Work Text:
"GINJOKA."
Zeal tersenyum—mungkin terlalu lebar—saat nama belakangnya disebut dengan nada jengkel. Ia sedang mengelap gelas-gelas wine di konternya dengan tenang saat suara dengan derapan langkah familier itu mendekat. Ia masih ingin mendengarnya sekali lagi, kalau bisa. Namun, rasanya tidak tega juga. Sepertinya sumber suara tersebut butuh bantuannya. Maka, ia menoleh.
"Iya?"
Nah 'kan. Kini Zeal dapat melihat semuanya. Kedua alis yang bertaut di tengah. Dahi yang mengerut. Bibir yang mengerucut.
Menggoda Kaelix selalu memberikan kesenangan tersendiri.
"Sadar nggak dosa kamu apa malam ini, Mas Ginjoka?"
Aduh.
Langsung menuju sasaran.
"Oh? Aku punya dosa?"
"Ck. Apa yang Freo bilang soal larangan flirting sama tamu?"
"Aku nggak flirting sama mereka, oke? Mereka tanya bahan minuman, tau-tau ngajak keluar, tau-tau berebut tanggal, tau-tau saling cengkram kerah baju, udah."
"Nggak "udah" ya itu, Mas. Aku harus misahin mereka dan pastiin mereka bisa pulang ke tempatnya masing-masing tanpa patron. Ini kali ketiga di minggu ini, kalau kamu lupa. Sekali lagi kejadian, aku ajuin surat resign ke Seible, you just see. That was too much, you know." Kalimat terakhir diucapkan dengan nada memelan dan wajah yang ditekuk. Spontan membuat jantung Zeal serasa diremas.
Wah, serius ini.
"Eh, jangan resign dong. Maaf ya, aku nambahin kerjaan kamu malem ini?"
Kaelix menatapnya—oh, Zeal suka sekali saat dua bola mata berwarna biru itu mengarah padanya.
"Maaf?" Zeal menyodorkan kelingking kanannya. Kaelix menghela napas cukup panjang sebelum akhirnya menautkan kelingking kirinya dengan milik Zeal, yang kini tak dapat menyembunyikan senyuman lebarnya.
"Please, please, Mas, kalau kamu nggak bisa bantu kerjaanku jadi lebih ringan, at least jangan bikin lebih berat. Please?"
Aduh, nada memohonnya yang itu.
"Gitu, ya? Habisnya kamu keliatan bosen waktu udah closed gate. Lumayan ada kerjaan 'kan, lerai orang yang hampir berantem?"
"Mas Ginjoka. Kamu ganggu banget, sumpah."
"Marahin dong akunya."
"With that beautiful face of yours, I'll be damned if I'm mad at you. So please help me. Behave, Mas."
Kaelix tidak sempat melihat bagaimana Zeal menelan ludahnya gugup karena lelaki itu sudah berbalik setelah sebelumnya membalas anggukan Zeal atas kesepakatan untuk lebih menjaga perangainya di belakang meja bar. Walau ia masih sedikit ingin berargumen, bersikap baik dan ramah pada pelanggan seharusnya tidak termasuk dalam kategori genit.
Namun tidak. Zeal tidak mau mendebat Kaelix sekarang—Kaelix yang sedang letih.
Bahaya.
Zeal mengabaikan efek yang diberikan oleh satu kalimat terakhir yang diucapkan Kaelix barusan. Ia sudah cukup piawai untuk menutupi kenyataan bahwa detak jantungnya melompat lebih cepat.
Ia sudah terlatih.
"Gin-chan ...."
Lalu satu suara mematikan lainnya—sebenarnya sangat manis seperti madu, tapi Zeal terlalu kenal manusia ini—kembali terdengar dari meja bar di belakangnya. Ia berdeham sebelum membalas sapaan rekannya—juga bosnya.
"Ya, Seible?"
Di meja sudah terlihat Seible yang duduk nyaman sembari menopang dagu dengan kedua tangannya. Senyumnya manis sekali, sampai membuat kedua matanya menghilang—untuk yang tidak mengenalnya. Melihatnya saja jantung Zeal rasanya jatuh ke lantai. Ada bau-bau intervensi yang akan terjadi dan Zeal tidak menyukai itu.
"I know what you did there."
"Mm?"
Zeal menaikkan alisnya. Seible kini telak menatapnya.
"Gin-chan, Gin-chan, Gin-chan ...." Lelaki itu menggelengkan kepala.
Zeal merinding, jujur.
"Don't play with people's feeling, Gin-chan. That's not what good boy do."
Oh?
"Ngomongin apa sih ini, Sei?" Zeal mengelap meja yang sudah terlihat kinclong sedari tiga puluh menit lalu. Lebih baik membuat marmer hitam ini semakin mengilap daripada harus bersitatap dengan sepasang mata milik Seible. Zeal mengenal lelaki itu bukan setahun-dua tahun. Dan tatapan itu, baiknya dihindari.
Atau Zeal akan merasa ditelanjangi.
"You know the best."
Ada beberapa milisekon yang menyesakkan di antara keduanya sampai Seible kembali ke mode normalnya lalu memesan whiskey ginger favoritnya. Baru di situ Zeal bisa bernapas normal.
Kuping dan lehernya terasa panas. Obrolan barusan cukup membuat Zeal malu.
Saat berbalik untuk menyajikan minuman untuk Seible, Zeal dapat melihat Kaelix dari sudut matanya. Lelaki itu sedang melipat tangan seraya bersandar di salah satu dinding dan bercengkerama dengan Freodore, direktur tim kreatif di live house tempat mereka bekerja. Seperti anjing pelacak yang dapat mengendus sekecil apa pun tingkah mencurigakannya, Seible bersiul kala menerima gelas kristal kotak di hadapannya. Lelaki berambut lurus itu menaikkan satu alis dan senyuman miringnya yang menyebalkan. Tentu saja. Tidak ada yang bisa lepas dari perhatian manusia, ralat, Anak Setan satu ini.
Zeal pura-pura tidak melihatnya dan kembali mengelap gelas-gelas di balik mejanya.
*
Malam ini bukan malam Sabtu atau malam Kamis di mana banyak pengunjung datang untuk melepas penat setelah pulang kerja. Masih hari Selasa malam. Kondisi live house tidak begitu padat. Di hari-hari ini, biasanya pegawai bisa sedikit lebih relaks dibanding kedua hari yang disebut sebelumnya.
Mungkin terlalu relaks. Sampai Zeal bisa melihat Kaelix tertawa-tawa dengan pengunjung yang berbeda-beda. Lalu satu pengunjung yang sudah lebih dari setengah jam membuatnya tertawa terpingkal-pingkal di dekat lorong toilet. Dan itu membuatnya jengkel.
Siapa yang kemarin berkata untuk mengingat anjuran Freodore soal genit pada pengunjung?
Jangan salah sangka. Tawa Kaelix selalu membuatnya ikut bahagia. Rasanya seperti mendengar dentingan harpa, biola, atau alat musik lainnya yang bisa memproduksi bunyi yang merdu. Namun malam ini, pengunjung berperawakan mungil dengan poni pirang ini mengganggu konsentrasi Zeal. Bagaimana tubuh tinggi semampai Kaelix terlihat serasi dengan lawan bicaranya. Pas jika Kaelix berencana ingin mengecup dahinya di tengah obrolan entah apa yang sepertinya sangat menyenangkan itu.
Sial.
Zeal hampir saja menuangkan wine ke dalam faux-jito racikannya sendiri.
Ini tidak betul.
Ia terganggu.
Lelaki dengan rambut legam tersebut ingin segera meninggalkan konternya dan berlari ke arah Kaelix berdiri tapi masih ada beberapa pesanan tamu yang harus ia layani sebelum menutup mejanya. Maka ketika semua permintaan pelanggan telah ia selesaikan dalam waktu relatif cepat, Zeal berjalan dengan kecepatan selayaknya sedang bergerak di atas treadmill menuju ke arah rekan kerja kesayangannya.
"Hello, My Darling Bouncer."
Refleks.
Zeal refleks melingkari pinggang Kaelix saat berdiri di sampingnya. Lelaki yang ia peluk dari samping itu seketika menegang dan kedua matanya membelalak ke arahnya seperti berteriak Apa yang kamu lakukan?
Zeal menjawab dengan senyuman manisnya.
"H-hello there? Oh, meet my senior at uni, Zeal. This is Shu. Shu Yamino. Lumayan lama nggak ketemu, dateng-dateng pengumuman baru lamaran sama pacarnya masa?"
Oh?
"Hai, Kak. Salam kenal." Zeal mengulurkan satu tangannya yang bebas yang segera dibalas oleh lelaki di hadapannya.
"This is Zeal."
"Halo, ini yang namanya Zeal? Ketemu juga akhirnya."
"Kak. Don't."
"Eh?"
Zeal menoleh ke sebelah dan mendapati Kaelix menaikkan kedua alisnya ke arah Shu seperti sedang memperingati sesuatu.
Wah. Menarik.
"Kaelix banyak cerita soal his-darling-bartender lately."
"Sumpah, Kak, can you not?" Kaelix memotong pembicaraan Shu dengan sedikit terburu-buru. Jika lampu dalam ruangan tidak sebegini remang-semang, pasti Zeal dapat melihat bagaimana lelaki itu bersemu malu. Zeal menggigit bibir bawahnya sebelum kembali menguasai dirinya untuk fokus pada orang baru di hadapannya.
"Congrats on your engagement, by the way, Kak."
Zeal baru menyadari ada benda bersinar yang melingkari jari Shu. Entah mengapa rasanya lega. Dan dengan pembicaraan yang dimulai dengan santai tersebut, gestur Zeal yang tadi cukup tegang kembali melemas. Lelaki bernama Shu ini sama sekali bukan ancaman ternyata.
Namun, memangnya ancaman macam apa yang Zeal pikirkan sebelumnya?
Ia tak sempat memikirkan lebih jauh karena dirasakan tubuh Kaelix kian relaks dalam rengkuhannya. Zeal tak bisa berhenti tersenyum sepanjang obrolannya dengan Shu. Entah itu karena menertawakan bagaimana Kaelix terlibat dalam beberapa kejadian konyol di kampusnya dulu atau bagaimana tubuh mantan peragawan di sampingnya itu semakin merapat padanya.
"Mas Ginjoka."
O-ow. Ini tidak baik.
Mungkin Kaelix mendengar bagaimana ia menghela napas lega saat Shu sudah melenggang keluar pintu live house. Mungkin Kaelix merasa bagaimana pegangan Zeal padanya melonggar dan lepas seutuhnya kala ia kembali tenang.
"Iya?"
"Tadi itu apa kalau boleh tau?"
"Apanya?"
Kaelix berdecak. Zeal tahu arah pertanyaan itu ke mana dan ia yakin Kaelix paham juga arti pertanyaan balik Zeal itu apa.
Biarlah begini.
Hening menyelimuti keduanya sampai Kaelix kembali menghela napas bosan. Tatapan Zeal tak lepas dari kedua mata sewarna samudra milik lelaki di hadapannya. Satu tangan Kaelix terangkat seperti akan menyentuh rambutnya.
Zeal menahan napasnya.
"You need to calm down, sometimes."
Zeal masih terdiam.
"Aku nggak ke mana-mana."
Lelaki itu mengusapkan ibu jarinya di atas tahi lalat di dagu Zeal, sebelum pamit untuk menghampiri satu tamu langganan yang terlihat kesulitan berjalan di atas kakinya sendiri. Atmosfer di sekitarnya masih terasa berat.
Saat figur jangkung itu berjalan menjauh, Zeal baru bisa menelan ludahnya. Ia berjanji dalam hati untuk bisa menguasai diri lebih baik lagi ke depannya. Kaelix yang kerap salah tingkah di bawah tatapannya tak pernah membuat Zeal bosan. Namun Kaelix yang memintanya melakukan sesuatu mampu membuat Zeal bergidik ngeri.
Dua lelaki tengah di ujung meja bar memperhatikan kejadian di dekat lorong toilet barusan. Salah satu yang memakai sepatu boot berwarna gradasi merah anggur duduk di kursi bar. Lelaki satunya dengan kemeja hitam berdiri di sampingnya sembari bertumpu pada siku di meja.
"Furi-chan," ujar Seible, yang sedang berdiri sambil bersandar, dengan nada serupa nyanyian.
"Mm?" Freodore, lelaki di atas kursi bar, menjawab dengan kedua mata tajamnya tak lepas dari satu titik pandang yang sama dengan Seible.
"You saw that?"
"Through and through."
"Kesel nggak?"
"Lumayan."
"Kenapa tetep ngeselin ya, kalau diliat? Padahal harusnya 'kan kita udah biasa?"
"Info baru. Imun kita masih kurang ternyata." Freodore mendesah. Ia memutar badan untuk menenggak minumannya.
"Ah, sedihnya," Seible menjatuhkan pipinya di bahu Freodore dan melingkarkan kedua tangannya ke sekeliling pinggang lelaki di atas kursi.
"Berat, Seible."
"Bentar aja. Aku lagi sedih ini."
Satu decakan malas keluar dari mulut Freodore. Lalu tangan kanannya bergerak mengambil potongan kentang goreng kemudian menyodorkannya ke depan bibir Seible. Seible menengadah untuk menatap wajah Freodore.
"Mm?"
"Dari sore belum makan, 'kan?"
"Furi-chan, aku sedihnya sampai besok bolehkah?"
"Aduh! Kamu mau bikin badanku remuk apa gimana? Sei, sesak ini, ah!"
*
"Suapin lagi," pinta Zeal seraya menatap penuh minat pada puding cokelat dengan vla vanila dalam kotak bekal milik Kaelix yang berada di antara kedua lengan mereka di atas meja. Sudah ada dua sendok kecil yang Kaelix sediakan tapi ia memilih memakan dari sendok yang sama dengan Kaelix.
Puding cokelat ibunda Kaelix kini sudah termasuk ke dalam makanan favorit Zeal. Rasa cokelatnya pekat, cenderung pahit. Menurut Kaelix, ibunya memakai dark chocolate sebagai bahan utamanya. Rasa manisnya ia dapat dari vla vanila sebagai saus. Itu pun rasanya tidak begitu manis sampai membuatnya khawatir akan diabetes. Untuk seseorang yang tidak begitu suka makanan manis, Zeal suka puding milik keluarga Debonair.
Ia bukan pemilih makanan, sungguh. Malah cenderung memakan apa saja dengan mode autopilot tanpa memikirkan lebih jauh. Namun ada beberapa alergi yang membuat ia lebih hati-hati, seperti menghindari makanan yang mengandung gluten dan lain sebagainya. Bagi Zeal, makan adalah aktivitas untuk bertahan hidup. Maka, ketika Kaelix datang dengan cerita-cerita menarik di balik pembuatan bekal sehari-harinya, dan bagaimana kedua matanya berbinar saat berkomentar soal makanan enak dan menganalisis bumbu di balik santapannya, Zeal merasa makan menjadi aktivitas yang cukup sakral.
Selain untuk bertahan hidup, kegiatan itu kini menjadi salah satu caranya menghabiskan waktu yang berjalan melambat dan membuatnya secara sadar menikmati aneka rasa yang bisa lidahnya cecap. Waktu yang ia habiskan untuk makan di tempat kerja biasanya tidak sampai satu jam lamanya. Namun seperti hadiah yang ia terima untuk bekerja giat setelahnya, Zeal selalu menikmati detik demi detik yang ia lewati dengan Kaelix berdua membahas makanan seperti ini.
