Actions

Work Header

uncomfortable yet sweet

Summary:

Hanya saja, soal mengakrabkan diri, Heeseung masih ingin memperjuangkan yang satu itu. Ia merasa aneh ketika Jongseong jadi kikuk bersebelahan dengannya di lift. Ia merasa aneh juga kalau Jongseong menyerahkan laporan mingguan tanpa menatap matanya.

Astaga, apa ada yang salah dengan mukanya?

 

ENHYPEN © Belift Lab

Work Text:

Setelah lebih perhatian pada sosok Park Jongseong, Heeseung jadi melihat suasana dengan sudut yang berbeda. Ia mulai menganggap lelaki itu sebagai teman. Teman karib. Ia rasa rutinitas membuat mereka cukup dekat dan Jongseong dasarnya memang bisa diandalkan. Orang seperti itu memang sangat cocok dijadikan sekutu.

Hanya saja ada satu hal yang agak sulit berubah. Panggil-memanggil.

Heeseung sudah berkali-kali bilang pada Jongseong untuk menganggapnya sebagai kakak dekat alih-alih senior kantor. Sebutan sunbae membuat mereka terkesan berjarak walaupun Jongseong selalu menginap di apartemennya setelah acara minum-minum kantor.

Itu bukan kemauan Jongseong. Heeseung yakin ia hanya merasa ragu meninggalkan orang mabuk parah sendirian (apalagi seniornya). Terkadang orang merasa harus bertanggung jawab terhadap sesuatu walaupun itu bukan tugasnya. Terutama apabila itu mempertaruhkan posisi mereka dalam pekerjaan.

Heeseung jelas sangat berpengaruh pada kehidupan kerja Park Jongseong. Walaupun ia sebenarnya pun biasa saja bila ditinggal di apartemen sendirian dalam keadaan mabuk, menjaga Heeseung adalah sesuatu yang mungkin terbesit di benak Jongseong sebagai tanggung jawab.

Sang senior hanya berharap Jongseong bisa lebih santai dan tidak terlalu keras pada dirinya sendiri sampai bertingkah canggung. Saat pagi tiba, Heeseung selalu aktif bertanya-tanya. Basa-basi tidak penting yang sangat sering ia hindari ketika bercengkrama dengan orang kantor. Mungkin dalam kasus Jongseong, basa-basi itu bisa membuka kedekatan (dalam ranah profesional).

Namun basa-basi pagi itu sepertinya terlalu berlebihan. Jongseong tampak tidak nyaman (terkejut) dengan pertanyaannya soal pacar. Padahal ia hanya menyiratkan bahwa seseorang yang perhatian dan pandai memasak itu populer di kalangan wanita. Hanya itu.

Meski begitu Heeseung tidak mau berspekulasi apa-apa. Toh Jongseong punya pacar atau tidak, tidak akan membuat perbedaan yang besar pada hidupnya.

Hanya saja, soal mengakrabkan diri, Heeseung masih ingin memperjuangkan yang satu itu. Ia merasa aneh ketika Jongseong jadi kikuk bersebelahan dengannya di lift. Ia merasa aneh juga kalau Jongseong menyerahkan laporan mingguan tanpa menatap matanya.

Astaga, apa ada yang salah dengan mukanya?

Jadilah seluruh gusar itu meledak di sore hari. Besok hari libur. Tidak ada acara minum-minum kantor. Cocok sekali.

“Jongseong-ah, kau ada acara nanti malam?”

Seperti biasa lelaki itu hanya melirik sekilas lalu segera mengalihkan tatap. Sepanjang mengajaknya pergi, sekalipun Jongseong memandang dirinya, Heeseung tahu jelas mata itu sedang mengarah pada jidatnya.

“Bagaimana kalau makan bersamaku sekalian pulang? Apa ada restoran yang ingin kau kunjungi?”

Kalau soal makanan, dengan mengejutkannya, Jongseong selalu tanggap. Sifat malu-malunya belakangan ini jadi luntur, lalu tiba-tiba ia berubah menjadi pemandu acara kuliner di televisi.

Tujuan mereka adalah restoran barat di perjalanan pulang. Tempat itu cukup megah dengan kursi-kursi berbalut beludru dan satu set peralatan makan di atas meja (tak lupa dengan gelas anggurnya juga). Heeseung perlu berpikir ribuan kali sebelum singgah ke tempat seperti ini, namun Jongseong melangkah masuk seolah-olah ia punya kartu keanggotaan di sana. Terbiasa tinggal di luar negeri memang beda.

Sunbae mau pesan apa?”

Heeseung mendongak, agak tersentak karena istilah-istilah asing pada buku menu di tangannya. Ia mungkin pernah melahap spaghetti carbonara atau bolognese, tapi nama menu di sini tidak sesederhana itu.

“Kalau mau, aku bisa menyarankan menu yang sesuai dengan selera sunbae.”

Heeseung sangat setuju dengan ide itu.

“Sesuatu yang… pedas?”

Jongseong mengangguk paham dan sepertinya, walaupun hanya menyebut “pedas” sebagai kriteria, ia tetap tahu menu apa yang cocok untuk lidah oriental. Pasta pesanannya enak dan sesuai selera.

Hanya saja ketika hendak meminum cairan bening yang dituang pelayan, Jongseong dengan sigap menahan. “Sunbae, itu anggur.”

Ah, benar juga. Akan sulit kalau Jongseong harus menggotong orang mabuk untuk kesekian kalinya.

“Airnya di gelas yang pendek,” jelas Jongseong sambil menunjuk dengan tangannya.

Heeseung harus sadar diri, setidaknya sekarang. Saat ada kesempatan untuk mengakrabkan hubungan, ia harus memanfaatkannya sebaik mungkin.

“Terima kasih,” sahutnya pelan sembari meminum air yang ditunjuk.

Ia selamat dari mabuk, tapi tidak selamat dari perasaan terbebani karena Jongseong sudah lebih dahulu mengulurkan kartu untuk membayar makan malam mereka. Ketika Heeseung bertanya berapa nominal yang mereka habiskan (ia ingin menggantinya), Jongseong langsung menolak. Sungguh, harganya pasti tidak sebanding dengan dua porsi lelaki mie instan di pagi hari.

Mereka sekali lagi bersisian dalam lift. Lantai apartemen Heeseung sudah hampir dekat dan ia masih berpikir bagaimana cara mengusir kecanggungan yang masih ada ini.

“Lain waktu—,”

“Heeseung-sunbae.”

Keduanya saling melirik satu sama lain dengan raut bingung. Tapi Heeseung yang lebih dahulu berinisiatif.

“Ada apa, Jongseong-ah?”

Sun—eh, h-hyung duluan.”

“Lain kali biar aku yang traktir,” ucap Heeseung cepat.

Nomor lantainya akan tertera di layar sebentar lagi dan Jongseong hanya mengangguk saja. Percakapan di luar kantor mereka akan berakhir di sana dan baru mulai lagi setelah acara minum-minum kantor yang entah kapan terjadi.

Pintu lift terbuka. Heeseung masih bingung berat. Namun tiba-tiba langkahnya ditahan oleh tarikan tangan. Lelaki itu diam di tempat walaupun pintu sudah tertutup kembali dan lift sudah berpindah naik. Tangan yang menggenggamnya terasa basah oleh keringat.

“Heeseung-hyung, mau… minum di tempatku?”

 

Series this work belongs to: