Work Text:
Melihat sang senior mabuk bukan hal yang aneh. Toh minum-minum adalah acara rutin perusahaan yang mau tak mau harus mereka ikuti (meski berakhir tak sadarkan diri). Jongseong cukup tahu diri untuk tidak memaksakan diri. Kalau akhirnya ia bertingkah memalukan, tentunya hanya akan menambah aib yang sudah ada saja.
Tapi hari ini, sungguh, seniornya betul-betul tidak tahu diri. Sudah tahu punya toleransi rendah, tapi tetap memaksakan diri sampai merah (kalau disandingkan dengan kepiting rebus di pasar mungkin tidak ada bedanya). Memaksakan diri memang akan selalu ada dalam kamus Heeseung. Dan akan tetap ada meskipun Jongseong sudah berkali-kali dan bersusah-payah menyeret lelaki itu kembali ke apartemen.
“Di sini saja. Di sini,” rengek Heeseung sambil menepuk sisi sofa yang kosong.
Apa? Apa maksud seniornya itu menyuruh Jongseong duduk bersama orang mabuk? Ia mau kembali ke apartemennya yang hanya beda lantai itu.
“Aku mau pulang, Heeseung-sunbae. Aku mau tidur,” tolak Jongseong—meskipun ia masih berdiri di depan pintu, sih. Rasa hormat pada seorang Lee Heeseung lebih tinggi dari rasa ingin tidurnya.
Tapi kemudian kekehan pelan itu muncul. Bibirnya tersenyum lebar. Matanya juga ikut tersenyum walau sedang memejam. Jongseong sudah berkali-kali disuguhi pemandangan ini dan sudah berkali-kali pula berakhir tidak jadi pulang.
Ia berjongkok, kemudian menyandarkan bahu pada pintu. Ya Tuhan, cobaan apa lagi ini? Kenapa yang ini selalu datang bertubi-tubi?
“Yang benar saja,” gumamnya resah sambil mengalihkan tatap. Melihat sang senior dengan ekspresi itu sungguh mematikan. Tampang garang dan seriusnya di kantor jadi luntur. Sementara itu, Jongseong tidak bisa menormalkan debar dadanya.
Alkohol. Itu alkohol. Aku juga mabuk. Begitu suara yang terus-terusan ia putar di dalam kepala.
Tapi begitu Lee Heeseung berkata, “Di sini kan juga bisa tidur,” Jongseong menyerah.
Malam-malam seperti ini selalu berakhir sama. Sang junior melepas sepatu dan kaus kaki seniornya, lalu menggendong badannya ke kamar.
Heeseung biasanya langsung tidur (masih dengan senyum lucu di wajah yang membuat Jongseong mendadak tidak mau pulang). Jongseong yang kesulitan tidur. Termasuk kesulitan pergi juga karena Heeseung biasanya langsung menarik lengan lelaki itu dan menjadikannya guling hidup. Demi kenyamanan sang senior, Jongseong memilih berpura-pura mati saja.
Mungkin begitu lebih baik daripada melewati batas karena jarak mereka yang terlampau dekat.