Terkadang Seible bergabung dengan keduanya. Sedangkan Freodore lebih memilih duduk diam mendengarkan dan sesekali menimpali saat ditanya saja jika suasana hatinya sedang bagus. Selebihnya, makan bersama ini sudah menjadi ritual Zeal dan Kaelix. Berdua saja.
"Punya tangan kalo nggak dipake tuh buat apa ya, Mas Ginjoka?" gerutu Kaelix. Tentu saja hanya omong kosong karena pemuda itu mengomel sembari menyendok kembali pudingnya kemudian membawanya ke hadapan Zeal.
"Buat gini ke Kaelix ...." Zeal memainkan rambut perak Kaelix di antara jemarinya. Keduanya begitu dekat. Berdiri di dua sisi berseberangan di meja bar Zeal. Mereka melipat tangan di depan dada supaya torso keduanya dapat mendekat. Sembari berbicara dengan bisikan dan tertawa tanpa minat berbagi pada sekitarnya.
Untung saja ini masih sore dan live house belum terlalu ramai sehingga apa yang Zeal dan Kaelix lakukan sekarang tidak memancing teguran dari sesama pegawai—atau bos menyeramkan mereka.
"Ck. Genit."
"Nggak bolehkah?" Zeal memasang tampang cemberut dan membawa sedikit bahunya untuk mundur menjauh sebelum Kaelix menanggapinya hampir terburu-buru.
"I say nothing!?"
"Okay!"
Ia kembali mencondongkan badannya untuk memainkan ujung rambut Kaelix seraya berdehum pelan. Menatap bagaimana rona di kedua pipi Kaelix menjadi sedikit berubah lebih gelap, menatap bagaimana wajahnya yang sedikit menunduk untuk kembali fokus pada puding buata ibunya. Atau mungkin juga sekaligus untuk menyembunyikan rasa malunya.
Manis sekali.
Zeal suka bagaimana Kaelix berusaha mencari perhatiannya. Namun saat perhatian yang ia minta tertuju padanya, lelaki itu tidak pernah bisa menutupi rasa malunya. Zeal beberapa kali merasa berbangga hati saat bisa melihat semu merah muda di kedua tulang pipi Kaelix. Namun rasa itu selalu tidak berlangsung lama. Karena ia akan tertular rasa malunya juga. Kerap ia mempertanyakan perilakunya sendiri dan mengapa ia bisa seberani itu beberapa saat lalu kemudian nyalinya seketika ciut tak lama setelahnya? Mengherankan.
"Ceritain lagi dong, gimana Mama Debonair nggak sengaja numpahin adonan pancake pagi tadi?"
"Kaelix 'kan udah cerita di chat?"
"'Kan belum detail?"
"Fine."
Peduli setan dengan peraturan Freodore—dan lirikan tajamnya dari sudut ruangan—soal larangan beradu rayu di tempat kerja. Toh larangannya jika dilakukan terhadap pengunjung. Tidak masalah seharusnya jika dilakukan pada sesama pegawai.
'Kan?
Dan ini bukan saling merayu kok. Zeal dan Kaelix hanya mengobrol dengan bumbu sentuhan di sana sini. Keduanya sama-sama sudah dewasa. Keduanya sama-sama menyetujui atas aktivitas-apa-pun-ini. Tidak ada yang salah. Tidak ada yang tersakiti.
'Kan?
"You guys are so cute." Satu suara menginterupsi Zeal dan Kaelix yang kedua puncak kepalanya hampir menempel sambil cekikikan saat sedang membahas bagaimana ayah Debonair bisa benar-benar menyebalkan kala mencari perhatian istrinya. Zeal membayangkan Kaelix senior di kepalanya.
Manis sekali.
"Eh?" Kaelix yang terlebih dahulu menoleh. Zeal masih sibuk menelisik bagaimana warna bola mata Kaelix begitu jernih.
"Udah berapa lama barengan?" Suara itu berasal dari wanita bergaya rambut bob hitam seleher dengan bodysuit berwarna hitam dengan belahan sampai ke paha. Ia mengarahkan telunjuknya pada Zeal dan Kaelix secara bergantian. Cantik. Zeal tidak menyadari ia ada di sana sebelumnya. Walau melihat dari gelas di hadapannya, jelas di dalamnya ada minuman hasil racikan Zeal.
""Barengan" as in ... ?"
"Pacaran? Deket? Atau tinggal bareng? Whatever. Udah lama, ya?" Wanita itu menatap Zeal dan Kaelix dengan pandangan seperti memuja entah-apa.
"Keliatannya gimana?" tanya Kaelix santai.
Sedangkan Zeal membatu di tempatnya. Tangannya sudah ia tarik dari rambut perak selembut sutera di hadapannya. Gestur tubuhnya sudah menegak.
Ia ... panik.
"Baru jadian sih. But, no, no, wait! I guess ... two years at the least?"
"You're so right, Miss."
"Right? Gemes deh kalian berdua. I love disgusting lovebir—"
"Jadi karyawan di sini, ya? Bener, udah dua taun lebih. Ehm." Zeal memotong.
Entah mengapa ia gelisah. Dan ia gagal menyembunyikannya.
"Sure." Wanita itu menyesap minumannya sembari mengangkat kedua alisnya.
Tanpa ba-bi-bu, Zeal membalikkan tubuhnya untuk menuju ke ujung bar. Menjauh dari Kaelix yang mengeluarkan tatapan bingung dan menjauh dari puding cokelatnya yang surgawi. Sisa malam itu ia habiskan di sana. Di sudut ruangan penuh botol alkohol dan cocktail shaker dalam genggamannya. Zeal menghadap ke arah depan hanya untuk bertanya pesanan tamu yang baru duduk atau datang mendekat sembari melemparnya senyum formalnya. Selebihnya, ia selalu berbalik badan. Memunggungi semua orang. Malam itu, pertanyaan semua orang ia jawab tanpa melihat sang penanya. Termasuk dari ketiga rekannya.
Termasuk dari Kaelix dan tatapan khawatirnya.
Ada yang salah malam itu.
Ia ingin segera pulang ke kamarnya dan mengunci diri.
*
Esok harinya, Zeal mengambil jatah cuti tahunan. Seible sempat mengomel dengan pemberitahuannya yang mendadak namun lelaki itu mengizinkannya juga setelah Zeal memastikan bahwa akan ada pengganti dirinya di belakang meja bar untuk meracik minuman. Suara Freodore yang menenangkan Seible terdengar sayup-sayup di belakang, cukup untuk membuat Seible kembali kalem. Ingatkan Zeal untuk berterima kasih pada lelaki berwajah judes tersebut nanti.
Beberapa panggilan tak terjawab dan pesan yang tak kunjung ia buka bertengger di notifikasi teratas pada layar ponselnya.
Semuanya berasal dari Kaelix Debonair.
Membuatnya tak berani menyentuh ponselnya sendiri.
Dua tahun lebih.
Ketiga kata itu berulang di kepalanya.
Jawaban Kaelix pada wanita asing mengenai hubungan mereka terulang di kepala Zeal sampai pagi. Ia tidak bisa memejamkan mata semalam. Mengingat bagaimana wajah Kaelix begitu berseri sebelum akhirnya kedua alisnya mengerut bingung saat Zeal menarik diri.
Dua tahun lebih adalah waktu yang ia dan mantan kekasihnya dulu habiskan untuk bersama. Sebelum akhirnya keduanya berpisah dengan kondisi yang tidak baik-baik saja. Perpisahan mereka meninggalkan luka terlalu dalam untuk Zeal. Membuat ia familier dengan obat tidur dan obat penenang karena rasa itu akan datang secara tiba-tiba dan membuat Zeal sesak napas.
