Actions

Work Header

breath in

Summary:

“Bisa masak samgyeopsal?”

Jongseong mengangguk.

“Kau punya pacar?”

Apa? Apa motivasinya bertanya seperti itu?

 

ENHYPEN © Belift Lab

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Makan malam perusahaan, minum-minum, mabuk, Heeseung-sunbae, taksi, apartemen, disenyumi, kurang tidur, mie instan. Rutinitas itu sudah berjalan kurang lebih tiga bulan. Selama itu pula Jongseong selalu kembali ke unit apartemennya dalam kondisi kacau balau.

Anggap saja selama tiga bulan itu pula ia mati-matian berusaha menjadi profesional di kantor dan menjaga hatinya sendiri. Namun semakin lama, semakin sulit pula untuk menahan otaknya untuk tidak memunculkan pikiran-pikiran aneh.

Pernah suatu kali ia membayangkan bagaimana semisal bibirnya mendarat di bibir sang senior ketika menjadi guling hidup. Untung saja kewarasan berhasil mengambil alih dan menyelamatkan malam.

Bagaimana kalau tidak? Bagaimana kalau suatu hari, di makan malam perusahaan lainnya, Jongseong lebih mabuk dari Heeseung? Apa yang akan seniornya itu lakukan?

“Kau tidak bosan kusuguhi mie instan setiap datang ke sini kan? Aku tidak terlalu percaya diri dengan masakanku yang lain,” celetuk Heeseung membuyarkan lamun.

Mereka berada di situasi yang sama lagi selepas kurang tidur yang kesekian kalinya. Jongseong sedang menahan senyum sekuat tenaga. Ia tidak mau sang senior mempertanyakan bagaimana raut sumringah itu bisa terbentuk. 

“Jongseong-ah.”

Yang dipanggil tiba-tiba terkesiap. Jongseong mungkin akan jatuh dari kursi bila saja ia tidak berpegangan pada meja makan.

Heeseung-sunbae tadi bicara soal apa? Memasak?

“Aku bisa memasak,” sahut Jongseong tanpa pikir panjang.

Sang senior sedikit memiringkan kepala sambil menatap ke depan. Itu gestur yang menunjukkan ia ingin lawan bicaranya menjelaskan lebih lanjut. Percaya atau tidak, mulut Heeseung mengerucut ketika sedang bertanya-tanya. Dan Jongseong (tentu saja) setuju bahwa itu adalah salah satu ekspresi mematikan lainnya yang Heeseung miliki.

Karena… astaga… lucu sekali. Wajah tampan itu sungguh menggemaskan.

“Kau memasak di apartemenmu? Sendiri?”

Angguk kecil menjadi balas.

“Biasanya masak apa?”

“Pasta… kadang steik. Lebih sering makanan barat,” jelas Jongseong (kali ini tidak sambil bengong), “kadang aku memasak apa yang temanku suka saat kuliah. Aku agak percaya diri membuat kare Jepang.”

“Temanmu orang Jepang?”

Angguk kecil menjadi balas (lagi).

“Bisa masak samgyeopsal?”

Jongseong mengangguk.

“Kau punya pacar?”

Kepala yang sejak tadi mengangguk kini hanya mendongak. Mata mengerjap kaget sementara mulut bergumam kecil. Apa? Apa motivasinya bertanya seperti itu?

Heeseung terkekeh pelan (manis, seperti biasa), lalu mengklarifikasi, “Aku hanya basa-basi. Jangan dipikirkan.”

Mana bisa?

“Lain waktu kita bisa bertukar. Aku yang bayar taksi. Kau yang memasak sarapan,” celetuk Heeseung (pasti tanpa pikir panjang karena ia tidak akan sadar sudah membuat pikiran Jongseong ke mana-mana).

Jongseong menunduk, menatap mangkuk mie yang kosong sambil menyahut pelan, “Yang penting sunbae jangan mabuk duluan.”

Hyung saja,” koreksi Heeseung.

Sunbae, aku rasa aku harus mandi. Badanku agak bau,” kilah Jongseong. Mengalihkan topik itu sangat perlu sebelum ia berpikir bahwa seorang Lee Heeseung sedang mengajukan proposal untuk berbagi tempat tinggal.

Heeseung hanya ber-oh ria. Katakanlah Jongseong sedang percaya diri karena ia senang Lee Heeseung betah mengobrol dengannya (walaupun ia tidak betah menahan salah tingkah lebih lama lagi).

Pelan-pelan Jongseong bangkit dari kursi sambil terus membungkuk. “Samgyeopsal-nya ide bagus. Kurasa kita bisa melakukannya kapan-kapan. Sunbae bisa berkirim pesan. Terima kasih makanannya!”

Itu kata-kata terakhir Jongseong sebelum kabur dari sana. Ia masih bisa samar-samar mendengar teriakan Heeseung yang menyuruhnya memanggil dengan “hyung” saja. Tapi tidak bisa. Tidak. Alih-alih “hyung”, Jongseong lebih ingin memanggil dengan “sayang”.

Oh, pikiran aneh macam apa itu? Bertatap muka setelah tidur satu kasur saja Jongseong tidak sanggup. Beraninya ia berpikir bisa memanggil Lee Heeseung dengan sebutan “sayang”.

Kamar mandi lantai atas sungguh berisik pagi itu karena salah satu penghuninya berteriak-teriak sambil menyalakan shower.

Notes:

aku nggak tau kenapa cerita ini jadi berbuntut panjang dan entah bagaimana ini bakal kelar. tapi... ya... oke. I'm gonna enjoy every moment I use to work on this series 👍

Series this work belongs to: