Work Text:
Jongseong menganggap dirinya sendiri lancang sepanjang makan malam. Cabernet sauvignon mungkin pasangan yang cocok untuk pasta tomat pedas rekomendasinya. Tapi jujur ia tidak ingin melihat Lee Heeseung dalam kondisi mabuk sekarang.
Entah hal buruk apa yang akan terjadi bila senyum manis itu muncul ke permukaan dan menyerangnya. Jadi refleks mengambil alih dan mengarahkan sang senior untuk meminum air mineral biasa yang tidak memabukkan.
Heeseung tampak terima-terima saja (walaupun pasti bukan karena memikirkan perasaan Jongseong). Hanya saja raut terkejut itu tampak sangat kentara. Jongseong jadi merasa amat bersalah.
Mungkinkah Heeseung-sunbae ingin minum tapi tidak jadi karena merasa dirinya sedang dilarang untuk itu?
Mungkin. Ya, mungkin.
Maka buru-buru ia membayar makan malam mereka sebagai permintaan maaf tersirat, lalu (setelah berpikir cukup lama) menawari lelaki itu untuk minum di apartemennya. Kelewat tolol memang.
Jongseong punya beberapa botol di apartemen yang ia simpan sebagai teman makan. Ia sama sekali tidak menyimpan botol-botol anggur itu untuk tujuan tidak senonoh (seperti membuat Lee Heeseung mabuk dan gantian tidur di kasurnya).
Tapi bila ia biarkan Heeseung tetap seperti ini, balas menggandeng tangannya (dengan polos) sambil menunggu lift naik, semua itu mungkin. Bahkan pikiran tidak senonohnya mungkin juga bisa terjadi.
“Kau yakin mau menghidangkanku anggur ini?” celetuk Heeseung sambil duduk di kursi bar. Tatanan apartemen memang Jongseong sesuaikan dengan seleranya. Terutama dapur.
Ia ingin dapur yang nyaman untuk masak-memasak dan makan malam. Siapa tahu mungkin tambatan hatinya di masa depan akan menginap di sini. Saat pertama kali merancang, Lee Heeseung belum masuk dalam hidupnya. Jadi ini murni kebetulan. Bukannya ia merancang dapur ini agar Lee Heeseung duduk di kursi dan meminum anggur sampai telinganya memerah.
“Sun—hyung sudah mabuk?” tanya Jongseong dengan suara sekecil mungkin. Ia ragu antara harus menyuarakan pertanyaan itu.
Tapi Heeseung sudah terlanjur mendengar dan menjawab, “Belum. Aku sebenarnya tidak ingin mabuk. Aku ingin sadar dan mengobrol denganmu.”
Oh. Oh, salah paham sialan!
“Tapi anggurnya enak,” imbuh lelaki itu sambil tersenyum—senyum mematikan itu lagi—memandangi gelasnya yang sudah kosong. Jongseong mendadak iri dengan gelas anggurnya. Tapi terakhir disenyumi seperti itu, ia hanya bisa merosot ke lantai sambil merutuki mengapa ia tidak bisa langsung mencium bibir itu.
Astaga, apa Heeseung-sunbae tidak pernah tahu senyumnya begitu mematikan?
“Kau tidak ikut minum? Bukannya tadi mengajak minum bersama?” protes Heeseung.
Jongseong terkesiap, kemudian langsung menuang anggur pada gelasnya yang masih kosong sejak tadi. Otaknya tidak bisa diajak fokus. Betul-betul sulit sekali. Yang lelaki itu ingat hanya ia menuang lebih banyak anggur pada gelasnya sendiri dibanding gelas sang senior (Heeseung sendiri yang menyuruh karena ia memang tidak berencana mabuk).
Lalu batas-batas kewarasan Park Jongseong malah terkikis. Dari pembicaraan soal preferensi musik dan hobi, tiba-tiba semuanya buyar oleh senyum Lee Heeseung. Tidak. Bukan hanya tersenyum, ia tertawa.
Dan Jongseong tidak ingat ia bicara apa karena, sungguh, pikirannya tidak sedang dalam mode saring-menyaring. Semuanya tumpah ruah hingga di suatu titik, Heeseung terbelalak dengan ucapan lelaki itu.
“Sunbae… hyung… tidak bisakah kau berhenti tersenyum?”
Sepasang mata itu menatap bingung (dengan amat cantik). Jongseong menelan ludah. Alkohol benar-benar mengambil alih kepalanya kali ini. Tanpa pikir panjang, kedua tangan langsung menangkup pipi Heeseung dan membuat mereka saling menatap. Kalau masih waras, boro-boro menatap lama. Tak sengaja melirik saja, Jongseong sudah panas dingin.
“Aku jadi menyukaimu. Hyung tidak pernah tahu seberapa besar keinginanku mencium bibirmu, kan? Makanya berhentilah tersenyum!”
Setelah itu semuanya gelap. Jongseong tidak ingat apa-apa lagi. Bahkan bagaimana ia bangun seorang diri di atas sofa… ia juga tidak tahu.