Dicurangi adalah pengalaman terpahit dalam hidupnya. Ia juga tidak terlalu banyak membicarakan bagaimana kehidupan keluarganya karena tidak ada core memory yang berkesan di dalamnya. Keluarganya tidak seperti keluarga kawan lainnya. Ia tidak berkata bahwa keluarganya buruk, hanya mereka memang biasa-biasa saja. Ibu di rumah, ayah bekerja, kakak dan adik yang terpaut usia jauh untuk berhubungan dekat, komunikasi yang ala kadarnya karena ada jenjang hierarki peran. Semuanya biasa. Kisahnya tidak seperti keluarga Debonair yang bagaikan cerita dalam negeri dongeng.
Mungkin tidak terlalu biasa juga.
Ada cerita yang memalukan yang tidak ia bagi keluar.
Cerita itu ia simpan rapat di dalam kotak di sudut kepalanya. Tidak untuk dibuka.
Saat pengalaman pahit yang orang tuanya berikan itu ia rasakan sendiri pada usia matangnya, Zeal seharusnya tidak lagi kaget. Namun tetap saja, rasa sakitnya sulit membuatnya terbiasa.
Kotak yang ia simpan dahulu, seperti dipaksa untuk dibuka di depan wajahnya.
Kala itu, Zeal sudah dapat mencium ada yang tidak beres pada hubungannya dengan sang kekasih. Namun ia enggan mengakui. Mungkin, jika tidak ia bicarakan, masalah itu tidak akan pernah ada. Mungkin, jika tidak ia bicarakan, masalah itu akan pergi dengan sendirinya. Mungkin, jika ia biarkan, kekasihkan akan kembali pada akhirnya. Ia terlalu naif.
Sakit hati demi sakit hati yang ia telan sehari-hari akhirnya memuncak. Segala emosi yang ia kubur dalam-dalam akhirnya meledak. Ia tak kuasa lagi. Pada suatu malam, ia meneriaki sang kekasih yang tak lagi menatapnya dengan penuh cinta. Zeal tak akan lupa bagaimana orang itu memberikannya tatapan mengasihani.
Tatapan itu sudah lama mendingin. Namun Zeal muda masih percaya bahwa kehangatan yang hilang itu mungkin hanya sementara. Mungkin kekasihnya akan kembali seperti semula dan hubungan mereka akan baik-baik saja. Sayangnya, dua manusia tidak semudah mengatur peranti lunak komputer atau ponselnya. Cara mengetahui isi kepala manusia hanya dengan berbicara dan Zeal tidak fasih dalam menyampaikan emosinya. Sedangkan kekasihnya pada saat itu menunggu keputusannya untuk mengakhiri hubungan mereka.
Zeal hanya ingin memperbaiki semuanya. Dan kekasihnya hanya menggeleng lemah sembari memohon maaf atas segalanya.
Dan tatapannya.
Tidak ada cinta, tidak ada maaf sepenuhnya.
Hanya mengasihani yang ada.
Saat itu, dingin mulai menyelimuti sukmanya. Gelap mulai menghiasi hari-harinya. Sesak mulai mendatangi hari-harinya. Perlu waktu yang tidak sebentar dan pertemuan dengan terapis yang tidak sekali-dua kali untuk membuat bayangan hitam yang membebani kedua bahunya menghilang—atau mungkin tidak pernah menghilang, Zeal hanya pintar berpura-pura jika entitas hitam itu telah lenyap darinya.
Zeal Ginjoka hanya manusia biasa. Wajar baginya untuk takut mengakui bahwa ia sesungguhnya telah jatuh cinta. Pada satu suara tawa bahagia. Pada rambut perak selembut beledu yang kerap membelai buku jarinya. Pada bibir yang melengkung merajuk saat ia goda. Pada nada merengek penuh permohonan yang merdu di telinga. Pada pemilik tubuh tinggi semampai sempurna.
Kaelix.
Oh, Kaelix.
Dua tahun lebih.
Dua tahun lebih ia berjalan memutar untuk berakhir di situ-situ saja.
Tidak ada komplain dari Kaelix selama itu.
Rasanya seperti permukaan laut tenang sebelum badai menerjang, Zeal menunggu kapan lelaki itu perlahan pergi darinya. Karena ia sudah terlatih dengan pola itu. Bukan salahnya untuk memikirkan skenario terburuk yang akan dilakukan Kaelix padanya, bukan? Ia hanya sudah terlatih.
Dulu saja, kekasihnya tega melakukan itu padanya. Mengapa Kaelix tidak?
Kaelix juga manusia biasa. Ia mungkin saja melakukan yang sama. Maka Zeal membebaskannya sedari mula. Dan lelaki itu tidak pernah protes. Tidak pernah mempertanyakan mereka ini apa. Tidak pernah terganggu pada sifat posesif tak beralasan milik Zeal—baru kali ini ia mengakui bahwa ia memang pencemburu—malah terkadang Kaelix melakukannya juga padanya. Tidak pernah menyangkal saat digoda. Tidak pernah menolak perlakuan manja dan tak masuk akal yang Zeal minta.
Tidak mungkin Kaelix tahan padanya. Zeal saja sering kewalahan menghadapi dirinya sendiri.
Tidak ada alasan Kaelix lebih mahir memahaminya daripada dirinya sendiri, bukan?
Zeal ingin begini saja.
Meringkuk di lantai apartemennya. Dingin, gelap, dan sendirian.
Tidak ada janji-janji muluk. Hanya ia dan rasa aman.
Tidak ada yang ditinggalkan.
*
Sepuluh hari melakukan detoksifikasi dari entah apa, Zeal sudah siap keluar dari goa persembunyiannya. Beberapa hari sebelum ini, Zeal sudah melakukan gladi resik dengan membuka ratusan notifikasi dalam ponsel dan emailnya. Juga sempat mengunjungi rumah ibunya untuk sedikit berbincang dalam usaha membuat dirinya sendiri menapak tanah. Ibu dan ayahnya dalam keadaan baik dan sehat. Soal fungsional atau tidak, itu sudah cerita lama. Keduanya kembali tinggal seatap dalam damai sejak beberapa tahun lalu dan Zeal tidak akan meminta lebih lagi.
Dalam sepuluh hari tersebut pula, lima hari di antaranya berisi hantaran makan malam dengan menu dari rumah Debonair—pasti Kaelix mengirimanya pesan yang tak kunjung ia cek mengenai itu. Kaelix tentu saja memastikan bartender kesayangannya ini tetap makan walah caranya adalah dengan menyimpan kantung kertas dua hari sekali di depan pintu apartemen Zeal seperti penguntit.
Gestur yang manis.
Walau pada kenyataannya, rasanya miris bagi Zeal untuk mendapatkan perlakuan tersebut dari lelaki yang paling memerlukan penjelasan darinya. Atau mungkin Kaelix tidak butuh itu. Mungkin hanya Zeal yang terlalu ge-er saja.
Bagaimana lagi?
Zeal belum siap.
Mungkin tidak akan siap.
Ia sendiri mulai mau menerima telepon dari Seible dan membalas pesan dari Freodore kemarin. Memastikan keduanya jika ia masih hidup. Sedangkan di hari-hari itulah tidak ada satu pun pesan dan telepon yang ia terima dari Kaelix. Zeal pikir, lelaki itu akhirnya memberinya ruang—walau di hari-hari lainnya pun Kaelix selalu tahu batasan. Saat ia menghilang di awal, Kaelix memang sempat membombardirnya dengan pesan dan telepon. Mungkin lelaki bermata biru itu menyerah juga pada akhirnya. Opsi yang kedua membuat Zeal sedikit lega.
Walau dari lubuk harinya yang terdalam, ia mau menyangkal dan berharap Kaelix tidak berhenti peduli padanya.
Namun terlalu muluk. Zeal masih sadar diri.
Malam ini, Zeal sudah kembali ke belakang meja barnya yang diam-diam ia rindukan. Ada daftar yang harus dicek saat opname bahan minuman yang sudah bertengger di dekat tumpukan gelas. Mau tak mau Zeal tersenyum. Pekerjaannya lancar selama ditinggal. Beberapa pelanggan reguler banyak menyapanya dengan pertanyaan berulang seperti ke mana saja dan mengecek kesehatannya. Zeal ada dalam kondisi mental yang prima sehingga ia dapat menjawabnya ringan dengan kekehan dan kedua mata yang ikut pula tersenyum.
Seible meremas bahu kanannya saat melewati Zeal dan Freodore memberikan anggukannya dari area FOH saat ia memasuki ruangan. Kaelix memberikannya pelukan sambil berdendang Welcome back, Ginjoka! lalu kembali ke depan gate untuk bertugas.
Tidak ada kekurangan suatu apa pun.
Tidak ada.
Sampai Zeal menyadari bahwa perhatian Kaelix tidak tertuju padanya malam ini. Pun anak itu tidak mencari perhatiannya. Sekuriti mengatakan jika lelaki itu pergi ke toko kopi dan menghabiskan jam rehatnya di sana kala ia menanyakan ke mana Kaelix menghilang di jam istirahat mereka yang singkat. Saat kembali, Kaelix segera pergi ke ruang loker untuk memakai kembali seragamnya. Figurnya yang jangkung dan kakinya yang panjang membuat lelaki itu serasi memakai pakaian apa pun. Dan apakah Zeal pernah bilang bahwa Kaelix dan turtle neck berwarna hitam adalah padanan yang ideal? Bagaimana rambut peraknya menyapa kerah bajunya dan kerah tingginya mampu menyombongkan leher jenjangnya. Belum lagi bagaimana bahu bidangnya yang terbungkus sempurna. Belum lagi wangi parfumnya yang segar terbawa udara saat tubuhnya berjalan cepat.
"Ngopi di luar tadi?"
"Oh? Iya, Mas. Titip sesuatukah? Aku kebetulan nggak bawa hp tadi duh—" Kaelix memperlihatkan wajah terkejut atas sapaan kasual Zeal. Gemas sekali. Anak itu terlihat sedikit panik juga.
"No worries. Nggak titip apa-apa kok. Kalo butuh kafein yang agak nendang, merapat aja, ya?"
"Sip. Thanks, Mas."
Suara ringan dan nada ceria yang inilah yang sempat membuat Zeal kehilangan kemarin.
Tapi sudah.
Begitu saja.
Kaelix tidak datang ke mejanya walau tamu sudah tak lagi berdatangan. Kaelix tidak bergeming saat ada tamu yang terang-terangan menggoda Zeal—dan Zeal memberikan respons, yang datang adalah Freodore dengan wajah menyeramkan. Kaelix tidak mencuri-curi pandang ke arahnya. Lelaki itu hanya menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong saat tak ada yang mengajaknya ngobrol. Zeal mendadak gusar.
Malam itu, Zeal ingin segera menyelesaikan shift-nya. Rencananya, ia akan menunggu di balik meja barnya supaya Kaelix dapat mengajaknya mengobrol lebih leluasa. Jika Kaelix mau mengajaknya mengobrol saja. Jujur, Zeal tidak ingin berharap terlalu tinggi. Namun ia kenal betul polah lelaki satu itu. Setidaknya, walau tidak akan bercerita, Zeal akan siap sedia meracik minuman paling enak untuk membuatnya lebih santai.
"Mas Ginjoka."
'Kan?
Benar saja. Langkah sepatu boot yang Zeal kenal itu mendekat hingga ia dapat mencium samar wangi parfum Kaelix. Dan panggilannya barusan, oh, nama belakangnya tidak pernah terdengar sebagus itu selain saat Kaelix yang ucapkan. Dengan itu semua, Zeal mengangkat wajahnya.
Kaelix.
Kaelix Debonair telah berdiri menjulang di hadapannya, dibatasi oleh konter bar di antara mereka.
"Iya, Kae?"
"Mm, mau info aja, Mas. Mulai besok aku cuti, ya. Nanti ada yang ganti, namanya Vanta, kakak sepupuku yang dulu pernah aku ceritain. Udah lupa mungkin ya, Mas?" Kaelix berkata dengan kecepatan yang tidak biasa dan Zeal terlalu terperangah tanpa sempat memberi balasan yang layak.
"Oh ... cuti, ya ...."
Kaelix terlihat sangat rikuh walau masih ditutupi dengan cengiran dan kekehan sana-sini. Zeal tidak suka. Ia tidak suka mengapa anak di hadapannya terlihat begitu grogi.
"Iya. Baru keingetan juga aku belum ambil cuti hampir dua taun. Mau ikut rehat dulu deh kayaknya."
"Oh gitu ...."
"Oh! Jemputanku udah nyampe nih. Jalan dulu ya, Mas. Titip barnya, ya! Take care!"
Kaelix sudah melesat keluar gedung sembari melambaikan tangan heboh pada Seible dan Freo di sudut lain saat Zeal menggumamkan jawabannya.
"Kaelix juga .. take care ...."
Di bar malam ini, di hari pertama masuk setelah cuti panjangnya, Zeal Ginjoka merasa ditinggal sendirian.
Kaelix menghilang.
Oke, mungkin berlebihan. Lelaki itu hanya sedang cuti. Namun Zeal merasa seseorang, sesuatu, apa pun, mengambilnya pergi secara paksa dari hidup Zeal. Hari-harinya di live house berjalan lambat dan membosankan. Hidupnya dari pagi menuju sore sebelum masuk shift-nya tidak lagi memiliki sesuatu yang ditunggu.
Zeal Ginjoka adalah pria yang simpel. Isi kepalanya selalu terintegrasi dengan baik pada tindakannya. Maka pada malam ketiga ia hidup tanpa Kaelix, ada tiga gelas yang ia pecahkan di belakang bar. Untuk gelas yang ketiga, Seible menghampirinya dan Zeal semakin tegang saat langkah kaki atasannya itu mendekat.
Ini tidak akan bagus.
Namun, tidak. Lelaki itu hanya memanggil satu tim cleaning untuk membawa alas bersih-bersih dan mendekatinya untuk ikut berjongkok, mengambil pecahan besar yang bisa diambil oleh tangan telanjang.
"Seible, it's okay. Let me do this."
"No, no. No worries."
"Let it go. Udah panggil cleaning juga, 'kan?"
Atas kalimat Zeal terakhir, Seible tak bergeming. Dan Zeal sudah tak punya tenaga untuk mendebat. Semua kekacauan malam ini adalah kesalahannya, bagaimana pun juga.
"Ini baru tiga hari, Gin-chan."
"Mm?"
"Kebayang nggak rasanya ditinggal sepuluh hari?"
Zeal menjatuhkan satu kepingan besar kaca yang sebelumnya ia pegang dan membuatnya menjadi serpihan kecil di lantai. Pertanyaan Seible barusan tidak pernah ia pikirkan. Selama ini ia yakin hanya ia yang menderita seorang. Kaelix? Anak itu tidak pernah terlihat terganggu dalam hidupnya.
"Sei—"
"Gin-chan."
Zeal menelan ludahnya.
"Can you lock in?" Seible menatap dalam seraya mengeluarkan senyum termanisnya.
"I ... can. I will."
"Good boy." Lelaki dengan rambut sewarna tembaga itu menepuk kepala Zeal kemudian berlalu. Saat itulah ia dapat bernapas kembali. Namun kedua kakinya terasa seperti agar-agar. Membuat ia terduduk lemas dan bersandar pada kabinet di bawah meja barnya.
Dunianya tiba-tiba berputar.
Lalu semuanya gelap.
Sinar menyilaukan masuk ke bola mata Zeal. Kepalanya terasa berat saat ia berusaha untuk duduk.
"Easy, Zeal." Sepasang tangan bertenaga memegangi kedua sisi tubuh Zeal kala ia menurunkan kakinya ke lantai. Ingin segera pergi ke dapur untuk mencari ibuprofen rasanya.
