Actions

Work Header

when you call my name

Summary:

Semalam pasti Heeseung bertingkah kelewat aneh saat mabuk. Sebagai senior yang baik, sekarang saatnya untuk berterima kasih karena mau direpotkan seseorang yang seharusnya tidak mengganggu di hari libur.

 

ENHYPEN © Belift Lab

Work Text:

Terkadang mendengar deretan titel dari sosok yang lebih muda akan membuat seseorang merasa terancam. Lee Heeseung tidak begitu. Semakin kompeten sosok yang akan membantu pekerjaannya, maka semakin cepat pula semua selesai. Prinsip sederhana itu yang membuatnya santai saja menerima anak baru lulusan universitas di Amerika.

Semua ketua tim terlanjur minder mendengar kata “Amerika”. Padahal semua lulusan universitas manapun sama-sama manusia yang butuh pekerjaan. Lebih-lebih lagi, ternyata seorang Park Jongseong cukup cakap dalam memahami instruksinya.

Walaupun mungkin terdapat perbedaan budaya dan bahasa selama kuliah dan kerja, ia tetap membuka diri terhadap kritik dan masukan terhadap kinerjanya. Anak baru itu tidak terlalu banyak tingkah. Entah karena di Amerika memang begitu atau didikan orangtua sejak kecil (Heeseung yakin yang kedua). 

Apapun itu, yang penting Park Jongseong bekerja dengan baik. Heeseung hanya tidak menyangka bahwa ia sebaik itu ketika mengurusi dirinya saat mabuk.

Sejujurnya Heeseung tidak kuat minum terlalu banyak. Ia biasa menenggak satu dua gelas sebelum menolak sambil senyum-senyum. Tapi di malam penyambutan anak baru itu, ia kelepasan. Mungkin Heeseung sudah habis sekitar enam gelas ketika merasakan badannya semakin panas dan matanya semakin berat.

Mampus. Hanya itu saja yang terlintas di dalam kepalanya. Samar-samar beberapa orang berceletuk secara bersamaan di meja dan membuatnya semakin bingung. Enam gelas itu sungguh… tidak tahu diri. Heeseung hanya tinggal seorang diri dan pulang dalam keadaan mabuk sungguh… merepotkan.

“Heeseung-sunbae, kita searah. Muka sunbae merah sekali, biar kuantar pulang.”

Suaranya sangat familier. Hanya saja pikiran Heeseung sudah tidak sanggup untuk mengingat-ingat hal lain. Yang terpenting sekarang hanya memberikan alamat lengkap apartemennya pada sosok itu, kemudian ia baru bisa mabuk dengan leluasa.

Sudah.

Semuanya berlalu secepat kilat. Heeseung baru sadar ketika hari sudah berganti dan ia menemukan Jongseong, anak baru dari Amerika itu, di tempat tidurnya.

Dengkus resah lolos dari mulut. Semalam pasti Heeseung bertingkah kelewat aneh saat mabuk. Sebagai senior yang baik, sekarang saatnya untuk berterima kasih karena mau direpotkan seseorang yang seharusnya tidak mengganggu di hari libur.

Jadilah sang pemilik kamar keluar terlebih dahulu dan memasak mie instan untuk porsi dua laki-laki dewasa.

Ketika Jongseong bangun dari tidurnya yang entah hanya berapa lama itu (matanya masih merah-merah kurang tidur), ia malah tampak seperti sedang mengulum senyum. Ekspresi itu tidak berubah bahkan sampai mereka selesai makan.

Saat mengucap terima kasih pun, Jongseong seolah menghindari bertatapan dengan Heeseung.

Semuanya baru kembali normal hari Senin selanjutnya di tempat kerja. Heeseung belum sempat bertanya apa-apa. Ia tidak terlalu gemar mencampurkan hal pribadi dan pekerjaan. Jadilah lelaki itu memang tidak tahu apa-apa soal Park Jongseong.

Ia baru perhatian saat kebetulan mereka benar-benar pulang searah bersama. Jongseong biasanya tidak pernah ada di sana, di bus yang sama dengannya. Tidak pernah pula terlihat masuk di gedung apartemen yang sama dengannya.

“Hati-hati, Heeseung-sunbae,” ujarnya singkat sebelum Heeseung hendak keluar dari lift. 

Anggaplah anak baru dari Amerika ini cukup kaya karena unit apartemennya ada di lantai yang lebih tinggi. Ia juga sangat menjaga kesopanan walaupun sama sekali tidak bertukar kata sepanjang jalan.

“Hati-hati juga, Jongseong-ah.”

Setelah itu, setelah Heeseung mengucap salam balik itu, sekilas ia bisa mengintip ekspresi terkejut yang secepat kilat ditutup-tutupi oleh kedua tangan.

Apa itu? Kenapa dia malu?

Series this work belongs to: