah.
Setelah sampai di depan gerbang Haneoka, ia memutuskan untuk melihat sekilas catatannya dan membaca poin pertama: Inisiasi lebih banyak skinship. Meskipun ia tak terbiasa menginisiasi skinship duluan, namun ia ingin berusaha demi gebetannya, meskipun ia sendiri tak mengerti mengapa Umiri mengatakan kalau gebetannya gak terbiasa dengan skinship, soalnya—
“Ah, ada Uika-chan, kenapa kamu kesini? Ohhh mau ketemu Sakiko-chan ya? Mau kupanggilin?”
Suara ceria bak mentari yang masuk ke indra pendengarannya membuat isi kepalanya langsung kosong, melupakan semua rencananya secara instan. Senyum dari gadis berambut pink di depannya membuat dadanya berdebar tak karuan. Ia termenung melihat pemandangan di depannya dengan wajah memerah.
Ya benar, “gebetan” yang dimaksud Uika tak lain dan tak bukan adalah Chihaya Anon.
Tak kunjung dapat jawaban dari Uika membuat Anon sedikit khawatir, ia pun menggoyangkan sedikit bahunya untuk menyadarkan Uika dari lamunannya. “Uika-chan, kamu baik-baik saja?”
“Eh? Ah…kamu tadi bilang apa Anon-chan?” kata Uika sambil mengipasi wajahnya yang masih terasa panas.
“Aku tadi bertanya apakah kamu mau kupanggilkan Sakiko-chan kesini? Tapi yang lebih penting kamu gak papa? Wajahmu terlihat sangat merah,” katanya dengan nada khawatir sambil memeriksa suhu tubuh Uika menggunakan tangan kanannya.
Ugh, bisa gak sih sehari aja gak bikin aku makin jatuh cinta padamu Anon-chan? Pikirnya.
“Aku-aku gak papa, jangan khawatirin aku,” katanya menepis pelan tangan Anon.
“Eh, tapi wajahmu terasa panas, aku khawatir kamu pingsan,”
Aku bisa pingsan beneran kalau kamu begini terus Anon-chan.
Lupakan cara PDKT, bahkan sepertinya Uika tidak bisa melewati poin pertama tanpa takut pingsan di tengah jalan.
Meski masih khawatir, Anon akhirnya mengalah dan kembali menanyakan hal yang sama.
“Aku gak lagi nyariin Saki-chan, tapi aku nyariin kamu. Kamu mau gak nemenin aku ke toko crepe yang baru dibuka di dekat RiNG?” jawab Uika.
“Eh? Yang bener nih bisa nge-date bareng idol Uika-chan? Tentu aku mau dong,” katanya dengan mata berbinar.
“I-ini bukan date Anon-chan, aku juga mau nyoba menu disana, i-itu aja,”
Hebat juga Uika bisa tetap mempertahankan kesadarannya.
“Tunggu apa lagi, ayo kita pergi,” kata Anon kemudian bergegas pergi saking semangatnya.
Uika yang berjalan di belakangnya memantapkan hatinya untuk menggenggam tangan Anon. Ia sedikit mengalihkan pandangannya ke arah lain ketika tangan Anon sudah ada di genggamannya. Namun, karena tak kunjung ada reaksi, dia penasaran dengan apa yang Anon pikirkan dan sedikit mengintip.
Dan ia melihat wajah Anon yang menunduk dan sudah semerah tomat, bahkan sampai ke telinganya.
AHHHHHH KENAPA ADA MAKHLUK SEIMUT INI DI DUNIA AHHHHHH.
Setelah tiba di sana, tangan yang semula terpaut akhirnya terlepas, memberikan kesempatan bagi mereka berdua untuk “menarik nafas” saking tegangnya perjalanan mereka.
Mereka pun duduk di salah satu meja disana tanpa mengucap sepatah katapun. Sembari disibukkan dengan menu yang ada di depannya, Uika diam-diam melihat kembali catatannya.
Poin Kedua: Sebisa mungkin ucapkan ke dia kata-kata yang manis. Kata Taki, gebetannya itu tipe orang yang gampang malu kalau dipuji, yang mana awalnya tak ia pahami. Tapi melihat ekspresi imut Anon ketika malu membuat semuanya masuk akal.
Namun, ada satu hal yang ia sadari, Taki terlihat sangat kenal dengan gebetannya, yang berarti dia pernah melihat sisi Anon yang ini? Hal ini membuat Uika cemburu sampai “topeng” yang selalu dia gunakan langsung runtuh seketika, memperlihatkan wajah muram nya.
Namun, hal itu malah menjadi bumerang baginya, soalnya Anon yang kebetulan melihat ekspresinya itu langsung salah paham. “Kamu sebenarnya gak benar-benar mau sama aku kan?” katanya dengan wajah yang sedih.