Zeal menolehkan wajahnya, menatap lelaki di sampingnya.
Freodore.
"Freo ... dari ... tadi?" Pertanyaannya terdengar bodoh saat masuk ke telinga sendiri.
"Lumayan. Dari waktu kamu nge-blank di bar aja. Kamu masih kekeuh mau pulang sendiri, tapi jalan ke toilet aja hampir masuk ke office-nya Seible tadi. I can't trust you."
Zeal tersenyum. Khas Freodore. Selalu tanpa basa-basi.
"Oh .... Sorry for being a hassle."
"No worries. Obat ada di meja. Ada makanan juga buat isi perut. Kamu belum makan 'kan seharian tadi?"
"Mm. Thank you, Freo."
Lelaki itu mengangguk sembari mengambil kursi di samping ranjang. Zeal sendiri meraih obat dan gelas di sampingnya. Lalu membuka kotak yang tertutup alumunium foil berisi pasta.
"Maaf lancang, tadi aku beres-beres tempatmu waktu kamu tidur."
"Oh?"
"I'm sorry. But not really though."
Zeal terkekeh.
"Of course you're not. Thank you, Freo."
"You totally should."
Zeal tertawa lebih keras sekarang. Freodore benar-benar harus ditraktir makanan enak suatu saat. Lelaki ini sudah sangat banyak membantunya. Mengingat bagaimana unit apartemennya sudah seperti tempat pembuangan sampah yang tidak karuan. Aneka barang yang ditaruh sembarangan. Tumpukan cucian piringnya di wastafel. Tumpukan baju kotor di depan pintu kamar mandi. Belum lagi bagaimana lelaki yang memiliki postur tubuh lebih mungil darinya itu harus membopongnya ke mobil, keluar mobil, memapahnya ke lift, lalu ke ranjangnya.
"Acak-acakan ya, semuanya ...? Kayak hidupku."
"Ck. Lebay. Udah coba ditelepon belum?"
"Mm? Siapa?"
Freodore hanya menatapnya dan menaikkan satu alisnya.
"Kalo kangen bilang, Zeal. Kalau ada yang mau diobrolin tuh dilakuin. Penyakit jangan dicari."
"I don't ... missed him."
"Sure. Keep telling yourself that." Nada bicara Freodore terdengar bosan. Lelaki itu beranjak sembari meraih mangkuk kotor dari tangan Zeal. "Mandi gih. Lanjut tidur. Aku beresin ini terus balik, ya?"
Zeal mengangguk dan memastikan ia berterima kasih sebanyak mungkin pada Freodore. Kemudian pergi ke bilik mandinya untuk mendapatkan kucuran air suam-suam kuku mengguyur seluruh tubuh dari ujung kepala ke ujung kaki. Rasanya bersih. Sebelumnya Zeal merasa badannya lengket oleh keringat.
Ia menghabiskan waktu hampir lima belas menit untuk membasuh badan sekaligus menenangkan dirinya. Satu kalimat Freodore masih berputar di kepala. Setelah memilih satu kaus hitam dan celana training berwarna abu, Zeal bergegas menuju laci nakasnya. Namun, niatnya untuk mengambil hair dryer harus tertunda karena perhatian Zeal teralihkan dengan satu lembar foto polaroid yang tergeletak di dasar laci. Nyaris terlupakan.
Adalah ia yang sedang tertawa lepas dengan Kaelix di sampingnya yang juga tengah terbahak-bahak sembari menyandarkan ujung dahinya di pundak Zeal. Foto ini diambil oleh Seible dan lelaki itu jugalah yang menyerahkannya pada Zeal untuk disimpan karena menurutnya foto itu terlalu manis dan intim untuk dipajang di majalah dinding live house sebagai dokumentasi sekaligus promosi Event of The Month yang ditujukan untuk member regular saja.
Keduanya terlihat sangat bahagia.
Ia sendiri lupa mereka sedang menertawakan apa sampai seru sekali seperti itu. Zeal terlihat begitu senang dalam foto itu. Tak sadar, Zeal mengambil foto itu dan menatapnya terlalu lama. Kaelix memang lebih pantas dengan kebahagiaan dibanding keterdiaman yang ia lihat beberapa hari ke belakang. Lama kelamaan, ada rasa panas yang menyelimuti kedua pandangannya.
Oh tidak.
Mungkin, Freodore benar.
Mungkin, Zeal merindukan Kaelix.
Mungkin ini menjadi terlalu banyak.
Mungkin.
*
Keesokan harinya, Zeal sudah bisa kembali masuk kerja. Selalu menyenangkan ada di tengah-tengah Dan betapa semringahnya ia ketika mendengar suara lelaki favoritnya masuk ke telinga.
"Hey, Mas! Kata Seible kemarin kamu nggak masuk, ya? Udah baikankah sekarang?"
"Kae ... apa kabar?"
"Kabar baik. Kamu gimana?"
"Oke. Thanks to Freo."
"Mm, I did. Take care, Mas Ginjoka."
Lelaki itu tersenyum lalu membalikkan badannya untuk kembali bertugas di pintu utama. Zeal belum sempat bertanya, mengapa ia tidak jadi menghabiskan jatah cutinya dan sudah datang untuk bekerja kembali di hari keempat. Melihat Kaelix ada dalam jarak pandangnya, melihat ia sempat memberikan Zeal senyuman—walau Zeal yakin ia tidak salah lihat saat menangkap kilasan khawatir dalam tatapan lelaki berambut perak tersebut. Namun perasaannya masih gusar. Rasanya kurang.
Senyuman Kaelix barusan? Kurang. Suara empuknya yang menyapa telinga? Kurang. Perhatian Kaelix yang biasanya tertuju hanya padanya, tidak ada. Bahkan saat lelaki jangkung itu menoleh padanya saat Zeal sedang menatapnya, Kaelix segera berpaling. Seharusnya, Zeal tidak serakah.
Saat Zeal dengan terang-terangan membuat keadaan di barnya sedikit ricuh dengan membuat dua orang lelaki mabuk memperebutkannya, Kaelix bergerak efisien untuk memisahkan lalu memulangkan keduanya dengan aman. Kemudian ia kembali berjaga dan memeriksa semua kartu identitas tamu seperti biasa di depan pintu utama bagai tidak ada apa-apa. Tidak ada teguran untuk Zeal.
Apa-apaan ini?
Ternyata diabaikan rasanya jauh lebih menyakitkan daripada diomeli.
Sialan.
Ini tidak bisa dibiarkan.
Zeal tidak bisa.
Kala ia melihat Kaelix berjalan ke arah pantri, Zeal berlari kecil menyusulnya. Ia ingin mencoba usulan yang Freodore berikan untuk mengajak Kaelix mengobrol selayaknya manusia yang memiliki akal. Tidak dengan cara kucing-kucingan atau bermain kode seperti tim informatika.
"Hei, Mas?"
Zeal tidak menjawab. Tatapannya terpaku pada satu sosok di hadapannya yang tak segan untuk memamerkan punggung lebarnya dan sepertinya tidak berminat untuk menghadap ke arahnya.
"Mau bikin teh? Sekalian kubikin kalau mau."
Lelaki itu menoleh sekilas lalu kembali pada kegiatannya menyeduh minumannya.
Zeal benar-benar terganggu.
Seperti keberadaannya tidak begitu penting lagi.
"Kae—"
"Ini ada mint, earl grey, chamomi—"
"KAELIX!"
Atas raungannya, Kaelix menoleh cepat. Wajahnya sontak terkejut.
"AKU SALAH APA!?"
Kaelix menatapnya dengan wajah tak mengerti. Suara Zeal yang tinggi tadi mengingatkannya pada kejadian beberapa tahun lalu saat ia hilang kendali. Saat-saat terakhir kala hubungannya di ujung tanduk dengan sang kekasih.