Jarak sofa dan dapur agak jauh. Memikirkan kemungkinan bahwa Heeseung menyeretnya sungguh sangat membebani. Ia tidak mau merepotkan orang yang sedang menjadi tambatan hatinya. Oleh karena itu, Jongseong langsung beranjak dan berjalan keliling unit, memastikan apakah Heeseung masih berada di sini atau tidak.
Dan ternyata tidak.
Oh, mulut sialan! Anggur sialan! Sepanjang hari hanya dua hal itu yang ia rutuki. Sang senior mungkin terlalu terkejut dengan pengakuannya. Atau mungkin ia tidak sudah menolak saat Jongseong masih mabuk dan kemudian pulang. Apapun itu, tidak ada kemungkinan yang bagus. Astaga, ia bahkan tidak ingat sudah melakukan apa pada pujaan hatinya semalam.
Jongseong tidak minat melakukan apa-apa sekarang. Ia hanya duduk diam di depan botol anggur kosong dan dua gelas yang juga kosong. Pikirannya kalut. Lelaki itu juga tidak tahu harus bersikap bagaimana di kantor besok. Mereka masih punya beberapa proyek untuk dibahas bersama. Bila Jongseong takut setengah mati hanya untuk berinteraksi dengan Lee Heeseung, maka proyek itu dipastikan hancur lebur.
Ibu jari dan telunjuk memijat-mijat pangkal hidung, berusaha menghilangkan pengar yang masih tersisa. Langit sudah berubah jingga dan napas lelaki itu masih bau alkohol.
Sungguh, Jongseong sangat perlu mandi sekarang.
Namun lamunannya malah berlanjut sampai bel pintu berbunyi dan sosok yang sejak tadi dicari muncul dari balik sana. Lee Heeseung berdiri di depan pintu. Sudah rapi dengan baju yang berbeda dari semalam. Kontras dengan Jongseong yang urakan karena terlalu memikirkan mabuknya semalam.
“Aku pikir sebaiknya aku menengokmu setelah mabuk semalaman,” ucap Heeseung sambil mengangkat kantung belanja, “kau sangat lucu saat mabuk.”
Lucu? Bagian mana dari pengakuan cintanya yang terdengar lucu? Astaga, mulut sialan! Apa yang dia katakan selanjutnya?
Jongseong mempersilakan Heeseung masuk sambil mengerutkan dahi. Ia benar-benar bingung bukan main. Ditambah pula bingung bagaimana cara menjamu tamu saat dirinya masih benar-benar urakan.
“Jongseong-ah, kau masih berhutang samgyeopsal padaku. Aku ingin makan hasil pangganganmu,” jelas Heeseung sambil mengeluarkan daging dan sayur mayur dari plastik.
Ini bukan mimpi kan? Terakhir kali Jongseong melihat yang seperti ini adalah saat ia membayangkan dirinya dan Lee Heeseung berbagi apartemen berdua. Sungguh mimpi yang sangat indah. Tentu saja tidak seindah senyum Lee Heeseung yang sedang ia tunjukkan sekarang.
Sekarang?
Buru-buru Jongseong mengucek matanya, memastikan yang ia lihat benar adanya. Lee Heeseung sedang tersenyum di dapur apartemennya. Lee Heeseung sedang tertawa manis sambil memandangi dirinya yang pusing tujuh keliling.
“Jongseong-ah, aku tidak akan pernah mengizinkanmu menciumku sebelum kau mandi.”
Eh?
“Sunbae—,”
“Hyung. Heeseung-hyung,” ralat Heeseung sambil terkekeh (Jongseong bisa diabetes kalau mendengarnya lagi hari ini).
“Heeseung-hyung—bukan. Maksudku bukan—,” kata-kata terputus karena frustrasi. Jongseong kelepasan bicara dan ia tidak bisa mengelak lebih jauh. Ia hanya bisa menjambak rambut sendiri dan meringis oleh rasa malu.
Lelaki itu bahkan tidak bisa menatap balik saat bertanya, “Hyung… apa saja yang kulakukan semalam?”
Badan Jongseong panas dingin menunggu jawaban. Dan Heeseung-nya (yang belum berhenti tersenyum itu) malah beranjak menghampiri. Ia menangkup kedua pipi Jongseong, lalu memangkas jarak di antara mereka. Namun Heeseung tidak berkata apapun. Setelah beberapa saat, ia melepas tangkup dan mengambil langkah mundur.
“Kau hanya melakukan itu dan langsung melompat ke atas sofa,” jelasnya, “dan kau tetap tidak menciumku walaupun aku terus tersenyum.”
“Hyung, itu—,” ucapan Jongseong terus terputus karena ia tidak bisa menjelaskan yang satu itu.
Respons Heeseung juga sama sekali tidak membantu. Ia hanya berdiri di sana, tersenyum, dan terus menggumamkan kata “lucu”.
“Sunbae—oh, maaf. Hyung—,”
“Cepatlah mandi, Jongseong-ah. Aku ingin makan samgyeopsal-mu.”
Apapun untuk Lee Heeseung. Apa saja.
“Siap, gerak.”