“Eh?” kata Uika sedikit tersentak, kemudian segera menyadari masalahnya. “Tidak, tentu saja aku kesini bareng orang imut, terlebih Anon-chan,” katanya dengan panik.
“Aku? Imut?” katanya tanpa sadar, kemudian rona merah kembali hadir di wajahnya untuk yang kedua kalinya. “A-aku…aku ke toilet dulu,”
Melihat Anon yang langsung “kabur” ke toilet membuat Uika mengacak-acak rambutnya setengah kesal, ia berpikir bahwa mungkin Anon mulai ilfeel sama dia. Dia kemudian teringat sesuatu dan langsung melihat catatannya sekali lagi.
Poin terakhir: Tatap dia dengan serius kemudian utarakan perasaanmu sejelas-jelasnya, kalau bisa pegang kedua tangannya. Ini adalah saran dari Taki dan Umiri, Uika berpikir ini cukup ekstrim, tapi jika memang pada akhirnya akan dibenci oleh Anon, setidaknya dia ingin mengutarakan perasaannya meski cuma sekali.
Ketika Anon kembali ke tempat duduknya, ia langsung dipanggil Uika dengan nada yang serius, matanya terlihat bertekad mengatakan sesuatu. Saat Anon berniat “kabur” lagi, tangannya sudah digenggam erat oleh Uika, memaksanya mendengar dan melihat apa yang akan dia katakan.
“Anon-chan, mungkin ini akan terdengar aneh. Tapi, selama ini aku menyukaimu. Menyukai caramu tersenyum. Menyukai caramu bercerita hal yang terdengar tak penting menjadi sangat menarik. Menyukai caramu memperdulikan orang di sekitarmu dengan caramu sendiri. Menyukai segala hal tentang dirimu. Aku pun tak tahu sejak kapan aku memiliki perasaan ini, namun satu hal yang pasti.
“Chihaya Anon, aku menyukaimu. Jika ada setitik saja perasaanmu kepadaku, maukah kamu mempertimbangkan untuk menjadi kekasihku?” katanya tanpa mengalihkan sedikitpun pandangan dari Anon.
Bulir air mata mengalir perlahan dari sudut mata Anon, membasahi kedua pipinya yang masih memerah. Uika yang melihat itu langsung panik, khawatir ada perkataannya yang menyakiti Anon, namun sebelum mengatakan sesuatu, Anon mendahuluinya.
“Uika-chan, terima kasih. Aku tidak tau akan ada hari dimana orang yang kusuka menyatakan perasaannya kepadaku. Aku benar-benar bahagia. Tentu saja aku mau menjadi kekasihmu,” kata Anon yang langsung memeluk Uika disaat itu juga.
Uika tersenyum, berterima kasih kepada dua orang yang membantunya.
Uika memberikan dua kotak susu kepada dua orang di depannya. “Terima kasih kalian berdua, akhirnya aku bisa jadian juga dengan gebetanku,”
“Ahh, selamat Misumi-san,” kata Taki tampak tak percaya.
“Hee, jadi bisa ceritain proses jadianmu dengan Togawa-san?” tanya Umiri, mengorek informasi untuk mengusili vokalis dan pianis nya di masa depan.
“Saki-chan? Kenapa dengan Saki-chan?” tanya Uika kebingungan.
“Lah bukannya kamu jadian dengan Togawa-san?”
“Ah sepertinya kalian salah paham, gebetanku itu bukan Saki-chan, melainkan—”
Perkataannya terputus karena suara dering dari ponselnya. Ia pun memutuskan untuk menjawab panggilan itu. “Ada apa Ai-chan menelponku, kamu kangen ya? Hehe,”
“...”
“...”
“Ah iya, aku lagi bareng Shiina-san dan Yahata-san, soalnya mereka yang bantu aku biar kita bisa jadian kemarin. Mau bicara dengan mereka?” setelah itu Uika memberikan ponselnya kepada mereka dan mengaturnya ke mode speaker agar mereka berdua bisa mendengarnya.
Dan suara yang terdengar dari seberang sana adalah suara yang sama sekali tak mereka duga.
“Halo Rikki dan Umirin. Makasih ya dah bantu Hatsu kemarin, lain kali aku traktir sesuatu deh. Ok?”
“...”
“...”
“Ehhhhh, Ai-chan, jangan panggil orang lain selain aku pake nama panggilan dong. Aku cemburu nih,” kata Uika sambil cemberut.
“Kalau itu yang Hatsu mau, aku coba deh,”
“Bercanda kok, Ai-chan. Meski begitu, aku satu-satunya di hatimu kan?”
“Tentu saja. Kamu bisa belah dadaku dan melihat hanya ada namamu disana,” kata Anon dengan nada bercanda.
Dan seperti itulah percakapan Uika dan Anon, benar-benar tenggelam di dunia mereka sendiri, tak lagi menghiraukan dua orang yang masih terdiam sampai saat ini.
“TUNGGU…SERIUSAN?”