Hening beberapa saat.
Zeal dapat mendengar napasnya yang berkejaran.
Jika Kaelix ingin lari darinya, seharusnya ini adalah saat paling sempurna.
Namun, lelaki itu malah melangkah mendekat. Satu tangannya bergerak untuk meraih Zeal. Kedua pandangannya melembut. Zeal tidak mengantisipasi bahwa ini adalah gestur yang akan diberikan Kaelix padanya. Bukannya balik teriak dan menyalahkan Zeal atas tingkah absurdnya akhir-akhir ini.
Sesaat kesadaran menghampirinya seperti air es yang disiramkan langsung di atas kepala.
Ia dengan berengseknya baru saja meneriaki Kaelix.
His Darling Bouncer.
"Kaelix ... I-I'm sorry ...."
Kaelix menggeleng dengan wajah khawatir. Zeal berjalan mundur. Kini, ada luka menghampiri wajah cantik Kaelix.
"Enggak apa-apa. Kita ngobrol di dalem yuk, Mas? Di office, Please?"
Manis sekali.
Zeal tidak pantas menerima ini.
"N-no. I can't. I'll hurt you more. I'm sorry."
Lalu seperti itulah. Zeal membalikkan badan untuk keluar dari pantri kemudian pergi dari live house untuk kembali pulang ke apartemen dinginnya. Ia butuh kembali meringkuk di atas lantai dinginnya lagi. Kepalanya yang berisik butuh waktu menyendiri.
Meninggalkan Kaelix yang masih tak mengerti.
Zeal masih mengingat jelas bagaimana wajah tampan anak itu begitu terluka. Efeknya menyesakannya juga.
Ia telah menyakiti Kaelix.
Mentari paginya.
Jam dinding menunjukkan pukul empat pagi. Zeal terbangun dengan kondisi yang payah. Semua sendi di tubuhnya seperti kaku. Mungkin efek ketiduran di lantai ruang tengah setelah lelah menangis sebelum berganti baju.
Kepalanya pengar seperti telah menenggak tiga botol tequila sendirian. Perutnya keroncongan. Ia menyeret langkahnya ke dapur untuk mengambil mie instan untuk diseduh lalu meninggalkannya.
Jemari kaki Zeal sempat terantuk kaki meja makannya sendiri, membuatnya mengumpat kencang lalu meringis nyeri sampai ke depan pintu kamar mandi.
Sudah lima jam sejak tragedi "obrolan yang gagal" tadi dengan Kaelix di pantri. Perasaan Zeal masih belum membaik. Masih ada yang mengganjal. Tidak heran, setelah meneriaki manusia favoritnya tadi, dengan gagahnya ia kembali berlari. Menghindari semua yang seharusnya ia hadapi. Setelah merutuki kelakuannya dan samakin pusing akibat jambakannya yang kuat atas rambutnya sendiri, Zeal mengambil ponselnya dan menatap nomor telepon Kaelix.
Tidak, ia masih sangat malu.
Ada satu info yang muncul di bagian atas layarnya berupa Kaelix yang menanyakan kabarnya yang tak ayal membuat Zeal kembali nyeri. Pesan yang kemarin ia damba-dambakan akhirnya muncul juga. Namun apa bayarannya?
Ia harus membalas pesan Kaelix, itu betul, namun Zeal perlu berbicara dengan Freodore sebelumnya. Sebelum ia melakukan hal tolol lainnya.
"Freo, hai? Sori, ganggu istirahatnya."
"Are you okay, Gin-chan?"
Oh, tidak.
"Seible?"
"Furi-chan tidur. You good?"
"Oh? Oke. Sori ganggu, Sei ...."
"Cut it, Gin-chan. Ada sesuatu ya, malem ini? Kae-chan keliatannya nggak oke."
"Gitu? Dia nggak kenapa-napa 'kan, Sei?"
"Aku nggak yakin. Dari tadi perhatiin hp-nya terus. Anaknya tepar di sofa live house sekarang. Semoga nggak masuk angin ya, dia."
Oh.
"Aku ke sana sekarang."
"Udah malem, Gin-chan. Nanti malam 'kan ketemu lagi."
"Nggak bisa, Sei. Harus ketemu sekarang."
"Honestly, that's nice. Fix it, Gin-chan. It's tiring to see."
" ... will do, Sei. Makasih banyak."
Tidak sampai setengah jam, Zeal sudah tergopoh-gopoh memasuki pintu tempat kerjanya. Tidak ada nyali untuk menyetir sendiri, lelaki itu memakai taksi subuh ini. Sadar diri bahwa tubuhnya tidak dalam kondiri prima dan kepalanya terlalu berisik untuk berkendara sendiri.
Saat memasuki ruangan yang kini sudah sepi dan dalam kondisi minim pencahayaan, mata Zeal memindai segala sudut untuk mencari bouncer favoritnya, kesayangannya. Saat mendengar napas halus yang berasal dari salah satu set sofa di area lounge, ia berlari tanpa suara untuk menghampirinya. Kerja jantungnya berkali lipat lebih cepat—entah karena terlalu banyak berlari atau terlalu bersemangat tadi. Tak masalah. Ia sudah menemukan yang dicarinya.
Di situlah Kaelix Debonair tengah tidur dalam kondisi menyamping. Terlihat damai dan tenang.
Berusaha tidak mengeluarkan suara, Zeal mengambil duduk di lantai, tepat di hadapan Kaelix. Mengamati bagaimana dada lelaki itu naik dan turun dengan teratur. Bagaimana bulu matanya terlihat panjang saat memejamkan mata. Bagaimana beberapa rambut selembut suteranya jatuh nakal menutupi pipi. Dengan takut-takut, Zeal mengulurkan satu tangannya. Ia merapikan helaian rambut yang menutupi wajah tampan Kaelix. Belum apa-apa, Zeal sudah harus menutup mulutnya karena tiba-tiba air mata deras mengganggu penglihatannya. Napasnya tersengal. Dan ia berusaha mati-matian untuk meredam isaknya.
Tak menyadari lelaki di hadapannya mulai bergerak bangun dengan segala bunyi-bunyian di sekitarnya.
"Mm ... Loh? Mas?"
"Kae ...."
"Mas Ginjoka? You good?"
"Eh, kok? Mas kenapa? Mas sakit? Eh, kok nangis?"
Air mata tidak berhenti dari kedua mata Zeal dan ia semakin meraung kala Kaelix merosot dari sofa tempatnya berbaring barusan untuk bersimpuh di lantai dan merengkuhnya dalam dekapan.
"It's okay, Mas. It's okay."
It is not okay.
"You're good. You're okay. I'm here."
"Kae ...."
"Iya, ini Kaelix. Kaelix di sini."
"Kangen Kaelix."
Zeal merasa dekapan Kaelix menguat.
"Kangen sekali ...."
"Mm. Kaelix kangen Zeal juga."
Mungkin seharusnya Zeal menjauh dari dekapan Kaelix untuk menangkup wajah itu dan membawanya ke dalam ciuman panjang. Namun Zeal hanya bisa meraung putus asa. Jika Kaelix ingin lari darinya, seharusnya ini adalah saat paling sempurna. Kala ia memperlihatkan dirinya yang hancur dan histeris tanpa daya. Pandangannya buram, napasnya sesak, hidungnya dialiri ingus. Zeal yang ini bukan Mas Ginjoka yang bisa membuat Kaelix salah tingkah.
Seharusnya Kaelix pergi saja.
"Kaelix 'kan pernah bilang. Kaelix nggak akan ke mana-mana," suara lembut Kaelix masuk ke dalam rungunya. Mungkin barusan Zeal tak sengaja menyuarakan isi kepalanya.
Kaelix tidak akan ke mana-mana.
Akan tetap bersamanya walau yang ia perlihatkan adalah sisi jeleknya.
Kaelix tidak akan ke mana-mana.
Tangisannya tumpah ruah tak tertahan dan isakannya heboh sampai membuat napasnya terasa makin sulit. Zeal merasakan pelukan Kaelix merenggang yang segera ia eratkan kembali dengan penuh ketakutan. Gerutan di belakang kemeja Kaelix pasti akan membuat kostum lelaki itu kusut. Biarlah. Zeal masih tak sudi Kaelix menjauh darinya. Rasanya kian sukar mengais napas. Rasanya ingin mati saja.
Tapi Zeal tidak mau tidak bisa merasakan hangatnya dekapan Kaelix seperti ini lagi.
Zeal masih ingin hidup dan bebas bernapas.
Mengapa begitu sulit?
"Zeal ...."
Pelan.
Suara Kaelix lembut memanggilnya.
"Zeal bisa denger Kaelix?"
Lembut.
Tepat di telinganya.
Zeal mengangguk.
"Zeal bisa tarik napas bareng Kaelix?"
Ia kembali mengangguk. Dapat dirasakan usapan di punggungnya yang membesarkan hati.
"Hitungan tiga, kita tarik napas bareng, ya? Satu ... dua ... yes, kayak gitu."
Zeal memejamkan matanya. Mempersilakan oksigen masuk ke dalam paru-parunya yang sebelumnya terasa menghimpit tanpa udara perlahan.
"Buang pelan. Bareng Kaelix kayak tadi. Bisa, ya? Satu ... dua ... tiga."
Beberapa kali mereka melakukan itu. Barulah Zeal perlahan melonggarkan pelukannya untuk kemudian kembali duduk tegak, menjauh dari hangat tubuh favoritnya, parfum favoritnya. Perlahan, Kaelix melakukan yang sama. Sampai Zeal bisa melihat satu wajah yang ia rindukan beberapa minggu ke belakang.
"Kae ...?" Zeal mengulurkan satu telapak angannya. Mengusap pipi kiri Kaelix hati-hati. Khawatir jika lelaki di hadapannya hanya terbuat dari angan dan akan menguap saat ia coba sentuh. Namun kedua telapak tangan Kaelix menangkup punggung tangannya. Pipinya mengusapkan diri pada sentuhannya.
"Kaelix ...."
Lelaki yang disentuhnya mengangguk. Sepasang matanya berkaca-kaca saat menatap Zeal. Rasanya dunia Zeal mau runtuh.
Mengapa kedua bola mata cantik favoritnya itu terlihat begitu terluka?
"Mm, ini Kaelix. Bukan yang lain."
Bukan yang lain, katanya.
Ini Kaelix, katanya.
Kaelix Debonair.
Zeal kembali mengulurkan satu tangannya yang lain untuk sepenuhnya menangkup wajah lelaki di depannya yang terlihat sedikit pucat. Ada kantung mata yang berusaha untuk ditutupi oleh riasan, tapi Zeal terlalu hafal bagaimana wajah normal dan sehat milik Kaelix. Dan wajah di hadapannya kini, bukan Kaelix yang itu.
"Kaelix ...."
"Mas Ginjoka. Kamu bisa cerita ke Kaelix apa aja yang bikin kamu risau. Apalagi kalau itu berhubungan sama Kaelix. Kaelix mungkin bisa bantu bawa beban kamu. Jangan dipikul sendiri. Nanti kamu capek. Bagi sama Kaelix. Ya?" Suaranya lembut sekali.
"Nanti Kaelix ikut capek ...."
"Enggak apa-apa. Asal Mas nggak capek sendirian, Kaelix mau bantu."
"Kaelix bakal banyak capeknya kalo jalan sama Mas ...."
"Do you think I mind? I will tell you when I need your help back, when I need to rest for a bit. I'm an open book for you to read. I have no sleeves, you see?" Keduanya terkekeh sengau menyedihkan sembari mengelap ingus yang turun dengan punggung tangan.
"Poor Kaelix Debonair ended up with Zeal Ginjoka ...." Zeal mengusap pipi yang lebih muda dengan sayang dan Kaelix seketika mengeluarkan wajah ngambek imutnya.
"How dare you saying bullshitery like that? The last thing I checked, that Ginjoka guy made Debonair boy so happy easily. Even when he's annoying sometimes."
Oh, Zeal betul-betul telah jatuh cinta.
AKhirnya ia mampu juga mengatakan itu.
"The Debonair boy just so kind to him."
"Nuh-uh. I just have so much love to give. You can take it whenever, however you want, Mas Ginjoka. Let's just try with me. You don't have to be scared anymore. It's just me. Kaelix. Your Darling Bouncer, okay? Pretty please?"
Janji yang manis. Harapan yang berbahaya. Permintaan yang mematikan.
Tidak ada jaminan hasil dari kalimat itu akan berjalan sempurna. Tidak pernah ada jaminan untuk hidup bahagian selamanya. Namun kali ini, Zeal memilih untuk mempercayainya.
Ia akhirnya mengangguk.
"My Darling Bouncer Kaelix."
"Mm hm. Your Kaelix."
Keduanya bersitatap. Oh, betapa Zeal merindukan sepasang mata sedalam samudera ini.
"I missed yours too. So much," bisik Kaelix merdu di atas bibirnya.
Oh, apakah ia mengatakan isi kepalanya barusan?
Entahlah. Yang Zeal rasakan kini adalah hangat kecupan Kaelix menyentuh bibirnya. Ia bisa merasakan bagaimana gemetarnya lelaki di hadapannya. Maka ia mengulurkan tangannya untuk meraih tengkuk Kaelix dan membawanya lebih dekat, lebih dalam, lebih yakin dan mengerti pada bahasa yang tubuhnya sampaikan.
Ini cuma Kaelix.
Zeal tidak perlu takut.
Dan ini hanya Zeal.
Zeal Ginjoka-nya Kaelix.
Kaelix tidak perlu ragu.
"Nungguin ginian aja hampir tiga taun, harusnya kita dapet reward nggak sih, Sei? Sei, are you crying?" Dari tempat persembunyiannya di belakang tirai panggung berwarna hitam, Freodore menoleh ke belakang bahunya hanya untuk mendapati partner mengintipnya sedang menunduk dan terisak.
Seible tidak segera menjawab. Wajahnya tenggelam dalam kedua telapak tangannya yang kini sedang Freodore coba untuk pisahkan. Seible masih sibuk kepayahan menyeka air matanya terus-menerus dengan punggung tangannya.
"Hey, Seible, look at me."
"Nggak."
"Aww, look at you. Our Sei-chan is crying."
"Shut it, Freo. Bukannya dipukpuk malah dikata-katain."
Freodore tertawa. Freo, katanya. Bukan Furi-chan seperti biasanya. Pandangannya melembut. Ia kemudian mendekat sembari meraih pria berbahu bidang yang lebih tinggi darinya sebagaimanapun ia sudah memakai sepatu berhak tinggi.
"Come here, Seible."
Kali itu, Seible menurut.
Tidak ada kalimat-kalimat manis yang diucapkan dari bibir tipis Freodore. Lelaki itu hanya mendekap Seible dalam diam. Satu telapak tangannya bergerak mengusap punggung lebar bosnya. Satu telapak tangan mengusap pelan belakang kepala lelaki di rengkuhannya. Dan Seible menangis dalam damai tanpa suara. Hanya bahunya yang naik turun menandakan lelaki itu tidak sedang ketiduran karena posisinya terlalu nyaman.
Sampai beberapa saat berlalu dan lelaki itu berbisik dengan suara beratnya.
"Thank you, Furi-chan."
"Mm. Anytime, Mr. Promoter. I got you. Always."
Freodore pasrah kala merasakan pelukan seketat lilitan anakonda melingkupi tubuhnya dan geraman gemas Seible soal Furi-chan manis banget! Aku nggak kuat! yang berulang-ulang.
Ia yakin akan sakit badan setelah ini.
Tidak masalah.
*
